Friday, July 16, 2010

#15 Rahasia


bertahun-tahun yang lalu aku pernah menuliskannya untukmu dalam buku diary pink. sebutlah ini rahasia: aku bukan putri yang bermimpi akan menikahi pangeran.

karena cinta bagiku itu segitiga. ia tidak melingkar seperti cincin yang biasanya di pakai di perkawinan, atau seputih gaun yang dipakai oleh pengantin. kadang ia tawar cenderung hambar, membuat kepekaan bukanlah halusinasi, melainkan harus mendaratkan lidah untuk menyicipnya supaya nyata. setawar apapun, kau meminumnya juga.

campuran rasa yang ada kemudian menemukan bentuknya sendiri. mengisi wadah yang disebut hati. menggelinding kesana dan kemari. merekah kemudian mengatup. melakukan perannya sesuai dengan definisinya.

sayang, aku tidak punya rahasia. aku hanya penulis gagu. terlalu sederhana untuk dibaca. tidak sesulit seperti yang mereka pikirkan. berlembar-lembar tentangmu, aku simpan diantara goresan pensil dengan kertas tidak bergaris. aku letakkan di dalam lemari bisu.

dan aku sebut itu: RAHASIA.

aku tidak punya rumus dalam mencinta. aku tidak punya rahasia dalam mencinta. jadi tidak perlu juga mengecek keberadaanku kepada cenayang atau peramal dan lain sebagainya. karena kebersamaan tidak perlu diramal. kesetiaan tidak perlu dibuktikan.

kalau mencinta itu keputusan, lalu meluka itu apa?

aku tidak punya rahasia. kalaupun aku punya rahasia: kelak aku ingin namamu dipayet di gaun putih itu.

*gambar dari 100layercake.com

1 comment:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...