Monday, January 31, 2011

Surat Cinta #18: Untuk Rasa Pahit


Bohong.


Kalau kamu bilang kamu tidak pernah pahit. Bagi saya selama kamu masih hidup dan bersentuhan dengan orang lain, kamu akan retan merasa pahit. Saya rasa pahit itu semacam, keseimbangan yang perlu datang di dalam hidupmu, supaya kamu tidak pernah terlena dengan rasa manis.

Pukul 1:25 tepat saya sampai di rumah. Setelah seharian melakukan pekerjaan saya yang lain yaitu bernyanyi di wedding. Kebetulan kali ini lokasi weddingnya adalah Jakarta. Satu hal yang paling saya sukai adalah: menikmati perjalanan pulang -- Duduk di kendaraan lalu mulai melamun. Saya dan diam. Melihat ke luar, menikmati gelap, lalu mendengarkan banyak di sana.

Saya suka gelap. Karena di dalam gelap tidak ada yang melihatmu menangis.

Tapi kali ini saya menikmati perjalanan pulang saya sedikit berbeda. Saya mengobrol banyak hal dengan teman sebelah kursi saya: kita bicara banyak soal pahit. Terus terang, saya akrab dengan kata ini. Saya pun punya pahit. Biasanya suka saya simpan beberapa waktu -- ada yang selesai dan ada yang belum selesai.

Kalaupun kamu baca ini dan mengganggap saya pengecut, tidak apa. Paling tidak saya menulis untuk setiap rasa pahit saya yang belum selesai. Percakapan saya dengan teman itu begitu mengalir, kami banyak mengeluarkan keluhan kami, kami banyak mengerutkan alis kami, bahkan kami banyak mendenguskan nafas -- tanda lelah.

Mungkin percakapan selama perjalanan pulang tadi, tidak membuat semua pahit selesai. Bisa saja pahit itu masih menyisa, bahkan ketika saya menulis ini pun, belum kelar.

Tapi ada satu kesimpulan yang saya buat paling tidak untuk hati saya sendiri di malam ini: kalaupun kamu punya pahit dengan orang lain, padahal dulunya kalian adalah pasangan yang manis. Ingatlah hal-hal romantis yang pernah kamu lewati bersama orang itu.

Mengingat hal romantis, bukan gombal. Mengingat hal manis akan membantumu seimbang ketika rasa pahit itu melanda. Berbesar hati, untuk menerima rasa pahit. Lalu berbesar hati pula untuk mengingat hal-hal manis.


Rasa pahit akan membuat hidupmu lebih baik. Ini klise, tapi saya percaya. Dan bisa begini juga: ketika kamu hendak merasa pahit terhadap seseorang, coba ingatlah hal manis tentang orang itu. 




Saturday, January 29, 2011

Surat Cinta #17: Untuk The man who can't be moved

Saya terlalu percaya dalam hati tiap orang, pasti kita semua punya: the man who can't be moved. 

"The man who can't be moved" itu semacam seseorang yang dengan sengaja kamu simpan di dalam hatimu, walaupun kamu telah bersama orang lain


Dan akhirnya saya mengerti: "The man who can't be moved" inilah yang membuat saya, kamu, dan siapapun yang baca tulisan ini susah untuk moving on.

Lalu saya berpikir, kalaupun masih ada yang susah untuk moving on, kenapa musti lekas-lekas dipaksa. Terkadang menyimpan itu hal baik.

Dalam menyimpan harusnya kita belajar lebih apik mengurusi sesuatu, kita akan menjaganya supaya tidak berdebu, kita merawat, kita melindungi, kita belajar menjadi seperti Ibu.

Punya The man who can't be moved tidak selamanya merugi, bisa jadi semesta masih mempercayai orang tersebut kepada hatimu. Ataupun sebaliknya, orang itu selalu ada untuk menjaga hatimu. Tergantung kamu mau meresponinya seperti apa.

Surat ini saya tulis kepada The man who can't be moved di hati saya. Yang betah, begitu lama, selalu mendapatkan perlakuan khusus, selalu saya nomor satukan walau saya sudah punya orang lain. Selalu saya kangeni, walau kadang ia suka menyakiti.

Saya mau bilang apa lagi selain: mungkin suatu hari, kamu akan bangun di tempat tidurmu. Lalu berpikir, saya adalah orang yang tepat itu.

Saya berdoa, semoga kamu tidak terlambat menyadarinya. 

Semoga. 

Surat Cinta #16: Untuk Papa (lagi)

Dear Pa.
Terima kasih untuk obrolan singkatnya tadi siang. Saya bagi untuk teman-teman pembaca di sini ya. Hanya sebagian kok, tidak semuanya :D

“Kemarin Papa dengar Nona telpon Mama, tapi nggak mau bicara ah, kalau lagi bicara sama Mama.”
“Iya, abis telpon Papa, nggak diangkat-angkat.”
“Iya, abisnya Papa kadang suka nggak dengar kalau lagi ada bunyi telepon.”
“Hm, ya sudah nggak apa. Sehat Pa?”
“Sehat.”
“Lagi dimana ini?”
“Lagi di (salah satu kerabat) sedang sakit. Lagi doain mereka.”

Dari jaman, saya kecil sampai saya sudah sebesar ini. Papa selalu menjadi contoh paling baik untuk melayani orang lain. Selalu bersemangat mengunjungi orang sakit – mendoakan mereka. Jiwa melayaninya selalu besar. Jiwa membantunya selalu membuat saya terinspirasi.

“Tolong beli Papa sepatu sendal satu. Yang ini sudah mulai rusak-rusak nih.”
“Iya, mau yang model gimana?”
“Pilih saja yang bagus. Yang ini, Papa sudah pakai hampir 7 tahun dan belum pernah ganti.”
(Saya berkaca-kaca.)
“Iya, nanti cari di sini, sabar ya Pa. Mungkin minggu depan baru bisa dikirim.”
“Iya. Danke lai.”

Papa saya seorang konvensional. Setia. Hanya menggunakan sepatu, kemeja yang ia suka selama bertahun-tahun. Tidak pernah mengganti barang kalau memang tidak benar-benar rusak. Tidak pernah minta dibeli barang baru. Tidak pernah macam-macam. Bahkan kalau ada sesuatu yang rusak, diam-diam ia akan menabung lalu membelinya sendiri tanpa harus merepotkan anak-anaknya.

“Kenapa baru telepon sekarang?”
“Sorry Pa, kemarin hape rusak.”
“Hm, tapi janga lupa kirim kabar.”
“Iya.”
“Ingat: jaga diri baik-baik. Bawa diri baik-baik.”
(Selalu dan selalu. Ini nasihat favorit yang selalu saya dengar di telepon)

Lalu ada satu lagi, ini bisa dibilang kalimat penutup yang selalu buat saya berkaca-kaca kalau mendengarnya:

“Hidup itu harusnya jadi berkah untuk orang lain.”

Siang itu, saya berdiri persis di teras kamar kos saya. Bersama pria yang paling saya cintai dalam hidup saya. Bersama pria yang tidak pernah membuat saya sakit hati. Bersama pria yang selalu siap mencintai saya, kala tidak ada orang yang mau mencintai saya. Pria yang kualitas hatinya saya tahu betul, pria yang tidak akan pernah membuat saya berhenti jatuh cinta lagi dan lagi.

Pria yang suaranya, hanya bisa saya dengar dari telepon..

Kelak, anak-anak saya harus tahu bahwa mereka punya Opa yang luar biasa.

I Love you, Pa!


Friday, January 28, 2011

Surat Cinta #15: Untuk Connie.

Dear Connie.

Hai. Hm, begini aku bangun dan ngecek twitter lalu menemukan suratmu. Ah, speechless. Entah mau menulis apa. Yang kamu tulis begitu apa ya, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Serius deh, hihihi..

Oke, aku hanya mau menulis begini. Aku senang banget baca surat dari kamu. Tiba-tiba aku mengingat kembali “hari lalu” itu, yang bikin kita akhirnya DM-an, hari itu memang begitu spesial, aku juga heran, pulang siaran malam, naik angkot, lalu selewat satu nama “Dear Connie” muncul di kepalaku.

Hm. Aku lalu berpikir “loh nama Dear Connie ini kan memang ada di twitter, lah urusan gue sama dia apa? kenal juga enggak, hihihi.."

Tapi entah kenapa, namamu terus terngiang-ngiang di kepala aku. Kalau sudah begitu itu pasti tanda.

Aku selalu percaya tanda Con. Hari itu pasti begitu spesial untukmu. Sampai aku pun diberi tahu begitu “keras” untuk semacam menghubungimu. Aneh sih, tapi aku rasa, mungkin itu adalah awal dimana kita akan membangun sesuatu ke depan.

Aku senang, aku mengikuti kata hatiku waktu itu dan berkenalan denganmu. Ah, lalu aku merasa kenapa twitter waktu itu begitu personal. Padahal harusnya twitter itu tempat aku bermain-main. Lucunya, bahkan ketika aku mau bermain-main pun semesta mengirimkanmu untukku.

Connie yang baik. Aku suka tulisan-tulisanmu yang begitu personal. Aku suka sekali caramu menggambarkan sesuatu begitu detail. Aku suka sekali tulisan tentang Tuhan di hari pertama yang begitu sederhana itu. Aku berkaca-kaca membacanya.

Waktu itu aku merasa kamu juga menulis untukku. Lihat kan, bagaimana semesta bekerja lagi untuk yang satu ini. Lalu, aku suka sekali tweetmu tentang “Papa-mu” kamu begitu luar biasa, kamu bisa tinggal dengan Papa-mu lalu melayani dan melakukan yang terbaik untuknya.

Aku terharu. Karena aku dan Papa-ku jauh.

Terima kasih untuk pertemanan digital yang aneh ini. Suatu hari, kita harus bertemu. Kita harus duduk, bercerita, lalu berpelukan.

Yuk, janjian? :D

Baik-baik ya, Connie. Mengenalmu itu semacam kebetulan. Tapi, aku tidak percaya kebetulan. Ini harusnya detail untuk sebuah gambar besar, mungkin?

LOVE.



The.  








Thursday, January 27, 2011

Surat Cinta #14: Untuk Oma Sarah

weheartit



Hai, Oma Sarah.

Saya cucu dari satu-satunya anak perempuanmu, Ruth. Entah kenapa, pagi ini saya bangun dan memikirkan tentangmu. Terus terang Mama tidak pernah bercerita banyak tentangmu. Inilah yang membuat, selalu ada rasa penasaran di hati saya.

Saya selalu bertanya-tanya seperti apa wajahmu, dulu pertama kali bertemu Opa Marthen dimana? Lalu apa yang membuatmu jatuh cinta terhadap Opa Marthen. Kita memang tidak pernah bertemu, tapi bisa jadi kita punya ikatan yang kuat. Apakah itu? saya juga tidak tahu.

Pagi ini saya bertanya kepada Mama, “Ma, masih punya foto Oma Sarah? Mirip siapa sih? Meninggalnya tahun berapa?” lalu Mama jawab “Mama punya kok, masih lengkap. Mirip kamu. Meninggalnya di Semarang 13 Maret 1957.”

Ah, ternyata wajah kita mirip. Saya lalu membayangkan secara fisik, kira-kira apa ya yang kamu turunkan kepadaku. Mungkin senyummu. Mungkin matamu. Bentuk wajahmu. Atau lainnya? Keberaniannmu.


Lalu saya membayangkan, keberanianmulah yang membawamu jauh-jauh ke Semarang menemani suamimu yang seorang Polisi dan membesarkan tiga orang anak. Terima kasih untuk kekuatanmu yang sudah engkau turunkan kedalam darah saya.

Saya tidak mengenalmu Oma Sarah ketika masih hidup. Saya juga tak punya kenangan apa-apa tentangmu. Karena memang kita tidak pernah bertemu. Tapi ada darahmu di dalam darah saya. Jelaskah membaca surat saya ini Oma Sarah? kalau tidak, mungkin Oma Sarah butuh kacamata :D


Rambutmu juga keriting kah Oma Sarah? Jangan diluruskan. Karena saya juga tidak meluruskan rambut saya. Rambut ini mengingatkan kita pada akar kita. Pasti Oma Sarah juga setuju dengan ini. Ah, salam untuk Oom Jopie, Oom Fritz, dan Opa Marthen tentunya.

Sun sayang,




Cucu perempuan bungsu dari satu-satunya anak perempuanmu, Ruth.

Theoresia Laratwaty Rumthe

(nb: nama itu dari Papa, Oma. Anak menantumu, yang selalu membuat saya bangga.)

Wednesday, January 26, 2011

Surat Cinta #13: Untuk Diary

Menyenangkan bersamamu.

Menulis lagi di diary baru. Saya menulis lagi dengan spidol warna-warni, terkadang saya mewarnainya dengan pensil warna. Menandai agenda-agenda penting saya. Sampai menandai jadwal menstruasi. Ah tentu saja yang satu ini juga penting.

Saya menulis apa saja yang saya inginkan: curhat, sedih, marah, suka, pengalaman menyenangkan. Apapun yang dapat saya tulis. Termasuk menyampah. Menyampah apapun yang saya mau. Kamu akan mendengarkan saya dengan sepenuh hati.

Kamu seperti diary.

Lalu, saya akan menulis rahasia. Kamu tahu setiap rahasia yang saya punya, saya akan menceritakannya kepadamu tanpa malu. Saya memang tidak pernah malu kepadamu. Kamu orang yang selalu membuat saya leluasa untuk bercerita.

Kamu tidak pernah men-judge saya, kalau saya ceritakan tentang perbuatan-perbuatan bodoh saya yang kalau diingat-ingat lagi akan membuat pipi saya memerah. Kamu juga rajin mendengar saya. Kamu seperti punya telinga.

Aneh kan. Kamu diary yang yang dapat mendengar saya.

Tiba-tiba kalau kamu mendengar saya, kamu seperti ingin memeluk saya. Dan kalau kamu sudah memeluk saya, saya ingin mencium bibirmu.

Jangan tertawa kalau kamu membaca ini, pesan saya: tolong jaga rahasia malam-malam kita.


weheartit


Termasuk yang di bawah selimut.








Tuesday, January 25, 2011

Surat Cinta #12: Untuk Tunggu

Kadang saya terlalu buru-buru. Terlalu cepat untuk mengambil keputusan, apapun itu. Lupa akan satu waktu yang dinamakan jeda. Jeda itu bukan penundaan. Atau sengaja berlama-lama dengan waktu. Jeda itu adalah waktu yang harusnya sengaja saya ambil untuk mendengarkan hati.

Tapi jujurlah, saya kadang malas untuk mendengarkan hati saya sendiri. Saya terlalu sibuk wara-wiri dengan segala pikiran yang saya punya, lalu lupa.

Begitu saja. Sesederhana itu.

Lupa sama suara hati sendiri. Tak punya waktu jeda. Ingin selalu memperbaiki semua semau saya. Kemudian keteteran. Tertumpuk dengan banyak sekali hal-hal – bukannya justru berkurang. Tapi setiap hari bertambah dari hari ke hari.

Ketika bangun pagi ini, badan saya begitu lengket dengan kasur saya. Tank top saya sedikit basah. Mungkinkah saya berkeringat. Atau saya terlalu kuatir sampai berkeringat. Entahlah, tapisaya merasa kamar saya panas sekali.

Saya bangun. Duduk sebentar, memejamkan mata. Lalu mulai mendengarkan hati saya.

Hm, kenapa sepi ya?


weheartit



“Hallo.”











Surat Cinta #11: Untuk "The Heart of The Matter"

Waktu saya pulang dalam keadaan patah hati. Saya banyak menangis diam-diam. Sepanjang di angkot, mata saya basah terus entah kenapa. Memangnya kenapa kalau menangis? bukankah yang aneh itu yang justru tidak pernah menangis.

Banyak gundah di hati. Lalu saya pun tidak dapat mengobrol dengan siapa-siapa. Kalau sudah begitu, yang saya lakukan adalah cepat-cepat pulang ke rumah. Ganti baju longgar. Matikan lampu kamar, lalu nyalakan CD, putarkan lagu-lagumu.

Saya akan tidur menghadap ke dinding. Menyusupkan tangan saya ke bawah bantal. Lalu tidur dengan hanya mendengarkan detak jantung di kuping saya. Memejamkan mata saya. Lalu tetap mendengarkan lagu-lagumu.

Beberapa track dari album favorit yang sering sekali saya putar. Tapi lalu ada satu lagu yang sering sekali saya putar berulang-ulang itu adalah lagu “The Heart of The Matter” dari album Testimony: vol.1, Life & Relationship.

“Forgiveness.. forgiveness.”

Kata terbaik yang saya dengar setelah itu. Kata yang menusuk hati saya, kemudian membuat mata dan pipi saya basah. Cairan hangat yang keluar dari mata saya pun bertambah banyak, tapi saya menikmatinya. Saya biarkan saja mereka.

Ketika tidak ada seorangpun yang dapat kamu ajak untuk berbagi. Ada lagu yang mendengarkanmu. Ada lirik yang memelukmu. Ada air mata yang mengecup pipimu perlahan. Lalu ada bantal untuk menyembunyikan mata bengkakmu.

“The Heart of The Matter” adalah salah satu judul lagu yang akan selalu saya putar. Berulang-ulang. Ketika saya mau mengampuni dan terlalu berat untuk melakukannya.


weheartit


Terima kasih India Arie, mengajarkan saya untuk melakukannya.

Sunday, January 23, 2011

Surat Cinta #10: Untuk Mas Edi & Mbak Evi


weheartit.

"menjadi manis sampai tua. Tidak berhenti melakukan hal manis seumur hidupmu.
Lalu menularkannya kepada orang lain."





Untuk surat Cinta Hari ke-10 saya akan menulis kepada hal manis yang saya alami. Sekitar dua hari yang lalu, saya menerima message di inbox FB saya isinya kira-kira begini..

“Theo, kamu dimana. Aku telpon kenapa gak masuk? Aku butuh beli buku kamu nih..”

Pesan itu dikirim oleh Edi Omen, seorang pekerja Bank yang mencintai fotografer dengan segenap hatinya. Kebetulan Mas Edi, begitu saya memanggilnya pernah juga memotret saya untuk sebuah project fotonya.


Tentu saja message itu langsung saya balas dengan cepat. “Sorry mas Edi, hape saya memang sedang error. Jadi off hape dulu. Tapi kalau mau bertemu, yuk..besok kita bisa janjian.”

Kurang lebih seperti itulah saya membalasnya. Di dalam hati, saya kegirangan. Bayangkan ada yang mencarimu hanya untuk membeli karyamu, itu seharusnya suatu kehormatan. Sebagai tukang bikin karya, mungkin apa yang saya buat itu belum apa-apa. Tapi apresiasi orang lain itu seperti api – selalu membakar.

Besoknya, dengan kondisi hape masih rusak. Saya meminjam hape teman saya, lalu meng-sms mas Edi untuk janjian di tempat yang telah ditentukan. Saya belum mandi. Karena itu adalah hari libur, hanya menggunakan celana pendek, sweater seadanya. 

Saya datang ke tempat yang dituju. Ternyata di sana Mas Edi datang bersama istrinya Mbak Evi, setelah berkenalan dan ngobrol-ngobrol sebentar. Akhirnya saya tahu kalau hari itu adalah hari ulang tahun perkawinan mereka yang ke-17.

“Iya Theo, jadi hari ini HUT perkawinan kita yang ke -17. Anak-anak tinggal di rumah, Kita ngerayainnya, ya gini..naik angkot berdua. Hm, kemungkinan sih nggak pulang..” Mas Edi melanjutkan kalimatnya dengan kerlingan mata nakal :D

“Ah. Sweet.” Pekikku tertahan. Bukankah itu adalah hal manis teman? merayakan HUT perkawinan yang ke-17, naik angkot berdua, lalu melakukan segala sesuatu berdua saja. Oke, pointnya adalah menjadi manis sampai tua. Tidak berhenti melakukan hal manis seumur hidupmu.

Lalu menularkannya kepada orang lain. Kepada saya dan kamu yang membaca posting ini.

Mas Edi dan Mbak Evi, Happy anniversary! Selamat mencicipi manisnya hari ini. Kalaupun ada yang pahit, jangan diludah, telan saja. Itulah keseimbangan hidup ini. Lalu selamat "nakal" malam nanti. 

Surat cinta ini buat kalian. Eh, selamat menikmati buku saya juga ya. 

LOVE.

The.

Saturday, January 22, 2011

Surat Cinta #9: Untuk Husky dan Jacob

Sekarang pukul 2:27 subuh dan saya menulis ini. Kalian berdua sedang mengendus-endus depan pintu kamar saya. Padahal tadi saya sudah keluar sebentar, bermain, sun hidung kalian sedikit, mengelus-elus kepala, menatap mata, dan berbicara.

“Husky Jacob, jangan masuk kamar ya. Itu kaki kotor-kotor begitu.”

Kalian mengerti. Ah, anjing baik.

Husky, kesenanganmu adalah kalau pintu kamar saya dibuka lebar-lebar. Pasti kamu langsung berlari dengan cepat-cepat lalu melompat dengan bebasnya di atas bed-coverku, dengan kaki kotormu. Saya hanya meringis, melihat totol-totol kaki dan lumpur kotor di atas bed-coverku.

Dan tidak bisa marah. Begitu saja, saya hanya menyuruh kamu turun. Lalu kalau kamu tidak mau turun saya akan menarikmu pelan.

Sedangkan Jacob, saya tidak tahu jenismu. Tapi saya ingat gonggonganmu yang kecil itu. Kedua kaki belakangmu yang sedikit bengkok ke luar. Lalu badanmu yang berat sehingga kadang membuat dirimu susah berlari.

Jacob, saya suka matamu. Kadang kalau saya terlalu lama-lama menatapmu Husky akan cemburu. Kemudian menggigiti badanmu. Atau sengaja menaiki badanmu. Dasar Husky nakal!

Husky ganteng dan Jacob yang lembut. Saya menyayangi kalian dengan cara yang berbeda. Kalian pun demikian. Kalian selalu tahu siapa yang menyayangi dan siapa yang tidak.

Kalau saya sedang menulis. Kalian kadang menemani. Duduk, menjilati Graciella (netbook saya) seperti sedang memberi semangat kepada saya. Kalian anjing yang manis. Kelak saya akan punya anak anjing sendiri, semoga kalian tidak cemburu, saya tetap menyayangi kalian kok.

Sudah pagi, tak ada gonggongan lagi. Kalian pasti sudah tidur. Tidur yang pulas ya Dek!



saya baru sadar, belum punya foto kalian. pakai yang ini dulu ya.. (dari --weheartit)


Sun sayang di hidung dari Kakak Theiyo :D





Friday, January 21, 2011

Surat Cinta #8: Untuk Orang "Baik-Baik"

weheartit


Saya bukan orang baik-baik. Saya penjahat. Hati saya bobrok-sebobroknya. Saya penuh dengan iri. Saya melakukan hal-hal bodoh, sering mengambil keputusan yang salah. Kadang saya tidak dapat mengasihi dengan baik. Lalu saya memaki, saya menusuk teman sendiri.

Dan banyak kesalahan, yang kalau saya jelaskan panjang lebar di sini kamu pasti tidak percaya kamu melakukannya. Lalu hari ini, ketika saya pulang dengan hati saya yang sedang tidak “baik-baik” ini, saya berpikir, kenapa sih semua orang selalu berlomba-lomba untuk menjadi “orang baik-baik”?

Kenapa menjadi baik itu adalah satu tujuan yang ingin orang-orang capai. Seakan setiap orang berlomba-lomba melakukannya, ibarat tukang motivator yang pekerjaannya adalah selalu memberi kata “baik-baik”, memotivasi, mengangkat tinggi-tinggi dan lain sebagainya.

Lalu tiba-tiba para tukang motivator itu membohongi hatinya sendiri, karena ternyata apa yang keluar dari mulutnya itu tidak sesuai dengan hatinya. Ia hanya berbohong di mulutnya supaya menyenangkan hati orang lain yang mendengarkannya pada saat itu.

Saya bukan orang baik. Saya tidak mau jadi “baik-baik” hanya untuk menyenangkan orang lain. Saya tidak mau ketika saya hidup saya hanya ingin mengejar sesuatu yang “baik-baik.” Apalagi ini: Saya tidak mau menjadi “baik-baik” lalu saya lupa apa itu menjadi jujur.

Jujur, hati saya sedang tidak enak. Dan saya akan mengatakannya dengan lantang kalau ada yang bertanya “apa kabar?” dengan jawaban “sedang tidak baik.” Loh, memangnya kenapa? hidup bukan hanya masalah mengejar yang "baik" bukan?

Hidup itu soal jujur.

Paling tidak jujurlah kepada hatimu sendiri.

Kalau suatu saat ada yang bertanya “apa kabar?” lalu jawabanmu adalah “baik-baik” mungkin, justru itulah saatnya kamu harus berbaikan dengan orang lain.




Thursday, January 20, 2011

Surat Cinta #7: Untuk Doda

ketika menulis ini. aku coba menengok sebentar ke dinding, siapa tahu Doda ada di sana.


Kepada yang tersayang Doda.

Hai Doda, apa kabar kamu sekarang? masih bertubuh kurus, berambut keriting dan bermata sendu. Ah, kamu sekarang juga pasti sudah dewasa. Sama seperti aku, bukankah kita seumuran. Tiga tahun dari sekarang kita akan berumur 30. 

Apa kamu masih tinggal di dinding kamar rumah Kudamati? Aku merindukanmu Doda. Kamu masih ingat pertama kali kita bertemu, aku lupa waktu itu aku umur 6 atau 7. Aku anak kecil yang terlalu aktif, aku paling tidak suka disuruh tidur siang.

Kalau disuruh tidur siang, aku selalu menghadap ke dinding. Lalu aku suka berbisik-bisik. Menirukan suara-suara, seperti sedang mengobrol. Kadang aku menjadi anak kecil, orang dewasa, ibu-ibu, siapa saja yang aku mau. Semacam bermain drama dengan diriku sendiri.

Lalu di sana, pertama kali aku melihatmu di dinding. Kamu tersenyum kepadaku. Rambutmu keriting dan gondrong. Dalam hati aku bertanya, kenapa rambutmu gondrong, padahal anak seumurmu kan harus pergi ke sekolah. Memangnya anak seumurmu tidak sekolah.

Tapi, akhirnya aku mengerti sepertinya kamu memang tidak pernah sekolah. Lalu kita bermain. Seingat aku, kamu punya rumah kecil di dalam dinding itu. Kamu lalu mengajak aku bermain di dalam dinding. Kita sering bermain drama Mama Papa. Kita sering bercerita bersama. Kita sering tertawa-tawa.

Sejak mengenalmu tidur siang selalu menyenangkan. 

Aku selalu suka tidur siang sebelum waktunya, supaya bisa bertemu kamu Doda. Sampai suatu hari, aku melihat mata sendumu itu tampak sedih sekali. Sedikit berarir. Bahumu berguncang-guncang. Aku tak tahu kenapa?

Kamu hanya pamit, bilang mau pergi.

Lalu aku ingat, aku bilang kepada Kakakku June “Ne, Doda mau pulang.”

Sejak itu, aku tidak pernah melihatmu lagi. Kemana kamu Doda? Kamu masih tinggal di dalam dinding? Atau mungkin sekarang kamu sudah menikah dan punya anak-anak yang lucu-lucu.

Aku kangen kamu, Doda.


Wednesday, January 19, 2011

Surat Cinta #6: Untuk Malam

weheartit
sewaktu menulis ini, kamar saya memang sedikit berantakan. tak ada fotonya, hm sedikit mirip :D tapi saya sudah tak sabar ingin menuliskannya



“Where are you?"

Itu adalah kalimat pendek yang cukup menusuk dan membuat saya bersemangat di malam ini. Mungkin bukan hanya itu, ada hal lain yang membuat saya begitu bersemangat. Malam ini saya tidak akan makan nasi goreng kesukaan lagi. Atau malam ini saya tidak akan bertemu Ibu-Ibu penjual bunga itu lagi.


Hanya saja saya merasa malam ini begitu spesial.

Ada keajaiban yang mendadak menjalari saya. Buku 40 ribu yang dibeli oleh Mas Wied, semacam pertanda kita akan bertemu. Tidak adanya penolakan, semacam pertanda bahwa ada sesuatu yang baik. Membaca pesanmu juga membuat saya senang seketika. Lalu, ketika dekat pun saya kembali merasakan perasaan nyaman yang masih sama.

Mendengarkan. Berbicara dan didengarkan.

Semua begitu lepas dan begitu leluasa. Mungkin itulah yang dikatakan orang jodoh. Ada perasaan yang membuatmu “nyaman” ketika kamu berada begitu dekat dengan seseorang. Ada perasaan yang “tidak takut malu.” Ada perasaan untuk dapat bercerita “apa saja” tanpa takut di-judge.

Itulah yang saya rasa, saya dan malam ini berjodoh. Malam ini, ada yang memeluk saya begitu hangat, sehingga saya tak ingin lepas. Ketika menulis ini, saya mengambil jeda sebentar menutup mata lalu membayangkan wajahmu sekali lagi.

Kamu tahu, banyak hal yang tidak kamu ucapkan. Tapi saya bisa merasakannya.

“I just can feel you, boy.”

Tidak banyak yang dapat mengatakannya. Saya dengan lantang mengatakannya, menghantarkanmu untuk malam. Lalu, kamu akan dilindungi malam. Saya berdoa kamu juga tahu, bahwa saya adalah jodoh kamu. Walau mungkin belum sekarang.

Malam pun menghantar saya pulang. Bahkan di dalam angkot yang gelap sekalipun, saya tidak dapat menyembunyikan senyum saya yang lebar-lebar ini.


Tuesday, January 18, 2011

Surat Cinta #5: Untuk Graciella

Dear Graciella.

Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk kebersamaan kita selama beberapa bulan terakhir ini. Saya begitu senang sewaktu pertama kali pergi membelimu. Lalu saya membawa pulang kamu ke rumah dan mulai menulis. Menulis dan menulis sampai lupa waktu.

Saya menulis tentang apapun yang saya suka. Saya menulis tentangnya. Saya membuat puisi. Saya membuat konsep. Saya curhat segala sesuatu. Lalu kamu menyimpannya. Kamu menyimpan rahasia-rahasia saya dengan rapat.

Ssshhh, jangan bilang-bilang. Berapa nama pria yag telah saya tulis di dalammu. Di dalam lembar-lembar itu. Hanya kamu dan saya yang tahu, janji ya? Kalau suatu hari nanti, saya jadian dengan salah satu dari mereka, saya mau mereka juga memperlakukanmu dengan baik seperti saya memperlakukanmu.


Bilang, Amin dong! :D

Tapi akhir-akhir ini saya tidak tahu, apa yang terjadi dengan batereimu? Kalau saya sudah punya waktu yang cukup, saya akan coba membawamu ke tukang laptop, semoga mereka tahu ada apa denganmu.

Pertama kali membelimu, saya tahu kita akan berpetualang. Saya tahu kita akan menjadi besar bersama suatu hari nanti. Kamu ada di sana untuk menampung semua ide gila yang saya punya. Kamu tahu kan? kalau suatu hari nanti, saya ingin menandatangani bukuku sendiri. Ini bukan hanya mimpi saya tapi mimpimu juga. 


weheartit

Ah. Terakhir, saya suka bunyi tuts keyboardmu. Menurut saya bunyimu sexy.

Monday, January 17, 2011

Surat Cinta #4: Untuk Tuhan

Tak ada yang spesial. Senin ini saya bangun dengan perasaan biasa saja. Senin ini harus siaran. Senin ini harus latihan untuk persiapan konser. Sebelum tidur tadi malam pun saya hanya berdoa di dalam hati bahwa, semesta berikan saya damai sejahtera untuk hari ini.

Tuhan bagi saya, lebih dari sekedar menulis kata-kata cinta.

Kadang saya bahkan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untukNya, kadang saya memaki, kadang saya kesal, kadang saya memarahi, kadang saya cerewet. Bahkan kadang saya menangis tersedu-sedu di pundakNya.

Ada yang pernah merasakan pundak Tuhan, persis seperti kamu tidur di pundak pacarmu. Kekar dan hangat. Akan membuatmu merasa nyaman. Setelah nyaman di pundakNya, Dia biasanya memeluk saya. Memeluk dengan erat, kalau sudah begitu tangisan saya biasanya bertambah deras.

Hari ini seperti biasa saya berangkat siaran. Duduk di kursi angkot paling depan. Kemudian mendapati setiap hal kecil yang saya temui sepanjang hari. Senyum pengamen. Kerut wajah supir angkot. Anak abege dengan gosip pacarnya. Ibu-ibu yang gelisah menelepon anaknya. Teman kantor yang ramah. Music Director dengan film Thailandnya. Microphone. Siaran.

Ada Tuhan di setiap detail yang saya temui hari ini. Karena hari ini ada sejahtera senantiasa yang saya rasa. Tiba-tiba perut saya bunyi. Ah, bahkan hari ini saya belum makan. Selesai siaran harus latihan nyanyi tiga jam untuk konser. Ada sejahtera ketika saya bernyanyi.

Pulang dan tetap belum makan.

Tak apa, yang penting saya sejahtera, ketika saya sejahtera. Saya tahu, Tuhan selalu ada untuk saya. Apapun kondisinya.

Saya tidak perlu menulis, kata-kata manis untukNya. Bahkan saya tidak perlu pakai kata-kata "Dear God."

weheartit


Dia mahatahu. Dia tetap sayang saya, apapun kondisinya.

Sunday, January 16, 2011

Surat Cinta #3: Untuk Hujan


weheartit

Ada apa denganmu, kenapa siklusmu berubah. Rajin sekali datang subuh-subuh menginjakkan tungkai kakimu yang panjang-panjang itu di atas genteng rumahku. Biasanya kan, kamu datangnya sore hari. Meleleh di jendela. Menyusup lewat gorden coklat tua. Merembes melalui dinding-dinding kamarku.

Jangan ngambek kalau aku menulis begini. Tak ada yang salah dengan kedatanganmu kok. Aku selalu suka kalau dikunjungi kamu kok. Lagipula sudah lama kita tidak berbagi cerita.

Hujan, aku mau tanya, apa yang akan kamu lakukan kalau kamu masih sayang sama seseorang? Padahal sudah sekian lama ini, kalian tidak bertemu. Hanya saja, kamu masih punya deg-degan yang sama kalau ingat dia. Kamu masih punya senang kalau mengingat hal manis tentangnya.

Ketika menulis ini. Tiba-tiba rintik di luar. Aku menengok jam di layar hape bututku, jam 4 pagi dan hujan sudah datang lagi. Nah, baru juga aku menulis tentangmu di sini. Aku turun dari tempat tidur menemukan jendela, tempat aku mengintip kaki-kaki hujan yang panjang.

Lalu di sana. Aku melihat semacam tulisan di jendela kamarku. Huruf-huruf kecil dan tidak beraturan. Aku memincingkan mataku sedikit, lalu melihat semacam inisial namamu di sana. Aku sedikit kaget. Mundur sedikit. Betul, hujan menulis inisial namamu, sayang.

Hujan subuh ini. Aroma tubuhmu. Biasanya kita tidur berdampingan lalu berpelukan. Hei, di surga subuh begini, kamu sedang apa?

Mataku basah. Bukan karena hujan.

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...