Wednesday, June 30, 2010

Aku Punya Rumah

rumahku tidak mewah seperti yang kau bayangkan. rumahku tidak juga gubuk. rumahku biasa saja. dengan halaman yang cukup lega untuk buatku bermain, menerbangkan balon, sesekali tidur di rerumputan, sesekali bernyanyi dalam diam, sesekali menari dalam bisu.

di sana ada tempat tidur tua, ada foto-foto aku bersama saudara-saudariku, ada fotoku pakai gaun berenda, rok lipit-lipit, sendal jepit, dengan gulungan rambut dimana-mana. sesekali di foto itu, ada aku sedang menangis lebar-lebar.

ada jendela besar. ada rayap suka menggali di sana. ada kecoa suka sembunyi di balik kolong. ada berantakan. ada banyak hutang mencuci baju kotor, dan gelas-gelas kotor dimana-mana. ada bau.

ada ruang tamu seadanya. rak buku lapuk di tengahnya. karpet yang sudah lama tidak di jemur. dan kamar mandi sederhana. di sana ada cermin tempatku berkaca setiap pagi, menghapus make-up yang berlebihan. ada closet tempatku mengalirkan air mata.

ia tetap rumah. tempatku belajar merangkak, panggil ma ma pa pa, ngompol, jatuh, berjalan, berlari, terbang, lelah, kemudian terbang lagi. ia tetap rumah, selalu ada yang mengepul dari dapurnya. walau itu hanya masakan sederhana. tapi mengenyangkan.

ia tetap rumah. tempatku jatuh cinta pertama kali. tempatku belajar bilang ILOVEYOU. sampai tempatku patah hati. dan kemudian mau jatuh cinta lagi. tempatku menabung cita-cita. tempatku belajar kalau Tuhan suka dansa. tempatku berbagi rahasia: mulai dari cerita-cerita lugu tentang ciuman pertama, sampai kejadian istimewa. tempatku menjadi dewasa.

ia tetap rumah. tempatku berpelukan semalaman. membalut lukaku di balik selimutnya yang rapuh. karena bertumbuh itu ternyata sakit. apapun ia bagiku, aku baginya, ia tetap rumah, dan aku menyayanginya (tanpa titik)

ia tempatku pulang.

28.06.2010, 12:37

*untuk Glorify the Lord Ensemble.

lalu aku di sini

tersedak diantara debu jalanan. terduduk kadang tergeletak, mencari namamu di setiap plat nomor mobil atau motor yang lewat. aku memasang mata, mungkin di sisi kiri atau sisi kanan jalan, siapa tahu ketika mereka lewat, mereka membawa namamu serta.

tidak usah lengkap, paling tidak hanya inisial saja.

lalu aku di sini, terhimpit diantara gerimis yang semu. sentuh hati yang telah lama lumutan, berharap aku menemukan bening mola matamu. menunggu, gerimis lewat, berpayung ungu. tapi tak ada juga bola matamu.

aku rindu. tidak. euh. ya, aku rindu

kali ini aku menuliskannya tidak pakai titik. titik itu begitu rapuh. begitu emosional. bisa saja berubah, suatu saat. dan ketika waktu itu datang, aku menjadi labil. aku menjadi tidak punya keyakinan, aku tidak teguh, dan kemudian berubah menjadi upik abu.

ketika aku menuliskannya. perasaan ini menjadi begitu random. aku berharap diantara ke randoman ini, aku menemukan inisialmu di sana. sekali saja. nama yang membuat mataku susah terpejam ketika malam. nama yang selalu membuatku terjaga, walau tanpa cinta.

nama yang begitu membutakan.

(2010)

Monday, June 28, 2010

Kata Rindu

tentu saja kau kenal kata itu, kata yang selama ini kau ucapkan di antara dering telepon. kata sayang yang berjarak. kata ketika aku lelah menyimpan cium. kata ketika aku capek menunggu email darimu.

aku merindumu sampai bulan berwarna oranye. aku merindumu sampai langit berpasir dan banyak bintang laut tajam menusuk kakiku di sana. aku merindumu sampai gerimis berubah menjadi paku payung kecil-kecil. aku merindumu seperti sebilah pisau tidak karatan yang sendirian di dapur.

kau tahu rindu ini begitu berduri. tiap hari menusukku begitu dalam. dan aku di sini, berdiri teguh diantara serpihan lukaku. menanti hanya satu kecup darimu. kemana saja kau? hey, kembalikan rinduku.

bukankah selama ini, kau yang mengumbarnya, membuang remahnya, dan kini kau lupa memungutnya kembali. kau selalu mendendangkan rindu, tapi kini kau bisu. atau mungkin aku yang tuli?

aku ingin menuliskan kata rindu. seperti di lagu-lagu cinta. aku akan menyanyikannya dengan merdu di kupingmu, kalau kau mau. tapi akhirnya nada-nada itu keluar dari mataku. mengalir ke closet, dialirkan ke dalam entah.

lalu, kau sendiri, apa kau masih punya stock rindu barang sedikit untukku?

aku tak butuh banyak. aku hanya rindu.

rindu, kau melukaiku kembali.

28.06.2010, 19:21

Sunday, June 27, 2010

Aku Punya Tempat Bersembunyi

aku suka sembunyi di balik kotak kardus mobil-mobilan bikinanku sendiri. aku suka sembunyi di belakang pintu, tempatku bertemu dengan laba-laba dan rumahnya. aku suka sembunyi di kolong tempat tidur, tempatku melihat langkah-langkah kaki orang lain. aku suka sembunyi di dapur sunyi, tempatku menyenandungkan sesuatu sendiri.

tempatku bersembunyi selalu sunyi.

tapi dari semuanya, aku paling suka kolong tempat tidur. kolong tempat tidur sunyi. tempatku merakit mimpi seorang diri. hanya aku dengan hatiku. hanya aku dengan bunyi nafasku sendiri. tidak ada yang tahu.

tempatku bersembunyi selalu gelap.

aku suka kegelapan di bawah kolong tempat tidur. karena dengan begitu kau bisa melihat cahaya yang keluar dari hatimu sendiri. cahaya yang akan membantumu melihat di dalam kegelapan.

di kolong tempat tidur, juga kelihatan kaki-kaki setengah, berjalan di luar. ya, mereka diluar sana tidak mempedulikanku. kalaupun mereka, berjongkok dan melihatku, mereka hanya memanggilku dari luar kolong. pasti mereka tidak akan mau masuk ke dalam. mereka takut kena debu kolong.

di kolong tempat tidur, aku bisa tinggal seharian. aku suka bermain dengan debu. tidak peduli kalau mereka nongkrong di celanaku. aku suka remah-remah putih yang biasanya lengket di rambutku. tidak mau mandi setelah itu.

di kolong tempat tidur, aku sembunyi. sendiri. merakit mimpiku sampai terkantuk-kantuk. lalu tertidur. sedangkan di luar, masih kelihatan kaki-kaki setengah yang sedang berjalan. tidak peduli.

di kejauhan suara Mama sayup-sayup terdengar memanggilku untuk makan.

“maaf Ma, duluan saja, aku masih belum lapar.”

27.07.2010, 12:56

Saturday, June 26, 2010

Mencari Senyum

aku mencari senyum di lorong sepatu, mungkin nyelip diantara baunya. di lemari baju, mungkin nyelip diantara lipatan rok lipit-lipit atau tank top hitam. aku mencari senyum di balik toa masjid yang mengajak sholat.

aku mencari senyum di balik tumpukan gerimis yang turun tipis-tipis, singgah di kepala. aku mencari senyum di balik tuts keyboardku, aku mencari senyum di balik kepulan kopi di meja, aku mencari senyum di balik buku-buku yang menggerutu dicuekin melulu.

aku mencari senyum di balik gayung kamar mandi, aku mencari senyum di balik bulu-bulu sikat gigiku di kamar mandi, aku mencari senyum di antara rambut rumput yang kusut malas sisiran.

aku mencari senyum di bawah kolong tempat tidurku, aku mencari senyum di saku baju monyetku, aku mencari senyum di dalam tas netbookku, aku mencari senyum di antara selipan uang receh di dompet mungilku. aku mencari senyum di antara keriting rambutku.

susah payah aku terus mencari senyummu tidak juga kutemukan.

(2010)

Friday, June 25, 2010

Semoga

semoga Tuhan merestui. kalaupun tidak aku minta restu dari malaikat.

semoga kelak kita berdua bisa menanam uban di halaman rumah. anak cucu bahkan cicit berteduh di rindangnya.

semoga aku bisa mencintaimu tanpa titik

semoga tidakadaspasiketikaakumencintamu

semoga selalu ada luka diantara kita. karena dengan begitu kita belajar lebih jago membalutnya. kau dan aku. kita berdua.

semoga mencintaimu selalu penuh air mata. karena toh air mata yang mengalir bisa menyuburkan tanah.

semoga ketika kita bercinta. Tuhan pura pura buta. lalu ia menutup mata. hey, kita bisa bercinta lagi. sesuka kita.

semoga kau berkunjung tidak hanya di hari Sabtu. tak ada lagi Sabtu di kalenderku. sudah aku cungkil.

semoga kau tidak lupa bawakan aku setumpuk gerimis untuk hadiah.

semoga kau yang terakhir. peduli amat ada berapa nomor di kertasku.

semoga gerimis yang sekarang mampir. melompat lebih lama di perutku.

semoga kelak ada balkon penuh kata di rumah kita. jendela besar supaya aku bisa menyicip hujan yang mampir.

semoga kelak kita menikah di bulan. peduli amat penghulu mau hadir atau tidak.

semoga hatiku bertambah luas. selalu longgar. tidak kelar kelar mencintamu.

semoga ketika gerimis mampir. bikin kupukupu yang layu subur kembali.

semoga kali ini aku tidak purapura.

(2010)

Wednesday, June 23, 2010

Mencintaimu seperti Closet

cintaku padamu itu bau. bau yang khas. bau yang hanya kita berdua yang tahu. bau yang bebas melebur dengan udara pengap di dalam kegelapan, menggenang sebentar kemudian diteruskan ke dalam entah.

cintaku padamu itu penuh daya tahan. tanpa menghitung seberapa sering kau duduk diatasku, merekatkan paha dan pantatmu perlahan, lama. kadang kau baca buku kesukaanmu diatasnya. koran lama. melamun. atau mengobrol dengan laba-laba kecil yang tersesat, mereka pikir celana dalammu mungkin adalah rumah mereka.

menopangmu ketika kau duduk di atasku.

cintaku padamu itu tanpa mengeluh. Kadang kau hanya singgah sebentar, sibuk bersiul-siul lagu Rihanna atau siapa, kemudian buru-buru membersihkan ini itu, mengancingkan celanamu, lalu pergi.

sebegitu sibuknya, pun aku selalu menantimu kembali.

aku mencintaimu seperti closet. menampung segala curhat panjang lebarmu tentang, mimpi dan air mata. sekaligus gelisah, lelah, dan bahagia.

mungkin kau hanya mampir sebentar, tapi baumu membekas selamanya.

aku mencintaimu seperti closet yang tidak lupa mengalirkan si kekasih brengsek ke tempat yang semestinya.

(2010)

Monday, June 21, 2010

Semacam Fragmen

ini pukul dua pagi. bunyi detik jam yang belum tidur pun masih cerewet di kejauhan. mataku tidak lepas dari krusor hitam yang bergerak di lembaran putih page netbookku.

sepanjang malam aku mencoba menuliskan bisu yang terendap lama. sepanjang malam aku mencoba menguraikan batas-batas antara kata cinta. tetapi hasilnya adalah nihil. nol besar. karena kata itu begitu rapat, tidak ada lubang udara. membuatku pengap. tapi juga tak ingin udara segar.

aku bosan menuliskanmu diantara draft-draft matiku. draft-draft konyol yang kuimpikan kelak akan menjadi buku. entah kapan. aku melirik ke handphone qwerty yang tergeletak kaku di atas karpet kamarku. hendak mengetik sesuatu untukmu. mungkin sajak lama yang biasanya kusimpan.

kulihat jari-jariku mulai menggerayangi tutsnya. mengetik ulang sebaris puisi pendek yang pernah aku tulis untuknya. dan saat ini aku kirimkan kepadamu dengan bangga.

send.

kuletakkan kembali handphoneku, sebelum aku kembali ke ranjang, berpelukan dengannya.

****

kau tahu c**** terkadang pelupa. ia serupa nenek-nenek tua pikun, yang lupa menaruh jarum rajut dan kacamatanya. padahal baru saja sedetik yang lalu dipakai. atau mungkin c**** butuh reminder, supaya tidak lupa akan mulut manisnya sendiri.

untuk pertama kalinya aku benci kata itu.

****

saat ini, kau pasti bersamanya. memeluk tubuhnya. setelah kalian bercinta entah berapa ronde. dan aku menunggu giliranku. minggu depan katamu, kalau kau tak sibuk. kau akan mampir. aku tidak sabar menunggu waktu itu. waktu yang akan selalu membuat aku terjaga, seakan esok tidak pernah ada.

sedetik kemudian, handphoneku berbunyi.

ada sms masuk.

“maaf, aku tidak bisa mampir, kita atur waktu lagi ya sayang. kecup.”

****

di luar, ujung sepatu gerimis mengamuk. menghajar dengan sengatnya. di kejauhan ada mendung berkepanjangan. saatnya aku merindu matahari menghisap sajak-sajak mandul dari putingku.

di bawah selimut ada sunyi telanjang.

21.06.2010, 03:22

Sunday, June 20, 2010

Hati Sedang Pucat

ia malas berdandan.
kotak make-upnya dibiarkan begitu saja
tergeletak di bawah kolong meja.
padahal hari ini minggu
biasanya ia suka berjemur ke pantai dengan bikini kuningnya.

hati sedang botak.
ia mencukur habis rambutnya
tidak menyisakan poni
tidak sesenti pun rambut di sana
kepalanya licin.
lalat bisa terjun bebas diatasnya.

hati sedang mandul.
ia malas bersetubuh. tunas-tunasnya mati semua.

hati tak berguna. lebih baik kau kucungkil saja.
kini, dadaku bolong.

(2010)

Saturday, June 19, 2010

Warung dengan Semangkuk Gerimis

warung depan masih sepi. padahal aku ingin memesan semangkuk gerimis.

aku masih ingat porsimu, kau suka memesan semangkuk gerimis porsi jumbo dengan banyak awan merah diatasnya. lalu, aku berpikir sudah lama sekali kita tidak duduk berdua, mengobrol tentang luka. berember-ember luka yang kita tampung sampai meluap. meleber. tumpah-tumpah di selokan teras belakang.

luka ini tidak mau dijual saja? tanyamu waktu itu. lumayan loh, kau bisa menabung dari luka, daripada basi. katamu juga waktu itu.

menabung dari luka.

lucu juga, pikirku dalam hati. aku akan berbisnis luka.

hum. boleh saja. aku bisa promosi di twitterku: bagi yang hendak menjual luka, silakan hubungi aku, si pemilik warung luka.

warung depan masih sepi. padahal aku ingin memesan semangkuk gerimis.

jauh di dalam warung yang sepi itu, si Ibu warung sedang asik mengaduk luka di dalam panci.

(2010)

Friday, June 18, 2010

Dan Aku Bukan Cinderella

kau pernah tahu cerita Cinderella?

yang itu loh, pakai sepatu kaca. pasti kau tidak lupa kan? ia pasti adalah cerita kesukaanmu jaman masih kecil dulu. ia yang punya cita-cita kepingin menikahi pangeran yang tampan.

itu dulu.

saat ini sepatu kaca bosan dengan kaki Cinderella, ia bilang kaki Cinderella bau. dan ia kepingin mencari kaki lain: yang lebih terawat, dengan betis yang lebih mulus.

kalau sepatu kaca saja mulai pilih-pilih, apalagi pangeran, ia pasti jijik dengan Cinderella yang kakinya bau.

aku babu.

bajuku hanya satu. rambutku tidak dikeramas dengan shampoo yang mahal. aku tidak mengerti merek-merek mahal. aku bahkan bertelanjang kaki kalau sedang bekerja di dapurku yang kotor. tapi kakiku tidak bau. betisku mulus.

hanya saja, aku tidak pernah punya sepatu kaca, memikirkan untuk membelinya pun, aku tak sanggup.

aku tidak punya cita-cita seperti Cinderella.

yah, yang aku tahu adalah aku dan dapur itu satu. aku berkotor-kotor di dapur, aku memasak, mencuci, membuat kue, melakukan segala aktivitas ke dapur-dapur-an-lah. mungkin saja, tinggal di dapur, itu adalah cita-citaku.

entah.

aku tidak punya pangeran, aku hanya punya kekasih. satu. aku tidak setia dengannya, tapi ia selalu setia denganku. ia senang berkunjung ke rumahku: untuk bercinta denganku.

tapi akhir-akhir ini, ia sering absen berkunjung. kalaupun ia datang, tentu saja aku akan tetap melayaninya: memasak kegelisahan, membuatkan bolu kecemasan, mengaduk secangkir kekuatiran untuknya, setelah itu kita bercinta.

bercinta dengan air mata.

ia dungu.

ia pikir, aku adalah perempuan yang paling setia. ia percaya, aku tidak pernah selingkuh. aku hanya bisa tertawa di belakangnya. karena biasanya setelah ia pulang, aku tidur dengan laki-laki lain, yang selalu merajuk menginginkan susuku.

saat ini, aku sedang duduk di dapurku. menuliskan sajak-sajak lapuk, kelak akan kubisikan ke dalam kepalanya yang dungu, kuhembuskan huruf-huruf mati ke dalam kupingnya yang tuli.

ketika kita bercinta lagi: kan kupotong hatinya yang beku, kuletakkan di bawah matahari.

dan aku bukan Cinderella!

aku babu. bajuku satu. punya kekasih satu.

aku tidak setia padanya.

17.06.2010, 23:18

Thursday, June 17, 2010

Hari Ketika Hujan Luka

kau bisa melihat perban di angkasa
terbang seperti layangan
ngilu.
bingung hendak membalut siapa.
aku pungut luka hujan
tanam di kepala
berharap ia tumbuh kembali
menjadi rambut cuaca
dingin dan mesra.

(2010)

Tivi

gerimis tak punya tivi.

ia tidak doyan duduk lama-lama menonton mendung di tivi. mendung berdarah dengan nanah dimana-mana. busuknya merasuk ke dalam rusuk kemudian menusuk nadimu. hinggap di hatimu. tinggalkan borok menghantu.

gerimis tak doyan tivi. kalau ada tivi baru, ia congkel mulut pembaca berita, ia keluarkan gigi-gigi mereka. tivinya kini lebih sering nongkrong di kamar mandi, pengganti closet.

kali ini tivi gantian menonton gerimis mengapung disana.

semoga harimu menyenangkan, pemirsa.

(2010)

Wednesday, June 16, 2010

Pengantin Menunggu Hujan

Aku menunggu hujan.

Ia tak kunjung datang. Aku menengok kalender layu di dinding, yang tanggal-tanggalnya sudah kering dan berwarna kuning. Dengan hanya enam hari, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Minggu. Ya, loncat Minggu. Sabtu raib.

Tak puas berdiri di rumah, aku keluar. Menengok ke langit. Hey, aku melihatnya. Aku melihat hujan nyumput di balik awan. Rambutnya tergerai panjang menusuk bulan. Bulan kesakitan. Tapi tak mengeluh.

Hey hujan, aku menunggumu. Bukankah kita akan menikah. Aku sudah beli gaun ungu. Aku sudah siapkan penghulu untuk ijabkabul kita. Ya, dan ini bulan Juni. Kau berjanji, akan menikahiku di bulan Juni.

Aku mengambil gaun ungu. Memakainya persis di bawah awan hitam. Membawa buket bunga di tangan. Kemudian duduk di bangku taman yang renta. Siapa tahu hujan akan datang, pikirku dalam hati.

Aku masih di sini, menunggu hujan.

Jauh di atas sana. Awan menangis, make-upnya luntur, berjalan di samping keranda.

Di pertengahan Juni, hujan mati.

16.06.2010; 15:01

Ketika di Angkot itu

Aku memikirkanmu.

Memikirkanmu sambil menyenderkan sedikit bahuku ke kaca angkot. Aku membayangkan, pasti saat ini kau sedang tenggelam dengan buku-bukumu. Larut dengan khayalanmu. Sepi dengan kopimu di sudut kamar itu.

Kau, pria yang tunduk pada buku. Kau tidak tertarik ketika ada film baru di bioskop. Kau tidak tertarik dengan selera bohemianku. Kau tidak tertarik dengan gosip selebriti A yang kawin lagi, atau gosip selebriti B yang punya anak di luar nikah.

Sungguh. Itu bukan dirimu.

Kita sangat bertolak belakang. Aku masih ingat betul, ketika pertama kali kau datang menjemputku ketika hari hujan. Deras sekali. Kau mengeluh, memaki-maki hujan, karena kau basah kuyup. Tapi wajahmu berubah seketika, waktu aku memberikanmu handuk kering, dan kau mengganti bajumu dengan kaos paling besar yang aku punya.

Setelah itu aku bikinkan kau lemon tea hangat. Aku usap perutmu dan punggungmu dengan minyak kayu putih. Dan kita mengobrol sepanjang hari itu tentang hujan. Akhirnya kau tahu, bagaimana aku jatuh cinta kepada hujan.

Aku, perempuan yang selalu tergila-gila pada hujan.

Kau selalu bilang aku gila. Karena setiap kali hujan, aku selalu nongkrong di jendela. Menempelkan dahiku, supaya bisa jelas melihat butir-butirnya jatuh. Kadang aku mencium butir-butirnya yang meleleh masuk lewat kisi-kisi jendela. Aku juga punya kebiasaan mencicipi hujan, karena aku selalu percaya, rasa hujan tiap kali turun, pasti beda-beda.

Sementara kau, tidak suka hujan.

Biasanya ketika hujan turun, kau memilih meringkuk di balik selimut tebal, dengan bukumu. Buku-buku tebal itu. Dengan judul-judul sulit. Yang bahkan aku sendiri tidak pernah tertarik untuk membacanya. Kalau sudah begitu, biasanya kau panggil aku, suruh aku masuk ke balik selimut, hanya untuk menemanimu membaca. Kau terus membaca dalam diam, sementara aku mulai mengantuk. Dan kemudian tidur.

Kau dan buku. Aku dan hujan.

Aku dengan buku, biasa saja. Sedangkan kau benci sekali dengan hujan. Entah kenapa? Aku juga tidak tahu.

Padahal berkali-kali aku bilang, kalau aku suka hujan. Bahkan aku sudah bercita-cita, besok-besok, kalau kita punya rumah sendiri, aku kepingin punya jendela yang besar-besar, supaya tiap kali hujan turun, aku bisa melihatnya dengan jelas.

Kau tidak peduli juga.

Ya sudah, sekarang aku tidak terlalu peduli lagi. Kau dengan kesukaanmu dan aku dengan kesukaanku. Aku merasa dua tahun kebelakang ini, kau terlalu serius. Kau hanya memikirkan kesukaanmu, sementara kesukaanku tidak pernah kau pikirkan. Aku merasa telah berkorban lebih banyak untuk mencintaimu. Sementara kau tidak.

Aku mulai lelah. Aku muak. Aku capek.

Kau menuntutku untuk mengerti duniamu. Dan aku turuti. Kau tahu kan, mana pernah aku tidak menurutimu. Aku selalu layani permintaanmu ini dan itu. Tanpa mengeluh, tapi giliranmu, kau selalu melakukan sebaliknya.

Ah. Brengsek.

Kau tahu, aku bisa menemukan laki-laki yang lebih baik daripadamu. Laki-laki lain, banyak yang bersedia melakukan apapun untukku. Dan aku bisa tinggalkan kau, kapan saja aku mau. Sekarang aku merasa, mencintaimu itu seperi sedang diare. Bikin aku mulas terus. Masuk keluar kamar mandi sepanjang hari. Tanpa berhenti.

Aku mulai malas, memberikan kado-kado yang biasanya aku bungkus dengan hujan, tiap kali ada moment penting kita. Aku mulai malas, mengumpulkan butir-butir hujan yang biasanya aku jadikan kata-kata puisi untukmu, karena toh, kau tak suka hujan.

Kadang ketika hujan sedang berbunga. Aku sengaja mengumpulkan helai demi helai hujan, untuk aku jadikan buket bunga, dan aku letakkan di dalam kamar kita. Tapi sekarang aku kumpulkan helai-helai hujan layu untukmu.

Ketika hujan sedang berbuah. Kadang aku sengaja pergi ke pasar untuk beli, seperempat kilo hujan, siapa tahu, aku bisa bikinkan jus hujan manis untuk makan malam kita. Tapi sekarang, buah-buah hujan aku biarkan di kulkas saja sampai busuk dan bau.

Aku bosan. Aku bosan. Aku bosan.

Hari ini aku sengaja tidak pulang ke rumah. Aku naik turun angkot tanpa henti. Sampai aku capek sendiri. Lebih tepatnya lagi aku malas pulang ke rumah. Karena aku tahu, saat ini, kau mungkin sedang tenggelam lagi dengan buku-bukumu. Huh! Ingin kubakar semua buku-buku itu.

Supaya hanya ada aku yang kau baca.

Di luar angkot hujan deras sekali. Tidak ada bunga hujan. Tidak ada buah hujan. yang ada hanya butir-butir hujan berbentuk paku-paku payung kecil.

Sepanjang perjalanan, hujan mengalir, bersama darah.

02.06.10; 22:41

Tuesday, June 15, 2010

Mencari Doda

Aku punya seorang teman, jaman kecil dulu. Aku lupa, tapi mungkin sekitar aku umur lima atau enam. Namanya Doda. Doda itu anak laki-laki seumurku, tampilannya kurus, berambut lurus, matanya bersinar sekaligus sendu.

Aku tak punya ingatan banyak mengenai Doda. Yang aku ingat, rumahnya di dinding, aku selalu ‘pura-pura’ tidur siang (padahal tak suka) supaya bisa bertemu dengan Doda. Kita biasanya bercerita tentang apa saja, tentang Kakak-kakakku yang sibuk dengan tugas sekolahnya. Tentang Papa dan Mama yang suka pergi berbulan-bulan, dan terpaksa aku harus ikut tinggal di rumah Oma atau Tante, padahal (kadang-kadang) aku tak suka dengan situasi itu.

Bahkan berbagi cerita tentang cinta monyet. Ya! masih monyet! belum jadi gorilla.

Doda, itu seperti anak-anak yang lain, suka bermain, kita berdua suka bermain, kadang aku masuk ke dinding untuk bermain dengan Doda. Doda juga sosok anak laki-laki yang pengertian. Tak banyak mengeluh tentang keluarganya, walaupun aku lupa, aku pernah bertanya tentang keluarganya atau tidak.

Bermain dengan Doda, selalu asyik. Kadang sampai lupa waktu. Dan aku ingat, aku selalu tidak rela, kalau Doda harus pulang. Pulang kemana, entah. Aku hanya tahu rumah Doda di dinding. Waktu itu gampang sekali, kalau aku mau mencarinya, aku hanya perlu ‘pura-pura’ tidur siang, dan menghadap ke dinding. Doda selalu ada disana.

Kalau sekarang, agak sulit.

Hari ini aku kangen, ingin bertemu dengan Doda lagi. Ada yang tahu Doda dimana? ada yang bisa bantu kah?

Atau mungkin aku harus ‘pura-pura’ tidur siang dan menghadap ke dinding, supaya kita bisa bertemu (lagi).

Mungkin.

28.03.2010; 15:28

*Untuk June, my sister, kalian dulu sempat berkenalan

Monday, June 14, 2010

Merajut Hujan

Kali ini aku betul-betul bosan menulis di diary. Diaryku pun tampak sudah lelah, mendengar namamu aku tulis terus menerus. Aku ingin teriak ke dunia, aku ingin Ibu tahu, aku ingin teman-temanku tahu, aku ingin mantan-mantanku tahu, aku ingin setiap orang yang aku temui tahu: kalau aku cinta kamu.

Tumpukan hujan , yang kamu hadiahi ke padaku setiap kali kamu pulang dari bulan selalu aku simpan. Kamarku sudah penuh, rak-rak di dinding sudah penuh, lemariku juga sudah penuh, aku bahkan tak tahu harus menyimpannya dimana lagi. Ibu selalu mengomel, tiap kali masuk ke kamarku. Ya ampun nduk, mbok ya, kamarmu di beresin toh, kok kaya kapal pecah gini? hujan-hujan dalam kantong itu kalau sudah nggak kepake, dibuang saja. Begitu selalu omelannya, tiap kali masuk ke kamarku.

Tapi toh hujan-hujan ini kan hadiahmu, masa mau aku buang. Atau masa mau aku jual ke barang bekas. Sedangkan aku sendiri belum selesai merajut namamu di atas tumpukan hujan ini. Padahal sudah bertahun-tahun, aku mengerjakannya. Dan aku belum selesai juga.

Ibu bilang, kenapa sih aku harus percaya kepada laki-laki macam kamu, yang kerjanya di bulan, dan selalu membawa pulang hujan. Emang dia bisa ngasih kamu makan? kerjaannya sudah tetap apa? gajinya berapa? dan setumpuk pertanyaan lainnya, yang terkadang bikin aku pusing. Kalau sudah begitu, aku memilih masuk ke kamarku dan merajut kembali.

Hari ini, kamu ke bulan lagi. Seperti biasa sekantong hujan, selalu kamu bungkus untukku. Itu berarti peerku tambah banyak, satu per satu butirnya harus aku rajut dulu, menjadi garis-garis tipis pendek-pendek, kemudian dirajut lagi menjadi garis-garis panjang yang lebih tebal, dirajut terus, sampai akhirnya, aku bisa merajut namamu di tengah-tengahnya.

Entah kenapa, rajutanku selalu tersendat-sendat, ada ini lah, ada itu lah, ada apa lah, dan pada akhirnya, yah, terbengkalai lagi. Tertunda lagi. Tak selesai-selesai lagi. Padahal kalau sudah selesai, aku mau rajutan hujan itu menjadi tanda cintaku untukmu. Supaya setiap orang yang melihat hujan, akan melihat namamu di sana, dan mereka akan tahu, termasuk Ibu: kalau aku cinta kamu.

Bertahun-tahun sudah, hadiah hujan darimu selalu kutumpuk, kamarku bahkan sudah penuh, lemariku juga sesak, sampai aku bingung hadiah hujanmu mau aku simpan di mana lagi, dan ibu terus mengomel.

Maafkan aku hadiah hujanmu tergeletak dimana-mana, sampai kamarku berantakan seperti kapal pecah.

Dan bahkan sampai detik ini, aku belum selesai juga merajut namamu, yang hanya tiga huruf itu: B E N.

18.05.09, 00:30

*Terima kasih untuk Frau dengan lagu Mesin Penenun Hujannya, dan Deybie untuk nama papanya yang boleh saya pinjam.

Kau dan Buku

kau dan buku
buku membacamu, halaman demi halaman,
lembaran pertama sampai terakhir

aku dan hujan
hujan mengecup alis
turun ke pipi, kemudian bibirku

buku akan tua
dan pakai kacamata
tak mampu lagi membacamu

hujan awet muda
tambah tua tambah gaya
banyak maunya pula

kau dan buku
aku dan hujan
mari, sekali kali bertukar pasangan

(2010)

Monday, June 7, 2010

Ada Hantu

bulan bermain di kuburan
mengukir namanya sendiri di atas batu nisan
siapa tahu terkenal pikirnya.
paling tidak di kalangan para hantu
yang katanya suka nongkrong di emperan kubur
sekedar makan sate, atau bakso yang lewat.
tapi bulan kecewa, sekarang kuburan kosong
para hantu sudah tidak betah lagi di kuburan
mereka pindah, lebih betah, di gereja.

(2010)

Friday, June 4, 2010

Aku dan Diary

Dulu aku punya diary. Aku menulis cinta pertama di diary. Aku menulis menstruasi pertama di diary. Aku menulis tentang kecupan pertama. Euh. Belum. Aku belum pernah mengecup atau dikecup. Dicium atau mencium.

Sudahlah percaya saja.

Diaryku tidak pernah merah muda. Aku benci merah muda. Aku benci warna merah, merah selalu identik dengan darah. Apalagi kesini-sini, banyak yang suka bilang merah muda itu warna cinta.

Jadi maksudmu, mencintai seseorang itu harus sampai berdarah-darah. Merah muda: darah kental, yang dicampur dengan air. Jijik. Aku tidak suka.

Makanya diaryku tak pernah ada yang merah muda. Lebih banyak yang tak punya warna. Lebih banyak yang tak punya motif. Polos-polos saja.

Tapi aku selalu suka menulis. Aku suka menulis dengan warna. Ganti spidol. Pakai pensil warna. Diaryku selalu warna-warni. Itu cinta pikirku, kau tak hanya punya satu warna. Kau harus berwarna dulu. Sehingga kau bisa mewarnai orang lain.

Diaryku selalu mencatat cinta. Cinta-cinta tersembunyi. Tak kelihatan. Ngumpet di balik kata. Aku mencatat setiap detail perasaanku. Aku mengingat siapa yang aku cintai di balik goresan pensilku.

Kau, salah satunya.

Sekarang aku punya netbook.

Kau, tak lagi aku tulis di diary. Tapi netbook.

Aku mencintaimu hampir tanpa bunyi. Hampir tidak ada kata-kata manis yang keluar dari mulutku. Hampir tidak ada kata ILOVEYOU.

Aku memilih untuk diam dan menuliskanmu. Mengetik tawamu. Mengetik tangismu Mengetik kerut di sekitar matamu. Mengetik tiap keluhanmu. Mengetik lelahmu. Mengetik curhatmu. Mengetikmu utuh diantara huruf-huruf keyboardku.

Terus mengetikmu tanpa koma. Tanpa titik. Tanpa tanda baca. Mengetikmu tanpa spasi sama sekali. Kalaupun titik, koma, spasi jadi hambatan. Aku akan cungkil mereka dari keyboardku.

Aku penggal cintaku satu-satu. Lewat huruf-huruf mati ini. Mencintaimu tanpa spasi. Tanpa tanda seru.

Aku masih di sini. Belum selesai. Mencintaimu tanpa bunyi. Kecuali bunyi keyboard ini.

Tuk tik tuk tik.

(2010)

Thursday, June 3, 2010

Bunga Hujan

kau selalu suka bunga hujan
kau suka baunya, kau suka menikmati mekarnya.
ketika hujan sedang berbunga.
aku sengaja mengumpulkan helai demi helai hujan,
untuk aku jadikan buket bunga,
dan aku letakkan di dalam kamar kita.
manis bukan?
tapi sekarang aku kumpulkan helai demi helai hujan layu untukmu
akan mati di tanganmu.

(2010)

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...