Saturday, January 14, 2017

Suatu Hari Kamu Punya Jawaban Yang Memukau





Setiap cinta punya fase percakapannya sendiri-sendiri. Jika segala sesuatu dapat dimulai dengan bintang-bintang, hutan yamdena, dan pohon sakura. Maka selanjutnya barangkali lebih serius. Saat ini seringkali di percakapan-percakapan kami menemukan sesuatu yang lebih serius seperti apa yang akan dilakukan hari ini untuk masa depan.

Atau pada kesempatan lainnya seperti apa yang membuatmu jatuh cinta kepada saya, saya ingin tahu alasannya. Suatu hari kamu punya jawaban yang memukau, karena kamu adalah perempuan yang melakukan sesuatu yang kamu cintai dengan sungguh-sungguh.

Tak ada yang lebih menggugah perasaan saya daripada mengetahui bahwa kamu tidak hanya mencintai saya, melainkan juga mencintai apa yang saya kerjakan. Karena itu jauh lebih penting. Saya pikir pernikahan bukanlah soal akhir dari sebuah perjalanan dan lalu saya melupakan apa yang telah saya kerjakan selama ini. Melainkan pernikahan adalah kebersamaan yang beriringan dan akan tetap mengerjakan apa yang terlanjur saya cintai. Termasuk mencintaimu. Baik sebagai sahabat maupun kekasih seumur hidup. 

Lalu fase percakapan-percakapan ini mulai terdengar dewasa. Barangkali iya, barangkali juga tidak. Tentu kami juga tidak akan melupakan kebebasan-kebebasan kecil yang seringkali kami sendiri yang mengerti. Tak ada yang lebih mengerti hal itu ketimbang diri kami sendiri. Tak ada yang lain, walaupun orang lain mencoba. Mereka hanya akan terlihat sok tahu.

salatiga, 14 Januari, 18.03


Sunday, January 8, 2017

Di Dalam Dunia Ini Ada Hal-Hal Yang Bukan Dongeng






Terkadang kita arogan seperti anjing. Menggonggong dengan suara nyaring tanpa berani menggigit. Sepanjang malam melolong di jalan-jalan sunyi, berharap orang yang mendengarnya percaya bahwa hantu sedang lewat. Hantu-hantu yang tembus pandang, tak punya kaki, mempunyai bolong di bagian punggung dan menggantung di pepohonan gelap dengan mata berdarah.

Saya pikir cerita hantu itu memang omong kosong. Hisapan jempol semata. Cerita yang lazimnya sengaja didongengkan kepada anak-anak di waktu malam supaya mereka lekas tidur. Kenyataannya anak-anak itu tak pernah tidur. Mereka malah terbuai di dalam cerita hantu itu lalu akhirnya bertemu *suanggi di dalam mimpi mereka.

Dongeng. Kita memang senang dengan dongeng. Sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Cerita-cerita turun temurun yang memang sedap jika ditambah dengan bumbu. Berapa banyak dongeng yang seumur hidup sudah kita dengar lalu mempengaruhi kehidupan dan membuat kita untuk percaya. Dongeng tentang nenek sihir dan gadis kecil berjubah merah misalnya adalah sebuah dongeng menyeramkan tentang anak-anak.

Tetapi di dalam dunia ini ada hal-hal yang bukan dongeng. Mereka nyata. Mereka adalah kejahatan-kejahatan yang bersemayam di dalam diri manusia. Kejahatan-kejahatan itu berdiam dengan arogan dan manisnya. Akan menunjukkan rupa di saat yang tepat. Kejahatan-kejahatan itu akan menggonggong ketika jalan-jalan sunyi. Kejahatan-kejahatan itu tak hanya menggonggong, mereka bahkan menggigit dan dapat menimbulkan bolong pada punggung sesama. Kejahatan-kejahatan itu tak kelihatan, mereka tembus pandang, mereka lebih nista dan mereka semakin buruk karena mereka begitu nyata.

*suanggi adalah kekuatan ilmu-ilmu gaib yang biasanya kita dengar di cerita hantu turun temurun di daerah Maluku. 




gunung mimpi. 7 Jan 2017, sebelum pukul lima.


Friday, December 16, 2016

Tempat Paling Liar Di Muka Bumi : Qubeland 2016






Sorasoca adalah sebuah gerakan literasi di kota Bandung yang menjadi salah satu 'qube' di Qubicle (@qubicle_id). Kabar-kabar menyenangkan dan menggugah dapat dibaca pada lamannya. Kami beruntung sekali diberi ruang dan kesempatan untuk memperkenalkan hal-hal yang kami cintai dan sedang kami kerjakan: live poem dan musikalisasi puisi di #Qubeland2016.

Panggung Qubeland 2016 adalah perayaan kreativitas sekaligus ruang berinteraksi, berbagi, dan belajar yang diinisiasi oleh Qubicle dan qube-qube kerennya. Kreativitas yang sangat beragam dihadirkan dalam satu ruang-waktu. Qubeland 2016 adalah panggung pertama kami di Jakarta. Di sana empat puisi dari buku 'Tempat Paling Liar di Muka Bumi' kami nyanyikan. 'Mencintaimu dari Jauh' dan 'Jangan Berani' adalah dua judul yang dimusikalisasi oleh Fis Project (duo Ferdy Karel Soukotta dan Chrisema R Latuheru).



Musikalisasi puisi adalah kesenangan. Godaan untuk melakukannya jarang bisa ditolak. Bagi kami, puisi adalah pikiran-pikiran yang menemukan bunyi dan perasaan-perasaan yang menemukan nada. Kata-kata adalah bunyi. Perasaan menentukan tinggi-rendahnya. Puisi sejatinya adalah bunyi-bunyi yang bernada. Puisi-puisi yang kami nyanyikan adalah puisi kami berdua. Menyanyikan puisi-puisi sendiri itu suatu pengalaman yang menggairahkan. Puisi-puisi itu seperti lahir kembali dalam bentuk dan kekuatan yang baru. Sejauh ini, ukulele adalah instrumen yang kami rasa cocok.

Selain musikalisasi puisi, di sana kami juga melakukan #livepoem. #livepoem adalah pengetikan puisi secara langsung dari nama pengunjung. Puisi itu menjadi satu hadiah kecil bagi setiap orang yang datang ke pojok Sorasoca dan ingin namanya dipuisikan.



120 puisi sejauh ini adalah jumlah paling banyak dari beberapa perjalanan #livepoem yang pernah dilakukan sebelumnya. 120 puisi barangkali adalah rekor baru bagi Olivetti Lettera 82, buatan Yugoslavia, milik ayahanda bung Zaky Yamani. Terima kasih banyak, bung! Dan kopi yang selalu dihadirkan oleh Mbak Rere adalah jeda yang tak terkatakan nikmatnya.

#livepoem adalah usaha-usaha menahan diri dari gairah untuk 'menyunting pikiran' sendiri. Bagi kami, mengetik puisi langsung dari nama-nama yang indah itu melatih pikiran untuk mengalir saja; berlatih untuk tak menjadi tiran atas pikiran sendiri; suatu latihan yang tak selalu mulus.

Kawan-kawan yang namanya dipuisikan bilang bahwa mereka senang. Ini pelajaran kecil bagi kami dan bagi semua bahwa puisi adalah 'perbuatan' baik, sekali pun tersusun dari hanya kata-kata. Ini suatu kesadaran pentingnya kata (bahasa) bagi relasi-relasi manusia. Bahwa kata-kata bukan hanya senjata, tetapi juga obat dan jembatan untuk dua atau banyak hati dan kepala.



Mengetik puisi secara langsung (#livepoem) adalah sebuah peristiwa, bukan sekedar cara lain menulis puisi. Karena itu, ia adalah pengalaman yang tak dapat diulang. Terima kasih untuk semua kawan yang datang ke #Qubeland2016 dan singgah di pojok @sorasoca dan semua yang memungkinan pengalaman indah itu. Elan, Fierzha, Bona, dan Huyogo, terima kasih telah mendokumentasikan pengalaman-pengalaman bersama. Semoga abadi.

Sekali lagi, kami ingin mengucapkan terima kasih untuk lapak #livepoem yang telah disediakan oleh @qubicle_id dan @sorasoca. Untuk setiap pengunjung yang datang kemarin pun kami mau bilang terima kasih karena sudah percaya kepada satu kebaikan kecil. Dan tunggu kisah perjalanan #livepoem selanjutnya dari kami.


Salam hangat kami,


Theoresia Rumthe & Weslly Johannes



*foto oleh Elan Budikusumah dan Fierza Fajri dari @sorasoca





Tuesday, November 1, 2016

Karena Yang Kelihatan Populer Itu Belum Tentu Asyik







Sesuatu muncul di dalam kepala saya. Tentang popularitas. Beberapa hari sebelumnya saya membaca blog salah satu teman baik saya berjudul “Maukah Kamu Tetap Berteman Saat Aku Tidak (Lagi) Populer. Jauh sebelum saya membaca blognya, kita sudah pernah bertemu di momen Lebaran beberapa bulan yang lalu. Dan kita sempat berdiskusi tentang hal yang sama. Diskusi itu membuat kami sempat tercenung-cenung memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Silakan baca tulisannya lebih lanjut di sini.

Tapi saya setuju. Percaya atau tidak, seperti virus, jika kamu populer, maka banyak sekali yang akan berteman denganmu atau ngaku-ngaku sebagai teman kamu. Setiap orang pun mau menjadi populer dengan instan.

Ada periode tertentu di dalam hidup saya, ketika saya banyak sekali menerima surat elektronik dan isinya kurang lebih sama:

“Hai Kak, saya senang sekali dengan tulisan Kakak. Kapan-kapan kalau saya ke Bandung, kita ketemuan yuk. Ngopi-ngopi.”

Saya hampir membalas mereka dengan “Duh, maaf ya. Tapi saya tidak pergi ngopi dengan orang asing.” Tapi saya tidak sampai hati untuk membalas begitu. Karena saya pun terjebak dengan pencitraan klasik. Bahwa jika dikagumi atau disukai oleh orang lain, maka saya harus menjawab mereka dengan baik-baik supaya kesan baik dari diri saya tetap terjaga.

Hal lainnya yang membuat saya terkesima adalah popularitas lalu membawa orang lain “ngaku-ngaku” kenal denganmu. Banyak sekali contoh seperti teman SMP atau SMA yang tiba-tiba menghubungi lagi, padahal ketika masih sekolah dulu hampir tidak pernah mengobrol. Yang lebih mengerikan lagi karena “ngaku-ngaku” kenal hanya dikarenakan berteman media sosial saja. Bahkan belum pernah berjumpa apalagi berbicara secara langsung.

Fenomena popularitas ini semakin miris dengan menjamurnya media sosial yang dapat digunakan untuk eksis. Dimulai dari steller, snapchat, vlog, instagram stories, yang semuanya dapat dipakai untuk menceritakan kisah hari-hari kita secara langsung.

Oke, tidak ada yang salah dengan itu juga. Tetapi kenyataan lainnya adalah bagaimana pemuda-pemudi zaman sekarang membangun dirinya dengan mengejar popularitas secara instan tetapi menjadikannya terasing tanpa ada ikatan yang layak dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan rela menghalalkan segala cara untuk mencapainya.

Karena yang kelihatan, yang populer itu kayaknya lebih asyik. Maka sudah pasti yang populer jauh lebih menggiurkan untuk diajak berteman. Sedangkan yang tidak populer tidak asyik. Padahal belum tentu juga.

Lain halnya dengan jalan mencapai popularitas sendiri. Ada banyak hal besar maupun kecil suka dan duka, yang perlu dilewati untuk sampai di sana. Dan semuanya tergantung dari usaha masing-masing. Banyak usaha, doa, dan kerja keras di balik popularitas. Tetapi kebanyakan orang pemalas maunya ongkang-ongkang kaki lalu bangun keesokan paginya dan populer.

Lagipula popularitas bukan yang paling segalanya dalam hidup kok. Ia pun bukan satu-satunya tujuan hidup. Manusia tidak lantas mati jika tidak populer. Jadi bertemanlah dengan siapa saja, jangan pilih-pilih. Sebab roda kehidupan terus berputar.
  


Thursday, October 27, 2016

Radinka dan Payung Kuning






Radinka.

Sebuah nama tertulis pada kertas. Dengan beberapa digit nomor tertera di bawahnya. Saya memandangi kertas itu lama dan mengulang kembali nama itu di dalam hati. Radinka. Radinka.  

Ada desir halus muncul di hati ketika mengucap nama itu kembali. Saya  kembali mengingat ketika berpisah dengannya. Ketika itu hari hujan di bawah pohon kamboja. Ujung payung kuning berkibar-kibar terkena angin. Ujung-ujung kaki kita bersentuhan di antara bunga-bunga kamboja.

Radinka tidak menangis. Ia begitu tegar.

“Sudah saatnya saya pergi meninggalkan rumah.”

Saya diam. Ujung tanganku gemetar mendengar kalimat itu. Sementara di luar payung kuning, hujan semakin deras. Bis yang kami tunggu datang juga. Berhenti tidak jauh dari pohon kamboja. Radinka menggandeng tanganku erat dan berjalan menuju bis.

Langkah kakiku kini lebih berat.

Radinka pergi. Ia meninggalkanku dengan payung kuning. Hujan deras seperti berdenting. Nadanya minor.

Skidamarink a dink a dink
Skidamarink a doo

I love you.



***

Saya mendapat nomor teleponnya beberapa hari yang lalu. Tujuh tahun sudah saya kehilangan kabar darinya. Perpisahan di bawah pohon kamboja. Lalu bis yang menjemput. Dan saya dan payung kuning.

Semuanya seperti film yang kembali berputar di ingatan. Dan kini saya berhadapan dengan sebuah kenyataan bahwa Radinka telah kembali ke kota ini. Saya harus bertemu dengannya. Tekad saya bulat di dalam hati. Ruang rapat di kantor waktu itu terasa sesak. Saya butuh segera keluar dari ruangan itu. Saya butuh menelepon Radinka. Saya butuh bicara. Saya butuh bertemu dengannya.

“Bagaimana Bapak Raga, apakah Bapak punya usulan terhadap proyek kita ini?”

Pertanyaan dari atasan membuyarkan lamunanku. Saya kembali memusatkan perhatian ke dalam ruangan. Melihat kepada atasan saya. Membersihkan tenggorokan dan ...

“Saya pikir cukup, Pak. Tidak ada lagi yang perlu ditambahkan.”

Fiuh.

Rapat pun selesai. Saya menyambar jas yang ada di lengan kursi. Dan berjalan dengan cepat ke arah meja kerja. Menyambar dompet, handphone, dan kunci mobil. Lalu segera berjalan lebih cepat ke arah lift.
Saya butuh meneleponnya sekarang. Saya menunggu lift sampai di lantai dasar. Menekan beberapa digit nomor dan menunggu.

Nada panggil di telepon. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali.

Tidak ada yang mengangkat. Oh, Radinka, please.

Saya mencoba sekali lagi sambil berjalan ke arah parkiran. Kali ini pun nihil. Saya masuk ke dalam mobil dan mencoba sekali lagi. Handphone saya hanya menghasilkan bunyi panjang tanpa jawaban.

Mobil saya sudah keluar dari kantor menuju ke jalan utama. Antrian mobil-mobil lainnya di samping kiri dan kanan membuat jalan utama itu kini tidak karuan. Saya masih penasaran dan hendak mencoba sekali lagi menelepon Radinka. Saya tahu pasti ada yang menjawab. Saya masih ingat  suara itu. Suara yang khas. Saya mau bertemu dengannya. Memeluknya. Kali ini lebih lama. Dan ia tidak boleh pergi lagi.

Bunyi nada panggil.

Tidak lama kemudian terdengar nada untuk meninggalkan pesan.

Saya sempat ragu. Menahan diri sebentar. Tapi kemudian kata-kata ini yang keluar.

“Dinka, ini Raga. Hei ... kamu di sini sekarang. Apa kabar? Semoga sehat ya. Hm, kalau sore ini kosong, kita ketemuan yuk. Kafe Payung di Jalan Kamboja. Pukul 6. Saya tunggu ya.”

Klik.

Sambungan telepon saya matikan. Saya bahkan tidak sadar kalau suara saya bergetar di telepon tadi. Saya membuang nafas pelan dan melihat keluar jendela. Bulir-bulir hujan satu per satu kini jatuh di kaca jendela. Lalu deras tiba-tiba. Jalanan tambah tidak karuan. Hati saya pun ikut tidak karuan.

Ada yang menyeberang jalan. Perempuan dengan payung kuning. Ia menoleh sebentar kepada saya dan tersenyum bahagia. Saya ingat senyum itu. Seperti ... Radinka.

Bayangan perempuan itu ikut hilang bersama derasnya hujan, kini di pelupuk di mata.


*Salatiga, 27 Oktober 2016. Pukul 00:37 wib. Menulis ini karena sore tadi hujan di Salatiga. Lewat pohon kamboja. Dan ingat nama Radinka.


(Radinka Lunar, Rest In Love, 17 Oktober 2016)




Thursday, October 20, 2016

Sikat Gigi





Menyikat gigi adalah pengalaman yang menyenangkan dan indah. Bukan hanya karena semut-semut hitam yang berjejer senang di dekat jari-jari kakimu, melainkan juga aroma masa lalu kerap muncul ketika bulu-bulu halus sikat gigi itu mengenai gigimu.

Sejumput kenangan dari rambut abu-abu nyaris putih, sepasang mata dan sepasang gusi atas dan bawah. Lengan-lengan yang mati dan terbujur kaku di peti mati. 

Tak ada lagi kehidupan. 

Saya berhenti sebentar menyikat gigi. Dan merasakan busa-busa segar di sela-sela gigi. Merasakannya dengan lidah saya dan menelannya sedikit. Rasa pasta gigi yang bercampur dengan liur itu ternyata enak juga. 

Sementara udara segar dari ventilasi kamar mandi masuk dan menelusuri punggung. Irama lagu dari radio terdengar sayup-sayup dari kamar sebelah membelai telinga. Mengajak bersenandung walaupun sedang menyikat gigi. 

Sekelebat pertanyaan itu muncul di kepala begitu saja, sebutkan satu hal terakhir yang paling menyenangkan yang akan dilakukan sebelum mati?

Apakah itu sikat gigi?

Satu bulu sikat lepas dari tangkainya. Tercerai dari kawanan, sepi. Hilang ke dalam selokan. Di sana tidak ada gusi dan gigi yang merah pucat dan putih, seperti mayat. Tetapi basah dan bau tak sedap itu begitu akrab. 

Setiap pagi ia dibawa masuk ke dalam satu dunia yang sama sekali berbeda dari keranjang biru muda tempatnya bertengger sepanjang malam. Terdorong tanpa punya pilihan lain, selain melompat-lompat di atas barisan gigi yang tak simetris, menyelinap di celah-celahnya, atau masuk ke dalam lubang-lubang tempat kebusukan bersembunyi. 

Ia tak punya pilihan. Hidup yang tak punya pilihan sama saja dengan mati. Tercerai dari kawanan, hanyut ke alam lain, dan tinggal di dalam selokan sepanjang usia tulang-belulang.

Air menderas. Bulu sikat tertancap pada celah dasar selokan yang retak. Senandung dari dalam kamar mandi menggema di selokan. Ia rindu pada hidup yang dulu, meski melompat-lompat di antara barisan gigi yang mulai ternodai kopi dan nikotin.

I was born by the river hm hm hm hm hm..
O, and just like the river I've been running hm hm hm...”

Tiba-tiba ia ingin merasakan lagi dua katup bibir yang menggumamkannya. Bibir yang lembut dan memerah karena pasta gigi. Ia rindu ada di lagu itu. Lagu tentang hal-hal yang tidak dimengerti. Tentang hidup. Hidupnya yang tak ia mengerti tetapi entah untuk alasan apa terus saja ia lanjutkan, di keranjang biru, di antara barisan gigi, dan di selokan kini. 

(* adalah prosa pertama yang ditulis bersama. Saya dan weslly johannes mencoba menggarap proyek tulisan kedua kami secara serius sekaligus santai. Berbekal jarak dan ketabahan, semoga kami bertahan untuk menyelesaikannya.) 

Sayang Sekali Kita Terlanjur Melihat Cinta Sebagai Sebuah Pemikiran Remeh





Saya memulai kalimat-kalimat saya dengan ini : “yang berdosa itu ketika jatuh cinta dan tidak menikmatinya.” Kalimat-kalimat itu saya ucapkan pada suatu sore selesai ciuman yang sederhana. Saya menyukai bagaimana cinta merasuk dan menghisap darah manusia seperti kutu busuk. Berawal dari jumpa dan melihat kekasihmu berubah menjadi hantu di dalam tidurmu.

Bagaimana kau mencintai bau kulitnya yang berminyak. Bau tembakau yang menempel. Pelukan di bagian punggung. Urat-urat di mata. Kelopak mata yang tertutup. Tungkai jenjangnya yang seperti perempuan di atas catwalk. Atau caranya membikinkan kopi untuk bekal menulis. Sungguh; itu semua adalah hal-hal sederhana yang tidak akan ada artinya tanpa kesungguhan.

Emma Stone berkata ia tidak akan bisa hidup tanpa cinta. Ahok tidak akan bisa bertahan tanpa cinta. Kawan-kawan yang berdemo kemarin-kemarin tidak akan melakukannya tanpa cinta. Bob Dylan tidak akan membuat lirik-lirik yang bagus tanpa cinta. Bahkan Pramoedya menulis dari dalam penjara karena cinta.

Sayang sekali kita terlanjur melihat cinta sebagai sebuah pemikiran remeh, rendah, dan mengangkang. Satu-satunya yang kerap dekat dengannya adalah orgasme: asal satu orang senang. Padahal cinta bukan masalah satu melainkan dua. Satu tambah dua sama dengan tiga. Saya ditambah kamu sama dengan Indonesia. Saya membayangkan apa yang ada di dalam benak pencipta ketika ia mencipta Indonesia. Sudah pasti bukan siapa yang paling berkuasa. Atau sudah pasti bukan siapa yang lebih berhak menjadi pemimpin sementara yang lain tidak layak. Tidak pantas. Tetapi rasanya ia mencipta karena cinta. Maka setiap orang memiliki cinta berhak untuk memimpin.  

Siang tadi kami membaca Sartre, ia menulis ada seorang laki-laki yang punya lubang hidung begitu besar sehingga ketika ia bernafas keluarganya pun akan ikutan hidup. Diam-diam saya berpikir tentang hal lainnya tentang cinta. Cinta adalah membiarkan yang lain hidup. Tetapi bukan yang lain lantas mati.