Friday, August 29, 2014

Mochtar Lubis, Manusia Indonesia (sebuah pertanggungan jawab)









Apalah saya jika harus menulis tentang Mochtar Lubis. Saya menemukan bukunya pada rak buku di kineruku, tempat saya  biasa meminjam buku. Sebuah buku kecil, dengan warna halaman yang sudah mulai kekuning-kuningan, dan ada beberapa halaman yang sudah hampir copot dari bukunya.

Saya membacanya dan menemukan semua pemikiran yang cerdas yang diutarakan Mochtar Lubis dari awal sampai akhir. Saya tidak dapat menemukan kata lain selain cerdas. Saya tidak heran ketika menemukan bahwa, ia belajar beberapa bahasa secara otodidak. Tidak hanya itu kemampuan jurnalistiknya juga ia peroleh secara otodidak. Jelas sekali bahwa seorang Mochtar Lubis punya kecerdasan di dalam darah.

Selain itu ia begitu lugas. Ia tipe orang Sumatra yang berbicara tidak bertele-tele, dan menyampaikan apa yang ia yakini dengan sangat lurus. Membaca Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia (sebuah pertanggungan jawaban) ada 3 perspektif yang saya dapatkan:

1. Mesin Waktu. Ada hubungan yang cukup akurat ketika ia menulis buku ini di tahun 1977 dan masih terasa relevansinya di tahun 2014. Saya membaca tulisannya lalu di dalam hati ada jawaban “Ya” dengan lantang. Bahwa saya setuju dengan sudut pandangnya tentang generasi muda pada jaman itu, dan juga terhubung dengan generasi muda jaman sekarang. Saya merasa bahwa, jangan-jangan, kami generasi muda Indonesia, tidak bertumbuh. Jangan-jangan, kami generasi muda Indonesia, hanya mengulangi pola leluhur  kami, yang bermalas-malasan, ongkang-ongkang kaki, tidak punya daya tahan, tdiak punya daya juang, mau enaknya saja, mau sukses, tetapi lupa bekerja keras. Saya takut bahwa jangan-jangan kami generasi muda Inonesia memang tidak kemana-kemana, kami mengatakan diri kami “keren” padahal sungguh kami ini hanya sampah yang suka “memegahkan” diri sendiri.

2. Membongkar pencitraan. Ia juga membongkar wajah kami generasi muda yang sebenarnya. Ketika saya membaca buku ini, saya juga mendapatkan kesan bahwa, sebenarnya tulisan ini dikhususkan untuk kami, generasi muda pada jaman ini, yang senang bermain sosial media, dengan memamerkan segala “keberhasilan” kami yang fana di path. Mengunggah foto-foto perjalanan kami di facebook, atau menuliskan status-status “absurd” di twitter demi pencitraan, juga dalam rangka mendapatkan jumlah “follower”  atau memosting quotes di instagram, tanpa penghayatan yang dalam terhadapnya. Sungguh kami ini babi-babi licik.

3. Pada halaman 88. Ada poin ke-3, ia menulis bahwa: ...”kita melihat betapa perlunya kita belajar memakain Bahasa Indonesia secara lebih murni, lebih tepat dalam hubungan kata dengan makna, yang mengandung pengertian, kita harus belajar menyesuaikan perbuatan kita dengan perkataan kita.” Sesungguhnya ketika membaca bagian ini, saya langsung ingat bahwa saya adalah generasi muda kekinian yang sudah lupa kepada seni percakapan mata dengan mata, daging dengan daging, membaui lawan bicara saya, karena percakapan kita sudah semakin minim, melalui email, sms, chat, whatsapp. Bahwa kami adalah korban teknologi yang kemudian mengubah kami menjadi robot. Tidak hanya robot, kami juga suka menggunakan bahasa Inggris. Padahal kami lupa bahwa Bahasa Indonesia cukup keren.


Intinya, jika kamu generasi muda yang kekinian. Kamu harus baca buku ini. Saya percaya jika Mochtar Lubis adalah orang Maluku, ia akan menulis begini: Generasi muda itu musti banyak baca buku. Jang pambodok macang karbou! (Jangan bodoh seperti kerbau!)  

Wednesday, August 27, 2014

Kolaborasi Journ(al)ey Dan Perempuansore





Akhirnya jurnal seri #1 quotes perempuansore “menulislah dan jangan bunuh diri!” 

berkolaborasi dengan Journ(al)ley (handmade) selesai sudah, silakan pesan!











Harga 60.000 (belum termasuk ongkos kirim)
Silakan pesan dengan cara email ke perempuansore@yahoo.com dengan format : nama - alamat - nomer telepon

Ditunggu! 


Sunday, August 24, 2014

Kenapa Membaca Buku Anak-anak Selalu Menyenangkan










Adalah sebuah kisah percintaan antara seekor tikus dan seorang Putri, Pea namanya. Saya membayangkan pada suatu hari Desperaux dan Pea duduk-duduk pada sebuah taman, lalu Desperaux memberikan bunga kepada Pea, kemudian mencium tangannya dengan penuh cinta. Lalu mereka mulai menceritakan petualangan petualangan apa yang akan mereka lakukan.

Tapi tentu saja, kisah yang sebenarnya harus kamu baca sendiri. Saya tidak suka spoiler. Saya hanya akan menuliskan kepadamu apa yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Saya akan membagi perasaan-perasaan saya kepadamu: 

(1) Saya sedang bosan dengan cerita-cerita orang dewasa. Cerita anak-anak, dalam beberapa hal sangat menarik bagi saya. Alasannya sederhana: di dalam jiwa saya dan kamu ada anak kecil yang tidak pernah dewasa. Dalam rangka itulah saya ingin memelihara jiwa anak-anak di dalam saya.

(2) Ada kalanya percintaan orang dewasa begitu membosankan. Menurut Haruki Murakami, tidak perlu menciptakan tokoh laki-laki dan perempuan di dalam ceritamu. Karena, disengaja maupun tidak disengaja, tokoh laki-laki dan perempuan itu akan bercinta tanpa disuruh. Itu memang sudah semestinya. Yang membosankan adalah ini, cerita orang dewasa, laki-laki dan perempuan akan berakhir dengan bercinta. Sedangkan cinta anak-anak, tidak. Mereka murni. Mereka ingin melakukan sesuatu kepada pasangannya tanpa ada embel-embel “tempat tidur” pada akhirnya. Itulah yang dilakukan Desperaux kepada Putri Pea.

(3) Saya selalu menyukai petualangan. Di dalam diri setiap anak ada jiwa petualangan. Sedangkan orang dewasa, jiwa itu seakan menciut. Tidak ada lagi rahasia bagi orang dewasa. Tetapi bagi anak-anak, selalu ada rahasia, selalu ada petualangan.


Lalu saya akan mengakhiri tulisan ini dengan bukankah cinta itu adalah sesuatu yang kuat, indah, sekaligus konyol. Tentu saja Desperaux dan Putri Pea tidak akan menikah. Lagipula, mana mungkin seekor tikus akan menikahi seorang putri, seorang manusia. Anak-anak pun akan mengerti itu. Selamat membaca! 

Thursday, August 21, 2014

Deadline dan Burger King






Saya bukan pemakan fast food. Tetapi dengan kesibukan menulis yang banyak akhir-akhir ini, saya sering bosan makan menu yang itu-itu saja. Dan menginginkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang asin. Sesuatu yang pecah di dalam mulut. Tetapi tentu saja lezat dan tidak terlalu berat.

Di sisi yang lain saya sangat menggemari keju. Bahkan jika makanan apapun yang dilaburi keju, saya bisa dengan cepat menghabiskannya. Akhir-akhir ini saya punya beberapa deadline menulis yang harus saya selesaikan. Jadwal menulis saya pun biasanya, ketika malam jelang pagi. Karena sepi. Dan pada waktu itulah saya merasa otak cukup tenang untuk berpikir.

Dan satu fakta lagi, saya suka sekali ngemil sambil menulis. Entahlah mungkin ini bukan contoh yang bagus buatmu, karena akan gampang membuat gemuk. Haha. Tetapi fakta lainnya, ngemil membuat saya sangat lancar menulis. Haha. Semuanya berkesinambungan. Sambung menyambung seperti rantai kehidupan.

Ketika itulah saya menemukan Burger King. Suatu hari ketika hendak pulang dari latihan bernyanyi, saya teringat bahwa pada malam itu juga saya harus menyelesaikan deadline. Iseng-iseng saya pergi ke Burger King untuk melihat apakah ada seuatu yang lezat yang bisa saya bawa pulang sebagai cemilan. Mata saya terpaku pada menu yang menggantung dan mencari kata “keju” atau “cheese” yang bisa saya temukan. Karena sudah pasti hal itulah yang akan saya beli.

Whopper Beef Bacon Cheese. Mata saya terpaku sejenak. Sebelum akhirnya memesannya. Air liur saya sudah menetes. Sama sekali tidak sabar. Tetapi saya harus menunggu. Dan berpikir-pikir untuk memesan sesuatu yang lain. Dan kemudian Chicken Fries oke juga.

Jadilah saya membawa pulang sekantong pesanan saya ke rumah. Sesampainya di rumah dengan sigap saya membuka laptop saya, mengeluarkan pesanan saya tadi: Whopper Beef Bacon Cheese dan Medium Onions Rings dan menikmati mereka perlahan-lahan. Saya suka tekstur roti dari Burger King. Tebal sekaligus empuk. Dan ketika dimakan bersamaan tanpa harus dipotong kecil-kecil, justru di situlah kenikmatannya. Saya menemukan beberapa tumpukan daging. Dua helai daging sapi. Dan keju diantaranya. Rasa keju hangat bercampur dengan daging sapi di mulut membuat, saya langsung melahapnya sampai habis. Tidak lupa menambahkan sedikit saus sambal akan menambah cita rasanya.

Medium Onion Rings dengan mayonaise adalah hal terakhir yang saya nikmati. Rasa ayam bercampur dengan kentang juga tidak kalah gurih. Tentunya tidak lupa saya meminta ekstra mayonaise. Karena saya adalah penggemar mayonaise juga.

Deadline malam itu berakhir dengan penuh semangat.

Jika kamu memilih makan di tempatnya, Burger King juga adalah tempat yang asik untuk dipakai makan beramai-ramai, terletak di PVJ Mall, Resort Level #A-16 & Sky Level #05C, Bandung ini sangat representatif.

Dan ada satu lagi, jika memang kamu sama sekali tidak memiliki waktu untuk datang ke Burger King secara langsung, kamu bisa memesannya secara online melalui foodpanda. foodpanda merupakan delivery makanan online, selain di bandung, foodpanda juga ada di beberapa kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Bali, Medan dan Makassar. Untuk pengguna baru seperti saya, ada diskon voucher sebesar Rp. 30.000, sangat menguntungkan dan mudah jika saya lapar malam-malam dan malas untuk pergi ke restoran dan bisa juga mendownload aplikasinya di sini, untuk apple store, google play atau windows store.


Selamat mencoba! 

Wednesday, August 20, 2014

Membaca Dongeng Ayu Utami






Beberapa buku yang tidak boleh dilewatkan adalah seri Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, Lalita, dan Maya. Dongeng dan Ayu Utami seperti tidak terpisahkan. Kesukaan saya akan mitos seperti mendapatkan “ruang.” Ayu yang pandai bercerita selalu menimbulkan kegemaran saya berimajinasi tentang Jawa dan hal-hal eksotis lain di sekitarnya.

Beberapa hal yang saya catat dari tulisan-tulisan Ayu adalah pertama ia selalu menjadikan apa yang dianggap orang tidak indah, menjadi sesuatu yang indah. Apa yang tidak dipandang oleh orang lain, menjadi dipandang. Apa yang tidak berharga, menjadi berharga. Ia mendadak seperti Yesus, selalu memilih apa yang hina bagi dunia dan menjadikannya mulia.

Hal ini menjadikan karya Ayu layak dibaca, karena ia tidak pernah ikut ramai. Apa yang cantik baginya, bisa jadi tidak bagi kebanyakan orang. Apa yang indah baginya bisa jadi tidak indah bagi kebanyakan orang. Tetapi ia tidak peduli. Justru di situlah yang membuat ia menonjol. Dengan karakter-karakter yang dibangun berdasarkan rasa keterbelakangan. Jadi setiap orang yang merasa “berbeda” mendapat tempat.

Kedua. Kekuatannya membangun sebuah cerita. Saya selalu mengibaratkan penggalan kata yang ada di dalam halaman-halaman novelnya terbuat dari putih telur, yang konon itulah yang melengketkan batu-batu yang menjadi sebuah candi. Mereka begitu kuat. Sehingga bertahan berabad-abad. Kekuatannya justru terlihat pada dasar bangunannya. Sebelum melihat kepada bumbungan dari bangunan tersebut.

Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, Lalita, Maya, hanya sebagaian kecil dari rasa kokoh itu. Sampai akhirnya kita akan dikejutkan lagi dengan seri-seri lainnya. Selamat menunggu!


Friday, August 15, 2014

Tentang Ghost Stories Dan Perasaan Perasaannya










Ghost Stories, bisa diterjemahkan sebagai cerita hantu. Cerita hantu yang biasanya suka kita dengarkan menjelang tidur. Cerita hantu yang membuat kita selalu membayangkan seperti apa rupanya, tidak membuat takut, hanya deg-degan sedikit. Tetapi saya ulagi lagi tidak membuat takut. Karena hantu itu adalah rindu.

Saya mendengarkan Ghost Stories, album Coldplay berulang-ulang. Lalu menemukan satu kata: rindu. Mengutip dari sebuah buku seperti dendam, rindu pun harus dibahas tuntas. Terlepas dari katanya album Ghost Stories ini memang dibikin karena Chris Martin mengalami “kegalauan” yang sangat dalam ketika hendak berpisah dengan Gwyneth Paltrow, tetapi saya merasa bahwa ada unsur rindu yang begitu besar, yang hendak “dituntaskan” olehnya.

Karena ketika rindu itu tidak dituntaskan, ia akan berubah menjadi hantu. Rasanya lebih berat jika kamu dihantui oleh rindu ketimbang dihantui oleh “hantu” yang sebenarnya. Karena pada dasarnya hantu sendiri tidak punya rindu. Mereka tidak merindukan siapa-siapa. Tetapi bayangkan jika kamu sedang “rindu sangat” kepada seseorang, dan rindu sangat tadi itu tidak tuntas, maka bersiaplah, kamu akan berubah menjadi hantu.

Ghost Stories adalah sebuah album pengantar tidur. Melayang-layang. Tubuhmu menjadi sangat ringan. Kemudian lelap ke sebuah dunia mimpi, dimana di sana ada sebuah rindu yang menghantui kamu cukup lama. Rindu itu minta kamu membayarnya dengan tuntas.

Ghost Stories adalah sebuah langit hitam, dengan bulan merah sepotong menggantung di antaranya, tidak ada bintang sama sekali. Mendengarkan album ini, akan indah ketika sendirian, bukan beramai-ramai. Sensasinya akan berbeda.

Track favorit saya adalah Ink, Oceans, O, dan tentu saja Midnight. Tetapi akhirnya saya menyadari bahwa keseluruhan lagu di dalam album ini adalah sebuah kesatuan cerita. Mereka tidak bisa didengarkan terpisah. Seperti lautan biru luas, permukaanya tenang, tetapi sebenarnya ia bisa membuatmu tenggelam.


Selamat menuntaskan rindu. Selamat mendengarkan! 

Thursday, August 14, 2014

Bacarita Dengan Henry Timisela Tentang Film Jefta













Jefta adalah sebuah film yang sementara ini sedang diproduksi di Belanda. Film ini diproduksi oleh kakak beradik Timisela, Henry dan Joshua yang menamakan rumah produksinya, Maluku Cinema.

Local content adalah sesuatu yang seksi akhir-akhir ini. Karena ketika beberapa film mulai mengangkat tema lokal sebagai isu, artinya generasi (saya) belajar untuk mengenal kultur, mengenal akar. Apalagi Maluku, sebagai orang Maluku ada rasa bangga tersendiri ketika menuliskan sesuatu yang juga berbau Maluku, baik itu di tentang buku, musik, atau film.

Jefta, memang sedang dalam proses produksi. Tetapi tidak ada salahnya mengenal Henry Timisela, dengan sedikit ceritanya mengenai behind the scene film Jefta. Saya menginterview Henry lewat email. Mari kita ikuti sedikit ceritanya.

The: Hello Henry, could you tell me about yourself (name, work, experienced, latest work)

Hen: I am Henry Timisela, born and raised in The Netherlands. My father is Fred and was born as a son of a Moluccan soldier in a refugeecamp for Maluku soldiers in the mid fifties in Holland. A big community of Moluccan people were forced in 1951 by the Royal Dutch Indies Army and Republic Indonesia to fled to the Netherlands. They would stay for a couple of months and return to their own free republic, but that promise was never kept bij the Dutch. My mother Selly was born in Kota Ambon and worked there as a nurse at Rumah Sakit Tentara. She met my dad in 1977 and they married and came to Holland. I was born in 1978. I worked as a professional journalist since 1999 in Dutch press media. Switched to radio in 2003. I worked for several National Broadcasting Stations. And as a mediateacher I lectured massmedia/ new media at universities and highschools. Since 2010 I started my own company with my brother Joshua, called TBT Works, focussing on media, film and education.

The: So, you are Ambonesse and stayed in Netherland for a years. Could you tell me how the Dutch-Ambonesse in Netherland live? Does they have something uniquely in culture?

Hen: I am not Dutch-Ambonese. I am Dutch-Moluccan. We are the Maluku-community that was forced to leave Indonesia because of World War II and Indonesia's independence. We were forced to stay in the Dutch camps where Jewish people were brought to murder during World War II. My grandparents were young and had an insecure future. But they made it and gave us as third generation Moluccan-Dutch a bright future. Still there are big parts of our community who prefer to live together. We share this sad history of broken promises.


The: I've been heard that you also played cello. Do you ambitions in music? what's your passion in life?

Hen: I love music. I grew up with this. My father plays violin. I looked for another instrument (strike) and found the cello. I dont have any ambitions in music, music is just my way to express myself and relax. I love to make music with other friends. My passion is life is to tell my story. I did that as a photographer, as a journalist, as a radiojock. As a person I am interested in telling stories and listen to others. I love to get inspired by listening to stories and the people who tell them.

The: Now, we're talking about your movie. Why the titled is Jefta? And why do you guys (you and Joshua) very interested in Mollucan myth and bring those "myth" to this project?

Hen: It is titled jefta, which Biblically means: 'He who opens the way'. We believe in opening our ways for a new Moluccan community in Netherlands. Building new bridges for the world. We are not only interested in just the mythes. The movie 'Jefta' is not only about myths and doti you know. It is much more than that. It tells a story about a forgotten Maluku community where no one ever talks about. It is about a history that was never written in the books. I mean, have you ever learned in your history class why Moluccan people were forced to go to Netherlands? i dont think so. It was a black page in history by Indonesia and Dutch, so now it's time to tell our story. The story of Maluku people in The netherlands. Bringing myths to this story just gives insights in our world. But it is more than that.

The: Do you guys believe in "doti"?

Hen: Just like in answer 4. We want to give insights in our community through film. Doti is just a part of the story. We saw some of doti while we were young, but we dont believe in it. We accept that people use it, but first of all, we are artists, we are filmmakers who want to tell a story. If I make a movie about dragons and leprechauns, it doesnt mean that I believe in dragons and leprechauns. The movie Jefta tells about Moluccan culture in the Netherlands. How we live together, how we cry together, how we laugh together.

The: And tell me about Maluku Cinema? what is actually Maluku Cinema concerned about?

Hen: Maluku Cinema first of all is a proyect to bring awareness to people. To show them to be prouod of where you  come from. Whether it is Dutch or Maluku. Most of us were born here, but feel their Moluccan pride very strong. That is what we call our connecting factor. We are young Moluccan people, we are Dutch, we are humans with a story. MalukuCinema tells these Moluccan stories through film/ motion picture.

The: Do you interesting to bring "Jefta" to Indonesia?

Hen: Yes we are very interested. We are very pleased that our teaser was well received in Indonesia. We want to tell our brothers and sisters that there is a community of Maluku artists abroud. They are called 'malukucinema'

The: What makes Maluku (esp. Ambon) very special? and makes you also very proud as Mollucan?

Hen: My mother was born there. My grandparents were born there. I feel it in every part of my body and soul. It makes me proud that there is a legacy where we can tell about. Maluku culture is a rich culture. The world needs to know.

The: Is there anything else do you want to tell to Mollucan people wherever they are?

Hen: Yes. Let's connect our talents in favor of Maluku. Let's connect our profession in favor of Maluku. As long as we know where we come from, we are most likely to know where we are going. A bright future. It's all about connecting the dots.

Hanya cerita sedikit, semoga proses produksi Jefta lancar. Jika sudah selesai dan dibawa ke Indonesia, semoga memicu kami, generasi muda dari Maluku, semakin jatuh cinta terhadap Maluku. Dan bukan hanya jatuh cinta, tetapi hendak berbuat banyak terhadap Maluku. 

Informasi lainnya tentang Maluku Cinema dan Jefta bisa dilihat di sini: http://malukucinema.nl/en/