Wednesday, November 18, 2015

Belajar Mengenal: Patah





Patah. Adalah rasa yang perlu dikenali. Tetap harus dipeluk dan dijadikan sebagai sebuah pengalaman perjalanan. Seperti salah satu dari bagian tubuhmu, peluk ia erat. Pagi ini saya bangun dengan melihat dua buah mawar putih yang tumbuh segar di halaman. Tetapi ada satu bahkan dua—mawar lainnya yang layu, terkulai begitu saja—patah.

Selama saya hidup, patah bukan hal yang baru. Banyak orang suka mengidentifikasi kata ini dengan “patah hati” atau “kehilangan” atau “ada sesuatu yang terlepas dari dalam dirimu, padahal sebelumnya begitu melekat.”

Ketika bercerita tentang patah, saya ingat Ayah. Ayah mengalami patah (hati) yang begitu tidak dapat dijelaskan ketika Ibu meninggal. Kejadiannya, sudah setahun lebih, tetapi rasa patah itu masih ada. Sampai di sini saya menyadari satu hal: ada rasa patah yang begitu lekat, susah untuk dilepas. Bahkan waktu, mustahil untuk menyembuhkannya.  

Ketika Ibu meninggal, Ayah seperti kehilangan sesuatu yang tidak dapat saya jelaskan. Hanya saja, hal tersebut dapat dirasakan. Saya lalu merasa bahwa, rasa patah atau kehilangan semacam itu, akan terjadi di dalam diri kita, apabila kita memang nantinya akan kehilangan orang yang begitu kita cintai. Maka, berhati-hatilah dengan cinta!

Saya rasa, peringatan ini bukan bermaksud untuk menghindarkan kamu dari cinta dengan segala perasaan perasaanya, tetapi bagaimana kita bisa mengenal cinta dengan sebuah konsekuensi besar bahwa suatu hari nanti, kita bisa saja kehilangan orang yang kita cintai, yang membuat kita patah—begitu patah.

Tetapi apakah ketika ada yang patah, lantas kita kehilangan? Ataukah sebenarnya sesuatu yang kita cintai, begitu melekat, tidak akan pernah hilang dari dalam diri kita. Saya sendiri tidak tahu pasti. Maka, berhati-hatilah dengan cinta dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Karena suatu hari nanti dalam jangka waktu yang tidak ditentukan, hal-hal tersebut akan selesai, disadari ataupun tidak, selesai.

Sampai di sini, ketika memang itu harus selesai, itu bukan salah kamu, salah saya, salah kita yang menjalaninya, melainkan karena waktu yang mengijinkan. Tetapi perlu diingat, cinta, patah—patah, bukan hal yang berbahaya. Mereka sama seperti bagian dari tubuhmu, melekat, ingin dipeluk erat, kenali saja.


Dan jika kamu telah mengenal rasa patah dengan baik, sangat baik. Sebelum rasa patah itu datang, cintailah seseorang sungguh sungguh, penuh penuh, sekarang.

Monday, November 2, 2015

Tentang Hal Hal dan Perasaan Perasaan






photo by Tiara Salampessy. 



Saya tidak akan menyampaikan beberapa hal yang spesifik seperti bagaimana caranya menata rumah supaya tidak berantakan atau bagaimana supaya kamu berhenti merokok, karena asap asap rokok itu akan mengepul, terbang dan menjadi puisi di dinding-dinding. Saya tidak bermaksud mengubah kamu di dalam banyak hal, seperti yang sudah saya katakan bahwa “saya mencintaimu karena kekuranganmu” persoalan bahwa suatu hari nanti saya akan berubah, dan saya tidak akan setuju lagi dengan pernyataan ini, semoga tidak. 

Akhir-akhir ini saya suka sekali bepergian ke suatu tempat sendirian. Maksud saya, saya memang suka sendirian, dan sama sekali tidak terganggu dengan itu. Karena dari dulu hingga sekarang, saya lebih suka melakukan hal-hal menyenangkan sendirian ketimbang beramai-ramai. Bukan berarti saya pelit, melainkan saya hanya menyukainya. Itu saja. Seperti saya menyukaimu, punggung, bibir, kulit, dan hal-hal yang ingin saya rasakan lebih dari sekedar mencium ataupun meraba. Saya ingin tinggal lebih lama. Suatu saat nanti, semoga tidak lama—ataupun jika saya harus menunggu lama, saya harap kamu tidak membagi mereka dengan orang lain. Ataupun kalaupun kamu terpaksa harus membagi mereka dengan orang lain. Tinggalkan saya sedikit. Secuil.

Seperti secuil perasaan perasaan yang datang setiap kali saya begitu berjarak dan hanya dapat menikmatimu melalui bunyi nafas di telepon, bunyi ngorok, dan bunyi “Halo” yang khas atau tawa sederhana, seakan-akan kamu adalah orang yang paling bahagia, rasanya itu saja sudah cukup. Sejauh ini, saya tidak menginginkan yang lain. Saya hanya ingin kamu bahagia. Lebih bahagia, dari hari-hari sebelumnya. Dan suatu hari nanti, saya akan melihat itu terpancar keluar dari matamu. Yang di dalamnya ada bayang-bayang saya, sedang berkaca pada matamu.

Saya dapat melihat bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga kesedihan, amarah, kecewa, hasrat, dan perasaan-perasaan lainnya yang tidak dapat dibahasakan dengan kata. Yang dapat kamu bagikan dengan saya, tidak dengan kata, hanya tatapan. Bukankah itu menyenangkan. Persoalan-persoalan seperti ini, tidak dapat dijelaskan banyak melalui tulisan, harus bertemu: berciuman panjang—lama, hingga menelanmu bulat-bulat!


Thursday, October 15, 2015

Tentang Menyikat Gigi Pagi Ini











Pagi ini ketika menyikat gigi, saya tiba-tiba teringat pada malam itu—perpisahan kita. Tulang-tulang ikan di atas meja, senyuman, debar jantung tidak karuan, dan mata-mata yang menunduk—tidak berani atau tidak mau memandang satu dengan yang lain.

Saya sempat mencuri-curi, melihat mata kamu, dan guratan-guratan halus di sekitarnya, tetapi tidak berani melihat lebih dalam, karena kedalaman butuh tinggal—lebih lama. Bukan malah pergi. Bukan malah berpisah. Tapi pada malam itu saya harus pergi, saya harus meninggalkan kedalaman yang tidak sempat saya gali. Rasanya gelisah juga malam itu, ketika harus meninggalkanmu. Diam-diam saya telah menaruh hati pada mata itu.

Sudah sangat lama saya tidak melihat mata yang penuh bintang-bintang, dan berkerut-kerut seperti terbakar. Seperti katamu bahwa asal kerutan itu dari dalam, karena matahari yang membakar. Sayang sekali saya tidak dapat duduk lebih lama untuk menikmati tentang kedalaman: tentang hal-hal yang membakarmu. Tetapi  pada akhirnya siapa tahu saya bisa mengerti. Karena saya ingin.

Ketika saya menyikat gigi pagi ini, saya juga teringat dengan senyuman kamu, sudah lama saya tidak melihat senyuman yang menggebu-gebu, lalu saya melihat ke kaca, dengan mulut penuh busa odol dan gigi yang masih belum selesai disikat. Saya mencoba senyum itu—senyum milikmu, siapa tahu pas dengan bibir saya. Dan di sana, tepat di kaca itu ada wajah kamu. Saya lalu mencium pipi kamu, meninggalkan sisa-sisa odol di sana, kemudian saya bisikkan ini “semoga bahagia, ya, pagi ini” meninggalkan  sisa-sisa odol juga di telinga kamu.


Kamu tertawa, tawa yang khas. Tawa yang sudah saya kenal begitu lama. Tawa itu seperti langit, berwarna biru muda ketika pagi, begitu lembut, dan tidak buru-buru. Saya ingin mendengarkan tawa itu lebih lama. Makanya, pagi ini, saya menyikat gigi lebih lama. 

Tuesday, September 29, 2015

Perempuan yang Memilih Tinggal










Akhir-akhir ini saya banyak merenungkan tentang jatuh-jatuh, rumah, pagar, halaman dan kutu busuk. Kutu busuk yang merayap masuk ke dalam kasur dan menghisap darah, sekaligus perasaan-perasaan rindumu setiap malam, yang hanya dapat kamu sampaikan kepada bulan terang dalam diam.

Saya suka bagaimana Budi Darma menggambarkan percintaan seperti kutu busuk dalam bukunya Olenka. Sama seperti saya suka dengan kata “berbulan madu”, karena saya selalu membayangkan menjadi lebah yang tinggal di bulan, saling menghisap madu setiap hari. Lihat bagaimana kutu busuk dan lebah dapat menjelma menjadi sesuatu yang indah, hanya karena mereka memiliki kesamaan yaitu dapat menghisap.

Manusia dan kejatuhannya yang tidak direncanakan—setiap hari bangun di pagi hari, tidak dalam kondisi yang sama, tetapi jatuh kepada seseorang yang sama di ingatan yang paling pertama. Adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk membangun rumah bersama—tidak, tanpa pagar, dengan halaman yang luas: dengan bebas bermain, berdua, bertiga, atau bahkan beramai-ramai. Kemudian tinggal atau pergi adalah pilihan selanjutnya. Tetapi saya—perempuan yang memilih tinggal dalam jatuh-jatuh yang tidak direncanakan. 


Seperti Tuhan yang menciptakan manusia dengan kehendak bebas, rasanya sperti itu, dapat menikmati kemerdekaan sejati dalam mencintai, memiliki maupun tidak memiliki. Sebab cinta adalah jatuh-jatuh yang tidak direncanakan. Mungkin tidak berujung. Tetapi hendaklah ia dikerjakan dengan sungguh-sugguh, dan sepenuh hati, karena yang seperti ini bisa ditebak ujungnya: tidak akan pernah ada rasa menyesal, ketika pun harus berpisah.

Segala sesuatu bukannya tanpa tujuan. Tidak ada jatuh-jatuh tanpa tujuan. Tidak ada kesedihan tanpa tujuan. Tidak ada keindahan tanpa tujuan. Rasanya seperti sudah. Rasanya seperti cukup. Saat ini tidak memilikimu, bukan berarti tidak bahagia, karena kebahagiaan itu sendiri dapat muncul dari rasa kekurangan. Saat ini, ketika segala sesuatu berjarak, bukan berarti tidak dapat menikmati keindahan, karena kekosongan itu sendiri dapat menjadi sebuah hening yang indah.

Saya mencintaimu, bukan karena suatu hari kita dapat membangun rumah bersama—tidak dapat. Saya mencintaimu karena saya sudah lebih dulu dicintai, dan memberikan kepenuhan lainnya kepadamu hanyalah bonus. Saya mencintaimu bukan karena saya tidak punya ketakutan, seperti omong kosong yang selalu saya katakan, “jatuh cinta hanya kepada orang-orang yang berani.”

Rasanya tidak ada yang dapat mendefinisikannya, karena saya mencintaimu karena kekuranganmu.  

[Ketika mendung di Bandung, Selasa 29 September, 15.18 wib]




Wednesday, June 17, 2015

Pada Bola Hitam Matamu








Semalam, kamu datang lagi. Kali ini kamu mengunjungiku dengan penuh gelisah. Aku selalu bertanya-tanya, apa yang membuat kamu selalu seperti itu kepadaku. Dalam hati aku selalu mengumpat kenapa sih kamu tidak pernah mengunjungi aku dalam keadaan gembira.

Tetapi syukurlah, umpatan itu hanya aku simpan rapat. Tidak berani keluar dari mulutku. Kamu lalu duduk di depanku, rasanya kita belum pernah saling memandang selama itu. Aku menatap lurus ke dalam bola matamu. Aku bisa melihatnya hitam dan gelisah. Kamu hanya diam saja. Kegelisahanmu semakin terasa ketika kamu menyentuh lenganku dan pelan pelan mentautkan jari-jarimu dengan jari-jariku.

Kamu menyentuh punggung tanganku, kamu seperti sedang berpikir keras untuk mengatakan sesuatu, aku menunggu ... tapi tidak satupun kata keluar dari mulutmu. Kamu menghembuskan nafas pelan. Aku bisa merasakan hangatnya. Aku kembali menatap lurus ke dalam bola mata hitammu, dan menemukan bukan hanya gelisah, kini mata itu berubah sedih.

Jari-jarimu merangkul jari-jariku erat. Semakin merapat. Aku gelisah, lalu mengendurkan sedikit jari-jari tanganku darimu, tapi kamu tetap menggenggamku erat. Seakan tidak mau lepas. Seakan kamu takut aku pergi meninggalkanmu.


Kemudian datang pagi. Aku kaget, lalu membuka mataku. Ternyata aku bermimpi. Namun gelisah dan sedih dari bola matamu, tetap sesak dalam dadaku.  


Saturday, June 13, 2015

Keluarga Versi "Family Portrait" Karya Vincent Rumahloine









Pertanyaan pertama apa itu keluarga? Konsep “ideal” keluarga di sekitar kita adalah yang “lengkap” dalam artian ada satu Bapak, satu Ibu, satu atau dua anak, jika masih ada Kakek dan Nenek akan lebih baik. Tetapi di sisi lain, ada juga keluarga yang tidak lengkap. Di sekitar kita banyak sekali hanya ada Ibu dan Anak, atau Bapak dan Anak, atau bisa jadi hanya ada Ibu dan Bapak, atau malahan hanya ada anak seorang diri.

Pertanyaan kedua adalah kapan terakhir kali melakukan sesi “foto keluarga”? jika pertanyaan ini ditanyakan kepada saya, saya akan menjawab bahwa tidak pernah. Maksud saya dalam hal ini tentunya adalah acara “foto keluarga” yang lengkap, yang biasanya sering kita temui fotonya dipajang di ruang tamu, dengan pose tertentu yang sengaja diatur (seakan akan semua harus bahagia), memakai seragam tertentu yang sepertinya sudah disepakati bersama, lalu seperti yang sudah dibahas di atas, isi bingkai “foto keluarga” tadi harus lengkap. Jika masih hidup semua akan lebih baik lagi.

Jika hal ini harus dikaitkan dengan keluarga saya. Maka saya mungkin adalah salah satu yang tidak “ideal” itu, karena keluarga saya tidak pernah mengenal acara “foto keluarga.” Satu-satunya “foto keluarga” lengkap versi saya adalah, ketika saya mungkin masih berumur satu atau dua tahun, di foto ini Bapak saya mengenakan kemeja, celana panjang, dan sepatu necis, sedang duduk di kursi. Ibu saya mengenakan dress selutut dengan sepatu hak tingginya, sedang menggendong saya yang waktu itu hanya mengenakan setelan baju tidur dan muka yang mau menangis ketika melihat ke kamera, lalu di samping Ayah, berdiri Kakak perempuan saya yang nomer dua, dan di samping Ibu berdiri Kakak perempuan saya yang nomer satu. Keduanya menggunakan dress sama. Jika dihitung-hitung maka itu adalah “foto keluarga” saya yang pertama, sekaligus terakhir, dan yang paling lengkap.

Foto keluarga itu pun tidak saya besarkan dengan bingkai tebal yang biasanya sering kita lihat di ruang tamu. Foto keluarga itulah hanya saya letakkan di bingkai kecil yang menghiasi meja menulis saya sekarang.

Hal ini yang coba diceritakan oleh Vincent Rumahloine, seniman foto, lewat pameran tunggalnya berjudul Melainkan Tentang Kamu #2 project: Family Portrait. Vincent mengabadikan “family portrait” di Kampung Pulosari RT 09/RW 15, Kecamatan Bandung Wetan, Kelurahan Taman Sari, Bandung. Lokasi Kampung ini berada tepat di bawah jembatan Pasupati dan dekat dengan sungai Cikapundung.

Bagi Vincent, kenapa “family portrait” menarik, karena ketika menjalankan project ini, ia menemukan banyak konsep “keluarga” yang ternyata tidak seideal pada umumnya. Ternyata ia malah menemukan banyak sekali versi keluarga yang tidak lengkap, dan banyak konsep keluarga ideal yang luruh. Karena pada kenyataannya memang di luar sana banyak keluarga yang tidak lengkap. 

Semoga ketika datang dan menikmati pameran ini, kita dapat belajar sesuatu dari keluarga keluarga yang ada di Kampung Pulosari, mungkin ketika Vincent mengajak mereka untuk “foto keluarga", tidak semua hadir dengan versi yang lengkap, berseragam bagus, atau dengan dandanan yang necis, tapi paling tidak ekspresi mereka ketika difoto memang murni, tidak dibuat-buat, tidak diatur-atur. Mereka mungkin adalah versi yang tidak sempurna, tapi bukankah itulah arti keluarga: ketika tidak sempurna, kesanalah kamu tetap pulang.





Tuesday, April 21, 2015

Filosofi Kopi dan Aroma Kopi Yang Tercium Pekat dari Awal Hingga Akhir Film








Filosofi Kopi adalah interpretasi. Saya senang memulai tulisan ini dengan pemikiran bahwa, film ini adalah interpretasi, dan interpretasi adalah kebebasan. Kebebasan itulah yang pada akhirnya dikembalikan kepada sutradara film dan penonton itu sendiri.

Menonton Filosofi Kopi adalah pengalaman personal bagi saya. Karena buku Filosofi Kopi karya Dee, adalah buku favorit saya. Saya menyukai hampir semua karya Dee yang ada di dalam buku itu. Sebut saja Rico De Corro, Spasi, Sepotong Kue Kuning, Sikat Gigi, Mencari Herman, dan Filosofi Kopi, adalah cerita-cerita favorit saya di dalam kumpulan cerita pendek tersebut.

Ketika saya mendengar desas-desus bahwa Filosofi Kopi akan di-filmkan, terus terang saya deg-degan. Karena mau tidak mau ada sebagian dari perasaan saya yang nantinya ikut digambarkan di dalam film tersebut. Dan saya takut, nanti perasaan saya tidak bisa digambarkan, seperti film yang sudah sudah.

Tapi bodoh sekali saya, tentu saja, saya terjebak di dalam pemikiran saya, bahwa film dan buku adalah dua media yang berbeda. Adalah dua perasaan yang berbeda. Tidak bisa digabungkan, karena ketika digabungkan, dengan mudahnya akan menjadi kecewa.

Baiklah, kembali lagi kepada interpretasi, Angga Dwimas Sasongko melakukannya dengan sangat baik. Paling tidak jika dibandingkan dengan film-film adaptasi dari karya Dee lainnya. Interpretasi Angga di dalam film ini bisa dibilang tidak berlebihan, semuanya di dalam proses yang pas. Apalagi bagian konflik, Angga bisa berdialog dengan caranya, tanpa menghilangkan rasa dari Filosofi Kopi sendiri. Dalam hal ini, saya ingin mengatakan bahwa, konfliknya sudah sangat Angga.


Saya tidak akan mengomentari pemain, karena pemainnya sudah cukup melakukan bagiannya dengan baik di dalam film ini. Saya hanya mau bilang begini: ketika menonton film ini, aroma kopi tercium dengan sangat pekat dari awal hingga akhir film. Sensasi rasa ini bagi saya adalah sebuah keberhasilan ketika menonton. Saya tidak sabar untuk segera meminum kopi hitam kesukaan saya, begitu selesai menonton Filosofi Kopi, karena seperti kata Ben “ada juga kopi hitam yang buruk secara penampilan, namun jika kau mengenalnya lebih jauh, kau akan terpesona olehnya.” Segera temukan makna dirimu setelah menonton film ini. 

Wednesday, March 4, 2015

Keyakinan Yang Ia Perjuangkan Diam Diam






Misterius dan indah itu adalah ketika kamu mengingat-ingat seseorang yang berada di balik tulisan tulisan. Tentu saja ingatan-ingatan itu tidak akan selalu membatmu bahagia, bisa jadi itu adalah sebuah kesedihan. Tetapi bukankah kesedihan karena cinta itu adalah sesuatu yang indah.

Entahlah di dalam hal ini bisa saja kamu tidak sependapat, bayangkan bahwa ketika kamu jatuh cinta, tidak hanya ada kebahagiaan, tetapi juga terdapat kesedihan, lebih banyak kesedihan, karena ketika belajar mencintai, biasanya ada pelajaran pengorbanan, dan di dalam pengorbanan itu biasanya tidak hanya ada sukacita, melainkan juga kesedihan.

Ingatan-ingatan itu akan kembali ketika masa kanak-kanak, ketika saya jatuh cinta pertama kali di masa kanak-kanak. Ah, mungkin itu juga bukan cinta. Bahkan saya belum mengerti apa itu cinta, ketika memang kamu hanya merasakan sesuatu yang “ser-seran” di dalam dada, hanya karena berpapasan dengan orang itu di depan gerbang sekolah.

Ingatan-ingatan itu juga akan membawa kepada banyak sekali kesedihan-kesedihan yang dialami ketika jatuh cinta kepada seseorang, nah sampai kepada titik ini saya tidak percaya bahwa jatuh cinta hanya melulu bicara tentang kebahagiaan, karena yang dirasakan justru sebaliknya, kesedihan. Kesedihan yang indah.

Akhir-akhir ini saya memang sering sekali dibawa kepada ingatan-ingatan, dan dari sekian banyak ingatan-ingatan yang ada, sering sekali membuat saya tidak banyak bahagia. Ingatan-ingatan itu sering sekali membuat saya mempertanyakan banyak hal, salah satunya adalah apa benar, seseorang yang saya percaya ia sebagai sebuah keyakinan, keyakinan yang saya perjuangkan diam-diam, adalah memang cinta itu sendiri atau sebuah kesedihan? lalu jika itu adalah sebuah kesedihan, bagaimana kamu mendefinisikan cinta itu sendiri?


Monday, March 2, 2015

Molucca Tees #moluccaproject


















Behind the scene pemotretan Molucca Tees #moluccaproject
Photo by: Elan Budikusumah
Model: Andre Paais, Gracia Chrysophia, Jeffry Wattimena

@moluccaproject T-shirt Molucca ready to sale! PO by send your email with subject Molucca T-shirt to moluccaproject@gmail.com (nama+alamat+no.telp)
follow ig/twitter @moluccaproject

--

molucca project. we are proud to be moluccan. we bring you some good vibes about our home, maluku, molucca. #moluccaproject #moluccatees #moluccatshirt 

Sedikit Cerita Tentang Molucca Project






Beberapa waktu terakhir ini saya memang banyak menghabiskan waktu untuk memulai sebuah project baru saya, yang keidean ketika saya liburan akhir tahun yang beberapa waktu yang lalu. Ketika pulang saya bertemu dengan teman-teman, saya mengobrol banyak dengan kakak saya, saya menghabiskan banyak waktu di rumah, main di beberapa toko merchandise dan melihat-lihat, lalu kakak saya mengatakan kepada saya bahwa, sepertinya lucu juga jika kita membuat merchandise yang “Ambon banget” atau “Maluku banget.”

Dimulai dari percakapan itu, maka saya kepikiran untuk membuat sebuah project bernama Molucca Project. Ketika pulang ke Ambon kemarin, saya juga sempat melakukan perjalanan ke beberapa tempat lalu melihat-lihat dan ternyata memang banyak yang bisa dimaksimalkan dengan kepulangan ke Ambon, saya mengambil beberapa foto dari handphone saya, lalu ketika kembali ke Bandung dibantu oleh Mbak Tarlen (Tobucil) saya lalu membuat kartu pos dari beberapa foto yang saya hasilkan.

Kemudian tidak lama setelah itu, saya mengajak mas Danu dari Mokaw, untuk mengerjakan merchandise yang saya maksud. Karena memang saya suka sekali dengan totebag, maka saya memulainya dengan memesan totebag bertuliskan Molucca. Pengerjaan pertama yang dilakukan oleh mas Danu mendapat sambutan yang cukup menyenangkan, karena teman-teman di Ambon langsung memesannya.

Kemudian setelah totebag dikerjakan, saya lalu lanjut membuat kaos masih bertuliskan Molucca. Ketika ditanya, kenapa namanya Molucca Project, saya akan cerita sedikit, Molucca Project, sesuai dengan namanya, akan bercerita banyak tentang Maluku. Konten yang diangkat tentu saja adalah hanya tentang Maluku. Ketika membuat project ini, harapan saya adalah bagaimana menjual Maluku dari merchandise yang dibikin.

Kira-kira inilah yang saya tulis di media sosial saya beberapa waktu yang lalu tentang Molucca Project:

Visi awalnya sederhana saja: mengangkat Maluku lewat merchandise. Harapan gue kedepan tidak hanya menjual merchandise, tapi gue akan jualan konten, entah itu budaya, wisata, orang-orangnya, dan kenapa Maluku menjadi tempat yang seksi untuk bisa lo datengin. Awalnya ada totebag, post card, menyusul hoodie, kaos, topi, dll. I'm working on it. Harapan gue selanjutnya, semoga lo bisa kenal Maluku lebih baik, bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta, tapi juga Maluku dan pulau pulau lainnya. -- we are proud to be moluccan. we bring you some good vibes about our home, maluku, molucca.


Semoga ini memang menjadi doa saya ketika megerjakan Molucca Project kedepannya. Dan semoga harapan saya memang tercapai. 

Monday, February 2, 2015

Perjalanan Menuju Pulau Osi (Bag. Terakhir)





Selesai Telaga Tenggelam, Gunung Tinggi, kami lalu menempuh perjalanan sekitar 45 menit lagi untuk menuju ke Pulau Osi. Tetapi sebelum sampai ke Pulau Osi, kami menyempatkan diri untuk makan siang sebentar.


Menuju ke Pulau Osi, kamu akan menemukan jalanan berpasir sejauh dua km, pastikan untuk menggunakan helm yang proper supaya kamu terhindar dari debu-debu yang akan masuk ke dalam mata dan mulut.

Sampai di pintu masuk, per orang dihitung Rp. 5000. Ketika masuk kamu akan menemukan jembatan pertama yang menghubungkan antara dataran yang satu dengan dataran selanjutnya. Jembatan itu dibangun dengan maksud untuk membuat pengunjung lebih mudah lagi untuk berjalan kaki maupun menaiki motor hingga akan sampai ke ujung pulaunya.

jembatan di pulau osi


cottage yang ada di pulau osi


Ketika sampai di Pulau Osi, kamu akan menemukan tanaman bakau sepanjang pulau. Tenang saja, air sepanjang pulau termasuk dangkal, kamu bisa turun ke bawah dan bermain-main di laut tanpa harus bisa berenang.



jembatan lainnya setelah meninggalkan sebuah kampung yang ada di pulau osi



Ada beberapa cottage yang disediakan di Pulau Osi, juga penginapan. Kamu bisa ajak teman-temanmu untuk datang dan menginap. Pulau Osi mungkin sudah ditakdirkan sebagai tempat sweet escape!


terima kasih yuli toisuta, aprino berhitu, ierfundy latuconsina, akbar dan aldy untuk perjalanan random yang menyenangkan!

Friday, January 30, 2015

Perjalanan Menuju Pulau Osi (Bag. Kedua)







Setelah kami menikmati Telaga Tenggelam, kami lalu menuju satu daerah di daerah Loki, Seram Bagian Barat. Kami menaiki jalan perbukitan, dengan hutan-hutan di kiri dan kanan kami menuju ke sebuah area yang disebut Gunung Tinggi, Seram Bagian Barat.

Perjalanan ke sini akan membuat kamu ternganga nganga karena selain bukit, hutan, ada laut juga di kejauhan yang bisa dinikmati. Cuaca siang itu lumayan panas, sehingga menimbulkan langit biru yang sangat menjernihkan mata.

Kami lalu tiba di Gunung Tinggi, sekilas jika melihat daerah ini, mungkin kamu tidak akan menyangka bahwa, daerah ini ada di Maluku, Indonesia. Sekilas seperti Skotlandia, dengan kawasan bukit-bukit hijau, pepohonan, dan laut di kejauhan. Sekedar beristirahat, turun dari motor dan meluruskan punggung, kami lalu memanjakan mata sejenak menikmati pemandangan sekitar.


perjalanan menuju ke gunung tinggi lalu sempat mampir dulu di kawasan perumahan ini


Dari Daerah Gunung Tinggi, kamu bisa melihat lekuk lekuk jalan di bawahmu. Dengan rerumputan yang seperti dipotong hampir setiap harinya, rapih dan berjejer. Lalu angin sepoi. Di sekitar Gunung Tinggi tidak ada rumah satupun, malah saya berpikir bahwa daerah ini akan asik jika dijadikan sebagai area perkemahan, ya tapi tidak tahu juga ya, kalau daerah sekitar masih bayak ular, hii!



Gunung Tinggi, Seram Bagian Barat, Maluku, Indonesia





Ketika ke Daerah Seram Bagian Barat, Gunung Tinggi, bisa menjadi pilihan kamu untuk memanjakan mata dan leha-leha sejenak dari aktivitas pekerjaan yang penat. Saya sendiri ingin kembali ke sana suatu hari nanti.


Thursday, January 29, 2015

Perjalanan Menuju Pulau Osi (Bag. Pertama)







Perjalananan lainnya yang bisa dilakukan kemarin adalah pergi ke Pulau Osi. Pulau Osi terletak di daerah Seram Bagian Barat, Maluku. Pulau Seram adalah pulau terbesar di daerah Maluku dan masih banyak lahan yang kosong di daerah ini, dengan kata lain pembangunan belum terlalu berjalan dengan baik di daerah ini.

Alternatif perjalanan yang bisa kamu lakukan ketika pergi ke Maluku adalah jalan-jalan ke Pulau Seram. Kali ini saya dan teman-teman secara random jalan-jalan ke daerah Seram Bagian Barat.

Pagi sekitar pukul 5.30 kami berangkat dari Kota Ambon, dengan janjian bertemu di daerah pom bensin Batu Merah, kami berpasang-pasangan dengan motor, kali itu kami menggunakan tiga motor. Alasannya kenapa kami memilih motor adalah, supaya lebih praktis, dan bisa sekaligus pulang-pergi.

Jika pergi ke Pulau Seram, maka harus pergi dulu ke Pelabuhan Hunimua, Liang dan menyeberang dari sana. Ketika melewati daerah Pantai Suli, kami sempat berhenti sebentar dan menikmati sunrise yang ada. Terusterang ini adalah pemandangan yang sangat mahal, karena jarang-jarang saya bisa menikmati sunrise ketika sedang berada di Bandung. Pemandangan sunrise pagi ini benar-benar menyegarkan mata sekaligus jiwa, saya menganggapnya sebagai pertanda baik yang mengawali perjalanan kita ke Pulau Osi.



bertemu sunrise di daerah Pantai Suli, Ambon, Maluku

Sebelum sampai di Liang, kami sempatkan diri untuk membeli sarapan di daerah Tulehu, negeri yang akhirnya ramai dibicarakan karena film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku. Negeri Tulehu pagi ini sangat damai, tampak semburat matahari pagi, mulai muncul di antara sotoh-sotoh rumah, mama mama yang sudah bangun mulai pergi ke luar  mengantri nasi kuning untuk sarapan pagi mereka. Saya juga menemukan anak kucing yang jatuh ke dalam selokan dan mengeong ngeong di pagi itu.

Perjalanan kami kemudian dilanjutkan ke Pelabuhan Hunimua, Negeri Liang. Kendaraan yang mengantri di pagi itu tidaklah banyak. Nampak antrian orang yang hendak menyeberang ke Pulau Seram  juga tidaklah ramai. Karena kami menggunakan motor, kami membayar seharga motor yang hitungannya sepeda motor berbonceng adalah Rp.56.000.

Perjalanan di dalam Ferry sangatlah menyenangkan, ada kamar mandi yang bersih. Di dalam Ferry juga terdapat kafe kecil untuk membeli kopi dan sarapan-sarapan kecil lainnya. Penyeberangan menuju Pulau Seram hanya membutuhkan waktu 1 jam 30 menit. Kami pun sampai di Pelabuhan Waipirit, Kairatu, Seram.


tim ekspedisi kami



salah satu ruas jalan di daerah seram bagian barat

Kami lalu melanjutkan perjalanan dengan motor, melewati jalan-jalan yang sudah diaspal dengan baik, tampak langit biru jernih di atas kepala, dengan perpaduan pohon-pohon hijau di sepanjang perjalanan kami. Kami lalu sampai di derah Piru, kata Yuli, teman dari Baronda Maluku yang waktu itu bersama-sama dengan kami, ia menganjurkan untuk sebelum kami ke Pulau Osi, ada baiknya kami mampir dahulu untuk melihat Telaga Tenggelam. Telaga Tenggelam memang berbentuk Telaga dengan air yang bening. Ketika kami berhenti untuk sekedar membeli minuman dingin di sebuah warung yang ada di pinggir jalan, kai sempat mengobrol dengan penduduk setempat tentang Telaga Tenggelam. Ia lalu bercerita bahwa, Telaga Tenggelam itu dahulunya adalah sebuah desa yang akhirnya sengaja “ditenggelamkan”  oleh Tete Nene Moyang (Leluhur) alasan ditenggelamkan karena katanya penduduk sekitar itu melakukan kesalahan, konon begitu ya.

Telaga Tenggelam

Kami hanya mengangguk angguk ketika didongengkan. Selain itu ternyata Tete Nene Moyang (leluhur) di negeri setempat katanya berbentuk buaya, yang biasanya juga terlihat sedang berenang-renang di sekitar Telaga Tenggelam. Beruntung sekali, saya tidak bertemu dengannya, padahal ketika mengujungi Telaga Tenggelam, saya memang masuk dan berjalan-jalan di sekitar Telaga, untuk merendam kaki.

Saya tidak membayangkan jika saya bertemu dengan seekor buaya di dalam Telaga Tenggelam itu, hm.

(Bagian dua, dilanjutkan nanti ya.)


Monday, January 26, 2015

Benteng Duurstede Yang Tidak Boleh Dilupakan





Ketika sampai di Pulau Ambon, banyak hal memang bisa dilihat. Tetapi ada alternatif kunjungan lain yang bisa dilakukan dan itu bukan hanya di pulau Ambon. Kamu bisa pergi ke Saparua.

Saparua adalah salah satu Pulau yang terdapat di Maluku Tengah, pulau Saparua berdekatan dengan Pulau Haruku dan Pulau Nusalaut. Dan dari sinilah Kapitan Pattimura berasal. Saya berangkat ke Saparua dengan Mbak Upi (seorang teman dari Tobucil, Bandung) yang waktu itu memang berencana untuk liburan ke Ambon.

Akhirnya setelah mengeliligi Ambon, kami pun pergi ke Saparua. Kami berangkat pagi-pagi dari Ambon, karena mengejar jadwal kapal cepat dari Pelabuhan Tulehu. Dengan menggunakan angkutan umum dari Terminal Pasar Mardika, kami memilih naik angkutan umum jurusan Liang. Hanya membayar 15 Ribu Rupiah. Turunlah kami di Pelabuhan Tulehu dan harus mengantri untuk membeli tiket.

Sayangnya memang sistem pembelian tiket menuju Pulau Saparua itu tidak terlalu teratur. Karena setiap orang dengan sistem “siapa cepat dia dapat” harus rela berdesak-desakan untuk mendapatkan beberapa helai tiket. Harga tiket kapal cepat ke Pulau Saparua hanya Rp. 75.000. Tiket yang kami beli sudah termasuk ada tempat duduknya.

Sesampainya di Pelabuhan Haria, kami menaiki ojek dengan membayar Rp.15.000 dan meminta untuk diturunkan di Benteng Duurstede. Benteng Duurstede memiliki pemandangan yang sangat eksotis. Sebelum menaiki tangga, saya sempat berjalan-jalan di sekitar luar Benteng dan menikmati pemandangan laut di sekitarnya. Kelihatan Pulau Nusalaut di kejauhan, dari halaman rumput tempat saya berdiri. Karena ada halaman rumput yang cukup luas, maka penduduk dengan sengaja meletakkan sapi-sapi mereka di sekitar rerumputan tersebut.




Pemandangan Dari Luar Benteng Duurstede

Lalu kami pun masuk ke dalam Benteng. Sejujurnya ada sedikit rasa merinding ketika ada di dalam Benteng Duurstede. Karena mengingat kembali perjuangan Pattimura dan teman-temannya untuk merebut Benteng ini dari Belanda. Bangunan Benteng Duurstede itu masih terlihat kokoh walaupun sudah lama dibangunnya, sayangnya memang beberapa bagian sudah lumayan lapuk dan tidak terlalu diperhatikan. Saya pun menggunakan waktu itu untuk berjalan berkeliling Benteng. Pemandangan dari atas Benteng tidak kalah menariknya. Benteng Duurstede dikelilingi oleh laut dan kita bisa melihat beberapa meriam memang sengaja diarahkan ke laut, tempat dulu kapal-kapal masuk untuk menyerang.



Pemdandangan Dari Dalam Benteng Duurstede


Meriam Di Dalam Benteng Duurstede


Mbak Upi Di Dalam Benteng Duurstede


Setelah dari Benteng, kami pergi mencari makan siang di sekitar Benteng Duurstede, tidak perlu kuatir karena banyak rumah makan enak yang bisa didatangi dengan harga yang relatif murah. Selesai makan, kami tinggal menyeberang ke sebuah hotel kecil yaitu Hotel Perdana yang saya rekomendasikan jika kamu memang hendak menginap beberapa hari di kota ini, karena per malamnya hanya Rp.150.000 dengan fasilitas hotel yang lumayan memadai.

Istirahat sebentar, kami lalu berkeliling dengan ojek, mengelilingi Pulau Saparua dari satu negeri ke negeri lainnya (negeri adalah sebutan orang Maluku kepada kampung) kami sempat berencana melihat cara pembuatan sempe (wadah Papeda, makanan khas Maluku) tetapi karena pada saat itu adalah liburan akhir tahun, maka Mama Mama yang biasanya membuat sempe juga liburan. Setiap berkeliling dari satu negeri ke negeri kami sempat mampir untuk melihat Baileo atau rumah rakyat setempat, dan pastinya melihat Tanjung Ouw, yang terletak di ujung Pulau Saparua.

Selesai berkeliling, kami menghabiskan waktu menikmati sunset di Pantai Pasir Putih, yang terletak di samping Benteng Duurstede dan menyaksikan penduduk setempat mandi-mandi di laut. Duduk di pasir merasakan halusnya pasir putih, hembusan angin, dan canda tawa anak-anak setempat.



Tanjung Ouw, Tanjung Paling Ujung dari Pulau Saparua. Pulau ujung satunya adalah Pulau Nusalaut


Pantai pasir putih di samping Benteng Duurstede


Belum selesai, kami pun pindah ke Bagian Belakang lain dari Benteng Duurstede, dan ternyata pemandangan dari situ jauh lebih seksi. Laut yang tenang dan matahari hampir tenggelam. Rasanya ingin sekali tinggal di Pulau Saparua lebih lama, tapi sayangnya keesokan harinya kami harus pulang. Suatu hari nanti saya pasti akan kembali dan menikmati Pulau Saparua lebih lama.   



Pemadangan lainnya dari luar Benteng Duurstede








Sunset di Benteng Duurstede

Saturday, January 3, 2015

Jeda (Sebuah Perenungan Memasuki Tahun Baru)







Jeda rasanya seperti kemunduran di dalam hidup. Tidak perlu melakukan apapun di dalam hidup, hanya mundur sejenak untuk banyak berpikir. Diam dan sepertinya tidak berkontribusi apa-apa. Lalu pada akhirnya memang hanya diam. Tidak perlu melakukan apa-apa. Rasanya ketika sedang diam, kita memang hanya berdiam diri saja, dan tidak melakukan apa-apa.

Saya menamakannya dengan fase “menarik diri ke belakang” yang jika diartikan lebih lanjut adalah fase dimana kita perlu menarik diri ke belakang supaya kita bisa memeriksa tentang kedalaman kita. Kedalaman adalah hal-hal yang tidak terlihat secara kasat mata, melainkan hal-hal yang sifatnya berhubungan dengan kualitas diri. Seberapa jauh saya bisa memberikan value kepada diri saya sendiri tentang hidup dan menjalani kehidupan.

Memasuki fase ini selanjutnya saya akan bicara tentang kedalaman pemikiran, kedalaman visi, kedalaman goal, kedalam relationship (apakah saya sudah siap dengan hubungan yang cukup serius) lalu kedalaman sikap (bagaimana saya melihat dan memaknai hidup) lalu kedalaman hubungan saya dengan Tuhan (bagaimana saya bisa memaknai Tuhan, bagaimana kuantitas dan kualitas hubungan saya dengan Tuhan) lalu kedalaman eksistensi (apakah hal yang saat ini saya sedang lakukan adalah semata karena passion saya atau hanya persoalan pemenuhan eksistensi saya.

Sesungguhnya menarik diri ke belakang atau bisa dikatakan dengan sebutan lainnya yaitu jeda adalah menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut. Pertanyaan pertanyaan yang saya ajukan kepada diri saya sendiri. Jeda itu seperti mundur, diam, tidak melakukan apa-apa, tetapi sebenarnya ketika diam dan menjawab pertanyaan pertanyaan, bukankah itu adalah sebuah lompatan?

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...