Wednesday, August 31, 2011

Lebaran Kemarin


Hallo.

Bagaimana dengan menikah di sawah. Kamu tetap badut yang saya sayangi. Kaki-kaki kita telanjang. Saya dengan dress bunga-bunga. Kamu dengan topi jerami. Saya bisa melihat pipimu merah.

Ada wangi bir dimana-mana. Semua orang bersukacita. Mereka tertawa-tawa, karena ini adalah hari bahagia kita. Meja-meja putih bersinar dengan kue segala rupa. Tak lupa minuman segala warna. Orkestra mengalun perlahan di kejauhan.

Sayup-sayup suara jangkrik ikut bercengkerama. Sementara warna senja menembus pipi dan rambut saya. Sayang, akhirnya kita bersama. Tak ada lagi yang memisahkan kita. Bahkan hari ini kita berpesta, berdansa, sesekali bercinta di balik semak.

Sementara lainnya terlalu mabuk. Tak ada juga yang peduli.

”Kamu bahagia?”

”Selalu. Bersamamu.”

Jawaban yang selalu sama, keluar dari bibirmu yang merah.

Terkadang kamu begitu yakin. Seperti meyakini saya sebagai pasanganmu. Seperti meyakini saya akan selalu setia kepadamu. Padahal apalah arti setia? Setia ada ketika saya tahu mata kita akan saling menatap tanpa berkedip. Setia ada ketika jari-jari kita saling menelusuri tubuh tanpa lelah.

Setia lebih dari sekedar perkawinan.

”Kamu, ingin punya anak berapa?”

”Satu. Laki-laki. Kelak, ia menjaga saya. Menggantikanmu.”

”Siapa namanya?”

”Hmmm. Bagaimana kalau ’Ilalang’ kamu boleh memanggilnya ’Ila.’”

”Ah, seperti nama perempuan.”

Kamu tertawa. Saya tertawa. Kamu lalu mencium lembut bibir saya.

Hallo.

Saya melihat wajahmu begitu jelas. Seperti baru kemarin, kamu mengatakan semuanya. Hangat bibirmu dan wangi bir masih tercium jelas di hidungku. Ketika di sawah, saya berlutut di bawah gundukan tanah dengan bunga-bunga segar, yang belum terlalu layu.

Berarti kejadiannya baru saja. Rasanya seperti Lebaran kemarin.

Jalan Tasik, 31 Agustus 2011. 0:56 – menulis ini ditemani suara masjid dan wangi kopi.

  

Friday, August 26, 2011

Sepasang


Mungkin kita adalah sepasang mata. Kamu mata yang sebelah kiri dan saya mata yang sebelah kanan. Mungkin kita adalah sepasang tangan. Kamu tangan yang sebelah kiri dan saya tangan sebelah kanan.

Ketika mata yang satu melihat ke sebuah pandang—otomatis mata yang lain akan mengikutinya. Kalau tidak mata itu akan juling. Ketika tangan yang satu bekerja, tangan lainnya akan membantunya. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan dua—lebih sempurna—saya rasa begitu.

Mungkin kita adalah sepasang sepatu usang. Yang satu akan menangis ketika sol sepatu pasangannya lepas. Kita akan diletakkan di rak yang sama, berdebu, dan berdesakan dengan sepatu usang lainnya. Tapi kita akan saling mengenali bau sepatu masing-masing.

Mungkin kita adalah sepasang sendal jepit. Dipakai bersama. Apapun warna kita. Kita akan membuat pemakai kita nyaman dengan empuknya. Kita akan saling mencari ketika pasangannya hilang. Seperti jepit, kita memang ditakdirkan untuk saling mengait—satu dengan lainnya.

Mungkin kita adalah sepasang bulu mata. Kamu yang sebelah kiri dan saya yang sebelah kanan. Jika ada di antara kita yang jatuh di pipi. Itu adalah tanda kita saling mengangeni. Jika yang sebelah kena maskara, pastinya yang sebelah juga akan kena.

Mungkin kita adalah sepasang lubang hidung. Kamu yang sebelah kiri dan saya yang sebelah kanan. Jika yang lainnya tersumbat, terkena pilek. Yang lainnya pun ikut terganggu. Tidak bisa leluasa bernafas.

Mungkin kita adalah sepasang telinga. Kamu yang sebelah kiri dan saya yang sebelah kanan. Selalu butuh dua, supaya bisa mendengarkan bunyi dengan lebih jelas. Termasuk kata “I LOVE YOU” walaupun kata itu dikatakan sambil berbisik-bisik.

Mungkin kita adalah sepasang celana dalam dan beha. Kamu celana dalam. Saya beha. Ketika yang satu berwarna hitam lainnya juga ikut-ikutan berwarna hitam. Tak ada alasan lain, supaya lebih matching dan sexy saja.

Mungkin kita adalah sepasang kaki. Kamu yang sebelah kiri dan saya yang sebelah kanan. Yang satu tidak akan melangkah terlalu cepat—terlalu lambat—terburu-buru. Kita akan saling menunggu. Kita akan saling sabar. Kita akan saling beriringan.

Mungkin kita adalah sepasang ... (kamu bisa melanjutkannya)—ketika diciptakan sepasang,  sudah seharusnya saya mengenalmu sebagai bagian di tubuh—hati saya yang sudah lama pergi. Ketika diciptakan sepasang, diberkatilah hari saya dan kamu dipertemukan. Ketika saya dan kamu diciptakan sepasang—saya bersyukur bahwa itu kamu dan bukan orang lain.

Ketika saya dan kamu diciptakan sepasang—saya begitu penasaran, hendak melayangkan banyak pertanyaan kepada pencipta. Tetapi yang keluar dari mulut saya hanya dua kata,

“Terima Kasih”

Dan hey, bukankah kata itu sepasang.

Dago 349. 26 Agustus 2011. 03:31—sayup-sayup terdengar suara adzan. Kalimat-kalimat yang saya tulis di atas begitu mengganggu di kepala saya, sebelum saya menuliskan mereka. Semoga setelah menulis ini, saya benar-benar bisa tidur.

Thursday, August 25, 2011

Jatuh Cinta


Jatuh cinta.

Bagimana rasanya jatuh cinta? mungkin sudah lupa. Tapi bagi saya jatuh cinta dan patah hati patut dirayakan. Mereka adalah hal menyenangkan yang terkadang datang dalam kehidupan kita dan memberikan pelajaran.

Tidak hanya itu, ada masa transisi. Yaitu ketika sedang tidak jatuh cinta maupun tidak patah hati—hanya menjalani kehidupanmu biasa-biasa saja. Lurus. Itu juga patut dirayakan—yang saya lakukan adalah pergi bersama teman-teman. Dan punya lebih banyak janji untuk makan siang bersama.

Akhir-akhir ini saya hanya sedang berpikir seperti apa nantinya jika saya jatuh cinta lagi. Apakah saya akan berubah menjadi orang yang romantis dan menulis puisi setiap hari. Apakah saya akan berubah menjadi lebih sering mandi. Atau saya akan lebih banyak pendiam.

Seperti yang sudah-sudah. Saya tahu tidak akan terjadi banyak perubahan. Saya malah tidak romantis seperti yang saya kira. Bahkan saya akan jarang menulis puisi. Biasa saja. Mungkin cinta yang saya rasakan sudah menyimpulkan segala sesuatunya.

Atau mungkin rasa itu sendiri terlampau besar. Ketika jatuh cinta kembali—kalau akhirnya saya mengalaminya. Biasanya saya banyak kehilangan kata-kata. Dan banyak senyum sepanjang hari. Perut berkupu-kupu. Dan seperti banyak sekali uap panas yang keluar ke muka saya.

Saya pun heran, kenapa bisa begitu. Mungkin ada yang lebih jago di luar sana untuk urusan cinta untuk dapat menjawabnya. Tetapi itu sungguh perasaan yang menyenangkan. Hal lainnya adalah waktu tidur saya biasanya menjadi berkurang. Dan saya lebih cerewet ketimbang biasanya saya—yang sehari-harinya sudah dikenal cerewet.

Ketika menulis ini saya sedang tidak jatuh cinta—belum. Sudahlah percaya saja. Kalau saya sudah jatuh cinta, saya akan jarang menulis. Kalian pasti akan merindukan postingan-postingan saya. Jatuh cinta punya gejala. Setiap orang punya gejalanya sendiri.

Lainnya yang saya paling ingat ketika jatuh cinta adalah saya tidak akan berhenti senyum. Seperti ada magnet yang ada di sekitar pipi saya. Menariknya terus ke atas.

Ketika jatuh cinta, kita akan menulis banyak. Tetapi ketika patah hati kita akan menulis banyak—lebih banyak.

Di muka bumi ini, orang-orang yang paling beruntung adalah orang-orang yang masih merasa dengan jelas ketika mereka jatuh cinta. Mengingat gejalanya sampai detail. Menuliskannya, dan membuat orang lain tersenyum ketika membacanya.

Apa gejala jatuh cintamu?

Dago 349. 25 Agustus 2011. 00:34—menulis tengah malam karena tak bisa tidur. Radio menyala. Saya suka saat seperti ini, hanya saya dan pikiran saya. 

Hujan Kali Ini Tak Datang


Hujan kali ini tak datang sayang. Ia sembunyi di balik beha barumu. Beha yang baru saja kau beli. Warnanya pink fusia. Seperti kejutan, hujan seakan tahu bahwa sekali-kali hidup ini butuh kejutan.

“Behamu lucu.”

“Terima kasih.”

Percakapan singkat kita pada sebuah pagi yang belum benar-benar pagi. Kau cantik sekali pagi itu. Baju tidurmu yang tipis semakin memamerkan beha dan juga payudaramu. Rambutmu yang acak-acakan dan matamu yang masih sedikit mengantuk.

“Jadi kita tidak jadi mengakhirinya?”

“Aku pikir lanjutkan saja. Toh cinta antara kita masih menyala kan?”

Kau mengangguk perlahan. Lalu tersenyum kecil. Kemudian memandang ke langit. Aku juga refleks melakukan hal yang sama. Kelip beberapa bintang masih tersisa di sana. Bulan juga masih ada. Di kejauhan sinar-sinar kemerahan mulai menyembul perlahan.

Sinar kemerahan itu kini muncul di pipimu. Membuat pipimu merekah. Sebentar lagi matahari akan terbit di sana. Dan ketika hal itu terjadi, aku mau menyaksikannya. Ketika pipi dan tubuhmu merekah lalu terbelah.

“Sebentar lagi aku harus pergi.”

“Aku ingin kecup bibirmu sekali lagi.”

Kali ini senyummu lebar sekali. Begitu lebar, berubah menjadi embun. Kemudian terbang ke langit. Menyatu dengan garis-garis merah di sana. Beha pink fusiamu lalu berubah menjadi garis-garis tipis bergabung dengan warna-warna lainnya.

Dago 349. 22 Agustus 2011. 05:02—hey kamu, selamat pagi :D



Monday, August 15, 2011

Sleep Tight


Begini rasanya jika lama tidak menulis. Ada rasa kangen juga mendengarkan bunyi tuts netbook yang sexy. Kata-kata terus mengalir di dalam hati dan pikiranku sepanjang hari ini. Sementara aku mungkin cukup lelah menulis—mungkin juga karena sedang asyik dengan pikiranku sendiri. aku sendiri sampai bingung hendak menulis dari mana.

Aku meminjam buku Norwegian Wood karya Haruki Murakami dari seorang teman dan membacanya hanya dua hari saja. Buku setebal itu, berhasil aku selesaikan begitu cepat. Buku itu terlalu vulgar, terlalu banyak cerita sex-nya. Tapi aku suka alur ceritanya.


Lalu, aku mengingatmu.

Tidak terasa hampir empat bulan—sejak melepaskanmu. Sudah sekitar empat tahun ternyata sejak awal aku mengenalmu. Perjalanan yang tidak cukup sederhana tentu saja. Penuh sensasi. Aku menyukainya seperti aku begitu menyukainya. Berani mengungkapkannya. Oh, tentu saja aku ini adalah gadis yang pemberani. Aku dengan obsesi tinggi yang ingin menjadi penulis sedangkan kamu dengan obsesi sederhana, hanya ingin punya anak-anak perempuan yang lucu-lucu.

Betapa itu indah.

Kalaupun saat ini kamu ajukan pertanyaan padaku, jawabanku masih tetap sama, aku ingin menjadi penulis. Aku ingin menjadi Ibu. Aku juga ingin punya anak perempuan yang lucu-lucu. Aku akan rajin mendandani rumah kita dengan hangat. Aku berjanji akan belajar memasak. Akan banyak sekali pesta kecil dan perayaan di rumah kita. Karena aku suka sekali perayaan. Akan selalu banyak tamu yang keluar masuk. Tidak apa, aku suka. Teman-temanku atau teman-temanmu boleh menginap juga sesuka mereka.

Ketika menulis ini, aku mengingatmu.

Hey, kamu sedang apa?”

Seingatku ketika bersama, aku memberikan hampir seluruh hatiku. Begitu kuatnya niat di dalam hatiku bahwa aku ingin bersamamu. Bahkan ketika aku berdoa pun, kamu yang aku minta. Aku bilang kepada Tuhan, kalau boleh aku memilikimu. Aku hanya ingin hidup bersamamu. Tuhan diam saja. Buktinya, saat ini kita tidak bersama. Ah, mungkin ini jawaban Tuhan. Entahlah.

Tapi ketika aku mengingatmu kembali, kenapa aku masih begitu sedih. Pipiku basah kembali. Padahal aku sudah bertekad bahwa aku tidak boleh lagi menangis. Tapi, aku ini bodoh. Bukankah dengan menangis aku melepaskan sesuatu. Melepaskan sesuatu yang tersendat itu. Walaupun mungkin dengan menangis tidak semuanya keluar.

Aku berpikir kembali tentang kata cinta dan menemukan bahwa selama ini cintaku kepadamu itu murni. Walaupun aku meminta imbalannya, yaitu kita bisa hidup bersama. Kemudian aku harus menerima kenyataan bahwa tidak bisa. Aku lalu mengambil keputusan bahwa aku yang harus beranjak, move on, seperti itukah sebutannya.

Entah mengapa ketika menjalaninya, aku mengingatmu kembali. Aku merasa kamu sekarang berbentuk sisa-sisa. Seperti air mataku yang masih menetes satu atau dua tetes. Ya, kamu seperti itu. Hanya sisa-sisa, yang seiiring dengan waktu akan habis. Aku tidak mau kamu terus-terusan menjadi sisa di hatiku. Aku harus melepaskan kamu utuh.

Malam ini, ketika aku susah sekali tidur dan memejamkan mata. Aku ingat kamu lagi, masih dengan bayangan yang sama.

Hey, kamu apa kabar? semoga malam ini tidurmu nyenyak dan tidak mimpi buruk.

Seperti yang selalu aku bilang di sms-smsku ketika malam menjelang.

“Sleep tight.”

Masih tidak bisa tidur, lalu aku memutuskan untuk menulis ini. Ketika aku menutup netbook, dan hendak tidur nanti. Aku bertekad. Kali ini tekadku penuh dan begitu bulat. Aku ingin berbisik kepada Tuhan begini,

“Tuhan, kali ini aku ingin jatuh cinta lagi..”

Dago 349. 14 Agustus 2011. 01:45—diluar suara motor berlari kencang. Mungkin pengendaranya buru-buru pulang hendak sahur. 

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...