Wednesday, December 18, 2013

Semacam Event!



datang yuk! di kumpul penulis dan pembaca 2013
GAGASMEDIA – BUKUNE – PANDAMEDIA

untuk informasi, silakan contact 

Hanna 081283843738.

see ya! 

Tuesday, December 10, 2013

(Part 3) Passion



Dan ini adalah cerita tentang passion selanjutnya. Yang tidak random. Kamu seperti digariskan untuk melakukannya. Hanya ada satu nama Theoresia Rumthe. Dan hanya ia yang bisa melakukannya. Kata lain dari passion adalah panggilan. Untuk itulah saya ada di muka bumi ini. Untuk itulah saya di-design.

Seperti yang sudah-sudah bahwa tidak ada yang kebetulan. Begitupun hubunganmu dengan apa yang kamu sebut dengan “passion” atau “panggilan” atau sebutlah “kegairahan” itu sebagai sesuatu yang selalu membuatmu deg-degan untuk melakukannya.

Kemudian pada suatu masa, saya menemukannya di dalam menulis. Ada “kegairahan” itu. Ketika melakukannya, rasanya persis seperti ketika kamu hendak mencuri-curi ciuman untuk pertama kalinya. Ada perasaan gugup di awal kemudian diakhiri dengan rasa hangat. Yang membuatmu kepengin lagi. Ada adiksi.

Menulis kemudian menjadi adiksi. Ada hasrat yang tidak bisa saya tahan. Selalu ingin keluar. Akhirnya ketika tidak menulis saya merasa kehidupan saya hampa. Menulis itu memisahkan saya dengan panggung dan keriuhan. Sebaliknya ketika menulis yang saya inginkan hanya kondisi yang senyap dan sendiri. Saya tidak suka keramaian ketika sedang menulis. Karena pada saat itulah saya gunakan untuk mendengarkan apa yang ada di dalam.

Passion menulis saya kemudian mempertemukan saya dengan banyak orang yang tidak pernah bayangkan sebelumnya. Akhirnya merekalah yang membawa saya menggapai semua mimpi-mimpi saya.


Sampai di sini akhirnya saya belajar bahwa: mungkin yang kamu miliki bukanlah uang yang banyak, tetapi kamu kenal dengan baik apa yang menjadi “panggilanmu” dan kamu lakukan itu secara konsisten. Maka itulah passion. Itulah kegairahan. Kegairahan yang akan menuntunmu kepada sebuah kata “berhasil” jika kamu mempercayainya. 

Monday, December 9, 2013

(Part 2) Passion




Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan passion yang kemarin. Intinya saya mau teman-teman yang membaca tulisan tulisan saya, juga menemukan passion yang ada di dalam dirimu dan hidup and live your life fully!  

Saya adalah anak yang tumbuh karena senang eksplor banyak hal. Ketika ayah dan ibu harus bertugas di lain kota, saya terpaksa sudah harus merantau sejak saya masih TK. Tinggal bergantian di rumah tante dan nenek saya. Saya kecil survive. Sering dikenal sebagai pemimpin untuk anak-anak yang masih lebih muda. Dan sangat mudah bergaul.

Saya bukan seperti anak-anak pada umumnya. Terkadang jika sudah bosan, saya memilih untuk bermain di bawah kolong tempat tidur, di belakang pintu, di dalam lemari, berbicara kepada dinding seakan-akan ada yang tinggal di sana (ada Doda, teman imajinasi saya), dan saya doyan berbicara sendiri di dalam kamar mandi.

Ketika sedang berbicara sendiri, saya selalu membayangkan bahwa saya adalah seorang ibu, atau perempuan dewasa, atau pembawa acara, atau siapa saja, tergantung suasana hati saya pada waktu itu. Saya menikmatinya, berjam-jam. Itulah yang pada akhirnya membawa saya bekerja sebagai penyiar radio, MC, moderator, voice over talent, penyanyi, dan pada akhirnya mengajar.

Ketika berbicara, ada kesenangan tersendiri. Ketika diperhatikan oleh orang lain, saya sangat menyukainya. Sejak kecil ayah dan ibu juga membiasakan kami, ketiga anak perempuannya, untuk terbiasa dengan panggung.

Kesimpulan saya: passion itu adalah hal yang biasanya senang kamu lakukan bahkan ketika kamu masih sangat belia. Dan ketika kamu terus melakukannya hingga kamu dewasa, passion yang membuat kamu terus memiliki semangat seperti anak-anak. Kamu tidak pernah lelah. Karena kamu adalah anak-anak. Selamanya kamu tidak akan berhenti bermain. 

Blog Review!



























ada ulasan tentang blog perempuansore di @icihersmagz bisa kamu download atau  bisa kamu dapetin free magazine di berbagai tempat di Bandung.  

Friday, December 6, 2013

(Part 1) Passion




Akhir-akhir ini saya banyak dipertemukan dengan orang-orang yang bisa dibilang, mereka sangat “nyaman” dengan hidup mereka, hingga mereka tidak tahu apa yang mereka hendak kerjakan di dalam hidup. Mereka kebingungan. Bahkan di usia tertentu, mereka masih merasa tidak ajeg dengan hidup yang sedang mereka jalani.

Garis bawahi kata “tidak ajeg” menurut pengertian saya dua kata ini memiliki arti lain yaitu: (1) tidak yakin dengan hidup yang saat ini sedang dijalani, atau (2) tidak tahu mengerjakan apa untuk hidup mereka.

Orang-orang yang saya temui itu cukup berada. Mereka tidak pernah kekurangan. Kebutuhan mereka hamper bisa dibilang selalu terpenuhi. Hanya saja mereka kebingungan. Mereka tidak punya passion. Mereka bahkan masih bertanya-tanya apa yang menjadi passion mereka.

Passion. Bersyukurlah kamu, jika kamu sudah menemukannya. Menurut Wikipedia, passion adalah passion is a term applied to a very strong feeling about a person or thing. passion is an intense emotion compelling, enthusiasm, or desire for anything.

Maka terjemahan bebas saya passion adalah ketika kita menemukan sebuah perasaan yang kuat terhadap sesuatu yang menurut kita sangat menarik, membuat kita selalu merasa antusias dan bergairah.

Ada tiga kata keren yang saya temukan di dalam passion yaitu (1) perasaan yang kuat (2) antusias dan (3) bergairah.

Tiga hal ini yang menurut saya akan menyertai apa yang kita yakini sebagai sebuah passion. Kebalikannya jika kita tidak memiliki tiga hal ini, maka itu bukanlah passion kita.

Sekarang, jika kamu belum menemukan apa yang menjadi passion kamu, coba renungkan hal ini, kira-kira ketika sedang mengerjakan apa yang membuat kamu selalu punya perasaan yang kuat ketika melakukannya, antusiasme yang tinggi, dan selalu bergairah.

Silakan tulis jawabannya di halaman comment ya.


Wednesday, December 4, 2013

Sebuah Tulisan Tentang Jodoh Yang Tak Kunjung Tiba




Setiap orang punya bucket list. Saya pun demikian. Dari nomer satu hingga nomer kesekian. Semuanya tentu pingin saya wujudkan. Ada yang dalam waktu dekat, tetapi ada juga yang akan saya wujudkan dalam waktu yang lumayan panjang.

Salah satunya adalah tentang pasangan. Saya tidak punya kriteria macam-macam soal ini. Semuanya sudah lewat. Tidak ada lagi yang harus begini dan begitu. Memasuki usia tiga puluh, kriteria saya soal pasangan sangatlah sederhana.

Uhuk. Tidak usah dibahas lebih lanjut ya. Tapi dalam obrolan saya bersama seorang teman tentang jodoh, saya kemudian menyatakan bahwa “jika berdoa dan yang diminta hanya jodoh jodoh dan jodoh. Saya merasa doa saya terlalu egois.”

Paling tidak, ini yang saya rasakan. Saya adalah perempuan dengan usia tiga puluh tahun, yang telah memasuki skala-pertanyaan-sampai bosan: “kapan menikah?” ujung-ujungnya pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan dijawab dengan senyum manis saya. Karena saya sudah malas menjawab. Jadi saya menjawabnya dengan senyum manis-basa-basi saja.

Kalau sudah begini, komentar orang akan beragam soal jodoh yang tak kunjung datang. Misalnya:

(Komentar 1) “Makanya jangan galak-galak, supaya jodoh kamu cepet.”

Jawaban saya: Jodoh cepat tidak ada hubungannya dengan saya galak atau tidak. Biasanya saya akan galak jika saya disuit-suitin jika sedang berjalan sendirian di jalan. Saya pernah mendatangi langsung orang yang melakukannya dan bertanya “ada apa suitin saya? Ada masalah?”

(Komentar 2) “Kamu sih terlalu mandiri, jadi aja cowok-cowok pada segan.”

Jawaban saya: Duh maaf ya, saya tidak demen sama cowok yang tidak percaya diri. Cowok yang tidak punya value atas dirinya sendiri. Apalagi cowok yang takut karena perempuannya jauh lebih terkenal daripada dirinya.

(Komentar 3) “Makanya, banyak berdoa dong, supaya jodoh kamu cepat datangnya.”

Jawaban saya: Saya percaya kuasa doa. Tetapi terlalu egois, jika yang saya doakan hanya masalah jodoh. Saya ulangi: terlalu egois! Ijinkan saya berbagi logika sederhana saya denganmu, bagi saya hubungan saya dengan Tuhan itu seperti hubungan saya dengan ayah. Ayah saya di dunia, sangat baik membesarkan saya dan kedua kakak perempuan saya.

Kami bukan dari keluarga yang mampu. Tetapi ayah mampu memenuhi segala kebutuhan kami. Saya ingat ayah akan mengusahakan segala sesuatu secara halal untuk penghidupan kami. Ayah akan berusaha. APALAGI, Ayah yang ada di atas sana.

Saya percaya bahwa jika memang Ayah hendak memberikan jodoh kepada saya, IA tidak perlu meminta saya untuk berdoa yang banyak, melakukan kebaikan sebanyak mungkin, lalu setelah itu saya akan mendapat pasangan sebagai reward

Karena ayah saya yang di dunia, tidak pernah melakukannya. Sebaliknya ayah saya di dunia, jika ingin memberikan sesuatu, ia akan memberikannya, karena saya adalah anak perempuannya. Karena ia memang tahu bahwa saya pantas mendapatkannya. Karena ia memang tahu bahwa ini sudah waktunya. Itulah, bagaimana doa itu bekerja, kalau memang sudah waktunya.

Masih banyak yang bisa kamu “minta” dalam doa kamu. Jangan egois, dengan berdoa hanya demi meminta jodoh. Karena “jodoh” akan datang tepat pada waktunya. Bagianmu adalah tetap sibuk dan bersabar.  




Monday, December 2, 2013

Dan Tempat Pulang Itu Adalah Kamu




Kata orang wajah adalah cerminan dari hati. Terkadang wajah itu sendiri tidak bisa berbohong. Tetapi saya bisa belajar untuk menahan. Menahan semuanya, hingga saya merasa bahwa ada waktu untuk menumpahkan semua itu ke dalam gelas.

Gelas itu adalah kamu. Kamu selalu kosong. Pada akhirnya sayalah yang suka memenuhi kamu. Saya senang ketika mengisi kekosongan yang ada di dalam diri kamu: dengan keceriaan, dengan kesedihan, dengan kedataran, bahkan dengan setiap kebosanan yang saya rasakan.

Gelas itu akan meluber. Saya senang ketika melihat perasaan perasaan saya tumpah. Akhirnya mereka mengalir lalu meluap. Saya tidak tahu apakah kamu merasakan perasaan meluber itu atau tidak.

Sampai di sini saya ingin berterima kasih, kamu adalah gelas kosong itu. Kamu tidak pernah mengeluh ketika saya selalu merepotkan. Kamu tidak marah-marah ketika waktumu selalu saya curi, dan kesabaranmu selalu saya curi.

Kamu adalah gelas kosong itu.

Suatu ketika saya menceritakan tentang sebuah perjalanan panjang. Penuh lika-liku. Banyak yang saya temui di jalan. Banyak yang saya alami. Saya lama sekali sampai kepada tujuan. Saya lelah, ingin beristirah. Saya lalu merogoh ke travel bag yang senantiasa menemani saya selama perjalanan. Merogoh ke dalamnya, dan menemukan gelas kosong, meraihnya dengan jari-jari saya, dan membawanya keluar.

Saya lalu menumpahkan segala lelah saya kedalamnya. Kamu menjadi penuh. Dan saya lega. Ketika selesai, saya mengembalikan kamu ke dalam travel bag saya. Saya kembali melanjutkan perjalanan.

Kamu bersama-sama dengan saya melalui jalan panjang dan berliku-liku. Kamu terguncang-guncang karena langkah kaki saya yang mendaki maupun menurun. Tetapi kamu tetap bertahan dan kamu tidak pecah.

Saya menulis ini untuk kamu. Dan ketika menuliskan ini saya tiba-tiba ingat sebuah kalimat yang berkata:


“Sebuah perjalanan panjang yang berliku-liku selalu butuh tempat untuk pulang. Dan tempat pulang itu adalah kamu.”

Wednesday, November 27, 2013

Setiap Orang Bisa Saling Mengirimkan Pesan





Temanya minggu ini adalah: setiap orang bisa saling mengirimkan pesan. Setiap orang adalah pembawa pesan bagi yang lainnya. Asalkan kita bisa buka hati kita dan merasa. Hal ini bisa disebut sebagai tanda, signal, frekuensi, “membaca” atau apapun istilahnya.

Saya selalu percaya apapun yang disebut sebagai “kebetulan” sebagai sesuatu yang bukan kebetulan. Mengutip sebuah bacaan: jika kebetulan kebetulan tersebut terlalu banyak terjadi, apakah masih bisa disebut “kebetulan.”

Sampai di sini, saya selalu melakukan itu kepada diri sendiri. Mengecek kebetulan dan meminta tanda. Sedikit absurd memang. Jika saya menjelaskannya: ini akan seperti, setiap hari, ketika saya hendak beraktivitas di pagi hari, mood apapun yang sedang saya lalui, saya selalu memejamkan mata saya dan meminta paling tidak 3 tanda.

Ketika saya membuka mata, saya akan menemukan tanda-tanda itu dari sticker yang ada di mobil yang lewat, tulisan pada papan iklan, atau bisa jadi pada tanda smile berwarna kuning yang terdapat pada helm pengendara motor.

Sebut saya gila. Tetapi jika kamu baca kalimat pembuka saya di atas bahwa “setiap orang bisa saling mengirimkan pesan” dan kamu percaya, maka mungkin kamu juga tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Saya masih ada di dalam penelitian saya tentang hal ini. Bahwa pesan-pesan itu akan datang. Bahwa di satu titik, ternyata kita sedang berada dengan frekuensi yang sama dengan orang lain. Yang membuat kita akhirnya connecting.

Saya suka mengirimkan sinyal dan pesan saya kepada orang lain dalam diam. Kamu juga bisa melakukannya. Bisa jadi orang tersebut adalah orang yang kamu suka. Atau yang pernah ada di masa lalu kamu. Atau orang yang mungkin akan ada di masa depan kamu sekaligus. Pejamkan matamu sebentar, bayangkan orang itu sebentar, kemudian kirimlah pesanmu lewat hatimu.

Sunday, November 24, 2013

Sedikit Cerita Tentang Gita Wirjawan







Jarang sekali menemukan seseorang dengan pribadi yang terbuka. Dan pintar bermain musik. Saya pernah melihatnya secara langsung di sebuah konser yang diadakan di Surabaya pada waktu itu. Ia memiliki senyum manis. Dan ketika itu sedang duduk di belakang piano besar. Ternyata ia bernyanyi malam itu. Dengan dentingan piano dan suara yang merdu.

Suasana pada malam itu sangat syahdu ketika seorang Gita Wirjawan akhirnya menghibur setiap orang yang hadir dengan suara dan dentingan pianonya. Saya pikir ia adalah seorang musisi yang “tersesat” di dunia politik. Atau kebalikannya ia adalah seorang politikus sekaligus musisi, yang nantinya mampu menyentuh hati rakyat dari nyanyian. Atau terserah kamu mau menilainya sebagai siapa?

Dan ternyata Gita Wirjawan Berhasil meraih beasiswa musik untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi, namun atas kehendak orang tua yang berkeinginan lain, Gita mendapatkan Bachelor Degree in Accounting (BBA) di University of Texas, Austin, Amerika Serikat pada tahun 1988. Lulus sebagai akuntan, Gita meraih lisensi Certified Public Accountant untuk negara bagian Texas.

Untuk memperluas pengetahuannya, Gita melanjutkan pendidikan Master of Business Administration (MBA) di Baylor University, Amerika Serikat, pada tahun 1989 dan Master of Public Administration (MPA) di Kennedy School of Government, Harvard University, Amerika Serikat pada tahun 2000. (sumber: gitawirjawan.com)

Akhirnya setelah pulang ke Indonesia, ia akhirnya bergabung dengan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II sebagai Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal dan ia sukses membuktikan kepemimpinannya dengan meningkatnya realisasi investasi dan dianggap sebagai pemasar andal. Dan kemudian menjabat sebagai Menteri Perdagangan Indonesia. Sikapanya juga sangat kelihatan tegas apalagi menyangkut produksi impor dan tidak mau jika impor kita mengalami ketergantungan.

Tidak heran jika Gita Wirjawan patut dipertimbangkan untuk Indonesia yang jauh lebih baik. Sepak terjang dan latar belakangnya membuat saya berpikir bahwa ada sebuah harapan dalam diri seorang Gita Wirjawan. Dengan salah satu misinya yaitu: Mewujudkan Indonesia yang berdaulat, memiliki sumberdaya manusia yang unggul, berlandaskan semangat kemandirian dan jati diri “bangga berbangsa”

Semoga ini adalah semangat untuk mengembalikan rakyat Indonesia kepada jati dirinya. Kepada rasa percaya diri bahwa bangsa kita jauh lebih besar dari bagaimana keaadaan kita selama ini. Dan semoga kita tidak kehilangan mimpi-mimpi kita.
    


Thursday, November 21, 2013

#perempuansoreBikinKuis



Siap-siap dapatkan notebook magic quotes perempuansore! Caranya dengan ikutan kuis dari saya berikut ini:


1. Pilih satu tulisan favorit kamu dari blog perempuansore!
2. Dan tulislah 10 alasan kenapa kamu menyukai tulisan itu
3. Silakan posting link tulisan kamu pada comment di bawah postingan ini
4. Batas posting adalah 21 Desember 2013
5. Satu review yang beruntung itu akan saya publish di blog perempuansore 


salam hangat. 

#SemacamEvent






come and see you!

Thursday, November 14, 2013

Sebuah Pengalaman Relijius Bahwa Kita Tidak Lupa Untuk Selalu Bersyukur






“Yang saya naksir dari kamu adalah you are what you are.”

Ini adalah sebuah pesan yang saya dapat dari seorang sahabat. Ia perempuan. Kami bersahabat sejak SMA, dan kini kami masih berteman baik, bertukar cerita dan berbagi kabar.

Jika kata sahabat saya yang lain “Kamu itu kalau lagi marah, mukanya langsung kelihatan. Pun kalau lagi sedih. Apalagi jatuh cinta! Kamu itu terlalu ekspresif.”

Saya begitu. Saya rasakan segala sesuatu yang ada di dalam. Saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri. Saya tidak bisa membohongi perasaan saya. Bahkan ekspresi muka saya akan menujukkan seperti apa saya.

You are what you are, yang sahabat saya maksud di sana bukan hanya sekedar ungkapan be yourself yang seringkali kita dengar. Tetapi lebih kepada bagaimana kita jujur. Bagaimana kita merayakan diri kita secara natural. Secara otomotis menerima diri kita apa adanya. Tidak perlu bersusah payah untuk menjadi seperti orang lain.

Saya dulunya tidak menyukai rambut keriting saya. Saya meluruskannya sampai beberapa kali. Tetapi saya berubah ketika saya melihat diri saya berbeda, bahwa rambut keriting yang saya miliki, adalah identitas.

Saya dulunya tidak menyukai bagian dada saya yang rata, tetapi akhirnya saya bersyukur banyak bahwa dengan ukuran dada yang tidak terlalu besar. Saya bisa bergaya dengan beha yang warna warni dan lebih gaya. Dan harganya jauh lebih murah, tentunya.

Saya dulunya tidak menyukai ini itu blah blah blah.

STOP.

Kalimat di atas seharusnya diganti dengan: saya menyukai semua tentang diri saya. Bahwa ungkapan kita menyukai diri kita adalah sebuah pengalaman relijius, bahwa kita tidak lupa untuk selalu bersyukur.


Tuesday, November 12, 2013

Kamu Tidak Pernah Jatuh Cinta Dengan Orang Yang Salah







Akhir-akhir ini saya sedang berpikir bahwa sebenarnya kehidupan terdiri dari pola-pola. Di dalam percakapan saya dengan seseorang di masa lalu, kami sepakat bahwa cinta kami adalah sebuah pola. Bahwa sebenarnya kami hanya mengulangi kisah cinta yang dulunya pernah terjadi oleh orang-orang di atas kami.

Saya pernah melakukannya. Jatuh cinta dengan orang yang salah, katanya. Tetapi saya tidak percaya. Saya tidak percaya bahwa ada kesalahan ketika kita mencintai seseorang. Saya tidak percaya bahwa terdapat sebuah “kesalahan” ketika kita mencintai orang lain. Seperti sebuah “kesalahan” pada lembaran jawaban siswa. Dan ketika salah, guru akan menandainya dengan bolpoin merah.

Hanya saja saya tidak suka kalimat ini: Jatuh cinta dengan orang yang salah.

Kalimat tersebut terlalu egois. Seakan-akan kita tidak pernah melakukan kesalahan di dalam hidup. Kalimat itu juga seakan menyiratkan bahwa, jika kesalahan itu ada di pihak kita, selamanya kita yang benar, dan pihak sebaliknya yang salah.

Bagi saya, setiap orang terbuat dari kesalahan. Tidak ada yang berhak menghakimi orang lain. Saya pernah ada di dalam kondisi yang “salah” dan saya dihakimi. Saya berpikir ulang, kenapa saya dihakimi? dan yang parahnya adalah orang tersebut tidak hanya menghakimi saya. Ia juga menghakimi orang-orang yang berada di dekat saya.

Saya belajar beberapa hal dalam kondisi ini: ketika kamu dihakimi oleh orang lain, sebenarnya orang tersebut sedang menghakimi dirinya sendiri. Itu adalah perwakilan dari isi hatinya. Jangan terlalu dekat dengan orang yang suka menghakimi orang lain.

Kamu tidak pernah jatuh cinta dengan orang yang salah. Tidak ada satu orang pun di bahwa langit ini yang punya kuasa untuk mengatur, yang itu “salah” yang itu “benar” atau yang itu “tepat” karena konon hati manusia itu terlalu dalam untuk dinilai hanya dari permukaannya.

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...