Friday, July 30, 2010

#24 Detik


jujur saja, aku tidak doyan angka dari dulu. itulah kenapa, aku tidak pernah suka jam. aku punya sebuah jam dinding yang aku biarkan mati di kamar. weker mungil yang aku biarkan mati juga.

karena aku benci detik.

detik yang ribut. aku selalu benci ketika detik-detik itu berjalan maju, mereka seperti berlari. langkah kaki mereka dengan sepatu hak tinggi itu mengganggu sekali. aku tidak suka. satu-satunya penunjuk waktu yang aku miliki adalah handphoneku, itu saja. di handphone tidak ada detik. disitulah awal aku bertemu dengan angka kembar dan mulai mengenal riwayat mereka.

kau adalah angka kembarku.

di sana angka kembar selalu menyapa aku. kau selalu menyapa aku. sebutlah 10:10, 23:23, 20:20, dan lain sebagainya. mereka beruntun. mereka seperti bilang selamat pagi selamat siang selamat malam. aku tahu, angka kembar itu selalu hadir ketika aku merindumu. akhir-akhir ini mereka sering sekali muncul. mereka seperti menemani sepiku. mereka seperti memeluk gelisahku. mereka seperti tanda yang bilang bahwa aku akan baik-baik saja. andai saja, kau tahu salah satu alasan, kenapa aku tidak suka detik, adalah karena aku tidak terbatas. sayang, mencinta itu tidak terbatas.

kalau aku bertemu detik, aku selalu ingin membunuh detaknya.

3 comments:

  1. Like this =)

    Gue ngerti kenapa lu nggak suka detik. Lu nggak seneng dikejer-kejer sama apapun soalnya ... hehehe

    Gua suka endingnya, The, "kalau aku ketemu detik, aku selalu ingin membunuh detaknya".

    ReplyDelete
  2. wa...aku pecinta angka kembar!! buat aku, angka kembar adalah angka di saat ada rindu yang bertemu. entah di mana :)

    ini milikku..
    http://cinnamome37.blogspot.com/2009/09/sebelas-sebelas.html

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...