Sunday, July 18, 2010

#19 Penyiar


adalah profesi saya. kenapa saya sebut profesi, itu dikarenakan, ini adalah mimpi saya sejak SMP. mimpi yang kemudian menjadi kenyataan. mimpi yang kemudian ketika dijalankan mencukupi kebutuhan hidup saya. sebutlah mencukupi, walau pada akhirnya saya harus mencari banyak tambahan lain di luar.

tapi bersiaran adalah ide. saya selalu membayangkan, saya berkata-kata diantara mic, didengarkan oleh banyak. ia adalah ide yang saya bangun selama bertahun-tahun, kemudian menjalankannya sebagai profesi saya saat ini. suatu yang menyenangkan, ketika hobi bercakap, kemudian menghasilkan uang.

sebutlah, awalnya hanya keinginan untuk didengarkan. tapi kemudian keinginan itu menjadi panggilan hidup tersendiri bagi saya. dari hanya ingin didengarkan, beranjak menjadi ingin bertemu dan berkenalan dengan banyak orang. duduk dengan berbagai kalangan. menyentuh banyak orang. dan didengarkan lintas Agama.

saya suka menjadi bagian dalam lintasan. saya tidak suka diplot dan tidak suka dibatasi. sungguh, saya adalah pencinta sesuatu yang bebas. dan itu yang saya dapatkan ketika saya bersiaran. radio adalah dunia kecil yang sangat luas. radio menjadikan saya pekerja kreatif yang tahu, apa itu mencipta.

ketemu banyak kalangan, mengobrol dengan banyak orang, bangun wawasan dari apa yang di dengar, merupakan sarana untuk menjejakan kaki lebih dalam, menemukan karakter diri, dan menjadi pribadi yang luwes. karena hanya di radio, kau bisa belajar keterampilan dasar manusia dengan intens: berkomunikasi.

setelah kau punya yang satu ini, nilai hidupmu jelas bertambah. kau akan di dengarkan: APAPUN yang kau bicarakan. kau, selebriti lokal. kau bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiranmu dengan sangat terstruktur. kau memukau ketika berbicara di depan umum. kau bintang. dan yang paling penting adalah, setiap orang ingin menjadi sepertimu. HAH!

profesi yang menular dengan segala inspirasinya.

padahal, kebanyakan mereka tidak tahu, saya sudah membangun mimpi itu sejak saya SMP. ketika saya berlama-lama latihan bicara di atas closet dan melihat muka saya di kaca setiap hari, sambil berbisik: kau pasti bisa.

karena, segala sesuatu itu mungkin-mungkin saja. kau juga bisa menjadi apa yang kau mau. kau saja yang sering tolol, berpikir itu tidak mungkin.

1 comment:

  1. wah, menyenangkan. sayangnya waktu saya di bandung, tidak cukup rajin mendengarkan mbak theo (tahun 1994 sudah mulai ya?). Kalau saya ke bandung nanti akan saya pantengnya :-).

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...