Saturday, July 17, 2010

#17 Mengintip

aku selalu suka ketika hujan hinggap di jendela, mengintip, sekaligus iri melihat kita. kali ini hujan datang dengan seragam meriah, mereka tampak lelah, seperti biasa hendak hinggap di jendela, mengintip.

sayup-sayup ada backsound di kamar mungil ini. ada kita selalu menyempatkan diri untuk berpelukan. bersentuhan. mencium aroma tubuhmu,

menyicipnya sedikit. hey, bibirmu rasa hujan. ya, kita seperti sebaris semut yang suka berbaris rapih, kemudian mencium di sela-sela pertemuan kita. mendaratkan kecup. karena kita suka sekali bersentuhan. kelihatan seperti di mimpi, ketika hangatmu menempel di kulitku,

kau begitu sabar melayani ini itu, tanpa protes. tanpa ragu selalu menjadi sesuatu yang nyaman. kau adalah rasa nyamanku, kau adalah ketenanganku, kau semacam terang di dalam kegelapan. tentu saja, kau bukan Tuhan. kecuali,

caramu menyentuh, seakan memindahkan surga ke kulitku, ada kedamaian sentausa. selalu menyembuhkan. kali ini ketika hujan hinggap di jendela, aku ingin membuka tirai hujan untuk menemukan celah bibirmu di sana.

tidak peduli hujan datang terlambat. aku tahu selalu ada waktu kita untuk bersentuhan. sentuhanmu tidak pernah terlambat. atau ketinggalan. kalaupun tertinggal, aku akan mencarinya di antara denyut nadimu, mungkin tersesat di sana.

aku selalu suka ketika hujan hinggap di jendela, mengintip, lalu malu.

*gambar dari www.whatpossessedme.com

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...