Thursday, December 27, 2012

Home #2: arti nama





Persoalan pemilihan nama selalu menarik bagi saya. Dari kecil saya memang puya ketertarikan tersendiri kepada nama-nama orang di sekitar saya. Shakespeare boleh mengatakan bahwa apalah arti sebuah nama. Dan saya tidak setuju dengan pernyataan ini. Karena bagi saya nama selalu punya artinya sendiri. Nama adalah doa.

Nama akan mengantarkanmu menjadi seperti apa dirimu. Saya akan menceritakan kepadamu arti nama saya.

Theoresia Laratwaty Rumthe.

“Rumthe” adalah nama keluarga kami. Karena kami berasal dari Kei, Maluku Tenggara. Sedangkan “Theoresia” terbagi atas dua “Theo” artinya Tuhan berasal dari bahasa Ibrani, juga berasal dari kata “Theo Logia” karena Ayah dan Ibu adalah Sarjana Theologia. “Resia” berasal dari “Grace” atau “Gracia” yang artinya Anugrah. Maka jika diartikan Theoresia artinya Anugrah Tuhan.

“Laratwaty” berasal dari kata “Larat” dan “Waty.”

“Larat” adalah sebuah pulau yang terletak di Maluku Tenggara. Larat artinya cahaya. Sedangkan “Waty” diberikan untuk aksen karena saya adalah anak perempuan. Maka jika ati dari “Laratwaty” adalah perempuan yang bercahaya.

Laratwaty juga tentang bunga Anggrek yang hanya bertumbuh di Larat, begitu juga penjelasan dari Ibu.

Maka sampai di sini, arti Theoresia Laratwaty adalah perempuan yang bercahaya yang hidup hanya karena anugrah Tuhan.

J

Sejauh ini, hidup saya memang selalu penuh dengan anugrah Tuhan. Dan semoga saya selalu bisa menjadi cahaya bagi setiap orang.

Menyenangkan sekali menuliskan arti nama bukan? Lalu apa arti nama kamu?

Home #1





Ketika pulang kali ini, saya memang hanya bermaksud untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Terakhir kali Natal bersama Ayah dan Ibu itu sekitar tahun 2005 yang lalu.

Ambon ketika Natal selalu penuh dengan kejutan. Bukan baju baru atau sesuatu yang baru, tetapi ketika bergereja bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayangi di malam Natal. 

Bisa jadi itu adalah impian setiap orang.

Dan tinggal di rumah selama beberapa Minggu membuatmu beradaptasi dengan banyak hal. Kawasan rumah keluarga saya adalah di daerah Farmasi bagian atas, di dekat stasiun transmisi Metro TV. Jika saya menggambarkannya, rumah keluarga kami terletak di bagian gunung dan jika duduk-duduk di teras rumah kita bisa melihat pemandangan kota dan laut di bawah sana.

Belum ada angkutan umum yang sampai ke rumah kami. Jadi jika hendak turun ke kota, kita harus menggunakan ojek. Dan dilanjutkan dengan angkutan umum di daerah Kudamati.

Segala sesuatunya begitu sederhana dan menyenangkan. Sampai di satu titik, saya lupa bahwa saya adalah penulis yang manja. Saya tidak bisa menulis dalam keadaan yang ribut. Segala sesuatunya harus tenang. Sunyi. Tidak ada suara televisi, hingga suara orang-orang berbicara.

Dalam hal inilah maka saya belajar banyak. Tetangga yang tinggal persis di samping rumah kami memiliki kebiasaan memutar musik kencang-kencang (oh, ini kebiasaan orang Ambon pada umumnya, btw) dan tidak hanya itu, beberapa hari terakhir ini banyak anak-anak muda yang suka datang ke rumahnya dan berbicara dengan suara keras-keras. Dengan bunyi motor yang keras juga.

.___.

Menyebalkan!

Pekerjaan rumah penting bagi saya adalah: mencari waktu terbaik saya untuk menulis. Dalam hal ini saya harus cerdas. Bukan pekerjaan mudah tentu saja. 

Desert Flower






Adalah sebuah film tentang perempuan Somalia bernama Waris Dirie yang berhasil keluar dari Tanah Somalia dan merantau ke Inggris demi meninggalkan keluarganya yang masih terkungkung dengan adat istiadat yang mengharuskan setiap anak perempuan disunat.

Waris sendiri disunat ketika berumur tiga tahun. Dan film ini kemudian dibuat sebagai semangat perjuangan seorang perempuan untuk melakukan aksi protes bahwa persunatan secara “paksa” yang dilakukan kepada seorang anak perempuan adalah kejahatan.

Saya tidak akan menceritakan detail film ini. Saya hanya akan membahas sudut pandang saya terhadap sebuah film. Bagi saya yang paling menginspirasi bagi saya dalam film ini adalah persahabatan antara Waris dan Marilyn.

Diceritakan bahwa Marilyn adalah seorang penjaga toko yang ditemukan Waris pertama kali ketika ia kabur dari rumah pejabat tinggi Somalia. Dan akhirnya karena berkenalan secara “paksa” maka Marilyn mengijinkan Waris untuk tinggal di apartemennya.

Marilyn yang memberikan alamat perusahaan fastfood, tempat Waris akhirnya bekerja dan akhirnya mempertemukan Waris dengan seorang fotografer fashion terkenal di seantero Inggris ketika itu.

Kepada Marilyn, Waris juga pertama kali berbicara jujur tentang kondisi dirinya yang disunat.
Betul bahwa film ini adalah tentang perjuangan. Tetapi bagi saya film ini adalah tentang persahabatan dua orang perempuan. Bahwa dunia ini butuh persahabatan yang tulus dan murni. Keberhasilan seseorang juga membutuhkan hati yang besar dari sahabatnya.  

Dalam hal ini yang akan saya sorot adalah Marilyn. Marilyn adalah seorang perempuan yang berhati besar, ia mau menerima Waris sebagai perempuan asing pada waktu itu dan mau memberikan Waris “tumpangan” untuk menginap pertama kalinya.

Selain itu Marilyn juga yang mendorong Waris untuk menghubungi fotografer yang ada pada kartu nama yang ia simpan selama ini.

Saya rasa jika tidak ada dukungan dari Marilyn, Waris tidak akan kemana-mana. Waris tidak pernah sampai kepada mimpinya. Dan Waris tidak akan keluar sebagai seorang perempuan pemberani sekaligus percaya diri.

Dukungan dari seorang sahabat mau tidak mau adalah hal yang penting. Karena sahabat membuka pemikiran kita dan sedikit “membentuk” kepribadian kita. Dengan siapa kita bergaul. Seperti itulah kita.

Waris secara tidak sengaja “memilih” Marilyn untuk pertama kali untuk menjadi sahabatnya. Hal ini membuat saya juga percaya bahwa, kita lah yang memilih sahabat-sahabat kita.

Natal yang Hanya Aksesoris






Terlalu banyak aksesoris natal. Di Ambon ini banyak sekali yang merayakan Natal dengan segala macam perlengkapan Natal yang memang secara sengaja dipersiapkan oleh setiap rumah.

Dimulai dengan pohon natal, lampu-lampu penuh warna pada setiap pojok rumah, baju baru di tiap kebaktian, kue-kue kering dari yang harganya paling murah sampai yang paling mahal, belum minuman dan segala persiapan lainnya, sampai dengan petasan dan kembang api di malam natal.

Segala persiapan yang dilakukan untuk menyambut: bayi mugil yang mungil yang lahir begitu sederhananya.

Saya tidak percaya bahwa kelahiran Yesus hanya boleh diperingati sepanjang bulan Desember saja. Saya tidak percaya dengan segala aksesoris berbentuk mewah yang selalu ada menjelang Natal merupakan sesuatu yang wajib.

Karena bagi saya, Yesus lahir setiap hari. Dan saya percaya kepada persiapan.

Dan jika berbicara tentang persiapan, kita akan berbicara soal hati. Hati yang siap lebih mewah dari segala persiapan apapun. Hati tidak kelihatan. Dan sesuatu yang tidak kelihatan cenderung dilupakan.

Banyak orang terlalu sibuk dengan aksesoris: “apa yang kelihatan” ketimbang “apa yang tidak kelihatan” sehingga lupa bahwa persoalan mempersiapkan kelahiran Yesus di dalam hati itu jauh lebih penting daripada apapun.

Lagipula, DIA RAJA, DIA yang memiliki segalanya. Sesunguhnya jika kita betul-betul memiliki DIA dalam hati kita. Kita sudah memiliki segalanya.

Sudahkah kita memaknai Natal di dalam hati kita?

Thursday, December 13, 2012

Kenapa "jatuh cinta"





Kenapa disebut “jatuh cinta” kenapa bukan “bangun cinta” atau “bangkit cinta” sebuah pertanyaan in muncul dari seorang teman, awalnya iseng tapi ia lalu menantang saya untuk menuliskannya.

Sekitar beberapa bulan yang lalu, saya pernah membuat semacam polling kecil-kecilan di twitter saya, pilih mana bilang “cinta” atau “sayang” ke pasangan. Dan banyak sekali yang menjawab beragam. Tetapi pada akhirnya ada yang menjawab “cinta” karena lebih straight to the point dan berani.

Oke. Di konteks ini saya setuju dengannya.

Kembali ke kata “jatuh” pada kata “jatuh cinta” di wikipedia menulis seperti ini:

In romantic relationships, falling in love is mainly a Western concept of moving from a feeling of neutrality towards a person to one of love. The use of the term "fall" implies that the process is in some way inevitable, uncontrollable, risky, irreversible, and that it puts the lover in a state of vulnerability, in the same way the word "fall" is used in the phrase "to fall ill" or "to fall into a trap". The term is generally used to describe an (eventual) love that is strong.

Maka terjemahan bebasnya adalah: “jatuh cinta” adalah sebuah konsep yang mengubah perasaan netral seseorang kepada seseorang lainnya karena cinta. Kata “jatuh” sendiri menyiratkan sebuah proses yang tidak terelakkan, tidak dapat dikontrol, beresiko, dan ireversibel. Dalam hal ini kita bisa menempatkan kekasih kita dalam keadaan rentan. “jatuh cinta” juga sama dengan “jatuh sakit” atau “jatuh dalam perangkap”. Istilah “jatuh cinta” juga sering sekali digunakan untuk mengungkapkan perasaan yang kuat terhadap seseorang.

Kesimpulan saya: kata “jatuh” biasanya terjadi kepada sesuatu/seseorang yang kehilangan keseimbangan atau tidak punya pertahanan yang kuat. Sayang sekali kita tidak bisa mengontrol perasaan ini. Sehingga kita selalu “jatuh”.

Begitupun dengan saya, saya akan “jatuh cinta” ketika tidak punya pertahanan yang kuat. Kekasih yang saya jatuhi pun tidak punya pertahanan ini. Sebaliknya ketika kekasih saya “jatuh cinta” terhadap saya. Ia pun tidak punya pertahanan yang kuat.

Anggap saja kekasih saya adalah hujan. Ketika hujan “jatuh” ia tidak punya pertahanan yang kuat. Tapi ia percaya bahwa bumi dan tanah akan menerimanya. “jatuh cinta” mengandung resiko: diterima atau tidak diterima. Kalau tidak diterima ada kemungkinan kita mengalami “luka cinta” karena kata “jatuh” resikonya adalah “luka.”

Anak kecil yang sedang  belajar berjalan pun sering “jatuh” ketika merangkak, lalu berjalan. Tetapi mereka menyenanginya. Karena ketika ia tidak “jatuh” sampai kapanpun ia tidak akan belajar berjalan.

Sampai di titik ini, kesimpulan saya—bukan akhir dari segala sesuatu:


Ketika “jatuh” sudah resiko kamu akan terluka. Tetapi tanpa “jatuh” dan menjadi “luka” sampai kapanpun kamu tidak akan pernah belajar sesuatu.

Tidak ada yang lebih menyenangkan ketika kita “falling into love” atau “jatuh cinta” saya akan memilih untuk “jatuh” kepada “cinta” ketimbang “jatuh” kepada “obat-obat terlarang” atau pun “minuman keras” walaupun saya suka bir.

“jatuh cinta” yang menyebabkan “luka cinta” tidak akan membat hidupmu berakhir atau mati. Itu hanya fase hidup. Kita namakan saja fase belajar.

Setelah “jatuh” “luka” yang perlu kamu lakukan adalah belajar membalut luka itu sendiri atau dengan bantuan orang lain.

Terakhir, berani untuk “jatuh cinta” sebanyak mungkin.

Jangan terlalu percaya kata-kata saya. Percayalah kata hatimu sendiri.




*posting ini buat Joshua Nafi, terima kasih untuk temanya.

Wednesday, December 12, 2012

Semacam Ulasan Film: Life of Pi






Lama sekali tidak ke Bioskop. Oh, jangan ketawain saya. Film terakhir yang saya tonton di bioskop adalah The Amazing of Spider Man. Yap, si sexy Peter Parker. Entah mengapa saya memang bukan tipe yang rajin pergi ke bioskop.

Kalau berbicara soal menonton, saya lebih suka pergi ke Kineruku dan menonton film-film yang diputar di sana. Dan akhirnya menjawab kegelisahan diri saya sendiri untuk pergi menonton Life of Pi.

Maka Senin malam saya pergi menontonnya bersama seorang teman. Saya tidak akan memberikan spoiler kepadamu tentang film Life of Pi. Saya hanya ingin menceritakan kepadamu. Bagaimana film Life of Pi merefleksikan sesuatu kepada saya.

Dua tokoh utama dalam film itu adalah Richard Parker (seekor macan Bengali) dan Pi. Terapung-apung di laut selama berpuluh-puluh hari. Di film itu digambarkan bagaimana Pi bersusah payah untuk menaklukan ketakutannya sendiri atas Richard Parker. Lalu bagaimana mereka berdua bertahan melewati hari-hari yang sangat sulit di lautan. Hanya berdua saja. Dengan semesta.

Di awal film ini Pi mengatakan kepada penulis yang hendak mengisahkan ceritanya ke dalam buku bahwa: ceritanya adalah perjalanan untuk menemukan Tuhan.

Dan coba tebak, apakah memang Tuhan bisa ditemukan dalam ceritanya.

Oh, ada sesuatu yang direfleksikan kepada saya seusai menonton film itu. Sepanjang angkot ketika saya pulang. Saya terus menerus dihantui oleh sebuah statement yang diucapkan oleh Pi,

All of life is an act of letting go but what hurts the most is not taking a moment to say goodbye.

... What hurts the most is not taking a moment to say goodbye.



Pernyataan ini begitu menghantui saya.

Saya melihat hubungan Richard Parker dan Pi dalam film ini seperti hubungan laki-laki dan perempuan. Terserah yang mana yang menjadi laki-laki dan yang mana yang menjadi perempuan. Tetapi ini terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita memilih atau (tidak sengaja) dipilih untuk bersama seseorang. Setuju atau tidak setuju. Punya intensitas yang cukup tinggi dengan orang tersebut. Suka maupun tidak suka. Tetapi bersama.

Di dalam kebersamaan banyak hal yang terjadi. Ada perasaan utuh ketika kita bersama seseorang. Dan ada yang diambil ketika kita (tidak sengaja) berpisah atau dipisahkan dari orang tersebut. Dan ini pun yang kemudian dialami oleh Pi, ketika Richard Parker pergi dari dia tanpa sedikitpun menengok ke belakang bahkan hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.

Ah, Pi patah hati.

Sampai di sini saya berpikir bahwa, persoalannya bukan ketika ditinggalkan atau meninggalkan. Persoalannya adalah ketika hendak meninggalkan paling tidak kita dengan berani menatap mata pasangan kita dan bilang "selamat tinggal."

Karena yang paling sakit adalah ketika kita tidak berani bilang selamat tinggal.

Saya begitu masuk ke dalam perasaan Pi sehingga saya tidak memikirkan perasaan Richard Parker. Oh Richard Parker ternyata punya cara lain untuk bilang “selamat tinggal” ia berjalan ke arah hutan dengan tubuhnya yang kurus, berhenti sejenak di ujung rumput sebelum masuk ke hutan ... diam, baru kemudian berlari ke dalam hutan.

Ia memang tidak menengok ke arah Pi. Ia hanya diam. Dan itu adalah caranya mengucapkan “selamat tinggal.”

Oh yang ini lain pembahasan, tapi saya mau bilang bahwa saya menemukan Tuhan dalam film ini.

Tuhan menjelma menjadi seekor macan. Richard Parker namanya. DIA tidak membiarkan Pi sendirian di tengah lautan lepas itu. DIA tidak melihat Pi dari jauh. DIA melihat Pi dari dekat. Bahkan sangat dekat.

Doubt is useful, it keeps faith a living thing. Afterall, you cannot know the strength of your faith until it is tested.

Kadang kita seperti ragu, dan merasa ditinggalkan. Tuhan seperti mengucapkan "selamat tinggal" Padahal kita tidak pernah tahu, Tuhan bisa begitu dekat. Sangat dekat. 

Tuesday, December 11, 2012

Sariayu Create Your Own Blog Spa





Perempuan dan kecantikan memang tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lain. Selalu ada inovasi yang dibuat seiring dengan perkembangan jaman. Dan salah satunya adalah Sariayu.

Sariayu memang sudah dikenal selama bertahun tahun dan dipercaya tentu saja, maka kali ini Sariayu hadir dengan sebuah inovasi baru yaitu mengajak pemakai Sariayu di seluruh Indonesia untuk terlibat dalam acara Sariayu Create Your Own Spa Blog Competition yang bekerja sama dengan @fashionesedaily.

Kompetisi ini akan memenangkan hadiah utama berupa 3 buah Netbook HP, dan ada 7 paket produk dari Sariayu untuk pemenang lainnya.
Ketentuannya adalah sebagai berikut:

1. Blogger membuat satu blog post berupa tulisan, atau foto, atau video tentang pengalamannya menikmati sensasi spa di rumah dengan menggunakan rangkaian Sariayu Beauty Spa.
2. Blog post juga harus menampilkan foto atau video dari rangkaian produk Sariayu Beauty Spa, minimal 3 produk, yang digunakan saat menikmati sensasi spa di rumah.
3. Blogger perlu menyebutkan bahwa kontes ini diketahui dari artikel Fashionese Daily.
4. Di akhir blog post, blogger mengajak para pembacanya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut di Facebook Fan Page Sariayu Martha Tilaar (www.facebook.com/sariayu.mt) atau akun Twitter @Sariayu_MT.
5. Jika blog post telah dipublish, maka URL artikel harus di-tweet menggunakan akun Twitter pribadi masing-masing dengan mention ke @Sariayu_MT dan @FemaleDaily serta menggunakan hashtag #BeautySpa.
6. Semakin kreatif dan menarik isi blog post, maka blogger akan mendapatkan kesempatan menang lebih besar.

Dan untuk info lebih lengkap bisa di klik di http://femaledaily.com/createyourownspa/ dan silakan follow  twitter @Sariayu_MT atau @FemaleDaily.


Tuesday, December 4, 2012

I Dream a Lot Part #2




Sekitar beberapa minggu yang lalu saya pernah membaca sebuah posting yang ditulis oleh Kartika Jahja. Kalau tidak salah judulnya adalah Sekolah Berbagi. Dan ketika membaca tulisannya saya jadi teringat kembali akan mimpi mimpi saya. Sebuah mimpi besar saya. Tentang berbagi mimpi.

Pada dasarnya saya adalah orang suka sekali berkhayal. Saya suka duduk berlama lama di toilet dan berkhayal apapun sesuka hati saya. Dan suatu hari bertahun tahun yang lalu, saya kepingin sekali punya sekolah.

Sekolah kreatif. Bisa disebut begitu. Karena isinya adalah orang orang kreatif yang menghidupi mimpinya. Mereka bekerja demikian keras untuk menggapai mimpinya. Bahwa hidup adalah persoalan bagaimana bermimpi dan menghidupi mimpi.

Sekolah “berbagi mimpi” kemudian bisa disebut seperti itu. Isinya adalah orang orang yang pernah bermpimpi untuk menjadi fotografer dan sekarang menghidupinya. Orang orang yang pernah bermimpi untuk menjadi public speaker dan sekarang menghidupinya. Pengusaha muda, Pembuat film, Musisi, Penulis, Penyanyi, Pengajar Vocal, Perajut, dan lain lain.

Sekolah “berbagi mimpi” ini adalah orang orang yang memulai segala sesuatunya dari mimpi. Dari berkhayal. Dari berimajinasi. Dari membayangkan sesuatu secara detail. Dan menghidupinya.

Kelak saya dan mereka akan pergi ke banyak tempat di Indonesia maupun di luar Indonesia. Kami akan berbagi hal yang sama. Bahwa jangan takut bermimpi setinggi tingginya. Karena mimpilah yang membuat kami hidup.

Kelak, saya akan punya sekolah. Sekolah “berbagi mimpi” namanya. Kamu tidak perlu kuatir untuk membayar kepada sekolah ini.

Settle Down.




"I wanna raise a child
Won't you raise a child with me?
Raise a child

We'll call her Nebraska
Nebraska Jones
She'll have your nose
Just so you know."

(Kimbra)

OH. I Love her. 

Halo






Aku memikirkanmu sedikit. Kamu sedang apa? Kamu sekarang dimana. Tapi terus terang ini bukan lagi perasaan kangen. Ini entah perasaan apa. Aku sendiri juga tidak tahu.

Hujan di luar. Sungguh deras. Payung orang orang bahkan terbang terbang. Aku tahu kamu mengirimkannya untukku. Kamu masih tetap manis seperti dulu. Aku suka hujan, dan kamu mengirimkannya untukku.

Aku menuliskan ini hanya untuk bilang terima kasih bahwa kamu masih terlalu peduli. Aku menulis ini sambil minum kopi. Ini kopi yang enak sekali. Karena rasanya begitu pahit. Persis seperti ketika kamu meninggalkanku.

Tapi kali ini aku menikmati kopi ini bersama orang lain. Dia menginap semalaman. Kami mengobrol semalaman. Dan dia teman mengobrol yang menyenangkan. Ah, dan lagi kamu tidak perlu cemburu.

Toh, di antara kami pernah ada kata yang bernama cinta. Cinta yang luruh seiring hujan yang jatuh di kepala.

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...