Thursday, June 22, 2017

Selamat Menikmati Sebuah Kesementaraan










Susah untuk diamalkan. Jatuh cinta seumpama menemukan kalimat-kalimat bagus pada buku. Sesederhana itu, namun sebelum menemukannya, kau harus rajin membaca.Tak perlu gegabah karena melakukan cinta yang sederhana adalah sebuah kehidupan. Ia menjadi tanggung jawab dari pagi menuju pagi lagi.

Hari ini saya bangun dengan bunyi detak jantung kekasih. Saya mencium telinganya dan mencium aroma bunga-bunga segar di sana. Seperti aroma melati atau sakura, saya sukar menemukan apa yang paling tepat—seperti jatuh cinta, kau akan sukar menemukan aroma apa yang paling tepat.

Jika saat ini hatimu sedang jatuh cinta, percayalah bahwa itu hanya sebuah kesementaraan, nikmati kesementaraan itu sungguh-sungguh. Namun jika saat ini kau sedang patah hati, percayalah itupun juga adalah sebuah kesementaraan, maka nikmatilah itu sungguh-sungguh. Tiba-tiba saya teringat kamar mandi, jika jatuh cinta, kau akan berlama-lama di sana dan jika sedang patah hati, kau pun akan berlama-lama di sana. Maka kamar mandi adalah sebuah kesementaraan.


Semalam, saya tidur di dalam pelukan kekasih dengan cerita-ceritanya yang membuat saya lekas mengantuk, ia menyelimuti saya, kami berciuman dengan mata tertutup. Pun juga adalah sebuah kesementaraan. Saya menikmatinya dengan sungguh-sungguh. Kesementaraan adalah sesuatu yang akan lewat begitu saja. Kau tak dapat menahannya. Kau tak dapat memegangnya erat-erat— seperti langit senja kesukaanmu, kau hanya butuh sebuah singgah lantas beranjak. Lekas. 

Saturday, June 10, 2017

Sayang Indonesia Peluk Nusantara











Sayang Indonesia Peluk Nusantara adalah sebuah metafora. Saya membayangkan Indonesia atau Nusantara sudah seperti kekasih. Saya memulai dengan sebuah undangan singkat yang berbunyi begini:

"Dear kawan-kawan, mengingat saat ini Indonesia kita bersama sedang bersedih dan dirundung banyak sekali persoalan yang membuat sedikit pusing kepala. Nah, tidak ada salahnya kita meluangkan waktu bersama untuk sayang dan peluk Indonesia."

Undangan pribadi saya via whatsapp tersebut kemudian dijawab antusias oleh beberapa kawan. Mereka bahkan mengiyakan duluan untuk datang, walaupun pada akhirnya ada yang kemudian bertanya kepada saya, “Theo, tapi aku baca apa, ya?” pertanyaan ini kemudian saya jawab dengan, “baca apa saja kok, tidak perlu puisi, bisa sebuah tulisan pendek, cerita pendek, karya sendiri maupun karya lain pun tidak apa-apa.”

Waktu berjalan dan kemudian saya harus mengurus beberapa perintilan (seperti poster, diskusi menentukan tanggal) yang dibantu oleh Vira dan Ihsan, pemilik Kedai Cas. Jumat, tanggal 9 Juni kemarin, saya tiba di Kedai Cas sekitar pukul empat sore, dengan pemikiran barangkali saya mau bantu menyiapkan beberapa hal.

Tidak disangka-sangka, hujan turun petang itu hingga membuat aktivitas menyiapkan sound system kita tunda sejenak. Sekitar pukul tujuh lebih sedikit hujan agak berhenti, namun ketika hampir jam delapan (sesuai dengan jadwal di poster kita harus mulai pukul delapan) hujan belum reda juga. Padahal di langit bulan begitu terang dan purnama. Namun niat baik pasti menemukan jalannya, sekitar pukul delapan lebih tiga puluh menit hujan pun reda. Sebuah alas yang digelar untuk dipakai lesehan persis di depan panggung kemudian dikeringkan kembali, supaya setiap orang dapat memakainya untuk duduk. Sound System kemudian disiapkan dan acara pun dibuka.

Kedai Cas ramai, banyak kawan-kawan dekat dan kerabat yang turut hadir. Acara pun berjalan dengan lancar, hampir ada dua puluhan penampil yang membacakan puisi, cerita pendek, prosa, dan juga menyumbangkan lagu. Beberapa adik-adik yang masih duduk di bangku SMA pun ikut hadir menyumbang puisi mereka. Sayang Indonesia Peluk Nusantara adalah rangkaian keberagaman yang menyatu dalam sebuah rasa sayang yang kuat. Malam ini berkumpul: musisi, pelukis, perajut, guru, penulis, pemain pantomim, arsitektur, wartawan, dan kawan-kawan dari latar belakang yang berbeda-beda untuk mengungkapkan rasa sayang dan peluk mereka untuk Indonesia.



Ruri dan Icha yang membuka acara

Lian dan Sissy yang membaca puisi mereka.

Navida Suryadilaga.

Grace Saherian dan Dhira Bongs yang menyanyikan Melati Putih.

Rain Chudori yang membacakan salah satu cerita pendeknya.

Palupi Kinkin dengan sebuah puisi pendek yang ia tulis di tahun 2010.

Nasrul Akbar yang membacakan puisi dari setiap doodling yang ia buat dan membagikannya juga kepada penonton.

Dimas Wijaksana dan Dwi Kartika Yudhaswara

Dimas Hary dengan sebuah tulisan pendeknya.

Ayu Kuke dengan sebuah nyanyian.

Rizky Satria dengan dua buah tulisan pendeknya.

Natalia Oetama dengan tulisan pendeknya.

Jabbar Muhammad dengan puisi yang ia tulis sendiri.

Karina yang membacakan puisi Rendra.

Priska Putri Widjaja dengan dua buah puisi pendeknya.

Boit dengan salah satu tulisan pendeknya. 

Zaky Yamani dan Reita Ariyanti.

Wanggi Hoed.

Tetangga Pak Gesang.

Untuk itu saya mau mengucapkan terima kasih saya kepada setiap kawan-kawan yang sudah meluangkan waktu dan menyumbangkan “sayang” dan “peluk” mereka untuk Indonesia:

Natalia Oetama, Navida Suryadilaga, Dimas Hary, Ayu Kuke Wulandari, Catur Ratna Wulandari, Rizky Satria, Rain Chudori, Palupi Sri Kinkin, Iit Boit, Zaky Yamani, Reita Ariyanti, Wanggi Hoed, Nasrul Akbar, Dimas Wijaksana, Dwi Kartika Yudhaswara Ruri Fitriyanti, Icha, Grace Sahertian, Dhira Bongs, Bintang, Lian, Sissy, Mira, Mas Gatot, Karina, Priska Putri Widjaja, Jabbar Muhammad, Aum Dayu & Meicy Sitorus (Tetangga Pak Gesang).

Juga kepada kawan-kawan dari Kedai Cas yang sudah menyediakan tempat dan mau direpotkan: Vira, Ihsan, Dissa, Yusuf, Baya, Adjo (dan kawan-kawan yang menyiapkan dekorasi lilin), Angga (Dokumentasi), dan tim belakang meja kopi yang sibuk melayani pemesanan.

Sekali lagi kebaikan hati kawan-kawan semua tidak dapat saya balas satu per satu, tapi semoga alam raya yang berkenan memelihara, merawat, dan menyebarkannya sampai ke ujung bumi. Hendaknya pertemuan-pertemuan untuk menyebarkan lebih banyak lagi cinta seperti ini haruslah kita pelihara, mengutip sebuah cuplikan cerita pendek Samad Mencari Bangsa, yang dibaca oleh Zaky Yamani dan Reita Ariyanti, “apa kamu nggak ada kerjaan lain? memikirkan negara dan bangsa sampai mau putus urat kepala segala.”

Kita tak perlu putus urat kepala, putus harapan, apalagi mau pindah ke bangsa lain segala, namun kita dapat tetap tinggal di sini, bertahan dan terus mengusahakan hal-hal baik untuk Indonesia dan mewariskan lebih banyak lagi benih cinta kepada generasi di bawah kita. Maka teruslah Sayang Indonesia Peluk Nusantara!


[foto oleh Ruri Fitriyanti, Windy Pramudya, Angga Hamzah]







Friday, June 2, 2017

Selamat Menjalankan Ibadah Rindu











Bagiku rindu adalah sebuah pekerjaan rumah. Jika kehidupan adalah sekolah maka dapatkah kau bayangkan kau mengerjakan rindu sebagai pekerjaan rumahmu seumur hidupmu. Aku kembali ke meja penuh dengan tulang-tulang ikan dan percakapan-percakapan tentang hidup yang dilalui di kota-kota perantauan. Kau duduk dengan kemeja kotak-kotak berwarna merah yang digulung sampai siku, kemudian memperhatikanku bercerita dengan dua pupilmu lekat-lekat. Sesekali mengangguk, meletakkan sebelah lenganmu di atas meja, sekilas kuperhatikan bulu-bulu halus pada lenganmu, dan rambut-rambut halus yang tumbuh di rahangmu. Aku sengaja makan sedikit malam itu. Barulah ketahuan setelahnya bahwa aku adalah si tukang makan banyak, aku adalah si tukang tertawa besar. Namun, kau yang pemalu, bahkan sejak pertama bertemu tidak berani menatapku lama.

Aku punya pertanyaan untuk diriku sendiri, sejak saat itu hingga sekarang, berapa banyak rindu yang sudah kukerjakan? Berapa banyak lagi rindu yang harus kukumpulkan supaya kelak aku naik kelas? Berapa banyak lagi rindu yang harus kujalani sebagai ibadah hingga pada akhirnya aku mendapatkan sebuah pahala? sayang sekali, semua pertanyaan ini belum dapat kujawab. 


Saumlaki, Ambon, Namlea, Bandung, Jakarta, Salatiga, Jogjakarta, Solo, adalah sebagian kota yang kita jejaki bersama. Malam itu ketika pulang meninggalkanmu bersama meja makan yang penuh dengan piring berisi tulang-tulang ikan, sesampaiku di rumah, aku lupa untuk mengirimkan pesan pendek kepadamu: aku rindu. Keesokan harinya, aku terbang di atas pulau Yamdena dan lahirlah kalimat-kalimat pendek berbunyi: perempuan dan gelisah.     

Saturday, May 27, 2017

#sebuahcatatanharian : Seni Berbicara Kepada Kawan-Kawan dengan Skisofrenia






Setiap orang tidak pernah miskin karya. Mengalami kebuntuan, iya, namun miskin, tidak. Bagi saya, mengajar adalah sebuah karya. Ketika mengajar, bukan berarti saya tahu segalanya dan merasa lebih pandai dari mereka yang saya ajar. Namun sebaliknya, saya datang dengan keinginan untuk belajar.
Beberapa potret di atas adalah ketika saya mengajar seni berbicara di depan umum kepada teman-teman skisofrenia dan bipolar di galeri gerilya tempo itu. Datang tanpa siasat tahu banyak, malah membawa pulang banyak kejutan. Ternyata teman-teman skisofrenia dan bipolar patut dicintai, sebagaimana kita mau selalu dicintai.
Lalu apapun karya yang sedang kamu kerjakan, jangan lupa bersungguh-sungguh melakukannya. Karena ketika sungguh-sungguh, karya yang keluar dari hati, tidak pernah balik menyakitimu.

[foto dok. panitia berakal berkuasa]

Thursday, May 18, 2017

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran




foto oleh lukman hakim

Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang paling akhir? Bagaimana sampai dia tertuang di atas kertas?

Puisi tercipta dari hal-hal yang paling keseharian di dalam diri saya. Jika ditanya seperti apa prosesnya, saya senang mengamati. Senang mengamati hal-hal kecil di sekitar saya, misalnya rumput-rumput hijau, daun kering dengan teksturnya ketika melangkah, air dari dahan yang menetes pada kulit, hujan di jendela pendar cahaya dari lampu-lampu mobil ketika gelap, dan kelopak kekasih. Hal-hal semacam itu senang saya amati lekat-lekat dan lambat-lambat. Setelah diamati lalu saya sambungkan dengan rasa yang ada di dalam diri saya. Kemudian proses selanjutnya adalah menuangkannya ke dalam kertas.

Seperti apakah tempat yang 'paling liar' di muka bumi menurut Theo? Bagaimana kamu memaknai kata "LIAR" itu sendiri? Apa kamu punya kenangan atau ingatan tertentu mengenai kata LIAR? :)

Tempat ‘paling liar’ di muka bumi itu menurut saya adalah di dalam kepala manusia. Karena ada dunia yang tidak berbatas di dalam sana. Jika harus memaknai kata ‘liar’ maka saya akan melihatnya sebagai sebuah ‘petulangan rasa’ bagaimana kita berani untuk menjelajahi setiap rasa yang ada di dalam diri kita, rasa apapun itu dengan berani. Kenangan tentang kata ‘liar’ sendiri ketika berumur dua belas atau tiga belas tahun, saya pernah mengendap-endap keluar dari rumah tengah malam, hanya untuk menonton bioskop tengah malam, tanpa izin kepada kedua orang tua saya, hihihi.

'Keliaran' macam apa yang menurutmu mengalir dalam dirimu? Dari mana dia berasal, dan bagaimana kamu berteman dengannya?

Saya senang dengan hal-hal yang datang kepada saya di kali pertama. Baik itu kalimat-kalimat yang datang pertama kali, maupun setiap rasa yang datang untuk pertama kali. Saya tidak suka menyuntingnya. Karena sesuatu yang lebih ‘mentah’ itu biasanya jauh lebih jujur. Itulah sebabnya, mengapa saya tidak pernah menyunting puisi-puisi saya, terkecuali urusan diksi. Segala sesuatu yang lebih ‘mentah’, lebih ‘apa adanya’, lebih ‘jujur’ memiliki keliarannya sendiri. Dan itu ada di dalam saya.

Bagaimana caranya menemukan puisi di sekitar kita? Harus mulai dari mana? Bisakah kita berpuisi tanpa kata-kata?

Saya percaya bahwa inspirasi mampu menjawil siapa saja yang ia kunjungi. Permasalahannya adalah siapa yang peka dan siapa yang tidak. Jika ketika dijawil, lalu orang tersebut abai, maka inspirasi sudah pasti mencari orang yang lain. Jadi jika mau menemukan puisi yang ada di sekitar kita, kuncinya hanya satu: jangan abai. Berpuisi bagi saya tidak perlu dengan kata-kata kok. Hal ini bisa kita contohi dari bagaimana alam raya berpuisi, itu bisa melalui pelangi, warna-warni senja, deru angin kena muka, asin laut yang menempel pada kulit, maupun jejak pasir pada telapak kaki.


Bagaimana tempat kelahiran Theo memengaruhi karya-karya Theo, cara Theo melihat dunia, atau cara Theo berproses secara kreatif?

Ambon, tanah kelahiran saya, sangat mempengaruhi karya-karya saya, cara saya melihat dunia, hingga kemudian cara berproses kreatif saya. Ayah dan Ibu saya sudah mengenalkan saya kepada ‘dunia panggung’ ketika saya masih sangat kecil. Saya dengan dua kakak perempuan saya juga tumbuh dengan mencintai menyanyi sejak kami kecil. Tidak hanya menyanyi, baca puisi, akrab di panggung untuk bermain drama/teater kecil-kecilan, Ayah dan Ibu pun tak lupa mengenalkan kami kepada buku. Ketika remaja, saya ingat, saya sudah membuat karangan cerita pendek pertama saya, walaupun cerita pendek itu tidak selesai hingga sekarang.

Latar belakang alam Ambon yang eksotis pun merangsang saya yang tumbuh di sana untuk mencipta. Entahlah, tetapi saya merasa lautan tidak hanya sekedar berwarna biru, tetapi ada gradasi warna yang jauh lebih kaya. Dan pegunungan pun tidak melulu berwarna hijau. Ia bisa saja berwarna seperti telur asin. Di situlah saya belajar untuk melihat segala kemungkinan di dalam segala ketidakmungkinan.

Apakah setiap hari Theo berpuisi, atau meluangkan waktu untuk melahirkan karya kreatif? Bagaimana Theo bersetia (atau tidak bersetia) pada seni dan kreativitas di dalam diri Theo?

Apakah setiap hari Theo berpuisi? Jika pertanyaan ini ditujukkan kepada saya sekarang, maka jawabannya adalah iya. Karena saya sedang mempersiapkan sebuah karya buku puisi selanjutnya. Tapi, terkadang saya juga tidak berpuisi dalam waktu yang lama kok.

Namun yang penting bagi saya adalah melahirkan karya kreatif, itu musti dilakukan setiap hari, jika tidak berpuisi, paling tidak saya menulis untuk blog, jika tidak menulis untuk blog, paling tidak saya menulis sekelebat kalimat-kalimat yang lewat di kepala saya di dalam buku catatan kecil yang suka saya bawa atau di laman notes telepon genggam saya. Jika proses ini diabaikan oleh saya, saya suka gelisah dan rungsing.

Saya memilih untuk bersetia pada seni dan kreativitas di dalam diri saya. Saya pikir ini adalah persoalan membuat pilihan saja. Gairah saya tidak akan jauh-jauh dari seni dan kreativitas. Hidup dan memilih untuk melakukan kegairahan secara sadar dan penuh, saya anggap sebagai sebuah pencapaian di dalam hidup. Dan yang paling terpenting dari melakukan semua kegairahan ini adalah melakukannya dengan hati bulat, bukan hanya sekedar keren-kerenan. Supaya tidak menyesal ketika mati nanti.


[tulisan ini dalam versi bahasa inggris juga diterbitkan oleh Hanny Kusumawati untuk laman behind the pages di beradadisini.com]

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...