Friday, July 9, 2010

#9 hai Ben, apa kabar?

aku kabar cantik :-) ketika aku menulis ini, senja persis ada di atas kepalaku. bajunya merah menyala seperti hendak ke pesta. oh yah, jadwalku padat sekali, minggu-minggu ini, sampai-sampai aku tak sempat lagi ke Braga, mengulang jalan-jalan kita, duduk di sepanjang Museum KAA, sampai akhirnya berhenti di jembatan untuk sekedar melihat senja yang sedang ranum-ranumnya.

aku sibuk siaran Ben, pendengarku semakin betah saja mendengarkan siaran-siaranku. mereka bahkan menunggu aku tiap siang. antaran makanan dan cemilan juga tak henti-hentinya. kalau aku izin sehari saja, mereka langsung sms ke hapeku atau menelepon ke kantor, menanyakan penyiar kesayangannya.

entahlah. seolah-olah mereka takut sekali kehilangan aku. mungkin benar yang kamu pernah bilang tempo hari. soal arti namaku Elana yang adalah pohon. bukan hanya sekedar pohon katamu, tapi pohon yang rimbun sekali, sehingga banyak yang suka datang dan berteduh di bawahnya. mungkin, itu aku Ben.

aku kangen. kamu cepatlah ke Bandung. ada tempat baru yang kita perlu datangi bersama, mungkin kamu akan suka. kita bisa mengejar senja ke sana. asal jangan terlambat, tapi kalau pun kita terlambat, kamu tahu kan senja itu tidak pelit. Ia biasanya menyisakan sedikit helai gaunnya untuk kita nikmati.

ah Ben, senja suka sekali ke pesta. makanya gaunnya selalu meriah. bibirnya juga selalu merah. kadang aku pikir, genit sekali senja itu. untuk siapa kah ia berdandan, bukan untuk kamu kan?

karena hatimu untukku.

peluk.

Elana.

(2010)

3 comments:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...