Monday, August 14, 2017

Rumah pun Merindukan Kita







Pernahkah kita memikirkan rumah dan perasaan-perasaannya dan berpikir bahwa rumah juga merindukan kita? bahwa ternyata ketika kita pergi jauh, rumah tetap sama, ia tidak bergerak, ia masih pada tempatnya dan ia menyimpan semua kenangan kita.

Selama 34 tahun hidup saya, saya menghitung (semoga tidak ada yang terlewat di dalam ingatan saya) saya telah menempati sekitar 15  rumah tinggal dan itu sudah termasuk rumah kos saya ketika berada di perantauan. Rumah pertama adalah sebuah rumah besar di kota Larat, saya mengingat sebuah rumah tua dengan kamar-kamar luas dan jendela model lama dengan cat kayu berwarna hijau tua. Saya mengingat rumah ini dengan anjing kampung bernama Boy, yang selalu menanti ayah saya ketika pulang dengan perahu motornya dari pulau-pulau seberang. Juga aroma menyengat bunga terompet yang sering masuk ke kamar tidur. Ketika tinggal di rumah ini, usia saya barangkali satu atau dua tahun, sehingga saya merasa rumah itu besar sekali.

Rumah ke dua (yang bagi saya istimewa) adalah rumah tua milik keluarga kami, milik kakek saya, Marthen Elwarin yang menikah dengan Dorkas Elwarin. Dorkas Elwarin, seorang perempuan Jawa yang bernama asli Sutijem jatuh cinta dengan kakek saya ketika ia bertugas di Semarang. Mereka kemudian menikah dan pulang ke Ambon. Dorkas Elwarin yang kemudian kami panggil “Oma Jawa” lalu menjadi seorang Kristen yang taat. Mereka menempati sebuah rumah mungil di daerah Kudamati. Rumah yang kemudian melahirkan banyak anak cucu di sana. Rumah kecil dan sederhana yang biasanya menampung anak cucu dari segala penjuru untuk tinggal di dalamnya. Mengingat keluarga kami lumayan besar.

Saya tumbuh dan besar di rumah ini. Kedua orang tua saya melanjutkan pekerjaan mereka sebagai pendeta di pulau. Sementara saya dan kedua kakak perempuan saya dititipkan di rumah ini. Saya yang masih kecil dititipkan berpindah tempat, rumah lainnya adalah milik Tante (adik perempuan ayah) di daerah Batu Gantung. Tapi dapat dibilang saya lebih banyak menghabiskan waktu tinggal di Kudamati—Kampong Tai, sebutan bekennya pada saat itu, sebelum akhirnya menjadi lebih kini dengan sebutan ‘pelor’ atau singkatan dari: penghuni lorong.

Bermain di lapangan Oma Dana. Berlari di sepanjang jalan-jalan setapak bersama sahabat kecil saya, Donny Toisuta, biasanya  disapa Odon. Memanjat pohon kersen milik keluarga Odon, dan biasanya suka ditegur oleh  Oom Anton (ayah Odon) atau Oma Nes (neneknya). Atau bermain masak-masakan bersama sahabat kecil saya lainnya, Theophanny Rampisela, biasanya disapa Kaka, hanya dengan memakai kaus kutang dan celana dalam. Atau bermain beramai-ramai: enggo sambunyi, afiren, sandiwara pedang-pedangan tutur tinular, gambar, pata-pata, lompat karet, gici-gici, dan permainan semasa kecil lainnya di tahun 90-an pada waktu itu membuat saya merasa sangat beruntung.


rumah tua kami yang bercat hijau di sebelah kiri bersama dengan setapak-setapak itu.

Ingatan lainnya yang tidak hilang adalah ketika malam jelang Paskah kami akan berkumpul di lapangan Oma Dana untuk menonton layar tancap film Yesus disalib. Atau tidak tidur semalaman karena menunggu pawai obor subuh-subuh. Selain itu saya juga tidak pernah lupa latihan menyanyi atau baca puisi di teras rumah. Memasuki masa remaja saya juga membagi tempat tinggal saya, dengan rumah di belakang Rumah Sakit Tentara, kemudian rumah di Kebun Cengkeh. Tapi tetap saya kembali ke rumah di Kudamati—Kampong Tai.


Kebiasaan bertelanjang kaki dan berjalan di sepanjang setapak, hingga kebiasaan memikul handuk (dan kemudian berakhir dengan tidak mandi juga) masih membekas dengan jelas di kepala saya—semua seperti baru kemarin. Padahal hal ini terjadi puluhan tahun yang lalu. Hingga saat ini, bahkan ketika saya sudah merantau dan tinggal sendiri, ingatan-ingatan ke masa-masa itu seringkali muncul di dalam kepala saya, biasanya ia datang berupa: bebunyian daun pohon Mangga yang ada di depan rumah, bunyi seng yang berderit ketika ditiup angin, lolongan anjing ketika malam, atau aroma panggangan kue dari tetangga sebelah. 

Ingatan-ingatan membawa saya ke setapak-setapak itu kembali, saya menjadi anak kecil yang sama, masih suka berlari dengan ringan—atau bermain sepeda di dalam becek di lapangan Oma Dana. Menghitung rumah-rumah yang saya lewati ketika keluar dari rumah tua kami menuju ke depan lorong Andre, tempat menunggu angkutan umum:  rumah ibu batak, rumah (bekas) Oma aya, rumah (bekas) keluarga Manusiwa, rumah tante Masbait, rumah Oom Nus Tarantein, rumah Oom Cak Lesilolo, rumah keluarga besar Lesilolo, rumah keluarga besar Tumallang kiri dan kanan, rumah Mama Kety, rumah keluarga Kriekhoff, rumah Om No Louis. 

Rumah-rumah yang saya sebutkan ini barangkali sudah tidak ditempati oleh penghuni aslinya lagi. Namun kenangan tentang setapak yang menjaga kaki-kaki telanjang saya berlari di masa kanak-kanak, tak pernah hilang—kenangan itu begitu girang dan bersahabat di dalam kepala, tinggal bersama rumah-rumah yang tetap berdiri di sepanjang jalan setapak itu: walau penghuni dari rumah-rumah itu barangkali sudah tak lagi tinggal di situ karena meninggal atau pindah kota. Jika sudah begini, rindukah kamu kepada rumah yang dulu pernah kamu tinggali lama?

***


(selesai menulis ini saya jadi kepikiran untuk memotret rumah-rumah yang pernah saya tinggali—di kota Ambon maupun di kota-kota lainnya jika memungkinkan dan membuat sebuah cerita pendek tentangnya. atau mungkin membuat pameran serial rumah yang lain.)

Wednesday, August 2, 2017

Sebuah Catatan Harian : Tentang Kecintaan








Saya menulis, saya menyanyi, saya (dulunya) penyiar radio, saya masih memandu acara di beberapa kesempatan, tapi saya juga menyukai mengajar—sangat. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih siaran di salah satu radio swasta di Bandung, saya memutuskan untuk memulai kelas kecil seni berbicara di depan umum di tobucil, sebuah toko buku di Bandung. Murid saya waktu itu berjumlah tujuh orang, di sela-sela waktu siaran, saya datang untuk mengajar mereka.
Salah satu murid saya bernama Swan. Ia berusia enam puluh tahun dan menolak untuk dipanggil "Ibu Swan." Swan adalah seorang arkeolog dan masih melakukan penelitian ke pedalaman. Swan kerap pulang pergi Jakarta-Bandung hanya untuk mengikuti kelas saya. Sebuah pengorbanan yang saya segani, karena pada saat itu, bisa dibilang saya belum punya pengalaman apa-apa dalam mengajar.
Swan adalah murid yang sangat haus di kelas, ia banyak bertanya tentang apapun yang ia tidak mengerti. Dan ketika waktunya praktik, ia selalu bersemangat untuk mengusahakan yang terbaik. Pada pertemuan terakhir kami di kelas, Swan menghampiri saya seraya berkata, "Theo, kamu punya kemampuan mengajar, tapi bukan hanya itu, kamu mampu mengeluarkan kualitas terbaik dari orang lain. Saya bersyukur bisa belajar dari kamu."
Saya menatap matanya yang keriput dengan penuh haru kemudian mengucap terima kasih dan mengecup pipinya. Namun, di dalam hati saya tercetus pertanyaan begini, "siapa saya (yang masih bau kencur ini) sehingga mampu mengeluarkan kualitas terbaik dari seorang Ibu berusia enam puluh tahun?"
Kini bertahun-tahun kemudian, kalimat-kalimat Swan masih saya ingat. Kalimat-kalimat itu berjejak lekat di dalam hati saya, seiring dengan jam terbang mengajar yang semakin bertambah dan murid-murid yang semakin banyak. Sejak hari pertemuan saya dengan Swan, saya mengerti satu hal, sesungguhnya saya tidak pernah mengajar Swan, saya yang justru belajar darinya. Bahwa arti mengajar adalah bukan yang paling mengerti segala sesuatu; mengajar adalah mengeluarkan kualitas terbaik dari diri orang lain.


(foto: bersama kawan-kawan di kelas public speaking yang diadakan reaterary beberapa hari yang lalu)


Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...