Thursday, September 11, 2014

Sedikit Cerita Tentang Lupita Nyong'o














Ketika hendak bercerita tentang Lupita Nyong’0 tentunya saya dan kamu akan balik lagi dan menonton 12 Years A Slave. Film pertama yang ia bintangi dan kemudian membuat Lupita mendapatkan banyak sekali penghargaan sebagai pemeran pembantu di sana. Lahir pada tanggal 1 Maret 1983. Lupita punya seorang ayah seorang politikus di Kenya. Tentu saja ketika melihat sosok Lupita, tidak heran saya langsung menebak bahwa ia adalah seorang perempuan dari keluarga yang terpelajar dan punya hubungan yang sangat baik dengan ayahnya.

Ketika Lupita mendapatkan perannya di 12 Years A Slave, orang yang pertama kali ia telepon adalah ayahnya. Ia berkata pada saat itu bahwa “Ayah tahu Brad Pitt? Saya akan tampil di layar bersama dengan dia.” Dan ayahnya menjawab “ya, saya tidak kenal Brad Pitt secara personal, tapi saya senang kalau kamu akhirnya mendapatkan pekerjaan.”

Pada akhirnya saya mendengarkan banyak sekali interview Lupita di Youtube. Dan mencari apa sebenarnya yang paling menarik darinya, selain ia adalah lulusan dari Yale School of Drama. Ternyata Lupita mendapatkan telepon untuk audisi dari Steve Mcqueen (sutradara dari 12 Years A Slave) sebelum ia lulus. Lupita memutuskan untuk mengikuti audisi tersebut dan kemudian mendapatkan perannya. Tetapi ternyata jauh sebelum akhirnya ia mendapatkan peran dalam 12 Years A Slave, Lupita pernah bekerja sebagai asisten produksi, dan ketika bekerja sebagai asisten produksi, Lupita harus mengantarkan kopi kepada beberapa artis yang terlibat di dalam film tersebut.

Dalam pidato dan beberapa interviewnya, ketika Lupita ditanya bagaimana ia akhirnya bisa mengeluarkan karakter Patsey ketika bermain di dalam 12 Years A Slave ia akan menjawab dengan salah satu kutipan dari penyair Khalil Gibran “The deeper sorrow carves itself into your being, the more joy you can contain.”

Ia bercerita tentang bagaimana akhirnya ia membaca karakter Patsey lalu menangis dan menangis di dalam hotelnya. Saya membayangkan Lupita memang benar-benar melakukan tugasnya sebagai aktris ketika ia memerankan Patsey. Ia benar-benar menegeluarkan kualitas terbaik dari Patsey ketika memerankan 12 Years A Slave.

Saya memperhatikan Lupita, selain cerdas, ia adalah perempuan yang percaya diri dan penyayang. Sangat kelihatan dari caranya berbicara. Dan hal-hal yang berhubungan dengan percaya dirinya adalah karena Lupita punya hubungan yang baik dengan ayahnya. Oh, tapi bukan hanya itu, Lupita, mendapatkan kepercayaan penuh dari kedua orang tuanya untuk mengejar apa yang menjadi  panggilan hatinya.

Saya senang menuliskan tentang Lupita. Saya tidak punya alasan kenapa saya harus menulis tentang dia, yang saya tahu saya hanya harus menulis tentangnya. Lalu akhirnya saya menemukan jawabannya, ada sebuah kutipan dari Lupita, ia bilang “personally, I don't ever want to depend on makeup to feel beautiful.”


Bukankah Lupita adalah lambang dari kecantikan yang sebenarnya, apa yang tampak sekaligus apa yang tidak tampak?

Wednesday, September 10, 2014

Sedikit Cerita Tentang Minggu Minggu Ini







Sudah hampir dua bulan ini saya tidak lagi siaran. Itu artinya saya sudah tidak terlibat lagi dengan “sistem perkantoran” dan sekarang benar-benar menjadi freelance. Selama tidak siaran, saya mengajar. Fase ini saya sebut dengan fase “memperlambat hidup” karena saya sedang ingin lamban dan tidak ingin tergesa-gesa di dalam hidup.

Ada masa-masa di dalam hidup, dimana kita memang tidak perlu terburu-buru. Dan fase itulah yang sedang saya rasakan saat ini. Pernah pada suatu pagi saya bangun, lalu saya lupa bahwa hari ini adalah hari apa, dan saya harus melakukan apa. Lupakan dulu sejenak. Karena yang terjadi adalah saya bangun malas-malasan, kadang-kadang tidak mandi, lalu pergi ke tempat favorit  saya untuk ngopi, kemudian menghabiskan waktu saya seharian di sana untuk membaca buku.

Dan itu sangat menyenangkan. Karena ada perasaan “penuh” di dalam dirimu. Akhirnya membuat saya berpikir bahwa ada satu momen di dalam hidup, dimana kita memang tidak perlu “melakukan apa-apa” hanya menikmati hidup dengan sebagaimana adanya saja. Mengikuti aliran hidup kita. Oh, bukan berarti saya tidak bekerja sama sekali juga. Saya masih menulis. Saya mengajar juga. Yang hendak saya sampaikan di sini adalah bagaimana ada rasa berani untuk “lebih menikmati hidup” sebagaimana mestinya. Tidak ada beban. Tidak ada tanggung jawab kepada siapapun, melainkan hanya kepada diri sendiri.

Ada beberapa hal yang kemudian saya catat. Dengan pada akhirnya keluar dari pekerjaan sebaga penyiar radio, bukannya meninggalkan mimpi atau passion. Tapi justru break sejenak, sebelum akhirnya melakukan sesuatu yang lebih besar. Saya merasa seharusnya passion tertinggi di dalam hidup manusia, yaitu berbagi.

Kenapa berbagi? Ada hal penting yang kemudian saya sadari bahwa, setinggi apapun kita berlari untuk mengejar “mimpi” kita, tetapi jika kita tidak berbagi, sama saja dengan hidup kita tidak berisi apa-apa. Pada akhirnya “mengajar” menjadi pilihan saya pada saat ini. Karena dengan mengajar saya bisa berbagi sepenuhnya.

Saya akan ceritakan sedikit kepadamu tentang pengalaman mengajar public speaking saya kepada teman-teman difabel. Dalam hal ini beberapa diantara mereka menderita cerebral palsy, tuna rungu, tuna netra. Pengalaman yang menarik ketika mengajar mereka. Saya tidak hanya berbagi ilmu dengan mereka melainkan saya juga belajar banyak dari mereka. Ketika mengajar teman yang tunan rungu, tantangannya adalah saya harus bisa membaca gerak bibirnya, karena saya tidak belajar bahasa isyarat sebelumnya. Sedangkan jika mengajar teman-teman yang cerebral palsy, saya harus selalu mendorong mereka untuk selalu ada di dalam posisi stand by. Karena posisi badan mereka yang tidak bisa tegak lurus.

Hal lainnya yang saya temukan ketika mengajar teman-teman yang difabel ini adalah mereka nyaman dengan diri mereka. Mereka tidak melihat kekurangan fisik mereka sebagai kekurangan. Dibandingkan dengan kita yang katanya “normal” kita malah seringkali terganggu dengan keberadaan fisik kita.

Tetapi lebih daripada apapun, berbagi adalah hal yang menyenangkan. Saya menulis di akun instagram saya pada suatu hari:

Beberapa minggu terakhir ini saya mendefinisikan banyak. Termasuk kata "bahagia" sejujurnya saya bukan orang yang sukar untuk bahagia secara sederhana, seperti melihat sore hari, langit merah, kadang-kadang sudah bikin hati saya berbunga-bunga luar biasa. Lalu saya sampai pada sebuah pertanyaan apa yang paling bikin kamu bahagia? coba hening sejenak, lalu berpikirlah. Setelah lama, akhirnya saya menemukan definisi tertinggi dari bahagia adalah ketika saya berbagi. Titik. Berbagi bukan hanya materi (karena mungkin saya tidak akan mampu) tetapi berbagi pengetahuan, kemampuan, energi, semangat, kesegaran, daya juang, daya tahan, kasih sayang, senyuman, apapun yang sudah diberikan kepada saya cuma-cuma, saatnya saya bagikan itu kepada orang lain.

Sudahkah kamu berbagi?

Friday, August 29, 2014

Mochtar Lubis, Manusia Indonesia (sebuah pertanggungan jawab)









Apalah saya jika harus menulis tentang Mochtar Lubis. Saya menemukan bukunya pada rak buku di kineruku, tempat saya  biasa meminjam buku. Sebuah buku kecil, dengan warna halaman yang sudah mulai kekuning-kuningan, dan ada beberapa halaman yang sudah hampir copot dari bukunya.

Saya membacanya dan menemukan semua pemikiran yang cerdas yang diutarakan Mochtar Lubis dari awal sampai akhir. Saya tidak dapat menemukan kata lain selain cerdas. Saya tidak heran ketika menemukan bahwa, ia belajar beberapa bahasa secara otodidak. Tidak hanya itu kemampuan jurnalistiknya juga ia peroleh secara otodidak. Jelas sekali bahwa seorang Mochtar Lubis punya kecerdasan di dalam darah.

Selain itu ia begitu lugas. Ia tipe orang Sumatra yang berbicara tidak bertele-tele, dan menyampaikan apa yang ia yakini dengan sangat lurus. Membaca Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia (sebuah pertanggungan jawaban) ada 3 perspektif yang saya dapatkan:

1. Mesin Waktu. Ada hubungan yang cukup akurat ketika ia menulis buku ini di tahun 1977 dan masih terasa relevansinya di tahun 2014. Saya membaca tulisannya lalu di dalam hati ada jawaban “Ya” dengan lantang. Bahwa saya setuju dengan sudut pandangnya tentang generasi muda pada jaman itu, dan juga terhubung dengan generasi muda jaman sekarang. Saya merasa bahwa, jangan-jangan, kami generasi muda Indonesia, tidak bertumbuh. Jangan-jangan, kami generasi muda Indonesia, hanya mengulangi pola leluhur  kami, yang bermalas-malasan, ongkang-ongkang kaki, tidak punya daya tahan, tdiak punya daya juang, mau enaknya saja, mau sukses, tetapi lupa bekerja keras. Saya takut bahwa jangan-jangan kami generasi muda Inonesia memang tidak kemana-kemana, kami mengatakan diri kami “keren” padahal sungguh kami ini hanya sampah yang suka “memegahkan” diri sendiri.

2. Membongkar pencitraan. Ia juga membongkar wajah kami generasi muda yang sebenarnya. Ketika saya membaca buku ini, saya juga mendapatkan kesan bahwa, sebenarnya tulisan ini dikhususkan untuk kami, generasi muda pada jaman ini, yang senang bermain sosial media, dengan memamerkan segala “keberhasilan” kami yang fana di path. Mengunggah foto-foto perjalanan kami di facebook, atau menuliskan status-status “absurd” di twitter demi pencitraan, juga dalam rangka mendapatkan jumlah “follower”  atau memosting quotes di instagram, tanpa penghayatan yang dalam terhadapnya. Sungguh kami ini babi-babi licik.

3. Pada halaman 88. Ada poin ke-3, ia menulis bahwa: ...”kita melihat betapa perlunya kita belajar memakain Bahasa Indonesia secara lebih murni, lebih tepat dalam hubungan kata dengan makna, yang mengandung pengertian, kita harus belajar menyesuaikan perbuatan kita dengan perkataan kita.” Sesungguhnya ketika membaca bagian ini, saya langsung ingat bahwa saya adalah generasi muda kekinian yang sudah lupa kepada seni percakapan mata dengan mata, daging dengan daging, membaui lawan bicara saya, karena percakapan kita sudah semakin minim, melalui email, sms, chat, whatsapp. Bahwa kami adalah korban teknologi yang kemudian mengubah kami menjadi robot. Tidak hanya robot, kami juga suka menggunakan bahasa Inggris. Padahal kami lupa bahwa Bahasa Indonesia cukup keren.


Intinya, jika kamu generasi muda yang kekinian. Kamu harus baca buku ini. Saya percaya jika Mochtar Lubis adalah orang Maluku, ia akan menulis begini: Generasi muda itu musti banyak baca buku. Jang pambodok macang karbou! (Jangan bodoh seperti kerbau!)  

Wednesday, August 27, 2014

Kolaborasi Journ(al)ey Dan Perempuansore





Akhirnya jurnal seri #1 quotes perempuansore “menulislah dan jangan bunuh diri!” 

berkolaborasi dengan Journ(al)ley (handmade) selesai sudah, silakan pesan!











Harga 60.000 (belum termasuk ongkos kirim)
Silakan pesan dengan cara email ke perempuansore@yahoo.com dengan format : nama - alamat - nomer telepon

Ditunggu! 


Sunday, August 24, 2014

Kenapa Membaca Buku Anak-anak Selalu Menyenangkan










Adalah sebuah kisah percintaan antara seekor tikus dan seorang Putri, Pea namanya. Saya membayangkan pada suatu hari Desperaux dan Pea duduk-duduk pada sebuah taman, lalu Desperaux memberikan bunga kepada Pea, kemudian mencium tangannya dengan penuh cinta. Lalu mereka mulai menceritakan petualangan petualangan apa yang akan mereka lakukan.

Tapi tentu saja, kisah yang sebenarnya harus kamu baca sendiri. Saya tidak suka spoiler. Saya hanya akan menuliskan kepadamu apa yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Saya akan membagi perasaan-perasaan saya kepadamu: 

(1) Saya sedang bosan dengan cerita-cerita orang dewasa. Cerita anak-anak, dalam beberapa hal sangat menarik bagi saya. Alasannya sederhana: di dalam jiwa saya dan kamu ada anak kecil yang tidak pernah dewasa. Dalam rangka itulah saya ingin memelihara jiwa anak-anak di dalam saya.

(2) Ada kalanya percintaan orang dewasa begitu membosankan. Menurut Haruki Murakami, tidak perlu menciptakan tokoh laki-laki dan perempuan di dalam ceritamu. Karena, disengaja maupun tidak disengaja, tokoh laki-laki dan perempuan itu akan bercinta tanpa disuruh. Itu memang sudah semestinya. Yang membosankan adalah ini, cerita orang dewasa, laki-laki dan perempuan akan berakhir dengan bercinta. Sedangkan cinta anak-anak, tidak. Mereka murni. Mereka ingin melakukan sesuatu kepada pasangannya tanpa ada embel-embel “tempat tidur” pada akhirnya. Itulah yang dilakukan Desperaux kepada Putri Pea.

(3) Saya selalu menyukai petualangan. Di dalam diri setiap anak ada jiwa petualangan. Sedangkan orang dewasa, jiwa itu seakan menciut. Tidak ada lagi rahasia bagi orang dewasa. Tetapi bagi anak-anak, selalu ada rahasia, selalu ada petualangan.


Lalu saya akan mengakhiri tulisan ini dengan bukankah cinta itu adalah sesuatu yang kuat, indah, sekaligus konyol. Tentu saja Desperaux dan Putri Pea tidak akan menikah. Lagipula, mana mungkin seekor tikus akan menikahi seorang putri, seorang manusia. Anak-anak pun akan mengerti itu. Selamat membaca! 

Thursday, August 21, 2014

Deadline dan Burger King






Saya bukan pemakan fast food. Tetapi dengan kesibukan menulis yang banyak akhir-akhir ini, saya sering bosan makan menu yang itu-itu saja. Dan menginginkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang asin. Sesuatu yang pecah di dalam mulut. Tetapi tentu saja lezat dan tidak terlalu berat.

Di sisi yang lain saya sangat menggemari keju. Bahkan jika makanan apapun yang dilaburi keju, saya bisa dengan cepat menghabiskannya. Akhir-akhir ini saya punya beberapa deadline menulis yang harus saya selesaikan. Jadwal menulis saya pun biasanya, ketika malam jelang pagi. Karena sepi. Dan pada waktu itulah saya merasa otak cukup tenang untuk berpikir.

Dan satu fakta lagi, saya suka sekali ngemil sambil menulis. Entahlah mungkin ini bukan contoh yang bagus buatmu, karena akan gampang membuat gemuk. Haha. Tetapi fakta lainnya, ngemil membuat saya sangat lancar menulis. Haha. Semuanya berkesinambungan. Sambung menyambung seperti rantai kehidupan.

Ketika itulah saya menemukan Burger King. Suatu hari ketika hendak pulang dari latihan bernyanyi, saya teringat bahwa pada malam itu juga saya harus menyelesaikan deadline. Iseng-iseng saya pergi ke Burger King untuk melihat apakah ada seuatu yang lezat yang bisa saya bawa pulang sebagai cemilan. Mata saya terpaku pada menu yang menggantung dan mencari kata “keju” atau “cheese” yang bisa saya temukan. Karena sudah pasti hal itulah yang akan saya beli.

Whopper Beef Bacon Cheese. Mata saya terpaku sejenak. Sebelum akhirnya memesannya. Air liur saya sudah menetes. Sama sekali tidak sabar. Tetapi saya harus menunggu. Dan berpikir-pikir untuk memesan sesuatu yang lain. Dan kemudian Chicken Fries oke juga.

Jadilah saya membawa pulang sekantong pesanan saya ke rumah. Sesampainya di rumah dengan sigap saya membuka laptop saya, mengeluarkan pesanan saya tadi: Whopper Beef Bacon Cheese dan Medium Onions Rings dan menikmati mereka perlahan-lahan. Saya suka tekstur roti dari Burger King. Tebal sekaligus empuk. Dan ketika dimakan bersamaan tanpa harus dipotong kecil-kecil, justru di situlah kenikmatannya. Saya menemukan beberapa tumpukan daging. Dua helai daging sapi. Dan keju diantaranya. Rasa keju hangat bercampur dengan daging sapi di mulut membuat, saya langsung melahapnya sampai habis. Tidak lupa menambahkan sedikit saus sambal akan menambah cita rasanya.

Medium Onion Rings dengan mayonaise adalah hal terakhir yang saya nikmati. Rasa ayam bercampur dengan kentang juga tidak kalah gurih. Tentunya tidak lupa saya meminta ekstra mayonaise. Karena saya adalah penggemar mayonaise juga.

Deadline malam itu berakhir dengan penuh semangat.

Jika kamu memilih makan di tempatnya, Burger King juga adalah tempat yang asik untuk dipakai makan beramai-ramai, terletak di PVJ Mall, Resort Level #A-16 & Sky Level #05C, Bandung ini sangat representatif.

Dan ada satu lagi, jika memang kamu sama sekali tidak memiliki waktu untuk datang ke Burger King secara langsung, kamu bisa memesannya secara online melalui foodpanda. foodpanda merupakan delivery makanan online, selain di bandung, foodpanda juga ada di beberapa kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Bali, Medan dan Makassar. Untuk pengguna baru seperti saya, ada diskon voucher sebesar Rp. 30.000, sangat menguntungkan dan mudah jika saya lapar malam-malam dan malas untuk pergi ke restoran dan bisa juga mendownload aplikasinya di sini, untuk apple store, google play atau windows store.


Selamat mencoba! 

Wednesday, August 20, 2014

Membaca Dongeng Ayu Utami






Beberapa buku yang tidak boleh dilewatkan adalah seri Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, Lalita, dan Maya. Dongeng dan Ayu Utami seperti tidak terpisahkan. Kesukaan saya akan mitos seperti mendapatkan “ruang.” Ayu yang pandai bercerita selalu menimbulkan kegemaran saya berimajinasi tentang Jawa dan hal-hal eksotis lain di sekitarnya.

Beberapa hal yang saya catat dari tulisan-tulisan Ayu adalah pertama ia selalu menjadikan apa yang dianggap orang tidak indah, menjadi sesuatu yang indah. Apa yang tidak dipandang oleh orang lain, menjadi dipandang. Apa yang tidak berharga, menjadi berharga. Ia mendadak seperti Yesus, selalu memilih apa yang hina bagi dunia dan menjadikannya mulia.

Hal ini menjadikan karya Ayu layak dibaca, karena ia tidak pernah ikut ramai. Apa yang cantik baginya, bisa jadi tidak bagi kebanyakan orang. Apa yang indah baginya bisa jadi tidak indah bagi kebanyakan orang. Tetapi ia tidak peduli. Justru di situlah yang membuat ia menonjol. Dengan karakter-karakter yang dibangun berdasarkan rasa keterbelakangan. Jadi setiap orang yang merasa “berbeda” mendapat tempat.

Kedua. Kekuatannya membangun sebuah cerita. Saya selalu mengibaratkan penggalan kata yang ada di dalam halaman-halaman novelnya terbuat dari putih telur, yang konon itulah yang melengketkan batu-batu yang menjadi sebuah candi. Mereka begitu kuat. Sehingga bertahan berabad-abad. Kekuatannya justru terlihat pada dasar bangunannya. Sebelum melihat kepada bumbungan dari bangunan tersebut.

Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, Lalita, Maya, hanya sebagaian kecil dari rasa kokoh itu. Sampai akhirnya kita akan dikejutkan lagi dengan seri-seri lainnya. Selamat menunggu!