Thursday, January 31, 2013

Tentang Sebuah Acara Di Ambon Bernama TrotoArt





Pulang Ambon sering saya maknai sebagai sebuah kangen panjang seorang kekasih yang memiliki hubungan jarak jauh dengan kekasihnya. Saya dan Ambon adalah kekasihnya. Dan selama ini kami terpisah jarak. Saya yang harus bekerja di Bandung. Dan kekasih saya, Ambon tetap di rumahnya.

Ketika kepulangan saya sekitar sebulan yang lalu, saya sempat diundang untuk membaca puisi ke sebuah acara yang disebut dengan sebutan TrotoArt. Acara ini sudah diselenggarakan beberapa kali. Dan jika kamu ingin tahu lebih banyak lagi tentang acara ini, saya akan menceritakannya kepadamu.

Malam itu saya diajak duduk-duduk pada sebuah area wisata kuliner malam di Ambon, tepatnya di belakang Ambon Plaza, ada sebuah jalan yang kini ditutup pada sisi sebelahnya. Dan banyak sekali yang menjajakan nasi kuning enak dengan beragam teh atau kopi yang sedap.

Nyong Vic, begitu ia biasa disapa. Victor Latupeirissa, nama lengkapnya. Victor terlihat santai dengan kaos dan jins. Dan ia yang selama ini rajin mengurusi acara yang berkaitan dengan pelaksanaan TrotoArt.

Jadi gimana sih awalnya acara TrotoArt ini berlangsung?

“Awalnya sih karena saya banyak bergaul dengan anak-anak band. Tapi sebenarnya saya nggak bisa main musik. Tapi suka aja kumpul sama komunitas anak-anak band. Nah akhirnya saya tahu bahwa mereka (anak-anak band-red) kadang kepengin tampil. Tapi mereka nggak punya ruang.”

Terus gimana ceritanya panggung pertama?

“Banyak band-band yang terlibat di acara ini. Mereka sangata antusias. Ada Belasting, Ikan Asar, Pangeran, dan beberapa band lainnya. Kemudian setelah panggung pertama ini kita juga ketemu dengan anak-anak band lainnya dan kumpul lalu punya ide untuk bikin panggung selanjutnya.”

Bisa cerita ide singkat kenapa ada TrotoArt?

“Simpel aja. Kita hanya ingin punya panggung. Kalau selama ini berkarya, bikin lagu. Kita hanya ingin didengar.”

Selama ini di TrotoArt apa-apa saja sih yang sudah ditampilin?

“Banyak. Ada pembacaan puisi, ada yang pernah bagi soal painting, fotografi (dari teman-teman Pardiedoe), Video Clip (dari D’Embalz) dan lain-lain.”

Tentang promosinya sendiri dan bagaimana tanggapan crowd dan orang-orang yang datang?
(oke, sejujurnya malam itu ketika saya hadir di TrotoArt saya sempat kaget karena banyak sekali anak-anak muda Amon yang datang. Entah mengapa, tapi saya percaya ini seharusnya bisa menjadi sesuatu yang besar di kemudian hari. Karena dimana satu atau dua anak-anak dengan 
“ide kreatif”bertemu, seharusnya kami bisa melakukan sesuatu yang besar.)

“Jadi selama ini kami promosi dari mulut ke mulut. Dari komunitas yang satu ke komunitas yang lain. Pake twitter juga. Dan massa yang datang ke sini-sini yah lumayan banyak.”

Ada harapan tentang TrotoArt ini sendiri?

“Tidak putus dan tetap ada terus. Dan semoga dengan adanya panggung ini teman-teman yang berkarya bisa didengarkan. Dan mereka bisa menghibur orang-orang yang datang dengan karya-karya mereka. Kami juga rencana akan bikin album kompilasi dari acara TrotoArt ini. Jadi setiap musisi yang tampil bisa menyumbang lagunya dan nantinya akan di satukan. Doakan ya.”

Amin. Semoga tercapai apa yang dicita-ctakan oleh teman-teman di TrotoArt. Harapan saya pribadi adalah semakin banyak acara-acara kreatif seperti ini diadakan di Ambon. Supaya paling tidak kita bisa tetap saling menghibur satu dengan yang lain. Dan kita sendiri tidak malu  dengan tagline Ambon The city of Music. Seharusnya tagline ini membuat kita anak-anak muda Maluku punya lebih banyak panggung. Semoga pemerintah daerah sadar akan hal ini dan semakin melapangkan hatinya untuk membantu setiap pergerakan kreatif di Maluku, khususnya di Kota Ambon.

Bulan semakin tinggi. Saya sudah harus pulang. Kembali ke rumah, kali ini membuat saya kembali menjadi anak bungsu yang punya jam malam, dan bertemu ayah yang menunggu saya dengan setia di teras rumah.

*tulisan ini untuk teman-teman kreatif/musisi/seniman di Ambon. Tetap berkarya pantang mundur! foto-foto silakan intip di https://twitter.com/pardiedoeSR :)



Wednesday, January 30, 2013

Ayah Dengan Nasihat Nasihatnya





Suatu malam saya pernah membombardir twitter dengan tweet-tweet saya tentang Ayah. Entahlah tapi saya selalu bangga melakukannya. Saya selalu bangga menulis sesuatu tentang Ayah. Saya adalah anak perempuan yang beruntung punya kebanggan itu. Ayah adalah inspirasi besar saya. Dalam melakukan apapun, ia adalah orang pertama yang saya contoh.

Ketika pulang liburan selama tiga minggu di rumah. Saya punya waktu mengobrol dengannya. Kami mengobrol banyak. Kami berdiskusi tentang banyak hal. Kami berbicara seperti rekan. Saya dengan ide-ide saya. Dan Ayah dengan masukan-masukannya. Termasuk rencana besar saya untuk membuat perpustakaan dan punya sebuah “pelatihan kreatif” yang bisa pergi ke daerah-daerah dan berbagi tentang mimpi dan bagaimana menghidupi mimpi itu.

Ayah selalu menyambut baik ide-ide saya. Ia seperti percaya sepenuh penuhnya kepada saya, anak perempuannya yang padat akan mimpi ini. Ia seperti memberikan ruang kepada saya untuk bisa “melakukan apa saja yang saya mau.” Dan ketika berdiskusi dengannya, saya tidak pernah merasa bahwa saya adalah anak kecil atau anak kemarin sore. Melainkan kami adalah teman bicara yang seimbang.

Satu hal yang membuat saya bersyukur juga adalah: rumah adalah tempat berdiskusi yang menyenangkan. Ketika kami belajar menerima kritikan tanpa tersinggung dan belajar untuk saling memberi masukan. Malam terakhir ketika saya dan kakak saya akan kembali ke Jakarta di keesokan harinya, Ayah menasihati kami untuk: hiduplah dan saling membantu orang lain. Hiduplah dan saling tolong menolong orang lain.

Nasihat sederhana, tapi begitu terngiang-ngiang. Saya pikir bukankah itu esensi hidup seorang manusia. Ayah saya tidak sempurna. Tapi entahlah—saya merasa hidup saya begitu sempurna ketika pertama kali saya belajar bicara dan memanggil ia, “Papa.”

Tuesday, January 29, 2013

Segala Sesuatunya Bisa Dilakukan Lebih Pelan





Mungkin hidup ini akan lebih asik. Jika segala sesuatu berjalan lebih lambat.

Kamu tidak perlu terburu-buru dalam segala hal. Kamu mencatat segala sesuatu yang kamu lalui dari hari lepas hari.

Kamu bangun lebih siang. Kamu mandi lebih lama. Kamu mencuci baju-bajumu dengan seksama. Kamu punya lebih banyak waktu untuk berjalan-jalan dengan kaki telanjang di halaman kosmu. Kamu punya lebih banyak waktu untuk membaca Alkitab. Kamu punya banyak waktu untuk merenungkan cerita-cerita yang kamu temukan di dalam Alkitab.

Saya sedang berpikir untuk melakukan sesuatu lebih lambat. Jika biasanya saya selalu terburu-buru dan terlalu cepat melakukan apapun. Mungkin kali ini saya harus lebih banyak santai. Saya harus membaca buku lebih sering, mengopi dan berpikir dalam-dalam lebih lama.

Saya memulai kembali untuk memiliki sebuah agenda. Dan membeli crayon. Oh, saya suka warna-warni. Saya akan kembali menulis dengan pensil. Kesenangan-kesenangan kecil yang sudah lama tergantikan dengan segala teknologi. Kesenangan-kesenangan lainnya adalah menelepon keponakan-keponakan kecil saya dan berbicara dengan mereka lebih lama.

Hanna. Jordan. Crossie.

Seharusnya saya bisa lebih banyak meluangkan waktu dengan mereka lebih lama. Diisi dengan cerita-cerita bahwa Hanna yang sedang makan ayam goreng. Jordan yang sedang sakit batuk. Dan Crossie, si bungsu yang hanya memanggil nama saya di telepon dengan suara seraknya.

Hari ini ketika bangun pagi tadi: saya sedang berbicara kepada diri saya sendiri bahwa, segala sesuatu harusnya lebih lambat. Pelan-pelan.

Begitupun jatuh cinta. Seharusnya bisa dilakukan pelan-pelan. Lebih pelan. 


Thursday, January 24, 2013

Sedang Tidak Baik Sekarang Tapi Akan Baik Baik Saja





Saya selalu percaya bahwa segala sesuatu yang dari hati pasti akan sampai ke hati. Saya sering mengatakannya berulang-ulang kepada diri saya maupun kepada orang lain. Segala sesuatu yang berasal dari hati akan sampai ke hati.

Segala sesuatu yang ditulis dari hati akan sampai ke hati. Segala sesuatu yang dinyanyikan dari hati akan sampai ke hati. Dan akhir-akhir ini urusan hati ini membuat saya belajar banyak.

Oke, saya bingung harus memulai dari mana. Yang saya lakukan akhir-akhir ini adalah banyak meng-evaluasi diri saya sendiri. Banyak mendengarkan diri saya sendiri. Banyak menulis. Yang terakhir biasanya adalah obat untuk “menyembuhkan” demikian saya selalu menyebutnya.

Beberapa hari yang lalu sahabat saya, mengirimkan sebuah email yang berisi cerita pendek yang ia buat. Dan menyuruh saya untuk memberikan komentar. Ketika membaca cerita pendek itu, air mata saya tergenang. Saya sedih membaca ceritanya. Saya membacanya dengan perasaan-perasaan campur aduk menebak akhir ceritanya akan seperti apa. Tapi cerita itu berakhir dengan senyum panjang.

Oh, jelas sekali tulisan teman saya ini berasal dari hatinya yang paling dalam. Lalu saya ingat kembali sebuah perjalanan pulang bersama seorang teman di dalam mobil. Di luar gerimis. Dan dari radio terdengar Glenn bernyanyi Malaikat Juga Tahu yang begitu syahdu. Yang membuat saya menahan tangisan selama perjalanan itu.

Dan kenapa saya akhir-akhir ini begitu cengeng. Haha. Karena saya sedang patah hati. Jika selama ini saya pandai beteori tentang ini dan itu perihal “hati” maupun “patah hati”.

Tidak semudah itu ternyata. Saya sampai pada kesimpulan bahwa patah hati itu menyebalkan. Dan tidak enak sekali rasanya.

*tarik nafas*

Lalu apa yang biasanya kamu lakukan pada saat pada patah hati?

Selain menangis, yang saya lakukan adalah curhat panjang lebar dengan beberapa orang teman. Menulis. Dan menangis lagi.

Jawaban yang saya dapatkan adalah: Theo, you’re gonna be ok!

Saya sedang tidak baik sekarang. Tapi akan baik-baik saja nanti.  

Kembali ke urusan hati. Tidak ada yang mudah. Mungkin yang saya perlukan adalah rehat sejenak. Dan membiarkan hati saya tumbuh kembali. 

Tuesday, January 22, 2013

Mungkin Lebih Baik Kita Mengobrol Dan Saling Mengisi





Membaca tulisan Taufiq Rahman di Jakartabeat.net, mengubah pemahaman saya dalam beberapa hal tentang memasuki usia 30. Ya, saya sebentar lagi akan memasuki usia 30. Tetapi belum, masih ada beberapa bulan lagi.

Saya yang di tahun ini sedang berencana untuk melakukan banyak hal. Saya yang tidak berhenti bermimpi. Saya yang kini setiap bangun pagi berpikir bahwa saya bisa melakukan banyak hal untuk banyak orang di luar sana. Saya seorang impulsive, yang menyenangi hal-hal yang kebalikan dari orang-orang sesusia saya. Dan saya masih tetap naik angkot dan pergi makan di warteg.

Saya juga memuji kebiasaan mengopi perlahan. Dan merenung dalam-dalam. Jika mengamati kebiasaan orang-orang di sekitarmu, saya bahkan melihat bahwa kecenderungan orang-orang yang begitu aktif di social media seperti twitter dan facebook. Hanya untuk memamerkan sesuatu. Kita gampang mengadili orang lain. Dan kita gampang sekali berkata-kata kasar terhadap orang lain.

Social media seperti membuat saya dan kamu memiliki dua kepribadian. Kita menjadi sangat ramah ketika bertemu dengan boss di kantor. Dan memaki-maki boss kita di status yang kita buat (twitter, facebook, bbm.)

Atau dengan akun-akun fiktif yang kita buat, kita seperti menjadi orang lain. Menjual seksualitas/porno sebagai sesuatu yang sangat santai untuk dilakukan. Ketika menulis ini saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggung soal moral. Tetapi saya menyinggung value saya dan kamu ketika diciptakan sebagai manusia.

Manusia-manusia digital. Yang lupa akan hal-hal sederhana. Termasuk lupa pada bagaimana menertawakan diri sendiri. Juga lupa akan keindahan titik-titik hujan di jendela.

Saya dan kamu, terlalu sibuk untuk mengejar sesuatu yang sifatnya fana dan dangkal. Dan kita lupa bahwa, di dalam diri kita ada nilai kekekalan.

Beberapa waktu ke belakang, ketika pergi makan malam dengan beberapa teman, saya menerapkan rules: no handphone while dinner. Dan aturan itu dilanjutkan dengan, mari kita mencari topik-topik sederhana yang akan kita obrolin ketika makan malam. Belum berjalan seutuhnya, karena beberapa teman saya masih gatal untuk mengecek handphone mereka.

Ketika hampir tiga minggu, saya menghabiskan waktu saya Liburan Natal bersama keluarga saya di rumah. Saya begitu bangga, karena saya bisa menghabiskan banyak waktu saya untuk mengobrol dengan ayah saya. Kami bahkan berdiskusi tentang banyak hal. Tidak ada handphone. Hanya mengobrol.

Dan ketika kembali ke Bandung, saya menjadi orang yang kosong lagi. Ketika waktu-waktu saya banyak dihabiskan di social media tanpa esensi. Sebaiknya kita pikir-pikir lagi esensi kehidupan kita, sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat.

Dalam hal ini, saya setuju dengan tulisan Taufiq Rahman yang mengatakan: Bagaimana jika pilihan untuk generasi 30-an sekarang adalah untuk berjalan lebih pelan. Bangun siang, membaca buku lebih sering, menikmati musik dan lebih banyak berdiam dan berpikir.


Wednesday, January 16, 2013

Poetry Reading: Hati-Hati



Hati Hati, Poetry reading by me.
Taken at The Street Cafe, Ambon (2012), with a whole bunch. Thank you Gracio Imanuel.
Hati Hati adalah sebuah tulisan lama saya. Saya tidak menemukannya. Mungkin nyelip. Selamat menikmati. 

Tuesday, January 15, 2013

Ketika Aku Hanya Ingin Melamun Tentang Cinta





Menyesuaikan kembali dengan ritme di kota ini. Pagi ini saya bangun dan membayangkan ada cinta cinta yang tumbuh dari meja bar remang remang. Dengan dua botol bir, kita biasanya duduk. Mengobrol tentang cinta dan keraguan.

Keraguan akan dirimu terhadap cinta. Ketika kamu memandang cinta hanya sebatas pergi ke kamar hotel dan bersenggama sampai pagi. Sedangkan saya memandang cinta dari cairan bir yang menguap di dalam gelas. Dengan buih buih bir itu yang fana. Kelak ia akan hilang melalui udara.

Cinta bagi saya adalah sesuatu yang fana.

Kemudian hujan turun di luar. Saya tidak lagi menyukai hujan seperti biasa. Saya benci bunyi suaranya yang pongah. Kamu dengan sigap memegang payung. Kita berjalan begitu dekat. Sehingga saya bisa mencium aroma tubuh. Dan diam diam saya berharap bisa mencium aroma tubuh itu lebih lama.

Tiba tiba saya ingat kecoak. Dan kutu busuk di kamar. Dan sepatu sepatu lusuh yang kini teronggok. Apakah mereka juga punya cinta? Apakah mereka juga senang bersenggama? Saya hendak menanyakan itu kepada kamu yang diam saja. Kamu yang tidak pernah ada. 

Saturday, January 5, 2013

Home #6


“I believe there's a calling for all of us. I know that every human being has value and purpose. The real work of our lives is to become aware. And awakened. To answer the call.” - Oprah Winfrey



Hari itu saya diundang di Rock FM Ambon. Ceritanya diinterview. Kali itu saya mengobrol dengan Bobby. Di segmen yang dinamakan RequestMe. Radio selalu menjadi tempat yang saya senangi. Karena saya besar di Radio.

Saya dan Bobby kami mengobrol tentang kegiatan sehari-hari. Apa yang saya lakukan selama di Bandung, asal mula saya akahirnya menjadi penyiar, kemudian asal mula saya menulis buku, suka dan duka, dan berbagi soal pengalaman.

Ujung-ujungnya saya berpikir bahwa: tidak semua orang punya panggilan yang sama. Bahwa kita adalah orang yang terlahir dengan panggilan. Dan saya akan ulangi sekali lagi, apa yang menjadi “panggilan” saya belum tentu itu adalah “panggilan” kamu. Begitupun sebaliknya.

Jika kita mengerti “panggilan” kita dan mengerjakan “panggilan” kita dengan maksimal maka kita tidak perlu iri dengan orang lain.

Yakinlah bahwa, ketika kita lahir di muka bumi ini ada “panggilan” yang harus kita lakukan. Dan hanya kita yang bisa melakukannya, bukan orang lain. 

Home #5





Liburan Natal kali ini ada Joshua Nafi, Nicholas, Bung Roy Tomasila yang datang ke Ambon dan bersama-sama. Setelah beberapa kali janjian dengan Joshua di Bandung dan belum ketemu-ketemu juga, akhirnya kami bertemu di Ambon.

Sepanjang beberapa hari kami jalan-jalan bersama-sama. Ini adalah kali pertama Joshua dan Nicholas ada di Ambon, hari pertama mereka sampai, kita langsung ke Natsepa. Di sana mereka langsung nyebur ke pantai. Kami makan es kelapa muda. Dan tentunya makan rujak Natsepa.



Ada ungkapan yang bilang bahwa “belum ke Ambon kalau belum makan rujak Natsepa.” Kalau kamu penasaran seperti apa sih rujak Natsepa itu, kamu harus datang ke Ambon.

Keesokan harinya, kami jalan ke daerah Amahusu, Latuhalat, dan mengunjungi Pintu Kota. Dari Pintu Kota, kami menuju ke Waai untuk melihat Morea (Belut dalam bahasa Indonesia).

Pintu Kota

Terakhir kali saya ke sana ketika saya masih kecil. Waai adalah tempat yang menyenangkan karena di sana terdapat mata air yang sangat jernih dengan belut belut yang hidup di bawahnya.

Biasanya akan ada pawang yang masuk ke dalam kolam air dan memanggil belut tersebut untuk keluar memakan kuning telur yang diberikan oleh pawang. Setelah dari Waai, kami menuju ke tempat pemandian air panas di Tulehu. Seperti biasa Joshua dan Nicholas langsung mandi.

Tidak lupa kami mengakhiri sore itu dengan makan Singkong goreng dan Sukun goreng ditambah dengan sambal Ambon yang tidak ada duanya. Malamnya, kami makan Nasi Kuning di belakang gereja Maranatha.

Esok paginya, kami pergi ke gereja bersama-sama dan sampai di sana. Karena pagi itu Bung Roy akan berkhotbah di sebuah gereja kecil di Skip. Joshua akan kesaksian. Dan saya menyanyi. Kami pelayanan bersama-sama.

Sepulangnya, kami melanjutkan perjalanan ke Liliboy, Alang, Larike, dan beberapa kampung yang ada sampai di Tanjung yang paling ujung. Di sini kami bisa melihat Batu Layar. Karena bentuk batunya seperti layar perahu. Dan malamnya kami singgah makan malam di rumah Bung Elvis (salah satu teman).

sunset di Larike

Bagi saya ini bukan sebuah liburan Natal biasa. Karena setiap kepulangan pasti ada maksud. Mungkin salah satunya adalah menemani Joshua, Nicholas, Bung Roy ketika di Ambon. Dan bertemu dengan Cindy, Hervian, Gracia, dan teman-teman lainnya.

Yang membuat pulang kali ini sangat menyenangkan.

J

Friday, January 4, 2013

Home #4






Pertanyaan saya kepada seorang teman lewat bbm adalah apa yang sedang kamu doakan untuk tahun ini? Saya tidak sedang “sok serius” dengan bertanya seperti ini. Saya memang sedang benar-benar berdoa untuk sesuatu. Yang akan saya lakukan di tahun 2013.

Jika di tahun yang lalu saya menganggap bahwa Tuhan begitu jenaka memberikan pengalaman yang cukup cool dalam kehidupan saya. Maka di tahun ini saya sedang berdoa untuk sesuatu yang akan saya lakukan.

Hal ini masih ada hubungannya dengan mimpi saya. Yang belum kesampaian. Untuk Maluku dan daerah-daerah lainnya. Kalau kamu memang pernah membaca Sekolah Berbagi Mimpi. Salah satu impian saya di tahun ini adalah: menjadikannya.

Konsepnya akan berupa coaching clinic dengan “berbagi” tentang Public Speaking, (kepenyiaran, MC, HOST, all about stage), Creative Writing, Creative Reading, Videography, Fotografi, Film (pembuatan, menulis naskah), Event Organizer.. dan list yang  masih akan bertambah.

Kami akan pergi ke sekolah-sekolah dan melakukan pelatihan di sana. Berbagi tentang mimpi. Bahwa setiap kami telah “hidup” oleh mimpi dan “menghidupi” mimpi tersebut.

Amin. Semoga terwujud.

Jika untuk itu saya harus berdoa. Maka tahun 2013, saya benar-benar berdoa untuk YESAYA 60:11 yang bunyinya adalah:

“Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang mauun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa KEKAYAAN BANGSA BANGSA KEPADAMU, sedang raja-raja mereka ikut digiring sebagai tawanan.”

Jika kekayaan bangsa-bangsa ada di dalam saya. Saya dapat melakukan apapun yang saya mau, bukan?

Apa mimpimu di tahun 2013? 

Thursday, January 3, 2013

Home #3

foto oleh @pardidoeSR



Diundang membaca puisi di  acara #TrotoArt. #TrotoArt dalah sebuah acara anak muda kreatif di Ambon. Banyak musisi, penggiat kreatif yang tumpah ruah di jalan. Diadakan di seberang Ambon Plaza. Saya senang diajak berpartisipasi di acara ini. 

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...