Monday, January 30, 2017

Beberapa Kebahagiaan Kecil Sepanjang Januari





Tidak terasa Januari akan berakhir. 2017 akan melaju dengan segala hal-hal bahagia maupun menyedihkan diantaranya. Tetapi saya percaya bahwa sudah takdir manusia untuk selalu dikejutkan oleh hidup. Maka jangan pernah takut untuk merayakan hidup! Ini adalah beberapa kebahagiaan kecil yang saya rayakan sepanjang bulan Januari.



Panen pepaya di depan rumah. Kurang lebih empat tahun terakhir, setiap kali pulang untuk liburan Natal, saya selalu diajak oleh ayah dan kakak perempuan saya untuk panen pepaya. Pepaya yang sudah masak di pohon biasanya diambil menggunakan penjolok oleh ayah, lalu saya dan kakak menunggu di bawah dengan sebuah karung yang dibuka dengan lebar. Supaya ketika pepaya jatuh, tidak akan jatuh ke tanah dan hancur. Ini satu pepaya yang ikut saya panen. Tetapi sedih, karena kata ayah, pohon pepaya itu sebentar lagi akan ditebang karena sudah mulai mengganggu kabel listrik di depan rumah. 


Bermain ke Gunung Mimpi. Gunung Mimpi adalah rumah kekasih saya. Rumah kecil dengan halaman yang sangat luas. Selesai menikmati makan siang lezat yang disediakan oleh ibunya, kami lalu minum kopi dan menulis bersama. Oh senangnya!



Panen buah markisa di gunung mimpi. Saya dapat memakan lima sampai enam buah sekaligus. 


Pemandangan di sekitar gunung mimpi yang indah. Dapat melihat Teluk Ambon yang biru, dan Tanjung Allang di kejauhan. 


Melihat kekasih bermain dengan Allesandra, keponakannya.


Mendapati ayah yang masih bugar di jelang usianya yang ke-71 tahun ini. Bahkan masih membangun tangga untuk rumah kami. Terima kasih Tuhan. 


Do selfie on the plane.


Makan mie ayam kesukaan berdua.


Jalan kaki ke pasar dan membeli obeng.


Saya senang sekali menatap matanya lama-lama ketika ia sedang tidur. Saya senang kelopak matanya yang tertutup. Ia seperti putri malu jika sedang tidur. Ia cantik. Melihat kekasih tidur adalah satu kebahagiaan kecil.

Saturday, January 28, 2017

10 Buku yang Menemani di Tahun 2016






Satu kebiasaan yang harusnya dibiasakan kembali adalah membaca buku. 2016 sudah lewat, dan kini kita sudah masuk ke tahun 2017. Saya memutar ingatan saya kembali ke sepanjang tahun kemarin, dan mencoba untuk mengingat-ingat, buku-buku apa sajakah yang saya baca.

Dan semoga di tahun 2017 ini, kita lebih rajin lagi membaca ya. Ini adalah 10 buku yang menemani saya di tahun 2016:

1. Doa dan Arwah, Ayu Utami

Buku ini tidak dibeli di tahun 2016. Tetapi saya membaca buku ini hampir di beberapa kesempatan sepanjang tahun kemarin. Ada perasaan personal yang coba dibagi oleh Ayu Utami ketika bercerita banyak tentang Ibunya di dalam buku tersebut. Dan entah mengapa pada saat yang sama, saya juga turut merasakan keterhubungan dengan Ibu saya. Intinya, saya senang membaca pengalaman Ayu Utami bercerita tentang Ibunya, doa, dan arwah.

2. The Brontes, Keluarga Bronte

Adalah sebuah buku lama yang saya dapat ketika bermain "bertukar buku kesukaan" melalui facebook. Saya mendapat buku ini dari Karina, seorang fotografer, saya sudah berteman dengannya di sosial media, namun hingga hari ini, kami belum pernah bertemu sekalipun. Buku ini berisi puisi-puisi yang ditulis oleh keluarga Bronte pada jaman itu.

3. Membunuh Orang Gila, Sapardi Djoko Damono

Saya suka cerita-cerita pendek Sapardi di dalam buku ini. Tetapi dari semua cerita pendek yang ada di dalamnya, yang paling saya suka ada dua. Pertama adalah, tentang anak kecil (kalau tidak salah bernama Rini) dengan payung hitam yang menunggu Ayahnya pulang dari kerja di bawah pohon asam di tengah hujan. Namun hingga cerita itu selesai saya baca, Ayahnya tidak pulang-pulang. Saya lupa judulnya apa. Kedua adalah, Rumah-rumah, halaman 74. Saya suka cerita pendek ini, karena tentang rindu. Ada kalimat-kalimat dalam cerita pendek ini yang berbunyi begini:

"Saudara tinggal di dalam rumah juga, bukan? Saudara pasti pernah merindukan rumah, tetapi pernahkah saudara merasa dirindukan rumah?"

3. Avianti Armand, Negeri Para Peri

Saya suka bagaimana Avianti membangun cerita-cerita pendeknya. Mereka seperti sudah di-design terlebih dahulu. Mungkin ini juga pengaruh latar belakang Avianti yang adalah seorang arsitektur. Cerita-cerita di dalam Negeri Para Peri bagi saya gelap dan menyentak. Karyanya harus dibaca dalam satu helaan nafas panjang. Dua atau tiga kata kemudian titik, berhasil menimbulkan rasa penasaran. Ketagihan dan tidak mau berhenti.

4. The Soul in Love, Deepak Chopra

Buku ini berisikan kumpulan-kumpulan puisi dari beberapa penyair-penyair besar seperti: Rumi, Mirabai, dan Tagore. Saya membeli buku ini di pasar buku bekas daerah Blok M. Beberapa puisinya bisa dibaca dengan random jika kamu suka. Dan tidak perlu lekas menghabiskan buku ini. Ia dapat dibaca pelan-pelan saja. Satu puisi kesukaan saya di dalam buku ini berbunyi begini:

"Let lovers be crazy; disgraceful, and wild
Those who fret about such things
Aren't in love."

5. Gadis Peminta-minta, Toto Sudarto Bachtiar

Buku puisi kesayangan. Saya pun senang melihat Toto menulis puisi-puisinya. Terkadang saya seperti dibawa kepada jaman ketika ia masih hidup. Bagaimana ia melawan di dalam puisi-puisinya, tetapi ada juga ketika ia benar-benar merasa patah. Tetapi satu puisi kesayangan saya, yang akan terus saya baca berulang-ulang adalah:

"Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
hidupnya tak lagi punya tanda."

6. The Life of Oscar Wilde, Hesketh Pearson

Biografi tentang Oscar Wilde. Buku ini saya beli di Kineruku dengan harga yang tidak terlalu mahal. Berisikan perjalanan Oscar Wilde, dan bagaimana akhirnya ia juga menerbitkan satu-satunya novelnya yang berjudul The Picture of Dorian Gray.

7. Kota Ini Kembang Api, Gratiagusti Chananya Rompas

Jika senang buku puisi, yang satu ini juga bisa menjadi pilihan. Dulu sekali saya rajin mengikuti haiku Anya lewat grup facebook Bunga Matahari. Senang, karena buku ini akhirnya diterbitkan ulang oleh Gramedia, setelah sempat diluncurkan di Ubud Writers pada tahun 2008. Puisi-puisi pendek Anya menggemaskan. Salah satu kesukaan saya berbunyi begini:

"hujan
bunga-bunga kecil
berjatuhan"

8. Buku Tentang Ruang, Avianti Armand

Saya juga membeli buku ini di tahun kemarin. Puisi-puisi Avanti di dalam buku ini masih gelap tetapi menyentak. Saya tidak hafal semua judul puisinya yang ada di dalam buku ini. Tetapi saya merasa, Avianti adalah satu dari sekian banyak penulis yang dapat bercerita tentang perpisahan dengan indah.

9. Second Sex, Simone De Beauvoir

Buku ini adalah hadiah dari kekasih saya. Ia memberikan buku ini, dan saya belum selesai membacanya. Tetapi di sini Simone bercerita banyak tentang risetnya tentang perempuan dan pengalaman-pengalaman seksual pertama. Menyenangkan membacanya, seperti membaca diary saudara perempuanmu.

10. Tempat Paling Liar di Muka Bumi, Theoresia Rumthe & Weslly Johannes

Bukan mau narsis. Tetapi saya memang perlu memasukkan judul ini ke dalam daftar 10 buku yang menemani saya di tahun 2016. Buku ini berisi puisi yang ditulis berbalas-balasan oleh saya dan kekasih, lahir di bulan September tahun kemarin. Bagi yang belum mendapatkan bukunya, cetakan ke-dua telah beredar di toko-toko buku kesayangan. Ini adalah salah satu kalimat-kalimat kesukaan saya:

"ini adalah bungamu, suatu ketika, ia akan mekar, merambatkan akar-akarnya seperti belantara. lelaki yang memasukinya hanya mereka yang memiliki kunci dan mau menyesatkan diri" 






Wednesday, January 25, 2017

Barangkali cinta memang tidak harus sempurna. Namun ia tidak dapat menggantikan.





kekasih, foto oleh lukman hakim.

Barangkali cinta memang tidak harus sempurna, namun ia tidak dapat menggantikan, bagaimana rasanya jemarimu yang hangat ketika menggosok minyak kayu putih di punggung. Membuatkan susu cokelat hangat ketika pagi. Membetulkan selimut ketika tidur. Memakaikan kaus kaki ketika udara dingin di luar. Mengeringkan rambut dengan hair-dryer. Membuatkan kopi untuk bekal menulis. Mencium bibir ketika bangun tidur. Membelikan makan siang kesukaan. Menemani jalan kaki. Memeluk dari punggung lama-lama. 

Barangkali cinta memang tidak harus sempurna, namun ia tidak dapat menggantikanmu untuk mencintaiku.   

salatiga, 25 Januari. 23:49. ketika hari hujan di luar. 








Sunday, January 22, 2017

We all have our own thing. That's the magic!



Lahir dan besar dengan memiliki dua kakak perempuan membuat saya mendapatkan banyak kesempatan untuk berinteraksi dan memahami bagaimana caranya tumbuh menjadi perempuan. Saya merasa dua kakak perempuan saya hebat. Mereka punya caranya masing-masing untuk hidup dan melakukannya penuh-penuh sebagai perempuan.

Saya lalu berpikir bahwa menjadi perempuan itu tidak gampang. Belum lagi menghadapi tuntutan-tuntutan di sekitar. Bahwa menjadi perempuan itu harus begini atau begitu. Belum lagi perempuan harus berhadapan dengan memenuhi keinginan-keinginan dari orang lain terhadapnya.

Ketika mengelola www.moluccaproject.com, satu laman dengan visi memberitakan kabar baik dari Maluku, tanah kelahiran saya. Dengan visi tersebut saya berharap menemukan banyak perempuan yang dapat saya wawancarai untuk berbagi inspirasi. Tapi ternyata usaha saya tidak membuahkan hasil yang banyak. Hingga saat ini, saya belum menemukan banyak perempuan visioner yang dapat saya wawancarai. 

Saya punya harapan bahwa kelak, perempuan lebih banyak percaya kepada diri mereka sendiri, percaya bahwa mereka dapat mencipta, perempuan yang percaya bahwa talenta yang ada di dalam diri mereka itu jauh lebih mulia dari pada apapun. Dan perempuan-perempuan seperti itulah yang dapat saya tayangkan profilnya untuk Molucca Project karena mereka adalah kabar baik.

Melalui beberapa bincang ringan dengan beberapa kawan perempuan di Ambon, mereka juga ternyata kesulitan untuk merekomendasikan tipe perempuan yang saya inginkan. Saya lalu sampai kepada kesimpulan sementara di kepala saya sendiri, bahwa perempuan-perempuan masih banyak yang terkungkung. Mereka masih belum berani untuk berekspresi.

Tidak bermasud untuk membandingkan, tetapi lain halnya dengan Bandung, kota dimana saya tumbuh kurang lebih duabelas tahun terakhir ini. Profesi perempuan-perempuan muda di kota ini sudah semakin berubah. Kebanyakan kawan-kawan saya di usia yang masih sangat muda telah berpikir untuk menjalankan usaha mereka sendiri. Ada juga yang memutuskan untuk menjadi penyanyi dan mulai mengerjakan albumnya. Ada yang bertahan dengan menjadi ilustrator dengan bayaran yang lumayan. Ada yang menjadi fotografer. Ada yang buka kelas menulisnya sendiri. Ada yang memiliki restauran. Ada yang memiliki usaha clothing line. Ada yang mengelola toko buku. Dan semua profesi yang saya sebutkan ini adalah profesi-profesi yang punya satu benang merah, yaitu mereka mencipta sesuatu. 

Enterpreneurship adalah istilah yang tepat untuk mengkategorikannya. Tapi saya tidak akan membahas soal enterpreneurship. Saya menitikberatkan kepada semangat mengelola diri secara otentik. Hal itulah yang membawa perempuan-perempuan untuk tidak lagi bergantung kepada orang lain, melainkan lebih percaya kepada diri mereka sendiri.

Kembali ke kota Ambon dan soal ekspresi untuk mencipta. Saya pikir kebanyakan perempuan di kota ini harus banyak agresif dan berani mengekspresikan talenta yang ada di dalam diri kita masing-masing. Bahwa definisi pekerjaan, sudah bukan itu-itu saja. Pun harus digarisbawahi, bukan berarti juga yang bekerja kantoran atau bekerja kepada orang lain itu salah dan kehilangan otentisitas.

Saya kembali kepada ingatan ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah umum. Dua kakak perempuan saya sudah lebih dulu menjadi alumni di sana. Saya sebagai yang bungsu, baru masuk beberapa tahun kemudian. Saya ingat ketika ada guru mata pelajaran tertentu bilang begini kepada saya, "Kok, kamu tidak mirip sih dengan kakak kamu?" mirip yang ia maksudkan di situ adalah dalam konteks "brilian" di kelas seperti kakak saya. Saya hanya tertawa, dan bilang pelan-pelan di dalam hati, jelas saya berbeda dengan kakak saya. Lagipula apa untungnya mirip dengan orang lain. 

Setiap orang berbeda. Anehnya kita masih saja suka dibandingkan. Setiap orang punya ketertarikan yang berbeda. Setiap orang dilahirkan dengan talenta yang berbeda. Dan setiap orang hanya dapat menjadi dirinya sendiri. Karena itulah keahliannya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah membandingkan diri kita dengan orang lain.

jill scott via google.

Jill Scott, penulis puisi dan penyanyi gospel, pernah ditanya oleh seorang reporter ketika ia hendak naik ke panggung setelah penampilan dari Erykah Badu. Reporter itu bertanya begini, "Jill, are you nervous to go on stage after Erykah?" pertanyaan itu langsung ditanggapinya, "Ha Ha Ha Ha, have you ever see me before? We all have our own thing. That's the magic. That everybody comes with their own sense of strength and their own queendom. Mine can never compare to hers. And hers can never compare to mine."

Jawaban yang bagi saya memukau. Ada kekuatan perempuan di sana. Pertanyaan selanjutnya adalah jika kita masih terus sibuk untuk membandingkan diri kita dengan orang lain, kapankah kita punya waktu untuk melihat talenta yang ada di dalam kita?

So girls, everyone of us has our own queendom, stop comparing yourself with others!





Saturday, January 14, 2017

Suatu Hari Kamu Punya Jawaban Yang Memukau





Setiap cinta punya fase percakapannya sendiri-sendiri. Jika segala sesuatu dapat dimulai dengan bintang-bintang, hutan yamdena, dan pohon sakura. Maka selanjutnya barangkali lebih serius. Saat ini seringkali di percakapan-percakapan kami menemukan sesuatu yang lebih serius seperti apa yang akan dilakukan hari ini untuk masa depan.

Atau pada kesempatan lainnya seperti apa yang membuatmu jatuh cinta kepada saya, saya ingin tahu alasannya. Suatu hari kamu punya jawaban yang memukau, karena kamu adalah perempuan yang melakukan sesuatu yang kamu cintai dengan sungguh-sungguh.

Tak ada yang lebih menggugah perasaan saya daripada mengetahui bahwa kamu tidak hanya mencintai saya, melainkan juga mencintai apa yang saya kerjakan. Karena itu jauh lebih penting. Saya pikir pernikahan bukanlah soal akhir dari sebuah perjalanan dan lalu saya melupakan apa yang telah saya kerjakan selama ini. Melainkan pernikahan adalah kebersamaan yang beriringan dan akan tetap mengerjakan apa yang terlanjur saya cintai. Termasuk mencintaimu. Baik sebagai sahabat maupun kekasih seumur hidup. 

Lalu fase percakapan-percakapan ini mulai terdengar dewasa. Barangkali iya, barangkali juga tidak. Tentu kami juga tidak akan melupakan kebebasan-kebebasan kecil yang seringkali kami sendiri yang mengerti. Tak ada yang lebih mengerti hal itu ketimbang diri kami sendiri. Tak ada yang lain, walaupun orang lain mencoba. Mereka hanya akan terlihat sok tahu.

salatiga, 14 Januari, 18.03


Sunday, January 8, 2017

Di Dalam Dunia Ini Ada Hal-Hal Yang Bukan Dongeng






Terkadang kita arogan seperti anjing. Menggonggong dengan suara nyaring tanpa berani menggigit. Sepanjang malam melolong di jalan-jalan sunyi, berharap orang yang mendengarnya percaya bahwa hantu sedang lewat. Hantu-hantu yang tembus pandang, tak punya kaki, mempunyai bolong di bagian punggung dan menggantung di pepohonan gelap dengan mata berdarah.

Saya pikir cerita hantu itu memang omong kosong. Hisapan jempol semata. Cerita yang lazimnya sengaja didongengkan kepada anak-anak di waktu malam supaya mereka lekas tidur. Kenyataannya anak-anak itu tak pernah tidur. Mereka malah terbuai di dalam cerita hantu itu lalu akhirnya bertemu *suanggi di dalam mimpi mereka.

Dongeng. Kita memang senang dengan dongeng. Sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Cerita-cerita turun temurun yang memang sedap jika ditambah dengan bumbu. Berapa banyak dongeng yang seumur hidup sudah kita dengar lalu mempengaruhi kehidupan dan membuat kita untuk percaya. Dongeng tentang nenek sihir dan gadis kecil berjubah merah misalnya adalah sebuah dongeng menyeramkan tentang anak-anak.

Tetapi di dalam dunia ini ada hal-hal yang bukan dongeng. Mereka nyata. Mereka adalah kejahatan-kejahatan yang bersemayam di dalam diri manusia. Kejahatan-kejahatan itu berdiam dengan arogan dan manisnya. Akan menunjukkan rupa di saat yang tepat. Kejahatan-kejahatan itu akan menggonggong ketika jalan-jalan sunyi. Kejahatan-kejahatan itu tak hanya menggonggong, mereka bahkan menggigit dan dapat menimbulkan bolong pada punggung sesama. Kejahatan-kejahatan itu tak kelihatan, mereka tembus pandang, mereka lebih nista dan mereka semakin buruk karena mereka begitu nyata.

*suanggi adalah kekuatan ilmu-ilmu gaib yang biasanya kita dengar di cerita hantu turun temurun di daerah Maluku. 




gunung mimpi. 7 Jan 2017, sebelum pukul lima.


Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...