Sunday, April 2, 2017

(Semacam Ulasan) Buku Burial Rites, Hannah Kent









*Kadang aku serasa melihatnya kembali—rumah pertanian itu, terbakar dalam gelap. Kadang aku bisa merasakan perihnya musim dingin di paru-paruku, dan sepertinya aku melihat lidah-lidah api itu terpantul di samudra, airnya begitu aneh, kerlap-kerlip oleh cahaya. Malam itu aku sempat menoleh sejenak. Aku menoleh untuk mengamati api itu, dan andai kujilat kulitku, masih bisa kurasakan asinnya. Asap itu. Dulu tidak selalu sedingin ini. Aku mendengar bunyi langkah kaki.

Adalah sebuah prolog. Kemudian aku melihatnya. Ia berambut hitam panjang. Tubuh kurusnya tersingkap dari lengan dan tulang pipinya yang mencuat sedikit. Ia sedang duduk dan melihat ke jendela. Sementara udara di luar berdentum menghantam jendela. Musim dingin yang berat belum berakhir.

“Agnes, bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya menjelang kematianmu sendiri?”

Aku memberanikan diri bertanya kepadanya. Ia tidak bergerak dari tempat ia duduknya sama sekali. Ia masih melihat ke jendela. Temaram sinar bulan yang memantul ke tumpukan salju di pekarangan, membuat malam itu tidak terlalu pekat.

“Aku.. aku belum siap.” Jawabnya perlahan, ia lalu mengembuskan nafasnya pelan.

Aku mendengarkan embusan nafasnya. Berat. Kali ini ada jeda di antara kami. Kemudian aku merasakan ruangan di Stora-Borg itu kini melayang-layang.

“Aku, aku belum siap..” ia tiba-tiba melanjutkan kalimatnya, “tapi satu hal yang mungkin menyenangkan adalah bertemu dengannya.”

“Natan, maksudmu?” tanyaku kemudian.

Ia  menjawabku hanya dengan mengangguk.

** “Di Geitaskard kami suka berjalan-jalan di salju pada saat-saat senja, dan salju itu berdecit di bawah injakan kaki kami. Pernah, sekali waktu, aku terpeleset di salju, dan kusambar lengan Natan hingga dia hilang keseimbangan. Kami tergelimpang bersama-sama, tertawa-tawa, dan di tanah ia mendorongku hingga telentang, sehingga kami tengadah memandang bintang-bintang di atas sana. Dia menyebutkan nama-nama rasi bintang itu untukku.”

Agnes kini memalingkan wajahnya dan melihat lurus ke arahku. Aku yang sedari tadi tidak pernah melihat matanya secara langsung ketika bicara, kini agak merasa sedikit gelisah. Aku lalu menggeser pantatku di kursi dan membetulkan posisi dudukku.

Kini, mataku langsung melihat ke arah matanya, dan menajamkan telinga untuk mendengarkan ceritanya selanjutnya. Sementara deru angin masih saja memburu di luar, aku menunggu Agnes melanjutkan ceritanya kembali.

Ia lalu melanjutkan ceritanya, “menurutmu, ke sanakah kita akan pergi setelah kita mati?” tanyaku kepada Natan waktu itu. “Aku tidak percaya ada surga,” Natan kemudian berkata kepadaku.

Ruangan itu lengang lagi untuk beberapa saat. Tapi kini terasa ada sesuatu yang mencair di dalamnya. Rasanya seperti menggenggam salju pada kedua telapak tanganmu, cairan dingin itu mencair di telapak tanganmu, meninggalkan rasa gemetar kemudian.

Untuk pertama kalinya aku merasakan sebuah kesunyian. Kesunyian yang aneh.


***


Apa yang membuat saya berdegup kencang kepada buku sungguh aneh—biasanya sebelum membeli, buku-buku itu tampak memanggil saya. Ketika saya menyentuh, memegang punggung mereka, membaca sekilas bagian sinopsis, saya biasanya jatuh cinta duluan dengan tema yang diangkat. Saya tidak akan melewatkan membaca halaman hak cipta terjemahan dan sebagainya, kemudian dilanjut dengan membaca halaman persembahan. Tema-tema menyenangkan bagi saya, salah satunya tentang: kematian.

Saya menghabiskan buku ini di dalam kereta menuju Solo. Saya bertemu dengan Agnes di dalam kepala saya. Hannah Kent menggambarkan Agnes dengan metaforanya sendiri. Bahwa menghadapi sebuah kematian, bukanlah sebuah perkara yang gampang, karena menghadapi mati adalah persoalan yang berbeda daripada menghadapi hidup. Tak ayal lagi, Burial Rites, kemudian memenangkan sejumlah penghargaan.

Satu hal yang juga sangat berarti dan mesti diberikan penghargaan adalah, Tanti Lesmana, terima kasih sudah menerjemahkannya dengan sangat mumpuni. Termasuk metafora-metafora yang sangat mewakili. Seperti kalimat-kamlimat ini: “aku ingin memetik langit sekepal-kepal dan memakannya.”

Bagi yang menyukai metafora yang (tidak biasa) mungkin akan menyukai buku ini.



-
* bagian epilog
** bagian percakapan Agnes dengan Natan di halaman 269.


Saturday, April 1, 2017

APRIL: Selamat Merayakan Kesenangan-Kesenangan Kecil











Setiap orang pasti punya satu kesenangan kecil di dalam dirinya, yang jika dilakukan olehnya, akan membuat orang tersebut bahagia. Itu hanya satu kesenangan kecil. Bayangkan, jika di dalam diri tiap orang ada berpuluh-puluh kesenangan kecil, maka betapa bahagianya orang tersebut.

Namun persyaratannya sederhana saja, kesenangan kecil tersebut harus dinikmati penuh. Ada sebuah buku yang berjudul, The Little Way of Hygge, the danish way to live well, yang ditulis oleh Meik Wiking. Buku ini membahas tentang kebahagiaan yang dimaknai oleh orang-orang di Denmark. Dan mengapa pada akhirnya Denmark disebut sebagai negara paling bahagia di dunia.

Hygee (dibaca: hyu-gah) adalah sebuah konsep yang dipakai oleh orang Denmark untuk kemudian (bisa dikatakan) menjadi bahagia. Menurut buku tersebut, ‘Hygge has been translated as everything from the art of creating intimacy to cosiness of the soul to taking pleasure from the presence of soothing things.’

Jika diterjemahkan dengan bebas, maka dapat dikatakan seperti ini, Hygee adalah sebuah seni untuk menciptakan suasana intim bagi kenyamanan jiwa untuk menikmati kesenangan dari keadiran hal-hal kecil yang menenangkan.

Masih ingat dengan hashtag #bahagiaitusederhana yang sering kita pakai? konsep Hygee ini juga mengajak kita untuk menikmati kesenangan-kesenangan kecil sehingga ada sebuah rasa penuh di dalam dan membuat kita bahagia.

Kesenangan-kesenangan kecil ini dapat berupa: menulis di dalam temaram lampu, menikmati kopi di pagi hari sambil menghirup aroma rerumputan, berlama-lama duduk di kloset dan melihat semut-semut berjejer di dinding, membaca buku pelan-pelan dan menikmati setiap visual yang muncul di kepala, berciuman dengan kekasih dan menikmati lembut bibirnya, mengamat-amati kelopak matanya ketika sedang tidur, memakai lipstik merah untuk sebuah hari yang rasanya tawar, duduk di dekat jendela angkot dan menikmati setiap hiruk pikuk di jalan, mengobrol intim dengan kekasih tentang hal-hal yang akan dilakukan ke depan, atau tertawa.

Semua hal di atas ini (dan akan dapat bertambah lagi) jika dilakukan dengan penuh-penuh, dengan sebuah kesadaran akan kualitas, maka dapat dijamin bahwa #bahagiaaitusederhana bukan hanya sekedar hashtag.








Tuesday, March 28, 2017

Molucca Project: Sebuah Proyek Merayakan Kegairahan










Jelang ulang tahun ke-dua Molucca Project, saya mewawancarai beberapa anak muda Maluku yang memiliki kegairahan melakukan hal-hal kecil yang mereka cintai. Molucca Project adalah sebuah platform untuk belajar mengapresiasi apa yang kecil. Mengapresiasi kegairahan. Merayakan sesuatu yang tidak kelihatan. Bukan apa yang besar. Sesuatu yang juga disebut sebagai sebuah keyakinan. Sesuatu yang kemudian darinya saya belajar.

Media sosial dengan hal-hal yang terlalu kini, itu bagus, tapi terkadang membuat lupa bahwa sesuatu yang berada di dalam dan tidak populer itu ternyata jauh lebih penting. Karena sesuatu yang berada di dalam, yang bernama kegairahan itulah yang kemudian memelihara.

Baru-baru ini saya menonton sebuah film berjudul Queen of Katwe, film tentang seorang gadis miskin yang berasal dari Uganda yang berhasil memenangkan festival catur Internasional dan kemudian mengubah hidupnya. Mira Nair, sang sutradara yang berdarah India tetapi sudah menganggap Uganda sebagai rumahnya sendiri, berulang kali mengucap kutipan ini pada beberapa wawancaranya, “If we don’t tell our own stories, no one else will.”

Sama seperti Mira, saya percaya bahwa sebuah kegairahan adalah sebuah kabar baik yang mesti diberitakan. Di dalam setiap orang, paling tidak ada satu kabar baik yang dapat ia ceritakan. Itu yang kemudian Molucca Project dan saya lakukan. Namun memelihara kegairahan adalah sebuah soal yang sama sekali lain. Tak ada yang gampang. Tidak ada yang instan.

Saya bukan Queen of Katwe. Saya memulainya dari sebuah rumah di wilayah kecil bernama Kudamati, di kota Ambon, di mana saya dibesarkan bersama kedua Kakak perempuan saya. Satu hal yang paling saya ingat adalah kamar mandi. Kamar mandi dengan bak mandi berbetuk persegi panjang dilapisi keramik berwarna biru pucat. Lantai kamar mandi tersebut dilapisi keramik kotak-kotak kecil berwarna kuning pudar. Terdapat sebuah kloset jongkok di dalamnya, tempat saya biasanya duduk lama-lama memandang dinding kamar mandi yang terkelupas dan melihat keramik pecah dan tidak rapi di lantai. Tetapi bukan dinding terkelupas atau lantai keramik pecah yang saya lihat, melainkan saya sering melihat “sebuah kota” di sana, atau ada waktu-waktu tertentu saya melihat “jalan-jalan perkampungan,” “sebuah wajah sedih” atau pada kesempatan lainnya saya melihat “dua tokoh yang sedang berbicara satu dengan yang lain.” Bayangan-bayangan itu biasanya muncul menjadi “teman” saya ketika sedang berada di dalam kamar mandi tersebut.

Saya suka membayangkan sesuatu. Saya menulis mimpi-mimpi saya. Saya suka menciptakan imaji di dalam kepala saya. Segala sesuatu yang saya kerjakan, kebanyakan memang dimulai dari sana: membayangkan sesuatu. Tetapi tidak hanya dibayangkan saja, sesuatu itu kemudian harus dipikirkan untuk menjadi nyata. Kamar mandi hingga saat ini tetap menjadi sebuah tempat kesukaan di mana saya dapat menemukan ide-ide. Kemudian pekerjaan rumah itu dimulai: jatuh bangun untuk merealisasikannya.

Akhirnya saya paham kenapa banyak ide kemudian muncul dan ditemukan di dalam kamar mandi. Ketika melakukan aktivitas di dalam kamar mandi, apalagi sedang berada di atas kloset, biasanya kita tidak buru-buru. Saya lalu menyadari satu hal: ketika hidupmu lebih pelan, maka ide akan datang.

Molucca Project pun lahir di kamar mandi. Yang dikerjakan oleh Molucca Project saat ini adalah berkonsentrasi kepada kegairahan. Kami percaya kepada anak-anak muda yang berani. Kami percaya kepada anak-anak muda yang merayakan berpuluh-puluh keyakinan di dalam diri mereka. Bahwa dari mana kita berasal, kita tidak akan berakhir di situ juga. Suatu saat nanti, kita tidak akan pernah tahu bahwa kegairahan itu dapat membawa kita ke mana. Namun, semoga cerita dan kabar baik dari Molucca Project dapat sampai ke mana saja.

Kegairahan kecil ini pun berubah menjadi mimpi-mimpi, ini salah dua (dari sekian banyak yang saya punya di kepala) adalah suatu saat nanti pergi bermain-main di the museum of modern art, atau sekedar baca buku sambil ngopi di coffee shop sepanjang New York. Dan punya toko kecil bernama Molucca Project di sebuah sudut manis kota Ambon, dengan banyak proyek kegairahan yang akan dikerjakan di dalamnya dan terkenal sampai di New York.

***

(tulisan ini juga ditayangkan di www.moluccaproject.com)





Friday, March 24, 2017

Jadwal Kelas Bulan April 2017







Kelas public speaking untuk creativepreneur ditujukan kepada kamu yang saat ini memiliki ide kreatif, usaha, sebuah brand, atau ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana mengembangkan persona. Mari bermain bersama saya. 





Kelas poetry lab adalah inisiatif saya dan Weslly Johannes untuk mengajak kamu bermain ke satu dunia bernama puisi. Kami akan mengajak kamu bereksperimen dengan kata-kata di dalam kepala maupun yang ditemukan di atas meja dan menjadikan kamu sebagai penghulu untuknya. Kelas ini sifatnya eksperimental, jadi tak apa jika melakukan kesalahan. Karena tidak ada puisi yang tidak retak!

Tuesday, March 21, 2017

Maka Cukupilah Jiwamu Dengan Cinta










Maret adalah bulan penuh cinta. Cinta akan membuatmu heran, maka cukupilah jiwamu dengan cinta.

Suatu hari di umur lima atau enam, aku pernah bertanya kepadamu, "kenapa pergi lagi?" aku telanjang dan duduk di pangkuanmu. Menangis. Kau menjawab, "ini tidak akan lama. Di kapal berikutnya, kami akan kembali." Jawaban itu kau katakan sambil mengusap rambut keritingku. Malam itu dan malam-malam selanjutnya, aku menunggu kapal, kapal yang malang, karena ia tak kunjung datang. Rasa itu kemudian aku kenal sebagai rasa patah pertama. Pikiran anak kecilku berontak, kenapa kau mesti pergi ke kampung-kampung dan negeri yang entah. Namun kau kembali, berbulan-bulan kemudian.

Berpuluh tahun kemudian, aku bangun di Bulan Maret yang kering, pada sebuah angkutan umum yang berjalan lamban, lalu menemukan sebuah kenyataan yang aku akui sebagai cinta yang besar—cinta yang sesungguhnya: ditinggal dengan rasa sayang yang tak pernah hilang. Kau pergi dan kali ini takkan pernah pulang.

Pada bulan Maret yang kering, tiga tahun yang lalu, pada sebuah kota di perantauan, aku menemukan cerita tentang seorang perempuan yang telah mempersiapkan kematiannya, sehari sebelum kelahirannya. Dengan cinta yang sangat banyak.

Sejak saat itu, kematian tak pernah sama lagi. Tak pernah aku anggap sebagai sebuah kabar takut. Atau sebuah kabar sesak penuh air mata. Melainkan sebuah kabar syukur. Kematian harus dirayakan.

Untuk itu aku tidak mau menangis, Mama.

Selamat merayakan kematian hari ini—dan kelahiranmu yang esok. Karena di sanalah kira-kira, aku belajar terlalu banyak cinta.


***

ditulis kemarin untuk mengenang Ruth Rumthe/Elwarin, 20 Maret 2014 - 20 Maret 2017, yang hari ini berulang tahun ke 69.

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...