Sunday, September 17, 2017

Cerita Tentang Perempuan dan Kekasihnya








meja berwarna hitam tak terlalu besar itu kini penuh dengan segala macam-macam yang kita bagi bersama: gula, cangkir kopi, gunting kuku, rokok yang sudah kadaluarsa, buku the world until yesterday, sendok bekas nasi goreng, ciuman-ciuman, bunyi kentut, ponsel yang habis baterei, suara mama beberapa menit yang lalu mengatakan jangan terlalu banyak begadang, abu rokok yang menggelinding di sela-sela tuts leptop, puisi-puisi yang belum selesai di dalam notepad, siaran tinju, kapitalisme dan david harvey, minyak kayu putih, lampu kuning kesukaan dan sesuatu yang empuk pada bibirmu yang kugigit perlahan


(dago 349. 17 sept 2017. 20:01)

Sebuah Malam Minggu re: emergence













re: emergence, para seniman diminta untuk mengingat perjumpaan artistik yang bermakna sepanjang hidup mereka.


Saya tidak sempat mengitari dan melihat karya kawan-kawan yang lain, karena di acara pembukaan pameran ini, selasar sunaryo begitu padat, sehingga agak berdesak-desakan, berbagi ruang dengan yang lain—dan bahkan mengantri untuk melihat karya yang terpampang di dalam ruangan. Maka saya hanya berkesempatan untuk menikmati beberapa karya: TROMARAMA, yang menghadirkan kalimat-kalimat yang dicetak pada kertas. "Calling All Dancers" adalah satu kalimat yang saya bawa pulang, entah mengapa kalimat itu seperti menangkap hati saya untuk pertama kalinya—barangkali juga, sebenarnya saya adalah penari di kepala dan juga di dalam hati saya.

Karya ke dua yang saya nikmati adalah, karya dari Erwin Windu Pranata. Ewing biasa ia disapa, akan memainkan gitarnya layaknya musisi. Ewing bercerita bahwa ia terinspirasi oleh Andri Moch (almarhum) seorang seniman yang ketika masih hidup, turut menjadi pemantik baginya untuk terus berkarya. Satu alasan kenapa Ewing terinspirasi oleh Andri Moch adalah kepekaannya untuk menangkap fenomena politik yang terjadi di tahun 1998 yang terjadi di Indonesia. Di kemudian hari, A Stone A, adalah salah satu band yang dibentuk oleh Ewing bersama Mufti Priyanka (Amenk) dan Muhammad Akbar (Babay) sebagai salah satu medium untuk berkarya bersama. Malam ini Ewing (bersama A Stone B) dibantu dengan beberapa kawan (Yosi, Oye, Ayda, dan Osman) akan mengulang kembali A stun a dengan versi yang berbeda, akan menampilkan tiga lagu mereka, salah satunya adalah Intimidasi Vitamin C. Di akhir penampilan mereka, Ewing mengambil ember, masuk di dalamnya dan buang air seni.

Fluxcup di bagian ampiteater melakukan 'performance' dengan berbalas-balasan chat di whatsapp. Pun Fluxcup mengaku bahwa ia juga terinspirasi dari Andri Moch (almarhum), terlihat dari Fluxcup yang 'kangen' untuk bertemu lagi dengannya—saya membayangkan sosok Andri Moch juga pasti kangen di atas sana. Pembukaan pameran re: emergence ditutup dengan penampilan Bottle Smoker dan (duo) Filastine & Nova, yang tak pelak lagi membuat semua orang bergoyang. re: emergence tak hanya reuni bagi kawan seniman yang masih 'di sini', melainkan juga mereka yang telah berada di 'alam sana.'



Wednesday, September 13, 2017

Sebuah Alasan



Saya tak pernah punya jawaban yang tepat ketika ditanya, apa yang membuat saya jatuh cinta kepada dia, yang sering kau dengar saya panggil kasih, dia yang saya sebut jiwa. Saya ingat bertahun-tahun yang lalu ketika belum kenal, kami pernah berada di panggung yang sama untuk membaca puisi. Saya mendapat giliran pertama membaca puisi, sebelum saya memulai membaca puisi, saya katakan kepada penonton begini: "saya tak suka menulis puisi panjang-panjang, karena itu bagi saya membosankan. Bagi saya puisi itu mesti pendek seperti rok mini." Sementara dia yang berada di belakang panggung pada saat itu melirik dua lembar kertas berisi puisi di tangannya, mengerutkan alis, bercampur sedikit senewen di dalam hatinya, "siapa sih perempuan ini? kok berani benar berkata begitu." Di malam itu pun kami tak mengobrol, bahkan tak saling tahu satu dengan yang lain.

Ketika bertahun-tahun kemudian, saya dan dia bertemu lagi dan untuk pertama kalinya, kami akhirnya mengobrol, yang saya perhatikan adalah sepatunya. Dia memakai sepatu kulit coklat sederhana yang entah mengapa—membuat saya begitu berselera—dengan sepatunya, hingga terlontar komentar pujian dari saya begitu saja yang berlanjut dengan mengobrol dan mengobrol hampir sepanjang malam. Dia memiliki selera yang sangat berbeda. Jika itu adalah bacaan, ia tidak membaca buku puisi, saya membeli dan membaca buku puisi. Jika itu adalah makanan, jika sudah senang dengan satu jenis makanan, maka ia akan makan itu terus menerus, sementara saya cenderung senang mencoba makanan-makanan baru. Selera menonton kami pun berbeda, dia senang menonton dokumenter yang historis dan filosofis, saya senang dengan film-film dengan alur cerita melelahkan. Dia yang taktis dan strategis. Saya yang acak cenderung melompat awut-awutan. Dia yang pendiam dan tak banyak bicara jika ada di kerumunan. Saya yang senang kerumunan dan senang bertemu orang baru.

Salah seorang teman pernah bertemu kami dan ia katakan, "saya tahu Theo, kenapa kamu jatuh cinta sama Weslly." Saya tanya, "apa itu?" dan teman itu menjawab, "karena ia merawat kamu." Kami tertawa malam itu. Tapi terus terang, saya senang dengan kata: merawat. Saya belum menemukan jawaban yang tepat, kenapa saya jatuh cinta dengannya, tapi saya cukup senang dengan kata merawat. Saya pikir kadang kekasih kita menjelma menjadi seorang ibu yang pandai merawat. Tak hanya itu—Ibu juga gemar membuatkan kopi di waktu pagi dan mengajak menonton video kuliah David Harvey tentang kapitalisme.

Gerbong Kereta dari Solo menuju Bandung, 11 September 2017. 



Sunday, September 10, 2017

#IlustrasiPerempuansore



Di tahun 2014 yang lalu, saya pernah mengajak kawan-kawan untuk ikutan membuat #IlustrasiPerempuansore dan hasilnya manis-manis dan mencengangkan. Saya rasa, saya harus mengabadikannya ke dalam blog. Sekali lagi terima kasih untuk partisipasi kawan-kawan, ya. 




oleh Divya Manjusha



oleh Jandri Welson Pattinama


oleh Oh Sugar


oleh Gracia Silaban


oleh Mikey Stevie


oleh Petra Anjani


oleh Astri Raharjo


oleh Rya Dinata


oleh Prytha Afsharry


oleh Yahya Ben Gurion


oleh Naomi Tobing


oleh Ester Irene


oleh Octaria Rukanto


oleh Citrarini Ceria


oleh Handsound


oleh Masya Ruhulessin


oleh Lala


oleh Frans 'Hayaka' Nendissa


oleh Astrid Bonita



oleh Yunita D Indraswari


oleh Ratu Adelin

#SayaMembaca : Love in the Kingdom of Oil, Nawal El-Saadawi






Love in the Kingdom of Oil oleh Nawal El-Saadawi. Adalah karya pertama yang saya baca darinya. Novel ini tentang seorang perempuan yang pergi cuti dan tidak kembali. Nawal menuliskan novel ini dengan gaya sureal dan sangat puitis. Itulah mengapa saya bertahan membaca novel ini hingga selesai. 

Tokoh utama perempuan di dalam novel ini diceritakan memberontak dengan caranya sendiri, ia memilih pekerjaan sebagai seorang arkeologi yang berjalan dengan membawa pahat di dalam tas selempang yang ia sampirkan di bahunya. Perempuan ini kemudian meminta 'cuti' untuk pergi mengunjungi satu kampung ke kampung yang lainnya untuk menggali tanah, dengan harapan ia akan menemukan dewi-dewi yang muncul dari dalam tanah.

Di tengah perjalanannya, ia menemukan banyak sekali pertanyaan tentang apa yang ia lakukan, baik dari perempuan lainnya maupun dari (kebanyakan) laki-laki. Karena sekali lagi, mereka menganggap yang sedang dilakukan oleh perempuan ini adalah sesuatu yang tabu; sebuah pemberontakan.

Saya senang dengan gaya menulis Nawal El-Saadawi di dalam novel ini. Barangkali karena saya memang senang dengan gaya sureal dan isu perempuan yang dituangkan sama sekali tidak dengan lembut oleh Nawal di dalam novel ini. Pun, yang menarik adalah ia menggambarkan tentang cinta seperti ini: perempuan itu mengulurkan tangannya dan menangkap tangan lelaki itu. Jari-jari mereka berjalinan. Lelaki itu mendekapnya dengan sebelah tangan, dan peremuan itu mendekap lelaki itu dengan kedua tangannya. Ia memejamkan mata dan lelaki itu juga memejamkan mata. Mereka terus bergerak sambil berpelukan, tak melihat tanah yang mereka injak. Mereka terbenam bersama-sama ke lubuk danau itu seolah-olah mereka sedang terperosok ke dalam cengkeraman sebuah kekuatan yang lebih besar, dan mereka tidak berdaya membebaskan diri dari kekuatan itu. 

Tak hanya menggugat posisi perempuan dalam tatanan patriarkal yang represif, Nawal El-Saadawi juga menggambarkan tentang kekuatan berpikir perempuan yang progresif yang dapat digunakan sebagai modal seorang perempuan untuk memberontak.

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...