Friday, March 28, 2014

Sebuah Cerita Tentang Kematian




Kabar kematian itu datang ketika hari kamis sore, minggu lalu, saya sedang berada di Kineruku. Entah mengapa saya memilih untuk datang kesana sore hari itu. Sms yang saya terima dari kakak perempuan saya waktu itu sekitar pukul 15.52 wib, artinya lagi waktu lebih cepat dua jam di Ambon.

Sms itu berbunyi: Mama su seng ada. (Mama sudah tidak ada).

Tangis saya langsung pecah. Untunglah saya berada di tempat yang tepat. Mbak Rani dan Budi (Kineruku) persis sedang ada di tempat. Saya lalu berbagi tangis saya dengan mereka.

Kematian itu datang tiba-tiba. Mama saya tidak sakit. Ya, betul jika Mama punya penyakit menahun yaitu darah tinggi. Tetapi selama ini setahu saya Mama meminum sejumlah obat secara teratur dan menjaga makanannya. Bahkan seminggu sebelumnya Mama liburan ke Manado. Dan ketika mendapat cerita kronologis jelang kematiannya dari ayah dan kakak saya, mereka bercerita bahwa hari Rabu, sehari sebelum kematian Mama, mereka berdua mengantar Mama ke dokter, karena Mama mengeluh bahwa ia batuk, merasa sesak nafas. Ayah dan kakak saya lalu mengantar ke dokter yang bersangkutan, tetapi karena antri yang cukup panjang hari itu, akhirnya Mama memutuskan untuk pulang saja dan berniat kembali besok. Keesokan harinya sekitar pukul empat sore waktu Ambon, ayah dan kakak saya kembali mengantar Mama kembali ke dokter yang bersangkutan, tetapi melihat kondisi badan Mama yang semakin drop, kakak saya memutuskan mengantar Mama ke RS. Sumber Hidup GPM. Sampai di sana, beberapa staff rumah sakit lalu memberikan pertolongan pertama kepadanya. Tidak lebih dari dua puluh lima menit, ayah dan kakak saya juga berada di ruangan itu. Mama dengan alat bantu pernafasan yang sudah ada di mulutnya hanya melihat ke ayah, kakak saya, lalu kembali ke ayah, detak jantungnya semakin melemah, dan akhirnya Mama menghembuskan nafas terakhir sehari sebelum hari ulang tahunnya.

Siapa yang bisa memastikan ketika kematian hendak menjemput: jawabannya tidak ada.

Kami bahkan tidak dikasih tanda apa-apa. Kami bahkan tidak diberikan perasaan apa-apa. Kakak saya bercerita bahwa, memang setelah beberapa kali Mama saya sempat anval karena jantung, ia sudah diberikan semacam sense of death, bahwa ia harus berjaga-jaga terhadap kondisi Mama. Bahwa jika manusia memang terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh. Maka secara roh, kakak saya sudah dipersiapkan terhadap segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi, termasuk di dalamnya adalah kematian itu sendiri.

Tetapi, saya punya beberapa catatan tentang kematian

(1) Segala sesuatu yang diciptakan akan pulang tepat pada waktunya. Saya menulis sebuah tweet pada 20 Maret tepat beberapa jam sebelum mendengar kabar kematian Mama: “Hari ini hari bahagia. Esok Mama ultah. Ia bahagia. Bahagia bersama kekasih. Karena kekasihnya, ayah.” Saya tidak punya perasaan apa-apa ketika menulis tweet ini. Di dalam pikiran saya, besok pagi seperti yang sudah-sudah, saya akan meneleponnya dan mengucapkan selamat ulang tahun. Tetapi memang ada maksud Tuhan yang lain. Ia dipanggil pulang tepat sehari sebelum ulang tahunnya. Karena kekasihnya yang sebenarnya adalah Bapa di Surga ingin merayakan hari bahagia itu bersama Mama saya, Ruth.

(2) Pada awal tahun, saya pernah bercakap-cakap dengan diri saya sendiri. Ada sebuah pertanyaan yang saya ajukan “kenapa ya orang meninggal dunia itu berdekatan dengan hari ulang tahunnya?” hal ini karena ada beberapa cerita sama dari teman-teman dekat saya juga. Saya bertanya kepada diri saya sendiri, dan sampai saat ini pun saya akhirnya memiliki keyakinan tersendiri, bahwa saking Tuhan sayang dengan umatNya, maka ia memanggil pulang mereka utuk merayakan ulang tahun bersama-sama.

(3) Kematian datang tiba-tiba. Tidak ada yang pernah tahu kapan orang kesayangan kita dipanggil pulang. Satu hal yang coba saya mengerti adalah “bersiaplah.” Kapanpun dan dimanapun senantiasa berserah.

(4) Sebelumnya saya pernah menulis tentang “jika ada orang yang ‘pergi’ dari kehidupan kita sengaja maupun tidak sengaja, hanya untuk sebuah alasan: waktu mereka bersama kita sudah selesai. Kebersamaan itu sifatnya fana akan ada waktu kadaluwarsa. Tetapi ketika waktu ‘pergi’ itu datang, itu sesungguhnya bukan karena kesalahan kita, tetapi karena waktu kita dengan mereka sudah selesai.

(5) “Sejujurnya kamu tidak pernah kehilangan. Mereka yang katanya “hilang” tetap tinggal berupa kenangan. Di hatimu yang paling dalam.” Ini juga adalah tweet saya pada 20 Maret subuh. Kemudian sorenya saya mendapat kabar kematian Mama. Sesungguhnya tanda tanda itu sudah menyertai saya. Mereka datang melalui kesadaran saya dan menjelma menjadi kata-kata.

Melalui tulisan ini saya juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih saya kepada setiap orang yang telah memberikan ucapan belasungkawa sekaligus doa kepada (almarhumah) Mama saya dan kami sekeluarga yang ditinggalkan. Sesungguhnya doa-doa yang mengalir adalah kekuatan bagi kami sekeluarga.

Rest in love, mom. We love you. 





saya dan ayah. foto ini diambil oleh Graco Imanuel Pelmelay ketika di gereja pada saat kebaktian pemakaman. 





Monday, March 17, 2014

Saya Dengan Sebuah Permintaan.












Konon ketika “meminta” maka pintu-pintu akan dibukakan. Ada pergerakan yang terjadi. Saya selalu punya permintaan di dalam hidup. Tetapi pada satu titik saya meminta sebuah perkara serius. Hal ini bersifat rahasia. Hanya saya dan doa.

Ada sebuah permintaan yang ketika saya melakukannya, saya agak “ragu” apakah memang permintaan saya ini akan dikabulkan atau tidak. Tetapi sepanjang hidup ini, saya mengerti bahwa ada pemeliharaan yang sifatnya sejati. Selalu terjadi di dalam hidup saya berulang ulang. Dan tidak ada yang mustahil bagi hal ini juga.

Ada rasa haru yang paling dalam. Ada sedikit rasa gugup. Ada sedikit rasa bimbang. Tetapi saya berhasil melaluinya dengan jujur.

Kira-kira begini bunyi permintaan saya:
Tuhan jika memang Engkau memilih dia untuk saya. Saya mau belajar mencintai semua kekurangannya. Buka jalan untuk kami. Kasih hatinya melekat untuk saya. Dan hanya saya yang dia pikirkan di dalam hari-harinya. Bahwa saya menyayanginya. Dan ajar kami punya rasa sayang yang murni. Dan jika memang Engkau memilih dia untuk saya, kasih saya pintar untuk melihat tanda.

Hmm, kira-kira seperti itulah permintaan saya. Itu adalah permintaan saya yang sangat serius, sepanjang hidup saya. Saya terlalu serius kali ini. Dan saya rasa Tuhan juga serius. Coba kita lihat, apa yang akan Dia lakukan, beberapa minggu, bulan, bahkan tahun kedepan.


Duh. Deg-degan. 

Wednesday, March 5, 2014

Hanya Karena Waktu Mereka Denganmu Sudah Selesai





Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa ketika ada orang yang “pergi” dari kehidupan kita, baik itu sengaja maupun tidak sengaja, itu karena satu alasan: waktu mereka bersama kita telah selesai.

Saya pernah membaca ungkapan ini. Waktu itu saya sedang patah hati. Berat. Ketika mengalaminya, ada sedikit rasa untuk menyalahkan diri. Seakan orang yang “pergi” dari kehidupan saya adalah karena kesalahan saya.

Tetapi sepenuhnya bukan. Saya termasuk orang yang percaya bahwa hidup adalah proses melakukan kesalahan dan belajar. Semoga kamu juga percaya itu.

Lalu ada waktu-waktu yang bawa saya untuk berpikir sejenak tentang lalu lalang kehidupan orang lain di dalam kehidupan saya sendiri. Konon ketika percaya bahwa, setiap orang bisa mengirimkan pesan kepada orang lain, kamu tidak akan bisa menolak untuk adanya “kehidupan” yang lain tadi.

Prosesnya kurang lebih seperti ini: bertemu, menjadi sahabat, (jika beruntung) jatuh cinta, (jika beruntung lagi) menjadi kekasih, dan (jika beruntung lagi) menjadi orang asing kembali.

Orang-orang itu datang. Kemudian “pergi.” Pada satu titik karena kamu manusia, kamu akan merasa kehilangan yang sangat dalam. Pergi tidurlah. Tidak perlu menangis. Percayalah ketik bangun pagi nanti, kamu akan menyadari satu hal: bahwa mereka “pergi” hanya karena waktu mereka denganmu sudah selesai.


Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...