Sunday, September 17, 2017

Cerita Tentang Perempuan dan Kekasihnya








meja berwarna hitam tak terlalu besar itu kini penuh dengan segala macam-macam yang kita bagi bersama: gula, cangkir kopi, gunting kuku, rokok yang sudah kadaluarsa, buku the world until yesterday, sendok bekas nasi goreng, ciuman-ciuman, bunyi kentut, ponsel yang habis baterei, suara mama beberapa menit yang lalu mengatakan jangan terlalu banyak begadang, abu rokok yang menggelinding di sela-sela tuts leptop, puisi-puisi yang belum selesai di dalam notepad, siaran tinju, kapitalisme dan david harvey, minyak kayu putih, lampu kuning kesukaan dan sesuatu yang empuk pada bibirmu yang kugigit perlahan


(dago 349. 17 sept 2017. 20:01)

Sebuah Malam Minggu re: emergence













re: emergence, para seniman diminta untuk mengingat perjumpaan artistik yang bermakna sepanjang hidup mereka.


Saya tidak sempat mengitari dan melihat karya kawan-kawan yang lain, karena di acara pembukaan pameran ini, selasar sunaryo begitu padat, sehingga agak berdesak-desakan, berbagi ruang dengan yang lain—dan bahkan mengantri untuk melihat karya yang terpampang di dalam ruangan. Maka saya hanya berkesempatan untuk menikmati beberapa karya: TROMARAMA, yang menghadirkan kalimat-kalimat yang dicetak pada kertas. "Calling All Dancers" adalah satu kalimat yang saya bawa pulang, entah mengapa kalimat itu seperti menangkap hati saya untuk pertama kalinya—barangkali juga, sebenarnya saya adalah penari di kepala dan juga di dalam hati saya.

Karya ke dua yang saya nikmati adalah, karya dari Erwin Windu Pranata. Ewing biasa ia disapa, akan memainkan gitarnya layaknya musisi. Ewing bercerita bahwa ia terinspirasi oleh Andri Moch (almarhum) seorang seniman yang ketika masih hidup, turut menjadi pemantik baginya untuk terus berkarya. Satu alasan kenapa Ewing terinspirasi oleh Andri Moch adalah kepekaannya untuk menangkap fenomena politik yang terjadi di tahun 1998 yang terjadi di Indonesia. Di kemudian hari, A Stone A, adalah salah satu band yang dibentuk oleh Ewing bersama Mufti Priyanka (Amenk) dan Muhammad Akbar (Babay) sebagai salah satu medium untuk berkarya bersama. Malam ini Ewing (bersama A Stone B) dibantu dengan beberapa kawan (Yosi, Oye, Ayda, dan Osman) akan mengulang kembali A stun a dengan versi yang berbeda, akan menampilkan tiga lagu mereka, salah satunya adalah Intimidasi Vitamin C. Di akhir penampilan mereka, Ewing mengambil ember, masuk di dalamnya dan buang air seni.

Fluxcup di bagian ampiteater melakukan 'performance' dengan berbalas-balasan chat di whatsapp. Pun Fluxcup mengaku bahwa ia juga terinspirasi dari Andri Moch (almarhum), terlihat dari Fluxcup yang 'kangen' untuk bertemu lagi dengannya—saya membayangkan sosok Andri Moch juga pasti kangen di atas sana. Pembukaan pameran re: emergence ditutup dengan penampilan Bottle Smoker dan (duo) Filastine & Nova, yang tak pelak lagi membuat semua orang bergoyang. re: emergence tak hanya reuni bagi kawan seniman yang masih 'di sini', melainkan juga mereka yang telah berada di 'alam sana.'



Wednesday, September 13, 2017

Sebuah Alasan



Saya tak pernah punya jawaban yang tepat ketika ditanya, apa yang membuat saya jatuh cinta kepada dia, yang sering kau dengar saya panggil kasih, dia yang saya sebut jiwa. Saya ingat bertahun-tahun yang lalu ketika belum kenal, kami pernah berada di panggung yang sama untuk membaca puisi. Saya mendapat giliran pertama membaca puisi, sebelum saya memulai membaca puisi, saya katakan kepada penonton begini: "saya tak suka menulis puisi panjang-panjang, karena itu bagi saya membosankan. Bagi saya puisi itu mesti pendek seperti rok mini." Sementara dia yang berada di belakang panggung pada saat itu melirik dua lembar kertas berisi puisi di tangannya, mengerutkan alis, bercampur sedikit senewen di dalam hatinya, "siapa sih perempuan ini? kok berani benar berkata begitu." Di malam itu pun kami tak mengobrol, bahkan tak saling tahu satu dengan yang lain.

Ketika bertahun-tahun kemudian, saya dan dia bertemu lagi dan untuk pertama kalinya, kami akhirnya mengobrol, yang saya perhatikan adalah sepatunya. Dia memakai sepatu kulit coklat sederhana yang entah mengapa—membuat saya begitu berselera—dengan sepatunya, hingga terlontar komentar pujian dari saya begitu saja yang berlanjut dengan mengobrol dan mengobrol hampir sepanjang malam. Dia memiliki selera yang sangat berbeda. Jika itu adalah bacaan, ia tidak membaca buku puisi, saya membeli dan membaca buku puisi. Jika itu adalah makanan, jika sudah senang dengan satu jenis makanan, maka ia akan makan itu terus menerus, sementara saya cenderung senang mencoba makanan-makanan baru. Selera menonton kami pun berbeda, dia senang menonton dokumenter yang historis dan filosofis, saya senang dengan film-film dengan alur cerita melelahkan. Dia yang taktis dan strategis. Saya yang acak cenderung melompat awut-awutan. Dia yang pendiam dan tak banyak bicara jika ada di kerumunan. Saya yang senang kerumunan dan senang bertemu orang baru.

Salah seorang teman pernah bertemu kami dan ia katakan, "saya tahu Theo, kenapa kamu jatuh cinta sama Weslly." Saya tanya, "apa itu?" dan teman itu menjawab, "karena ia merawat kamu." Kami tertawa malam itu. Tapi terus terang, saya senang dengan kata: merawat. Saya belum menemukan jawaban yang tepat, kenapa saya jatuh cinta dengannya, tapi saya cukup senang dengan kata merawat. Saya pikir kadang kekasih kita menjelma menjadi seorang ibu yang pandai merawat. Tak hanya itu—Ibu juga gemar membuatkan kopi di waktu pagi dan mengajak menonton video kuliah David Harvey tentang kapitalisme.

Gerbong Kereta dari Solo menuju Bandung, 11 September 2017. 



Sunday, September 10, 2017

#IlustrasiPerempuansore



Di tahun 2014 yang lalu, saya pernah mengajak kawan-kawan untuk ikutan membuat #IlustrasiPerempuansore dan hasilnya manis-manis dan mencengangkan. Saya rasa, saya harus mengabadikannya ke dalam blog. Sekali lagi terima kasih untuk partisipasi kawan-kawan, ya. 




oleh Divya Manjusha



oleh Jandri Welson Pattinama


oleh Oh Sugar


oleh Gracia Silaban


oleh Mikey Stevie


oleh Petra Anjani


oleh Astri Raharjo


oleh Rya Dinata


oleh Prytha Afsharry


oleh Yahya Ben Gurion


oleh Naomi Tobing


oleh Ester Irene


oleh Octaria Rukanto


oleh Citrarini Ceria


oleh Handsound


oleh Masya Ruhulessin


oleh Lala


oleh Frans 'Hayaka' Nendissa


oleh Astrid Bonita



oleh Yunita D Indraswari


oleh Ratu Adelin

#SayaMembaca : Love in the Kingdom of Oil, Nawal El-Saadawi






Love in the Kingdom of Oil oleh Nawal El-Saadawi. Adalah karya pertama yang saya baca darinya. Novel ini tentang seorang perempuan yang pergi cuti dan tidak kembali. Nawal menuliskan novel ini dengan gaya sureal dan sangat puitis. Itulah mengapa saya bertahan membaca novel ini hingga selesai. 

Tokoh utama perempuan di dalam novel ini diceritakan memberontak dengan caranya sendiri, ia memilih pekerjaan sebagai seorang arkeologi yang berjalan dengan membawa pahat di dalam tas selempang yang ia sampirkan di bahunya. Perempuan ini kemudian meminta 'cuti' untuk pergi mengunjungi satu kampung ke kampung yang lainnya untuk menggali tanah, dengan harapan ia akan menemukan dewi-dewi yang muncul dari dalam tanah.

Di tengah perjalanannya, ia menemukan banyak sekali pertanyaan tentang apa yang ia lakukan, baik dari perempuan lainnya maupun dari (kebanyakan) laki-laki. Karena sekali lagi, mereka menganggap yang sedang dilakukan oleh perempuan ini adalah sesuatu yang tabu; sebuah pemberontakan.

Saya senang dengan gaya menulis Nawal El-Saadawi di dalam novel ini. Barangkali karena saya memang senang dengan gaya sureal dan isu perempuan yang dituangkan sama sekali tidak dengan lembut oleh Nawal di dalam novel ini. Pun, yang menarik adalah ia menggambarkan tentang cinta seperti ini: perempuan itu mengulurkan tangannya dan menangkap tangan lelaki itu. Jari-jari mereka berjalinan. Lelaki itu mendekapnya dengan sebelah tangan, dan peremuan itu mendekap lelaki itu dengan kedua tangannya. Ia memejamkan mata dan lelaki itu juga memejamkan mata. Mereka terus bergerak sambil berpelukan, tak melihat tanah yang mereka injak. Mereka terbenam bersama-sama ke lubuk danau itu seolah-olah mereka sedang terperosok ke dalam cengkeraman sebuah kekuatan yang lebih besar, dan mereka tidak berdaya membebaskan diri dari kekuatan itu. 

Tak hanya menggugat posisi perempuan dalam tatanan patriarkal yang represif, Nawal El-Saadawi juga menggambarkan tentang kekuatan berpikir perempuan yang progresif yang dapat digunakan sebagai modal seorang perempuan untuk memberontak.

Tuesday, September 5, 2017

Menghabiskan Petang di Salatiga


Salatiga yang aromanya seperti jeruk dan sepuluh hal menyenangkan yang dapat kau lakukan pada sebuah petang hanya dengan berjalan kaki. Jingga dan kekasih jiwa hanyalah bonus belaka. 





1. Berkunjung ke toko buku Baudelaire di Jalan Kauman nomer 1 (mereka juga punya instagram-nya, silakan temukan saja).




2. Cari dan temukan beberapa buku yang kau senangi untuk dibaca dan (jika kau malas membaca) tak apa juga kok, jika hanya memotretnya dan unggah ke dalam instagrammu. Tapi jangan lupa tulislah sebuah caption yang baik tentang buku itu, ya.



3. Beberapa hasil berburu saya dan Weslly Johannes. Dua buku pilihan saya adalah Love in the kingdom of oil dan Aimuna dan Sobori-nya Hanna Rambe. Duh, apakah ada yang sudah membaca keduanya? Saya deg-degan dengan Aimuna dan Sobori, mereka tampak menggemaskan. Nanti saya akan menulis reviunya ya.


4. Jangan lupa pose menghadap samping di sebuah rumah tua yang ditemukan ketika kami hendak berjalan ke toko buku lainnya.


5. Singgah di toko buku Jendela, di Jalan Diponegoro untuk membeli buku Tempat Paling Liar di Muka Bumi kepada beberapa kawan. Dan Weslly Johannes diminta tanda tangannya di secarik kertas. Saya, tidak. Karena Weslly Johannes lebih populer di sini. *uhuk*


6. Selesai dari toko buku Jendela, singgah di Kafe Merah Putih. Jendelanya besar-besar dan lantainnya gemas.


7. Pose sedikit di Kafe Merah Putih, supaya pancasilais. Jangan lupa beli bir Prost tiga, nanti dapat gratis satu.


8. Weslly Johannes memberikan buku The World Until Yesterday, Jared Diamond, kepada saya sebagai hadiah. Katanya, "baca buku ini maka kau akan mengerti masyarakat dan melihat dunia dengan cara yang berbeda." Saya mengerutkan kening sejenak, sambil bertanya, "Jared Diamond itu siapa ya?" Weslly menjawab, "ia seorang profesor, tapi saya suka bahasa yang ia pakai ketika menulis." Saya tersenyum kepada dunia dan kita berjalan ke meja kasir. Hampir saja saya mau katakan kepada Mbak penjaga kasir, bahwa laki-laki ini yang akan saya nikahi, tapi tidak jadi.


9. Entah mengapa saya suka pose menutup mata dan di dekat buku, barangkali supaya kelihatan relijius dan cerdas.


10. Langit dari depan Kafe Merah Putih dan jelang pukul berapa itu, lupa.

.

Thursday, August 31, 2017

#TheoresiaPublicSpeaking : September 2017









Info lebih lanjut:

Peserta terbatas, pendaftaran paling lambat tanggal 10 September 2017
Kelas dimulai pada Rabu 13 September 2017
Kelas hanya 6x pertemuan, setiap Rabu dan Jumat (sepanjang bulan September) di Tobucil, Jalan Panaitan, Bandung: pukul 17.00 - selesai, dengan biaya Rp. 350.000

-

Sebuah Catatan Kecil Kenapa Kamu Harus Mengikuti Kelas Public Speaking ini:

Seni berbicara di depan umum bulan depan nanti, saya khususkan kepada kawan-kawan seniman dan designer. Dengan maksud agar membantu kawan-kawan untuk mempresentasikan karya pada sebuah artist talk sebuah pameran dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pengunjung yang datang ke pameran. Pun, membantu kawan-kawan untuk mempresentasikan design di depan klien.

Teknik mengajar yang saya pakai di kelas adalah sangat personal—dalam pengertian saya tidak memiliki pakem khusus ketika mengajar, karena segala sesuatu akan menyesuaikan dengan kebutuhan peserta selama di kelas. Teknik merekam suara dan merekam video adalah salah satu teknik yang saya sarankan untuk dilatih di dalam setiap pertemuan, karena sesuai dengan pengalaman, teknik ini lumayan memberikan kemajuan kepada peserta sejak pertemuan pertama hingga pertemuan terakhir.

Satu lagi yang tidak kelupaan, saya membuat evaluasi kepada kawan-kawan dalam bentuk catatan-catatan kecil yang menggemaskan. Saya sedikit galak di kelas, tapi percayalah, kita akan lebih banyak bersenang-senang kok, seperti tamasya. Selamat mendaftar!

salam hangat,
theoresia rumthe

Tuesday, August 29, 2017

Sebuah Ketersesatan (yang lain) Dalam Cinta





saparua suatu ketika


Tak ada hal-hal yang kebetulan di dalam cinta. Katanya suatu saat kau akan (kebetulan) bertemu dengan beberapa orang hingga satu orang dan kemudian di dalam proses berinteraksi dengan  mereka, kemudian kau akan (kebetulan) menemukan sepenggal dirimu di dalam diri mereka. Hal itulah yang barangkali membuat kau merasa mereka adalah (kebetulan) bagian dari dirimu, ataupun sebaliknya mereka pun merasa bahwa kau adalah rusuk yang terhilang itu. Jalin menjalin percintaan bisa jadi dimulai dengan segala macam hal yang  menurutmu (kebetulan) cocok (dengan idealisasi) tertentu, namun pada akhirnya menyerah di tengah jalan karena kecocokan tadi kemudian menjadi luntur seiring dengan berjalannya waktu. Sehingga pada akhirnya setiap manusia belajar, bahwa tidak selamanya yang “kebetulan” di dalam cinta itu adalah benar-benar sebuah kebetulan. Rata-rata mereka yang beranggapan bahwa mereka telah saling menemukan akan lekang juga seperti Patti Smith dan Robert Mapplethorpe pun Marina Abramovich dan Ulay.

Alain de Botton dalam Essays in Love menulis begini: perbedaannya dapat dikategorikan ke dalam cinta yang dewasa dan cinta yang tidak dewasa. Tentu saja versi cinta dewasa lebih banyak disukai, filosofi cinta dewasa ini ditandai oleh sebuah kesadaran bahwa di dalam diri setiap orang terdapat hal yang baik dan buruk, cinta seperti ini penuh dengan kesederhanaan, ia menolak idealisasi, bebas dari kecemburuan, masokisme, atau obsesi, ini adalah sebuah bentuk persahabatan dengan dimensi seksual, menyenangkan, damai, dan ada unsur timbal-baliknya. Sedangkan cinta yang tidak dewasa (meski hal ini tak ada hubungannya dengan usia) adalah kisah tentang kesibukan yang kacau antara idealisasi dan kekecewaan, keadaan yang tidak stabil di mana perasaan ekstasi dan kebahagiaan yang berlebihan bercampur dengan kesan tenggelam dan mual yang fatal, di mana seseorang akhirnya menemukan sebuah jawaban yang juga bercampur dengan sebuah perasaan tersesat. Kau sendiri memilih tersesat dengan cara bagaimana?

Maka barangkali cinta adalah sebuah ketersesatan, tinggal kita memilih untuk tersesat ke dalamnya dengan cara apa. Seringkali saya pun bertanya kepada diri saya sendiri, bahwa cinta yang saat ini saya jalani, apakah sudah sesuai dengan ketersesatan yang saya inginkan, dan apakah ketika saya mencintai, saya sudah betul-betul tersesat dengan segenap jiwa dan raga saya untuk mengasih dan berterima dengan segala keadaan yang diberikan oleh cinta itu sendiri. Namun cinta juga adalah sesuatu yang menyebalkan, ia tidak selamanya menawarkan romantisme seperti yang kau baca di novel-novel, atau ia tidak selamanya seperti ciuman lembut di bibir, setiap kali kau menginginkannya. Ia pun dapat menyesatkan kita yang katanya sudah saling menemukan itu, ke dalam sebuah labirin perasaan yang lain; berputar-putar, gelap dan penakut. 





Saturday, August 26, 2017

Selamat Hari Jadi Jiwa








Gerbong kereta yang berderit-derit membawaku kepada sebuah perjumpaan ingatan ketika itu, kau datang dengan dua lembar tiket sebuah perjalanan, menuju Buru, katamu. Dua lembar tiket itu adalah sesuatu yang lain. Cinta datang menyerupai sesuatu yang lain, tak ada debar-debar berlebihan, semuanya biasa saja. Kadang yang sederhana seperti itu indah saja. Kau dan aku pada akhirnya keras kepala untuk membuat sebuah perjalanan bersama: kadang di dalam perjalanan yang masih terlalu muda ini kita menemukan terlalu banyak batu karang dan jalan berlubang. Ingatanku kembali lagi kepada dua lembar tiket itu—yang kau beli karena telah memilih  bersamaku. Hal yang bagi kita mustahil tapi tidak bagi cinta. Cinta membuat jalan dua orang muda yang penuh lubang dan batu karang menjadi biasa saja, bukan karena lubang dan batu karang itu mendadak hilang, melainkan ini: kau bahkan tak perlu ragu barang sedikitpun untuk melewati jalan berlubang dan penuh batu karang itu, bersama seseorang yang kau sebut, Jiwa.

Selamat hari jadi jiwa, panjang umur dan mari bercinta hingga lanjut usia. 

***


#sebuahcatatanharian 
Gerbong Kereta, 26 Agustus 2017. 14.27 wib.

Monday, August 21, 2017

Merdeka









Adalah ketika perempuan dapat merdeka menjadi perempuan, memakai tubuhnya sendiri dan memaknai pikirannya sendiri.

Pun artinya perempuan mesti terlepas dari citra lain yang dilekatkan kepadanya, seperti: "perempuan cantik itu yang begini.." dengan bermacam-macam daftar yang harus ia penuhi.

Pun artinya perempuan mesti terlepas dari pertanyaan-pertanyaan basa-basi, seperti: "kapan menikah?", "kapan punya anak?", "kapan melahirkan adik untuk si kakak?", dan "pertanyaan–kapan lainnya."

Merdeka adalah ketika perempuan dapat bertanggung jawab terhadap alat reproduksinya sendiri, mengaturnya atas kehendaknya sendiri, dan ketika ia melakukannya bukan untuk menyenangkan orang lain.

Merdeka adalah pun jika ia tidak memenuhi semuanya, itu bukan sebuah kesalahan, dan ia tak perlu meminta maaf.




#sebuahcatatanharian
#72TahunIndonesia

Thursday, August 17, 2017

72 Tahun Indonesia






Sudahkah kamu merdeka mencinta sesamamu yang tidak pergi ke tempat sembahyang yang sama denganmu?

[foto ini diambil ketika saya berkunjung ke Aceh pada tahun 2011]

#sebuahcatatanharian 
#72TahunIndonesia

Monday, August 14, 2017

Rumah pun Merindukan Kita







Pernahkah kita memikirkan rumah dan perasaan-perasaannya dan berpikir bahwa rumah juga merindukan kita? bahwa ternyata ketika kita pergi jauh, rumah tetap sama, ia tidak bergerak, ia masih pada tempatnya dan ia menyimpan semua kenangan kita.

Selama 34 tahun hidup saya, saya menghitung (semoga tidak ada yang terlewat di dalam ingatan saya) saya telah menempati sekitar 15  rumah tinggal dan itu sudah termasuk rumah kos saya ketika berada di perantauan. Rumah pertama adalah sebuah rumah besar di kota Larat, saya mengingat sebuah rumah tua dengan kamar-kamar luas dan jendela model lama dengan cat kayu berwarna hijau tua. Saya mengingat rumah ini dengan anjing kampung bernama Boy, yang selalu menanti ayah saya ketika pulang dengan perahu motornya dari pulau-pulau seberang. Juga aroma menyengat bunga terompet yang sering masuk ke kamar tidur. Ketika tinggal di rumah ini, usia saya barangkali satu atau dua tahun, sehingga saya merasa rumah itu besar sekali.

Rumah ke dua (yang bagi saya istimewa) adalah rumah tua milik keluarga kami, milik kakek saya, Marthen Elwarin yang menikah dengan Dorkas Elwarin. Dorkas Elwarin, seorang perempuan Jawa yang bernama asli Sutijem jatuh cinta dengan kakek saya ketika ia bertugas di Semarang. Mereka kemudian menikah dan pulang ke Ambon. Dorkas Elwarin yang kemudian kami panggil “Oma Jawa” lalu menjadi seorang Kristen yang taat. Mereka menempati sebuah rumah mungil di daerah Kudamati. Rumah yang kemudian melahirkan banyak anak cucu di sana. Rumah kecil dan sederhana yang biasanya menampung anak cucu dari segala penjuru untuk tinggal di dalamnya. Mengingat keluarga kami lumayan besar.

Saya tumbuh dan besar di rumah ini. Kedua orang tua saya melanjutkan pekerjaan mereka sebagai pendeta di pulau. Sementara saya dan kedua kakak perempuan saya dititipkan di rumah ini. Saya yang masih kecil dititipkan berpindah tempat, rumah lainnya adalah milik Tante (adik perempuan ayah) di daerah Batu Gantung. Tapi dapat dibilang saya lebih banyak menghabiskan waktu tinggal di Kudamati—Kampong Tai, sebutan bekennya pada saat itu, sebelum akhirnya menjadi lebih kini dengan sebutan ‘pelor’ atau singkatan dari: penghuni lorong.

Bermain di lapangan Oma Dana. Berlari di sepanjang jalan-jalan setapak bersama sahabat kecil saya, Donny Toisuta, biasanya  disapa Odon. Memanjat pohon kersen milik keluarga Odon, dan biasanya suka ditegur oleh  Oom Anton (ayah Odon) atau Oma Nes (neneknya). Atau bermain masak-masakan bersama sahabat kecil saya lainnya, Theophanny Rampisela, biasanya disapa Kaka, hanya dengan memakai kaus kutang dan celana dalam. Atau bermain beramai-ramai: enggo sambunyi, afiren, sandiwara pedang-pedangan tutur tinular, gambar, pata-pata, lompat karet, gici-gici, dan permainan semasa kecil lainnya di tahun 90-an pada waktu itu membuat saya merasa sangat beruntung.


rumah tua kami yang bercat hijau di sebelah kiri bersama dengan setapak-setapak itu.

Ingatan lainnya yang tidak hilang adalah ketika malam jelang Paskah kami akan berkumpul di lapangan Oma Dana untuk menonton layar tancap film Yesus disalib. Atau tidak tidur semalaman karena menunggu pawai obor subuh-subuh. Selain itu saya juga tidak pernah lupa latihan menyanyi atau baca puisi di teras rumah. Memasuki masa remaja saya juga membagi tempat tinggal saya, dengan rumah di belakang Rumah Sakit Tentara, kemudian rumah di Kebun Cengkeh. Tapi tetap saya kembali ke rumah di Kudamati—Kampong Tai.


Kebiasaan bertelanjang kaki dan berjalan di sepanjang setapak, hingga kebiasaan memikul handuk (dan kemudian berakhir dengan tidak mandi juga) masih membekas dengan jelas di kepala saya—semua seperti baru kemarin. Padahal hal ini terjadi puluhan tahun yang lalu. Hingga saat ini, bahkan ketika saya sudah merantau dan tinggal sendiri, ingatan-ingatan ke masa-masa itu seringkali muncul di dalam kepala saya, biasanya ia datang berupa: bebunyian daun pohon Mangga yang ada di depan rumah, bunyi seng yang berderit ketika ditiup angin, lolongan anjing ketika malam, atau aroma panggangan kue dari tetangga sebelah. 

Ingatan-ingatan membawa saya ke setapak-setapak itu kembali, saya menjadi anak kecil yang sama, masih suka berlari dengan ringan—atau bermain sepeda di dalam becek di lapangan Oma Dana. Menghitung rumah-rumah yang saya lewati ketika keluar dari rumah tua kami menuju ke depan lorong Andre, tempat menunggu angkutan umum:  rumah ibu batak, rumah (bekas) Oma aya, rumah (bekas) keluarga Manusiwa, rumah tante Masbait, rumah Oom Nus Tarantein, rumah Oom Cak Lesilolo, rumah keluarga besar Lesilolo, rumah keluarga besar Tumallang kiri dan kanan, rumah Mama Kety, rumah keluarga Kriekhoff, rumah Om No Louis. 

Rumah-rumah yang saya sebutkan ini barangkali sudah tidak ditempati oleh penghuni aslinya lagi. Namun kenangan tentang setapak yang menjaga kaki-kaki telanjang saya berlari di masa kanak-kanak, tak pernah hilang—kenangan itu begitu girang dan bersahabat di dalam kepala, tinggal bersama rumah-rumah yang tetap berdiri di sepanjang jalan setapak itu: walau penghuni dari rumah-rumah itu barangkali sudah tak lagi tinggal di situ karena meninggal atau pindah kota. Jika sudah begini, rindukah kamu kepada rumah yang dulu pernah kamu tinggali lama?

***


(selesai menulis ini saya jadi kepikiran untuk memotret rumah-rumah yang pernah saya tinggali—di kota Ambon maupun di kota-kota lainnya jika memungkinkan dan membuat sebuah cerita pendek tentangnya. atau mungkin membuat pameran serial rumah yang lain.)

Wednesday, August 2, 2017

Sebuah Catatan Harian : Tentang Kecintaan








Saya menulis, saya menyanyi, saya (dulunya) penyiar radio, saya masih memandu acara di beberapa kesempatan, tapi saya juga menyukai mengajar—sangat. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih siaran di salah satu radio swasta di Bandung, saya memutuskan untuk memulai kelas kecil seni berbicara di depan umum di tobucil, sebuah toko buku di Bandung. Murid saya waktu itu berjumlah tujuh orang, di sela-sela waktu siaran, saya datang untuk mengajar mereka.
Salah satu murid saya bernama Swan. Ia berusia enam puluh tahun dan menolak untuk dipanggil "Ibu Swan." Swan adalah seorang arkeolog dan masih melakukan penelitian ke pedalaman. Swan kerap pulang pergi Jakarta-Bandung hanya untuk mengikuti kelas saya. Sebuah pengorbanan yang saya segani, karena pada saat itu, bisa dibilang saya belum punya pengalaman apa-apa dalam mengajar.
Swan adalah murid yang sangat haus di kelas, ia banyak bertanya tentang apapun yang ia tidak mengerti. Dan ketika waktunya praktik, ia selalu bersemangat untuk mengusahakan yang terbaik. Pada pertemuan terakhir kami di kelas, Swan menghampiri saya seraya berkata, "Theo, kamu punya kemampuan mengajar, tapi bukan hanya itu, kamu mampu mengeluarkan kualitas terbaik dari orang lain. Saya bersyukur bisa belajar dari kamu."
Saya menatap matanya yang keriput dengan penuh haru kemudian mengucap terima kasih dan mengecup pipinya. Namun, di dalam hati saya tercetus pertanyaan begini, "siapa saya (yang masih bau kencur ini) sehingga mampu mengeluarkan kualitas terbaik dari seorang Ibu berusia enam puluh tahun?"
Kini bertahun-tahun kemudian, kalimat-kalimat Swan masih saya ingat. Kalimat-kalimat itu berjejak lekat di dalam hati saya, seiring dengan jam terbang mengajar yang semakin bertambah dan murid-murid yang semakin banyak. Sejak hari pertemuan saya dengan Swan, saya mengerti satu hal, sesungguhnya saya tidak pernah mengajar Swan, saya yang justru belajar darinya. Bahwa arti mengajar adalah bukan yang paling mengerti segala sesuatu; mengajar adalah mengeluarkan kualitas terbaik dari diri orang lain.


(foto: bersama kawan-kawan di kelas public speaking yang diadakan reaterary beberapa hari yang lalu)


Thursday, July 27, 2017

SOLD OUT




gambar via google.





Lucu, ketika suatu hari saya sedang melihat foto-foto pernikahan, dan mendapati sebuah potret pengantin perempuan dengan tulisan SOLD OUT di bagian bawahnya. Pertama, kesan yang ada di kepala saya ketika memperhatikan potret itu adalah perempuan itu seperti barang yang yang sudah laku di toko atau web online. Biasanya ketika barang yang dipajang sudah laku, akan ada tulisan SOLD OUT di bagian bawahnya. Kedua, kira-kira apa yang ada di dalam benak perempuan itu, barangkali saja benar, ia setuju melakukannya karena ia merasa dirinya—sejenis 'barang jualan' yang telah laku dijual kepada seorang pemilik. Dan ketiga, jika itu adalah strategi pemasaran fotografer; maka konsep perempuan di situ, jelas disamakan dengan barang jualan. Suatu kenyataan yang menyedihkan.

Dalam Second Sex, Simone de Beauvoir menulis begini, "Sejak zaman primitif hingga sekarang, persetubuhan sudah dianggap sebagai 'pelayanan' di mana sebagai tanda terima kasih, laki-laki memberi perempuan berbagai hadiah untuk menjamin kelangsungan hidupnya; tetapi 'melayani' berarti memberikan dirinya kepada seorang 'majikan'; tidak ada kesetaraan dalam hubungan ini. Sifat perkawinan itu sendiri, seperti halnya prostitusi, merupakan bukti bahwa perempuan memberikan dirinya, laki-laki membayarnya, lalu mengambilnya."

Maka sebuah penaklukan terjadi di sini. Kata SOLD OUT yang terpampang di dalam potret tersebut, dengan seorang pengantin perempuan yang mengembangkan senyum lebar di wajahnya adalah sebuah isyarat kebanggaan bahwa ia kini telah laku terjual kepada pemiliknya. Yang lebih mengenaskan lagi bahwa potret pengantin perempuan seperti itu dijumpai di dalam kultur masyarakat yang beradab—yang di dalam asumsi saya adalah mereka yang berpendidikan tinggi. Dan menurut saya lagi, sampai kapanpun perempuan bukan barang dagangan yang ditempelkan rupiahnya; ia tidak melelang dirinya untuk bertemu dengan pemilik yang akan membawa pulang dirinya, selamanya ia berhak untuk memiliki dirinya; utuh.

Friday, July 14, 2017

Menjadi Anonimus





Ada sebuah cerita yang saya temukan, intinya tulisan tersebut menceritakan tentang seorang perempuan yang membuat sebuah akun anonimus agar ia dapat berinteraksi dengan ‘apa adanya’ kepada orang lain yang juga ada di dalam lingkaran media sosial itu, alasan perempuan itu sederhana saja, jika ia menggunakan identitas aslinya dalam berinteraksi, maka ia takut mendapat respon yang tidak ia harapkan yaitu: diadili. Karena pada dunia nyata, perempuan ini dikenal sebagai perempuan yang cukup relijius—paling tidak dari atribut yang ia pakai dan ini juga diceritakan dalam tulisan itu. Dan komunikasi yang terjadi antara perempuan anonimus ini adalah hal-hal yang bersifat vulgar yang sekali lagi tidak dapat ia lakukan dengan menunjukkan identitas aslinya.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah kamu pernah menjadi seorang anonimus dalam menggunakan media sosial? Atau apakah kamu pernah membuat akun anonimus dengan—tentu saja menggunakan identitas palsu untuk kepentigan pribadi misalnya, menyelidiki suami yang selingkuh. Cerita lainnya yang saya temukan yaitu seorang ibu rumah tangga yang membuat akun anonimus untuk menciduk suaminya sendiri yang tukang main perempuan.

Pertanyaan lainnya adalah apakah kamu pernah membuat akun anonimus untuk menjawab pertanyaan atau membela sebuah pernyataan yang dianggap benar—apalagi ini bertujuan untuk sebuah kepentingan kampanye politik. Akun anonimus ini diperlukan untuk melerai sebuah jawaban, pro atau kontra terhadap sebuah wacana, menghajar seseorang yang tidak disukai karena jawaban yang berkembang pada sebuah laman diskusi, atau kepentingan yang paling relevan saat ini adalah, mengadudomba satu dengan yang lainnya.

Seiring dengan perkembangan media sosial dan hestek berani yang kemudian merajalela seperti #showyourcleavage atau #freeyournipple maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah kamu pernah membuat akun anonimus untuk meramaikan hestek tadi? Karena cara untuk meramaikan hestek ini adalah dengan mengunggah sebuah foto belahan dada atau puting susu tanpa kelihatan wajah yang membutuhkan tekad yang besar. Menjadi anonimus membuat orang-orang lebih berani.

Beberapa skandal percakapan seks pribadi yang dilakukan oleh para tokoh agama juga terkuak oleh anonimus. Tentu saja pelaku anonimus di sini adalah mereka yang memiliki kepentingan terkait untuk mengungkap skandal tersebut.

Menjadi anonimus adalah sebuah kegemaran baru. Media sosial kemudian berkembang menjadi sebuah media di mana setiap orang dapat menjadi sesuatu di luar dirinya asalkan ia tetap anonimus. Setiap orang dapat melakukan sesuatu di luar dirinya asalkan ia tetap anonimus. Setiap orang lebih berani mengunggah apa saja asalkan ia tetap anonimus. Setiap orang dapat mengungkap kebenaran asalkan ia tetap anonimus.

Menurut sebuah penelitian yang ditulis di dalam We Are Anonymous-Anonimity in the public sphere, ada beberapa keuntungan dengan menjadi anonimus ketika berkomunikasi 1) mendorong kebebasan berekspresi, kemampuan untuk menyuarakan pendapat yang berbeda atau gagasan yang tidak populer dan oleh karena itu dapat dianggap sebagai landasan demokrasi 2) memfasilitasi arus komunikasi mengenai isu publik tanpa membunuh si pembawa pesan 3) untuk mendapatkan informasi sensitif, misalnya dalam penelitian atau isu pribadi yang sensitif  4) anonimitas mendorong budaya berbagi gagasan, ada lebih banyak kejujuran dalam proses tanya jawab, misalnya dalam proses evaluasi di tempat kerja atau di kelas.

Sebuah cerita lainnya tentang seorang perempuan pernah mengaku mengungah foto vaginanya yang baru selesai di waxing, berikut dengan sedikit testimoni mengenai kepuasaannya menggunakan layanan salon yang melayaninya. Perempuan itu mengaku ia melakukannya untuk mendapatkan sebuah kepuasan tertentu, merasa lebih bebas, merasa lebih jujur.

Namun ada sebuah pengertian lainnya tentang menjadi anonimus—yaitu sebuah keberjarakan dengan diri sendiri: atau dapat dikatakan sebagai sebuah ketakutan untuk menampilkan sebuah kejujuran yang berasal dari diri karena takut diadili oleh masyarakat. Melainkan juga dapat dikatakan bahwa menjadi anonimus adalah sebuah tempat persembunyian—sebuah benteng yang dibangun cukup tinggi untuk melindungi diri sendiri dari sebuah kebenaran.

Sebuah cerita menarik yang saya temukan dalam kasus menjadi anonimus, yaitu seorang pria gay yang kemudian bersembunyi di balik topeng “tokoh agama” dan “pernikahan” hanya karena pria ini tidak dapat menceritakan tentang dirinya yang sebenarnya. Barangkali pria ini juga tetap memilih menjadi anonimus di dalam berkomunikasi dengan kawan-kawan di komunitas gay-nya karena ia terlanjur ‘normal’ di kehidupan nyatanya.

Sebuah paradoks di dalam kehidupan.    


  



Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...