Saturday, August 21, 2010

Ibu

/1/

ada Ibu di dalam sebotol wine
aku tuang ke dalam gelas
untuk aku sesap sesekali.
aku rasakan pahit dan manisnya
menikam kerongkongan kecilku

sebotol wine penuh
akhirnya tinggal setengah.
mengasihani aku yang teler di meja
karena mabuk Ibu

/2/

gerimis adalah anak hujan yang butuh Ibu
mereka berjalan sempoyongan, mereka berlari tak karuan,
mereka meleleh perlahan, mereka mencari sesuatu,
tidak menemukan sesuatu.

Ibu mereka sembunyi, entah dimana?
tapi namanya anak, mereka suka bermain,
tak ada kesedihan yang terlihat
walau mereka terus mencari


/3/

puisi pun demikian.
ia suka mengetik air mata lewat kata
hendak di kirim kepada perempuan
yang dipanggilnya Ibu

(2010)

Friday, August 20, 2010

dan gerimis belum berhenti

waktu itu belum terlalu larut, gerimis yang keluar masuk melalui jendela kamar mulai berdesak-desakan menginginkan tempat yang layak. mungkin di luar mereka tidak tenang, karena terganggu dengan bisingnya kendaraan di jalan raya.

satu-satu kakinya melompat, ke kanan dan ke kiri seperti sedang main lompat karet. ada yang hanya duduk-duduk di kisi jendela, menyentuh pinggiran jendela dengan pantat kurus mereka.

ada yang bergelantung diantara gorden coklat tua, mengelap sesuatu di sana entah apa. memang, aku sempat melihat ada sesuatu yang mengalir dari mata gerimis. atau bisa jadi mereka sedang mengelap kesedihan.

ada yang kakinya menginjak lantai keramik di bawah jendela, menyatu dengan debu di situ. debu yang tadinya sedang tidur dengan tenang, harus terusik dengan kehadiran gelembung-gelembung air itu. mungkin saja mereka memang sehati dan hendak berbagi dingin.

ada yang menetes diantara ventilasi, seperti sedang bermain ayunan, ujung-ujung kaki gerimis terlihat kurus dan rapuh, sesekali sedikit bergoyang-goyang tertiup angin, yang kemudian mulai melelehkan tubuh mereka dengan pasrah.

aku pikir, apa pula yang hendak dilakukan gerimis selarut ini di kamarku, mereka belum juga mengantuk. atau mereka memang sengaja, menerobos masuk melalui jendela kamarku.



gerimis selalu turun beramai-ramai, supaya aku mengerti bahwa sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang benar-benar sendiri.

Thursday, August 19, 2010

gerimis

aku suka mendengar derap langkah gerimis di atas tanah, semen, genteng, dedaunan. mereka itu seperti langkah kaki yang berbaris, menari, bergotong royong mengerjakan sesuatu, terlalu cekatan.

kadang kala mereka berlari cepat, kadang kala mereka melangkah lambat. tapi tidak pernah ada yang diam. gerimis seperti menawarkan langkah maju, lagkah tidak tinggal diam, langkah yang senantiasa ceria ketika kau sedang berduka sekalipun.

gerimis tidak punya pola tertentu. kau tidak bisa menebak kapan mereka akan turun, walau mungkin yang kau lihat di luar adalah mendung. gerimis melangkah dengan pola yang mereka ciptakan sendiri. singgah di tempat yang mereka mau. dan berpijak di tempat yang terkadang kau tidak bisa kira.

aku berteman baik dengan gerimis. aku akan menikah dengan hujan. aku ini pecinta celoteh mereka. salah satu kegemaran gerimis adalah menyentuh pipi. aku pikir itu hanya pola baru saja, supaya tidak bosan menginjak yang keras terus.

kalau gerimis jatuh ke wajahku kemudian menyentuh pipiku, aku suka biarkan mereka lama di sana. tidur-tiduran sebentar, lalu lelap. gerimis pun terkadang butuh istirahat. jadi biarkan saja.

langkah-langkah kaki gemulai mereka dari luar jendela, seperti mengajakku bermain. mereka mulai menyanyikan nada lagu tertentu, dan aku seperti disuruh mencipta liriknya.

lalu, aku menulis begini,

gerimisku, selalu datang beramai-ramai, mengajakku bermain supaya gelisahku hilang. mencumbuku rapat-rapat supaya kuatirku pergi. gerimisku; kau keyakinanku, kau tidak takut luka walaupun jatuh berkali-kali.

ini bukan lirik.

ini keyakinan.

keyakinanku ada di dalam sini. mereka ditemani gerimis sore ini, ini bukan pertanda gelisah. ini seharusnya menjadi pertanda baik. kau tidak pernah sendiri, selalu ada gerimis yang menemani. karena gerimis itu selalu turun beramai-ramai, supaya tidak ada lagi sepi.

gerimisku, kau tidak takut luka walaupun jatuh berkali-kali.

Monday, August 16, 2010

Huruf Luka


aku sedang bermandikan kata. bersabunkan balon-balon huruf, mereka terbang-terbang di atas tubuhku yang telanjang. mereka itu adalah huruf-huruf yang luka, mereka sedang menangisi entah apa.

huruf-huruf luka yang kemudian mulai bernanah. nanah mereka meleleh di sekitar kloset, mengalirkan kesakitan, meneruskan kegelisahan, meneruskan kelabu yang rimbun tumbuh di dalam kerongkongan.

aku terus berendam, hendak merebut satu kata dengan jari-jari mungilku. ada huruf C yang melayang-layang di depanku. mungkin C itu untuk inisial sesuatu, CINTA? CARI? CURIGA? ah, terlalu banyak di muka bumi ini.

atau mungkin kau sendiri punya seseorang yang berinisial C?
C begitu sendu. ia tampak kritis, terbungkus darah yang meleleh kemana-mana. kemudian ada lagi H. H ini tidak semulus biasanya, ada bolong di sana-sini. padahal ia salah satu huruf yang biasanya aku pakai.

aku bahkan tak bisa menggenggam mereka dalam ingatanku, mereka perih, menusuk, dan melukai. aku tidak bisa sembarangan menangkap, aku sebut mereka huruf luka.

tak ada perban yang dapat membalut luka mereka.

Saturday, August 14, 2010

Sembunyi

menulis tanpa lagu itu aku. kata-kata seakan sembunyi, mungkin ia takut bersaing dengan lirik, atau takut bersaing dengan irama. tapi aku terlalu percaya, kalau kata-kata yang sebenarnya sedang memainkan musik mereka sendiri.

kau kebalikannya, kau tidak menulis, kau tidak pakai lagu. kau tidak punya pakem tertentu. kau hanyalah kau, yang bersahaja, dengan senyum yang bersahabat. kata-kata yang keluar dari mulutmu menyanyikan sesuatu.

di hati.

sungguh, mereka tidak kelihatan. aku mengatakannya bukit kesedihan. seperti sedang menyusun tangga menuju entah. seperti sedang mengajarkanku belajar mendaki, ketika aku hampir menyerah.

mungkin, balok-balok sepi yang dulu pernah kita mainkan di sepanjang jalan itu perlu disusun ulang. perlu diberi penanda. perlu diberi patok yang mana bagian kita yang mana bukan.

di sini.

kata-kataku sedang sembunyi. mereka itu seperti takut mati. mereka seperti sedang diburu oleh huruf dan abjad asing, yang hendak mendirikan satu barikade abjad baru. menuliskan tentang apa, entahlah.

di sana.

kata-katamu merajalela. mereka seperti memakan habis setiap kesedihan. melalap habis setiap kegelisahan. kata-katamu seperti rayap, tapi tidak membuat keropos.



kata itu nada, mereka tidak buta.

Friday, August 13, 2010

Doa Rumput

pagi ini aku berdoa untukmu diantara rerumputan hijau, memejamkan mata sejenak, mengumumkan sesuatu yang pendek dari bibirku. sejenak, menghirup bau tubuhku perlahan, hijaunya merasuk dalam-dalam.

kau mungkin belum bangun pagi ini sayang, kau masih tengkurap di bawah selimut tebalmu, sedikit mengorok, dengan kaos putih tipis yang sexy itu, yang selalu ingin kumiliki.

pagi ini aku berdoa untukmu, untuk kelok-kelok dan kerikil yang seringkali aku temukan dalam perjalananku menuju hatimu. aku berdoa untuk pepasiran dan kabut yang selalu membuat mataku kabur.

untuk sinar yang sudah mulai redup, lorong-lorong gelap sekaligus buntu yang kadang aku temukan. untuk langkah kaki yang mulai lelah, rentangan tangan yang mulai lunglai, kecup yang mulai dingin.

untuk sel-sel di kepalaku yang terbelit dengan kerutan-kerutan di sekitar bekas tawa diantara bibirmu. karenanya aku masih sesat, terpelanting berulang kali dalam jarak, mungkinkah ada sedikit harap, tanpa tanya yang masih sisa.

ku tak tahu pasti.

bau tubuh ini, ku hirup dalam-dalam. sekali lagi aku mengumumkan sesuatu melalui bibirku untukmu. sebutlah ini doa bisu. persis ketika kau bangun pagi ini, pergilah ke taman belakang dekat kamar tidurmu. dengan kaki telanjangmu, kau pasti menginjakku,



rasakan basahku di kakimu, juga dinginku.

amin. 

Wednesday, August 11, 2010

Debu

banyak debu di hatiku, tidak mau aku sapu. banyak debu peninggalan, banyak debu singgahan, banyak debu dari jejakku sendiri, yang tertinggal, kemudian mengotori. sebut aku si pengkoleksi debu.

aku memberi mereka ruang penuh, supaya mereka duduk diam, melepaskan lelah, menangis dalam diam, mewarnai rapuh, menari dalam air mata, sebutlah mereka berbahagia di ruang hatiku.

semuanya tertinggal di bawah cahaya rindu yang setengah redup tapi belum mati. debu-debu yang seperti titik hitam yang aku lihat di tegel putih tadi pagi, kembali mengingatkanku.

mengingatkanku akan perjalanan.



perjalanan jauh yang pernah kau lakukan untuk menemukan hatiku. kau pernah bilang terlalu jauh, terlalu berkelok-kelok, terlalu putus harap, terlalu capek, terlalu berkeringat, hendak menyerah, berhenti saja. namun kau singgah juga, ditemani debu perjalanan. debu dari langkah kaki perjuangan panjangmu.

yang sebentar lagi, tidak berjejak.

Tuesday, August 10, 2010

Sore

 beberapa waktu yang lalu, saya berjanji kepada Papa, kalau saya akan memberikan satu buku Rona Kata untuknya. percakapan antara saya dengannya di sms yang sempat membuat saya berkaca-kaca, akhirnya saya memang menepati janji saya, buku Rona Kata sudah ada di tangan saya, ditambah dengan tandatangan hampir semua penulisnya, spesial untuknya.

selesai launching waktu itu, saya bilang kepada teman-teman, tolong ditandatangani, buku ini untuk Papa saya. dan mereka dengan senang hati melakukannya. saya sudah tidak sabar untuk pulang, dan memberikan buku saya langsung di tangannya.

saya akan menandatangani buku saya untuknya. mungkin tandatangan saya baginya tidak penting, jelas sekali dia tidak butuh itu, karena Papa saya memang bukan seorang formalis, justru dia selalu menabrak semua itu.

ketika menulis ini, sedang gerimis di Rumah Buku. saya sedang menemani Maradilla bertemu editornya. saya berpikir untuk menulis ini, ketika mengirimkan sms ke Hp Mama, ada pesan dari Papa untuk saya.

lagi apa Mam?

lagi minom teh sore, Papa, bilang su dapa buku ka blom? kalo sudah, kalo bisa kirim lewat titipan kilat jua.

saya membayangkan Papa dan Mama, sedang duduk di depan rumah. sedang minum teh sore. saya pun demikian, sedang duduk dengan teh jahe dan kentang goreng, di teras rumah buku.

teh sore. teras. buku.. itu Papa.




kopi sore. teras. buku.. itu saya.

saya mengerti sekali, Papa tidak butuh tandatangan saya. dia butuh buku baru, yang kebetulan kali ini ada tulisan saya, anak perempuan bungsunya di sana.

Papa rindu mau baca buku baru.

begitu isi sms selanjutnya.

Selintas

maaf, untuk sementara pulsa cinta anda tidak cukup untuk melakukan panggilan.

maaf, rindu anda untuk sementara tidak dapat dihubungi.

maaf, untuk sementara cinta tidak dapat digunakan. karena masih dalam perbaikan.

bermain cinta, seperti bermain petak umpet. kini giliran aku sembunyi, tak perlu tak perlu tak perlu cari aku.

maaf, aku tak lagi cinta. cintaku ngambek kau patahkan melulu.

sedang unfollow rindu.

kalau rindu ibarat friendlist di facebook. riduku padamu sedang aku remove. block.

di hatiku ada nisan. ada nama RINDU di sana. rinduku padamu telah mati. RIP.

aku tidak akan menikahimu. aku akan menikah dengan hujan, yang selalu tahu mengalirkan air mataku.

yang aku lihat CINTA itu JARAK. PISAH. HABIS. LELAH. SUDAH. mereka sama lima huruf juga. apa lagi?

sayang, maaf aku tak rindu lagi. rinduku lelah kau cueki melulu.

kalau gerimis itu luka. maka hujan itu nanah. lalu petir itu belati?


you will. 

Pertama Kali

saya anti keluar masuk toko. saya tidak seperti perempuan-perempuan lain yang menawar barang dari toko satu ke toko yang lain. saya anti menawar. setiap masuk keluar toko, saya selalu percaya kepada barang yang saya lihat pertama kali, click di hati, itu yang akan saya ambil. sesederhana itu. padahal bisa saja, di sekitar saya masih ada barang lain yang lebih bagus.

sesuatu yang saya lihat pertama kali dan click. itu yang akan saya beli, itu yang akan saya bawa pulang.

bagi saya, selalu ada kesinambungan antara mata dengan hati. mereka akan berkoordinasi, mereka saling memberikan “tanda”. mereka akan saling mengirimkan sinyal. mereka kompak selalu. mereka juga punya insting yang hebat dan saya selalu mengandalkan mereka.

ketika saya ingin memiliki sesuatu, yang akan saya andalkan adalah “mata” dan “hati” saya. mereka seperti penunjuk untuk menuju suatu keyakinan. ada ketetapan yang akan mereka bawa. mereka selalu menghantarkan saya kepada keteguhan. setelah mata melihat pertama kali, hati merespon, click, itu milik saya.

saya tidak pernah repot mau yang mana. saya tidak pernah repot pilih yang mana. saya tidak pernah hobby “keluar masuk toko” hanya untuk mendapatkan yang saya inginkan. saya sudah tahu itu dari pertama kali saya melihatnya.

saya bukan yang pada umumnya.


kalau hati saya sudah suka, ia milik saya. bukan milik yang lain.

Dalam Tidur

lalu, kau ini sebenarnya siapa? kenapa dikala aku hendak lupa, kau ada. menyapa. memberikan semacam pertanda. kau itu tidak berubah, terlalu dingin untuk menjadi seorang kekasih. aku ragu, meraba hangatmu. tapi aku tidak bisa membohongi sesuatu yang ada di sini. di dalam hati, deg-degan itu masih ada.

ketika tidur, tidak ada detik. hanya ada detak jantung kita yang acak. itu pengatur waktu kita. pengatur waktu yang selalu membuat aku menunggu dengan tidak sabar, aku tidak mau kehilangannya. aku percaya detik telah mati, karena aku tidak terbatas oleh apapun juga. betul?

tapi detak di dada tetap terjaga.

sayang, di tidur itu kau begitu tampan. pemalu, dengan aura cerdas yang tidak ada duanya. sejujurnya aku hendak mengakhiri tidur ini, aku hendak mencubit diriku sendiri, supaya aku bangun, dan duduk-duduk diantara jendela. merokok? tidak, aku tidak merokok.

tapi, tidak aku memilih untuk terus tidur. menikmati rasa nyaman di antara guling dan selimut, menikmati hangatmu di sana.




bahkan kau selalu ada dalam tidurku, kau ini sebenarnya siapa?

Monday, August 9, 2010

selamat datang RONA KATA (antologi puisi sepuluh perempuan)


Hampir enam bulan ini, saya menjadi koordinator dari sebuah proyek buku. Ide awal, kenapa sampai buku Rona Kata lahir adalah dari beberapa kali pertemuan baca puisi yang saya lakukan di Potluck Bandung. Pertemuan kemudian menjadi pertemanan, dan akhirnya tercetuslah ide dari Violetta Simatupang, untuk membuat buku puisi bersama.

Ide ‘bisik-bisik’ ini, awalnya maih ditanggapi dengan main-main dan tidak serius, kemudian hilang begitu saja untuk beberapa waktu. Tepatnya tanggal 31 Januari 2010 yang lalu, saya, Desiyanti, dan Violetta Simatupang bertemu lagi, untuk kemudian membicarakan proyek ini dengan serius.

Bagaimana kalau kita membuat buku puisi, semua penulisnya harus perempuan dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda. Begitulah ide awalnya, maka mulailah proyek ini dijalankan. Karena saya ditunjuk sebagai koordinator, maka saya bertugas untuk mencari lagi tujuh orang perempuan lainnya dengan latar belakang yang berbeda-beda. Setelah saya sendiri, Desiyanti, Violetta Simatupang, munculah nama lainnya seperti Miranda Risang Ayu Palar, Yunis Kartika, Heliana Sinaga, Dian Hartati, Anjar Anastasia, Palupi Sri Kinkin, dan Tisa Granicia. Kami semua adalah perempuan-perempuan dengan latar belakang yang berbeda, yang akhirnya menyatakan diri sebagai: pecinta puisi.

Sepuluh perempuan pecinta puisi, akhirnya bersatu dalam: Rona Kata.
Kenapa Rona Kata? tidak ada alasan khusus. Hal itu dikarenakan, kata rona atau merona yang jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris yang artinya blush on, begitu dekat dengan perempuan.

Beberapa proses akhirnya kami lalui bersama, dimulai dari foto bersama, kemudian pengumpulan karya, masing-masing penulis harus mengumpulkan sekitar lima belas karya terbaiknya, yang nantinya bisa dipertanggungjawabkan sendiri, karena kami tidak memiliki editor khusus untuk proyek ini. Setelah karya masuk, terjadi beberapa kali pengeditan. Butuh waktu sekitar lima bulan untuk menyelesaikannya, hal ini dikarenakan, setiap kami punya kesibukan yang sangat luar biasa. Ini merupakan kendala terbesar yang mungkin dapat saya rasakan selama menyelesaikan buku ini.

Beberapa orang teman juga turut membantu penyelesaian buku ini, antara lain: Erri Nugraha (Design Cover), Nuri Fatima (Ilustrator), Sherly (Penata Letak) dan Arum Tresnaningtyas Dayuputri (Fotografer). Lima bulan ditambah dengan satu bulan terakhir, keluar masuk Alumni, pihak percetakan yang dengan baik hati mendukung penerbitan buku kami, maka akhirnya tanggal 26 Juli 2010, buku Rona Kata selesai dicetak.

Pertemuan-pertemuan kami berikutnya adalah, bagaimana memikirkan sebuah acara launching di Bandung, dengan acara yang sederhana saja tidak terlalu meriah. Dengan pembagian tugas yang cukup, saya dan teman-teman Rona Kata, kembali memikirkan bagaimana meluncurkan buku kami. Hanya dalam dua minggu, saya bertanggungjawab untuk mengkoordinasi tempat dan acara. Jejaring dan berbagai link, mulai dikerahkan untuk mensukseskan acara ini.

Selanjutnya tanggal 8 Agutsus 2010, kemarin Launching Rona Kata berjalan dengan mendapat sambutan yang lumayan dari setiap pengunjung yang datang. Kurang lebih seratus lima puluh orang berkumpul di Gedung Indonesia Menggugat, Jl. Perintis Kemerdekaan no.5 Bandung, untuk merayakan lahirnya ‘bayi mungil’ kami. Acara yang dimeriahkan oleh teman-teman sendiri, seperti: Syarif Maulana and friends (Klab Klassik Tobucil), Deugalih, Christian Jati, Grace Sahertian & Tesla Manaf (Klab Jazz), Muktimukti Mimesis Soul, Wienny Siska berkesan sangat intim dan hangat.

Saya sendiri merasa ini adalah proyek buku pertama yang sangat mengesankan. Walaupun ada beberapa hal yang saya sebut sebagai ketidak puasan, tetapi saya menganggap hal tersebut sebagai suatu pengalaman untuk menambah referensi bagi kemampuan diri saya dalam hal mengkoordinasi orang lain.

Tentu saja, ini adalah proyek yang penuh dengan keluhan. Penuh dengan mengerungkan alis, penuh dengan malam-malam tanpa tidur, penuh dengan curhat-curhat panjang, sesekali penuh air mata. Tapi dibalik itu semua, ini adalah proyek yang penuh perjuangan. Di satu sisi, ada pembesaran kapasitas yang kemudian saya rasakan. Tiba-tiba saya merasa, saya semakin ‘melar’, ada sesuatu yang bertumbuh di dalam diri saya, sesuatu yang sedang mengakar. Tidak kelihatan. Hanya saya yang bisa merasakannya.

Malam ini setelah launching buku Rona Kata, yang bisa dikatakan sukses. Saya pulang ke kos dengan satu pemikiran yang berulang-ulang muncul di benak yaitu: “ketika kau punya mimpi, sebenarnya kau sedang bersiap untuk berjalan sendiri.”

Lirik lagu “Destiny” dari Lenny Kravitz, mengalun pelan berulang kali di pikiran dan hati saya No one can live for me No one can see the things I see I walk this road No one can tell me how to be lirik lagu ini memang sedang menjadi teman perjalanan saya beberapa minggu ke belakang ini, lirik lagu yang sangat menguatkan. Lirik lagu yang kemudian membuat saya banyak merenung dan berdialog dengan diri saya sendiri.

Lirik lagu yang kembali mengingatkan saya bahwa, “ketika kau tahu kau sedang berjalan sendirian, yang harus kau lakukan adalah percaya kepada dirimu sendiri.”

Saat ini, saya merasa seperti saya sedang berjalan sendirian, tidak ada orang yang melihat hal yang sama seperti yang saya lihat, tidak ada orang yang memahami apa yang sedang saya kerjakan, dan kemudian saya menjadi muak untuk mengemis dukungan kepada orang lain. Seharusnya yang saya lakukan hari dan besok, adalah semakin percaya kepada diri sendiri, semakin mengandalkan diri sendiri.

Saya berterima kasih kepada closet yang menjadi saksi kepanikan sekaligus penyerahan diri, saya selalu ada diantara keduanya.

Terima kasih kepada teman-teman perempuan yang luar biasa, dengan spirit yang menular yang saya temukan di Rona Kata. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penyelesaian proyek ini dari awal sampai kepada sesi launching di Bandung, semoga akan ada sesi launching berikutnya, Jakarta, Jogja, dan Bali. Tunggu saja kabar selanjutnya. Terima kasih juga kepada Mama dan Papa, saya janji membawa satu buku untuk mereka, ketika saya pulang ke Ambon nanti. Terima kasih kepada orang-orang yang masih saja tidak mengerti apa yang saya kerjakan, memandang rendah apa yang saya kerjakan, tidak mendukung apapun yang saya kerjakan, tidak apa-apa, toh “akar” yang tumbuh di dalam tidak selalu kelihatan bukan?

Terima kasih kepada penguasa jagat raya, untuk selalu memberikan kekuatan dari tempat yang maha tinggi.

Sekali lagi selamat datang Rona Kata, bayi yang cantik, bayi yang lahir dari tubuh sepuluh perempuan, bayi yang sebentar lagi menstruasi dan tumbuh menjadi gadis cantik.

 atas ki-ka: Yunis Kartika, Miranda Risang Ayu Palar, Violetta Simatupang, Palupi Sri Kinkin, Desiyanti, Anjar Anastasia, Saya.
bawah ki-ka: Tisa Granicia, Dian Hartati, Heliana Sinaga.

*Photo by: Fahmi Rakhman Fuad.

Pura-pura


waktu kecil saya suka bermain pura-pura.

saya suka pura-pura tidur siang, padahal nanti saya berjinjit-jinjit keluar untuk bermain dengan teman-teman saya di kali dekat rumah, kemudian kembali lagi untuk tidur sebelum sore menjelang. orang tua saya mengira saya tidur siang, padahal tidak, saya “bermain” di sepanjang tidur saya.

saya suka pura-pura jadi “peragawati” dengan memakai baju kebesaran, sepatu orang dewasa, lipstik merah menyala, kemudian bergaya di depan kaca, seperti model betulan.

saya suka pura-pura jadi “mama” ketika main rumah-rumahan jaman dulu, saya melakukan semua pekerjaan yang dilakukan oleh wanita dewasa. pura-pura punya anak, pura-pura menyusui, pura-pura panggil “papa” kepada teman pria kecil saya, pura-pura memasak untuk anak-anak saya, pura-pura membagi uang kepada mereka, layaknya rumah tangga orang dewasa pada umumnya, saya ini anak perempuan kecil yang suka bermain “pura-pura”.

bukan hanya itu, saya juga suka pura-pura bermain pendekar. berpetualang dengan teman-teman kecil saya, membangun “rumah-rumah” dari daun-daunan.

saya suka pura-pura main “menikah.” yang ini biasanya aksesoris yang kita punya lengkap. dari mulai kain putih panjang, ikat kepala, bunga tangan, bunga yang akan dihamburkan, sampai soundtrack lagu pun bisa pura-pura diciptakan.

ketika saya bermain “pura-pura” saya selalu menjadi apa yang saya inginkan, apa yang ada di khayalan saya selalu menjadi nyata.

nah, sekarang setelah saya dewasa, bagaimana kalau kita bermain “menikah” walau hanya “pura-pura.”

“kau pakai dasi yang ini ya sayang.”

kau dan saya. pura-pura saja.

Thursday, August 5, 2010

Kenangan

mungkin kenangan itu tidak pernah mati. mereka tumbuh di rumah mereka, mereka punya keluarga, mereka menikah, kemudian melahirkan anak-anak mereka, menjadi tua, punya cucu, tidak mati. mereka panjang umur. mereka seperti diary yang tidak pernah usang dimakan coro sekalipun. mereka punya daya tahan yang cukup kuat untuk berjejak di dalam hati siapapun yang memelihara mereka.

kenangan tentangmu tidak pernah mati.

aku ingat, kau pakai kemeja biru. menjemputku sore itu, kau ajak aku ke satu acara yang sangat menurutku, sangat membosankan. kau tahu, aku ini tidak suka sesuatu yang terlalu formalitas. sebelumnya di sebuah tempat makan, aku sedang bergosip tentangmu dengan teman perempuanku. tiba-tiba smsmu hadir. terkejut.

kehadiranmu selalu mengejutkan sekaligus membuat nyaman.

aku lalu memeliharanya dalam rumah kenangannya, aku mau mereka tumbuh menjadi sesuatu yang baik. begini, sederhana saja, aku ingin menceritakan hal baik tentangmu. ah, aku ini terlalu sentimentil. begitulah aku.

lalu, sepanjang hari itu, kita mengobrol panjang. kau bercerita tentang orang dari masa lalumu. yang sepenuhnya belum bisa kau lepaskan. kau masih menyimpan ia di sorot matamu. ya, aku tahu. kau tidak bisa membohongiku. aku terlalu cerdas membaca gelagat.

bahkan gelagat kenangan, yang sengaja ingin kau lupakan.

aku ingat, aku suka berada di dekatmu. aku ingat, diam-diam aku memintamu. aku tidak langsung pulang, kau antar aku ke suatu tempat, karena aku harus bertemu teman-temanku. kau bilang, “hati-hati ya”.

aku selalu suka kata hati-hati. bukan sekedar kata basa-basi, tapi mengingatkanku bahwa kemanapun aku pergi, aku sedang membawa “hati”. aku membawa “hatimu” bersama “hatiku”. aku ingat, ketika kau pergi, aku senyum-senyum sendiri. tertawa pelan, bersama “hati” yang tadi kubawa.

itu terlalu lekat, menempel selalu di ubun-ubun kepalaku. dengan cepat, ingatanku menangkap setiap ekspresi, merekatkan setiap emosi di dalam adegan-adegan itu, membangun kenangan, kemudian menjadi rumah kenangan. kini, terlalu banyak ruang di rumah kenanganku, salah satunya aku sebut dengan “ruang ekspresi”.

ada banyak ekspresimu yang tersimpan acak di sana, tidak mau aku rapihkan.

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...