Wednesday, July 7, 2010

#7 Setia

sudah bercangkir kopi aku habiskan untuk malam ini. di luar gerimis layu tidak berbunga. berjejer dan berbaris sunyi di atas genteng rumah. aku belum lelah mencatat kerutan yang ada di dahi dan di sekitar matamu. kerutan, yang bicara padaku dalam diam mereka. kerutan yang menandakan sudah berapa lama, kita bersama. sudah berapa lama, kita bercinta. dan apa itu setia.

ya, setia. aku hendak mencatat kata itu, kata racun, yang membuat cinta seakan-akan tak punya makna apa-apa. seperti getah, yang membuat pelepah menempeli batang pohon. entah kenapa, ia begitu kuat menempel, padahal ada kemungkinan ia menjadi patah dan akhirnya bersetubuh dengan rumput.

mungkin setia itu seperti daun-daun kering terbang, mereka lengket sekali dengan angin, karena mereka percaya, angin akan membawa mereka terbang leluasa. setia itu seperti gerimis dengan kulit kepala. perlahan-lahan jatuh, hingga menyatu dengan air mata.

sayang, aku sendiri bingung. sebenarnya setia dulu baru cinta atau cinta dulu baru setia. atau dua-duanya berjalan beriringan. aku juga tak tahu. atau mungkin setia, itu seperti mencatat kerut di wajahmu, rajin menghitung uban di kepalamu, dan kemudian aku mendapatkan bahwa kita masih saling mengecup bibir, ketika kita renta.

tidak akan lelah, sampai waktunya tiba.

(2010)

2 comments:

  1. setia itu seperti "runaway bride" ;p

    ReplyDelete
  2. suka bgt....Setia memaksaku unt slalu berhadapan dg dy walaupun ada sosok yg lebih karismatiq ddpnku...,uufffhh..

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...