Thursday, May 26, 2016

Just Living Your Most Authentic Life











Satu hal yang patut saya syukuri adalah kemampuan multipotential yang ada di dalam diri saya. Oh, saya tidak katakan bahwa kemampuan yang saya miliki itu mungkin lebih baik dari orang lain. Tetapi harus diakui bahwa perempuan memang harus punya satu hal yaitu: percaya kepada dirinya bahwa ia memang dapat melakukan apapun yang ia mau. Hal kedua yang harus dimiliki yaitu: keberanian. 

Saat ini saya memutuskan untuk lebih berkonsentrasi mengerjakan hal-hal yang saya tahu, saya punya kemampuan terbaik di situ, tidak ada orang lain yang dapat melakukannya selain saya. Hanya mengerjakan hal-hal yang saya suka. Saya lakukan itu untuk memuaskan diri saya dan bukan orang lain. 

Merantau sejak usia 16 tahun, hingga sekarang memberikan kepada saya satu nasihat tentang bagaimana kita sebagai perempuan harus bekerja keras dan sekali lagi percaya kepada kemampuan diri kita sendiri. Saya ingat ketika pertama kali meginjakkan kaki di Bandung, dan ketertarikan saya untuk menjadi seorang penyair begitu kuat. Yang saya lakukan adalah dengan nekat saya menelepon ke dua radio yang saya tuju. Ketika itu di telepon saya ingat, saya berkata begini “halo, nama saya Theo. Saya mau bertanya saya tertarik untuk jadi penyiar radio dan apakah ada lowongan di radio anda? Karena saya tertarik untuk mencoba?” padahal waktu saya sungguh tidak punya modal apa-apa. Yang saya punya hanya keberanian. 

Tapi akhirnya mimpi saya untuk menjadi penyiar radio tercapai sudah. Sembilan tahun saya mencicipi bekerja di radio dan bertemu dengan banyak sekali figur “terkenal” dari musisi, penulis, hingga komunitas kreatif. Bukan hanya bertemu tapi mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai mereka. Berbagai aktivitas di radio pun saya coba: reporter, produser, script writer. Dari mulai siaran tendem, siaran prime-time, hingga punya acara sendiri. Semuanya saya lakukan dengan kesenangan. Pada saat itu setiap penyiar yang seangkatan dengan saya pasti akan menjawab jujur bahwa honor bekerja di radio dapat dikatakan murah. Tapi kami punya kepuasan tersendiri untuk menjadi penyiar radio. 

Ketika di radio, saya lalu mengasah kemampuan menulis saya. Dari mulai menulis di blog friendster awalnya, kemudian berpindah ke multiply, lalu ke notes facebook, kemudian ke blogspot. Sampai sekarang saya masih bertahan di blogspot, mengelola blog ini, dan membuat satu web lainnya yaitu www.moluccaproject.com dan menjalaninya sekarang. 

Kemudian mendapat kesempatan membuat buku kumpulan puisi dan kumpulan cerita pendek. Tidak berhenti di situ, saya juga mengelola kelas public speaking saya, bagaimana mengajari orang-orang untuk berani berbicara di depan umum. Saya tidak lagi di radio, tapi sesekali saya masih menjadi MC untuk acara-acara tertentu, dipakai menjadi moderator, atau mengisi voice-over untuk acara-acara yang membutuhkan. Saya bernyanyi. Saya pernah mengajar vokal untuk kawan-kawan difabel. Saya menulis puisi. Saya mengumpulkan anak-anak muda kreatif untuk web saya di Molucca Project. Saya membuat brand. Lalu sedang berpikir untuk mulai membangun bisnis di sana. 

Dan ketika ditanya apakah pekerjaan saya? 

Hm, jujur, saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya mengerjakan banyak. Saya tidak terdefinisikan oleh apapun juga dan oleh siapapun juga. Dan pada saat itulah saya merasa saya hanya sedang menjadi diri saya. I’m just living my most authentic life. 

Untuk menjalani hidup yang otentik butuh keberanian. Keberanian untuk menemukan siapa dirimu sebenarnya. Seperti yang Ayah selalu katakan kepada saya diberkatilah pekerjaan kecil-kecil yang saya lakukan. 

Monday, May 23, 2016

Memberi Ruang




* gambar dari tumblr

Sebaiknya kita, saya dan kamu memang memberi ruang dalam kehidupan kita. Ruang untuk menyepi dari berbagai gangguan. Ruang untuk mengenal dirimu sendiri lebih dalam. Menyepi dan memutuskan untuk tidak gampang terganggu dari orang lain seringkali memang terlupakan. Karena banyak orang takut sendiri. Banyak orang tidak mau menghadapi kesendirian. 

Ketakutan-ketakutan itu kemudian membuat orang-orang tidak mau sendiri, padahal setiap dari kita harus memberikan ruang: hanya ada saya dan diri saya. Tidak peduli betapa bisingnya dunia di luar kita, kita harus bisa meluangkan waktu untuk mendengarkan diri kita di dalam. Tetapi bagaimana itu dapat terjadi, jika seringkali kita, saya dan kamu masih saja merasa takut. 


Dilale : Kutipan Sayang Buat Kamu!









Dilale. 

Satu kata paling dekat dan melekat dengan Dilale adalah Sayang. Dilale bahkan tak pernah ditemukan muncul sendiri. Ia selalu diucapkan beriringan dengan kata sayang, "Sayang Dilale!"

Sayang Dilale adalah ungkapan kasih yang luas. Seluas kehidupan manusia, tua-muda, perempuan-laki-laki, anak-orang tua. Suatu ungkapan dari rasa cinta yang dalam dan luas.

Dilale datang dari cinta yang luas dan dalam. Dilale adalah ungkapan cinta.

Dilale 
made by love,

words and quotes by theoresia rumthe & weslly johannes
handwriting by sugar


kutipan satu




kutipan dua


silakan dapatkan kutipan sayang dilale dalam bentuk totebag yang bisa kamu bawa atau kamu hadiahkan kepada kekasih.


dibuka pre-order 19-26 Mei 2016

totebag bahan kanvas
warna putih (dengan kutipan berwarna hitam)
lebar : 34 cm 
panjang : 40 cm 
tebal : 7,5 cm 
IDR 150K (belum termasuk ongkos kirim)


-

Format Order


pesan dengan kirim email ke moluccaproject@gmail.com 

DENGAN SUBJECT : SAYANG DILALE
nama + pilih kutipan kamu + berapa pcs + alamat + nomer telepon 

*mengenai dilale di-publish juga di http://www.moluccaproject.com/ *




Thursday, May 19, 2016

Kelas Kopi yang Menyenangkan di 5758 Coffeelab












Hari itu saya bangun pagi, mandi, memakai celana pendek dan sepatu keds kesukaan. Dan sedikit terburu-buru, saya mendapat undangan untuk menghadiri sebuah kelas kopi di 5758 Coffeelab. 

Oke, pertama-tama saya memang penyuka kopi. Tapi saya tidak pernah tahu tentang hal-hal yang lebih dalam tentang kopi. Yang saya tahu selama ini, jika banyak pekerjaan yang harus saya lakukan maka saya akan ditemani dengan kopi hitam. Itupun biasanya diseduh sederhana saja. Dan jika sedang kepengin centil saya tambahkan sedikit gula. 

Hal kedua jika hari itu saya tahu bahwa tidak banyak pekerjaan dan yang akan saya lakukan adalah duduk, melamun, dan membaca dan menulis-nulis di dekat jendela sebuah coffee shop maka yang saya pesan adalah secangkir cappuccino. 

Tetapi, hari itu ketika saya tiba di 5758 Coffeelab, yang terletak di kompleks pondok hijau indah di daerah Gegerkalong Bandung, saya melihat sebuah bangunan yang terletak di antara ruko. Pertama kali melangkahkan kaki ke dalam, ada sebuah ruangan yang cukup luas dengan interior yang beruansa coklat. Sofa dan meja-meja mungil berwarna senada. Membuat ruangan 5758 Coffeelab terasa hangat. 



Kelas lalu dimulai, Mas Adi Taroepratjeka, yang hari itu mengajar, sangat komunikatif. Ia memulai dengan memperkenalkan bagaimana cara menyeduh kopi dengan beberapa teknik manual yaitu: frenchpress, kalita wave, chemex, dan V 60. 

Dari empat teknik seduhan manual ini, saya dapat merasakan rasa kopi hitam yang berbeda-beda. Padahal jenis kopi, liter air yang digunakan, rasio, dan temperatur yang digunakan sama. Dan dari empat teknik seduh yang berbeda-beda ini, kesukaan saya adalah dengan teknik Chemex. Karena kopi yang dihasilkan dari teknik ini warnanya lebih pekat dan rasa kopinya tidak terlalu pahit. 

Selain itu Mas Adi lalu juga memperkenalkan kepada kami apa itu Espresso, Americano, Long Black, Dan Cappuccino. Berbekal pengalaman mengenal kopi dan cara menjelaskan yang sangat menarik. Saya pikir Mas Adi lebih cocok disebut sebagai pendongeng kopi ketimbang peminum kopi. 

Kelas kopi hari itu berjalan dengan sangat menyenangkan. Semua orang bersenang-senang dan mengobrol dengan meriah. Ada keasyikan tersendiri ternyata, ketika punya pengetahuan tentang kopi. Dan megikuti kelas kopi di 5758 Coffeelab sangat saya rekomendasikan. Tidak hanya itu jika kamu mau datang dan hanya ingin menikmati kopi dengan sahabat-sahabat, tempat ini juga bisa menjadi pilihan. 

suasana di kelas kopi

Tidak hanya mengenal tentang hal-hal baru tentang seduhan kopi. Tetapi lidah saya pun belajar mengenali rasa yang berbeda dari jenis kopi yang sama dan itu ajaib. Seperti kata Mas Adi, di ujung hari setiap orang yang melelahkan mereka hanya butuh bengong dan minum kopi yang enak. Jangan lupa follow instagramnya di @5758coffeelab dan nikmati kebengongan yang menyenangkan di sana. 


*picture taken by desiyanti. 


Tuesday, May 17, 2016

Grace Sahertian Menelusuri Indentitasnya di Konser Hela





photo by Buya. 



Saya adalah Sahertian, Saya Porto. Saya Maluku. Sahertian, Sei Heri Tiano yang artinya mendayung melawan musuh. 

Hela adalah cerita, yang akan membawamu kepada perjumpaan detak jantung dengan helaan nafas, yang akan membawamu kepada kehidupan. Saya sedang menyerukan kehidupan kepada setiap telinga yang mendengarkan. Kepada tubuh-tubuh yang kehilangan jiwa. Kepada setiap nyawa yang hampir menyerah.   

“Myam nin kateman tbes nin sori far dol”
-

Konser Hela yang berlangsung pada 14 Mei 2016 baru sebuah permulaan. Grace Sahertian yang memilih tema konser pada malam itu Tracing Back the Roots tidak tanggung-tanggung menyuguhkan sesuatu yang berbeda. 

Malam itu Institut Francais Bandung penuh. Saya duduk di bangku tengah penonton dan menyaksikan hampir setengah perjalanan sesi sebelum akhirnya maju ke panggung dan menemani Grace bernyanyi bersama kawan-kawan backing vokal lainnya. 

Lagu pertama dibuka dengan Hela. Nuansa etnik progresif yang begitu kental di lagu ini membawa seluruh penonton untuk sedikit mengenal Maluku, khususnya Maluku Tenggara Barat. Hela yang diciptakan dalam bahasa Yamdena, Maluku Tenggara Barat, berhasil mencengangkan semua yang mendengarkan. 

Dilanjutkan dengan lagu Freedom. Lagu ini dibawakan dengan aransemen yang berbeda. Tidak seperti di album. Namun Freedom disuguhkan dengan versi yang lebih segar. Dan tetap mempesona. Dilanjutkan dengan lagu Deep Down, sebuah lagu bernuansa Jazz, yang diciptakannya sekitar tahun 2009 berhasil meluluhkan hati penonton. Sebagian yang mendengarkan, gemas dalam diam. Grace dengan suaranya yang khas, sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk membawakan lagu Jazz dengan baik. 

Picture Me ada di urutan selanjutnya. Yang satu ini adalah track favorit saya. Berbeda dengan versi rekamannya, Grace berhasil menyanyikan Picture Me dengan sangat apik. Seakan-akan Tuhan memang duduk di antara kursi dan menjadi salah satu penonton di sana. Kemudian Fallin’ dilantunkan. Lagu yang bercerita tentang jatuh cinta lewat mimpi ini juga tak kalah memukau.

Setelah berpindah ke sesi dua, lagu Diam dibawakan secara akapela oleh backing vokal lainnya. Kali ini panggung pun ramai dengan backing vokal yang berkumpul di sana. Da Di De disuguhkan dengan versi yang lebih akustik, membuat suasana malam itu lebih meriah. Dan yang mengejutkan adalah lagu cover yang dihadirkan pada malam itu adalah Hand In My Pocket, lagu karya Alanis Morissette ini diaransemen ulang dan cara bernyanyi yang lebih laid-back tetapi tidak kehilangan jiwanya. Sun of Hope dinyanyikan dengan isian-isian vokal yang lebih kalap. Dan ditutup dengan lagu Better To Love, penonton yang dari tadi menunggu untuk berdiri, spontan berdiri di lagu ini dan ikut bertepuk tangan dengan meriah. 

Grace Sahertian di Konser Hela dibantu dengan beberapa nama yang sudah tidak asing lagi di kalangan musisi Bandung. Seperti Tesla Manaf yang berperan sebagai Music Director, Gantira Sena pada drum, Omega Touselak pada keyboard I, Faisal MF pada keyboard II, Rayhan Sudrajat pada Gitar. Dengan kawan-kawan backing vokal yang terlibat pada malam itu juga ada: Puspallia Panggabean, Ayub Jonn, Johannes Fayakun, Eka Karya Safsafubun. Tidak lupa kawan-kawan di belakang panggung yang juga membantu penampilan Grace Sahertian di panggung konser Hela semakin utuh. 



Jika dapat diceritakan dengan satu kalimat: konser Hela tidak hanya mengajak setiap penonton untuk menelusuri Grace dan identitasnya, tetapi juga mengajak setiap penonton untuk ikut masuk ke dalam jiwa setiap lagu yang disuguhkan. 

Satu hal lagi yang saya yakini konser Hela adalah sebuah pernyataan bahwa di dalam diri Grace Sahertian ada sebuah matahari menyala dengan sangat terang. Ia tidak perlu mencari nyala dari sumber yang lain.  

Wednesday, May 4, 2016

Tentang Perempuan









ketika aku kecil, ibu berkata perempuan adalah bunga. ia berkata demikian sambil memandikan aku dan mengusap kemaluanku perlahan, dengan lembut

"ini adalah bungamu, suatu ketika, ia akan mekar, merambatkan akar-akarnya seperti belantara. lelaki yang memasukinya hanya mereka yang memiliki kunci dan mau menyesatkan diri"

demikianlah aku tumbuh sebagai rimba dan rahasia, misteri dan satu semesta berisi semua yang mungkin dan tidak mungkin, yang terpelihara hingga satu musim meranumkan pala dan menebar aromanya ke mana-mana

ketika dewasa sambil mengusap kepala, ayah katakan bahwa perempuan seperti bangunan rumah, ia memiliki fondasi dan ruang-ruang bawah tanah, pintu, jendela, dapur, dan kamar mandi

"jika salah satu bagian-bagian dari tubuhmu berkelana, mereka harus tetap pulang. jika salah satu dari bagian tubuhmu menghilang, artinya kau menaruh kuncimu sembarangan"

ayah berkata masih sambil mengusapku di kepala

lalu pada suatu malam yang menyala, aku bertemu burung hitam berkepala biru, ia berkata:
perempuan adalah kepala. kepala-kepala mereka terbuat dari baja. dan hati mereka adalah embun tengah hari, menggantung-gantung di antara dedahan, gampang lepas

maka aku menggantungkan kunci rumahku pada satu tangkai tersembunyi dari cinta yang bertumbuh dalam jiwaku dan memagarinya dengan api dari kata-kata ibu dan ayah yang menyala di kepalaku

"biarlah ada api dalam cintamu!", kata ayah, "dengannya engkau akan membakar kepalsuan di dalam dan di luar dirimu"

perempuan menjadi satu kehidupan dengan dua matahari dan tiga rembulan; hal-hal yang menjadikannya paling indah dan paling panas di antara semua cahaya

[ditulis bersama weslly johannes. Bandung - Ambon 4 Mei 2016, selesai sekitar pukul 19.50 waktu Bandung ]



Tuesday, May 3, 2016

Jika Tubuh Adalah













I

jika tubuh adalah ibu
kau telah mengoyak vagina ibumu sendiri
dan memasukkan jari-jemarimu yang tak tahu malu di sana
berlama-lama dan melihat ke kedalaman muka bayimu sendiri
dan berkaca
"kutukan siapakah yang mengikutiku, kini, dan nanti, selama-lamanya"
suara-suara sumbang yang diperawani karena kemabukan ataukah kebodohan

II

jika tubuh adalah perempuan
kau dengan sengaja berjalan dengan kemaluanmu sendiri yang berasal dari perempuan
telanjang
terseok-seok
kau lupa darimana kau berasal
kau lupa dari mana kau menyusu
kau lupa dari mana kau bertumbuh

III

jika tubuh adalah kekasih
kau merusak kekasihmu
ia hitam bagaikan malam 
ia berdarah dan kau meminum darahmu sendiri
kau meminum kekasihmu sendiri 
memakan jantungnya
mengunyahnya pelan-pelan 
belatung-belatung hinggap pada gigi

IV

sesungguhnya kau tak pantas menyakiti tubuh siapapun yang adalah perempuan yang adalah tubuhmu sendiri 


[Bandung, 3 Mei, 2016]