Tuesday, April 26, 2016

Menunggu Untuk Dipertemukan






Saya masih percaya mantra ini “untuk segala sesuatu ada waktunya.” Mengucap mantra yang baik kepada diri sendiri, lama-lama akan berubah menjadi sebuah keyakinan. Saya tidak dibesarkan dengan kemudahan-kemudahan. Saya malah harus berusaha lebih keras di dalam hidup untuk mendapatkan apapun yang saya inginkan. 

Lain urusannya dengan cinta. Terkadang tidak selalu mendapatkan apapun yang diinginkan. Bahkan beberapa kali dihadapkan dengan kehilangan-kehilangan. Kisah cinta kadang tidak semulus yang dibayangkan. Akhir-akhir ini misalnya, secara tidak sengaja, saya sering bertemu dengan perempuan-perempuan yang curhat soal “susahnya” menemukan pasangan yang tepat. Atau ada yang secara tidak langsung curhat tentang pasangan-pasangan yang tidak sesuai dengan kriteria mereka. Tetapi karena sudah terlanjur jadian lama, mereka takut untuk melepaskan. Jatuh cinta memang membingungkan. Ini baru jatuh cinta. Belum lagi jika bertemu dengan perempuan-perempuan yang curhat soal suami-suami mereka. Nah loh, urusan pernikahan, saya hanya sumbang telinga, tidak berani memberikan saran, karena saya belum sampai di sana. 

Jujur, saya sendiri bukan ahli. Saya pun pernah mengalami kehilangan. Patah hati akut. Melakukan banyak hal-hal bodoh pada saat patah hati. Bahkan menangis tak karuan. Dan semua ini hanya karena kehilangan, laki-laki. Satu hal yang saya syukuri, pada periode itu, saya banyak menulis. Jadilah tulisan-tulisan patah hati yang sering kamu temukan di blog. Dan anehnya, tulisan-tulisan itu best-seller, banyak sekali yang membacanya. 

Hingga pada satu titik, saya mengambil keputusan untuk “pause.” Ada masa-masa diam lama yang saya lakukan. Saya lalu menunggu. Lebih tepatnya menunggu untuk dipertemukan. Kondisinya seperti ini, ketika “menunggu” saya banyak melakukan hal-hal menyenangkan yang bikin saya bahagia. Saya mengajar. Saya menulis. Saya bertemu dengan banyak orang dan terlibat dengan pekerjaan-pekerjaan yang mereka tawarkan. Intinya, saya sendiri, penuh, dan bahagia. 

Lalu kembali lagi kepada mantra di awal “untuk segala sesuatu ada waktunya.” 
Saya mendapat undangan dari seorang teman SMA saya untuk pergi mengajar ke sebuah Kabupaten di Maluku Tenggara Barat. Singkat cerita di sana saya menemukannya. Hari ini saya posting sebuah tulisan pendek di instagram saya: 

Saumlaki, sekitar akhir bulan Juli, tahun kemarin. Saya, mana pernah berpikir untuk jatuh lebih cepat. Sepertinya hari pertemuan kita memang sudah disiapkan. Sebab cinta adalah jatuh-jatuh yang tidak direncanakan. 

Kamu dengan mata yang tidak sepasang. Begitu sederhana. Menyentuh dengan cerita-certa pengungsian, Kayeli, dan tempat-tempat indah lainnya di Buru. Kamu, lelaki yang membuat saya memilih tinggal. 

Jika diingat-ingat lagi, saya suka geleng-geleng kepala sendiri. Hampir sepuluh tahun tinggal di Bandung, kota berkabut ini, kemudian harus terbang sekian puluh ribu kaki, hanya untuk menemukanmu. Saya kira Tuhan memang senang bercanda.

Jika cinta adalah jatuh-jatuh yang tak direncanakan. Maka pertemuan-pertemuan bukanlah sebuah kesengajaan. Dan pertengkaran-pertengkaran akan membuat bertumbuh, lebih kuat. 

Belum genap setahun, hubungan ini berjalan. Hingga saat ini pun, kami masih mengusahakan cinta kami. Tetapi cerita ini sengaja saya bagi kepada kamu yang sampai saat ini, masih berpikir tentang “menunggu” pasangan yang tepat. Saya tidak punya nasihat yang lebih baik, selain menunggu. Menunggu dengan kesadaran penuh untuk kemudian dipertemukan. Masih banyak laki-laki dan perempuan yang juga sedang disiapkan untuk bertemu dengan kamu di luar sana. Mereka tidak akan kemana-mana. Mereka pun sedang bersiap, bertemu takdirnya untuk dipertemukan dengan kamu. Sekali lagi, selama masa-masa menunggu: jadilah sendiri, jadilah utuh, dan bahagia. 

Selamat menunggu ya, percayalah tidak akan sia-sia. 

Monday, March 28, 2016

Obrolan Mengenai Keyakinan di Antara Kopi Hitam





Perpisahan adalah pintu menuju perjumpaan, katamu. Sedangkan kataku, perpisahan adalah pintu menuju kesetiaan.

Obrolan mengenai keyakinan di antara kopi hitam, ketika hari hujan, segar di pikiran. Tidak ada satu perjalanan pun hingga kini yang tidak ada campur tangan keyakinan di dalamnya. Saya sendiri terlalu percaya. Saya belum menemukan apa definisi dari keyakinan itu sendiri, tetapi jka menyesuaikan dengan pengalaman, maka keyakinan adalah: hal-hal kecil, kokoh, begitu kuat, letaknya di dalam, yang membawamu menemukan hal-hal ajaib.

Tidak ada yang dapat mengajarkanmu soal keyakinan itu sendiri, selain pengalaman-pengalaman pribadimu. Kamu hanya perlu mengalaminya.

Saya berpikir, apakah yang membuat cinta pada zaman ayah dan ibu bertahan begitu lama, padahal untuk bertemu saja, mereka tidak segampang sekarang, butuh surat-menyurat yang diantarkan dengan kapal, dan bisa sampai berbulan-bulan. Atau baikan kembali setelah adu mulut karena anak-anak, tetapi selalu ada penyelesaian, dan diakhiri dengan tidur bersama. Dan apa yang terus membuat mereka selalu bersama hingga hanya benar-benar maut yang memisahkan. Saya terlalu yakin bahwa yang membuat mereka bertahan begitu lama adalah keyakinan.

Keyakinan, dimulai dari hal-hal kecil. Ia bukan hal-hal yang besar. Ia berada di dalam. Terkadang ia bahkan tidak kelihatan. Kita hanya perlu mengenalinya sebagai sebuah sikap untuk senantiasa bertahan: di dalam pertemuan dan perpisahan. Tetapi perpisahan membuat keyakinanmu akan berbuah, jika memang ia disiram dan dipelihara dengan baik.

Keyakinan, dibangun sejak kanak-kanak. Ia ada di dalam diri setiap jiwa. Ia bukan hanya soal pilihan-pilihan serius. Ia bukan hanya soal pilihan-pilihan menjadi dewasa. Ia bukan melulu soal pilihan dengan siapa kita akan berjalan, bertemu, berpisah, ataupun bertahan.

Saya memahami keyakinan seperti ini:

Suatu hari kamu berjalan, sendiri, di dalam lorong gelap, yang sangat pekat, bahkan kamu tidak tahu dimana ujung lorong itu berada. Apakah ada pintu keluar atau tidak. Apakah ada orang yang bersama denganmu di dalam lorong itu atau tidak. Kamu sendiri. Benar-benar sendiri. Tetapi ada sesuatu di dalam diri (mungkin suara atau apalah) yang menggerakkan kaki kamu untuk terus maju dan maju, tanpa sedikitpun rasa takut.

Keyakinan adalah ketika sendirian, tanpa rasa takut.   

Thursday, February 11, 2016

Hari ke-9 : Surat Cinta kepada Dilale





Dilale,

Kau pasti pernah bermimpi nak.

Dilale, suatu hari ketika malam malammu penuh dengan mimpi, aku rasa kau harus mulai mencatatnya.

Aku lupa. Tepatnya sekitar sepuluh, iya, mungkin sepuluh tahun lalu. Aku pernah bermimpi. Di mimpi itu, aku sedang berada di dalam bioskop. Aku sedang mendorong kereta bayi. Dan di dalamnya ada seorang bayi perempuan.

Bukan hanya ada aku, tetapi ada juga seorang anak laki-laki, dan seseorang yang pasti adalah suamiku. Ia duduk persis di sebelah kiri. Gelap. Aku tidak dapat melihat wajahnya. Kami menonton film yang entah apa. Aku tidak dapat mengingatnya.

Di tengah tengah film, anak laki-lakiku agak bosan, dan mulai berdiri dari kursinya. Ia hendak berjalan keluar ruangan. Sementara aku hendak menahannya. Laki-laki yang duduk persis di sebelah kiriku, berbicara, suaranya halus, hampir berbisik. Ia mengelus lenganku, dan aku lupa, apa yang ia katakan, tapi itu sesuatu yang menenangkan tepat di telingaku.
Aku tidak lihat wajahnya karena gelap. 

Tetapi aku mengingat sentuhannya. Ketika bangun dari tidur, Dilale, sentuhan di lenganku masih terasa. Aku bertemu dengannya, kurang lebih sepuluh tahun kemudian. Aku mengenalnya, dari sentuhan pada lengan. Sentuhan yang sama sepuluh tahun yang lalu di dalam mimpi.

Dilale, tidak ada yang terlalu misterius di dalam hidup. Rasanya jika peka, hidup bahkan sudah bicara kepada kita jauh-jauh hari sebelum akhirnya dipertemukan dengan kenyataan. Walau hanya lewat mimpi.

Bioskop, kereta bayi, anak laki-laki, anak perempuan, dan sentuhan. Anak perempuan itu adalah dirimu, Dilale. Jauh, jauh sebelum kau ada dan surat surat ini dibuat, aku sudah melihatmu.

Jauh, jauh sebelum aku jatuh cinta dengan ayahmu, sekarang, besok,  dan nanti. Aku sudah bertemu dengannya lewat mimpi: di sana kami memang sudah sepasang.


Ibu.  

Tuesday, February 9, 2016

Hari ke-8 : Surat Cinta kepada Dilale








Dilale.

Apakah yang daat dilakukan oleh seorang yang tenang. Di dalam diri kita, banyak bergemuruh, ombak dan semacamnya. Dapat kau rasakan dalam diam. Tetapi kau hanya perlu meyakini bahwa: banyak hal yang dapat dilakukan oleh ketenangan.

Jika kau sulit untuk menemukannya, carilah di dalam sunyi, sunyi yang paling bawah, sunyi yang paling gelap, sunyi yang tidak berbunyi. Di sana barangkali ia sembunyi.

Kau adalah ombak yang  paling ribut atau badai yang tak henti. Tetapi setiap kali ka butuh percaya kepada satu dan dua: sunyi dan kesunyian. Temukan keduanya.

Ibu sayang.


Hari ke-7 : Surat Cinta kepada Dilale








Dilale,

Tidak ada surat hari ini, hanya sepotong nyanyian burung di jendela, samar-samar. Semoga kau dengar. Ia riang, begitu riang, seperti kau: dengan deretan gigi-gigimu yang putih ketika tersenyum.

Ibu.




Hari ke-6 : Surat Cinta kepada Dilale









Dilale tersayang,

Tidak ada jalan jalan yang mudah. Termasuk hal-hal yang telah disepakati, dan risiko yang mengikuti. Kau akan menemukannya. Tertidur lelap di dalam lorong-lorong gelap.

Hal pertama yang harus kau lakukan jika sudah begini adalah sabar. Hal ke dua adalah sabar. Dan hal ketiga adalah tetap sabar. Ujungnya belum kelihatan. Pintu itu seperti tertutup. Tapi sabar memang bukan pintu dan bukan ujung.

Selalu sayang kamu,

Ibu.


Saturday, February 6, 2016

Hari ke-5 : Surat Cinta kepada Dilale








Yang tersayang Dilale,

Kemudian tentang cinta. Cinta yang bulat-bulat, purnama, itu rasa-rasanya tidak selalu ada. Kadang ia berubah menjadi sabit. Bulan separuh. Ketika melihat ke langit, kau akan menemukannya.

Langit hitam dengan bulan sabit separuh. Tidurmu tidak selalu nyenyak. Ketika merasa seperti ini, jangan lupa untuk buka jendela lebar-lebar dan rasakan angin kena muka.

Lihat ke langit yang hitam kelam. Kau akan menemukan bulan sabit itu: ia sementara senyum kepadamu.

Tutup jendela lagi dan selamat tidur nyenyak.

Ibu.