Monday, April 16, 2018

Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai: TERBIT!











"Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai" sudah terbit hari ini. Ia membawa di halaman-halamannya fragmen-fragmen berulang dari keseharian yang biasa, nama-nama jalan bagi kaki-kaki yang cemas, tergesa-gesa dan rindu,  potongan-potangan imaji kehidupan yang sederhana, dan sengkarut perasaan manusia yang coba kami sederhanakan ke dalam kata-kata. 

Cinta adalah kata kunci buku puisi ini. Kata itu kami baca di dalam serangkaian perbuatan yang lama-lama menjadi transparan, karena kesederhanaan dan keberulangannya yang memang tak terelakkan.

Untuk orangtua kami dan semua orang yang ketabahan mereka telah menjadikan cinta sebagai kata kerja, perkataan dan perbuatan, untuk semua hal yang mereka ajari dan tunjukkan (berulang-ulang) dengan kehidupan mereka sendiri, buku ini adalah dua kata: terima kasih.

Kawan-kawan, selamat membawa pulang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai dari toko-toko buku kesayangan!

we love you,
theo & weslly 



















Sunday, April 8, 2018

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai














Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 April 2018. Ini adalah buku kedua sekuel atau (sebutlah lanjutan) dari buku Tempat Paling Liar Di Muka Bumi.

Ingatan saya kembali ketika kami, saya dan Weslly, memulai proyek ‘tantangan untuk saling menulis puisi’ setiap hari di tahun 2015 lalu. Saat itu semangat kami, adalah bermain-main. Kami mau melibatkan kehidupan kami dengan menulis puisi, seperti kegiatan sehari-hari lainnya: menyikat gigi, mandi, pakai sepatu, minum kopi, memencet komedo, dan lainnya. Saya membaca beberapa ulasan dari buku Tempat Paling Liar Di Muka Bumi, macam-macam bentuknya.

Ada yang berupa ulasan panjang di blog, Goodreads, status Facebook, unggahan pada Twitter, foto dan caption (panjang maupun pendek) di Instagram, atau mendengarkan komentar menarik lainnya yang dilontarkan langsung kepada saya, ketika tidak kebetulan saya bertemu muka dengan muka dengan pembaca. Yang diam-diam membuat saya senyum-senyum kecil. Bagaimana tidak, semua komentar itu agak melampaui batas, ‘berlebihan, barangkali itu kata yang tepat. Mengingat ketika saya dan Weslly memulai proyek ini, kami tak pernah bermimpi, bahwa buku ini mampu membuat pembaca tersentuh. Meminjam istilah dari Raisa Andriana, si penyanyi itu, ketika mengirimkan komentarnya kepada saya via surat elektronik, “Tersentuh di semua tempat yang sebelumnya belum pernah tersentuh kata-kata.”

Saya merenung, apakah yang kira-kira membuat pembaca tersentuh sedemikian rupa ya? Atau apakah yang kira-kira membuat pembaca senang memotret bagian puisi, atau kutipan yang mereka temui, dan mengunggahnya di media sosial mereka? Dan apakah yang kira-kira membuat buku Tempat Paling Liar Di Muka Bumi, mencapai cetakan keduanya? Sungguh, saya tidak tahu pasti jawabannya apa. Semua selera memang dikembalikan kepada pembaca. Karena mereka kini telah menjadi tuan atas puisi-puisi kami. Puisi-puisi yang dikatakan oleh Weslly, sebagai arsip pacaran yang ketahuan publik.

Saya tidak lupa, semua proses yang kami lalui dengan buku Tempat Paling Liar Di Muka Bumi, kampanye yang kami lakukan, perjalanan ke beberapa kota untuk membuat acara peluncuran kecil-kecilan: Bandung, Salatiga, Yogyakarta, Jakarta, dan Ambon. Kami bahkan mencatat setiap acara perjalanan itu dan mengunggahnya di blog masing-masing. Belum lagi promosi yang masih kami lanjutkan kurang lebih enam bulan hingga setahun kemudian setelah buku terbit. Seperti menemani seorang anak di usia emasnya, kami berusaha menjadi sepasang orang tua yang baik.

Kira-kira bulan Oktober hingga November di tahun kemarin, kami berhasil merampungkan buku kedua kami, yang kami beri judul “Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai.” Kami sepakat bahwa di dalam buku ini, kami memang banyak ‘bermain-main,’ puisi-puisi yang kami tulis lebih leluasa mendaratkan pantatnya pada sofa, menyicip kopi, tanpa terlampau khawatir akan hari esok. Puisi-puisi yang kami tulis dan saling balas tak lagi memakan hari, ia menyergap seperti kilat di hari siang yang terik.

Puisi-puisi kami berubah bentuk menjadi kata-kata yang lebih sederhana, sehari-hari, dan biasa saja, seperti yang sering dikatakan oleh pasangan yang sudah mencintai selama bertahun-tahun, yang diam-diam dihinggapi rasa bosan. Tetapi bukankah itulah yang dialami ketika sepasang saling mencintai, wujud cinta kemudian berubah menjadi hal-hal paling kecil—tidak lagi mendidih, seperti mencuci kolor pasanganmu, membikinkan kopi sehari tiga kali, menyuruhnya minum air putih. Dan melakukan tindakan-tindakan repetitif lainnya, tanpa sekalipun mengeluh.

Di buku Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, kamu akan menemukan sesuatu yang lain, yang barangkali bukan seperti puisi, sungguh jauh dari kata kreatif, dan sangat manusiawi. Ia mungkin terlalu kanak-kanak, tapi tidak ingusan. Ia akan mengajakmu bermain, hari ini bermusuhan, namun keesokan harinya baikan lagi.

Bukankah, mencintai seseorang juga kadang seperti itu.
  

Membaca Cyntha Hariadi, Barangkali












Kemarin, saya pergi ke Kineruku, untuk menghadiri acara bincang buku, yang menghadirkan Cyntha Hariadi. Pada minggu-minggu sebelumnya, saya telah lebih dulu membaca Manifesto Flora. Cerita-cerita pendek yang ditulis oleh Cyntha, dan berkenalan dengan tokoh-tokohnya, dimulai dari Grata, Ny. Liem, Flora, Tuan dan Nyonya di jalan Abadi, Kliwon, dan banyak sekali tokoh-tokohnya yang lain. Saya tak hanya berkenalan, saya menyisip di sela-sela kesibukan tokoh-tokoh tadi bercerita, dan mendengarkan percakapan-percakapan mereka. Yang intens dan memantul-memantul di kepala saya. Kepala saya seperti kaleng yang berdengung. Meninggalkan keributan-keributan di sana. Dengan sebuah rasa terganggu—yang lain di hati saya.

Saya dan juga teman-teman yang lain berada acara bincang buku tersebut, dan mendengarkan Cyntha berbicara dengan bukunya ditemani oleh Mikael Johani dan Ariani Darmawan. Betul, Cyntha memang sangat sederhana, ia tidak menonjol, persis seperti tokoh-tokohnya di cerita pendek. Namun ada kelugasan dalam dirinya. Saya mendapati seorang perempuan yang menulis karena ia tak bisa mengenyahkan hal-hal kecil, yang barangkali untuk sebagian orang itu sesuatu yang menjijikan dan berjarak, tapi bagi Cyntha, itu adalah hal-hal yang sangat manusiawi. Cyntha tidak berusaha terlalu keras untuk mencari sesuatu di luar dirinya untuk ditulis. Hal lainnya, Cyntha tidak takut untuk dengan jebakan menulis adalah untuk menyenangkan orang lain. Mikael Johani pun berpendapat, “Barangkali salah satu kekuatan Cyntha dalam tulisannya adalah mengungkapkan sesuatu yang manusiawi.”

Cyntha sendiri mengaku bahwa ia cukup membuat jarak dengan tokoh-tokoh yang ada di cerita pendeknya. Sehingga ia lebih leluasa untuk menuliskan dengan cuek kalimat-kalimat seperti ini, “Norman yang remuk di jalan tol tanpa ada sisanya buat Siska” pada Cerita Dua Perempuan di Satu  Rumah. Atau kalimat-kalimat lain yang mestinya sedih, tapi berhasil ditulis Cyntha dengan tidak melebih-lebihkan. Seakan-akan, ya, itu tadi, kesedihan adalah suatu hal yang manusiawi, ia ada, namun ia akan lewat begitu saja.

Bagi saya, cerita pendek Cyntha, merupakan sebuah kabar kejut bagi dunia literasi Indonesia saat ini. Tema dari cerita-cerita yang ia tulis tidak bombastis, seperti tema kebanyakan, namun justru disitulah daya tariknya. Setelah habis membaca Manifesto Flora, saya menulis begini di Instagram, “Saya menemukan kalimat-kalimat getir. Cerita satu ke cerita yang lain, seperti menyimpan awan hitam berhari-hari di mata, menggantung, beku, dan tak kunjung luruh. Ketika masuk ke dalam sebuah cerita, beberapa kali saya nyaris mengembuskan nafas, menunggu, baru melanjutkan lagi. Ada rasa lega yang aneh—yang muncul ketika selesai membaca sebuah cerita. Namun ia hanya sebuah kelegaan yang pura-pura. Karena siap-siap, sebentar lagi, cerita lain akan menghantuimu.”

Lain halnya ketika saya membaca Ibu Mendulang Anak Berlari, buku puisi Cyntha. Saya menemukan sebuah ketegangan, kekompleksan, kerapuhan, seseorang sebagai Ibu. Rasanya lain lagi ketika membacanya. Namun dengn puisi-puisinya, Cyntha sama sekali tidak berjarak. Ia terasa begitu dekat. Ya, seperti ibumu di rumah.


Tuesday, April 3, 2018

PUAN PUISI: sebuah malam, puisi, dan perempuan













Sudah lama saya mendambakan sebuah 'pertunjukan kata' yang penuh keintiman, sederhana, dan biasa saja. Sebuah kegiatan pembacaan puisi yang begitu hari-hari, tak ada pelantang suara, tak ada pelantang bunyi. Hanya manusia, suara, dan kata. Saling mengandalkan satu dengan yang lain tanpa kebisingan yang terlalu. Bahwa kata adalah tuan, dan ia dapat berdiri sendiri tanpa perekat lainnya. Bahwa kata seperti cinta, ia akan menghampiri hati siapa saja yang ia 'pilih'. Pada malam di Puan Puisi, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, bahwa kata memang tak perlu dikawinkan dengan segala tetek-bengek lainnya. Ia mampu menjadi dirinya sendiri.

Ide acak yang datang di kepala saya perlu direalisasikan. Maka di hari Sabtu, 31 Maret 2018, acara Puan Puisi terlaksana sudah. Ada energi baru mengendap pelan-pelan di dalam hati saya ketika menyaksikan setiap puisi yang dibawakan. Tak hanya itu perenungan-perenungan kecil pun menyembul di hati saya. Bahwa merayakan perempuan; merayakan tubuhnya, merayakan nafasnya, merayakan pilihan-pilihan hidupnya, merayakan lelaki atau perempuan-nya, merayakan perpisahan, merayakan kesalahan, dan merayakan kemanusiaan, adalah sebuah perjalanan yang panjang.










Terima kasih untuk kawan-kawan perempuan yang telah membacakan perenungan-perenungan mereka tentang perempuan: Ayda Khadiva, Lian Kinan Project, Tsany Aulia, Andrita, Karina Sokowati, Gracia Tobing, Wienny Siska, Sekar Jagad, Navida Suryadilaga, Sasqia Ardelianca, yang telah hadir di Puan Puisi dan membawakan sebuah pertunjukan kata dengan begitu sensual dan agung. Meluruhkan sebuah rasa puisi yang baru, tak hanya di telinga, tapi juga di hati. Menggenangkan aroma kehidupan seperti air susu yang mengalir. Terima kasih untuk semua pendukung acara: Mr. Guan Coffee & Books dan Matoa Indonesia, semoga kolaborasi kita dapat terus berlanjut.



Terima kasih untuk langit Bandung yang begitu jernih, kopi-kopi yang tergeletak di meja, percakapan-percakapan yang memeluk, dan semua kawan yang sudah meluangkan hati dan hadirnya. Hati saya bergelimang syukur, semoga yang rahmani senantiasa melindungi kita semua.

(semua foto diambil oleh Gege Schoemaker)

Featured Post

Sebuah Catatan Tidak Kreatif Tentang Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai

Cara-cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai, adalah sebuah buku yang sedang kamu tunggu. Ia lahir sebentar lagi, tepat di 16 A...