Tuesday, November 29, 2011

It’s All Yours – Tesla Manaf Effendi feat Mahagotra Ganesha




Semangat untuk bersama yang kemungkinan hendak ditawarkan oleh Tesla Manaf Effendi dan kawan-kawan dari Mahagotra Ganesha dalam album ini. Ketika mendengarkan album ini saya melihat seorang gadis Bali dengan kain kebaya kuning mencrangnya. Atasan merah jambu. Rambut tergerai berjalan di tepi sawah dengan membawa sesajen di tangan sebelah kirinya.

Pergi kemana? Saya tidak tahu.

Bisa saja ia ingin sembahyang. Kira-kira ketika ia sembahyang, ia akan mengucap apa: mugkin penantian. Menanti sang kekasih yang dulunya pernah bersama, terpisah dan sampai sekarang belum bertemu lagi. 

Terdapat banyak emosi di dalam penantian. Menunggu itu bukan kesalahan. Tetapi jika menunggu sesuatu yang tidak pasti apa itu juga bisa disebut kesalahan?—entahlah. Banyak kebingungan, ya pada bagian selanjutnya setelah mendengarkan album ini yang saya rasakan adalah ini. Kebingungan yang menyergap ketika kita ada di dalam penantian. Mungkin itu tadi, kebingungan itu datang supaya kita dapat memilih—apakah kita akan terus menanti atau membuat hati kita berhenti menanti. Selanjutnya ada cinta yang begitu dalam yang saya rasakan ketika mendengarkan album ini. Pertanyaannya adalah sedalam apa kamu pernah mencintai seseorang? Jawabannya hanya kamu sendiri yang tahu. Bagi saya pertanyaan sedalam apa? akan dijawab dengan saya mencintai sampai saya tidak lagi mencintai. Rasa cinta saya habis—selesai hanya pada orang itu. Lalu yang tersisa adalah kesetiaan,  ketika menanti. Tak ada yang bisa dipegang. Selain setia. Percaya atau tidak, bisa jadi orang yang sedang kita nanti, tidak setia. Ia malah melakukan sebaliknya. Tapi setia kepada cinta itu sendiri, bukankah jauh lebih tinggi nilainya? Selanjutnya ketika mendengarkan album ini ada rasa marah. Marah kepada siapa? Marah kepada waktu yang tidak juga berpihak kepadamu. Marah kepada Tuhan sang pemilik waktu. Marah kepada diri sendiri yang ternyata tidak cukup sabar. Atau bisa jadi rasa marah itu datang begitu saja. Mengendap. Membuatmu hanya bisa diam berhari-hari. Selesai itu, segala sesuatu diselesaikan dengan damai.

Tesla Manaf Effendi, tidak hanya seorang musisi. Ia seorang pribadi yang ketika berkarya mampu menghadirkan pribadinya yang melankolis koleris ke dalam karya-karyanya. Ada emosi yang naik turun, seperti yang berusaha saya gambarkan di atas. Satu hal yang saya rasa sangat penting di dalam album ini yang patut kita apresiasi adalah : rasa cinta kepada Indonesia. Semangat yang coba ia tularkan untuk tetap setia kepada bangsa ini, walaupun sesekali ada ketidaksetiaan.

Ketika saya sampai di sini, saya membayangkan si gadis Bali tadi dengan kebaya kuning mencrangnya. Membawa sesajen di tangan kirinya, pergi ke pura terdekat dan berdoa untuk seseorang yang ia sebut sebagai kekasihnya bernama: Indonesia.



Beli albumnya ya teman, infonya silakan follow twitternya Tesla https://twitter.com/#!/teslamanaf :)



Selamat Hari Guru


The best teachers teach from the heart, not from the book.  ~Author Unknown

Hari guru baru lewat beberapa hari yang lalu. Tapi saya ingin menulis tentang dua orang guru yang memberikan inspirasi banyak kepada saya ketika saya masih bersekolah di SMA Negeri I Ambon. Sekolah idaman, begitulah sebutannya ketika jaman itu. Saya bukan termasuk murid yang pintar-pintar amat di sekolah. Malah dalam beberapa hal, terbilang murid yang bandel. Pernah dikeluarkan ketika mata pelajaran Matematika, karena sengaja datang terlambat. Tukang ribut ketika ada beberapa pelajaran berlangsung. Seperti anak-anak keren lainnya, saya juga pernah bolos dengan alasan segala rupa, menstruasi lah, beli obat ke depan lah—dan tidak kembali lagi. Selain itu kebandelan saya yang lain adalah sering sekali membuat teman saya menangis—yang ini urusannya karena iseng saja.

Tapi kebandelan itu semacam berhenti ketika saya menemukan dua guru ini. Mereka tidak hanya guru, tetapi bagi saya mereka adalah pendidik. My muse. Oli Mustamu, ia guru Bahasa Jerman ketika saya sekolah dulu. Sekaligus wali kelas ketika saya ada di kelas 3 SMA. Mendampingi kami dengan setia ketika Ambon sedang rusuh-rusuhnya pada masa itu (awal 1999). Ia sosok yang lembut dan elegan. Cara berpakaiannya sederhana sekali dengan kacamata dan lipstik tipis-tipis warna bibir. Rambutnya selalu digerai kebelakang. Kecantikannya justru ada di dalam kesederhanaannya. Suaranya begitu lembut dan merdu. Ketika menjadi wali kelas utuk kami murid kelas 3 pada saat itu, ia selalu sabar mendampingi kami. Pada saat pelajaran tambahan di kelas, ia berdoa di depan kelas, dan selalu mendukung setiap kami dengan kata-katanya yang mendorong. Saya yang bandel ini, selalu melihat Ibu Oli bukan sebagai guru. Ia seperti ibu. Memperlakukan setiap kami seperti anak-anaknya. Memperhatikan setiap detail kebutuhan kami di kelas. Di dalam hati, saya ingin sekali sepertinya.

Yang kedua adalah Risnawati Tarabubun. Kami biasa memanggilnya dengan sebutan Ibu Risna. Sosok yang fashionable. Ia punya selera berpakaian yang bagus. Dengan rok mini sedikit di bawah lutut, blues longgar, sepatu hak tinggi, lipstik merah. Rambut rapih, kadang diikat dan kadang digerai. Dengan bentuk muka runcing dan bibir tipis. Ia sosok yang ayu. Mengajar Bahasa Indonesia. Dan bagi saya ia adalah sosok public speaker yang baik. Oh ya, selain itu Ibu Risna juga adalah seorang presenter TV lokal Ambon waktu itu. Jadi mungkin pembawaannya sebagai presenter membuatnya menjadi sosok yang sangat bersahaja dan ramah ketika sedang ada di luar. Di dalam hati saya mengagumi, Ibu Risna. Dan kelak saya ingin sekali sepertinya.

Kenangan tentang dua guru tadi begitu kuat di kepala saya hingga kini. Walaupun saya tidak pernah punya cita-cita sebagai guru suatu hari nanti. Namun saya punya satu keinginan terpendam yaitu, suatu ketika saya ingin sekali memiliki kelas public speaking saya sendiri. Public speaking adalah dunia yang saya sedang geluti sekarang. Saya telah memulai kelas public speaking angkatan pertama saya di Tobucil. Dan akan melanjutkan angkatan kedua saya di tahun depan.

Dan ternyata saya senang sekali mengajar. Hal ini saya rasakan ketika saya mengajar dan berbagi sesuatu ada kepuasan dan kebahagiaan tertentu yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Saya belum percaya bahwa saya adalah seorang pengajar yang baik, sampai ketika Suwan, seorang murid saya yang tidak lagi muda, berkata begini di akhir pertemuan kami: Anda sangat berbakat menjadi pengajar. Saya bisa rasa itu.

Saya berkaca-kaca ketika ia mengucapkan ini.

Saya belum sampai di sana, Suwan. Tapi kelak saya ingin. Ketika menulis ini, ada rasa bangga yang begitu kuat di dalam benak saya untuk memperkenalkan kedua guru diatas tidak hanya sebagai guru. Tapi mereka adalah pendidik, ibu, dan inspirasi. Semoga kelak saya juga bisa seperti mereka.

Selamat hari guru :)

Thursday, November 17, 2011

Tuan Kecil Dan Nona Kecil






aku patung mereka patung
cangkir teh hangat namun kaku dan dingin
meja meja kayu mengkilap
wajahmu dibasahi air mata yang dilukis


***

Tuan Kecil yang bermimpi akan bertemu Nona Kecil. Sampai suatu hari di taman bermain yang telah dijanjikan si Tuan Kecil datang dengan setelan jas biru tua. Bunga tulip kuning di tangannya.

Di kejauhan tampak si Nona Kecil bangun terlambat. Karena semalam ia tak bisa tidur. Dengan gesit ia mandi lalu terburu-buru membuka lemari. Hendak pakai baju apa ya? pikirnya. Pilihannya jatuh ke dress kuning muda. Motif bunga merah kecil. Dengan sepatu boot, yang akhirnya menampung jari-jari mungilnya.

Si Nona Kecil pun berlari. Ia tak ingin Tuan Kecil terlalu lama menunggu.

Taman bermain itu kelihatan ramai. Banyak pengunjung mulai datang. Ada pasangan orang tua dan anak-anaknya. Ada para remaja. Ada juga opa oma yang duduk-duduk di bangku sekitar taman.

Nona Kecil kini telah sampai di tempat yang dijanjikan. Dengan kuncir di kepalanya terjuntai. Ia melihat ke kanan dan ke kiri mencari Tuan Kecil. Apa aku terlambat? pikirnya. Kalau Tuan Kecil sudah sampai duluan, ia pasti menunggu. Begitu kata hatinya lagi. Tidak lama kemudian ia duduk di atas rumput. Rumput yang wangi sehabis terkena hujan. Tak ada yang bisa dilakukan selain duduk dan menunggu. Pikirnya lagi. Sampai akhirnya Nona Kecil mengantuk. 

Senja kini telah turun, Nona Kecil terbangun dari tidurnya. Berapa lama ia lelap. Ia tak tahu. Yang ia tahu perutnya kini kelaparan. Ternyata ia tidur cukup lama. Dan setelah diingat-ingat lagi, tadi pagi ia tidak sempat makan apa-apa. Ah, mama pasti kuatir.

Duh, bagaimana ini, sebentar lagi taman bermain ini akan tutup. Aku belum juga bertemu dengan Tuan kecil. Lagi-lagi hati Nona Kecil gelisah. Ia bertemu dengan seorang ibu yang hendak berjalan ke arah pintu keluar. “Ah, kamu pasti Nona Kecil. Dari tadi Tuan Kecil menunggumu di sana.” Kata ibu itu sambil menunjuk ke arah carousel. “Terima kasih ibu.” Nona Kecil mengucapkan kata itu sambil berlari ke arah carousel.

Beberapa anak masih duduk-duduk di atasnya. Ikut berputar dengan lagu dari speaker yang cukup keras. “Itu dia!” Nona Kecil terpekik keras ketika melihat Tuan Kecil sedang duduk di atas salah satu kuda carousel yang tengah berputar. “Tuaaannn Keciiilll.. ini aku.” Nona Kecil melambaikan tangannya, berlari ke arah Tuan Kecil.

Terasa kuda-kuda carousel melambat. Lagu dari speaker mulai mengecil. Nona Kecil berlari menemukan Tuan Kecil di atas carousel. Memeluknya, mencium pipinya. Bunga tulip kuning di tangan Tuan Kecil tampak masih segar.

“Baiklah, Tuan Kecil, mari kita menulis mimpi..” Nona Kecil mengeluarkan lipstik merah yang sedari malam ia ambil dari meja rias mama. Dan mengeluarkan kertas putih dari dalam saku bajunya. 


“Kelak, aku ingin menjadi ibu.”

Ia menulis lima kata.

Tulisan sambung cakar ayamnya tampak tidak beraturan dengan ujung lipstik merah di tangan kanannya. “Nah, sekarang giliranmu Tuan..” Nona Kecil menyodorkan ujung lipstik dan kertas ke tangan Tuan Kecil yang  dari tadi diam saja. Tidak bergerak. Karena Tuan Kecil hanya patung di atas carousel.

Dago 349, 17 November 2011. 11:49.

*ini bukan review. Hanya cerita untuk Track ke-5 : DIORAMA dari Album Tulus. Track ini favorit saya. Kamu bisa beli albumnya dengan Info lengkap http://www.musiktulus.com/

Wednesday, November 16, 2011

Merapi, Omahku






Membaca buku “Merapi Omahku” yang ditulis oleh Elizabeth D. Inandiak dan Heri Dono membuat saya ingin mengenal sosok Mbah Marijan. Buku ini menulis tentang mitos di sekitar gunung merapi. Dan hubungan yang terjadi antara manusia dan alam. Saya membaca buku ini dalam perjalanan saya ketika naik damri, alasannya: buku ini tipis. Ringan untuk dibawa kemana-mana. Dan saya suka ilustrasinya.

Elizabeth menulis tentang sosok Mbah Marijan atau Simbah. Membuat saya penasaran. Saya hanya mengenal Simbah dari iklan minuman penambah tenaga yang saya lihat di tivi. Sosok yang bersahaja menurut saya. Tapi ketika membaca buku ini yang ingin saya tanyakan kepada Simbah adalah “apa itu kepercayaan?” dan “apa itu keyakinan?”  

Rese juga ketika berpikir bahwa, kalau nantinya saya bisa mengobrol dengan Simbah saya harus menggunakan bahasa Jawa. Lalu saya mulai menghayal, saya datang ke Kinahrejo, minum teh kental manis dengannya. Simbah akan bercerita kepada saya seperti seorang kakek kepada cucunya. Beliau akan mendongeng tentang mitos yang terjadi di sekitar gunung Merapi. Dimulai dari kisah Barata, manusia yang pernah menjadi pemburu di sekitar gunung Merapi, yang kemudian bersahabat dengan seekor gajah. Kemudian si gajah itu sendiri dimantrai-nya hingga menjadi sebuah pohon. Kemudian kita kenal dengan Pohon Beringin Putih. Lalu Simbah juga akan bercerita kepada saya tentang makhluk-makhluk yang tak kasat mata yang hidup di dalam perut gunung Merapi.

Saya masih menghayal, ketika tiba-tiba di depan saya kini muncul sosok itu ...

“Mungkin, kamu harus belajar melihat mengunakan mata batin kamu, The.” Kata-kata itu keluar dari mulut Simbah begitu saja.

“Maksudnya, mata batin Mbah?” saya bertanya dengan muka bingung.

“Kamu harus punya keyakinan diluar kepercayaan kamu. Ini tidak bicara soal Agama atau siapapun yang kamu percaya. Hanya saja meyakini sesuatu, tidak harus sejalan dengan apa yang kamu percaya. Keyakinan selalu bicara tentang soal yang lebih dalam.”

“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulut saya. Sambil masih mencerna semua kata-katanya.

“Saya percaya kepada Tuhan, Sri Sultan, dan Gunung Merapi. Tuhan yang paling pertama dan utama. Lalu kemudian saya meyakini, apapun juga yang diciptakan oleh Tuhan. Yang diciptakan akan kembali.  Saya meyakini itu. Termasuk saat ini, saya kembali kepada-Nya.” Ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Ia lalu pergi. Menghilang begitu saja. Meninggalkan saya yang bingung dengan pertemuan singkat itu.

Betul kan, ia seperti kakek. Saya bahkan tak sempat mencium tangannya. Dan ini mungkin bukan kesimpulan: kepercayaan diciptakan. Sedangkan keyakinan tidak. Begitu?

Ah Simbah, semoga tenang di alam sana.

*saya selalu tertarik dengan Jawa, keragaman mitosnya. Toh, kamu tidak perlu meyakininya juga. Bagi saya mitos tentang Jawa, ada atau tidak ada. Selalu menarik. Selalu hidup. 

Tuesday, November 15, 2011

Manakah Yang Paling Tepat


Lagi-lagi di kepala ini selalu dipenuhi dengan pertanyaan pendek. Begitu random. Seperti yang hari ini bermain-main di kepala saya yang tepat itu “mencintai orang yang tepat” atau “mencintai pada waktu yang tepat.” Ketika pertanyaan-pertanyaan ini muncul di kepala, apa yang hendak kamu jawab.

Terdapat empat subjek : saya, orang yang dicinta, waktu, dan cinta itu sendiri. Semuanya adalah pelaku. Memainkan peranannya sesuai dengan destini. Saya adalah orang yang suka mencinta. Saya punya orang yang saya cinta. Saya ada di dalam waktu. Dan saya percaya bahwa cinta itu sendiri ada.

Saya pernah menulis bahwa : kita tidak dapat memaksa cinta untuk menghampiri setiap hati. Karena cinta adalah elemen bebas. Ia terbang, menghampiri/tidak menghampiri hati sesuka hatinya saja. Cinta tidak pernah bisa dipaksa. Sedangkan hati. Kalau saya tidak salah lebih diam. Hati memilih dalam ke’diam’-an-nya. Tapi hati tidak bergerak. Ia seperti pintu : hanya dibuka setengah, dibuka lebar, atau tidak dibuka sama sekali.

Selanjutnya adalah waktu. Waktu sifatnya kekal. Ia memang diam di tempat. Dan dari beratus-ratus tahun yang lalu tidak berubah. Waktu lebih lagi, ia tak punya pilihan bebas. Ia tidak seperti saya yang bebas, cinta yang sesukanya, atau hati yang walaupun sedikit masih punya pilihan.

Lalu bagaimana dengan orang yang kita cinta? Tidak semua kita punya orang yang kita cinta. Bisa jadi kita hidup hanya untuk diri sendiri. Bisa jadi kita memang hidup untuk masturbasi : kesenangan diri sendiri. Dan tidak perlu orang lain.

Sampai di sini manakah yang paling tepat “mencintai orang yang tepat” atau “mencintai pada waktu yang tepat.”

Tak ada jawaban yang baik, selama saya dan kamu masih senang (melakukan) *masturbasi. 

*oh kata ini tidak hanya dalam konteks sexual saja. Semoga kamu cukup dewasa untuk memahami maksud tulisan saya.


Wednesday, November 9, 2011

Rintik


Rintik hujan begitu tipis. 

Mengganggu pemandangan kita. Yang sedang saling bergadengan tangan—pipi bertemu pipi—menginginkanmu dengan sangat. Tidak ada toleransi tentang ini.

Dan saat ini kita saling bertatapan, kamu bisa melihat bening mata saya dengan jelas bercampur dengan air mata, bahkan air mata ini pun menginginkanmu dengan sangat. Saya menginginkanmu! dengan seluruh jiwa dan air mata saya.

Kamu tertawa. Tawa yang khas. Tawa yang selalu buat saya bahagia. Di sana saya bisa melihat mata kamu yang biasanya sendu begitu ceria. Karena mata itu yang membuat saya begitu jatuh cinta. Saya memilih mata itu dari semua mata yang pernah saya temui. Kenapa? ah, jangan pernah tanya kenapa. Jatuh cinta titik. Tidak pernah saya kepikiran alasan yang lain.

Kamu bingung. Melihat saya dengan tatapan bertanya seperti “kok bisa?” Tentu saja “bisa” begini: seperti rintik hujan tipis di luar, kenapa mereka memilih untuk jatuh?

Dan kali ini, kamu memandang saya dengan tatapan semakin aneh. Kamu bilang bahwa saya gila. Saya adalah orang gila yang mungkin terlalu jatuh cinta kepadamu. “MUNGKIN?” spontan saya meneriaki kata itu keras diantara hujan tipis dan jaket milikmu di atas kepala yang kini mulai basah.

Tak ada kata “MUNGKIN” ketika saya bilang cinta kepadamu. Kecuali jika kamu sendiri yang tidak percaya.

Terserah.

Lalu kamu masih melongo dengan binar mata yang sama.

“Boleh saya cium mata kamu?”

Kamu mengangguk.




*ketika siaran dan gerimis tipis di luar. Mobil lalu lalang dengan padatnya. Ada bau kamu.

Tuesday, November 8, 2011

We Remember People By Songs


weheartit, ini gambar dari Erika Iris Simmons. ia seorang ilustrator keren. 

Mencintai seseorang—satu maupun banyak. Sepanjang hidup. Selalu saya sebut perjalanan. Bukan hanya itu mencintai seseorang—satu maupun banyak adalah pekerjaan profesional. Ada bagian yang lebih dari serius.

Ada detail.

Saya adalah tipe yang akan menghapal : suasana, percakapan, baju dan sepatu yang dipakai, raut muka, binar pada mata, bau parfum, sampai kepada lagu. Lagu kita berdua, lagu saya untuknya, atau lagu dia untuk saya.

Jadi kalau ditanya apa sih pekerjaan paling sulit yang pernah saya lakukan sepanjang karir saya itu adalah : mencintai. Belum lagi dengan urusan “cinta yang bertepuk sebelah tangan.” Bukankah ini urusan brengsek yang biasanya akan kamu temukan dalam pekerjaannmu : mencintai.

Tapi mari kembali kepada lagu. Dua hari belakangan ini, saya sedang dibawa untuk mengingat lagu yang kemudian akan mengingatkan kepada orang yang pernah—sedang—atau tidak lagi saya cintai. Tentu saja ini adalah cinta ketika dewasa. Cinta dewasa : cinta karena keputusan hati sendiri.

Akhirnya saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa, saking detailnya saya mencintai saya akan mengingat lagu yang mengingatkan saya tentang orang tersebut. Contoh : “Beautiful Girl” adalah ketika saya bersama si A. Si B lain lagi, “Hate That I Love You” yang selalu menemani hari-hari itu. Kemudian ketika bersama si C ada “Need To Be Next To You” nya-Leigh Nash, “You and Me” nya-Lifehouse, dan “I Love The Way You Love Me” nya-Eric Martin. Lain halnya ketika bersama si D ada “Stuck In The Moment”-nya U2 di sana. Kemudian ketika si E datang, ada John Mayer dengan petikan gitar dan lagu-lagunya. Selanjutnya hadirlah si F dan lagu-lagu selanjutnya dan selanjutnya.

Tidak masalah ketika cinta telah selesai. Lagu-lagu itu masih tersimpan di playlist hati rapat-rapat.

We remember people by songs. I also remember you by songs.

Sebutkan satu judul lagumu teman dan ketika itu kamu sedang mengingat siapa?

Bunyi 'Tik Tik'

weheartit




Cinta itu seperti bunyi ‘Tik Tik’ yang turun di atas genting.

Mungkin seperti lagunya Ibu Sud. Lagu tentang hujan yang paling sederhana sekaligus paling romantis—yang membuat terkadang jika mengingat hujan—juga ingat padamu. Yang ada maupun tidak ada. Yang pernah memberi rasa, maupun juga mengambil rasa. Tapi tidak lupa. Belum lupa.

‘Tik Tik’ jelas itu bukanlah bunyi biasa. Ia magis. Ia mendatangkan rindu kepada moment ketika bersama. Moment ketika berpisah. Mengingatkan masih kepada orang yang sama. Yang pernah ada namun sekaligus tidak ada.

Pagi ini ada ‘Tik Tik’ di atas genting. Derasnya adalah rasa rindu. Rindu untuk bersama sekaligus rindu untuk berpisah. Bunyi yang mendatangkan perenungan panjang : adakah kebersamaan itu kekal? atau : kekekalan ada di dalam perpisahan?

Jelas tidak ada jawaban. Belum ada jawaban.

Hanya bunyi ‘Tik Tik’ di atas genting. Terlalu pagi ia datang. Terlalu cepat juga ia pulang. 

Tuesday, November 1, 2011

Yuk! Jaga Tulang.



Sebagai pecinta kopi, terkadang saya lupa akan susu. Lama-lama menjadi tidak terbiasa. Dan dengan aktivitas yang begitu banyak, terkadang saya lupa bahwa kalsium juga merupakan satu hal yang sangat penting. Sampai pada beberapa bulan ke belakang, saya sering merasakan sendi pada bagian lutut sebelah kiri saya sering sekali nyeri.

Tidak lama setelah itu ada workshop kesehatan yang dilakukan oleh seorang Personal Trainer terkenal, beliau juga terbiasa menangani event seperti pemilihan Putri Indonesia dan semacamnya. Beliau lalu menjelaskan panjang lebar tentang kalsium dalam tubuh, bahwa sangat penting—saya sebagai perempuan muda di usia produktif—dengan aktivitas yang begitu padat untuk menjaga kesehatan tulang.

Sejak saat itu—saya memutuskan untuk mengkonsumsi Anlene. Biasanya ketika malam sebelum tidur dan pagi hari ketika sarapan. Yang terjadi kemudian setelah hampir sebulan ini, saya menkonsumsi Anlene secara rutin, sendi pada lutut sebelah kiri saya tidak pernah ada keluhan lagi. (Ejie! Kesaksian abis dah gue)

No. Tapi serius. 

Tulang dalam kehidupan kita sangat penting. Ketika Anlene #ScanTheNation diadakan di Bandung pun (ini persis ketika gue ulang tahun dan Okke janji juga mau ngasih gue kado :D) janjianlah saya dan Okke Sepatumerah ke sebuah mall di tengah kota Bandung. Akhirnya kami sampai di sana dan mulai mencoba segala hal baru di sana. Di sana kita bisa men-cek apakah tulang kita rentan untuk terkena osteoporosis atau tidak. Dan ternyata saya masuk dalam golongan sangat rendah (sombong :D) setelah itu oleh mbak-mbak di sana (pada bagian calcimeter) kami juga dijelaskan mengenai bagaimana caranya menjaga tulang tetap sehat melalui makanan yang dikonsumsi setiap hari.  Beserta tips-tips yang diberikan : 

1. Penuhi kebutuhan kalsium harian dan nutrisi tulang penting lainnya. Asupan kalsium ideal/hari adalah 1000 - 1200 mg.
2. Hindari kebiasaan merokok, kurangi konsumsi kopi, minuman beralkohol/bir serta garam/makanan asin.
3. Lakukan olahraga menggunakan beban secara teratur minimal 3x/minggu, masing-masing 30 menit. Misal, berjalan kaki 10000 langkah per hari.
4. Lakukan pemeriksaan kesehatan tulang secara teratur per tahun.


Sampai di sini, jangan senang dulu. Walaupun tidak merokok, tapi saya masih punya kebiasaan buruk lainnya yang masih akan menjadi peer. Di booth Anlene, ada juga mini walkhaton yang dilakukan, walaupun rutenya hanya di dalam Mall, tapi lumayan seru. Mengingatkan saya bahwa jalan kaki itu tetap penting. Selain itu, bisa bawa pulang Anlene banyak dengan harga yang jauh lebih murah deh. (Rugi deh elo, kalo gak dateng :D)

Selain itu setelah mem-follow akun @anlene_id, saya juga semakin paham bagaimana mencintai tulang dari hashtag #LoveYourBones dengan cara mudah dan juga menyenangkan. Karena mungkin selama ini kita terkadang masa bodoh, tapi dengan tips-tips menarik (dengan tidak ribet tentunya) dari Anlene, sangat membantu supaya dapat lebih mencintai tulang lagi.

Satu hal lagi, dalam rangka menyambut Hari Osteoporosis Nasional/Dunia pada 20 Oktober 2011 (gue juga baru ngeh, ternyata ada hari osteoporosis :D) Anlene sebagai salah satu brand di pasaran yang konsisten terus mengingatkan bahaya osteoporosis, juga menyelenggarakan Anlene Movement #IndonesiaMelangkah yang setiap tahun ada dimulai dari 2007, mengajak masyarakat jalan 10 ribu langkah secara massal. Yang minggu kemarin diadakan di Taman Mini. Untuk konsultasi, bisa main-main ke www.tulangsendisehat.com, ada FB : Anlene Indonesia.

Satu lagi paling penting : sebelum cinta pacar, cinta tulang dulu dong. Dijamin cintanya bisa awet sampai tua :D

Wednesday, October 26, 2011

Hanya Titipan


Yang terjadi adalah Annelies begitu menginginkan Minke. Ia sampai jatuh sakit, supaya Minke datang ke rumah. Bukan hanya itu Mama juga mengatur segalanya, supaya keinginan anaknya menjadi kenyataan. Supaya hati dan kerinduan anaknya terpenuhi.



Pernahkah kau menginginkan seseorang—tapi tidak ingin memilikinya?

Bisa jadi dia adalah orang yang begitu membuatmu rindu. Kau ingin dia ada untuk malam-malammu, tapi hanya sampai disitu. Kau tidak menginginkannya tinggal lama-lama.

Ibarat pintu hati : bahkan kau tidak memperbolehkan dia masuk. Menjadi milikmu. Sampai di sini, ada satu kebingungan yang muncul : baikkah jika cinta dimiliki? Atau siapa yang berhak untuk memiliki cinta. Bukankah cinta itu menjadi hak semua orang untuk merasa—bukan untuk memiliknya.

Bukankah cinta itu menjadi hak semua orang untuk merasa—bukan untuk memiliknya.

Karena selebihnya cinta terbang bebas. Dan akan mampir pada hati—siapapun sesuka hatinya. Cinta datang karena ia sendiri menginginkannya. Bukan keinginan hati.

Jadi hati tidak berhak untuk memilikinya.

Sama halnya ketika, kau mungkin menginginkan seseorang. Tapi tidak untuk memilikinya. Bukan karena kau tidak berhak—hanya saja di dunia ini tidak ada siapapun yang bisa memiliki siapapun—melainkan hanya titipan.  


Tuesday, October 25, 2011

Seperti Balon


Seperti bosan, terkadang warna-warni balon pun tidak menarik perhatianmu. Padahal setelanmu hari itu adalah rok renda putih, dengan keranjang di sisi tangan kirimu. Hendak piknik membawa balon-balon.

Bercinta. 

Seperti katamu selalu, alam terbuka seperti perempuan telanjang, begitu sexy. Membuatmu selalu ingin berlari dengan kaki telanjang, di bawah ranting, di antara hujan, pada keramaian burung.

Hari itu, langit beku. Hujan berhenti. Tak ada sesuatupun yang hangat yang bisa kau temukan seperti biasa :  matanya. Mata yang hangat, dengan bulu-bulu mata yang lentik. Yang selalu kau tunggu-tunggu, menghampiri dengan tubuh hangat : peluk.

Entah mengapa kini, keranjang berisi balon-balon warna di sisi tanganmu itu seperti melompat kegerahan ingin keluar. Mereka sesak nafas. Hanya ingin terbang. Karena hidup mereka bukan di dalam keranjang.

Antara melepaskan dan tidak. Kebingungan.

Kamu teringat nasihat seseorang di masa lalu : “Cinta seperti balon. Dipegang erat : DAR!”






Thursday, October 13, 2011

#AMBONTRIP #AMBONJAZZ #4

donat dan kue kering kenari


ikan goreng, yang ini rasanya beda sob! :)

bersama SABA team






pantai Liang




pintu kota. *ket: 6 foto terakhir gue culik dari fb.




#AMBONTRIP #AMBONJAZZ #3

depan rumah. hanya sempat nginep semalam, bangun pagi sarapan dengan ibu dan lihat ayah mengurus ayam-ayamnya




depan rumah dan gereja kezia

Marthin Elwarin, nama Opa. sempet ke Kudamati lihat “Rumah Tua” istilah yang gue pakai kepada Rumah masa kecil sampai remaja gue. rumah ini terlalu banyak cerita. terlalu banyak kenangan. gue bersyukur punya masa kecil yang indah dan menyenangkan di rumah ini :)




#AMBONTRIP #AMBONJAZZ #2

menuju “Dancing On The Bay” di Halong


senja dari pelabuhan Ferry Halong


siap-siap untuk “Dancing On The Bay”


pemain musik siap-siap badonci

dari atas kapal ferry


semua menari dan badonci. Dancing On The Bay adalah acara penyambutan kepada semua participant Ambon Jazz Plus Festival. acara ini diselenggarakan di atas kapal ferry, yang membawa seluruh participant menikmati teluk Ambon di waktu malam





Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...