Thursday, August 31, 2017

#TheoresiaPublicSpeaking : September 2017









Info lebih lanjut:

Peserta terbatas, pendaftaran paling lambat tanggal 10 September 2017
Kelas dimulai pada Rabu 13 September 2017
Kelas hanya 6x pertemuan, setiap Rabu dan Jumat (sepanjang bulan September) di Tobucil, Jalan Panaitan, Bandung: pukul 17.00 - selesai, dengan biaya Rp. 350.000

-

Sebuah Catatan Kecil Kenapa Kamu Harus Mengikuti Kelas Public Speaking ini:

Seni berbicara di depan umum bulan depan nanti, saya khususkan kepada kawan-kawan seniman dan designer. Dengan maksud agar membantu kawan-kawan untuk mempresentasikan karya pada sebuah artist talk sebuah pameran dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pengunjung yang datang ke pameran. Pun, membantu kawan-kawan untuk mempresentasikan design di depan klien.

Teknik mengajar yang saya pakai di kelas adalah sangat personal—dalam pengertian saya tidak memiliki pakem khusus ketika mengajar, karena segala sesuatu akan menyesuaikan dengan kebutuhan peserta selama di kelas. Teknik merekam suara dan merekam video adalah salah satu teknik yang saya sarankan untuk dilatih di dalam setiap pertemuan, karena sesuai dengan pengalaman, teknik ini lumayan memberikan kemajuan kepada peserta sejak pertemuan pertama hingga pertemuan terakhir.

Satu lagi yang tidak kelupaan, saya membuat evaluasi kepada kawan-kawan dalam bentuk catatan-catatan kecil yang menggemaskan. Saya sedikit galak di kelas, tapi percayalah, kita akan lebih banyak bersenang-senang kok, seperti tamasya. Selamat mendaftar!

salam hangat,
theoresia rumthe

Tuesday, August 29, 2017

Sebuah Ketersesatan (yang lain) Dalam Cinta





saparua suatu ketika


Tak ada hal-hal yang kebetulan di dalam cinta. Katanya suatu saat kau akan (kebetulan) bertemu dengan beberapa orang hingga satu orang dan kemudian di dalam proses berinteraksi dengan  mereka, kemudian kau akan (kebetulan) menemukan sepenggal dirimu di dalam diri mereka. Hal itulah yang barangkali membuat kau merasa mereka adalah (kebetulan) bagian dari dirimu, ataupun sebaliknya mereka pun merasa bahwa kau adalah rusuk yang terhilang itu. Jalin menjalin percintaan bisa jadi dimulai dengan segala macam hal yang  menurutmu (kebetulan) cocok (dengan idealisasi) tertentu, namun pada akhirnya menyerah di tengah jalan karena kecocokan tadi kemudian menjadi luntur seiring dengan berjalannya waktu. Sehingga pada akhirnya setiap manusia belajar, bahwa tidak selamanya yang “kebetulan” di dalam cinta itu adalah benar-benar sebuah kebetulan. Rata-rata mereka yang beranggapan bahwa mereka telah saling menemukan akan lekang juga seperti Patti Smith dan Robert Mapplethorpe pun Marina Abramovich dan Ulay.

Alain de Botton dalam Essays in Love menulis begini: perbedaannya dapat dikategorikan ke dalam cinta yang dewasa dan cinta yang tidak dewasa. Tentu saja versi cinta dewasa lebih banyak disukai, filosofi cinta dewasa ini ditandai oleh sebuah kesadaran bahwa di dalam diri setiap orang terdapat hal yang baik dan buruk, cinta seperti ini penuh dengan kesederhanaan, ia menolak idealisasi, bebas dari kecemburuan, masokisme, atau obsesi, ini adalah sebuah bentuk persahabatan dengan dimensi seksual, menyenangkan, damai, dan ada unsur timbal-baliknya. Sedangkan cinta yang tidak dewasa (meski hal ini tak ada hubungannya dengan usia) adalah kisah tentang kesibukan yang kacau antara idealisasi dan kekecewaan, keadaan yang tidak stabil di mana perasaan ekstasi dan kebahagiaan yang berlebihan bercampur dengan kesan tenggelam dan mual yang fatal, di mana seseorang akhirnya menemukan sebuah jawaban yang juga bercampur dengan sebuah perasaan tersesat. Kau sendiri memilih tersesat dengan cara bagaimana?

Maka barangkali cinta adalah sebuah ketersesatan, tinggal kita memilih untuk tersesat ke dalamnya dengan cara apa. Seringkali saya pun bertanya kepada diri saya sendiri, bahwa cinta yang saat ini saya jalani, apakah sudah sesuai dengan ketersesatan yang saya inginkan, dan apakah ketika saya mencintai, saya sudah betul-betul tersesat dengan segenap jiwa dan raga saya untuk mengasih dan berterima dengan segala keadaan yang diberikan oleh cinta itu sendiri. Namun cinta juga adalah sesuatu yang menyebalkan, ia tidak selamanya menawarkan romantisme seperti yang kau baca di novel-novel, atau ia tidak selamanya seperti ciuman lembut di bibir, setiap kali kau menginginkannya. Ia pun dapat menyesatkan kita yang katanya sudah saling menemukan itu, ke dalam sebuah labirin perasaan yang lain; berputar-putar, gelap dan penakut. 





Saturday, August 26, 2017

Selamat Hari Jadi Jiwa








Gerbong kereta yang berderit-derit membawaku kepada sebuah perjumpaan ingatan ketika itu, kau datang dengan dua lembar tiket sebuah perjalanan, menuju Buru, katamu. Dua lembar tiket itu adalah sesuatu yang lain. Cinta datang menyerupai sesuatu yang lain, tak ada debar-debar berlebihan, semuanya biasa saja. Kadang yang sederhana seperti itu indah saja. Kau dan aku pada akhirnya keras kepala untuk membuat sebuah perjalanan bersama: kadang di dalam perjalanan yang masih terlalu muda ini kita menemukan terlalu banyak batu karang dan jalan berlubang. Ingatanku kembali lagi kepada dua lembar tiket itu—yang kau beli karena telah memilih  bersamaku. Hal yang bagi kita mustahil tapi tidak bagi cinta. Cinta membuat jalan dua orang muda yang penuh lubang dan batu karang menjadi biasa saja, bukan karena lubang dan batu karang itu mendadak hilang, melainkan ini: kau bahkan tak perlu ragu barang sedikitpun untuk melewati jalan berlubang dan penuh batu karang itu, bersama seseorang yang kau sebut, Jiwa.

Selamat hari jadi jiwa, panjang umur dan mari bercinta hingga lanjut usia. 

***


#sebuahcatatanharian 
Gerbong Kereta, 26 Agustus 2017. 14.27 wib.

Monday, August 21, 2017

Merdeka









Adalah ketika perempuan dapat merdeka menjadi perempuan, memakai tubuhnya sendiri dan memaknai pikirannya sendiri.

Pun artinya perempuan mesti terlepas dari citra lain yang dilekatkan kepadanya, seperti: "perempuan cantik itu yang begini.." dengan bermacam-macam daftar yang harus ia penuhi.

Pun artinya perempuan mesti terlepas dari pertanyaan-pertanyaan basa-basi, seperti: "kapan menikah?", "kapan punya anak?", "kapan melahirkan adik untuk si kakak?", dan "pertanyaan–kapan lainnya."

Merdeka adalah ketika perempuan dapat bertanggung jawab terhadap alat reproduksinya sendiri, mengaturnya atas kehendaknya sendiri, dan ketika ia melakukannya bukan untuk menyenangkan orang lain.

Merdeka adalah pun jika ia tidak memenuhi semuanya, itu bukan sebuah kesalahan, dan ia tak perlu meminta maaf.




#sebuahcatatanharian
#72TahunIndonesia

Thursday, August 17, 2017

72 Tahun Indonesia






Sudahkah kamu merdeka mencinta sesamamu yang tidak pergi ke tempat sembahyang yang sama denganmu?

[foto ini diambil ketika saya berkunjung ke Aceh pada tahun 2011]

#sebuahcatatanharian 
#72TahunIndonesia

Monday, August 14, 2017

Rumah pun Merindukan Kita







Pernahkah kita memikirkan rumah dan perasaan-perasaannya dan berpikir bahwa rumah juga merindukan kita? bahwa ternyata ketika kita pergi jauh, rumah tetap sama, ia tidak bergerak, ia masih pada tempatnya dan ia menyimpan semua kenangan kita.

Selama 34 tahun hidup saya, saya menghitung (semoga tidak ada yang terlewat di dalam ingatan saya) saya telah menempati sekitar 15  rumah tinggal dan itu sudah termasuk rumah kos saya ketika berada di perantauan. Rumah pertama adalah sebuah rumah besar di kota Larat, saya mengingat sebuah rumah tua dengan kamar-kamar luas dan jendela model lama dengan cat kayu berwarna hijau tua. Saya mengingat rumah ini dengan anjing kampung bernama Boy, yang selalu menanti ayah saya ketika pulang dengan perahu motornya dari pulau-pulau seberang. Juga aroma menyengat bunga terompet yang sering masuk ke kamar tidur. Ketika tinggal di rumah ini, usia saya barangkali satu atau dua tahun, sehingga saya merasa rumah itu besar sekali.

Rumah ke dua (yang bagi saya istimewa) adalah rumah tua milik keluarga kami, milik kakek saya, Marthen Elwarin yang menikah dengan Dorkas Elwarin. Dorkas Elwarin, seorang perempuan Jawa yang bernama asli Sutijem jatuh cinta dengan kakek saya ketika ia bertugas di Semarang. Mereka kemudian menikah dan pulang ke Ambon. Dorkas Elwarin yang kemudian kami panggil “Oma Jawa” lalu menjadi seorang Kristen yang taat. Mereka menempati sebuah rumah mungil di daerah Kudamati. Rumah yang kemudian melahirkan banyak anak cucu di sana. Rumah kecil dan sederhana yang biasanya menampung anak cucu dari segala penjuru untuk tinggal di dalamnya. Mengingat keluarga kami lumayan besar.

Saya tumbuh dan besar di rumah ini. Kedua orang tua saya melanjutkan pekerjaan mereka sebagai pendeta di pulau. Sementara saya dan kedua kakak perempuan saya dititipkan di rumah ini. Saya yang masih kecil dititipkan berpindah tempat, rumah lainnya adalah milik Tante (adik perempuan ayah) di daerah Batu Gantung. Tapi dapat dibilang saya lebih banyak menghabiskan waktu tinggal di Kudamati—Kampong Tai, sebutan bekennya pada saat itu, sebelum akhirnya menjadi lebih kini dengan sebutan ‘pelor’ atau singkatan dari: penghuni lorong.

Bermain di lapangan Oma Dana. Berlari di sepanjang jalan-jalan setapak bersama sahabat kecil saya, Donny Toisuta, biasanya  disapa Odon. Memanjat pohon kersen milik keluarga Odon, dan biasanya suka ditegur oleh  Oom Anton (ayah Odon) atau Oma Nes (neneknya). Atau bermain masak-masakan bersama sahabat kecil saya lainnya, Theophanny Rampisela, biasanya disapa Kaka, hanya dengan memakai kaus kutang dan celana dalam. Atau bermain beramai-ramai: enggo sambunyi, afiren, sandiwara pedang-pedangan tutur tinular, gambar, pata-pata, lompat karet, gici-gici, dan permainan semasa kecil lainnya di tahun 90-an pada waktu itu membuat saya merasa sangat beruntung.


rumah tua kami yang bercat hijau di sebelah kiri bersama dengan setapak-setapak itu.

Ingatan lainnya yang tidak hilang adalah ketika malam jelang Paskah kami akan berkumpul di lapangan Oma Dana untuk menonton layar tancap film Yesus disalib. Atau tidak tidur semalaman karena menunggu pawai obor subuh-subuh. Selain itu saya juga tidak pernah lupa latihan menyanyi atau baca puisi di teras rumah. Memasuki masa remaja saya juga membagi tempat tinggal saya, dengan rumah di belakang Rumah Sakit Tentara, kemudian rumah di Kebun Cengkeh. Tapi tetap saya kembali ke rumah di Kudamati—Kampong Tai.


Kebiasaan bertelanjang kaki dan berjalan di sepanjang setapak, hingga kebiasaan memikul handuk (dan kemudian berakhir dengan tidak mandi juga) masih membekas dengan jelas di kepala saya—semua seperti baru kemarin. Padahal hal ini terjadi puluhan tahun yang lalu. Hingga saat ini, bahkan ketika saya sudah merantau dan tinggal sendiri, ingatan-ingatan ke masa-masa itu seringkali muncul di dalam kepala saya, biasanya ia datang berupa: bebunyian daun pohon Mangga yang ada di depan rumah, bunyi seng yang berderit ketika ditiup angin, lolongan anjing ketika malam, atau aroma panggangan kue dari tetangga sebelah. 

Ingatan-ingatan membawa saya ke setapak-setapak itu kembali, saya menjadi anak kecil yang sama, masih suka berlari dengan ringan—atau bermain sepeda di dalam becek di lapangan Oma Dana. Menghitung rumah-rumah yang saya lewati ketika keluar dari rumah tua kami menuju ke depan lorong Andre, tempat menunggu angkutan umum:  rumah ibu batak, rumah (bekas) Oma aya, rumah (bekas) keluarga Manusiwa, rumah tante Masbait, rumah Oom Nus Tarantein, rumah Oom Cak Lesilolo, rumah keluarga besar Lesilolo, rumah keluarga besar Tumallang kiri dan kanan, rumah Mama Kety, rumah keluarga Kriekhoff, rumah Om No Louis. 

Rumah-rumah yang saya sebutkan ini barangkali sudah tidak ditempati oleh penghuni aslinya lagi. Namun kenangan tentang setapak yang menjaga kaki-kaki telanjang saya berlari di masa kanak-kanak, tak pernah hilang—kenangan itu begitu girang dan bersahabat di dalam kepala, tinggal bersama rumah-rumah yang tetap berdiri di sepanjang jalan setapak itu: walau penghuni dari rumah-rumah itu barangkali sudah tak lagi tinggal di situ karena meninggal atau pindah kota. Jika sudah begini, rindukah kamu kepada rumah yang dulu pernah kamu tinggali lama?

***


(selesai menulis ini saya jadi kepikiran untuk memotret rumah-rumah yang pernah saya tinggali—di kota Ambon maupun di kota-kota lainnya jika memungkinkan dan membuat sebuah cerita pendek tentangnya. atau mungkin membuat pameran serial rumah yang lain.)

Wednesday, August 2, 2017

Sebuah Catatan Harian : Tentang Kecintaan








Saya menulis, saya menyanyi, saya (dulunya) penyiar radio, saya masih memandu acara di beberapa kesempatan, tapi saya juga menyukai mengajar—sangat. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih siaran di salah satu radio swasta di Bandung, saya memutuskan untuk memulai kelas kecil seni berbicara di depan umum di tobucil, sebuah toko buku di Bandung. Murid saya waktu itu berjumlah tujuh orang, di sela-sela waktu siaran, saya datang untuk mengajar mereka.
Salah satu murid saya bernama Swan. Ia berusia enam puluh tahun dan menolak untuk dipanggil "Ibu Swan." Swan adalah seorang arkeolog dan masih melakukan penelitian ke pedalaman. Swan kerap pulang pergi Jakarta-Bandung hanya untuk mengikuti kelas saya. Sebuah pengorbanan yang saya segani, karena pada saat itu, bisa dibilang saya belum punya pengalaman apa-apa dalam mengajar.
Swan adalah murid yang sangat haus di kelas, ia banyak bertanya tentang apapun yang ia tidak mengerti. Dan ketika waktunya praktik, ia selalu bersemangat untuk mengusahakan yang terbaik. Pada pertemuan terakhir kami di kelas, Swan menghampiri saya seraya berkata, "Theo, kamu punya kemampuan mengajar, tapi bukan hanya itu, kamu mampu mengeluarkan kualitas terbaik dari orang lain. Saya bersyukur bisa belajar dari kamu."
Saya menatap matanya yang keriput dengan penuh haru kemudian mengucap terima kasih dan mengecup pipinya. Namun, di dalam hati saya tercetus pertanyaan begini, "siapa saya (yang masih bau kencur ini) sehingga mampu mengeluarkan kualitas terbaik dari seorang Ibu berusia enam puluh tahun?"
Kini bertahun-tahun kemudian, kalimat-kalimat Swan masih saya ingat. Kalimat-kalimat itu berjejak lekat di dalam hati saya, seiring dengan jam terbang mengajar yang semakin bertambah dan murid-murid yang semakin banyak. Sejak hari pertemuan saya dengan Swan, saya mengerti satu hal, sesungguhnya saya tidak pernah mengajar Swan, saya yang justru belajar darinya. Bahwa arti mengajar adalah bukan yang paling mengerti segala sesuatu; mengajar adalah mengeluarkan kualitas terbaik dari diri orang lain.


(foto: bersama kawan-kawan di kelas public speaking yang diadakan reaterary beberapa hari yang lalu)


Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...