Friday, December 26, 2014

Walking After You













Windry Ramadhina melukiskan masa lalu dalam novel Walking After You seumpama hujan. Dan Windry benar, terkadang memang saya suka sekali memandang hujan dengan sedih. Karena bagi saya teradang memang masa lalu tersebut senantiasa tidak terhapus. Mereka selalu mengapung di permukaan matamu seperti genangan hujan. Terus menerus akan menggenang jika memang kamu tidak berani untuk menghapusnya, tetapi pertanyaannya apakah kita perlu menghapus masa lalu? Apakah memang kita perlu sengaja melupakan masa lalu?

Di dalam novel Walking After You, kalian akan berkenalan dengan An, perempuan yang tampak bahagia, tetapi sebenarnya tidak bahagia. Walaupun tertawanya renyah, sebenarnya ia menyimpan banyak sekali kesedihan. Di dalam segala sukacita yang keluar dari tawa renyahnya, sebenarnya An menyimpan rindu yang teramat dalam kepada seorang. Terkadang saya adalah An. Kamu adalah An. Hanya saja, kadang kita terlalu pintar untuk menyimpan perasaan perasaan kita. Kita hanya pintar menipu orang lain.

Masa lalu adalah hujan yang terkadang kita pandang dengan sedih. Dan An adalah hujan itu. Membaca novel Walking After You terasa seperti genangan hujan, terkadang ia akan membumbung tinggi di depan matamu, atau memercik sedikit kena pipimu, atau deras sekali di antara sudut-sudut jendela hatimu. Windry Ramadhina yang piawai dalam membuat bangunan cerita akan membuatmu semakin penasaran untuk menghabiskan novel ini dalam waktu yang sangat cepat.


Seperti masa lalu, jika memang kamu tidak berani untuk menghadapinya, ia akan tetap menjadi genangan seperti hujan dan akan membuatmu semakin penasaran. 

Thursday, October 2, 2014

Belajar Dari The Giver












Malam itu saya adalah malam yang cukup random. Maksud hati menonton Tabularasa, tetapi karena jadwalnya telah lewat akhirnya kami (saya dan teman saya) memilih untuk menonton The Giver. Alasan pertamanya karena kami malas menonton Anabelle yang horor. Dan di The Giver ada Meryl Streep. Akhirnya kami memutuskan untuk menonton film itu.

The Giver dibuka dengan narasi yang cukup memikat. Saya adalah pemerhati narasi dan setiap voice over. Mungkin aneh, tapi bagi saya narasi awal biasanya membangun sebuah bangunan film tersebut. Di awal itu ada Jonas yang bersepeda dengan dua orang temannya. Jonas berkata bahwa ia tidak seperti anak-anak kebanyakan. Ia melihat sesuatu di luar kebiasaan setiap orang.

Ternyata The Giver adalah tentang sebuah komunitas yang akhirnya dibentuk dengan sebuah bentuk keseragamannya. Ada rumah yang disebut family unit, jam bermain mereka dibatasi, mereka dibagi dalam beberapa kelompok pekerjaan, cara berpakaian mereka sama, bahkan ketika di dalam pertemuan cara menepuk tangan mereka semua sama, mereka menggunakan bahasa-bahasa yang layak, dan tiap pagi mereka harus disuntik supaya mereka kehilangan emosi sebagai cara untuk merasa.

Yang menarik adalah ketika menonton film ini dari awal adalah warna filmnya yang abu-abu. Tidak ada satupun warna yang keluar, hanya abu-abu. Jonas, tokoh laki-laki yang digambarkan sebagai “memory receiver” di dalam film itu menghabiskan waktunya sebagai “pelatihan” dengan The Giver, sang pemberi memori itu sendiri.

Selain itu di film ini banyak sekali dialog-dialog quotable yang memukau. Dalam hal ini saya mungkin akan dapat banyak jika membaca langsung bukunya yang ditulis oleh Lois Lowry.

Ada beberapa catatan yang saya dapat ketika menonton film ini:

1. Kita tidak bisa “menghilangkan” kenangan begitu saja, karena ternyata kenangan yang memuat kita belajar merasa. Selain itu kenangan itu adalah bagian dari diri kita dan itu akan menentukan seperti apa masa depan kita nantinya.

2. Untuk apa menjalani hidup jika kita tidak bisa merasa. Ternyata bisa merasakan sesuatu itu sangat penting. Bayangkan jika di dalam hidup kita tidak bisa merasakan cinta, maka hidup kita tidak berwarna, melainkan hanya abu-abu.

3. Dunia ini tidak bisa diseragamkan. Di dalam keseragaman hanya akan ada robot dan rasa bosan, karena setiap manusia ternyata diciptakan dengan sebuah keinginan bebas. Bahwa di dalam ketidakseragaman dan kita tidak hanya merasakan hal-hal yang senang—melainkan juga sedih, sungguh membuat kita adalah manusia yang seutuhnya.

4. Ada beberapa adegan yang mungkin tidak masuk akal. Yah, namanya juga film Hollywood. Sudahlah terima saja. Fokus saja sama sinematografi dan dialog-dialog di dalam film ini. Everything is connected. Everything is balance. Where there is good, there is bad. Lihatlah bahwa segala sesuatu terjadi untuk menyeimbangkan kita. Bertahan!

5. Bagian yang saya paling suka adalah ketika Jonas meliha warna rambut Fiona yang berubah menjadi merah atau ketika ia melihat sinar matahari yang keluar dari sulur-sulur pepohonan. Seperti itulah cinta. Ketika kita bisa merasakan dan melihat segala sesuatu di sekitar kita selalu berwarna. Karena dengan begitu kita bisa merasa.

If you can't feel, what's the point?


Selamat menonton!

Friday, September 26, 2014

Bahwa Kamu Terlalu Indah







Bahwa kamu terlalu indah. Bahwa saya selalu bilang kepada diri saya sendiri bahwa, “kualitas terbaik dari diri setiap orang itu ada di sini” kata saya sambil menunjuk ke dada.  Bahwa kualitas terbaik dari diri kamu bukan ada pada bagaimana cara kamu berdandan, tetapi ada di sini.

Semoga kamu percaya. Bahwa setiap kali saya hendak mandi, menyikat gigi, dan melihat ke cermin, saya selalu bicara kepada diri saya sendiri lalu menunjuk kepada dada saya sendiri, dan bicara kepada diri saya sendiri bahwa saya juga punya kualitas baik.

Saya adalah orang yang percaya bahwa kamu sangat lembut. Bahwa saya harus berhati- hati denganmu, karena saya takut kamu pecah. Kamu sangat rapuh, saya harus memperlakukan kamu dengan benar. Tetapi di balik kamu yang rapuh itu, kamu sebenarnya adalah pelindung yang kokoh. Bahwa kamu bukan hanya yang pertama, kamu adalah yang melindungi itu.

Saya bisa merasakan bahwa ada mekanisme pertahanan yang biasanya kamu bangun untuk diri kamu sendiri, supaya orang tidak melihat sisi kamu yang lainnya, tetapi jauh-jauh di dalam hatimu saya percaya bahwa kamu itu berbeda. Kamu punya visi. Walaupun pada saat ini mungkin belum kelihatan.


Saya bukan hanya sedang tergila-gila, saya sedang mendoakan kamu setiap hari. Semoga kelak, kita bertemu walaupun saat ini mungkin jalan-jalan kita bercabang.

Wednesday, September 24, 2014

Review Buku Dunia Simon
















Satu buku ini saya temukan ketika sedang nongkrong di Tobucil. Lalu ada beberapa stock buku yang baru datang. Salahsatunya adalah buku kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Wihambuko Tiaswening Maharsi.

Dunia Simon berisikan cerita-cerita pendek yang membahas kebanyakan mengenai keseharian perasaan perasaan perempuan. Saya senang dengan cara menulis Tias. Ia menghadirkan perasaan perasaan gamang seorang perempuan dengan caranya, tanpa malu-malu.

Sesekali, saya merasa saya adalah perempuan yang dimaksud di dalam cerita-cerita Tias. Ada sebuah cerita yang menjadi favorit saya yaitu ketika seorang perempuan bertemu dengan seorang laki-laki di dalam kereta, saling melirik, dan saling melemparkan pesan melalui mata.

Saya sepakat dengan Tias bahwa hal-hal seperti ini seringkali terjadi. Bertemu manusia-manusia stranger hampir setiap hari di dalam kehidupan kita, kebanyakan hanya berpapasan, kebanyakan bertemu dan saling melihat tiak lebih dari limat menit, ataupun duduk di dalam kereta bersama selama beberapa jam, lalu saling mengirimkan pesan.


Cara Tias bertutur terkadang merepet, tetapi terkadang ia menahan banyak. Hal ini yang membuat buku kumpulan cerita pendek ini menarik untuk dilahap. Sebaiknya membaca buku kumpulan cerita pendek ini dengan ditemani secangkir kopi hitam, sesekali disesap lalu dikulum sebentar di dalam mulut baru kemudian ditelan. Demikian juga sensasi membaca buku ini. Ah, ilustrasi di buku Dunia Simon juga menarik sekali. 

Thursday, September 11, 2014

Sedikit Cerita Tentang Lupita Nyong'o














Ketika hendak bercerita tentang Lupita Nyong’0 tentunya saya dan kamu akan balik lagi dan menonton 12 Years A Slave. Film pertama yang ia bintangi dan kemudian membuat Lupita mendapatkan banyak sekali penghargaan sebagai pemeran pembantu di sana. Lahir pada tanggal 1 Maret 1983. Lupita punya seorang ayah seorang politikus di Kenya. Tentu saja ketika melihat sosok Lupita, tidak heran saya langsung menebak bahwa ia adalah seorang perempuan dari keluarga yang terpelajar dan punya hubungan yang sangat baik dengan ayahnya.

Ketika Lupita mendapatkan perannya di 12 Years A Slave, orang yang pertama kali ia telepon adalah ayahnya. Ia berkata pada saat itu bahwa “Ayah tahu Brad Pitt? Saya akan tampil di layar bersama dengan dia.” Dan ayahnya menjawab “ya, saya tidak kenal Brad Pitt secara personal, tapi saya senang kalau kamu akhirnya mendapatkan pekerjaan.”

Pada akhirnya saya mendengarkan banyak sekali interview Lupita di Youtube. Dan mencari apa sebenarnya yang paling menarik darinya, selain ia adalah lulusan dari Yale School of Drama. Ternyata Lupita mendapatkan telepon untuk audisi dari Steve Mcqueen (sutradara dari 12 Years A Slave) sebelum ia lulus. Lupita memutuskan untuk mengikuti audisi tersebut dan kemudian mendapatkan perannya. Tetapi ternyata jauh sebelum akhirnya ia mendapatkan peran dalam 12 Years A Slave, Lupita pernah bekerja sebagai asisten produksi, dan ketika bekerja sebagai asisten produksi, Lupita harus mengantarkan kopi kepada beberapa artis yang terlibat di dalam film tersebut.

Dalam pidato dan beberapa interviewnya, ketika Lupita ditanya bagaimana ia akhirnya bisa mengeluarkan karakter Patsey ketika bermain di dalam 12 Years A Slave ia akan menjawab dengan salah satu kutipan dari penyair Khalil Gibran “The deeper sorrow carves itself into your being, the more joy you can contain.”

Ia bercerita tentang bagaimana akhirnya ia membaca karakter Patsey lalu menangis dan menangis di dalam hotelnya. Saya membayangkan Lupita memang benar-benar melakukan tugasnya sebagai aktris ketika ia memerankan Patsey. Ia benar-benar menegeluarkan kualitas terbaik dari Patsey ketika memerankan 12 Years A Slave.

Saya memperhatikan Lupita, selain cerdas, ia adalah perempuan yang percaya diri dan penyayang. Sangat kelihatan dari caranya berbicara. Dan hal-hal yang berhubungan dengan percaya dirinya adalah karena Lupita punya hubungan yang baik dengan ayahnya. Oh, tapi bukan hanya itu, Lupita, mendapatkan kepercayaan penuh dari kedua orang tuanya untuk mengejar apa yang menjadi  panggilan hatinya.

Saya senang menuliskan tentang Lupita. Saya tidak punya alasan kenapa saya harus menulis tentang dia, yang saya tahu saya hanya harus menulis tentangnya. Lalu akhirnya saya menemukan jawabannya, ada sebuah kutipan dari Lupita, ia bilang “personally, I don't ever want to depend on makeup to feel beautiful.”


Bukankah Lupita adalah lambang dari kecantikan yang sebenarnya, apa yang tampak sekaligus apa yang tidak tampak?

Wednesday, September 10, 2014

Sedikit Cerita Tentang Minggu Minggu Ini







Sudah hampir dua bulan ini saya tidak lagi siaran. Itu artinya saya sudah tidak terlibat lagi dengan “sistem perkantoran” dan sekarang benar-benar menjadi freelance. Selama tidak siaran, saya mengajar. Fase ini saya sebut dengan fase “memperlambat hidup” karena saya sedang ingin lamban dan tidak ingin tergesa-gesa di dalam hidup.

Ada masa-masa di dalam hidup, dimana kita memang tidak perlu terburu-buru. Dan fase itulah yang sedang saya rasakan saat ini. Pernah pada suatu pagi saya bangun, lalu saya lupa bahwa hari ini adalah hari apa, dan saya harus melakukan apa. Lupakan dulu sejenak. Karena yang terjadi adalah saya bangun malas-malasan, kadang-kadang tidak mandi, lalu pergi ke tempat favorit  saya untuk ngopi, kemudian menghabiskan waktu saya seharian di sana untuk membaca buku.

Dan itu sangat menyenangkan. Karena ada perasaan “penuh” di dalam dirimu. Akhirnya membuat saya berpikir bahwa ada satu momen di dalam hidup, dimana kita memang tidak perlu “melakukan apa-apa” hanya menikmati hidup dengan sebagaimana adanya saja. Mengikuti aliran hidup kita. Oh, bukan berarti saya tidak bekerja sama sekali juga. Saya masih menulis. Saya mengajar juga. Yang hendak saya sampaikan di sini adalah bagaimana ada rasa berani untuk “lebih menikmati hidup” sebagaimana mestinya. Tidak ada beban. Tidak ada tanggung jawab kepada siapapun, melainkan hanya kepada diri sendiri.

Ada beberapa hal yang kemudian saya catat. Dengan pada akhirnya keluar dari pekerjaan sebaga penyiar radio, bukannya meninggalkan mimpi atau passion. Tapi justru break sejenak, sebelum akhirnya melakukan sesuatu yang lebih besar. Saya merasa seharusnya passion tertinggi di dalam hidup manusia, yaitu berbagi.

Kenapa berbagi? Ada hal penting yang kemudian saya sadari bahwa, setinggi apapun kita berlari untuk mengejar “mimpi” kita, tetapi jika kita tidak berbagi, sama saja dengan hidup kita tidak berisi apa-apa. Pada akhirnya “mengajar” menjadi pilihan saya pada saat ini. Karena dengan mengajar saya bisa berbagi sepenuhnya.

Saya akan ceritakan sedikit kepadamu tentang pengalaman mengajar public speaking saya kepada teman-teman difabel. Dalam hal ini beberapa diantara mereka menderita cerebral palsy, tuna rungu, tuna netra. Pengalaman yang menarik ketika mengajar mereka. Saya tidak hanya berbagi ilmu dengan mereka melainkan saya juga belajar banyak dari mereka. Ketika mengajar teman yang tunan rungu, tantangannya adalah saya harus bisa membaca gerak bibirnya, karena saya tidak belajar bahasa isyarat sebelumnya. Sedangkan jika mengajar teman-teman yang cerebral palsy, saya harus selalu mendorong mereka untuk selalu ada di dalam posisi stand by. Karena posisi badan mereka yang tidak bisa tegak lurus.

Hal lainnya yang saya temukan ketika mengajar teman-teman yang difabel ini adalah mereka nyaman dengan diri mereka. Mereka tidak melihat kekurangan fisik mereka sebagai kekurangan. Dibandingkan dengan kita yang katanya “normal” kita malah seringkali terganggu dengan keberadaan fisik kita.

Tetapi lebih daripada apapun, berbagi adalah hal yang menyenangkan. Saya menulis di akun instagram saya pada suatu hari:

Beberapa minggu terakhir ini saya mendefinisikan banyak. Termasuk kata "bahagia" sejujurnya saya bukan orang yang sukar untuk bahagia secara sederhana, seperti melihat sore hari, langit merah, kadang-kadang sudah bikin hati saya berbunga-bunga luar biasa. Lalu saya sampai pada sebuah pertanyaan apa yang paling bikin kamu bahagia? coba hening sejenak, lalu berpikirlah. Setelah lama, akhirnya saya menemukan definisi tertinggi dari bahagia adalah ketika saya berbagi. Titik. Berbagi bukan hanya materi (karena mungkin saya tidak akan mampu) tetapi berbagi pengetahuan, kemampuan, energi, semangat, kesegaran, daya juang, daya tahan, kasih sayang, senyuman, apapun yang sudah diberikan kepada saya cuma-cuma, saatnya saya bagikan itu kepada orang lain.

Sudahkah kamu berbagi?

Friday, August 29, 2014

Mochtar Lubis, Manusia Indonesia (sebuah pertanggungan jawab)









Apalah saya jika harus menulis tentang Mochtar Lubis. Saya menemukan bukunya pada rak buku di kineruku, tempat saya biasa meminjam buku. Sebuah buku kecil, dengan warna halaman yang sudah mulai kekuning-kuningan, dan ada beberapa halaman yang sudah hampir copot dari bukunya.

Saya membacanya dan menemukan semua pemikiran yang cerdas yang diutarakan Mochtar Lubis dari awal sampai akhir. Saya tidak dapat menemukan kata lain selain cerdas. Saya tidak heran ketika menemukan bahwa, ia belajar beberapa bahasa secara otodidak. Tidak hanya itu kemampuan jurnalistiknya juga ia peroleh secara otodidak. Lubis punya kecerdasan di dalam darah.

Selain itu ia begitu lugas. Ia tipe orang Sumatra yang berbicara tidak bertele-tele, dan menyampaikan apa yang ia yakini dengan sangat lurus. Membaca Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia (sebuah pertanggungan jawaban) ada 3 perspektif yang saya dapatkan:

1. Mesin Waktu. Ada hubungan yang cukup akurat ketika ia menulis buku ini di tahun 1977 dan masih terasa relevansinya di tahun 2014. Saya membaca tulisannya lalu di dalam hati ada jawaban “Ya” dengan lantang. Bahwa saya setuju dengan sudut pandangnya tentang generasi muda pada jaman itu, dan juga terhubung dengan generasi muda jaman sekarang. Saya merasa bahwa, jangan-jangan, kami generasi muda Indonesia, tidak bertumbuh. Jangan-jangan, kami generasi muda Indonesia, hanya mengulang pola leluhur  kami, yang bermalas-malasan, ongkang-ongkang kaki, tidak punya daya tahan, tdiak punya daya juang, mau enaknya saja, mau sukses, tetapi lupa bekerja keras. Saya takut bahwa jangan-jangan kami generasi muda Inonesia memang tidak kemana-kemana, kami mengatakan diri kami “keren” padahal sungguh kami ini hanya sampah yang suka “memegahkan” diri sendiri.

2. Membongkar pencitraan. Ia juga membongkar wajah kami generasi muda yang sebenarnya. Ketika saya membaca buku ini, saya juga mendapatkan kesan bahwa, sebenarnya tulisan ini dikhususkan untuk kami, generasi muda pada jaman ini, yang senang bermain sosial media, dengan memamerkan segala “keberhasilan” kami yang fana di path. Mengunggah foto-foto perjalanan kami di facebook, atau menuliskan status-status “absurd” di twitter demi pencitraan, juga dalam rangka mendapatkan jumlah “follower”  atau memosting quotes di instagram, tanpa penghayatan yang dalam terhadapnya. Sungguh kami ini babi-babi licik.

3. Pada halaman 88. Ada poin ke-3, ia menulis bahwa: ...”kita melihat betapa perlunya kita belajar memakai Bahasa Indonesia secara lebih murni, lebih tepat dalam hubungan kata dengan makna, yang mengandung pengertian, kita harus belajar menyesuaikan perbuatan kita dengan perkataan kita.” Sesungguhnya ketika membaca bagian ini, saya langsung ingat bahwa saya adalah generasi muda kekinian yang sudah lupa kepada seni percakapan mata dengan mata, daging dengan daging, membaui lawan bicara saya, karena percakapan kita sudah semakin minim, melalui email, sms, chat, whatsapp. Bahwa kami adalah korban teknologi yang kemudian mengubah kami menjadi robot. Tidak hanya robot, kami juga suka menggunakan bahasa Inggris. Padahal kami lupa bahwa Bahasa Indonesia cukup keren.


Intinya, jika kamu generasi muda yang kekinian. Kamu harus baca buku ini. Saya percaya jika Mochtar Lubis adalah orang Maluku, ia akan menulis begini: Generasi muda itu musti banyak baca buku. Jang pambodok macang karbou! (Jangan bodoh seperti kerbau!)  

Wednesday, August 27, 2014

Kolaborasi Journ(al)ey Dan Perempuansore





Akhirnya jurnal seri #1 quotes perempuansore “menulislah dan jangan bunuh diri!” 

berkolaborasi dengan Journ(al)ley (handmade) selesai sudah, silakan pesan!











Harga 60.000 (belum termasuk ongkos kirim)
Silakan pesan dengan cara email ke perempuansore@yahoo.com dengan format : nama - alamat - nomer telepon

Ditunggu! 


Sunday, August 24, 2014

Kenapa Membaca Buku Anak-anak Selalu Menyenangkan










Adalah sebuah kisah percintaan antara seekor tikus dan seorang Putri, Pea namanya. Saya membayangkan pada suatu hari Desperaux dan Pea duduk-duduk pada sebuah taman, lalu Desperaux memberikan bunga kepada Pea, kemudian mencium tangannya dengan penuh cinta. Lalu mereka mulai menceritakan petualangan petualangan apa yang akan mereka lakukan.

Tapi tentu saja, kisah yang sebenarnya harus kamu baca sendiri. Saya tidak suka spoiler. Saya hanya akan menuliskan kepadamu apa yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Saya akan membagi perasaan-perasaan saya kepadamu: 

(1) Saya sedang bosan dengan cerita-cerita orang dewasa. Cerita anak-anak, dalam beberapa hal sangat menarik bagi saya. Alasannya sederhana: di dalam jiwa saya dan kamu ada anak kecil yang tidak pernah dewasa. Dalam rangka itulah saya ingin memelihara jiwa anak-anak di dalam saya.

(2) Ada kalanya percintaan orang dewasa begitu membosankan. Menurut Haruki Murakami, tidak perlu menciptakan tokoh laki-laki dan perempuan di dalam ceritamu. Karena, disengaja maupun tidak disengaja, tokoh laki-laki dan perempuan itu akan bercinta tanpa disuruh. Itu memang sudah semestinya. Yang membosankan adalah ini, cerita orang dewasa, laki-laki dan perempuan akan berakhir dengan bercinta. Sedangkan cinta anak-anak, tidak. Mereka murni. Mereka ingin melakukan sesuatu kepada pasangannya tanpa ada embel-embel “tempat tidur” pada akhirnya. Itulah yang dilakukan Desperaux kepada Putri Pea.

(3) Saya selalu menyukai petualangan. Di dalam diri setiap anak ada jiwa petualangan. Sedangkan orang dewasa, jiwa itu seakan menciut. Tidak ada lagi rahasia bagi orang dewasa. Tetapi bagi anak-anak, selalu ada rahasia, selalu ada petualangan.


Lalu saya akan mengakhiri tulisan ini dengan bukankah cinta itu adalah sesuatu yang kuat, indah, sekaligus konyol. Tentu saja Desperaux dan Putri Pea tidak akan menikah. Lagipula, mana mungkin seekor tikus akan menikahi seorang putri, seorang manusia. Anak-anak pun akan mengerti itu. Selamat membaca! 

Thursday, August 21, 2014

Deadline dan Burger King






Saya bukan pemakan fast food. Tetapi dengan kesibukan menulis yang banyak akhir-akhir ini, saya sering bosan makan menu yang itu-itu saja. Dan menginginkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang asin. Sesuatu yang pecah di dalam mulut. Tetapi tentu saja lezat dan tidak terlalu berat.

Di sisi yang lain saya sangat menggemari keju. Bahkan jika makanan apapun yang dilaburi keju, saya bisa dengan cepat menghabiskannya. Akhir-akhir ini saya punya beberapa deadline menulis yang harus saya selesaikan. Jadwal menulis saya pun biasanya, ketika malam jelang pagi. Karena sepi. Dan pada waktu itulah saya merasa otak cukup tenang untuk berpikir.

Dan satu fakta lagi, saya suka sekali ngemil sambil menulis. Entahlah mungkin ini bukan contoh yang bagus buatmu, karena akan gampang membuat gemuk. Haha. Tetapi fakta lainnya, ngemil membuat saya sangat lancar menulis. Haha. Semuanya berkesinambungan. Sambung menyambung seperti rantai kehidupan.

Ketika itulah saya menemukan Burger King. Suatu hari ketika hendak pulang dari latihan bernyanyi, saya teringat bahwa pada malam itu juga saya harus menyelesaikan deadline. Iseng-iseng saya pergi ke Burger King untuk melihat apakah ada seuatu yang lezat yang bisa saya bawa pulang sebagai cemilan. Mata saya terpaku pada menu yang menggantung dan mencari kata “keju” atau “cheese” yang bisa saya temukan. Karena sudah pasti hal itulah yang akan saya beli.

Whopper Beef Bacon Cheese. Mata saya terpaku sejenak. Sebelum akhirnya memesannya. Air liur saya sudah menetes. Sama sekali tidak sabar. Tetapi saya harus menunggu. Dan berpikir-pikir untuk memesan sesuatu yang lain. Dan kemudian Chicken Fries oke juga.

Jadilah saya membawa pulang sekantong pesanan saya ke rumah. Sesampainya di rumah dengan sigap saya membuka laptop saya, mengeluarkan pesanan saya tadi: Whopper Beef Bacon Cheese dan Medium Onions Rings dan menikmati mereka perlahan-lahan. Saya suka tekstur roti dari Burger King. Tebal sekaligus empuk. Dan ketika dimakan bersamaan tanpa harus dipotong kecil-kecil, justru di situlah kenikmatannya. Saya menemukan beberapa tumpukan daging. Dua helai daging sapi. Dan keju diantaranya. Rasa keju hangat bercampur dengan daging sapi di mulut membuat, saya langsung melahapnya sampai habis. Tidak lupa menambahkan sedikit saus sambal akan menambah cita rasanya.

Medium Onion Rings dengan mayonaise adalah hal terakhir yang saya nikmati. Rasa ayam bercampur dengan kentang juga tidak kalah gurih. Tentunya tidak lupa saya meminta ekstra mayonaise. Karena saya adalah penggemar mayonaise juga.

Deadline malam itu berakhir dengan penuh semangat.

Jika kamu memilih makan di tempatnya, Burger King juga adalah tempat yang asik untuk dipakai makan beramai-ramai, terletak di PVJ Mall, Resort Level #A-16 & Sky Level #05C, Bandung ini sangat representatif.

Dan ada satu lagi, jika memang kamu sama sekali tidak memiliki waktu untuk datang ke Burger King secara langsung, kamu bisa memesannya secara online melalui foodpanda. foodpanda merupakan delivery makanan online, selain di bandung, foodpanda juga ada di beberapa kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Bali, Medan dan Makassar. Untuk pengguna baru seperti saya, ada diskon voucher sebesar Rp. 30.000, sangat menguntungkan dan mudah jika saya lapar malam-malam dan malas untuk pergi ke restoran dan bisa juga mendownload aplikasinya di sini, untuk apple store, google play atau windows store.


Selamat mencoba! 

Wednesday, August 20, 2014

Membaca Dongeng Ayu Utami






Beberapa buku yang tidak boleh dilewatkan adalah seri Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, Lalita, dan Maya. Dongeng dan Ayu Utami seperti tidak terpisahkan. Kesukaan saya akan mitos seperti mendapatkan “ruang.” Ayu yang pandai bercerita selalu menimbulkan kegemaran saya berimajinasi tentang Jawa dan hal-hal eksotis lain di sekitarnya.

Beberapa hal yang saya catat dari tulisan-tulisan Ayu adalah pertama ia selalu menjadikan apa yang dianggap orang tidak indah, menjadi sesuatu yang indah. Apa yang tidak dipandang oleh orang lain, menjadi dipandang. Apa yang tidak berharga, menjadi berharga. Ia mendadak seperti Yesus, selalu memilih apa yang hina bagi dunia dan menjadikannya mulia.

Hal ini menjadikan karya Ayu layak dibaca, karena ia tidak pernah ikut ramai. Apa yang cantik baginya, bisa jadi tidak bagi kebanyakan orang. Apa yang indah baginya bisa jadi tidak indah bagi kebanyakan orang. Tetapi ia tidak peduli. Justru di situlah yang membuat ia menonjol. Dengan karakter-karakter yang dibangun berdasarkan rasa keterbelakangan. Jadi setiap orang yang merasa “berbeda” mendapat tempat.

Kedua. Kekuatannya membangun sebuah cerita. Saya selalu mengibaratkan penggalan kata yang ada di dalam halaman-halaman novelnya terbuat dari putih telur, yang konon itulah yang melengketkan batu-batu yang menjadi sebuah candi. Mereka begitu kuat. Sehingga bertahan berabad-abad. Kekuatannya justru terlihat pada dasar bangunannya. Sebelum melihat kepada bumbungan dari bangunan tersebut.

Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, Lalita, Maya, hanya sebagaian kecil dari rasa kokoh itu. Sampai akhirnya kita akan dikejutkan lagi dengan seri-seri lainnya. Selamat menunggu!


Friday, August 15, 2014

Tentang Ghost Stories Dan Perasaan Perasaannya










Ghost Stories, bisa diterjemahkan sebagai cerita hantu. Cerita hantu yang biasanya suka kita dengarkan menjelang tidur. Cerita hantu yang membuat kita selalu membayangkan seperti apa rupanya, tidak membuat takut, hanya deg-degan sedikit. Tetapi saya ulagi lagi tidak membuat takut. Karena hantu itu adalah rindu.

Saya mendengarkan Ghost Stories, album Coldplay berulang-ulang. Lalu menemukan satu kata: rindu. Mengutip dari sebuah buku seperti dendam, rindu pun harus dibahas tuntas. Terlepas dari katanya album Ghost Stories ini memang dibikin karena Chris Martin mengalami “kegalauan” yang sangat dalam ketika hendak berpisah dengan Gwyneth Paltrow, tetapi saya merasa bahwa ada unsur rindu yang begitu besar, yang hendak “dituntaskan” olehnya.

Karena ketika rindu itu tidak dituntaskan, ia akan berubah menjadi hantu. Rasanya lebih berat jika kamu dihantui oleh rindu ketimbang dihantui oleh “hantu” yang sebenarnya. Karena pada dasarnya hantu sendiri tidak punya rindu. Mereka tidak merindukan siapa-siapa. Tetapi bayangkan jika kamu sedang “rindu sangat” kepada seseorang, dan rindu sangat tadi itu tidak tuntas, maka bersiaplah, kamu akan berubah menjadi hantu.

Ghost Stories adalah sebuah album pengantar tidur. Melayang-layang. Tubuhmu menjadi sangat ringan. Kemudian lelap ke sebuah dunia mimpi, dimana di sana ada sebuah rindu yang menghantui kamu cukup lama. Rindu itu minta kamu membayarnya dengan tuntas.

Ghost Stories adalah sebuah langit hitam, dengan bulan merah sepotong menggantung di antaranya, tidak ada bintang sama sekali. Mendengarkan album ini, akan indah ketika sendirian, bukan beramai-ramai. Sensasinya akan berbeda.

Track favorit saya adalah Ink, Oceans, O, dan tentu saja Midnight. Tetapi akhirnya saya menyadari bahwa keseluruhan lagu di dalam album ini adalah sebuah kesatuan cerita. Mereka tidak bisa didengarkan terpisah. Seperti lautan biru luas, permukaanya tenang, tetapi sebenarnya ia bisa membuatmu tenggelam.


Selamat menuntaskan rindu. Selamat mendengarkan! 

Thursday, August 14, 2014

Bacarita Dengan Henry Timisela Tentang Film Jefta













Jefta adalah sebuah film yang sementara ini sedang diproduksi di Belanda. Film ini diproduksi oleh kakak beradik Timisela, Henry dan Joshua yang menamakan rumah produksinya, Maluku Cinema.

Local content adalah sesuatu yang seksi akhir-akhir ini. Karena ketika beberapa film mulai mengangkat tema lokal sebagai isu, artinya generasi (saya) belajar untuk mengenal kultur, mengenal akar. Apalagi Maluku, sebagai orang Maluku ada rasa bangga tersendiri ketika menuliskan sesuatu yang juga berbau Maluku, baik itu di tentang buku, musik, atau film.

Jefta, memang sedang dalam proses produksi. Tetapi tidak ada salahnya mengenal Henry Timisela, dengan sedikit ceritanya mengenai behind the scene film Jefta. Saya menginterview Henry lewat email. Mari kita ikuti sedikit ceritanya.

The: Hello Henry, could you tell me about yourself (name, work, experienced, latest work)

Hen: I am Henry Timisela, born and raised in The Netherlands. My father is Fred and was born as a son of a Moluccan soldier in a refugeecamp for Maluku soldiers in the mid fifties in Holland. A big community of Moluccan people were forced in 1951 by the Royal Dutch Indies Army and Republic Indonesia to fled to the Netherlands. They would stay for a couple of months and return to their own free republic, but that promise was never kept bij the Dutch. My mother Selly was born in Kota Ambon and worked there as a nurse at Rumah Sakit Tentara. She met my dad in 1977 and they married and came to Holland. I was born in 1978. I worked as a professional journalist since 1999 in Dutch press media. Switched to radio in 2003. I worked for several National Broadcasting Stations. And as a mediateacher I lectured massmedia/ new media at universities and highschools. Since 2010 I started my own company with my brother Joshua, called TBT Works, focussing on media, film and education.

The: So, you are Ambonesse and stayed in Netherland for a years. Could you tell me how the Dutch-Ambonesse in Netherland live? Does they have something uniquely in culture?

Hen: I am not Dutch-Ambonese. I am Dutch-Moluccan. We are the Maluku-community that was forced to leave Indonesia because of World War II and Indonesia's independence. We were forced to stay in the Dutch camps where Jewish people were brought to murder during World War II. My grandparents were young and had an insecure future. But they made it and gave us as third generation Moluccan-Dutch a bright future. Still there are big parts of our community who prefer to live together. We share this sad history of broken promises.


The: I've been heard that you also played cello. Do you ambitions in music? what's your passion in life?

Hen: I love music. I grew up with this. My father plays violin. I looked for another instrument (strike) and found the cello. I dont have any ambitions in music, music is just my way to express myself and relax. I love to make music with other friends. My passion is life is to tell my story. I did that as a photographer, as a journalist, as a radiojock. As a person I am interested in telling stories and listen to others. I love to get inspired by listening to stories and the people who tell them.

The: Now, we're talking about your movie. Why the titled is Jefta? And why do you guys (you and Joshua) very interested in Mollucan myth and bring those "myth" to this project?

Hen: It is titled jefta, which Biblically means: 'He who opens the way'. We believe in opening our ways for a new Moluccan community in Netherlands. Building new bridges for the world. We are not only interested in just the mythes. The movie 'Jefta' is not only about myths and doti you know. It is much more than that. It tells a story about a forgotten Maluku community where no one ever talks about. It is about a history that was never written in the books. I mean, have you ever learned in your history class why Moluccan people were forced to go to Netherlands? i dont think so. It was a black page in history by Indonesia and Dutch, so now it's time to tell our story. The story of Maluku people in The netherlands. Bringing myths to this story just gives insights in our world. But it is more than that.

The: Do you guys believe in "doti"?

Hen: Just like in answer 4. We want to give insights in our community through film. Doti is just a part of the story. We saw some of doti while we were young, but we dont believe in it. We accept that people use it, but first of all, we are artists, we are filmmakers who want to tell a story. If I make a movie about dragons and leprechauns, it doesnt mean that I believe in dragons and leprechauns. The movie Jefta tells about Moluccan culture in the Netherlands. How we live together, how we cry together, how we laugh together.

The: And tell me about Maluku Cinema? what is actually Maluku Cinema concerned about?

Hen: Maluku Cinema first of all is a proyect to bring awareness to people. To show them to be prouod of where you  come from. Whether it is Dutch or Maluku. Most of us were born here, but feel their Moluccan pride very strong. That is what we call our connecting factor. We are young Moluccan people, we are Dutch, we are humans with a story. MalukuCinema tells these Moluccan stories through film/ motion picture.

The: Do you interesting to bring "Jefta" to Indonesia?

Hen: Yes we are very interested. We are very pleased that our teaser was well received in Indonesia. We want to tell our brothers and sisters that there is a community of Maluku artists abroud. They are called 'malukucinema'

The: What makes Maluku (esp. Ambon) very special? and makes you also very proud as Mollucan?

Hen: My mother was born there. My grandparents were born there. I feel it in every part of my body and soul. It makes me proud that there is a legacy where we can tell about. Maluku culture is a rich culture. The world needs to know.

The: Is there anything else do you want to tell to Mollucan people wherever they are?

Hen: Yes. Let's connect our talents in favor of Maluku. Let's connect our profession in favor of Maluku. As long as we know where we come from, we are most likely to know where we are going. A bright future. It's all about connecting the dots.

Hanya cerita sedikit, semoga proses produksi Jefta lancar. Jika sudah selesai dan dibawa ke Indonesia, semoga memicu kami, generasi muda dari Maluku, semakin jatuh cinta terhadap Maluku. Dan bukan hanya jatuh cinta, tetapi hendak berbuat banyak terhadap Maluku. 

Informasi lainnya tentang Maluku Cinema dan Jefta bisa dilihat di sini: http://malukucinema.nl/en/




Friday, July 25, 2014

Dan Kamu Adalah Keindahan Itu







Saya tidak terlalu ambisius. Saya menyenangi sesuatu yang natural dan sederhana saja. Kesenangan saya itu bisa berbentuk punggung, lengan, senyuman, binar mata, warna kulit, apapun yang memberikan keindahan di dalam diam.

Dan kamu adalah keindahan itu.

Kamu bagi sebagian orang adalah sebuah kesalahan. Tetapi bagi saya, kamu adalah sebuah keindahan. Keindahan yang menimbulkan sebuah kata, rindu. Saya tidak hanya rindu untuk menikmati kamu, hanya sedikit—seperti hanya kamu dalam bentuk punggung. Tetapi juga kamu yang versi lengkap. Dengan segala kekurangan dan kesalahan kamu.

Saya tahu bahwa ini tidak mudah. Tidak mudah untukmu. Tidak mudah juga untuk saya. Untuk belajar menerima. Saya menerima kamu dengan seluruh kekurangan serta kelebihan yang kamu punya di dalam sebuah kesederhanaan yang mereka sebut cinta.

Saya mendoakan semua kualitas terbaik dari pencipta dikeluarkanNya kepadamu. Tetapi kenyataannya, saya mendapati kamu sedang dalam sebuah kebingungan entah apa, sedikit sulit untuk menjelaskannya. Kebingungan itu seperti ada di dalam kamu, dan terpancar melalui kesedihan mata kamu.

Lalu satu hal lagi, bahkan di dalam kesedihan: kamu tetap indah.


Semoga kita bertemu di sebuah waktu dimana semua lebih natural dan sederhana. Sesungguhnya Tuhan itu pecinta. Ia lebih paham. 

Wednesday, July 2, 2014

Definisi Sukses dan Bahagia Hari Ini




Definisi sukses hari ini adalah: apa yang dipamer di sosial media. Banyak foto jalan-jalan ke luar negeri yang diunggah. Makan di tempat-tempat yang fancy. Pergi menonton konser mahal lalu fotonya diunggah. Ada di crowd orang-orang terkenal dan merasa bangga. Foto selfie melulu bersama pasangan, karena merasa dirimu “laku”, “tidak sendiri”, dan “berharga”.

Dan definisi bahagia hari ini adalah: apa yang dipamer di sosial media. Ketika berfoto bersama teman-teman segerombolan dengan wajah tertawa, seakan-akan kita adalah orang yang paling bahagia, bebas masalah, bebas beban. Atau foto makanan enak dan mahal yang kita unggah. Atau foto anak-anak kita, yang detik demi detik, setiap perkembangannya harus difoto, lalu kita bagi di media sosial.

Lagi-lagi apa yang kita bagi di sosial media kemudian menjadi sebuah tolak ukur, bagi orang lain, atau bagi diri kita sendiri bahwa “paling tidak hidup gue lebih menyenangkan dari hidupnya si anu.” Atau apapun yang kita lakukan di sosial media, adalah supaya mendapat komentar yang bunyinya “Gila! Enak banget ya hidup lo!”

Lebih dangkal lagi adalah ketika definisi sukses dan bahagia hari ini adalah: ketika apa yang sudah kita pamer di sosial media mendapat jumlah like atau love yang banyak.

Tidak hanya dangkal tetapi juga bodoh.

Sampai di sini, mungkin ada yang protes, dan bilang saya sok tahu dengan semua penggambaran di atas. Terserah saja. Ini memang adalah semata-mata pendapat pribadi saya. Dan jika kamu mau punya pendapat lain atas apa ang terjadi juga tidak apa-apa.

Jika salah satu kebutuhan manusia adalah ingin diterima, dan dihargai, maka beramai-ramailah mempunyai sosial media yang banyak, lalu ciptakan tokoh, ciptakan drama, lalu mainkan sesuka hatimu, dan jadilah tuhan.

Mungkin kamu akan bahagia, dibilang sukses, tapi sejujurnya itu hanya seperti permainan monopoli. Kamu memiliki banyak uang, kamu kaya, tetapi hanya di dalam permainan monopoli.

Fana!


Monday, June 23, 2014

[semacam review] Menonton Selamat Pagi Malam











Pernahkah kamu memandang langit malam, tanpa bintang. Hanya bulan setengah dengan sinar redup. Dari jendela kamarmu bahkan sinar redup bulan yang hanya setengah itu, tidak bisa menemani kekosongan yang ada di dalam hatimu. Itulah rasanya ketika menonton film Selamat Pagi Malam.

Selain itu Lucky Kuswandi sengaja memasukkan beberapa kritik sosial tentang Jakarta, bahwa manusia pada umumnya sudah kehilangan kemampuan untuk “membahasakan” perasaan-perasaannya secara langsung. Bahwa saat ini semua perasaan sudah tergantikan dengan gadget dan emotikon. Tetapi sungguh mereka lupa bahwa, emotikon titik dua bintang tidak sanggup untuk menggantikan rasa bibir ketemu bibir yang sebenarnya.

Selamat Pagi Malam banyak bicara banyak soal rasa. Tentang bagaimana mengungkapkan rasa dengan berani. Tentang “membahasakan” rasa. Tentang belajar untuk membaui sesamamu dengan jujur.


Film ini mengajak saya dan kamu untuk melihat sekelumit permasalahan orang-orang Jakarta, yang bisa saja salah satu dari orang-orang itu adalah saya atau kamu. Lalu ada sebuah pertanyaan besar di kepala saya ketika selesai menontonnya yaitu: apakah saya berani memaknai sebuah kekosongan?

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...