Tuesday, May 31, 2011

Hatiku Tumbuh

satu malam aku bangun
lalu bosan dengan hatiku
“aku ingin sepasang hati yang baru;
berjalan beriringan, tidak tergesa,
yang satu menunggu ketika yang lain lelah
dan perlu istirah”
kemudian aku beranjak ke kamar mandi
mencongkel hatiku
membuangnya ke wastafel
lalu melihatnya larut ke saluran pembuangan.
berharap besok, hatiku tumbuh.

Thursday, May 26, 2011

Selimut Gerimis

gerimis tidak lelap
begitupun aku
subuh ini, ia mengetuk pintu kamarku
hendak tidur bersama
“oh, gerimis! kemarilah, selimuti aku”
sementara di luar adzan berkumandang
akupun mengantuk di bawah selimut gerimis
ketika ku bangun siangnya
tempat tidurku kuyup
mungkinkah
karena gerimis atau
airmata sendiri.

Wednesday, May 25, 2011

“selamat pagi”

“hembuskan, hembuskan lagu di kupingku”
nyanyikan itu dari senyum pertamamu
ketika kau bangun di pagi ini—belum gosok gigi
lalu sisipkanlah tanganmu di bawah bantal
ada awan biru dan matahari pagi
kusimpan di sana.
kecup—sebelum kau beranjak mandi
“selamat pagi”

Sasmita

anak anak awan berarak seperti anjing
menyalak di langit jingga
dingin sembunyi, aku keluyuran
dengan gaun oranye tipis, mencari sasmita
gadis mungil berponi.
siapa tahu ia dibawa lari mendung, tersesat susah pulang
sasmita, ini ibu.
ibu kangen mengepang rambut ombakmu
menjadi hujan.
pulanglah.

Mimpi



Bertahun-tahun yang lalu aku sudah mengenalmu. Kamu adalah pria berkulit coklat. Lenganmu tidak terlalu kekar, sedang saja. Tampak ruangan di sekitar kita begitu gelap. Aku mendorong kereta bayi dan di dalam kereta bayi itu, aku melihat seorang bayi perempuan yang sedang tertidur pulas. Sedangkan kamu berjalan dengan seorang laki-laki kecil, berambut gondrong keriting, berinisial D. Itu adalah beberapa bulan setelah aku melahirkan. Mungkin sudah lama juga, kamu ingin mengajak aku jalan-jalan. Setahuku kamu adalah pria yang lembut. Aku dapat merasakannya. Bahasa cintamu adalah sentuhan, kamu ngomong dengan berbisik-bisik dan kamu suka sekali menyentuh.

D adalah anak pertama kami dan anak yang kedua aku tidak tahu namanya siapa. Mungkin nama lucu, yang kamu berikan. D anak kecil yang tampan, ia mirip sekali denganku, sangat aktif dan tidak mau diam. Dulu ibu suka cerita, kalau aku menangis aku suka sekali membuka mulutku lebar-lebar dan suaraku pasti paling melengking tinggi. D pun begitu. Lalu ketika ada di tempat ramai, aku tidak bisa diam.

Sekarang aku harus menghadapi D, yang persis sekali denganku. Sebentar lagi film akan dimulai dan D masih saja berlari-lari di sekitar lorong bioskop yang gelap. Aku tidak tahan, aku lalu memanggilnya “D, ssshhh.. stop lari-lari, sebentar lagi filmnya akan mulai.” Kataku sambil menatap matanya yang mirip sekali dengan mataku, besar dengan bulu mata panjang. Ia melihatku, lalu dengan tatapan menurut, ia kini mengambil tempat di sisiku. Begitu D duduk, kamu mengelus tanganku lalu berkata “pelan-pelan. Yang sabar ya mam.” Kamu memanggilku begitu.

Padahal aku mengharapkan, aku punya panggilan yang lebih oke. Seperti—ah sudahlah aku tidak ada ide kalau ditanya sekarang. Mungkin “Mommy” dan kamu “Poppy” atau “Momsky” dan kamu “Popsky” atau sesuatu yang lebih terkemuka dari itu. Aku tak ingat aku punya panggilan sayang buatmu, tapi pasti ada. Aku kan suka sekali dengan panggilan sayang, setiap orang yang dekat denganku, maksudku sahabat, itu saja mereka punya.

Apalagi kamu. Sampai hari ini, aku masih terobsesi dengan lengan pria. Intuisiku mengatakan, aku akan diberitahu sesuatu melalui lengan itu. Entah kenapa bukan ciri yang lain melainkan lengan, aku sampai berpikir kenapa bukan rambut, pipi, atau mata. Pasti aku akan dengan sangat gampang mengenalimu.

Tapi tidak—kata kunciku hanya lengan, suara, dan hati yang begitu lembut. Bisa jadi kamu adalah laki-laki yang lebih lembut dari aku. Atau memang kamu itu sebagai pelengkap, karena ketika menjadi ibu, aku akan sedikit galak. Ah semoga tidak begitu juga. Kamu harus tahu satu hal, bahwa ketika kita bertemu nanti aku sudah sangat lama mengenalmu. Kita akan membesarkan dua orang anak saja, laki-laki dan perempuan. Bahkan untuk yang lelaki, aku sudah tahu namanya dengan begitu jelas. Tinggal yang perempuan, aku yakin namanya pasti dari kamu.

Akhirnya, kenapa lengan? Karena aku suka dipeluk. Mungkin begitu, entahlah. Yang pasti, ketika ada di pelukanmu, aku akan merasa sangat nyaman. Dan aku akan berulang kali bilang terima kasih. Ketika aku bangun, bekas sentuhanmu masih terasa. Begitu nyata.

Tuesday, May 24, 2011

Happy birthday, G!

 Tak ada rumah yang sempurna, paling tidak bagi saya. Suatu ketika kamu akan menemukan di rumahmu genteng bocor, sofa butut, gorden usang, pintu rusak, dapur kotor, piring-piring berserakan, debu berterbangan, rayap di lemari, tikus-tikus kecil di atas plafon, jendela pecah—bahkan adu mulut antara adik kakak, orang tua anak, sekandung maupun sepupu. Tidak hanya adu mulut, sampai berminggu-minggu pun bahkan saling ngambek tak mau bicara. Itulah rumah tidak ada yang sempurna.  

Tapi, malam itu dapur mengebul di rumah karena sedang ada ulang tahun. Ketika ulang tahun, tidak ada yang ketinggalan. Semua ikut senang dan merayakan. Tak lupa pakai kostum terbaik, juga berdandan paling oke. Siap-siap meniup lilin potong kue lalu makan malam bersama. Malam itu semua di rumah bergembira, tak terkecuali. Lagu happy birthday dilanjut dengan panjang umurnya berkumandang dengan meriah, doa-doa yang terucap jelas maupun yang hanya di dalam hati, seperti balon terlepas di udara begitu saja.

Ketika lahir kemudian bertumbuh di rumah, tidak semua langsung bisa berjalan. Segala sesuatu dimulai dari awal, belajar bilang ma-ma, pa-pa, merangkak, berdiri, berjalan tertatih-tatih, baru berlari. Semua diawali dari makan bubur, lalu ketika tumbuh gigi, akhirnya mencoba makan-makanan keras. Ada proses yang mengikat—ada belajar ketika berproses, ada air mata di dalam proses.

Suatu ketika, saya bisa saja bosan dengan cat rumah yang itu-itu saja lalu kepingin menggantinya dengan warna oranye yang bikin silau. Tidak semua setuju, jadilah saya hanya bisa memakai motif oranye pada bantal di atas sofa. Tidak semua keinginan terpenuhi di rumah, tidak semua harus setuju dan bilang “Ya” kadang yang diperlukan adalah “Tidak.”

Tapi begitulah rumah: tidak ada yang cocok. Hanya saja bukankah supaya rumah itu tetap harmonis, setiap penghuni rumah harus punya hati yang besar untuk menerima ketidakcocokan itu, begitulah yang dikatakan Kak Edwin di malam itu.

Pengikat kepala, dress warna-warni, lipstik merah, sepatu jadul—meriah sekali menghiasi suasana ulang tahun pada malam itu. Tepat di usia delapan belas, rumah kami terlihat meriah sekali. Suasana pestanya tidak mewah—melainkan hangat. Usia delapan belas, mungkin adalah usia yang labil, tetapi gairah untuk jatuh cinta sedang ranum-ranumnya di usia ini.

Semoga sepanjang tahun ke depan kita tetap saling jatuh cinta, melakukan segala sesuatu dengan penuh cinta, bertumbuh dengan penuh cinta, saling menerima dengan penuh cinta. Layaknya anak usia delapan belas, mungkin saat ini ia sedang tersipu-sipu malu membaca surat cinta pertamanya.

Malam itu selesai pesta, saya beranjak ke kamar tidur. Terlihat saudara-saudara perempuan saya sudah tidur duluan, mungkin kecapekan berpesta semalaman. Diam-diam, ada sebuah kado dengan pita biru yang belum sempat dibuka. Diikat dengan kartu kecil di depannya, saya mengambil kartu itu dan membaca perlahan—

Happy birthday, G! Terima kasih sudah menjadi rumah, tak ada rumah yang sempurna. Tapi bukankah kemanapun kakimu melangkah pergi, pasti akan kembali ke rumah.

LOVE,
The.


happy when we sing

saya dan Ojak, partner in crime

the girls, beautiful. 

with Eka, tas keranjang saya isinya bayi kucing

all in pink.
*pic by Henry Kumanau

“Peace be upon you”

Bagi saya tidak ada yang lebih menggairahkan selain menuliskan sesuatu. Seperti loncat-loncat di kepala, sesuatu yang saya lihat tiba-tiba berubah menjadi kata-kata. Tidak sampai di situ, kata tadi kemudian menghantarkan saya kepada kalimat panjang. Duduk di angkot lalu mengamati adalah pekerjaan yang menyenangkan. Saya punya satu kebiasaan favorit, saya suka sekali duduk di angkot bagian depan, persis di samping supir lalu mengamati.

Dengan hanya naik angkot banyak hal remeh yang kemudian memberitahu saya sesuatu tentang kehidupan. Sepanjang jalan, banyak hal yang selalu menarik perhatian saya, kalau saya tidak ketiduran di angkot: gosip seputar abege, obrolan gadis umur lima dengan abangnya, ibu-ibu tukang telepon, bapak wangi dan bergaya parlente, atau anak-anak SMA bau matahari yang makan es ketan durian. Menemukan kemeriahan ini, bagi saya adalah petualangan.

Mereka bunyi, mengingatkan saya bahwa hidup ini beragam. Tidak hanya satu warna. Selalu banyak motif, kalau tidak tipe orang pembosan seperti saya tidak mampu menemukan sesuatu yang menarik. Angkot dengan segala kesederhanaannya, saya suka. Ada satu pemandangan yang tidak pernah luput dari penglihatan saya, yaitu sebuah toko yang terletak di jalan ke arah kantor.

Lebih tepatnya ini adalah sebuah distro. Ia terletak di persimpangan jalan veteran, persis di depan lampu merah. Beberapa waktu yang lalu, saya perhatikan toko ini sempat memberikan diskon besar-besaran, saya curiga jangan-jangan toko ini memang akan sebentar lagi tutup. Dan kecurigaan saya belum tentu benar. Yang menarik dari toko ini adalah tulisan di depan tembok luarnya “Peace be upon you” setiap kali saya berangkat, kata-kata ini selalu berteriak kepada saya. Konfirmasi itu datang ketika kamu merasakan damai sejahtera di dalam jiwamu.

Menjadi menarik karena begini: letak toko itu persis di depan persimpangan. Ketika kamu bingung mau belok ke kanan-kiri atau terus maju? Langkahkan kakimu dengan sejahtera itu. Sejahtera yang berasal dari dalam jiwamu. Setiap melewati jalan ini, saya semacam diingatkan berulang kali untuk tunduk kepada sejahtera. Ini sebagai tanda, apakah saya masih bisa melanjutkan perjalanan ini apa tidak.

Sebagai petualang, terkadang kita—saya dan kamu dihadapkan dengan banyak sekali persimpangan. Apa yang harus kita lakukan, kita bisa belok kanan, belok kiri, maju ke depan, atau berhenti sejenak. Apapun yang kita lakukan, selama ada sejahtera di hati yang merayap ke dalam jiwa, tidak mengapa. Karena hanya perasaan ini yang dapat membuat kita sentausa.

LOVE,                                                                                                                                             
The.

Monday, May 23, 2011

11:11

weheartit


11:11 yang tersohor itu, adalah sesuatu yang nyata. Bukan hanya sekedar penanda akan sesuatu, ia memberikan pengertian baru bagaimana menjadi sabar itu hakiki. Kehidupan yang terburu-buru hanya akan menyenangkanmu sementara. Inilah mungkin yang disebut mengekalkan pikiran, melatihnya untuk taat kepada waktu dan tidak egois. Berpapasan dengan angka kembar yang itu-itu saja bisa jadi adalah rasa kangen; tetapi tak ingin bertemu karena masing-masing telah memilih jalannya sendiri.

Kemudian 11:11 bisa jadi adalah rasa gengsi, karena pernah ada perjanjian terselubung di sana. Antara kamu, dia dan entah  siapa—mengingatnya akan membawamu kepada kenangan. Tapi kenangan itu busuk, ia sengaja mempengaruhimu untuk setia pada masa lalu. Padahal bukankah hidup ini terus maju. Sesekali memang tinggal di tempat—diam. Dan tidak lama tersadar kembali untuk maju ke depan.

11:11 itu seperti hujan. Tergelincir dari langit karena hendak menyentuh tanah. Tapi tentu tidak bisa langsung, ia harus terlibat dengan banyak, ranting pohon, atap rumah, jendela, payung-payung warna, pelipis, rambut—semuanya. Jadi pilihannya, ia hanya bisa melalui alur itu dengan sabar, pelan-pelan untuk menemui yang dicinta.

Kecuali itu memang adalah pilihan. Ah, membuat pilihan toh tidak selamanya salah, yang salah itu yang pasif dan tidak membuat pilihan apa-apa. Terperangkap di wilayah abu-abu. Padahal warna itu jelek, kecuali jika diberi aksen tertentu. Pagi ini di jalan ketika hendak berangkat saya menemukannya di plat mobil—11:11 yang tersohor. Entah itu mobil siapa? Bukan urusanmu. Memandangnya dari kejauhan, ia tak tampak romantis lagi seperti dulu, karena ia mengandung perpisahan. Perpisahan sekaligus pertemuan dengan batas. Kalau besok bertemu lagi dengan angka yang sama, siapa tahu kita memang berjodoh. 

Mengingat

Di suatu siang, ketika udara di Bandung sangat dingin. Saya berbaring dan membaca sebuah buku—saya berencana untuk me-reviewnya. Ingatan saya kembali ke ketika saya ada di umur tujuh atau delapan saya pernah menyukai seorang anak laki-laki. Saya ingat waktu itu kita pernah mengunjungi rumahnya, ia adalah seorang anak laki-laki kurus, dengan pipi tirus, rambutnya dipotong pendek sekali. Lucu, ketika diingat-ingat lagi, waktu itu saya pergi ke rumahnya dengan memakai dress pendek dan rambut saya diikat dua oleh Ibu.  Ketika di umur itu, mungkin saya belum paham benar apa itu artinya menyukai—tapi yang paling saya ingat ketika pulang dari rumahnya—saya suka sekali melihat muka saya di kaca dan berpikir “Hmmm, kira-kira dia suka tidak dengan tatanan rambut saya ya?”

Ketika SD saya juga sangat menyukai teman satu tempat duduk saya, namanya Fello. Saya akan cerita sedikit tentang Fello, ia ganteng. Fello, anak laki-laki kecil berbibir merah. Kulitnya coklat muda dan selalu kemerah-merah kalau terkena sinar matahari. Rambutnya biasanya disisir ke samping sebelah kanan—kalau tidak salah ingat. Dan selama beberapa lama saya mendapat kesempatan duduk berdua saja dengannya di kelas.

Saya dan Fello punya satu kebiasaan, kami berdua suka bermain mama dan papa atau versi “rumah-rumahan” ketika pelajaran sedang berlangsung. Saya akan mengeluarkan kertas, lalu mulai menggambar rumah, membuat jendela, menggambar orang laki-laki dan perempuan, membuat nama mereka masing-masing—saya mencipta mereka dan Fello yang akan menentukan kegiatan mereka selanjutnya. Saya menyukai Fello, tentunya saya tidak selamanya akur dengan Fello tapi yang saya ingat saya pernah punya sesuatu yang sedikit dalam kepadanya. Sejak saat itu, setiap hari ketika hendak ke sekolah, saya selalu sengaja berdandan untuknya. Dan berharap saya juga disukai oleh Ibu Fello, yang biasanya  mengantarkannya ke sekolah.

Ah, ini hanya kisah-kisah anak kecil yang bermain cinta-cintaan. Saya salah satunya. Kamu juga pasti punya. Kini setelah jauh-jauh menjadi dewasa, saya suka kagum dengan betapa detailnya saya mengingat mereka—orang-orang yang pernah saya sayang. Dan menuliskan ulang, selalu membuat saya bersemangat. Ketika dewasa, menyukai seseorang bukan berarti jatuh cinta terhadapnya. Bisa jadi, hanya merasa nyaman, nyambung, bahkan selalu merasa aman. Hal ini mungkin berlaku terhadap sahabat. Mereka bisa membuatmu seperti itu.

Tetapi ketika mencintai seseorang, ini urusan istimewa. Kadang tidak menunggu apa yang bisa dilakukan seseorang itu terhadap kamu tapi apa yang bisa kamu lakukan terhadap orang itu. Bukan hanya masalah bagaimana orang itu rela. Tapi bagaimana saya bisa lebih rela terhadap orang itu. Tapi satu hal yang saya tahu ketika saya jatuh cinta adalah detail. Saya bisa menuliskan seseorang atau sesuatu begitu detail. 


Walaupun saya meyakini bahwa bahasa dan kata apalagi emoticon selalu punya kekurangan. Mereka terkadang terlalu kaku untuk menggambarkan apapun yang sedang di rasa. Tapi detail itu tidak pernah hilang. Detail itu seperti terngiang-ngiang di kepalamu, detail itu memantul dengan keras—sampai bunyinya pun bisa dituliskan. Mencintai lalu mengingat dengan detail, itu istimewa.

Fello hanya sebagian kecil dari ingatan saya, yang bisa saya bagi. Mungkin saat ini Fello sudah menikah—entah. Tapi perihal akan detail dan mengingat ketika saya sedang berada lebih dalam kepada seseorang ini betul-betul pelajaran. Mungkin setelah itu akan menjadi kenangan. Kenangan indah—kenangan busuk. Tergantung bagian mana yang hendak kamu ingat. 

Tuesday, May 17, 2011

Kelak, Dewasa

weheartit

Sekitar umur enam atau tujuh, saya suka sekali memakai baju renang yang disumpel bagian dadanya dengan kaos kaki. Entah kenapa di umur segitu, saya selalu ingin cepat bertumbuh dewasa, supaya juga memiliki ukuran payudara orang dewasa. Tidak hanya sampai di situ, kuteks punya tante suka saya pakai sembunyi-sembunyi. Lipstik merah dan sepatu hak tinggi juga selalu saya coba-coba. Ibu tidak berdandan—jadi saya selalu mencoba kepunyaan tante saya. Ingin sekali, cepat dewasa. Sebagai gadis kecil, saya sudah mengerti bahwa memiliki badan padat dan berisi itu sesuatu yang sexy.

Tapi waktu itu saya terlalu kurus, masuk SMP pun badan saya hanya bertambah tinggi, dan ukuran dada biasa saja, ukuran normal. Ibu selalu membiasakan menjahit beberapa dress, dengan alasan supaya tidak sama dengan orang lain. Dan jadilah, saya punya kebiasaan memakai dress girly lucu yang kadang kalau dipikir-pikir lagi, saya kecentilan sekali. Tapi begitulah saya, selalu tumbuh dengan pingin cepat-cepat menjadi dewasa.

Ketika dewasa, justru semua berubah. Saya masih centil seperti dulu, tentu. Tapi dalam beberapa hal cenderung cuek, tidak suka berdandan berlebihan. Kalau ada keperluan ngemsi pun saya tidak suka yang make-upnya terlalu tebal. Lalu hari-hari saya lebih suka bercelana pendek. Tapi keinginan untuk menjadi dewasa itu tetap ada.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat ngobrol dengan seorang teman. Menurut saya, ia adalah orang yang sangat menarik. Ia seperti punya sparkling yang akan menarikmu untuk melihatnya tidak hanya sekali. Apalagi belakangan saya tahu bahwa ia adalah seorang crafter yang mencipta banyak sekali produk-produk lucu. Kita sempat terlibat dalam obrolan umur “ah, kayaknya gue lebih tua dari dia deh” celetuknya waktu itu. “O yah, emang umur lo berapa?” tanya saya kemudian. “Ya, sekitar itulah..” akhirnya kami berdua terkikik. “Eh, lo tahu nggak? Gue tuh justru pingin cepet-cepet ada di umur lo, sexy lagi” dia memandang saya dengan mata berbinar-binar “wow, bener juga ya..?” “yep, gue selalu membayangkan kalau memasuki umur 30-sekian itu sexy, gue pingin cepet-cepet ke sana.” Akhirnya saya menambahkan begitu.

Entah kenapa saya kagum melihat perempuan dewasa yang sudah sampai di umur tertentu, melakukan apa yang mereka sebut kecintaan. Mereka seperti memaksimalkan segala hal baik dalam diri mereka, mencipta dengan tangan mereka—itu sexy. Mereka adalah perempuan dengan kualitas. Kelak kalau sudah sampai, saya juga mau seperti merekasexy dengan kualitas. Sexy karena menginspirasi.

*perempuan yang saya ajak ngobrol di atas adalah  Ika Vantiani, lihat karyanya di sini, matamu akan berbinar-binar dan kamu akan jatuh cinta.



Monday, May 16, 2011

Lirik

Mendengarkannya pada suatu pagi yang sibuk dan berpikir ini hanya soal waktu— semoga. 


“Every goodbye is leading to a new hello.” 



Lampu Merah

weheartit

Yang paling menarik dari lampu merah adalah STOP. Berhenti. Menginjakkan kaki di rem. Ketika berhenti yang dilakukan adalah menunggu untuk bergerak maju lagi. Ketika di mobil, kamu bisa menguap, bernyanyi kecil, memainkan jari-jarimu di setir, melihat di sekitar, muka pengamen muncul di jendelamu, tukang jual koran, tukang jual bunga, tukang minta-minta, anak-anak kecil yang tertawa terbahak, atau Ibu-ibu mengantuk.

Ketika berhenti di persimpangan, jangan buru-buru jalan terus. Apalagi jalan cepat, ketergesaan hanya akan membuatmu bingung. Cobalah berhenti sebentar, lalu mengamati sekitarmu. Ketika berhenti, yang dilatih adalah caramu—mengamati dengan mata mengamati dengan hati.

Suatu ketika, saya pernah berhenti di lampu merah kesekian.. di samping kiri dan kanan seperti memaksa saya mengambil keputusan untuk bilang “Ya” atau “Tidak”. Dua kata yang tidak bisa diputuskan segampang itu sebelum belajar mengamati. Kemudian saya mengambil jeda. Diam dan mengamati sebentar. Terlalu gelap kalau bilang “Ya” dan setengah buram juga untuk bilang “Tidak.”

Jujur saja berhenti adalah posisi yang paling menyebalkan. Karena saya tidak bisa sabar. Juga tidak mau belajar sabar. Tetapi ketika bertemu dengan lampu merah mau tidak mau, saya seperti setengah dipaksa untuk diam. Mereka seakan tahu, kalau saya memang tipe yang tidak bisa dipaksa. Tapi kali ini lain, saya mau menurutinya. Ketika pada akhirnya berhenti, di sebelah kiri saya ada sebuah wajah. Wajah yang begitu saya kenal. Wajah yang pernah membuat saya jatuh—sangat. Dalam kurun waktu tertentu, seakan ada magnit yang begitu kuat.

Berhenti adalah saatnya untuk sabar.

Ketika di lampu merah—pada suatu ketika. Saya akhirnya bilang “Tidak” bukan berarti saya mengaku kalah, tetapi lampu merah bisa jadi adalah pemberhentian. Bisa jadi adalah pause yang disengaja. Jeda yang mungkin saat ini sedang dibutuhkan. DIAM panjang yang selama ini hilang. Lamunan untuk kemudian berpikir. Lampu merah adalah peringatan—keputusan.

Saya tidak bisa mengira-ngira seberapa baik keputusan ini untuk kedepannya nanti. Tapi yang pasti lampu merah dibutuhkan oleh orang yang peragu seperti saya. Bukan bilang “Tidak” untuk mundur, tapi kali ini bilang “Tidak” untuk maju terus. Melesat jauh. Susah dikejar. Naik dan terus naik.

Sekarang lampunya berubah hijau, tarik nafasmu dalam-dalam, nyalakan gas. Cepat! Melaju.

LOVE,
The.

*hari ini saya habis jalan jauh, sepanjang kira-kira lima lampu merah. Lalu berpikir untuk membuat tulisan ini. Tulisan ini dibuat di studio sambil menunggu rekaman bersama Glorify, selesai pukul 14:57. Coba sekali-kali jalan-jalan lalu amatilah lampu merah, siapa tahu kamu menemukan sesuatu yang menarik di sana. 

Yang Penyok

Hanya ingin mencoba lengketnya, itu yang pertama ada di kepala saya. Saya tidak peduli tangan saya kotor, atau noda tanah liat bercampur di tangan saya. Tidak peduli, saya suka. Keramik selalu bicara soal mencipta.

Lalu proses mencipta ini yang membuat saya begitu penasaran. Bagaimana supaya rasa penasaran ini hilang, saya harus menyentuhnya: "ketika kaki yang sedang bekerja, tangan harus diam. Sebaliknya tangan bekerja, kaki harus diam." Mereka harus saling mengalah dan mendengarkan. Saling sabar dan tidak menyalahkan. Tidak mendahului.

Tidak melakukan sesuatu secara bersamaan bukan berarti tidak kompak. Hanya saja bagaimana tidak tergesa-gesa dan biarkan yang lain melangkah duluan. Lalu ketika tidak melangkah, bukan berarti sedang mundur. Bisa jadi sedang diam di tempat untuk berlari lebih jauh. Proses mencipta itu begitu romantis, karena harus saling menyentuh. Ada hembusan nafas di sana. Ada keringatmu bercampur. Ada kotoran kukumu. Ada betis yang lelah. Ada detail..

Mengecohkan detail itu sama dengan mati. Tidak ngawur, acak yang teratur. Membentuk sesuatu. Tersusun begitu rapi, satu demi satu. Saya suka gagasan ini, karena disini ada berita yang bernama proses. Seharusnya siapapun tidak lancang melangkahi proses.

Di dalam proses tidak ada cerita bahagia, kebanyakan penuh air mata. Tapi justru kekuatan dipupuk, kokoh yang sejati itu berdiri, cinta yang kuat itu hadir, pahit yang berkepanjangan itu menjadi sesuatu. Saya menyatu dengan siapa saya, ketika pertama kali.

Ketika menulis ini, saya membayangkan ketika saya dicipta. Ada sentuhan yang begitu lembut di sana, ada bentukan-bentukan kecil, awalnya mangkuk, asbak, cangkir kecil, atau hanya sesuatu yang penyok.

Tapi bahkan yang penyok itu pun memiliki tujuan.

Tidak pernah ada yang dicipta tanpa tujuan. Ah ini mungkin kesimpulan paling serius yang pernah saya tulis.



*pic by Ojan dari sini. Foto ini diambil ketika saya ngemsi di Crafty Days Tobucil lalu mencoba membuat keramik yang dipandu oleh Tisa Granicia, seniman keramik. Keramik saya tidak jadi, tapi prosesnya begitu menyenangkan, kamu harus mencobanya ;) 

Saturday, May 14, 2011

Bahagia

pic by, @dyanti


Menyukai kengawuran dan bermain-main. Tidak semua yang serius itu baik. Terlalu banyak bermain pun tidak baik. Ada baiknya begini, bermain-mainlah dengan serius. Saya suka tidak tega melihat banyak orang-orang di sekitar saya yang lupa caranya bermain-main. Padahal sederhana saja, tinggalkanlah sepatu hak tinggimu lalu berjalan dengan kaki telanjang.

Siang itu saya duduk dengan mendung, lalu berpikir kalau hujan turun saya ingin berlari-lari telanjang kaki, meminum hujan sampai habis—lupa kalau saya ini sedang bindeng dan sedikit masuk angin. Hanya ingin merasakan bagaimana kaki-kakinya menyentuh kepangku. Tersenyum lebar saat hujan kena pelipis, merembes ke baju tipismu.

Bermain dan bahagia. Saya ingin menjalaninya dengan serius. Ini hanya tekad, bulat, dan kokoh. Bermain dengan tidak tergesa-gesa, harus buru-buru pulang. Saya ingin melakukannya lama-lama. Menikmati setiap senyum, utuh, pelan, supaya saya bahagia.

Bahagia kenapa? bahagia kalau kesal ini sudah reda dan hati saya berubah menjadi manis. Kamu boleh, siapapun boleh mencicipinya, karena memang bahagia itu begitu terbuka. Tidak perlu sembunyi. Sudahlah, bahagia dan menikmatinya itu mungkin adalah hal paling sepele yang saat ini sering terlupa.

Masihkah kamu melihat lampu-lampu di pohon natal lama-lama—tapi sekarang belum musim natal. Memperhatikan semut di dekat jempolmu. Menghirup wangi rumput basah dalam-dalam. Mencium hidung anjingmu keras keras, tidur dengannya. Memakai baju segala warna. Mencoba beha dan celana dalam sewarna. Pakai kuteks baru. Mengepang rambutmu sendiri. Tak perlu mandi bersih-bersih. Tak perlu make up berlebihan, cukup pensil alis. Tertawa kencang-kencang sampai keluar air mata. Pakai dress mini. Membuka jendela lebar-lebar. Menulis sampai pagi. Mengintip jalannya kecoak. Flirting kembali.. lalu  jatuh cinta kembali.

Ketika melakukannya, saya tak perlu uang banyak. 

Saya cukup meminta kepada sumber. Pemberi kebahagiaan kekal, bahwa saya ingin bahagia dari hal-hal sederhana. Tidak sulit, bukan?

Ia tertawa. Begitu manis.


Bikin saya bahagia sampai ke sum-sum tulang belakang. 


Sahabat

weheartit




Mungkin perjalanan panjang ini akan usai. Ketika memang sudah waktunya. Ketika saya, kamu dan lainnya menemukan angka kembar di jalan. Baik itu di plat mobil, jam tangan, layar hape butut, atau papan iklan besar lainnya yang biasa dilewati.

Angka kembar yang mengingatkan saya akan “hati-hati.” Akan arti berjalan beriringan. Akan arti berjalan sambil bergandengan tangan. Akan arti tidak hanya bicara tetapi melakukan. Akan arti bahwa manusia memang tidak diciptakan sendiri, Eve yang diambil dari rusuk pun bukan hanya dongeng. Kalaupun iya itu dongeng yang begitu manis, karena ketika Eve diambil.. konon Adam sedang tidur. Saya membayangkan nafas Adam yang sedang naik turun, begitu lembut.

Hari ini saya dipertemukan dengan angka kembar yang tidak sama seperti hari-hari kemarin. Saya menemukannya begitu random. Di layar netbook. Angka yang begitu familiar. Angka yang akan membuatmu suka atau tidak suka, tetapi ia hanya ingin datang menjadi teman.

Angka kembar seperti teman. Kadang menjadi sahabat, apa arti sahabat buatmu? sederhana saja—kadang mereka hanya membuat hari-harimu begitu kusam. Seperti rambut yang jarang dikeramas. Mereka mengacaukan segalanya di hari itu. Tapi lalu, kamu menjadi begitu kangen. Cemburu, kalau mereka menjadi milik orang lain. Begitulah sahabat, mereka membuatmu kusam. Tapi kamu ingin menikmati kekusaman itu.

Angka kembar yang juga sahabat tidak hanya mengingatkanku kepada pengalaman ketika bersama tetapi juga kepada kehilangan. Lihatlah, apakah angka-angka itu pernah kehilangan. Toh, besoknya mereka masih akan saling bertemu seperti hari ini. Perputaran semesta mempertemukan mereka secara acak. Tidak disengaja, sungguh.


Lalu, saya dan kamu akan saling bertemu di suatu hari nanti. Kita adalah teman yang begitu baik, atau kita memang tetap sahabat dengan kondisi yang sama sekali berbeda. Mungkin kita akan saling melihat lama, dengan pelupuk mata yang berembun.

... dan bersyukur bahwa sebagai sahabat, kita pernah saling melepaskan. Tapi lalu dipertemukan—sahabat  seperti sepatu, tidak bisa hanya dipakai sebelah saja.

Thursday, May 12, 2011

Warung Ngebul

Kopi dengan setumpuk permasalahannya. 

Bisa jadi butuh meja, telinga, dan mulut-mulut yang diam. Hanya sekedar mendengarkan—manusia terlalu cerewet. Kopi diam dan mendengarkan celoteh riang maupun sedih. Silih berganti datang dan melengkapi hari-harimu, siapa tahu kali ini akan ada sebuah jawaban pada sebuah cangkir kopi.

Berpikir soal jawaban pada sebuah cangkir kopi—aku punya sebuah pertanyaan padamu “apa yang membuat kamu begitu mengagumi kopi?” kamu mengerling ke arahku sebentar lalu memainkan jari-jarimu yang mungil pada sisi cangkirmu “kegigihannya, aku suka” jawabmu begitu singkat lalu meneguk lagi cairan pahit itu perlahan.

“Oke. Kegigihan? hanya itu?” aku masih penasaran, dan tidak terima dengan jawabanmu yang begitu singkat. “Hmmm.. aku tidak menemukan yang lain yang lebih pantas. Aku merasa selama ini, kopi terlalu gigih. Mereka seakan menelan yang pahit itu ke dalam. Bikin lega. Bikin mengikhlaskan sesuatu..” kamu berhenti sebentar. Kini matamu mulai berkaca-kaca. “Mereka adalah bubuk-bubuk yang tidak sendiri, saling melekat, itu sebabnya aku tidak pernah merasa sendiri. Aku seperti selalu ditemani oleh mereka.” Suaramu bergetar, tapi aku merasa ada keteguhan di sana. Keteguhan yang tidak dibikin-bikin. Begitu tulus.

****
Ini mungkin percakapan rahasia saya hanya curi dengar.  


Sementara lagu-lagu chill berbahasa Arab menghentak-hentak. Waktu itu kira-kira hampir jam 12 malam, kami masih menikmati suasana warung ngebul, karena hari itu adalah launchingnya. Layaknya merayakan kelahiran, warung ngebul seperti berojol dengan wataknya  sendiri. Begitu hangat dan menyenangkan. Menu berbahasa Arab yang dipajang di dinding. Separuh dinding yang dihias dengan wallpaper hitam bunga-bunga perak. Pigura warna-warni.  Akan membuatmu saling melekat.

Ada spot yang mungkin akan menjadi favorit saya, yaitu dua meja yang letaknya pada bagian luar. Satunya persis di dekat pintu masuk. Satunya lagi berada di teras kecil sebelah kanan warung. Mungkin sesekali, kamu juga hendak berkunjung, dan menikmati “Ngopi Ganteng” atau “Makan Enak dan Cemil Centil” dengan harga yang sangat murah 3000 – 20000 rupiah saja. Pemiliknya tak kalah ganteng, boleh follow di twitter @vabyo. Temui juragan yang menyenangkan ini, lalu coba tanyai dia soal “kenapa namanya warung ngebul?” maka jawabnya adalah “karena tempatnya di deket jalan, makanya suka ngebul asep..”

Lah, padahal waktu itu saya berpikir bahwa sesuai dengan namanya warung ngebul. Sejak lahir sampai nanti warung ini dewasa, dapurnya akan ngebul terus—dan membuat perutmu kekenyangan setengah mati.

****

Suasana warung itu kini telah gelap. Keramaian dan hingar bingar tadi telah hilang entah kemana—kertas dengan angka 6 di pipinya pun tampak lelap. Kini aku memegang tangannya. Sesekali mencium pipinya lembut—dia sudah tertidur pulas di bahuku.

“Seperti bubuk kopi. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan melekat denganmu..”

Bisikku perlahan di kupingnya. Pada makhluk paling cantik yang pernah aku temukan di muka bumi ini. Berharap ia mendengarkanku... walau hanya di dalam mimpi.





*pic by Onye. Mari berkunjung, ke DAGO 230 Bandung, kalau dari Dago atas, ada di pengkolan sebelum ke Tubagus Ismail. Selamat Menikmati. 

Tuesday, May 10, 2011

Pertemuan




Mungkin seperti ini "kalau kita berjodoh, kita pasti bertemu kembali." Berjodoh dengan siapa--entah. Tapi pasti ada pertemuan.

Kehilangan akan membuatmu atau siapapun bertemu dengan orang lain. Jadi sebenarnya sepanjang hidup—sepanjang perjalanan, selama masih bernafas. Kita tidak pernah sekalipun kehilangan. Sekali lagi pernyataan ini kedengaran pongah. Bukankah kepongahan itu membuat kita berani berjuang.

Berduka sepanjang waktu bukanlah solusi ketika kehilangan. Karena sebenarnya kehilangan membawa kepada pertemuan yang lain. Jodoh yang lain. Yang mungkin selintas bertemu, tidak pernah diketahui. Inilah kejutan hidup itu sendiri, jika sudah lama tidak mengalaminya: ijinkanlah hidup mengejutkanmu.

Yang paling tidak dimengerti adalah jalan laki-laki dan jalan seorang gadis, ini menjadi misteri kehidupan. Tak ada yang bisa memecahkannya kecuali kemurahan dari hidup itu sendiri. Maka sampai di sini, penyesalan akan kehilangan itu semacam sia-sia. Karena toh tidak ada yang pernah kehilangan. Kehilangan yang satu akan membawa kepada pertemuan yang lain, begitupun selanjutnya.

Lalu berhati-hatilah dengan pertemuan yang satu akan membawa kepada kehilangan yang lain..

Selama hidup, proses yang seakan tertebak melainkan tidak ini akan tetap berjalan. Lalu berakhir ketika manusia mati—tidak pernah berakhir. Karena kematian adalah awal dari kehidupan itu sendiri. Layaknya kita eling. Sepantasnya tidak mengabaikan kemurahan hidup yang telah diberi oleh sang pencipta hidup itu sendiri.

Berjodoh mungkin urusan Tuhan. Urusan lainnya adalah melakukan pertemuan yang satu kepada pertemuan yang lain. Untuk urusan orang yang tepat itu hanya kemurahan. Jangan terlalu pongah untuk hal ini karena selalu ada ketidaksempurnaan. Lalu apa hakmu untuk menjadi penuntut orang lain harus sempurna.

Terlalu banyak tahu mengenai misteri kehidupan pun tidak seru. Sebagai makhluk yang paling kecil, hendaknya berserah kepada yang sempurna itu—yang akhirnya membawa kepada pertemuan. Tidak masalah dengan siapapun. Ketika bertemu suatu hari nanti, itu adalah hari yang dipercaya, hari yang disiapkan, hari yang tidak direncanakan menurut pikiran. Hanya terjadi begitu saja, mengalir.  

Sampai di sini, tak usahlah menebak-nebak. Biarkanlah  ia berjalan dengan semestinya. Natural. Semisterius mungkin. Dan bersiaplah untuk dikagetkan.

Hari dimana kau dipertemukan—mungkin adalah hari dimana kau lupa pernah kehilangan panjang. Dengan siapa—entah.

Dago 349, 9 Mei 2011. 22:34


Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...