Tuesday, November 1, 2016

Karena Yang Kelihatan Populer Itu Belum Tentu Asyik







Sesuatu muncul di dalam kepala saya. Tentang popularitas. Beberapa hari sebelumnya saya membaca blog salah satu teman baik saya berjudul “Maukah Kamu Tetap Berteman Saat Aku Tidak (Lagi) Populer. Jauh sebelum saya membaca blognya, kita sudah pernah bertemu di momen Lebaran beberapa bulan yang lalu. Dan kita sempat berdiskusi tentang hal yang sama. Diskusi itu membuat kami sempat tercenung-cenung memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Silakan baca tulisannya lebih lanjut di sini.

Tapi saya setuju. Percaya atau tidak, seperti virus, jika kamu populer, maka banyak sekali yang akan berteman denganmu atau ngaku-ngaku sebagai teman kamu. Setiap orang pun mau menjadi populer dengan instan.

Ada periode tertentu di dalam hidup saya, ketika saya banyak sekali menerima surat elektronik dan isinya kurang lebih sama:

“Hai Kak, saya senang sekali dengan tulisan Kakak. Kapan-kapan kalau saya ke Bandung, kita ketemuan yuk. Ngopi-ngopi.”

Saya hampir membalas mereka dengan “Duh, maaf ya. Tapi saya tidak pergi ngopi dengan orang asing.” Tapi saya tidak sampai hati untuk membalas begitu. Karena saya pun terjebak dengan pencitraan klasik. Bahwa jika dikagumi atau disukai oleh orang lain, maka saya harus menjawab mereka dengan baik-baik supaya kesan baik dari diri saya tetap terjaga.

Hal lainnya yang membuat saya terkesima adalah popularitas lalu membawa orang lain “ngaku-ngaku” kenal denganmu. Banyak sekali contoh seperti teman SMP atau SMA yang tiba-tiba menghubungi lagi, padahal ketika masih sekolah dulu hampir tidak pernah mengobrol. Yang lebih mengerikan lagi karena “ngaku-ngaku” kenal hanya dikarenakan berteman media sosial saja. Bahkan belum pernah berjumpa apalagi berbicara secara langsung.

Fenomena popularitas ini semakin miris dengan menjamurnya media sosial yang dapat digunakan untuk eksis. Dimulai dari steller, snapchat, vlog, instagram stories, yang semuanya dapat dipakai untuk menceritakan kisah hari-hari kita secara langsung.

Oke, tidak ada yang salah dengan itu juga. Tetapi kenyataan lainnya adalah bagaimana pemuda-pemudi zaman sekarang membangun dirinya dengan mengejar popularitas secara instan tetapi menjadikannya terasing tanpa ada ikatan yang layak dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan rela menghalalkan segala cara untuk mencapainya.

Karena yang kelihatan, yang populer itu kayaknya lebih asyik. Maka sudah pasti yang populer jauh lebih menggiurkan untuk diajak berteman. Sedangkan yang tidak populer tidak asyik. Padahal belum tentu juga.

Lain halnya dengan jalan mencapai popularitas sendiri. Ada banyak hal besar maupun kecil suka dan duka, yang perlu dilewati untuk sampai di sana. Dan semuanya tergantung dari usaha masing-masing. Banyak usaha, doa, dan kerja keras di balik popularitas. Tetapi kebanyakan orang pemalas maunya ongkang-ongkang kaki lalu bangun keesokan paginya dan populer.

Lagipula popularitas bukan yang paling segalanya dalam hidup kok. Ia pun bukan satu-satunya tujuan hidup. Manusia tidak lantas mati jika tidak populer. Jadi bertemanlah dengan siapa saja, jangan pilih-pilih. Sebab roda kehidupan terus berputar.
  


Thursday, October 27, 2016

Radinka dan Payung Kuning






Radinka.

Sebuah nama tertulis pada kertas. Dengan beberapa digit nomor tertera di bawahnya. Saya memandangi kertas itu lama dan mengulang kembali nama itu di dalam hati. Radinka. Radinka.  

Ada desir halus muncul di hati ketika mengucap nama itu kembali. Saya  kembali mengingat ketika berpisah dengannya. Ketika itu hari hujan di bawah pohon kamboja. Ujung payung kuning berkibar-kibar terkena angin. Ujung-ujung kaki kita bersentuhan di antara bunga-bunga kamboja.

Radinka tidak menangis. Ia begitu tegar.

“Sudah saatnya saya pergi meninggalkan rumah.”

Saya diam. Ujung tanganku gemetar mendengar kalimat itu. Sementara di luar payung kuning, hujan semakin deras. Bis yang kami tunggu datang juga. Berhenti tidak jauh dari pohon kamboja. Radinka menggandeng tanganku erat dan berjalan menuju bis.

Langkah kakiku kini lebih berat.

Radinka pergi. Ia meninggalkanku dengan payung kuning. Hujan deras seperti berdenting. Nadanya minor.

Skidamarink a dink a dink
Skidamarink a doo

I love you.



***

Saya mendapat nomor teleponnya beberapa hari yang lalu. Tujuh tahun sudah saya kehilangan kabar darinya. Perpisahan di bawah pohon kamboja. Lalu bis yang menjemput. Dan saya dan payung kuning.

Semuanya seperti film yang kembali berputar di ingatan. Dan kini saya berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwa Radinka telah kembali ke kota ini. Saya harus bertemu dengannya. Tekad saya bulat di dalam hati. Ruang rapat di kantor waktu itu terasa sesak. Saya butuh segera keluar dari ruangan itu. Saya butuh menelepon Radinka. Saya butuh bicara. Saya butuh bertemu dengannya.

“Bagaimana Bapak Raga, apakah Bapak punya usulan terhadap proyek kita ini?”

Pertanyaan dari atasan membuyarkan lamunanku. Saya kembali memusatkan perhatian ke dalam ruangan. Melihat kepada atasan saya. Membersihkan tenggorokan dan ...

“Saya pikir cukup, Pak. Tidak ada lagi yang perlu ditambahkan.”

Fiuh.

Rapat pun selesai. Saya menyambar jas yang ada di lengan kursi. Dan berjalan dengan cepat ke arah meja kerja. Menyambar dompet, handphone, dan kunci mobil. Lalu segera berjalan lebih cepat ke arah lift.
Saya butuh meneleponnya sekarang. Saya menunggu lift sampai di lantai dasar. Menekan beberapa digit nomor dan menunggu.

Nada panggil di telepon. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali.

Tidak ada yang mengangkat. Oh, Radinka, please.

Saya mencoba sekali lagi sambil berjalan ke arah parkiran. Kali ini pun nihil. Saya masuk ke dalam mobil dan mencoba sekali lagi. Handphone saya hanya menghasilkan bunyi panjang tanpa jawaban.

Mobil saya sudah keluar dari kantor menuju ke jalan utama. Antrian mobil-mobil lainnya di samping kiri dan kanan membuat jalan utama itu kini tidak karuan. Saya masih penasaran dan hendak mencoba sekali lagi menelepon Radinka. Saya tahu pasti ada yang menjawab. Saya masih ingat  suara itu. Suara yang khas. Saya mau bertemu dengannya. Memeluknya. Kali ini lebih lama. Dan ia tidak boleh pergi lagi.

Bunyi nada panggil.

Tidak lama kemudian terdengar nada untuk meninggalkan pesan.

Saya sempat ragu. Menahan diri sebentar. Tapi kemudian kata-kata ini yang keluar.

“Dinka, ini Raga. Hei ... kamu di sini sekarang. Apa kabar? Semoga sehat ya. Hm, kalau sore ini kosong, kita ketemuan yuk. Kafe Payung di Jalan Kamboja. Pukul 6. Saya tunggu ya.”

Klik.

Sambungan telepon saya matikan. Saya bahkan tidak sadar kalau suara saya bergetar di telepon tadi. Saya membuang nafas pelan dan melihat keluar jendela. Bulir-bulir hujan satu per satu kini jatuh di kaca jendela. Lalu deras tiba-tiba. Jalanan tambah tidak karuan. Hati saya pun ikut tidak karuan.

Ada yang menyeberang jalan. Perempuan dengan payung kuning. Ia menoleh sebentar kepada saya dan tersenyum bahagia. Saya ingat senyum itu. Seperti ... Radinka.

Bayangan perempuan itu ikut hilang bersama derasnya hujan, kini di pelupuk di mata.


*Salatiga, 27 Oktober 2016. Pukul 00:37 wib. Menulis ini karena sore tadi hujan di Salatiga. Lewat pohon kamboja. Dan ingat nama Radinka.


(Radinka Lunar, Rest In Love, 17 Oktober 2016)




Thursday, October 20, 2016

Sikat Gigi





Menyikat gigi adalah pengalaman yang menyenangkan dan indah. Bukan hanya karena semut-semut hitam yang berjejer senang di dekat jari-jari kakimu, melainkan juga aroma masa lalu kerap muncul ketika bulu-bulu halus sikat gigi itu mengenai gigimu.

Sejumput kenangan dari rambut abu-abu nyaris putih, sepasang mata dan sepasang gusi atas dan bawah. Lengan-lengan yang mati dan terbujur kaku di peti mati. 

Tak ada lagi kehidupan. 

Saya berhenti sebentar menyikat gigi. Dan merasakan busa-busa segar di sela-sela gigi. Merasakannya dengan lidah saya dan menelannya sedikit. Rasa pasta gigi yang bercampur dengan liur itu ternyata enak juga. 

Sementara udara segar dari ventilasi kamar mandi masuk dan menelusuri punggung. Irama lagu dari radio terdengar sayup-sayup dari kamar sebelah membelai telinga. Mengajak bersenandung walaupun sedang menyikat gigi. 

Sekelebat pertanyaan itu muncul di kepala begitu saja, sebutkan satu hal terakhir yang paling menyenangkan yang akan dilakukan sebelum mati?

Apakah itu sikat gigi?

Satu bulu sikat lepas dari tangkainya. Tercerai dari kawanan, sepi. Hilang ke dalam selokan. Di sana tidak ada gusi dan gigi yang merah pucat dan putih, seperti mayat. Tetapi basah dan bau tak sedap itu begitu akrab. 

Setiap pagi ia dibawa masuk ke dalam satu dunia yang sama sekali berbeda dari keranjang biru muda tempatnya bertengger sepanjang malam. Terdorong tanpa punya pilihan lain, selain melompat-lompat di atas barisan gigi yang tak simetris, menyelinap di celah-celahnya, atau masuk ke dalam lubang-lubang tempat kebusukan bersembunyi. 

Ia tak punya pilihan. Hidup yang tak punya pilihan sama saja dengan mati. Tercerai dari kawanan, hanyut ke alam lain, dan tinggal di dalam selokan sepanjang usia tulang-belulang.

Air menderas. Bulu sikat tertancap pada celah dasar selokan yang retak. Senandung dari dalam kamar mandi menggema di selokan. Ia rindu pada hidup yang dulu, meski melompat-lompat di antara barisan gigi yang mulai ternodai kopi dan nikotin.

I was born by the river hm hm hm hm hm..
O, and just like the river I've been running hm hm hm...”

Tiba-tiba ia ingin merasakan lagi dua katup bibir yang menggumamkannya. Bibir yang lembut dan memerah karena pasta gigi. Ia rindu ada di lagu itu. Lagu tentang hal-hal yang tidak dimengerti. Tentang hidup. Hidupnya yang tak ia mengerti tetapi entah untuk alasan apa terus saja ia lanjutkan, di keranjang biru, di antara barisan gigi, dan di selokan kini. 

(* adalah prosa pertama yang ditulis bersama. Saya dan weslly johannes mencoba menggarap proyek tulisan kedua kami secara serius sekaligus santai. Berbekal jarak dan ketabahan, semoga kami bertahan untuk menyelesaikannya.) 

Sayang Sekali Kita Terlanjur Melihat Cinta Sebagai Sebuah Pemikiran Remeh





Saya memulai kalimat-kalimat saya dengan ini : “yang berdosa itu ketika jatuh cinta dan tidak menikmatinya.” Kalimat-kalimat itu saya ucapkan pada suatu sore selesai ciuman yang sederhana. Saya menyukai bagaimana cinta merasuk dan menghisap darah manusia seperti kutu busuk. Berawal dari jumpa dan melihat kekasihmu berubah menjadi hantu di dalam tidurmu.

Bagaimana kau mencintai bau kulitnya yang berminyak. Bau tembakau yang menempel. Pelukan di bagian punggung. Urat-urat di mata. Kelopak mata yang tertutup. Tungkai jenjangnya yang seperti perempuan di atas catwalk. Atau caranya membikinkan kopi untuk bekal menulis. Sungguh; itu semua adalah hal-hal sederhana yang tidak akan ada artinya tanpa kesungguhan.

Emma Stone berkata ia tidak akan bisa hidup tanpa cinta. Ahok tidak akan bisa bertahan tanpa cinta. Kawan-kawan yang berdemo kemarin-kemarin tidak akan melakukannya tanpa cinta. Bob Dylan tidak akan membuat lirik-lirik yang bagus tanpa cinta. Bahkan Pramoedya menulis dari dalam penjara karena cinta.

Sayang sekali kita terlanjur melihat cinta sebagai sebuah pemikiran remeh, rendah, dan mengangkang. Satu-satunya yang kerap dekat dengannya adalah orgasme: asal satu orang senang. Padahal cinta bukan masalah satu melainkan dua. Satu tambah dua sama dengan tiga. Saya ditambah kamu sama dengan Indonesia. Saya membayangkan apa yang ada di dalam benak pencipta ketika ia mencipta Indonesia. Sudah pasti bukan siapa yang paling berkuasa. Atau sudah pasti bukan siapa yang lebih berhak menjadi pemimpin sementara yang lain tidak layak. Tidak pantas. Tetapi rasanya ia mencipta karena cinta. Maka setiap orang memiliki cinta berhak untuk memimpin.  

Siang tadi kami membaca Sartre, ia menulis ada seorang laki-laki yang punya lubang hidung begitu besar sehingga ketika ia bernafas keluarganya pun akan ikutan hidup. Diam-diam saya berpikir tentang hal lainnya tentang cinta. Cinta adalah membiarkan yang lain hidup. Tetapi bukan yang lain lantas mati. 

Wednesday, October 19, 2016

Rajinlah Mencuri!






“Nothing is completely original. All creative works build on what came before. Every new idea is just a remix or mash-up of one or two previous ideas.”

Austin Kleon berkata begitu pada suatu waktu di sebuah panggung bicara kreatif. Austin Kleon yang menulis beberapa buku kreatif dan masuk ke dalam kategori best seller. Austin Kleon yang kemudian saya curi ide newspaper blackout-nya yang tersohor itu dan saya adaptasi menjadi ‘menghitamkan koran’ yang kemudian dipamerankan di poetry on the street di Ambon beberapa waktu yang lalu.

Tapi ternyata saya salah. Ide newspaper blackout yang dipopulerkan oleh Austin Kleon bukan benar-benar ide orisinal miliknya. Ide itu sudah lebih dulu dilakukan oleh Tom Phillips, seorang seniman asal Inggris yang senang sekali pergi ke toko buku, lalu membeli novel bergaya victorian dan kemudian menggambar ilustrasi di tiap halaman novel tersebut. Tom Phillips ternyata juga ‘mencuri’ ide yang dilakukan oleh William Burroughs, penulis yang pada zamannya terkenal dengan gaya menulis cut-up-method-writing- nya. Dan tidak sampai di situ saja, Borroughs juga ‘mencuri’ ide tersebut dari temannya, Brion Gyson.

Ternyata seniman-seniman itu saling mencuri!

Jadi jangan takut mencuri. Selama selesai mencuri ide dari orang lain jangan lupa untuk digabungkan dengan ide yang ada di dalam kepalamu sendiri lalu belajar mengolah sehingga ia menjadi sebuah ide yang lebih baru kemudian mulailah untuk proses eksekusi.

Tetapi yang jadi persoalan adalah kebanyakan orang malu dituduh sebagai pencuri. Mereka memilih untuk meniru. Nah di sinilah letak perbedaan antara pencipta dan pengikut.orang-orang yang disebut sebagai pencipta itu ‘mencuri’ ide dari karya orang lain kemudian digabungkan dengan idenya sendiri di dalam kepala lalu diolah menjadi sebuah ide yang lebih segar baru dieksekusi. Sementara yang menjadi pengikut, hanya puas dengan meniru. Tidak tanggung-tanggung mereka biasanya meniru utuh-utuh.  

Pengikut-pengikut yang sudah terlanjur buntu ditambah dengan malas belajar lalu berakhir dengan meniru orang lain. Sementara pencipta selalu menemukan cara lain untuk mencuri dengan kreatif dan tanpa malu. Seperti yang dikatakan oleh Steve Jobs, “Creativity is just connecting things. When you ask creative people how they did something, they feel a little guilty because they didn’t really do it, they just saw something.” Pencipta punya banyak waktu untuk mengamati sesuatu.

Satu hal yang menyenangkan dari menjadi kreatif adalah punya banyak waktu untuk melamun dan menikmati sesuatu lambat-lambat. Karena ketika itulah ide dan inspirasi kemudian datang menghampiri. Tapi apa mau dikata, akhir-akhir ini setiap orang sangat tergesa-gesa. Nah jika tergesa-gesa, kita bahkan lupa untuk mengamati hal yang paling kecil di sekitar. Lupa pula untuk mencuri hal-hal istimewa dari sekitar kita.

Jika semua manusia adalah seniman seperti yang dibilang oleh Picasso. Maka jangan lupa bahwa Picasso juga pernah bersabda, “Good artists copy, great artists steal.” Manusia-manusia besar adalah mereka yang berani mencuri. Bukan meniru. Sebab tidak ada yang benar-benar orisinal di muka bumi. Yang orisinal hanyalah ayam kfc, saya suka pesan bagian paha!



Sunday, October 16, 2016

33







Lahir pada hari minggu, 16 oktober.
Natal di larat & panggung pertama, 4.
Punya teman imajinasi bernama doda, 6-10.
Baca puisi pertama di kematian om terkasih, 10.
Menulis cerita pendek pertama dan tidak selesai, 12.
Keluar dari rumah kebun cengkeh karena kerusuhan, 15.
Berangkat dari ambon ke jogjakarta, 16.
Pindah ke bandung lalu melamar jadi penyiar radio, 22.
Bergabung dengan glorify the lord ensemble, 22.
Bertemu dengan banyak orang-orang keren, terinspirasi & tahun-tahun belajar, 22-26.
Membuat nama perempuansore untuk blog, 26.
Menerbitkan buku puisi bersama teman-teman perempuan lainnya, 27.
Tahun ini menulis di dua kumpulan cerita pendek, 29.
Membuat kelas public speaking, 29.
Mama meninggal dan baca puisi di hari pemakamannya, 31.
Membuat molucca project, 32.
Bertemu kekasih dan jatuh cinta, saumlaki, 32.
Mendapat hadiah puisi pertama ketika ulang tahun, 32.
Membuat perjalanan pertama di buru, 32.
Membuat jurnal puisi bersama kekasih, (ide awal tempat paling liar di muka bumi), 32.
Menerbitkan tempat paling liar di muka bumi bersama kekasih, september 2016, 14 hari jelang 33.
Hari ini, minggu yang berbeda, 16 oktober, perjalanan 33 saya dimulai.


I praise you, for I am fearfully and wonderfully made. Wonderful are your works; my soul knows it very well.



(photo by tiara salampessy)

Friday, October 7, 2016

Selamat Datang di “Tempat Paling Liar Di Muka Bumi”









Bandung, 2 Oktober 2016 – Sejak jam dua belas, bulir-bulir hujan menciumi kota kembang. Tetapi seperti takdirnya, hujan tak bisa menghentikan cinta; lalu lalang kendaraan di jalanan, orang-orang masih saja bekerja untuk hidup yang dicintai: orang tua kepada anak, anak kepada orang tua, orang-orang muda kepada kecintaannya. Bandung tak sunyi, walau hujan ramai sekali.

Jam dua siang, hujan baru reda. Saya dan Weslly bergerak meninggalkan tempat nongkrong kami, Senemu Coffee, menuju Daily Routine Coffee untuk mempersiapkan peluncuran, “Tempat Paling Liar Di Muka Bumi.” Kami tiba di halaman rumah Zaky Yamani dan Reita Ariyanti yang luas dan asri. Beberapa meja mulai diletakkan dan kursi-kursi mengelilinginya.

Tiga minggu sebelumnya, Aki dan Ucok sudah menyetujui perayaan “Selamat Datang di Tempat Paling Liar Di Muka Bumi” dilakukan di Daily Routine Coffee. Kami beruntung sekali masih dipertemukan dengan kawan-kawan seperti di Daily Routine Coffee yang menyediakan tempat sebagus itu dengan cuma-cuma. Mayang, Ella, Vae, dan Christopher sigap menata ruang semi-outdoor itu dengan hati senang. Sungguh energi baik yang begitu hangat.

bersama siska yuanita dari gramedia pustaka utama

rudi fofid dari ambon turut hadir membacakan puisinya

Pesta “Selamat Datang di Tempat Paling Liar Di Muka Bumi” dimulai begitu semua orang yang kami nanti-nantikan tiba di Daily Routine Coffee. Kami senang sekali, Siska Yuanita - editor buku ini - datang dari Jakarta dan ditemani Shasya Pashatama untuk bersama merayakan peluncuran buku kami. Rasa senang itu bertambah karena Rudi Fofid, jurnalis senior dan penyair asal Maluku, pun mengejutkan kami dengan kehadiran dan puisinya yang ditulis seketika untuk dibacakan pada saat itu juga.

Waktu Hujan Sore-sore adalah lagu yang tepat. Grace Sahertian, Ariella Sahertian, Eka Karya Safsafubun, Delfiani Tomasoa, dan Bunga Asmara hadir dan menyanyikannya beramai-ramai persis ketika rerintik hujan berjatuhan dari langit Bandung sore-sore itu. Sore yang hujan, tetapi manis. Kawan-kawan yang berjauhan mulai duduk berdekatan dan puisi-puisi mulai dibacakan pun dilagukan.

the ramai-ramai vocals menyanyikan lagu-lagu ambon

Amenkcoy membacakan dua puisi dari buku Tempat Paling Liar Di Muka Bumi secara berturut-turut. Dengan gayanya, Amenkcoy membuat kami semua hanyut dalam bait-bait yang dibaca sekaligus di’tari’kannya. Hangat dan ceria. Kami dibuat tertawa dan tertegun – dan tertawa lagi. Banyak tawa bercampur.

amenkcoy yang gemas sekali petang itu!

Di sekeliling kami ada banyak wajah yang akrab dan tersenyum. Aumdayu, Elan Budikusumah, dan Fierza telah menemani kami beberapa hari ini – dan belum lelah untuk duduk-duduk mendengarkan kami bercerita dan membacakan puisi-puisi. Maradilla dan Lukman Gunawan bersama Ragasastra, anak mereka; Boit dan Mas Tri bersama Tiana, putri mereka; begitu juga Aidan bersama ayah-bundanya Nico dan Jia, membuat perayaan ini terasa lebih hangat, manis, dan penuh warna, seperti satu keluarga besar yang berkumpul merayakan cinta. Anais, Tiana, Aidan, dan Ragasastra adalah kalimat paling gamblang tentang cinta sejati yang masih ada, terus ada, dan akan terus dirayakan: kehidupan.

sarita 'Teman Sebangku' & aumdayu 'Tetangga Pak Gesang' yang turut menyumbangkan suara merdunya

Cinta memang sebuah perayaan sepanjang abad. Puisi-puisi di buku Tempat Paling Liar Di Muka Bumi adalah perayaan cinta yang warna-warni – termasuk hitam dan putih. Dua puluh lima foto yang kami pilih untuk dipamerkan saat itu mewakili beragam warna kehidupan yang di dalamnya kami dapati cinta bicara melalui banyak cara. Foto-foto itu bagai monumen, kami semua berkumpul di sekitarnya untuk mengingat kembali bahwa cinta masih ada dan berkekuatan.

tiana mungil yang digendong delfiani 'debol' tomasoa ikut hadir di panggung dengan ceria

“Puisi sementara jadi ‘trend’”, kata Siska Yuanita, ketika ditanya tentang keberaniannya menerbitkan buku-buku puisi. Tentu ‘trend’ yang dimaksud editor senior ini bukan gaya-gayaan, tetapi sebuah kekuatan dan peluang. Anissa Yona tiba-tiba menjadi MC bagi penyerahan mockup Tempat Paling Liar di Muka Bumi yang menandai peluncuran buku kami, sebab sejak awal, perayaan “Selamat Datang di Tempat Paling Liar Di Muka Bumi” dipandu oleh saya dan Weslly. “Swadaya sekali”, kata Sundea Salamatahari.

andi gunawan alias ndigun yang membaca salah satu puisi kami

Perayaan ini seperti gerimis. Santai dan jatuh begitu saja. Andi Gunawan juga ditodong begitu saja. Ia membaca satu puisi yang dipilihnya secara acak. Demikian pula Sarita ‘Teman Sebangku’ dan Aumdayu ‘Tetangga Pak Gesang’ yang tiba-tiba diminta untuk berduet menghangatkan suasana. Andre Paais, beatboxer keren yang sejak awal menemani nyanyian “The Ramai-ramai Vocals”, tampil lagi dan mempersembahkan aksi solonya yang mengagumkan. Lagu ‘Rame-rame’ didendangkan sedemikian rupa sehingga semua yang hadir terpesona. Dan tiba-tiba saja Andre berduet dengan Elan Budikusumah yang tidak hanya jago memotret, tetapi juga hebat beatbox. Mengejutkan dan asyik!

andre harry yang memulai aksi beatbox-nya

Cicilia Dewi Sartika, Kuke Harjono, dan Mega Anggraeni, Nindya Lubis, Desiyanti Wirabrata, Adjo, dan Vincent Rumahloine, Gayinta, Naomi Yunita, dan Nona Reda, Herlin Venny Johannes dan kawan-kawan, juga Sammaria Simanjuntak dan kawan-kawan bukanlah nama-nama yang asing di telinga kami. Setiap kawan-kawan yang hadir adalah sahabat dan kerabat dekat. Selama tinggal di Bandung, biasanya banyak bersinggungan dengan mereka lewat pekerjaan maupun sekedar teman bertukar cerita. Bahkan ada juga teman makan siang. Tetapi karena itulah hubungan kami malah semakin akrab.

Semua yang hadir pada sore hingga malam itu adalah pribadi-pribadi yang merasa bahagia atau penasaran dengan lahirnya buku ini. Kedatangan, kedekatan, dan kehangatan sejak sore hingga malam tercipta karena dua hal: cinta dan puisi. Dan saat-saat hangat itu diabadikan oleh Nasrul Akbar dan Ruri Fitriyani dengan manis. Kami sangat senang mendapat kiriman foto dari mereka berdua.

Dan cinta memang dua hal: mencintai dan dicintai. Merayakan sebentuk kemenangan dan kekalahan dengan manis – kau dan aku ditaklukkan oleh kekuatan kita sendiri: cinta. Mencintai dan dicintai bukan urusan remeh-temeh. Bila perang paling besar adalah melawan diri sendiri, maka mencintai dan dicintai adalah kekuatan dan keberanian paling besar.

Terima kasih untuk semua sahabat dan kerabat di Bandung; Windy Pramudya, Adi Marsiella, Jessis, Refa Rabbit, Akbar 'Babay', Ratu Adelin, Indra Adji dan 95.6 B-Radio, Yafi Alawy dan RASE FM, Gramedia Pustaka Utama Bandung, Bung Dino Pattinama, Mas Ugi dan Sapta Senemu Coffee, Mbak Tarlen dan Tobucil, Mas Budi, Cik Rani, dan kesayangan: Aidagati, juga fotografer favorit, Lukman Hakim. Semoga diberkati dengan cinta yang mengajari setiap kalian tertawa, menangis tanpa sesal, dan tertawa lagi. Selamat merayakan cinta!



Salam paling sayang dari Tempat Paling Liar Di Muka Bumi, Theoresia Rumthe & Weslly Johannes


(*foto oleh Ruri Fitriyanti)