Saturday, February 6, 2016

Hari ke-5 : Surat Cinta kepada Dilale








Yang tersayang Dilale,

Kemudian tentang cinta. Cinta yang bulat-bulat, purnama, itu rasa-rasanya tidak selalu ada. Kadang ia berubah menjadi sabit. Bulan separuh. Ketika melihat ke langit, kau akan menemukannya.

Langit hitam dengan bulan sabit separuh. Tidurmu tidak selalu nyenyak. Ketika merasa seperti ini, jangan lupa untuk buka jendela lebar-lebar dan rasakan angin kena muka.

Lihat ke langit yang hitam kelam. Kau akan menemukan bulan sabit itu: ia sementara senyum kepadamu.

Tutup jendela lagi dan selamat tidur nyenyak.

Ibu.





Hari ke-4 : Surat Cinta kepada Dilale








Dilale sayang,


Indah itu tak selalu ada. Ada perasaan perasaan yang memang sifatnya hanya sementara. Untuk itu ketika mengerjakan segala sesuatu tidak seharusnya berlebihan.

Aku menamakannya rasa cukup. Di dalam kata cukup, tidak ada yang terlalu. Pada waktu aku belajar tentang rasa cukup ini rasanya seperti sedang menjalankan doa Bapa Kami.

Bapa Kami yang di Sorga, berilah  kepada kami makanan kami yang secukupnya.

Aku ingat Tuhan.

Aku ingat bahwa Ia memang tidak pernah berhenti pegang tanganku. Dalam masa-masa yang tidak bahagia. Tidak indah sekalipun. Dalam masa masa ketika sendiri. Dan sunyi.

Ia di sana pegang tanganku.

Di dalam ruang-ruang gelap, tidak ada satu manusia pun yang mengerti. Ia ada. Ia ada dan memberikan rasa berlebihan. Ia menyayangiku terlalu berlebihan.

Ketika aku sedang belajar tentang kata cukup, Dilale, Tuhan tidak kenal kata cukup untuk menyayangiku.

Aku sayang kamu, D.



Ibu. 

Monday, February 1, 2016

Hari ke-3 : Surat Cinta kepada Dilale






Dilale sayang,

Ajaib. Satu kata yang dapat aku temukan dalam perjalanan ini. Ketika kanak kanak, cinta hanya sebatas berbagi bekal makanan. Menjadi remaja, cinta menjelma menjadi ciuman ciuman. Kemudian dewasa, cinta menjelma menjadi kehilangan dan menemukan.

Suatu waktu, aku pernah menulis seperti ini: ketika menemukan seseorang yang tepat, kau akan lupa pernah kehilangan panjang.

Tiap aku mengingat kata menemukan, selalu ada perasaan ajaib!

Begitulah, cinta, ia menemukan. Suatu hari dalam perjalanan yang cukup panjang ke sebuah pulau, ketika itu aku sedang bahagia, aku sedang mengerjakan masa depan, aku mengalir, rasanya tidak ada yang dapat menahanku. Ia, di sana. Berdiri dengan senyuman dan sepatu berwarna coklat.

Ia santun. Dengan gaya bicara alami, pelan, tidak dibuat buat. Ia penuh cerita. Ia sederhana: tapi ia tidak berani menatapku lama lama. Lucu, karena ketika itu di dalam sini, tidak ada debar sama sekali.

Yang terjadi malah, kami, bercerita seperti sepasang teman lama. Ia mengajakku pergi melihat hutan yamdena dan gugur bunga sakura. Kami sempat mampir menyaksikan matahari terbenam.

Malamnya, di hari yang sama, kami duduk di meja makan bersama tulang tulang ikan yang telah habis dagingnya. Aroma colo colo masih menyeruak. Aku menatap matanya, dan aku menemukan sesuatu: ia tidak mau aku pergi.

Begitulah cinta, ia menemukan. Menemukan aku dan jauh jauh membawaku kepadanya, Ayahmu.

Ketika cinta hinggap, Ayahmu  menulis: melawan cinta adalah perbuatan yang sia-sia.

Oh, Dilale sayang, kami tidak melawan. Kami bahkan roboh dibuatnya. Gusar, gelisah, berbunga bunga, rindu, dan rindu dibuatnya.

Dengar, Dilale sayang, tidak ada nasihat yang paling indah tentang cinta: selain dengarkan Ayahmu: melawan cinta adalah perbuatan yang sia-sia.

Kami menyayangimu,

Ibu.



Hari ke-2 : Surat Cinta kepada Dilale










Dilale sayang,

Ketika menulis ini, Ayahmu sudah mengakhiri sesuatu. Setelah melewati banyak sekali ruang ruang gelap bersama. Akhirnya ia berhasil melompatinya.  Ayahmu adalah orang yang hebat. Namun perjuangannya belum berakhir. Kami masih harus melewati banyak sekali kemuraman. 

Tetapi taukah kamu Dilale, ada keindahan keindahan bahkan ada di dalam kemuraman sekalipun.

Pada waktunya, kau akan mengerti. Bahwa di dalam hidup, ada kalanya, kau akan dipenuhi dengan banyak sekali kemuraman kemuraman, kekhawatiran kekhawatiran, kau perlu masuk ke dalam dan mengenali rasa rasa itu, tinggal di sana, tapi ingat jangan bermalam. Melainkan berjalanlah terus: temui kegelapan kegelapan itu dan kenalilah mereka.


Karena setiap kali kita membutuhkan kegelapan, supaya bintang bintang tampak.

Dilale sayang, Ayahmu dan aku, kami sama sama punya ruang gelap. Sama seperti jiwamu juga. Tetapi di sanalah kau akan menemukan banyak sekali bintang bintang. Mereka mampu menerangi lorong lorong muram dan pekat sekalipun. Tidak perlu takut. Berkenalanlah dengan rasa itu, jadilah berani!


Ibu.  

Saturday, January 30, 2016

Hari ke-1 : Surat Cinta kepada Dilale








Dilale.

Kau adalah pulau-pulau, dan kampung-kampung perawan, dimana ketulusan masih menyapa di jalan-jalan.


Ketika menulis ini, langit di kota ini sedang biru-birunya. Belum pernah aku melihat langit begitu mengkilat. Terkadang ada lengkung senyummu di sana. Ia tipis dan segar. Merekah seperti bunga-bunga bougenville di halaman.

Jika ada yang tersembunyi: itu adalah kekhawatiran-kekhawatiran. Mereka seperti tentara kesepian. Hinggap pada barak-barak peperangan. Apakah yang kita perangi? Kataku sambil menorehkan jariku di langit biru mengkilat tadi. Kali ini jariku membentuk lengkungan ke bawah. Tanpa sadar akupun membentuk titik-titik di sampingnya seperti hujan.

Hujan kini muram. Tidak lagi berdansa. Tidak lagi menjadi kegemaran. Kesukaan menunggu di jendela pun lenyap.

Cinta, Dilale.

Soal Cinta, bagaimana kekhawatiran bisa begitu berkuasa atasnya. Bukankah di dalam cinta tidak ada kekhawatiran, tidak ada ketakutan.

Karena ketika kekhawatiran itu datang, mereka bagai rayap, akan melahap kecantikan, kedalaman yang kau milikki, Dilale. Membuat buram mata, dan caramu memandang hidup, serta keyakinan-keyakinan, ah, mengenai keyakinan, aku ingat satu hal tentang percakapan kita pada suatu subuh ketika aku bertanya, dari manakah asal keyakinan? kau menjawab “soal itu, letaknya di dalam. Jangan mencarinya di luar.” Aku sepakat. Tidak ada keyakinan yang asalnya dari luar.

Seperti langit biru mengkilat, di hari ini, Dilale.

Ia tidak perlu membuktikan kepada orang lain, tentang warnanya yang cerlang. Biru yang terbit adalah jiwanya. Biru yang terbit adalah jiwamu. Jika suatu saat ia menjadi mendung dan muram, siapa yang berani mengatakan bahwa di alam biru tidak ada abu-abu.

Kalaupun abu-abu memakan yang biru hingga habis dan keriput: 

aku tetap menyayangimu. 

Kay Eli.










Friday, January 29, 2016

Surat Dari Praha: tentang kesetiaan memang paling pas dianalogikan dengan anjing.











Di Praha ada seekor ajing bernama Bagong. Yang selalu dititipkan di toko buku milik Loretta. Perempuan berambut pendek yang pernah meminta Jaya untuk menikahinya. Tapi Jaya tidak melakukannya karena cinta masa lalunya dan dua janjinya yang Jaya pegang teguh: Pulang dan menikah dengan Lastri atau mencintainya sampai selama-lamanya. Tetapi Jaya hanya mampu melakukan yang terakhir. 

Yang dilakukan oleh Bagong sepanjang hari adalah menunggu Jaya, tuannya pulang dari kerja. Sebelum akhirnya Bagong diajak jalan-jalan ke taman untuk sekedar menikmati udara segar. Dan makan malam bersama Jaya.

Sampai akhirnya Bagong pun akan bertemu dan berkenalan dengan Kemala Dahayu Larasati yang datang jauh-jauh dari Indonesia demi sebuah tanda tangan dan pelajaran-pelajaran.

Bagong di dalam film Surat Dari Praha, bukan hanya seekor anjing biasa. Ia mewakili perasaan perasaan tentang kesetiaan. Dengan kata lain, hal kesetiaan memang paling pas dianalogikan dengan anjing. Persoalannya, hari-hari sekarang ini banyak yang orang hanya mau setia ketika senang. Sementara tidak lagi setia ketika hari-hari hidupnya memasuki masa kelam.

Jaya memilih setia dalam kelam. Setia terhadap cintanya, Lastri di Indonesia. Sementara Bagong memilih setia untuk menemani Jaya. Menolak sebuah rezim, membawa Jaya kepada kekelaman. Mencicipi kehilangan dari kehilangan. Tidak banyak yang seperti Jaya, memilih untuk mencintai kekelamannya. Tentang kesetiaan lainnya, Jaya ikhlas menelan pahit sepanjang hidup, sementara risiko lainnya, menanggung haru seumur hidupnya.

Kesetiaan Jaya digambarkan di dalam adegan Bagong yang lari mengejar Larasati di sepanjang trotoart, dan ketika Larasati menyuruh Bagong untuk kembali, Bagong malah semakin lama berdiri dan hanya menatapnya. Walaupun akhirnya Bagong harus pulang juga untuk menemui tuannya. Tapi itulah kesetiaan: ketika sudah terlanjur, ia tidak mudah disuruh kembali.

Setelah kesetiaan, persoalan lainnya di dalam film ini adalah berusaha mengingat masa lalu, yang gelap namun penuh sikap. Bahwa bangsa ini bukan hanya terbuat dari kenangan yang gilang gemilang, tetapi juga ada sebuah pintu berdebu di tahun 1965 yang harus dibuka lebar-lebar, dan dikuak kebenarannya. 

Pengalaman menonton film Surat Dari Praha memberikan rasa tersendiri. Menonton film ini seperti sedang berdansa pelan-pelan dengan musik lembut, sangat lembut, kemudian perlahan lahan matamu akan basah.


Wednesday, November 18, 2015

Belajar Mengenal: Patah





Patah. Adalah rasa yang perlu dikenali. Tetap harus dipeluk dan dijadikan sebagai sebuah pengalaman perjalanan. Seperti salah satu dari bagian tubuhmu, peluk ia erat. Pagi ini saya bangun dengan melihat dua buah mawar putih yang tumbuh segar di halaman. Tetapi ada satu bahkan dua—mawar lainnya yang layu, terkulai begitu saja—patah.

Selama saya hidup, patah bukan hal yang baru. Banyak orang suka mengidentifikasi kata ini dengan “patah hati” atau “kehilangan” atau “ada sesuatu yang terlepas dari dalam dirimu, padahal sebelumnya begitu melekat.”

Ketika bercerita tentang patah, saya ingat Ayah. Ayah mengalami patah (hati) yang begitu tidak dapat dijelaskan ketika Ibu meninggal. Kejadiannya, sudah setahun lebih, tetapi rasa patah itu masih ada. Sampai di sini saya menyadari satu hal: ada rasa patah yang begitu lekat, susah untuk dilepas. Bahkan waktu, mustahil untuk menyembuhkannya.  

Ketika Ibu meninggal, Ayah seperti kehilangan sesuatu yang tidak dapat saya jelaskan. Hanya saja, hal tersebut dapat dirasakan. Saya lalu merasa bahwa, rasa patah atau kehilangan semacam itu, akan terjadi di dalam diri kita, apabila kita memang nantinya akan kehilangan orang yang begitu kita cintai. Maka, berhati-hatilah dengan cinta!

Saya rasa, peringatan ini bukan bermaksud untuk menghindarkan kamu dari cinta dengan segala perasaan perasaanya, tetapi bagaimana kita bisa mengenal cinta dengan sebuah konsekuensi besar bahwa suatu hari nanti, kita bisa saja kehilangan orang yang kita cintai, yang membuat kita patah—begitu patah.

Tetapi apakah ketika ada yang patah, lantas kita kehilangan? Ataukah sebenarnya sesuatu yang kita cintai, begitu melekat, tidak akan pernah hilang dari dalam diri kita. Saya sendiri tidak tahu pasti. Maka, berhati-hatilah dengan cinta dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Karena suatu hari nanti dalam jangka waktu yang tidak ditentukan, hal-hal tersebut akan selesai, disadari ataupun tidak, selesai.

Sampai di sini, ketika memang itu harus selesai, itu bukan salah kamu, salah saya, salah kita yang menjalaninya, melainkan karena waktu yang mengijinkan. Tetapi perlu diingat, cinta, patah—patah, bukan hal yang berbahaya. Mereka sama seperti bagian dari tubuhmu, melekat, ingin dipeluk erat, kenali saja.


Dan jika kamu telah mengenal rasa patah dengan baik, sangat baik. Sebelum rasa patah itu datang, cintailah seseorang sungguh sungguh, penuh penuh, sekarang.