Tuesday, July 20, 2010

#21 Mesin Tik

Mesin tik dengan bunyi yang mengaung di udara, seperti menceritakan banyak hal, huruf-hurufnya kemudian menggerogoti telinga. Tidak hanya sampai di gendang, ia meneruskan pesannya ke hati, kemudian tumbuh di sana. Pengalaman panjang seakan tidak mau lelap. Hendak meneruskan sesuatu yang disebut dengan: dedikasi.

Saya belajar mengenai dedikasi dari mesin tik dengan bunyinya yang khas. Mesin tik adalah ide awal bagi mereka. Kertas menuliskannya. Buku merampungkannya. Dedikasi yang utuh selalu membawa kepada tulisan-tulisan yang menginspirasi. Saya tidak tahu hendak mengabadikan yang mana. Tulisannya atau mesin tiknya. Karena keduanya adalah pahlawan bagi saya.

Dibesarkan oleh dua orang penulis catatan khotbah yang hebat, membuat saya selalu terkesima dengan proses penciptaan. Membuat saya selalu terobsesi dengan kertas putih kosong tidak bergaris. Membuat saya akhirnya jatuh cinta terhadap pensil, dengan goresan yang halus dan lebih hitam. Saya dibesarkan oleh inspirasi.

Akhirnya membuat saya mengerti bahwa, sesungguhnya inspirasi lahir dari: dedikasi dan ketulusan.

Mencintai apa yang saya lakukan dan menghormati apa yang kecil. Itu adalah hal yang selalu disenandungkan oleh mesin tik. Ibarat sebuah lagu, mesin tik selalu punya lagu yang berhasil meninabobokan saya, membawa saya ke alam mimpi, dan membangun sesuatu di sana.

Lalu porsi dedikasi atau ketulusan yang lebih besar? Saya pikir tidak ada. Mereka saling bersinergi. Mereka tidak pernah berdiri sendiri. Mereka jodoh. Seperti sudah ada yang mengatur. Jodoh selalu seimbang, tidak pernah ada yang lebih besar atau lebih kecil. Tidak pernah ada yang iri satu sama lain.

Mereka saling mengisi.

Saya berhutang banyak kepada mesin tik dan bunyinya. Seiiring dengan perjalanan saya, saya masih bodoh berurusan dengan dedikasi dan ketulusan. Saya masih terlalu labil. Tapi saya bersyukur bahwa, mereka adalah pengalaman di depan mata saya. Mereka seperti daging yang menempel dengan kulit saya. Kalau sekarang, masih ada yang suka copot, mungkin lemnya belum kuat.

Mesin tik berbunyi dedikasi dan ketulusan.



Mereka itu Ruth dan Alberth.

1 comment:

  1. Theooo ... gua terharu, deh, baca postingan yg ini. Pasti orangtua lo juga terharu kalo baca tulisan ini ...

    Iya. Mesin tik itu emang deket bgt sama dedikasi dan ketulusan. Bunyinya juga asik. Renyah dan penuh keyakinan. "Crek, crek, crek, *Ting* ..."

    FYI, nggak penting, sih, tapi sampe sekarang Harmoko masih setia sama mesin tiknya, lho ... hehehe ...

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...