Friday, July 30, 2010

#26 Merantau

saya dibesarkan dari keluarga biasa saja. saya bungsu dari tiga bersaudara, selalu menerima lungsuran dari kedua kakak perempuan saya, entah itu baju atau barang, semuanya bersifat hibah. kami bertiga memang dibesarkan untuk menjadi perantau. saya ingat, saya sudah merantau dari kecil, ketika orang tua saya harus bertugas keluar kota, saya biasa dititipkan kadang ke Tante atau Oma saya.

bagi saya merantau itu adalah sebuah “perjalanan” untuk “menemukan”.

ketika kau melakukan perjalanan, kemanapun kau pergi, dengan siapa kau berada, sendiri atau bersama orang lain, kau telah merantau. kemudian ketika perjalanan itu kau lakukan, kau akan menemukan sesuatu, entah itu sesuatu yang kelihatan atau sesuatu yang tidak kelihatan. ketika itulah kau telah merantau.

masa kecil saya dipenuhi dengan merantau, saya banyak melakukan “perjalanan” dari mulai tinggal di rumah adik Papa saya, rumah adik Mama saya, rumah tua keluarga kami yang ditinggali oleh Oma saya. tentu saja, orang tua saya selalu mengunjungi saya, kami bertemu, beberapa saat saya juga sempat ikut bersama mereka. tetapi melakukan “perjalanan” sudah menjadi bagian dari hidup saya. mereka membuat saya hidup. 

keputusan untuk kemudian sekolah keluar, sejak lulus SMA, juga merupakan salah satu bentuk “perjalanan” yang kemudian saya lakukan. akhirnya saat ini, sudah sepuluh tahun saya di luar. saya banyak “menemukan”. temuan-temuan tersebut kemudian membentuk pribadi saya. mempengaruhi cara berpikir, bersikap, berperilaku. saya menemukan banyak pengalaman-pengalaman yang akhirnya membuat saya mengerti bagaimana caranya supaya lebih luwes menghadapi kehidupan.

kenapa lebih luwes? saya pikir ketika “merantau” kau akan banyak bertemu dengan sisi liar kehidupan, dan sisi liar itu kadang bisa ditaklukan, bisa juga diajak berteman. disinilah keluwesanmu akan teruji. bukan hanya soal cerdas menghadapi hidup, namun juga kreatif. “perjalanan” yang dilakukan akhirnya membuat saya “menemukan” makna dari hidup itu sendiri. untuk itu, saya sangat berterima kasih kepada merantau. kalau tidak percaya, silakan uji dirimu sendiri, pergilah dan mulai lakukan “perjalanan”.

merantau di luar, juga membuat saya “menemukan” apa yang menjadi passion saya. passion saya yang adalah: mencipta. saya akan mencipta sesuatu dengan kedua tangan saya. karena saya percaya, setiap kita adalah pencipta-pencipta kecil, yang mampu membuat Surga di bumi, dengan tangan kecil kita, yang kosong dan miskin ini.

#25 tidak bilang-bilang

saya tidak bilang-bilang kalau saya masih suka. saya tidak bilang-bilang kalau saya masih cinta. saya tidak bilang-bilang kalau saya suka bibirmu. saya tidak bilang-bilang kalau saya suka melihat jari-jari tanganmu. saya tidak bilang-bilang kalau saya suka melihat kerut di sekitar matamu.

saya tidak bilang-bilang kalau saya suka melihat lengkung senyummu. saya tidak bilang-bilang kalau saya masih menyimpan sms-sms gombalmu. saya tidak bilang-bilang kalau saya suka sekali mengingat jalan-jalan kita. saya tidak bilang-bilang kalau seringkali diam-diam saya mengulangi jalan-jalan kita, sendirian saja.

saya tidak bilang-bilang kalau saya suka mendengar suaramu. saya tidak bilang-bilang kalau saya suka gayamu yang sedikit konvensional. saya tidak bilang-bilang kalau saya suka caramu memperhatikan. saya tidak bilang-bilang kalau saya suka detailmu. saya tidak bilang-bilang kalau saya selalu bermimpi bisa duduk lama-lama denganmu.

saya tidak bilang-bilang kalau saya tidak suka perpisahan. saya tidak bilang-bilang kalau saya selalu kepingin bertemu denganmu dari pagi ke pagi lagi. saya tidak bilang-bilang kalau saya suka wangi tubuhmu, wangi yang selalu menempel di tubuh saya juga. saya tidak bilang-bilang kalau biasanya selesai itu, saya malas mandi, supaya wangi tubuhmu tidak hilang, menempel di tubuh saya lebih lama. saya tidak bilang kalau kemudian setelah itu hidung saya menjadi terlalu sensitif, kemanapun saya pergi, pasti ada wangi tubuhmu.

saya tidak bilang-bilang kalau saya ingin mengajakmu duduk di bangku renta, lalu bercerita, saya tatap matamu lama, saya elus pipimu lembut, kemudian kecup.



lalu kita bercumbu lama,

dan saya tetap tidak bilang-bilang.

#24 Detik


jujur saja, aku tidak doyan angka dari dulu. itulah kenapa, aku tidak pernah suka jam. aku punya sebuah jam dinding yang aku biarkan mati di kamar. weker mungil yang aku biarkan mati juga.

karena aku benci detik.

detik yang ribut. aku selalu benci ketika detik-detik itu berjalan maju, mereka seperti berlari. langkah kaki mereka dengan sepatu hak tinggi itu mengganggu sekali. aku tidak suka. satu-satunya penunjuk waktu yang aku miliki adalah handphoneku, itu saja. di handphone tidak ada detik. disitulah awal aku bertemu dengan angka kembar dan mulai mengenal riwayat mereka.

kau adalah angka kembarku.

di sana angka kembar selalu menyapa aku. kau selalu menyapa aku. sebutlah 10:10, 23:23, 20:20, dan lain sebagainya. mereka beruntun. mereka seperti bilang selamat pagi selamat siang selamat malam. aku tahu, angka kembar itu selalu hadir ketika aku merindumu. akhir-akhir ini mereka sering sekali muncul. mereka seperti menemani sepiku. mereka seperti memeluk gelisahku. mereka seperti tanda yang bilang bahwa aku akan baik-baik saja. andai saja, kau tahu salah satu alasan, kenapa aku tidak suka detik, adalah karena aku tidak terbatas. sayang, mencinta itu tidak terbatas.

kalau aku bertemu detik, aku selalu ingin membunuh detaknya.

#23 Transisi

saya sedang berada di sebuah masa yang saya namakan dengan masa “transisi”. masa dimana kau seakan diam di tempat. tidak bisa bergerak maju ke depan, ataupun mundur ke belakang. masa dimana, kau hanya bisa diam di tempat. mengalami masa transisi, adalah fase baru di dalam kehidupan saya. banyak keterkejutan yang saya alami di masa “transisi” ini, banyak hal yang akhirnya membuat saya berpikir ulang tentang banyak hal. menguraikan satu persatu perasaan-perasaan yang saya alami, menuliskannya di diary. banyak merenung. banyak cengeng. banyak meminta pendapat. banyak mendengarkan orang.

banyak mendengarkan diri sendiri.

masa “transisi” membuat saya banyak berdialog dengan diri sendiri. dalam beberapa hal, saya ini terlalu keras. kalau kata Papa saya, saya ini puting beliung, mungkin karena prinsip, suka menghancurkan sesuatu, sesuatu yang pakem. dan kadang saya bisa membangunnya kembali sesuai dengan apa yang saya inginkan, kadang pun tidak. yah, suka-suka saya saja. mendengarkan diri yang keras, mencoba menguraikannya, ternyata sulit. saya bertemu dengan benturan sana-sini, saya bertemu dengan bentuk-bentuk bangunan yang sudah saya bongkar dan sedang saya bangun ulang, dan sekarang sepertinya saya harus meninggalkannya dulu untuk sementara.

menghancurkan lebih gampang daripada membangun kembali. tetapi menghancurkan dasar yang sudah setengah dibangun, bukanlah perkara yang mudah. itu adalah perkara dimana kompromi memegang peranan utama.

ya, kompromi.

masa “transisi” yang sedang saya alami saat ini, tidak membawa saya bergerak maju atau bahkan mundur, melainkan tinggal di tempat.



supaya saya berjejak lebih dalam.

Tuesday, July 27, 2010

#22 Saya dan Tuhan

sebenarnya kau tidak benar-benar sendiri. Tuhan sudah lama tidak tinggal di Surga. Dia bisa hadir dalam bentuk apapun, menemanimu

Tuhan sedang jalan-jalan, kemana kakiNya melangkah. menyusuri trotoar hatimu, menyatu dengan debu di hatimu

saya pikir kadang Tuhan pun suka menangis. mataNya kadang bengkak. Tuhan mengintip diaryku. Dia selalu kepingin tahu

kau pernah kehilangan Tuhan? saya pikir, justru sebaliknya, Dia yang selalu merasa kehilanganmu

karena justru saya yang suka menghilang. saya suka sekali nyumput dariNya. saya suka main petak umpet denganNya

tapi Dia selalu berlari mengejar saya kembali. menarik saya kembali ke pelukanNya, sebebal apapun saya

saya tidak perlu berusaha keras untuk lebih baik, karena Dia selalu terima saya apa adanya. cantik jeleknya manusia bukan ukuranNya

keriting atau lurus rambutmu, putih atau hitam kulitmu, tidak ada bedanya bagiNya. Dia tidak pernah memaksa saya untuk menjadi orang lain

lalu bagaimana dengan ketakutan? saya takut sekali kehilangan. apa Dia juga tahu?

tentu saja, Dia tahu ketakutan saya. saya banyak bercakap denganNya tentang kehilangan?

kita banyak ngobrol sambil mengopi di teras kos saya. Tuhan suka juga kopi hitam pekat, persis seperti saya

Dia katakan kalau Dia sampai kehilangan, kehilangan saya, Dia pasti akan mencari saya kembali dan bawa saya pulang kembali

Dia juga bilang kalau, satu hal yang Dia tidak mau, adalah kehilangan saya, kehilangan kau. Tuhan tidak mau kehilangan kau

Tuhan itu gondrong, suka pakai booths, dan celanaNya sobek dimana-mana. tapi setiaNya tidak terukur

saya suka ngeceng Tuhan. suka saya perhatikan dari jauh, apa yang sedang Ia lakukan. apa yang sedang Ia pikirkan

saya senang, karena Tuhan saya yang nyentrik, suka booths, celana sobek dan gondrong pula. namun setiap detik selalu memikirkan saya

Dia selalu nongkrong di jendela kamar saya. Dia ada di closet saya setiap pagi. Dia ada di antara bau kaki saya. Dia tidak eksklusif

Dia mendengarkan saya. saya yang tuli, jarang mendengarkanNya

Dia selalu menangis untuk saya

kau percaya, Tuhan melukis nama saya di dinding kamar tidurNya. setiap malam Dia menyebut nama saya, sebelum Dia tidur

Tuhan saya terlalu nyentrik, sampai gereja menolakNya

Tuhan saya, jadi malas duduk di gereja, lebih baik Dia nongkrong di perempatan lampu merah, menyanyi bersama pengamen-pengamen itu

Tuhan saya tidak duduk di gereja, Dia duduk denganmu di closet, menyeka air matamu

Tuhan saya tidak beragama. tidak ada kolom agama di KTP-Nya

senang sekali, Dia masih menyempatkan mengopi sore dengan saya, hari ini. mengobrol tentang kehilangan

Tuhan saya yang nyentrik, suka wine dan dansa. hidup di nadi, lelap di darahmu, menyatu dengan denyutmu. kau dengar ?

saya ingin tahu, hatiMu terbuat dari apa? sampai selalu memaafkan, menerima saya kembali, saya yang brengsek ini

kenapa Kau betah, lama-lama mendengarkan curhat saya, kenapa Kau menyeka terus air mata saya, kenapa?


karena jawabannya: Tuhan tidak tinggal di Surga. Ia bosan tinggal di gereja. Ia tinggal di hatimu

Tuesday, July 20, 2010

#21 Mesin Tik

Mesin tik dengan bunyi yang mengaung di udara, seperti menceritakan banyak hal, huruf-hurufnya kemudian menggerogoti telinga. Tidak hanya sampai di gendang, ia meneruskan pesannya ke hati, kemudian tumbuh di sana. Pengalaman panjang seakan tidak mau lelap. Hendak meneruskan sesuatu yang disebut dengan: dedikasi.

Saya belajar mengenai dedikasi dari mesin tik dengan bunyinya yang khas. Mesin tik adalah ide awal bagi mereka. Kertas menuliskannya. Buku merampungkannya. Dedikasi yang utuh selalu membawa kepada tulisan-tulisan yang menginspirasi. Saya tidak tahu hendak mengabadikan yang mana. Tulisannya atau mesin tiknya. Karena keduanya adalah pahlawan bagi saya.

Dibesarkan oleh dua orang penulis catatan khotbah yang hebat, membuat saya selalu terkesima dengan proses penciptaan. Membuat saya selalu terobsesi dengan kertas putih kosong tidak bergaris. Membuat saya akhirnya jatuh cinta terhadap pensil, dengan goresan yang halus dan lebih hitam. Saya dibesarkan oleh inspirasi.

Akhirnya membuat saya mengerti bahwa, sesungguhnya inspirasi lahir dari: dedikasi dan ketulusan.

Mencintai apa yang saya lakukan dan menghormati apa yang kecil. Itu adalah hal yang selalu disenandungkan oleh mesin tik. Ibarat sebuah lagu, mesin tik selalu punya lagu yang berhasil meninabobokan saya, membawa saya ke alam mimpi, dan membangun sesuatu di sana.

Lalu porsi dedikasi atau ketulusan yang lebih besar? Saya pikir tidak ada. Mereka saling bersinergi. Mereka tidak pernah berdiri sendiri. Mereka jodoh. Seperti sudah ada yang mengatur. Jodoh selalu seimbang, tidak pernah ada yang lebih besar atau lebih kecil. Tidak pernah ada yang iri satu sama lain.

Mereka saling mengisi.

Saya berhutang banyak kepada mesin tik dan bunyinya. Seiiring dengan perjalanan saya, saya masih bodoh berurusan dengan dedikasi dan ketulusan. Saya masih terlalu labil. Tapi saya bersyukur bahwa, mereka adalah pengalaman di depan mata saya. Mereka seperti daging yang menempel dengan kulit saya. Kalau sekarang, masih ada yang suka copot, mungkin lemnya belum kuat.

Mesin tik berbunyi dedikasi dan ketulusan.



Mereka itu Ruth dan Alberth.

Sunday, July 18, 2010

#20 Libra

Saya tidak sepenuhnya Libra. Saya adalah gabungan dari segala keberimbangan yang dimiliki dunia. Antara rapih dan berantakan. Antara spontan dan penuh persiapan. Antara penuh cinta dan dingin. Antara puting beliung dan hampa. Saya adalah kombinasi keduanya. Berada diantara kombinasi yang biasanya membuat saya utuh.

Kadang menyukai crowd. Kadang mencintai sunyi. Saya mencipta luas di bidang yang sempit. Saya mencipta warna di bidang yang polos. Saya itu hujan: cerewet sekaligus menyejukkan. Saya itu senja: selalu ada guratan warna yang menyala di dalam polosnya langit.

Kadang simpel. Kadang tidak simpel. Memandang hidup bagi saya harus dipandang dari berbagai sisi. Malah kebanyakan saya memilih untuk melihat dari sisi pahit untuk menemukan manisnya. Kau bisa menemukan saya di dalam secangkir kopi tubruk yang kau minum pagi ini. Kombinasi apa yang terasa di lidahmu? Itu saya.

Sedangkan kau. Kau itu rahasia. Kau punya kode yang harus saya pecahkan. Kau tidak punya jadwal. Kau itu angin. Sesekali terasa, sesekali tidak. Kau tidak punya bintang. Kau tidak gampang ditebak. Terlalu sulit untuk membaca dari matamu.

Tapi karena kebalikan, kau mengimbangi saya.

Saya ini bukan Libra. Saya terlalu  keras dari sekedar Libra. Terlalu punya keinginan yang kuat. Terlalu punya banyak mimpi absurd. Terlalu banyak mau. Tapi, saya selalu tahu apa yang saya mau. Tidak ada yang bisa membunuh keinginan saya, untuk mencintaimu dengan hati yang berantakan, karena itulah saya utuh.

Ketika saya berada diantara dua abjad sekalipun, saya tetap akan memilih. Karena saya tahu apa yang saya mau. Walau kelak itu bukan dirimu.

#19 Penyiar


adalah profesi saya. kenapa saya sebut profesi, itu dikarenakan, ini adalah mimpi saya sejak SMP. mimpi yang kemudian menjadi kenyataan. mimpi yang kemudian ketika dijalankan mencukupi kebutuhan hidup saya. sebutlah mencukupi, walau pada akhirnya saya harus mencari banyak tambahan lain di luar.

tapi bersiaran adalah ide. saya selalu membayangkan, saya berkata-kata diantara mic, didengarkan oleh banyak. ia adalah ide yang saya bangun selama bertahun-tahun, kemudian menjalankannya sebagai profesi saya saat ini. suatu yang menyenangkan, ketika hobi bercakap, kemudian menghasilkan uang.

sebutlah, awalnya hanya keinginan untuk didengarkan. tapi kemudian keinginan itu menjadi panggilan hidup tersendiri bagi saya. dari hanya ingin didengarkan, beranjak menjadi ingin bertemu dan berkenalan dengan banyak orang. duduk dengan berbagai kalangan. menyentuh banyak orang. dan didengarkan lintas Agama.

saya suka menjadi bagian dalam lintasan. saya tidak suka diplot dan tidak suka dibatasi. sungguh, saya adalah pencinta sesuatu yang bebas. dan itu yang saya dapatkan ketika saya bersiaran. radio adalah dunia kecil yang sangat luas. radio menjadikan saya pekerja kreatif yang tahu, apa itu mencipta.

ketemu banyak kalangan, mengobrol dengan banyak orang, bangun wawasan dari apa yang di dengar, merupakan sarana untuk menjejakan kaki lebih dalam, menemukan karakter diri, dan menjadi pribadi yang luwes. karena hanya di radio, kau bisa belajar keterampilan dasar manusia dengan intens: berkomunikasi.

setelah kau punya yang satu ini, nilai hidupmu jelas bertambah. kau akan di dengarkan: APAPUN yang kau bicarakan. kau, selebriti lokal. kau bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiranmu dengan sangat terstruktur. kau memukau ketika berbicara di depan umum. kau bintang. dan yang paling penting adalah, setiap orang ingin menjadi sepertimu. HAH!

profesi yang menular dengan segala inspirasinya.

padahal, kebanyakan mereka tidak tahu, saya sudah membangun mimpi itu sejak saya SMP. ketika saya berlama-lama latihan bicara di atas closet dan melihat muka saya di kaca setiap hari, sambil berbisik: kau pasti bisa.

karena, segala sesuatu itu mungkin-mungkin saja. kau juga bisa menjadi apa yang kau mau. kau saja yang sering tolol, berpikir itu tidak mungkin.

#18 Bertumbuh

atau tidak bertumbuh, itu pilihan. bertumbuh itu seperti merayakan ulang tahun. dan saya tidak pernah merayakan ulang tahun seperti yang orang lain lakukan. kalau ditanya adakah pengalaman ulang tahun yang paling diingat. saya ingat ketika ulang tahun saya yang ke 17. waktu itu saya sudah di Jogja, karena saya sudah merantau sebelum genap berusia 17 tahun. ulang tahun ke 17 saya, saya di kafe kampus, dengan beberapa teman, memesan beberapa piring nasi goreng dan kopi kemudian menikmatinya beramai-ramai. setelah itu saya pulang. selesai. tidak ada kado. tidak ada kue ulang tahun. di keluarga saya, kami memang tidak punya tradisi ulang tahun. tidak ada tradisi menerima kado. yang ada hanya sebuah tradisi unik yang diturunkan oleh kedua orang tua saya. berdoa di malam pergantian hari. itu adalah kado yang sampai saat ini saya simpan dengan rapih.

entah kenapa, tradisi unik itu, di keesokan harinya hanya diikuti dengan makan-makan seadanya bersama keluarga di rumah. Mama yang biasanya bertugas mengantarkan kue bolu ke sekolah, dengan alasan itu adalah perayaan untuk teman-teman. itu saja, tidak lebih. dulu ketika saya masih di SMA, ada beberapa teman-teman saya yang merayakan ulang tahun mereka bahkan sampai di hotel berbintang lima, dengan memakai gaun mewah, super mini, ditambah dengan gelas-gelas wine yang diisi ulang terus menerus.

tentu saja, saya juga pernah bermimpi tentang perayaan ulang tahun saya, suatu saat bisa seperti itu. dengan versi yang jauh lebih keren, saya pakai dress boho, boothysandal favorit saya, kemudian makan malam romantis bersama pacar saja, setelah itu kita tidak pulang ke rumah, berlanjut dengan memandangi bintang sampai pagi. mungkin itu jauh lebih romantis.

tahun ini, di bulan Oktober nanti, saya genap berusia 27 tahun. tahun yang saya tunggu-tunggu, karena saya penyuka angka tujuh. saya selalu merasa angka tujuh punya daya tarik tersendiri. seperti penutup sekaligus pembuka dari sesuatu. angka tujuh adalah angka dimana Tuhan berisitirahat.

angka tujuh bagi saya, bicara soal bertumbuh. karena itu adalah masa dimana manusia ADA. mereka kemudian saling mengenal, jatuh cinta, menguasai, dan mengelola banyak hal. termasuk mengelola hati? mungkinkah Adam adalah pencinta yang baik? hanya Hawa yang tahu. tapi Adam dan Hawa sudah pasti bertumbuh di dalam cinta mereka. bertumbuh selalu membuat kau ADA.

sepuluh tahun merantau di luar, bukanlah sesuatu yang mudah. bahkan lebih dari sepuluh tahun tidak tinggal bersama orang tua adalah sesuatu yang selalu saya sebut dengan “pertumbuhan” yang sebenarnya. kalau kau mau bertumbuh, pergilah dari rumah, bangun rumahmu sendiri. itu bertumbuh. anggaplah kau sama sekali tidak punya pengalaman. mulailah dari nol. jangan takut salah. peluk masalah. ambil resiko. dan bangun dari tempat tidurmu, pergilah mandi, bersahabat baiklah dengan air dingin. anggap saja, itu pertama kalinya kau mandi.

saya bosan dengan kue ulang tahun. saya butuh masalah, untuk ditiup sekaligus merayakannya. karena bertumbuh adalah merayakan setiap masalah yang datang dalam hidupmu dan bilang terima kasih. karena ketika masalah datang, kau masih tetap bisa menikmati kopimu di cangkir terbaikmu hari ini.

bertumbuh, terkadang butuh istirahat, supaya esok, kau bisa memulai sesuatu yang baru kembali. akhirnya, mungkin itu yang Tuhan lakukan di hari ke tujuh setelah menciptakan manusia, Dia berdansa pelan, minum wine dan sedikit bersenang-senang.

*gambar dari www.whatpossessedme.com

Saturday, July 17, 2010

#17 Mengintip

aku selalu suka ketika hujan hinggap di jendela, mengintip, sekaligus iri melihat kita. kali ini hujan datang dengan seragam meriah, mereka tampak lelah, seperti biasa hendak hinggap di jendela, mengintip.

sayup-sayup ada backsound di kamar mungil ini. ada kita selalu menyempatkan diri untuk berpelukan. bersentuhan. mencium aroma tubuhmu,

menyicipnya sedikit. hey, bibirmu rasa hujan. ya, kita seperti sebaris semut yang suka berbaris rapih, kemudian mencium di sela-sela pertemuan kita. mendaratkan kecup. karena kita suka sekali bersentuhan. kelihatan seperti di mimpi, ketika hangatmu menempel di kulitku,

kau begitu sabar melayani ini itu, tanpa protes. tanpa ragu selalu menjadi sesuatu yang nyaman. kau adalah rasa nyamanku, kau adalah ketenanganku, kau semacam terang di dalam kegelapan. tentu saja, kau bukan Tuhan. kecuali,

caramu menyentuh, seakan memindahkan surga ke kulitku, ada kedamaian sentausa. selalu menyembuhkan. kali ini ketika hujan hinggap di jendela, aku ingin membuka tirai hujan untuk menemukan celah bibirmu di sana.

tidak peduli hujan datang terlambat. aku tahu selalu ada waktu kita untuk bersentuhan. sentuhanmu tidak pernah terlambat. atau ketinggalan. kalaupun tertinggal, aku akan mencarinya di antara denyut nadimu, mungkin tersesat di sana.

aku selalu suka ketika hujan hinggap di jendela, mengintip, lalu malu.

*gambar dari www.whatpossessedme.com

Friday, July 16, 2010

#16 To Be Continued

Senja, kemudian menjadi kue yang tiap hari harus kita bagi bersama. Senja, semacam kopi yang kemudian harus kita icip bersama sampai ke ampas-ampasnya.

“Nama kamu lucu? Elana? apa artinya?” tanyaku tiba-tiba.

“Oh, he-eh, nama ini dari ayahku. Artinya pohon. Konon, ayah bilang, ia mau anak perempuannya tumbuh seperti pohon. Semakin tua, semakin rimbun, semakin banyak orang suka berteduh dibawahnya.”

“Bagus sekali artinya. Jangankan tua, sekarang saja, sudah ada yang mau berteduh di bawahnya.” Aku juga kaget, kenapa aku berani sekali mengeluarkan kata-kata seperti itu. Bukankah itu terlalu cepat untuk seseorang yang baru kita kenal.

“Terima kasih. Euh, kamu centil.”

Kemudian kita berdua tertawa. Kita seperti sudah kenal lama. Obrolan sore itu begitu renyah, sampai akhirnya senja berganti gaun, kini gaunnya abu-abu, dengan serat-serat keemasan di sana-sini.

“Yah ampun sudah malam. Nggak kerasa ya ngobrolnya, aku harus pulang.”

“Eh iya, kamu pulangnya kemana? Mau aku antar?”

“Ah, nggak usah lah. Rumahku dekat, dari sini. Aku jalan kaki saja”

“Baiklah, hati-hati di jalan, sampai bertemu lagi.”

“Kamu juga. Kita pasti bertemu. Pasti.”

Aku sebenarnya tidak mau bilang ini. Karena memang aku sendiri tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Dan aku tidak mau pertama. Tapi entah kenapa, hari ini, aku merasa, aku... euh, aku jatuh cinta, bukan euh belum. Aku suka sama dia.

Malam itu, bahu jalan tampak tersenyum untukku. Serat-serat keemasan senja, mulai membuat sarangnya di hatiku.

*gambar dari 100layercake.com

#15 Rahasia


bertahun-tahun yang lalu aku pernah menuliskannya untukmu dalam buku diary pink. sebutlah ini rahasia: aku bukan putri yang bermimpi akan menikahi pangeran.

karena cinta bagiku itu segitiga. ia tidak melingkar seperti cincin yang biasanya di pakai di perkawinan, atau seputih gaun yang dipakai oleh pengantin. kadang ia tawar cenderung hambar, membuat kepekaan bukanlah halusinasi, melainkan harus mendaratkan lidah untuk menyicipnya supaya nyata. setawar apapun, kau meminumnya juga.

campuran rasa yang ada kemudian menemukan bentuknya sendiri. mengisi wadah yang disebut hati. menggelinding kesana dan kemari. merekah kemudian mengatup. melakukan perannya sesuai dengan definisinya.

sayang, aku tidak punya rahasia. aku hanya penulis gagu. terlalu sederhana untuk dibaca. tidak sesulit seperti yang mereka pikirkan. berlembar-lembar tentangmu, aku simpan diantara goresan pensil dengan kertas tidak bergaris. aku letakkan di dalam lemari bisu.

dan aku sebut itu: RAHASIA.

aku tidak punya rumus dalam mencinta. aku tidak punya rahasia dalam mencinta. jadi tidak perlu juga mengecek keberadaanku kepada cenayang atau peramal dan lain sebagainya. karena kebersamaan tidak perlu diramal. kesetiaan tidak perlu dibuktikan.

kalau mencinta itu keputusan, lalu meluka itu apa?

aku tidak punya rahasia. kalaupun aku punya rahasia: kelak aku ingin namamu dipayet di gaun putih itu.

*gambar dari 100layercake.com

Thursday, July 15, 2010

#14 Kue Moci

sepotong kue moci yang muncul hari ini, adalah inisial. secara tiba-tiba mungkin telah menjadi satu tanda, satu kejutan yang mungkin telah dipersiapkan untukku. satu hal yang kadang tidak pernah kumengerti, dan tidak mau kumengerti juga, cukup dirasa. mungkin saja dengan merasa, hati punya insting yang lebih jago.

menyicip kekenyalan kue moci, yang berasa lembut di lidah, seakan-akan pertanda bahwa sekeras apapun cinta hadir, ia selalu punya sisi kenyal. yang membuatmu kepingin menggigit lagi dan lagi. membuat mulutmu tidak berhenti mengunyah.

kehadiran dalam keterkejutan, seharusnya membuat siapapun itu lebih terbuka untuk memeluk. menyediakan halaman luas di dalam hatinya, untuk ia hadir. singgah sebentar maupun bermalam lama. keterkejutan memiliki esensinya sendiri, tinggal bagaimana meresponinya. muka merah. deg-degan. geli perut. tidak bisa tidur lagi, sehingga ada kantung di bawah mata.

ada kue moci di atas meja. itu pertanda kencan pertama. sekaligus kehadiran cinta, walau bukan untuk yang pertama kalinya. biarkan aku terkejut, tanpa harus mengerti. biar semuanya melebur, menyatu dalam rasa.

terlalu banyak yang buat aku terkejut, salah satu diantaranya adalah jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.

(2010)

#13 Dago 350

halaman luas. jendela besar. teras belakang. lantai kayu. dapur mungil. bau rumput. burung berkicau. kamar sedang, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. rak buku. gantungan baju. tempat tidur tua. frame foto. lukisan. lemari kecil yang selalu muat. sendal jepit di depan kamar. jemuran beha dan celana dalam. gerbang tinggi yang pernah di panjat dua kali.

selalu ada yang pertama kali. jatuh cinta untuk pertama kali, selalu begitu kuat. karena perasaan itu datang tanpa ada tendensi apa-apa. melihat sesuatu untuk pertama kalinya, kemudian jatuh cinta, biasanya menyisakan perasaan yang begitu kuat. perasaan itu kemudian, berubah menjadi hubungan yang berakar antara satu dengan yang lain.

duduk berlama-lama, menatap lamunan di dalam secangkir kopi, memindahkannya di notes kecil, kemudian disitulah asal mula kata-kata itu dibentuk. kata-kata itu kemudian membangun rumahnya sendiri, dengan cat yang ia pilihkan sendiri, dengan furniture yang menjadi bagian di dalamnya.

kadang, jendela yang ada di dalam rumah itu mengalirkan banyak air mata menyatu dengan hujan di tanah kecoklatan. tumbuh lagi menjadi rumput baru yang kadang tidak hanya hijau melainkan juga kehitaman. tidak hanya itu, banyak mimpi yang gelantungan diantara dahan pohon. mimpi-mimpi yang tidur nyenyak, ditemani sepoinya angin.

kau selalu hadir bagiku dengan caramu yang unik, kau selalu ada tanpa aku memintanya. entah kenapa, diantara kita telah terjalin sesuatu yang begitu kuat. sesuatu yang aku mungkin tidak bisa dapatkan, ketika aku mencintai yang lain. lagipula, kau begitu setia.

kau menyimpan banyak sekali rahasia. dan aku ingin mengingat setiap detail yang aku temukan di dalam dirimu. kalaupun tanganku tak cukup kuat untuk mencatat, biarkan aku menyimpannya rapih di dalam hatiku, sebagai memori manis antara kau dan aku, cinta pertamaku.

kali ini, apa kau bisa menyembuhkan kesedihanku?

(2010)

Monday, July 12, 2010

#12 doa ketika hujan

Tuhan jangan pelit lah
kasih aku pacar
kalau tidak juga
aku pacaran dengan hujan

(2010)

Sunday, July 11, 2010

#11 Rancu

sampai mati, hanya ada satu aku dan satu dirimu.

rancu. membuat gelisah. tidak bisa tidur. tapi toh aku sudah ada bersamamu sepanjang jalan.

misterius tapi tetap romantis. mungkin itu jodoh.

aku terus mencatat. aku mencatat begitu banyak perbedaan. menarik nafas. meneliti ulang catatanku.

aku hanya sedang berkonspirasi. berpikir darimana segala perbedaan yang begitu banyak. tapi toh kita bisa bersama.

aku tidak akan pakai otakku yang hanya sebesar bakpau ini, untuk berpikir soal jodoh. karena sungguh, aku tidak akan mampu.

Tuhan itu super kreatif. Dia pasti memiliki stock rusuk dengan berbagai bentuk di Surga. tergeletak di mana-mana.

lalu ada yang mengatakan jodoh itu di tangan Tuhan. dungu!

ada ketertarikan fana. yang membawa cinta kepada kekekalan. mungkinkah itu jodoh?

ada keseimbangan yang melekat, seperti jembatan. yang entah kenapa menyambungkan.

ada ketidaksamaan yang tidak bisa kau ubah sampai mati. tapi tetap saling menyanyangi sampai mati.

seperti kecoa dengan closet.

aku menemukan makna di balik keberantakan. kau menemukan makna di balik kesistematisan.

aku penggila kopi dan hidup hitam seperti cairannya. kau yang penggila air putih dan cairan bening di dalamnya.

aku yang malas mandi. kau yang mandi plis-atuh-lah.

aku yang berpuisi. kau yang apa-puisi-plis-atuh-lah.

perbedaan seperti endapan kopi, biarkan pahitnya melebur ke lapisan yang paling bawah. ketika kau menyicipnya, anggaplah itu suatu kenikmatan.

seperti kopi tubruk, aku suka. aku suka endapannya. aku suka pahitnya. tapi meminumnya tetap keputusan.

dan banyak sekali urusan cinta, yang harus 'berhenti' di tengah jalan karena perbedaan. terlalu dungu.

sayang sekali, banyak perkara cinta yang harus berurusan dengan KTP. padahal tidak nyambung. kalau begitu, bakar KTP.

kekelan justru terjadi, ketika kau berani mati untuk perbedaan. itu cinta.

atau mungkin mencinta, tanpa harus bertanya, "kenapa?" itu lebih kekal.

sesungguhnya, setiap kita berbeda sampai mati. jadi tidak usahlah disamakan. mencinta dalam perbedaan lebih indah.

tapi kalau masih mengurusi 'perbedaan' dalam urusan mencinta. begitu ruginya dirimu.

lalu, kemudian kita mulai menyalahkan Tuhan dengan segala perbedaan. hey, tahukah kau, Tuhan pun tak beragama.

sayang, agamamu apa? rasmu apa? kenapa kita tidak mencinta saja, tanpa embel-embel brengsek itu.

kalau yang berbeda, itu berjodoh, kau pasti menyesal.

toh, aku tidak butuh persetujuanmu untuk melayangkan ide ini.

sekian dan terima kasih.

(2010)

#10 Tanya

aku tidak menemukan apa-apa. kosong. sepi. tidak ada lagi kecup pagi, menghilang diantara getah-getah cemara. mengembara diantara tuts-tuts mati, tidak bisa lagi menghasilkan kata. sayang, aku tidak suka tanya. tanya selalu tidak menegaskan apa-apa. tanya itu seperti janji yang tak kunjung digenapi. tanya itu benci.

aku melihatnya diantara beribu tanda yang kau pakai, keyakinanmu semakin rapuh. keyakinanku semakin sendu. hatiku bolong, tidak ada penadahnya lagi. tidak ada harapan apa-apa di balik tanya. hasrat untuk percaya menciut di antara kegamangan. kelak, mungkin aku tidak lagi percaya.

tentu saja, kita masih melakukannya. aku masih akan terus menelurusi gang sunyi di matamu, jalan buntu di tubuhmu. selalu menemukan banyak tanya di sana. tanda baca yang penuh jeda. tanda baca yang selalu berjarak, dan aku tidak suka jarak itu.

begitulah tanya, seperti benang kusut yang malas aku urai. atau seperti ini, tanya yang buat aku terus mencinta. mencinta dalam duka. mencinta tanpa jawab. lalu aku terpelanting di antara beribu tanya, masih yang sama. dengan hati yang sama.

apa masih dengan kau yang sama

?

(2010)

Friday, July 9, 2010

#9 hai Ben, apa kabar?

aku kabar cantik :-) ketika aku menulis ini, senja persis ada di atas kepalaku. bajunya merah menyala seperti hendak ke pesta. oh yah, jadwalku padat sekali, minggu-minggu ini, sampai-sampai aku tak sempat lagi ke Braga, mengulang jalan-jalan kita, duduk di sepanjang Museum KAA, sampai akhirnya berhenti di jembatan untuk sekedar melihat senja yang sedang ranum-ranumnya.

aku sibuk siaran Ben, pendengarku semakin betah saja mendengarkan siaran-siaranku. mereka bahkan menunggu aku tiap siang. antaran makanan dan cemilan juga tak henti-hentinya. kalau aku izin sehari saja, mereka langsung sms ke hapeku atau menelepon ke kantor, menanyakan penyiar kesayangannya.

entahlah. seolah-olah mereka takut sekali kehilangan aku. mungkin benar yang kamu pernah bilang tempo hari. soal arti namaku Elana yang adalah pohon. bukan hanya sekedar pohon katamu, tapi pohon yang rimbun sekali, sehingga banyak yang suka datang dan berteduh di bawahnya. mungkin, itu aku Ben.

aku kangen. kamu cepatlah ke Bandung. ada tempat baru yang kita perlu datangi bersama, mungkin kamu akan suka. kita bisa mengejar senja ke sana. asal jangan terlambat, tapi kalau pun kita terlambat, kamu tahu kan senja itu tidak pelit. Ia biasanya menyisakan sedikit helai gaunnya untuk kita nikmati.

ah Ben, senja suka sekali ke pesta. makanya gaunnya selalu meriah. bibirnya juga selalu merah. kadang aku pikir, genit sekali senja itu. untuk siapa kah ia berdandan, bukan untuk kamu kan?

karena hatimu untukku.

peluk.

Elana.

(2010)

Thursday, July 8, 2010

#8 Papa Hujan

malam ini hujan antar aku pulang. aku sudah pesan sama hujan sebelumnya, tolong jadilah payung untukku malam ini, jangan buat aku basah dan kedinginan. aku tahu hujan itu teman yang baik. dia pasti bisa mendengar aku.

bercakap-cakap dengan hujan sering aku lakukan. karena aku percaya hujan itu tidak bisu. tiap butirnya, sama dengan satu kata, kalau begitu kamu tidak akan mampu menghitungnya kan?

terlalu banyak kata.

berbeda dengan Papa. dalam beberapa hal Papa tidak banyak bicara. ia pendiam. tapi entah kenapa, tanpa di suruh ia pasti mengerti banyak. ia menyesuaikan banyak. ia menyediakan banyak.

Papa melakukan itu semua dalam diam. tanpa perlu banyak penjelasan. Papa dan aku sama-sama bungsu. bedanya Papa bungsu dari lima bersaudara, dan aku bungsu dari tiga bersaudara. ketimbang ngobrol atau bercerita dengan orang lain, Papa memilih tenggelam dengan buku-bukunya. buku-buku itu mungkin lebih cerewet dari Papa.

aku tidak percaya kalau hujan konvensional. karena akhir-akhir ini aku perhatikan, hujan itu suka berdandan juga. mulai pakai booths lucu. dan mulai coba-coba pakai kaos Howler kegedean.

Papa tidak. kemeja tak boleh yang ngejreng. sepatu bisa sampai bertahun-tahun tak pernah diganti. hanya punya beberapa ikat pinggang. memilih celana potong pendek lusuh, kaos oblong, untuk bergaul dengan bulir-bulir kayu, bakal lemari. urusan mencintai, aku percaya Papa ahlinya. kalau tidak begitu, mana mungkin Papa bisa bertahan dengan Mama, yang bahkan tak suka memasak.

mungkin sekarang, sedang hujan juga di teras depan rumah. tempat favorit Papa duduk sambil baca buku kesayangan. aku tidak tahu. satu hal yang aku tahu, apapun yang aku lakukan di perantauan: selalu ada di doa Papa, tiap pagi.

aku bisa berbicara dengan hujan kapan saja. tapi tidak dengan Papa. aku di Bandung dan Papa di Ambon. dua hari kemarin, ketika di angkot, aku kangen sekali, tawanya yang lebar-lebar itu.

aku: aku sedang mengerjakan buku Antologi Puisi bersama teman-teman pecinta puisi lainnya, tolong doakan supaya lancar. Hey! I miss you. Papa: doa Papa menyertai Nona, semoga buku berhasil, kirim Papa satu eksemplar.

isi pesan singkat yang membuat mataku berkaca-kaca.

kalaupun nantinya, suatu hari aku berhasil, aku berterima kasih untuk doa Papa untuk ketiga anak perempuannya.

ketika menulis ini, hujan menetes di luar. butir-butirnya hangat seperti pelukan Papa. sekarang Ia pasti sudah pulas, dan aku sama sekali belum mengantuk. sayup-sayup, aku dengar hujan berdoa: Tuhan kasih Papa panjang umur, supaya kelak, ia tahu, doanya tidak sia-sia.

aku baru tahu, hujan juga punya Papa. tinggalnya jauh di atas sana.

20.05.09, 00:05

*Untuk Albert Erens Rumthe. Satu saat, aku akan mengajakmu, liburan ke bulan.

Wednesday, July 7, 2010

#7 Setia

sudah bercangkir kopi aku habiskan untuk malam ini. di luar gerimis layu tidak berbunga. berjejer dan berbaris sunyi di atas genteng rumah. aku belum lelah mencatat kerutan yang ada di dahi dan di sekitar matamu. kerutan, yang bicara padaku dalam diam mereka. kerutan yang menandakan sudah berapa lama, kita bersama. sudah berapa lama, kita bercinta. dan apa itu setia.

ya, setia. aku hendak mencatat kata itu, kata racun, yang membuat cinta seakan-akan tak punya makna apa-apa. seperti getah, yang membuat pelepah menempeli batang pohon. entah kenapa, ia begitu kuat menempel, padahal ada kemungkinan ia menjadi patah dan akhirnya bersetubuh dengan rumput.

mungkin setia itu seperti daun-daun kering terbang, mereka lengket sekali dengan angin, karena mereka percaya, angin akan membawa mereka terbang leluasa. setia itu seperti gerimis dengan kulit kepala. perlahan-lahan jatuh, hingga menyatu dengan air mata.

sayang, aku sendiri bingung. sebenarnya setia dulu baru cinta atau cinta dulu baru setia. atau dua-duanya berjalan beriringan. aku juga tak tahu. atau mungkin setia, itu seperti mencatat kerut di wajahmu, rajin menghitung uban di kepalamu, dan kemudian aku mendapatkan bahwa kita masih saling mengecup bibir, ketika kita renta.

tidak akan lelah, sampai waktunya tiba.

(2010)

Tuesday, July 6, 2010

#6 Debu

lenyap bersama hitam, menyembul di balik trotoar. menyusuri aspal, dibawa terbang angin. lengket kesana dan kemari, seperti tak punya rumah sendiri. kecil dan rapuh, sepertinya mudah di goyahkan, sepertinya mudah di hancurkan.

kadang kasat mata, teracuhkan oleh lampu merah jalanan. di bawa pergi oleh mandi. mengalir ke dalam saluran pembuangan. tertelan di antara rak-rak buku tebalmu. ada diantara ventilasi jendela kamarmu. mengendap perlahan di dalam lantai kamarmu.

bersahabat akrab dengan kemoceng, sapu Pak Jum, layar tivi, layar netbookmu, menghuni kamarmu berhari-hari, menunggumu pulang dalam sunyi. berteman baik dengan laba-laba. mengintip keranjang mandimu, berdesakan di kolong tempat tidurmu.

bukan sesuatu yang spesial. bukan sesuatu yang indah. tidak layak untuk menghiasi, segala kerapihan yang kau miliki. justru sebaliknya selalu mengotori. dan membuat kau harus mencuci kakimu berulang-ulang, takut kena kuman.

aku ini debu, nyempil diantara sepatu dan bau kakimu untuk belajar cinta itu apa.

(2010)

Monday, July 5, 2010

#5 Endapan

rembesan dari sesuatu. entah itu adalah cairan atau kotoran. kadang berupa ampas. atau sisa-sisa. seringkali dilupakan atau dibuang begitu saja. padahal sebenarnya endapan itu adalah bagian dari ketahanan. bergerilya membentuk satu pasukan yang baru, yang lebih kuat, lebih tegar, lebih bisa diandalkan.

buangan yang kemudian berarti. begitu aku menamakannya. bisa disebut juga dengan buangan yang kemudian akan dihormati. jangan kaget ketika nanti pada akhirnya endapan yang bertahan. jangan kaget ketika ampas yang tadinya dilupakan akan mendapat tempat terdepan.

mengendapkan mengajarkan kesabaran. tidak sembrono. menenggelamkan fakta-fakta konyol, memfilter realita, kemudian hasil akhirnya adalah pada apa yang tersisa.

lagi-lagi, itu adalah sisa yang terpilih.

ketika mengendapkan, pilihlah lapisan yang paling bawah. karena justru di sana terdapat kekuatan tidak kelihatan itu bicara. mengendapkan hadir dengan kata sabar yang menggugah setiap orang untuk banyak mendengarkan ke dalam. menarik sesuatu ke dalam. keluarkan ketika siap.

mengendapkan cinta seperti endapan kopi, biarkan pahitnya melebur ke lapisan yang paling bawah. suatu saat ketika kau menyicipnya, anggaplah itu suatu kenikmatan.

(2010)

Sunday, July 4, 2010

#4 Dalam Tidurmu

punya kesempatan untuk masuk ke dalam tidurmu, untuk sekedar menengok mimpimu. sangatlah aku nantikan. di sana, aku leluasa mencinta. jadi tak apalah, kalau seharian ini aku menunggu kau selesai dengan buku-bukumu. aku menantikan tetesan coklat panas terakhir meleleh di dalam tenggorokanmu. sebentar lagi kau akan tidur.

lelap. dengan mata tertutup.

aku selalu suka ketika kau tidur. kau begitu manis. aku mulai mengendap-endap dengan tanktop seadanya dan celana serut kesayanganku. aku masuk melalui pintu rahasia ke dalam otakmu. terhubung dengan urat-urat di dalam kepalamu. kemudian menyatu dalam darahmu.

PLUNG!

aku sudah di dalam. melebur ke dalam gelap. mendengarkan nafasku sendiri. dan di sini aku berada di dalam mimpimu. di sini aku memeluk tidurmu lama. menciumi satu-satu air matamu.

“aku di sini sayang, membalut lukamu.”

(2010)

Saturday, July 3, 2010

#3 Surat Cinta

ada surat cinta kuletakkan di dalam lemari bajumu bagian paling atas sebelah kanan. aku selipkan di balik kemeja kotak-kotakmu yang aku cuci tadi pagi, kemudian kusetrika dengan rapih. untuk besok kau pakai ke kantor lagi.

aku membayangkan ketika kau selesai mandi besok, kau akan mengeringkan badanmu, kemudian merogoh kolormu di laci lemari paling bawah, memakainya. mematut wajahmu sebentar di depan cermin. merapihkan rambut pendekmu seadanya.

kau mencintai motif kotak-kotak. aku mencintai sesuatu yang polos, tidak bermotif. kau cerewet. aku pendiam. kau ambisius. aku tidak. dan kau selalu menyukai jika kemeja kotak-kotakmu setelah dicuci, harus disetrika dengan lipitan yang benar. digantung di lemari. ketika kau mengambilnya, aku tahu, kau pasti akan menciumnya dahulu. sebelum memakainya. kau akan menghirup wangi kemejamu dalam-dalam.

kau sangat menggilai aroma.

aku juga tidak pernah tahu kenapa. kau selalu suka menghirup aroma. aroma dari bau apapun juga. aroma baju yang selesai disetrika. aroma lemari. aroma hujan. aroma rumput yang baru selesai dipotong. aroma kopi. aroma sambal digoreng.

sesuatu yang wangi selalu mencuri perhatian hidungmu. pagi ini aku sengaja memberimu surat cinta. aku harap kau juga suka amplop hijau mudanya. aku sengaja pilihkan yang wanginya cypress.

itu surat cinta untukmu. aku selipkan di balik kemeja kotak-kotakmu. silakan dibuka. semoga kau suka.

isinya aroma tubuhku dan kecup sayang: “selamat pagi”.

(2010)

Friday, July 2, 2010

#2 Tanda

adalah sebuah perjalanan bisu yang terus bicara melalui momen dalam hidup. tanda bisa jadi adalah sebuah pertunjukan besar yang akan datang, dengan tiket yang dicicil dari sekarang.

tanda mungkin adalah perayaan kecil-kecilan. hanya kau dan hatimu yang tahu. mereka sembunyi, akan muncul tiba-tiba. di depan pintu. di luar gendang telingamu.

tanda itu adalah hadiah. mengartikan sebuah kelahiran, atau nafas, kau telah bersama seseorang sepanjang perjalanan hidupmu. sehingga kau tidak perlu kuatir akan hidupmu. karena toh, kita sudah berbagi sepanjang jalan.

tanda semacam tarot. kartu-kartu yang mulai dibuka satu persatu seiring dengan berjalannya waktu. dimana kartu terbuka, mulut mulai membaca.

sepanjang enam tahun kebelakang ini, sebutlah tanda menyertai. ia menyederhanakan hidup yang lumayan riweuh, bercabang, kadang tidak bisa menemukan akarnya.

secara tidak langsung bertunangan dengan tanda, menyenangkan. menyimpan cincinnya. kemudian kalau waktunya telah tiba, menikah dengannya. punya anak berapa? rahasia. seperti membaca keterkejutan dengan cerdas.

tanda semacam mengantarkan kepada keyakinan. setengah dulu, baru utuh. bahwa kau memang untukku. dan aku untukmu.

mungkin.

plat mobil, nama anjing, mimpi, sms tidak terduga, percakapan tidak disangka, berbagi, sentuhan, gaya bicara, keyakinan, tatapan, meluap-luap, kebosanan lama, senyum mengembang, rasa nyaman, kegalauan, kehadiran menguatkan.

seterusnya tanda hadir dengan caranya yang misterius tapi tetap romantis. termasuk wangi white musk, kemarin sore...

(2010)

Thursday, July 1, 2010

#1 cinta itu air mata

yang begitu mencintai pipi sehingga ia ingin jatuh melulu ke atasnya. menyentuh lama. kemudian bergulir ke tanah. aku kepingin punya berember-ember air mata kusimpan di gudang.

kelak, ketika kita menikah. kita akan bangun rumah kita dari air mata. supaya rumah kita berembun selalu, sejuk pula, sekaligus jernih ketika kita memandang sesuatu. jangan menyeka terlalu keras, kalau kau tak ingin matamu terluka.

air mataku dan air matamu. kita sambung menjadi fondasi yang kokoh. karena begitulah air mata, bukankah ia ada tidak hanya ketika kita terluka tapi juga bahagia. melebur menjadi satu. dasar yang teguh.

air mata membuat aku setia kepada kesakitan. karena untuk apa aku mencinta tanpa rasa sakit. tapi air mata juga membawa aku setia kepadamu, karena harusnya aku bersyukur kalau mencinta itu tak perlu bertanya melainkan merasa.

sekarang berember-ember air mata kutampung terus. masih kusimpan rapih di dalam gudang. sudah berapa ember, entah. yang pasti, sampai saat ini masih menetes. kadang ia menetes dalam diam. tak kelihatan. pipiku kering.

tapi hatiku basah. mungkin ia malu mengunjungi pipi. atau ia malu kau tahu, selalu ada air mata untukmu. selalu ada cinta untukmu. kau pernah bertanya? berapa banyak aku mencintaimu. aku diam saja, tidak menjawab.

sayang, selama ada air mata, itu cinta.

01.07.2010, 10:10