Tuesday, July 27, 2010

#22 Saya dan Tuhan

sebenarnya kau tidak benar-benar sendiri. Tuhan sudah lama tidak tinggal di Surga. Dia bisa hadir dalam bentuk apapun, menemanimu

Tuhan sedang jalan-jalan, kemana kakiNya melangkah. menyusuri trotoar hatimu, menyatu dengan debu di hatimu

saya pikir kadang Tuhan pun suka menangis. mataNya kadang bengkak. Tuhan mengintip diaryku. Dia selalu kepingin tahu

kau pernah kehilangan Tuhan? saya pikir, justru sebaliknya, Dia yang selalu merasa kehilanganmu

karena justru saya yang suka menghilang. saya suka sekali nyumput dariNya. saya suka main petak umpet denganNya

tapi Dia selalu berlari mengejar saya kembali. menarik saya kembali ke pelukanNya, sebebal apapun saya

saya tidak perlu berusaha keras untuk lebih baik, karena Dia selalu terima saya apa adanya. cantik jeleknya manusia bukan ukuranNya

keriting atau lurus rambutmu, putih atau hitam kulitmu, tidak ada bedanya bagiNya. Dia tidak pernah memaksa saya untuk menjadi orang lain

lalu bagaimana dengan ketakutan? saya takut sekali kehilangan. apa Dia juga tahu?

tentu saja, Dia tahu ketakutan saya. saya banyak bercakap denganNya tentang kehilangan?

kita banyak ngobrol sambil mengopi di teras kos saya. Tuhan suka juga kopi hitam pekat, persis seperti saya

Dia katakan kalau Dia sampai kehilangan, kehilangan saya, Dia pasti akan mencari saya kembali dan bawa saya pulang kembali

Dia juga bilang kalau, satu hal yang Dia tidak mau, adalah kehilangan saya, kehilangan kau. Tuhan tidak mau kehilangan kau

Tuhan itu gondrong, suka pakai booths, dan celanaNya sobek dimana-mana. tapi setiaNya tidak terukur

saya suka ngeceng Tuhan. suka saya perhatikan dari jauh, apa yang sedang Ia lakukan. apa yang sedang Ia pikirkan

saya senang, karena Tuhan saya yang nyentrik, suka booths, celana sobek dan gondrong pula. namun setiap detik selalu memikirkan saya

Dia selalu nongkrong di jendela kamar saya. Dia ada di closet saya setiap pagi. Dia ada di antara bau kaki saya. Dia tidak eksklusif

Dia mendengarkan saya. saya yang tuli, jarang mendengarkanNya

Dia selalu menangis untuk saya

kau percaya, Tuhan melukis nama saya di dinding kamar tidurNya. setiap malam Dia menyebut nama saya, sebelum Dia tidur

Tuhan saya terlalu nyentrik, sampai gereja menolakNya

Tuhan saya, jadi malas duduk di gereja, lebih baik Dia nongkrong di perempatan lampu merah, menyanyi bersama pengamen-pengamen itu

Tuhan saya tidak duduk di gereja, Dia duduk denganmu di closet, menyeka air matamu

Tuhan saya tidak beragama. tidak ada kolom agama di KTP-Nya

senang sekali, Dia masih menyempatkan mengopi sore dengan saya, hari ini. mengobrol tentang kehilangan

Tuhan saya yang nyentrik, suka wine dan dansa. hidup di nadi, lelap di darahmu, menyatu dengan denyutmu. kau dengar ?

saya ingin tahu, hatiMu terbuat dari apa? sampai selalu memaafkan, menerima saya kembali, saya yang brengsek ini

kenapa Kau betah, lama-lama mendengarkan curhat saya, kenapa Kau menyeka terus air mata saya, kenapa?


karena jawabannya: Tuhan tidak tinggal di Surga. Ia bosan tinggal di gereja. Ia tinggal di hatimu

2 comments:

  1. Tuhan tidak eksklusif.

    Sepertinya banyak orang yang mengeksklusifkan Tuhan seperti gue. Ada yang menganggap Tuhan sebagai teman atau kekasih, tapi gue enggak bisa. Bagi gue, Tuhan adalah bos besar. Maka, gue pun segan.

    Btw, tulisannya bagus, The. Isinya agak loncat-loncat.. ini langsung menuliskan apa yang terbesit di pikiran?

    ReplyDelete
  2. WOW!!!!
    THEOOOOO...
    Tulisanmu semakin lama semakin menginspirasi!
    menclok2.. tp selalu kena!
    like it so much sis!!

    Tuhan tidak tinggal di Surga, dia bosan tinggal di gereja!

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...