Friday, July 16, 2010

#16 To Be Continued

Senja, kemudian menjadi kue yang tiap hari harus kita bagi bersama. Senja, semacam kopi yang kemudian harus kita icip bersama sampai ke ampas-ampasnya.

“Nama kamu lucu? Elana? apa artinya?” tanyaku tiba-tiba.

“Oh, he-eh, nama ini dari ayahku. Artinya pohon. Konon, ayah bilang, ia mau anak perempuannya tumbuh seperti pohon. Semakin tua, semakin rimbun, semakin banyak orang suka berteduh dibawahnya.”

“Bagus sekali artinya. Jangankan tua, sekarang saja, sudah ada yang mau berteduh di bawahnya.” Aku juga kaget, kenapa aku berani sekali mengeluarkan kata-kata seperti itu. Bukankah itu terlalu cepat untuk seseorang yang baru kita kenal.

“Terima kasih. Euh, kamu centil.”

Kemudian kita berdua tertawa. Kita seperti sudah kenal lama. Obrolan sore itu begitu renyah, sampai akhirnya senja berganti gaun, kini gaunnya abu-abu, dengan serat-serat keemasan di sana-sini.

“Yah ampun sudah malam. Nggak kerasa ya ngobrolnya, aku harus pulang.”

“Eh iya, kamu pulangnya kemana? Mau aku antar?”

“Ah, nggak usah lah. Rumahku dekat, dari sini. Aku jalan kaki saja”

“Baiklah, hati-hati di jalan, sampai bertemu lagi.”

“Kamu juga. Kita pasti bertemu. Pasti.”

Aku sebenarnya tidak mau bilang ini. Karena memang aku sendiri tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Dan aku tidak mau pertama. Tapi entah kenapa, hari ini, aku merasa, aku... euh, aku jatuh cinta, bukan euh belum. Aku suka sama dia.

Malam itu, bahu jalan tampak tersenyum untukku. Serat-serat keemasan senja, mulai membuat sarangnya di hatiku.

*gambar dari 100layercake.com

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...