Thursday, March 31, 2011

Memintamu.

weheartit

Secara tidak sadar kita melangkah. Diam-diam aku meminta kamu. Itu adalah permintaan yang aku lakukan secara sadar. Mungkin karena aku yang memang tidak bisa move on. Atau memang kita diciptakan untuk bersama. Ya, sesederhana itu saja.

Suatu hari aku pulang dengan sebuah pernyataan besar di kepala.
 
Setiap orang akan sampai di masa: berhenti mengandalkan kekuatan sendiri. Dan menyerah kepada kekuatan yang lebih besar darinya.
 
Satu hal yang perlu aku lakukan adalah menyerah. Menerima kekalahanku dan memintamu dalam diam. Memintamu dalam setiap kelelahanku. Memintamu dalam setiap air mata yang meleleh. Memintamu dalam setiap kekosongan. Memintamu dalam setiap keberadaan.

Memintamu.
 
Terserah saat ini kamu tidak mendengarku. Atau kamu pura-pura buta tidak melihatku. Aku akan terus memintamu. 

Memintamu sampai kamu mau.







Friday, March 25, 2011

Sehat Sepanjang Jalan

Papa saya suka buku. Dia punya kebiasaan membaca berjam-jam. Yang satu  ini saya tidak bisa, saya cepat sekali bosan. Tapi tentu saja ini tidak berlaku kepada buku-buku yang saya suka. Sekali suka saya bisa mengulang-ulang membacanya sampai berkali-kali.

Hari ini, saya pergi mengirimkan paket buku untuknya. Pakai Tiki, tempat langganan saya. Perbedaan jarak yang begitu jauh dan terkadang saling menelepon pun tidak mampu menutupi rasa sayang saya sebagai anak kepada orang tua.

Begitulah ketika kamu memutuskan untuk merantau. Tapi satu hal yang saya rasakan kedekatan emosional kita tidak pernah terlepas. Mereka percaya, rasa percaya itu yang saya bawa kemanapun saya pergi.

Hari ini saya bangun pagi, mandi, sarapan. Saya menyebutnya bagian hidup sehat yang saya lakukan. Lalu ketika siaran saya menuliskan sepotong surat kecil untuk Papa, sebelum paketnya saya kirimkan.




Tulisan di atas bukan hanya surat untuknya. Tapi keyakinan saya. Rasa percaya saya kepada Papa yang jauh di sana.

Lima hari lagi paket saya sampai, semoga ketika Papa buka pipinya memerah, seperti mendapat surat cinta dari pacarnya yang sedang ada di luar kota.








Wednesday, March 23, 2011

Project Anak Perempuan Dan Ayah.

pic by: Dan Lavric -- fotoblur.com

Setelah #30HariMenulis #30HariMenulisPuisi #30HariMeulisSuratCinta, mari membuat project baru lagi teman, semoga kamu siap. Papa di mata saya adalah sosok segala-galanya. Ia bukan hanya teladan. Ia seorang pemikir besar. Ia cinta pertama saya. Bikin saya jatuh cinta lagi dan lagi. Ia laki-laki yang menerima saya apa adanya. Tapi tentu Papa saya bukan sosok pria yang sempurna, Ia juga sosok pria yang penuh kekurangan.

Sosok Papa/Ayah/Bokap dimatamu apa?

Mungkin berbeda. Bisa saja Papamu sekarang masih di rumah, di surga, atau di antah berantah. Yang pernah kamu kenal secara langsung, melalui cerita orang lain, atau hanya melalui foto-foto.

Apapun bentuknya, kamu bisa berbagi cerita tentang Papa/Ayah/Bokapmu di sini. Ceritamu, bisa saja mengubah seseorang. Ceritamu bisa saja mengubah saya. Mari rayakan Ayah di #anakperempuandanayah. Silakan tulis kisah tentang Ayahmu, apapun kisahnya. Saya terima.

Caranya:

1.      1. Tulis kisahmu bersama ayahmu, bisa di-blog atau dimanapun. Tapi lebih disarankan di-blog, supaya gampang di-share. Kalaupun kamu sudah pernah menulis tentang ayah-mu pun sah saja untuk di-share kepada saya.

2.      2. Kisahmu akan dikumpulkan mulai 23 Maret-21 April. Tidak perlu menulis setiap hari, Tapi tulislah kalau memang kamu ingin menulis kepadanya.

3.    3. Kisahmu dapat di-share kepada saya, dengan mention @perempuansore disertai hashtag #anakperempuandanayah atau bisa dikirim ke email: perempuansore@yahoo.com

4.   4. Saya akan mengumpulkan kisahmu ke dalam blog khusus anakperempuandanayah.blogspot.com, tentunya dengan mencantumkan nama penulis juga nama blogmu. Kecuali, jika ada permintaan no name. Anggap saja, saya pengumpul kisahmu. Kalau suatu hari nanti blog ini jadi sebuah buku, anggap saja itu bonus untukmu teman. Ah, silakan follow blog saya, lalu share link ceritamu di kolom komen pun lebih baik.

6.     5.  Mari menulis dan jangan bunuh diri! ;)

Hey, anak perempuan. Mari rayakan Ayah!

LOVE,
The.

Untuk Mama.

weheartit



Mama ulang tahun yang ke-63. Itu sudah dua hari yang lalu. Tadi ketika saya pergi ke kamar mandi, saya merasa harus menulis tentangnya. Perempuan yang jarang ada di tulisan-tulisan saya. Bukan karena saya tak cinta. Hanya saja kami memiliki bentuk kedekatan yang berbeda. Bagi Mama, saya adalah anak bungsunya. Dimana-mana predikat anak bungsu adalah anak yang lebih baik tinggal bersama orang tua. Bukannya merantau keluar. Tetapi yang terjadi adalah saya anak yang merantau dan susah diajak pulang (kembali) karena saya merasa saya sudah punya kehidupan di sini.

Mama tetaplah Mama. Kami sama-sama keras kepala dan jatuh cinta terhadap pria yang sama, Papa. Beruntung sekali, Mama dicintai penuh-penuh oleh Papa. Tentu saja, saya juga iya, dengan porsi yang berbeda. Kami suka sekali berbeda pendapat. Saya suka tidak sabar menghadapi Mama. Begitupun sebaliknya Mama mungkin juga mengganggap saya, anak yang tidak bisa dibilangi. Tidak mau dengar orang tua.

Tapi saya sayang Mama. Seperti Mama sayang saya. Ingatan saya tentang Mama begitu lekat. Saya tidak akan pernah lupa. Saya masih ingat, saya suka tidur di bawah lengannya dan meletakkan tangan saya di atas perutnya. Bau tubuhnya yang khas, saya suka. Umur sekitar sepuluh tahun, saya suka sekali menangis berjam-jam kalau mau ditinggal Mama dan Papa tugas keluar kota. Kalau Mama pulang dengan kapal, saya suka sekali berlari kencang-kencang ke arah ujung rumah, tempat dimana saya bisa melihat kapal itu di laut. Saya adalah anak perempuan yang memalsukan tanda-tangan Mama di kelas tiga, karena saya takut Mama marah, nilai saya banyak yang merah. Saya dibelikan beha pertama kali olehnya. Saya suka mencabuti ubannya. Saya dibikinkan baju sendiri, supaya baju saya tidak sama dengan anak-anak yang lain.

Saya sayang Mama. Dengan cara yang berbeda. Banyak hal yang tidak dapat saya ceritakan di sini—beberapa hari yang lalu, saya menceritakan sesuatu yang sangat “intim” dengannya. Lalu saya lega, karena saya tahu rahasia saya berada di hati yang tepat. Satu hal yang membuat saya yakin kalau Mama betul-betul sayang sama saya adalah ketika suatu hari dia mengirimkan saya pesan di hape: Bale di Ambon sudah. Dilanjutkan dengan kalimat-kalimat seperti ini: Kami selalu mendoakanmu setiap pagi.

Mama, terpujilah hatimu yang begitu tulus.










Friday, March 18, 2011

Laki-laki asing—mabuk.

weheartit


Begitu detail—saya bisa mengingat segala sesuatu tentang kamu begitu detail. Seakan-akan memang kamu itu terbuat untuk diingat oleh saya dengan detail. Seakan mata saya memang diciptakan untuk menyimpan penggalan-penggalan adegan tentang kamu. Kalaupun saya hendak menceritakan kembali, mungkin bahasa saya tidak cukup indah, terlalu karu-karuan, untuk menggambarkan kamu yang terlalu lurus itu.

Begini saya senang menulis dengan perumpamaan, tapi kali ini saya tidak menemukan perumpamaan yang cocok untukmu. Kita memang berjarak di malam itu, tapi saya mengenal dengan jelas wangi parfummu—bau tubuhmu. Saya tidak pernah menyukai wangi parfum apapun sampai saya bertemu denganmu dan jatuh cinta—begitu mabuk.

Saya gila! karena saya berani mabuk denganmu. Laki-laki dari negeri asing. Laki-laki dengan telinga. Saya mabuk lalu saya marah, kenapa saya bisa mabuk denganmu. Bercinta di malam-malam yang beku. Meleleh, ringsek di antara lipatan-lipatan dahimu. Berakhir dengan menangis tersedu-tersedu sampai tertawa berderai-derai.

Seperti merasa banyak balon warna-warni di hati, atau seperti naik rollercoaster. Atau mungkin mengganti cat kuku ketika bosan. Cepat sekali mabuk cepat sekali bosan. Kemudian kini saya ada di tengah. Entah merasa apa.

Suatu malam setelah kamu mengantarkan saya pulang. Saya duduk lama di atas kasur dengan celana pendek kesukaan saya, kaos gombrang, saya berbicara dengan Tuhan. Bahwa mungkin Tuhan itu sedang ngaco untuk membiarkan saya mabuk denganmu—









Thursday, March 17, 2011

Menunggu Gerimis

Mendung yang menyengat dan bau aspal menusuk ke hidung. Sepanjang perjalanan ini aku belum menemukan gerimis. Padahal sudah saatnya gerimis pulang. Berisitirahat di dalam tanah, menyusup ke sari-sari pupuk yang tersisa, bermain petak umpet dengan cacing. Atau hanya sekedar nangkring di genteng bercerita dengan dedaunan. Atau hanya melamun di atas jendela.

Ketika gerimis pulang. Langit pun siap kehilangan. Ada sesuatu yang akhirnya dilepaskan. Mungkin itu berupa air mata. Kekesalan, kerinduan, kemarahan—kasih sayang. Segala rasa seperti bercampur aduk. Ingin berhamburan keluar. Apakah ada kesiapan, saya sendiri tidak dapat menjawabnya.

Semesta itu begitu sopan. Tapi dalam beberapa hal terlalu spontan. Mungkin saya memang harus bersiap dengan segala keterkejutan yang ada. Perasaan yang berubah-ubah. Sedikit labil. Kegalauan datang. Lalu saya pikir itu natural. Kita tidak pernah bisa berakting tentang kehidupan. Penerimaan akan membuat kita lega. Penolakan justru akan membawa kepada satu beban yang baru.

Saya masih mencium bau aspal. Lalu masih juga belum menemukan gerimis. Mungkin saja gerimis nyangkut di balik awan-awan gempal. Karena belum sisiran—malu. Atau hari ini gerimis ketiduran sampai lupa kalau memang kita ada janji.

Sepatu flat lusuh saya berdetak di atas jalan. Setelan tank top oranye yang saya pakai, harusnya hari ini membuat saya bergairah. Entahlah saya ingin menulis apa ini—mungkin kegelisahan.







Wednesday, March 16, 2011

Derai

derai gejolak
mekar lari
terjatuh
lumpuh.
berdesakan mencari pegangan
aku rindu.
sweter kaos
setelan yang sama
sneakers kopi
luruh dalam hangat
aku cinta—
habis teman
beku.

Tuesday, March 15, 2011

Mari Rayakan Sex



fotoblur.com

Beberapa hari ini saya banyak membaca banyak hal yang berbau sex. Dimulai dari catatan facebook yang di-tag kepada saya. Lalu beberapa buku termasuk yang ditulis oleh seorang blogger terkenal sekaligus seorang pakar sex di sebuah majalah pria. Banyak isu menarik yang saya temukan. Dan banyak hal menarik yang kemudian membuka pemahaman saya kepada sex.

Teman saya yang saya ceritakan di awal, menulis di catatan FB-nya seperti ini—Ia selalu memiliki tujuan saat Ia menciptakan sesuatu. Termasuk organ di bawah perut sebelum paha itu. Kenapa kita menutupnya dan hanya kita buka untuk saat-saat tertentu saja? Karena namanya saja     “kemaluan.” Sudah seharusnya ia punya rasa malu. Tapi aneh memang jaman ini, kemaluan justru menjadi alat pamer luar biasa sampai ia bisa jalan-jalan kemana ia mau tanpa sehelai benang pun menutupinya. Saya rasa,“ kemaluan”  butuh sekolah supaya ia mengerti dan tahu apa artinya malu.

Saya mengomentari catatan teman saya dengan ini—Jujur saja aku tidak setuju ketika dikatakan "kemaluan." Nama mereka adalah vagina dan penis. Pada waktunya vagina dan penis akan bekerja dengan cara mereka yang luar biasa, untuk satu tujuan yang jelas: kepuasan seksual lalu keturunan. Aku merasa, bahasa akhirnya mengkonstruksi pikiran masyarakat bahwa "kemaluan" adalah sesuatu yang akan membuat kita "malu." Padahal itu bukan tujuan pencipta, bukan alat reproduksi-nya yang membuat malu, tetapi sikap kita sendiri terhadap alat reproduksi itu. Kalau memang dipakai semestinya, vagina dan penis malah memenuhi destini mereka.

Saya tidak akan menyinggung soal asal usul kenapa sampai kata “kemaluan” yang dipakai. Atau saya juga bukan pakar yang kemudian harus cerdas menjelaskan sex secara ilmiah. Saya hanya pelaku: saya menggunakan organ seksual saya secara semestinya. Dan saya pengamat: saya bergaul dengan banyak orang yang juga menggunakan organ seksual-nya teratur (baca: aktif secara seksual). Di dalam percakapan sehari-hari saya dengan teman-teman. Saya tidak pernah merasa risih untuk membicarakan soal sex, walaupun itu hanya jokes bodoh semata. Atau membicarakan sesuatu yang lebih dalam. Tapi saya merasa sudah seharusnya yang perempuan ini harus keluar dan bicara soal sex. Bukan hanya diam-diam, pura-pura risih, malu-malu. Lalu berakhir bodoh alias tidak tahu.

Saya mau cerita sedikit, beberapa waktu yang lalu, saya pernah berkencan dengan seorang pria. Ia cerdas, saya suka dengannya. Kami menghabiskan banyak waktu mengobrol bersama dan duduk-duduk sampai subuh. Pergi keluar dengan seseorang yang membuatmu suka bahkan jatuh cinta adalah perasaan yang menyenangkan. Biasanya setelah mengobrol panjang tersebut kami pulang. Pada suatu malam, ketika dia mengantarkan saya pulang, tiba-tiba dia menawarkan untuk pulang ke kosnya atau kita ke hotel. Tentu saja itu adalah ajakan secara halus untuk tidur dengannya.

Malam itu saya menolak.

Ajakan tidur sangat menggiurkan. Saya bukan perempuan yang munafik, melakukan hubungan sex dengan orang yang kamu suka pastinya adalah tawaran yang menarik. Adalah hal yang menyenangkan. Tapi saya menolaknya. Pada keesokan harinya di kecan kami selanjutnya, dan keeseokannya lagi, dia masih saja mengajak saya.

Tapi, saya tetap menolak.

Kenapa? karena saya berpikir, belum waktunya. Klise? iya! Saya ingin, tapi saya menunda untuk tidak melakukannya. Hasrat saya jelas sampai di ubun-ubun. Siapa bilang saya tidak tergoda, saya begitu suka dengannya.

Tapi menunda rasa lapar untuk menikmati pesta dengan makan besar, akan membuatmu makan lebih lahap dan perutmu lebih kenyang ketimbang sebelum pesta, kamu makan terlalu banyak. Itu akan membuatmu kekenyangan ketika pesta, lalu ketika dipaksakan makan, kamu akan muntah.

Saya selalu membayangkan sex sebagai perayaan. Ada kenikmatan sejati ketika mabuk. Saya hanya kepingin mabuk dengan orang yang tepat. Saya hanya ingin melakukannya dengan orang yang juga ingin mabuk dengan saya.

Menunda bertemunya penis dan vagina, bukan semata karena sok-sokan, sok suci, sok jual mahal, whatever.

Tidak.

Tundalah sex. Sebelum kamu yakin, melakukannya dengan orang yang tepat di waktu yang tepat. Lalu, kalau kamu sudah menemukan orang yang tepat itu, mabuklah, nikmatilah, jangan lupa ceritakan kepada saya ;)

LOVE,
The.











Monday, March 14, 2011

ew.

cangkir kopi dingin di meja kayu
norah jones sayup sayup malas bernyanyi
mesin pembuat kopi starbucks: menggilas hati
hancur seperti biji kopi.
ampasnya kau minum
menyolok di bibirmu.
telanjang aku dengan kakikaki melepuh
terbangkan balonbalon oranye
sepanjang new york – paris
merayakan cinta
– patah. 

Sunday, March 13, 2011

Gadis Kecil Umur Tujuh

Saya adalah gadis kecil umur tujuh. Umur dimana saya suka ditinggal sendiri, karena satu dan lain hal. Hal yang paling saya benci adalah ketika tidur siang, lalu bangun ketika hampir maghrib dan di lampu di sekitar rumah belum dinyalakan dan di sebelah saya tidak ada orang.

Saya suka cengeng—menangis keras-keras tanpa malu. Biasanya permasalahannya sepele; tidak suka ditinggal. Mungkin di tubuh saya terlalu banyak air mata. Pohon-pohon air mata itu tumbuh setiap hari semakin besar, menancapkan akarnya yang kuat pada usus-usus.

Jelas sekali pohon air mata selalu berbuah air mata. Saya takut, kalau pohon air mata itu tambah besar setiap harinya dan buah air matanya tambah banyak. Saya akan tenggelam. Karena saya tidak bisa berenang.

Oh. Itulah mengapa saya ini gadis cengeng. Kalau begini saya butuh permen warna-warni, coklat, dan sedikit pelukan hangat. Saya butuh Papa. Tempat mengaduh. Biasanya ia akan mendengarkan dan menghibur. Tapi sekarang Papa Mail box, mungkin sedang di luar kota.

Atau mungkin seharusnya saya bersahabat dengan pohon air mata itu. Bergelayutan riang di cabang-cabangnya. Sesekali bermain petak umpet di antara rantingnya. Lalu memakan buahnya ketika saya haus.

Kalau sudah begitu kan, saya tidak perlu lagi tembok. Bantal. Saya akan membuang mereka jauh-jauh. Saya bertanya: apakah di dalam tubuh gadis kecil lain ada pohon air mata? atau mereka sengaja memangkas pohon air mata mereka. Oleh sebab itu mata mereka kering.

Kalau begitu, pohon air mata akan gantian menangis. Kasihan juga. Jadi biarkan saja, saya tidak mau memangkasnya. Biarkan ia tumbuh dengan lebatnya di dalam perut saya. Kelak, saya akan dikenal sebagai gadis kecil dengan pohon air mata. Pipi saya juga ikut berair. Ada lumut di sekitar tubuh saya, karena lembab—kalau orang-orang kekeringan, saya akan membaginya kepada mereka—air mata membuatmu berhenti bertumbuh. Walau kini kau semampai, dengan payudara sedang, dan pantat yang sedikit berisi.

Gadis kecil cengeng dengan pohon air mata di tubuhnya mengikuti kemanapun kau pergi.

Saturday, March 12, 2011

Ampas Kopi

gambar dari miss google.




Timbangan berkel tua mengamatiku dari jauh. Kerut kerut pipinya tak bisa disembunyikan sepuh tidak rapuh. Mungkin sepanjang hidupnya ia menimbang cinta di antara biji biji kopi di kepalanya. Tidak lelah menimbang dan terus menimbang. Kepalanya terus bergoyang, mengangguk-angguk—Entah. seperti setuju dengan isi kepalaku atau apa. Atau justru ia sendiri sedang menimbang-nimbang isi kepalaku.

Bagaimana tidak. Ia adalah saksi. Aku kecil, berlari-lari di sekitar ruangan itu hanya dengan memakai celana dalam tanpa malu. Kaki-kaki kecilku terkena ampas kopi dan aku tidak peduli. Terkadang ampas kopi itu singgah di pipi gembilku. Aku juga tidak peduli, aku suka mereka di sana. Ampas kopi itulah yang akhirnya menemukan cintaku untukmu.

Sayang sekali di muka bumi ini, tak ada cinta sejati. Cinta sejati senang keluyuran. Terpeleset. Jatuh entah kemana. Lenyap. Begitu saja, tidak kokoh seperti timbangan berkel itu. Yang bertahun-tahun tetap setia di atas meja kayu. Tidak bertahan lama. Mungkin ia cepat bosan, seperti halnya pembeli kopi yang mengantri. Ada yang menelepon dan berbicara keras-keras. Ada yang berdiri sambil goyang-goyang kaki. Ada yang mengetuk-ngetukan jari ke meja.

Cinta sejati terlalu gesit. Atau mungkin terlalu rumit. Tidak selamanya begini: aku cinta kepadamu. Aku bersamamu. Cinta sejati kebanyakan aku cinta kepadamu. Kita berpisah. Selesai. Tidak tahu aturan. Tidak tahu malu. Seperti tidak punya keyakinan. Seperti tidak punya Tuhan. Ah sudahlah! Mungkin Tuhan sendiri tak cukup punya waktu untuk mengurusi hal macam begini.

Ampas kopi yang mempertemukan. Ampas kopi juga yang memisahkan. Kaki-kaki kecilku masih bermain-main. Kasar menginjak lantai tua. Menggendong anak perempuan kecil yang nantinya akan tumbuh dewasa. Punya susu, mens pertama—mengajarkan pakai pembalut. Kemudian aku akan mengajarkannya percaya kepada cinta sejati.

Timbangan berkel di depanku tidak banyak bicara. Mengangguk-angguk seperti setuju dengan perkataan di kepalaku—bahwa ketika seseorang punya cinta, ia harus berani memperjuangkannya. Atau itu sama saja dengan mati. Tidak peduli warna kulitnya apa. Cinta sejati tidak diukur dari situ. Aku yang putih mencintaimu. Mencintai kulitmu yang seperti ampas kopi. Dan itu adalah alasan kenapa kita berpisah.

Persetan dengan cinta sejati! Itu omong kosong. Timbangan berkel berhenti menggangguk. Mungkin tak setuju. Karena sampai kapanpun, ia ada. Berdiri di atas meja kayu itu, mengintip pelanggan dari jauh. Mengantri untuk membeli kopi hitam pekat—pahit. Refleksi dari kehidupan yang tidak selalu manis.

*selesai ditulis 4:50 pagi ini untuk Kopi Aroma di Jalan Banceuy. Dibuat setelah saya jalan-jalan random ke sana kemarin sore. 










Friday, March 11, 2011

Suara Parau

pernahkah kau ingin bernyanyi?
dengan suara parau di antara mobil mobil sibuk
debu debu berterbangan bernyanyi
keras keras supaya kaca di hatimu pecah
menusuk yang lalu lalang
keluar darah dari matamu seperti airmata
menurun tak tahu diri
terus bernyanyi parau
debu debu lalu lalang orang orang berterbangan
kesakitan. hatimu pecah. 

Thursday, March 10, 2011

Langit Oranye

hallo, langit oranye selamat pagi!
ucapkan salam untuk anak anak anjing di atas sana
berlari terbang bersenang dengan kuping yang menyalak
berguling guling di debu awan bermain terang
hujan pulang mendung tak datang.
hanya oranye dan anak anak anjing
“guk guk guk” menyalak ke arahku.
hidung panjangnya menjulur ke arahku.
kini aku gadis si pipi basah.
berlari terbang bersenang dengan kuping yang menyalak. 

Wednesday, March 9, 2011

Hujan Kecil

aku hujan kecil,
payung hitam di kepalaku melayang layang
rambutku berantakan kaos kakiku bolong bolong
aku pun membentuk garis panjang. sementara semesta terbahak
kencang sekali air matanya membentuk lautan di atas awan
aku hujan kecil, gaunku hilang di tali jemuran
hendak berlari lari dengan tubuh telanjang
kaki runcingku kena atap, halaman, pekarangan
membocori kamar tidurmu, hanya mau bilang: selamat pagi, Tuan!
mengacak poni rambutmu. sedikit luntur di pipimu. mencium mendung di bibirmu.

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...