Thursday, May 18, 2017

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran




foto oleh lukman hakim

Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang paling akhir? Bagaimana sampai dia tertuang di atas kertas?

Puisi tercipta dari hal-hal yang paling keseharian di dalam diri saya. Jika ditanya seperti apa prosesnya, saya senang mengamati. Senang mengamati hal-hal kecil di sekitar saya, misalnya rumput-rumput hijau, daun kering dengan teksturnya ketika melangkah, air dari dahan yang menetes pada kulit, hujan di jendela pendar cahaya dari lampu-lampu mobil ketika gelap, dan kelopak kekasih. Hal-hal semacam itu senang saya amati lekat-lekat dan lambat-lambat. Setelah diamati lalu saya sambungkan dengan rasa yang ada di dalam diri saya. Kemudian proses selanjutnya adalah menuangkannya ke dalam kertas.

Seperti apakah tempat yang 'paling liar' di muka bumi menurut Theo? Bagaimana kamu memaknai kata "LIAR" itu sendiri? Apa kamu punya kenangan atau ingatan tertentu mengenai kata LIAR? :)

Tempat ‘paling liar’ di muka bumi itu menurut saya adalah di dalam kepala manusia. Karena ada dunia yang tidak berbatas di dalam sana. Jika harus memaknai kata ‘liar’ maka saya akan melihatnya sebagai sebuah ‘petulangan rasa’ bagaimana kita berani untuk menjelajahi setiap rasa yang ada di dalam diri kita, rasa apapun itu dengan berani. Kenangan tentang kata ‘liar’ sendiri ketika berumur dua belas atau tiga belas tahun, saya pernah mengendap-endap keluar dari rumah tengah malam, hanya untuk menonton bioskop tengah malam, tanpa izin kepada kedua orang tua saya, hihihi.

'Keliaran' macam apa yang menurutmu mengalir dalam dirimu? Dari mana dia berasal, dan bagaimana kamu berteman dengannya?

Saya senang dengan hal-hal yang datang kepada saya di kali pertama. Baik itu kalimat-kalimat yang datang pertama kali, maupun setiap rasa yang datang untuk pertama kali. Saya tidak suka menyuntingnya. Karena sesuatu yang lebih ‘mentah’ itu biasanya jauh lebih jujur. Itulah sebabnya, mengapa saya tidak pernah menyunting puisi-puisi saya, terkecuali urusan diksi. Segala sesuatu yang lebih ‘mentah’, lebih ‘apa adanya’, lebih ‘jujur’ memiliki keliarannya sendiri. Dan itu ada di dalam saya.

Bagaimana caranya menemukan puisi di sekitar kita? Harus mulai dari mana? Bisakah kita berpuisi tanpa kata-kata?

Saya percaya bahwa inspirasi mampu menjawil siapa saja yang ia kunjungi. Permasalahannya adalah siapa yang peka dan siapa yang tidak. Jika ketika dijawil, lalu orang tersebut abai, maka inspirasi sudah pasti mencari orang yang lain. Jadi jika mau menemukan puisi yang ada di sekitar kita, kuncinya hanya satu: jangan abai. Berpuisi bagi saya tidak perlu dengan kata-kata kok. Hal ini bisa kita contohi dari bagaimana alam raya berpuisi, itu bisa melalui pelangi, warna-warni senja, deru angin kena muka, asin laut yang menempel pada kulit, maupun jejak pasir pada telapak kaki.


Bagaimana tempat kelahiran Theo memengaruhi karya-karya Theo, cara Theo melihat dunia, atau cara Theo berproses secara kreatif?

Ambon, tanah kelahiran saya, sangat mempengaruhi karya-karya saya, cara saya melihat dunia, hingga kemudian cara berproses kreatif saya. Ayah dan Ibu saya sudah mengenalkan saya kepada ‘dunia panggung’ ketika saya masih sangat kecil. Saya dengan dua kakak perempuan saya juga tumbuh dengan mencintai menyanyi sejak kami kecil. Tidak hanya menyanyi, baca puisi, akrab di panggung untuk bermain drama/teater kecil-kecilan, Ayah dan Ibu pun tak lupa mengenalkan kami kepada buku. Ketika remaja, saya ingat, saya sudah membuat karangan cerita pendek pertama saya, walaupun cerita pendek itu tidak selesai hingga sekarang.

Latar belakang alam Ambon yang eksotis pun merangsang saya yang tumbuh di sana untuk mencipta. Entahlah, tetapi saya merasa lautan tidak hanya sekedar berwarna biru, tetapi ada gradasi warna yang jauh lebih kaya. Dan pegunungan pun tidak melulu berwarna hijau. Ia bisa saja berwarna seperti telur asin. Di situlah saya belajar untuk melihat segala kemungkinan di dalam segala ketidakmungkinan.

Apakah setiap hari Theo berpuisi, atau meluangkan waktu untuk melahirkan karya kreatif? Bagaimana Theo bersetia (atau tidak bersetia) pada seni dan kreativitas di dalam diri Theo?

Apakah setiap hari Theo berpuisi? Jika pertanyaan ini ditujukkan kepada saya sekarang, maka jawabannya adalah iya. Karena saya sedang mempersiapkan sebuah karya buku puisi selanjutnya. Tapi, terkadang saya juga tidak berpuisi dalam waktu yang lama kok.

Namun yang penting bagi saya adalah melahirkan karya kreatif, itu musti dilakukan setiap hari, jika tidak berpuisi, paling tidak saya menulis untuk blog, jika tidak menulis untuk blog, paling tidak saya menulis sekelebat kalimat-kalimat yang lewat di kepala saya di dalam buku catatan kecil yang suka saya bawa atau di laman notes telepon genggam saya. Jika proses ini diabaikan oleh saya, saya suka gelisah dan rungsing.

Saya memilih untuk bersetia pada seni dan kreativitas di dalam diri saya. Saya pikir ini adalah persoalan membuat pilihan saja. Gairah saya tidak akan jauh-jauh dari seni dan kreativitas. Hidup dan memilih untuk melakukan kegairahan secara sadar dan penuh, saya anggap sebagai sebuah pencapaian di dalam hidup. Dan yang paling terpenting dari melakukan semua kegairahan ini adalah melakukannya dengan hati bulat, bukan hanya sekedar keren-kerenan. Supaya tidak menyesal ketika mati nanti.


[tulisan ini dalam versi bahasa inggris juga diterbitkan oleh Hanny Kusumawati untuk laman behind the pages di beradadisini.com]

Sunday, April 2, 2017

(Semacam Ulasan) Buku Burial Rites, Hannah Kent









*Kadang aku serasa melihatnya kembali—rumah pertanian itu, terbakar dalam gelap. Kadang aku bisa merasakan perihnya musim dingin di paru-paruku, dan sepertinya aku melihat lidah-lidah api itu terpantul di samudra, airnya begitu aneh, kerlap-kerlip oleh cahaya. Malam itu aku sempat menoleh sejenak. Aku menoleh untuk mengamati api itu, dan andai kujilat kulitku, masih bisa kurasakan asinnya. Asap itu. Dulu tidak selalu sedingin ini. Aku mendengar bunyi langkah kaki.

Adalah sebuah prolog. Kemudian aku melihatnya. Ia berambut hitam panjang. Tubuh kurusnya tersingkap dari lengan dan tulang pipinya yang mencuat sedikit. Ia sedang duduk dan melihat ke jendela. Sementara udara di luar berdentum menghantam jendela. Musim dingin yang berat belum berakhir.

“Agnes, bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya menjelang kematianmu sendiri?”

Aku memberanikan diri bertanya kepadanya. Ia tidak bergerak dari tempat ia duduknya sama sekali. Ia masih melihat ke jendela. Temaram sinar bulan yang memantul ke tumpukan salju di pekarangan, membuat malam itu tidak terlalu pekat.

“Aku.. aku belum siap.” Jawabnya perlahan, ia lalu mengembuskan nafasnya pelan.

Aku mendengarkan embusan nafasnya. Berat. Kali ini ada jeda di antara kami. Kemudian aku merasakan ruangan di Stora-Borg itu kini melayang-layang.

“Aku, aku belum siap..” ia tiba-tiba melanjutkan kalimatnya, “tapi satu hal yang mungkin menyenangkan adalah bertemu dengannya.”

“Natan, maksudmu?” tanyaku kemudian.

Ia  menjawabku hanya dengan mengangguk.

** “Di Geitaskard kami suka berjalan-jalan di salju pada saat-saat senja, dan salju itu berdecit di bawah injakan kaki kami. Pernah, sekali waktu, aku terpeleset di salju, dan kusambar lengan Natan hingga dia hilang keseimbangan. Kami tergelimpang bersama-sama, tertawa-tawa, dan di tanah ia mendorongku hingga telentang, sehingga kami tengadah memandang bintang-bintang di atas sana. Dia menyebutkan nama-nama rasi bintang itu untukku.”

Agnes kini memalingkan wajahnya dan melihat lurus ke arahku. Aku yang sedari tadi tidak pernah melihat matanya secara langsung ketika bicara, kini agak merasa sedikit gelisah. Aku lalu menggeser pantatku di kursi dan membetulkan posisi dudukku.

Kini, mataku langsung melihat ke arah matanya, dan menajamkan telinga untuk mendengarkan ceritanya selanjutnya. Sementara deru angin masih saja memburu di luar, aku menunggu Agnes melanjutkan ceritanya kembali.

Ia lalu melanjutkan ceritanya, “menurutmu, ke sanakah kita akan pergi setelah kita mati?” tanyaku kepada Natan waktu itu. “Aku tidak percaya ada surga,” Natan kemudian berkata kepadaku.

Ruangan itu lengang lagi untuk beberapa saat. Tapi kini terasa ada sesuatu yang mencair di dalamnya. Rasanya seperti menggenggam salju pada kedua telapak tanganmu, cairan dingin itu mencair di telapak tanganmu, meninggalkan rasa gemetar kemudian.

Untuk pertama kalinya aku merasakan sebuah kesunyian. Kesunyian yang aneh.


***


Apa yang membuat saya berdegup kencang kepada buku sungguh aneh—biasanya sebelum membeli, buku-buku itu tampak memanggil saya. Ketika saya menyentuh, memegang punggung mereka, membaca sekilas bagian sinopsis, saya biasanya jatuh cinta duluan dengan tema yang diangkat. Saya tidak akan melewatkan membaca halaman hak cipta terjemahan dan sebagainya, kemudian dilanjut dengan membaca halaman persembahan. Tema-tema menyenangkan bagi saya, salah satunya tentang: kematian.

Saya menghabiskan buku ini di dalam kereta menuju Solo. Saya bertemu dengan Agnes di dalam kepala saya. Hannah Kent menggambarkan Agnes dengan metaforanya sendiri. Bahwa menghadapi sebuah kematian, bukanlah sebuah perkara yang gampang, karena menghadapi mati adalah persoalan yang berbeda daripada menghadapi hidup. Tak ayal lagi, Burial Rites, kemudian memenangkan sejumlah penghargaan.

Satu hal yang juga sangat berarti dan mesti diberikan penghargaan adalah, Tanti Lesmana, terima kasih sudah menerjemahkannya dengan sangat mumpuni. Termasuk metafora-metafora yang sangat mewakili. Seperti kalimat-kamlimat ini: “aku ingin memetik langit sekepal-kepal dan memakannya.”

Bagi yang menyukai metafora yang (tidak biasa) mungkin akan menyukai buku ini.



-
* bagian epilog
** bagian percakapan Agnes dengan Natan di halaman 269.


Saturday, April 1, 2017

APRIL: Selamat Merayakan Kesenangan-Kesenangan Kecil











Setiap orang pasti punya satu kesenangan kecil di dalam dirinya, yang jika dilakukan olehnya, akan membuat orang tersebut bahagia. Itu hanya satu kesenangan kecil. Bayangkan, jika di dalam diri tiap orang ada berpuluh-puluh kesenangan kecil, maka betapa bahagianya orang tersebut.

Namun persyaratannya sederhana saja, kesenangan kecil tersebut harus dinikmati penuh. Ada sebuah buku yang berjudul, The Little Way of Hygge, the danish way to live well, yang ditulis oleh Meik Wiking. Buku ini membahas tentang kebahagiaan yang dimaknai oleh orang-orang di Denmark. Dan mengapa pada akhirnya Denmark disebut sebagai negara paling bahagia di dunia.

Hygee (dibaca: hyu-gah) adalah sebuah konsep yang dipakai oleh orang Denmark untuk kemudian (bisa dikatakan) menjadi bahagia. Menurut buku tersebut, ‘Hygge has been translated as everything from the art of creating intimacy to cosiness of the soul to taking pleasure from the presence of soothing things.’

Jika diterjemahkan dengan bebas, maka dapat dikatakan seperti ini, Hygee adalah sebuah seni untuk menciptakan suasana intim bagi kenyamanan jiwa untuk menikmati kesenangan dari keadiran hal-hal kecil yang menenangkan.

Masih ingat dengan hashtag #bahagiaitusederhana yang sering kita pakai? konsep Hygee ini juga mengajak kita untuk menikmati kesenangan-kesenangan kecil sehingga ada sebuah rasa penuh di dalam dan membuat kita bahagia.

Kesenangan-kesenangan kecil ini dapat berupa: menulis di dalam temaram lampu, menikmati kopi di pagi hari sambil menghirup aroma rerumputan, berlama-lama duduk di kloset dan melihat semut-semut berjejer di dinding, membaca buku pelan-pelan dan menikmati setiap visual yang muncul di kepala, berciuman dengan kekasih dan menikmati lembut bibirnya, mengamat-amati kelopak matanya ketika sedang tidur, memakai lipstik merah untuk sebuah hari yang rasanya tawar, duduk di dekat jendela angkot dan menikmati setiap hiruk pikuk di jalan, mengobrol intim dengan kekasih tentang hal-hal yang akan dilakukan ke depan, atau tertawa.

Semua hal di atas ini (dan akan dapat bertambah lagi) jika dilakukan dengan penuh-penuh, dengan sebuah kesadaran akan kualitas, maka dapat dijamin bahwa #bahagiaaitusederhana bukan hanya sekedar hashtag.








Tuesday, March 28, 2017

Molucca Project: Sebuah Proyek Merayakan Kegairahan










Jelang ulang tahun ke-dua Molucca Project, saya mewawancarai beberapa anak muda Maluku yang memiliki kegairahan melakukan hal-hal kecil yang mereka cintai. Molucca Project adalah sebuah platform untuk belajar mengapresiasi apa yang kecil. Mengapresiasi kegairahan. Merayakan sesuatu yang tidak kelihatan. Bukan apa yang besar. Sesuatu yang juga disebut sebagai sebuah keyakinan. Sesuatu yang kemudian darinya saya belajar.

Media sosial dengan hal-hal yang terlalu kini, itu bagus, tapi terkadang membuat lupa bahwa sesuatu yang berada di dalam dan tidak populer itu ternyata jauh lebih penting. Karena sesuatu yang berada di dalam, yang bernama kegairahan itulah yang kemudian memelihara.

Baru-baru ini saya menonton sebuah film berjudul Queen of Katwe, film tentang seorang gadis miskin yang berasal dari Uganda yang berhasil memenangkan festival catur Internasional dan kemudian mengubah hidupnya. Mira Nair, sang sutradara yang berdarah India tetapi sudah menganggap Uganda sebagai rumahnya sendiri, berulang kali mengucap kutipan ini pada beberapa wawancaranya, “If we don’t tell our own stories, no one else will.”

Sama seperti Mira, saya percaya bahwa sebuah kegairahan adalah sebuah kabar baik yang mesti diberitakan. Di dalam setiap orang, paling tidak ada satu kabar baik yang dapat ia ceritakan. Itu yang kemudian Molucca Project dan saya lakukan. Namun memelihara kegairahan adalah sebuah soal yang sama sekali lain. Tak ada yang gampang. Tidak ada yang instan.

Saya bukan Queen of Katwe. Saya memulainya dari sebuah rumah di wilayah kecil bernama Kudamati, di kota Ambon, di mana saya dibesarkan bersama kedua Kakak perempuan saya. Satu hal yang paling saya ingat adalah kamar mandi. Kamar mandi dengan bak mandi berbetuk persegi panjang dilapisi keramik berwarna biru pucat. Lantai kamar mandi tersebut dilapisi keramik kotak-kotak kecil berwarna kuning pudar. Terdapat sebuah kloset jongkok di dalamnya, tempat saya biasanya duduk lama-lama memandang dinding kamar mandi yang terkelupas dan melihat keramik pecah dan tidak rapi di lantai. Tetapi bukan dinding terkelupas atau lantai keramik pecah yang saya lihat, melainkan saya sering melihat “sebuah kota” di sana, atau ada waktu-waktu tertentu saya melihat “jalan-jalan perkampungan,” “sebuah wajah sedih” atau pada kesempatan lainnya saya melihat “dua tokoh yang sedang berbicara satu dengan yang lain.” Bayangan-bayangan itu biasanya muncul menjadi “teman” saya ketika sedang berada di dalam kamar mandi tersebut.

Saya suka membayangkan sesuatu. Saya menulis mimpi-mimpi saya. Saya suka menciptakan imaji di dalam kepala saya. Segala sesuatu yang saya kerjakan, kebanyakan memang dimulai dari sana: membayangkan sesuatu. Tetapi tidak hanya dibayangkan saja, sesuatu itu kemudian harus dipikirkan untuk menjadi nyata. Kamar mandi hingga saat ini tetap menjadi sebuah tempat kesukaan di mana saya dapat menemukan ide-ide. Kemudian pekerjaan rumah itu dimulai: jatuh bangun untuk merealisasikannya.

Akhirnya saya paham kenapa banyak ide kemudian muncul dan ditemukan di dalam kamar mandi. Ketika melakukan aktivitas di dalam kamar mandi, apalagi sedang berada di atas kloset, biasanya kita tidak buru-buru. Saya lalu menyadari satu hal: ketika hidupmu lebih pelan, maka ide akan datang.

Molucca Project pun lahir di kamar mandi. Yang dikerjakan oleh Molucca Project saat ini adalah berkonsentrasi kepada kegairahan. Kami percaya kepada anak-anak muda yang berani. Kami percaya kepada anak-anak muda yang merayakan berpuluh-puluh keyakinan di dalam diri mereka. Bahwa dari mana kita berasal, kita tidak akan berakhir di situ juga. Suatu saat nanti, kita tidak akan pernah tahu bahwa kegairahan itu dapat membawa kita ke mana. Namun, semoga cerita dan kabar baik dari Molucca Project dapat sampai ke mana saja.

Kegairahan kecil ini pun berubah menjadi mimpi-mimpi, ini salah dua (dari sekian banyak yang saya punya di kepala) adalah suatu saat nanti pergi bermain-main di the museum of modern art, atau sekedar baca buku sambil ngopi di coffee shop sepanjang New York. Dan punya toko kecil bernama Molucca Project di sebuah sudut manis kota Ambon, dengan banyak proyek kegairahan yang akan dikerjakan di dalamnya dan terkenal sampai di New York.

***

(tulisan ini juga ditayangkan di www.moluccaproject.com)





Friday, March 24, 2017

Jadwal Kelas Bulan April 2017







Kelas public speaking untuk creativepreneur ditujukan kepada kamu yang saat ini memiliki ide kreatif, usaha, sebuah brand, atau ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana mengembangkan persona. Mari bermain bersama saya. 





Kelas poetry lab adalah inisiatif saya dan Weslly Johannes untuk mengajak kamu bermain ke satu dunia bernama puisi. Kami akan mengajak kamu bereksperimen dengan kata-kata di dalam kepala maupun yang ditemukan di atas meja dan menjadikan kamu sebagai penghulu untuknya. Kelas ini sifatnya eksperimental, jadi tak apa jika melakukan kesalahan. Karena tidak ada puisi yang tidak retak!

Tuesday, March 21, 2017

Maka Cukupilah Jiwamu Dengan Cinta










Maret adalah bulan penuh cinta. Cinta akan membuatmu heran, maka cukupilah jiwamu dengan cinta.

Suatu hari di umur lima atau enam, aku pernah bertanya kepadamu, "kenapa pergi lagi?" aku telanjang dan duduk di pangkuanmu. Menangis. Kau menjawab, "ini tidak akan lama. Di kapal berikutnya, kami akan kembali." Jawaban itu kau katakan sambil mengusap rambut keritingku. Malam itu dan malam-malam selanjutnya, aku menunggu kapal, kapal yang malang, karena ia tak kunjung datang. Rasa itu kemudian aku kenal sebagai rasa patah pertama. Pikiran anak kecilku berontak, kenapa kau mesti pergi ke kampung-kampung dan negeri yang entah. Namun kau kembali, berbulan-bulan kemudian.

Berpuluh tahun kemudian, aku bangun di Bulan Maret yang kering, pada sebuah angkutan umum yang berjalan lamban, lalu menemukan sebuah kenyataan yang aku akui sebagai cinta yang besar—cinta yang sesungguhnya: ditinggal dengan rasa sayang yang tak pernah hilang. Kau pergi dan kali ini takkan pernah pulang.

Pada bulan Maret yang kering, tiga tahun yang lalu, pada sebuah kota di perantauan, aku menemukan cerita tentang seorang perempuan yang telah mempersiapkan kematiannya, sehari sebelum kelahirannya. Dengan cinta yang sangat banyak.

Sejak saat itu, kematian tak pernah sama lagi. Tak pernah aku anggap sebagai sebuah kabar takut. Atau sebuah kabar sesak penuh air mata. Melainkan sebuah kabar syukur. Kematian harus dirayakan.

Untuk itu aku tidak mau menangis, Mama.

Selamat merayakan kematian hari ini—dan kelahiranmu yang esok. Karena di sanalah kira-kira, aku belajar terlalu banyak cinta.


***

ditulis kemarin untuk mengenang Ruth Rumthe/Elwarin, 20 Maret 2014 - 20 Maret 2017, yang hari ini berulang tahun ke 69.

Monday, March 20, 2017

#berpuisibersamakekasih: Tidak Ada Yang Paling Benar Dalam Menulis Puisi (2)






Saya dan Weslly Johannes mendapat kesempatan untuk mengajak teman-teman di #Kanca, sebuah festival literasi dan kepenulisan yang diadakan oleh @writingtable di Jogjakarta.

Kami lalu mengajak teman-teman di kelas, bermain di satu dunia yang bernama: puisi. Dengan satu persyaratan: Tidak Ada Cara Paling Benar Dalam Menulis Puisi. Dengan beberapa eksperimen melalui: menyalin bebunyian, mendengarkan instrumen, meraba tekstur, menghirup aroma, dan melingkar kata di koran.

suasana di kelas: aga, salah satu peserta sedang membacakan puisinya ketika selesai merespon bebunyian

Ternyata kami mendapat kejutan! 

Diksi-diksi yang khas, frasa dan kalimat yang unik, juga metafora-metafora yang tidak umum bermunculan satu per satu. Semua orang punya modal yang cukup untuk menjadi penyair: pengalaman-pengalamannya tentang kebahagiaan dan kesedihan, juga tentang hal-hal yang kadang dianggap biasa. Bunyi, bau, tekstur adalah pintu-pintu lain yang jarang dimasuki untuk memahami dunia. Bunyi, bau, dan tekstur juga teman yang baik untuk didialogkan dengan pengalaman.

Fis Project (ferdy & is) yang membuka acara dengan lagu Cinta yang Menang


Dengan senang hati kami pun mengundang Fis Project (pasangan kekasih: Ferdy & Is) untuk memainkan dua lagu. Lagu pertama sebagai pembuka acara bermain kami, berjudul Cinta yang Menang dibawakan dengan sangat manis.

Selanjutnya Fis Project memainkan satu instrumen, yang kemudian direspon oleh peserta menjadi puisi. Puisi-puisi yang ditulis oleh peserta lumayan mengejutkan, bahkan ada yang mencipta puisi berjudul Merindu Jogja dari bunyi instrumen mereka. Terima kasih untuk dua kesayangan Ferdy & Is yang selalu seluas langit biru, merdu, dan hangat seperti matahari pagi. Doa terbaik untuk doa & nyali ya!

Terima kasih juga kepada teman-teman di kelas telah membantu kami untuk percaya dan akan terus menyelaminya. Selamat membaca, selamat menyalin bunyi, bau, dan tekstur menjadi teks-teks yang bermakna dan berumur panjang.

suasana sarapan bersama pagi itu: saya, windy, aan, weslly, trinzi, natalia, maesy, teddy & mad.




Terima kasih Windy Ariestanty dan Hanny Kusumawati yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk bermain di #Kanca. Sampai bertemu lagi untuk bermain bersama di kesempatan selanjutnya.

salam hangat kami,

theo & weslly 




Saturday, March 18, 2017

#berpuisibersamakekasih: Tidak Ada Cara Paling Benar Dalam Menulis Puisi





Melalui beberapa eksperimen: bunyi, bau, dan tekstur, kami akan membawa teman-teman semua bermain ke satu dunia yang disebut 'puisi.' Tapi hanya satu persyaratan dalam permainan ini yaitu: Tidak Ada Cara Paling Benar Dalam Menulis Puisi. Jogjakarta, sampai bertemu! Minggu, 19 Maret 2017, di Greenhost Boutique Hotel. 

____

Lihat info lengkapnya di sini: writingtable.club 

Sunday, March 12, 2017

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe






Selamat datang di Senemu Coffee.

Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama.


Saya dan peserta menikmati sarapan bersama sambil sedikit mendengarkan cerita tentang latar belakang peserta. 


Suasana di kelas. Biasanya sebelum masuk ke materi yang sebenarnya, setiap peserta memulai dengan memperkenalkan dirinya masing-masing. Pada awal mereka bicara, biasanya saya menemukan kekurangan yang langsung akan kita perbaiki. Hari ini kita belajar tentang elemen bicara, elemen postur, menemukan pesan, dan performa ketika menyampaikan materi, supaya kita menawan ketika berbicara di depan umum. 

Jangan pernah bicara omong kosong. Pembicara yang baik dan menawan adalah mereka yang mau mempersiapkan diri. Semakin banyak latihan dan semakin banyak menemukan jam terbang akan membuat kita menjadi pembicara yang menawan. Dan jangan lupa senyum.  

belakang: khansa, ira, saya, dika, alfa, natalia. depan: ruri dan wenda

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk hadir di kelas dan mendengarkan, cerita-cerita yang berseliweran di udara yang bikin saling belajar, tawa yang riuh bahagia, dan puisi tentang Ibu yang dibacakan di akhir kelas oleh Putri Khansa, yang membuat mata saya berkaca-kaca. Hari ini ajaib sungguh. Saya selalu senang mengajar karena biasanya justru saya yang banyak belajar.


"Semua orang punya 'magic-nya' masing-masing. Jadilah penyihir yang menawan!"

Sampai jumpa di kelas Public Speaking selanjutnya bersama saya. 

*Untuk Ruri dan Natalia yang sudah hadir dan memotret pun terima kasih sekali. Dan Senemu Cafe untuk tempat yang menyenangkan. 

Saturday, March 4, 2017

Kelas Public Speaking: Seni untuk Menyihir Orang Lain












5 Alasan Kenapa Anda Harus Ikut Kelas Public Speaking bersama Saya:

1. belajar tentang apa itu 'seni untuk menyihir orang lain'

Sekilas, Anda mungkin merasa ngeri dengan tema yang diberikan untuk kelas public speaking kali ini. Tetapi ‘seni untuk menyihir orang lain’ adalah sebuah metafora yang ingin saya bagikan kepada teman-teman semua. Ketika berbicara di panggung kepada publik, Anda harus dapat menyihir. Dengan kata lain Anda adalah penyihir. Merujuk kepada kamus Merriam-Webster, kata witch adalah :  a charming or alluring. Jika diterjemahkan dengan bebas, maka kata Penyihir yang saya maksud adalah seseorang dengan kemampuan bicara yang sangat menarik. Bukan hanya menarik secara penampilan, tetapi juga menawan secara pemikiran dan kepribadian. Ada mantra dalam setiap perkataan Anda.

2. menemukan ide untuk bercerita dan bagaimana menceritakannya

Hampir setiap hari ide-ide berseliweran di hadapan Anda. Saking banyaknya ide-ide tersebut Anda menjadi bingung sendiri untuk memilih ide mana yang harus diceritakan. Saya sering bertemu dengan orang yang kebingungan dengan kata-katanya sendiri, ia akan berputar-putar, bingung, dan berakhir dengan menjadi orang yang membosankan. Anda pasti sering bertemu juga dengan orang yang seperti ini. Di kelas ini kita akan belajar menemukan ide untuk diceritakan, dan bagaimana Anda dapat menceritakan ide tersebut dengan menawan kepada pendengar Anda.

3. menemukan keyakinan bercerita

Jika tidak yakin dengan diri Anda atau pesan yang akan Anda sampaikan, maka Anda telah gagal menjadi seorang pembicara. Ada banyak faktor yang mempengaruhi rasa yakin di dalam cerita atau pesan yang akan disampaikan. Gestur, intonasi suara, cara berdiri, dan kontak mata adalah beberapa bagian kecil yang akan menimbulkan rasa yakin di dalam diri Anda.

4. memilih kata di dalam bicara Anda

Kata adalah peluru. Sebaiknya Anda memilih kata yang tepat ketika hendak bicara atau bercerita kepada pendengar Anda.

5. menjadi orang yang menawan, tajam, dan meyakinkan dalam berbicara

Latihan terus menerus akan membuat bicara di depan umum menjadi sempurna dari waktu ke waktu. Diharapkan dengan mengikuti kelas ini, Anda akan menguasai beberapa teknik bicara dalam waktu singkat sekaligus menambah kepercayaan diri Anda. Dan yang terpenting dari kelas ini adalah mengeluarkan kualitas terbaik dari diri Anda. Latihan yang akan saya terapkan adalah latihan yang tidak biasa, yang tidak dapat Anda temukan di kelas public speaking sekaliber artis sekalipun.

Sampai Jumpa di Kelas.


Thursday, March 2, 2017

Kelas Public Speaking bersama Theoresia Rumthe









Di kelas ini, kita akan belajar 'Seni Untuk Menyihir Orang Lain.' Peserta TERBATAS. Daftar yuk, kawan-kawan! Jangan lewatkan kelas santai dan menyenangkan ini ~ 

——

Theoresia Rumthe lahir di Ambon, 16 Oktober 1983. Saat ini, ia tinggal di Bandung, sempat aktif menjadi penyiar radio selama sembilan tahun di SKY 90,50 FM dan 101,1 MGT Radio. Ia menggagas kelas public speaking reguler-nya di Tobucil dan juga mengajar kelas public speaking di kampus-kampus di Bandung. 

Ia senang minum kopi dan membaca buku. Ia aktif mengelola dua blog berisi tulisan-tulisan kreatifnya di blog ini dan http://www.moluccaproject.com. Ia senang menulis puisi pada buku catatan kecilnya yang suka ia bawa di dalam totebag-nya. 

Buku kumpulan puisinya Tempat Paling Liar di Muka Bumi yang ditulis bersama Weslly Johannes diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada bulan September 2016. Kini cetakan kedua-nya dapat ditemukan di toko-toko buku kesayangan.

Tuesday, February 28, 2017

Perjalanan
















Jendela dan pikiran-pikiran yang mengembara adalah dua dari sekian banyak kenikmatan-kenikmatan kecil yang dapat kamu nikmati ketika melakukan perjalanan dengan kereta. Dijamin kita akan menjadi orang yang paling sibuk jika meladeni keduanya. Perjalanan dengan kereta yang sudah sangat panjang tersebut bisa jadi tambah panjang. Belum lagi jika ditambah dengan waktu tidur. Kata seorang kawan, tidur juga adalah sebuah perjalanan panjang. Ditambah pula dengan percakapan-percakapan asing dengan penumpang lain. Karena terjebak di dalam sebuah gerbong, atau karena duduk bersebelahan, maka yang diperlukan manusia adalah bicara. Meladeni manusia di sekitarnya, karena dengan begitu, manusia akan terus menjadi manusia.

“Cerah sekali ya, hari ini.” Ujarnya. Ia seorang perempuan dengan kacamata berbingkai bujur sangkar. Memakai kaos bertuliskan Radiohead. Sekilas ia tampak seperti gadis-gadis tipe kini, yang senang berpetualang dari konser musik ke konser musik lainnya.

“Iya, lumayan. Agak gerah sih sebenarnya.” Balasku sambil membuka jaket hijau armi yang kupakai.

“Mau ke mana memangnya?” Kali ini ia bertanya lagi.

“Tujuan paling akhir.” Jawabku pendek.

Ia tidak bertanya lagi, kali ini, ia hanya nyengir dan memandang ke jendela. Kami berdua kini diam dengan lamunan masing-masing. Sekilas aku melihat ke jendela, hamparan sawah yang luas, pepohonan mungil di tepiannya, burung-burung yang terbang bergerombol, dan kabel listrik panjang seperti tiada akhir.

“Memangnya perjalanan ini bakal ada akhirnya?” Lamunanku yang belum jauh itu, kemudian dipotong tiba-tiba dengan pertanyaannya kembali.

Aku mengedikkan bahuku. Aku malas ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Hidup ini harusnya leluasa. Tak usahlah dibikin rumit dengan memikirkan tujuan akhirnya segala. Tapi rasanya enggan juga aku menjawab begitu kepada perempuan ini. Karena nanti akan ada pertanyaan lanjutan. Lalu aku akan menjawab lagi. Begitu terus. Sedangkan aku hanya ingin menikmati perjalanan kali ini dengan tujuan akhirku yang entah ke mana. Aku sendiri malas untuk memikirkannya. Aku hanya kepengin menikmati waktu yang sekarang. Benar-benar sekarang.

Kali ini di luar jendela kereta kulihat titik-titik gerimis mulai hinggap. Embun mulai menutupi sebagian kaca jendela, sehingga hamparan hijau sawah di kejauhan kini terlihat samar-samar.

“Memangnya perjalanan ini bakal ada akhirnya?” Perempuan itu kembali mengulang pertanyaannya. Kupikir ia memang tipe perempuan yang keras kepala. Dan sama sekali tidak mau ambil pusing denganku yang malas bicara.  

“Aku tidak tahu. Tapi sesuai jadwal, kereta ini memang akan berhenti di tujuan akhirnya. Dan aku manut saja.” Aku menjawab datar. Dengan harapan perempuan di sampingku ini bisa diam saja dan tidak bertanya lagi.  

“Kamu aneh, maksudku, ya tinggal jawab saja, kamu akan turun di mana? Cipendeuy, Banjar, Wonosari, Kroya, atau mana saja, ya, terserah kamu.” Ia malah menimpali jawabanku dengan agak ketus. Aku lalu merasa perempuan di sampingku ini memang agak cerewet. Dan aku agak menyesali diriku sendiri yang memesan nomor kursi kereta ini semalam. Coba aku memesan nomor kereta lain. Atau nomor yang sama di gerbong yang berbeda, mungkin aku tidak akan bertemu dengan perempuan ini. Mungkin saat ini aku sedang duduk sendiri dan menikmati lamunanku saja sepanjang perjalanan ini tanpa perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari perempuan di sampingku ini. Sial!

Namun aku merasa sia-sia juga aku menjadi manusia, jika tidak meladeni perempuan ini dengan baik-baik. Aku lalu berkata kepadanya, “Aku sebenarnya tak punya tujuan. Aku hanya mengikuti ke mana kereta ini akan berhenti. Dan seperti yang kamu tanyakan, memangnya perjalanan ini bakal ada akhirnya? Kupikir, akhir itu ketika semuanya berhenti. Tetapi ketika manusia masih dapat bergerak, maka tak akan ada akhir.”

“Oh, jadi, kamu ini semacam petualang begitu?” kali ini ia bertanya dengan mata yang terbuka lebar sehingga aku dapat melihat matanya yang berwarna abu-abu muda.

“Tidak juga. Aku bukan petualang seperti yang dimaksud oleh kebanyakan orang. Aku hanya senang, berjalan, menikmatinya, dan tidak pernah peduli akan berhenti di mana.” Ada senyum merekah di wajahnya kini. “Lalu kamu sendiri, mau ke mana?” Tanyaku kini tidak mau kalah.

“Sama. Aku juga akan berhenti kemanapun kereta ini berhenti. Aku mahasiswa tingkat akhir dan sementara membuat penelitian tugas akhirku. Aku meneliti tentang bagaimana jawaban-jawaban orang-orang yang aku temui di sepanjang perjalanan terhadap pertanyaan-pertanyaan acak yang aku tanyakan sebagai orang asing. Tetapi dengan satu syarat, tidak perlu berkenalan seperti yang biasanya dilakukan oleh banyak orang. Identitas adalah rahasia.” Perempuan itu menjelaskan panjang lebar.

“Oh, jadi identitas itu rahasia. Jadi semuanya tergantung dengan apa yang kamu pikirkan saja? Tidak perlu nyambung atau menyesuaikan dengan orang yang kamu tanyakan ya?”

“Tidak.” Ia tertawa kecil kemudian melanjutkan “Iya, segala pertanyaan itu sifatnya acak, dan yang pertama kali terlintas dalam pikiranku saja. Tidak perlu nyambung. Makanya, aku sudah terbiasa dengan orang asing yang tiba-tiba jutek denganku.”

“Jadi, apa yang akan kamu teliti di sana?” Aku mulai tertarik untuk mendengarkan penjelasannya. 

Aku meneliti tentang respon manusia. Bagaimana manusia yang satu dengan manusia yang lainnya dapat terhubung tanpa perlu tahu identitas masing-masing. Keterhubungan dalam percakapan, gestur, dan pesan yang disampaikan adalah yang penting. Sedangkan identitas sudah tidak lagi penting.”

Kereta yang kami tumpangi itu memasuki sebuah terowongan panjang. Aku dapat melihat bayangan hitam panjang kini di jendela kereta dan bunyi gerbong kereta yang berdebum. Aku lalu memikirkan bagaimana jika bayangan gelap ini tidak akan ada akhirnya, dan akan menemani sisa perjalanan di kereta kali ini.

“Bagaimana dengan gelap, kamu takut gelap?” Lagi-lagi perempuan itu bertanya lagi. Perempuan itu kini terlihat menempelkan sebelah pipinya di jendela kereta.

“Aku berkawan akrab dengan gelap. Sejak kecil, aku dibesarkan di kampung yang tak ada listriknya ketika malam. Di rumah, kami hanya terbiasa membakar pelita. Pelita di rumah kami biasanya dimatikan menjelang tidur. Di dalam gelap itu biasanya aku suka membayangkan gambar-gambar acak sesuka hatiku. Biasanya mereka datang berupa tokoh, lalu aku akan menamai mereka, dan membuat cerita dari sana. Aku menyukai gelap. Kupikir gulita baik sekali bagiku untuk terus berpetualangan dengan pikiranku sendiri. Tak ada tujuan. Tak ada akhirnya.”

Aku melihat perempuan itu memperhatikan ceritaku dengan seksama, kali ini ia membenarkan letak duduknya, menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya. Udara di gerbong kereta kini sedikit pengap akibat pemanas ruangan yang sudah tidak lagi berfungsi dengan baik. Aku lalu melanjutkan ceritaku, “Ayah dan ibuku meninggal ketika aku masih sangat kecil. Aku dan adik-adikku lalu dititipkan kepada paman dari ayah kami. Namun setelah istri paman kami meninggal dunia, paman kami ini menikah lagi dengan istri yang lebih muda. Di sini cerita kami dimulai, sepanjang hari pekerjaanku adalah membantu paman di sawah. Jika di sawah sudah tak ada yang bisa dikerjakan, maka aku akan membantu istri paman kami itu berjualan di pasar. Sepanjang hari aku bahkan tak punya waktu untuk bermain dengan teman-teman sebayaku. Waktu bermainku adalah ketika gelap tiba dan sebelum tidur. Ketika gelap, aku tidak mau lekas lelap, karena di situlah waktuku untuk bermain.”

Kereta kami telah melewati terowogan gelap tadi. Kini tak ada lagi hamparan sawah di jendela. Pemandangan di luar jendela kereta telah berganti dengan sungai-sungai berwarna coklat di kejauhan. Pramugari kereta api terlihat sedang berjalan di dalam gerbong kami dengan nampan berisi makanan. Ketika menawarkan makanan, aku memesan nasi goreng, walaupun aku tahu bahwa nasi goreng di kereta api rasanya seperti handuk basah dan susah sekali untuk ditelan. Tapi apa boleh buat, lumayan juga untuk memaksa perut ini supaya kenyang. Perempuan di sampingku tidak memesan, ia malah mengeluarkan bekal makannya yang ada di dalam sebuah tupperware.

“Selamat makan.” Katanya sambil membuka tutup tupperware-nya. Kini aku dapat melihat makanan yang ada di dalamnya yaitu nasi kuning, telur balado, sedikit keringan tempe, sambal, dan kerupuk berwarna oranye. “Tadi beli di dekat stasiun, lumayan untuk makan siang. Daripada beli makanan di kereta.” Ujarnya seperti membaca pikiranku. Aku mengangguk.

“Ibuku jagoan memasak nasi kuning. Nasi kuningnya terenak. Jika ada hajatan atau acara di sekitar komplek kami, mereka akan langganan memesan nasi kuning ibu. Sehari-hari, ibu berjualan di warung kecilnya yang terletak di dekat jalan utama, tidak jauh dari rumah kami. Namun warung kecil ibu terpaksa dibongkar, karena ada proyek pembangunan trotoar.” Perempuan itu bercerita sambil mengunyah nasi kuningnya pelan-pelan. “Ya, terpaksa deh, ibu tidak berjualan dulu untuk sementara. Dan menunggu pesanan saja, padahal sehari-hari jualan ibu biasanya laku keras.”

“Iya nih, pesanan nasi gorengku juga belum datang-datang,” celetukku kemudian sambil mengelus-elus perut, “lapar!” tandasku lagi dengan muka masam. Kami berdua tertawa. Tawa yang kemudian merenyahkan suasana di antara kami di gerbong kereta itu.

“Sekarang kamu mengerjakan apa? Hm, maksudku, kamu mengerjakan apa untuk hidup?” wajah perempuan itu kembali serius ketika melontarkan pertanyaannya. “Aku tadinya bekerja di sebuah perusahaan kulit. Kami melayani pemesanan apapun dengan bahan kulit, yang biasanya kami kirimkan ke seluruh Indonesia. Pekerjaanku biasanya pergi ke daerah-daerah untuk melakukan survei untuk mendapatkan bahan kulit dengan kualitas terbaik.”

“Oh, seru juga ya bisa jalan-jalan terus!” Seru perempuan itu.

“Iya, tapi sekarang aku sudah berhenti, aku bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Aku mau mencoba peruntungan lain. Aku mau bekerja tanpa rutinitas. Sebebas mungkin..”

“Sebebas mungkin, maksudnya?” Perempuan itu memotong pembicaraanku dengan antusias.

“Kamu tahu, kadang hidup manusia hanya seperti hidup dari satu labirin ke satu labirin yang lain. Setiap pagi ketika manusia bangun, dengan segala jadwal yang ada di dalam kepala mereka, tetapi yang terjadi mereka hanya berada di dalam sebuah keterjebakan. Mereka menyangka mereka dapat pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain, mereka menyangka mereka berpindah tempat, padahal sebenarnya tidak. Mereka stuck. Mereka terbatas. Mereka diam di tempat. Aku bosan dengan semua keteraturan itu. Aku bosan dengan semua keterbatasan. Aku tidak mau dibatasi oleh apapun. Makanya aku memilih untuk keluar dari pekerjaanku. Dan, yah, aku senang dengan hidupku yang sekarang. Bebas. Tanpa tujuan.”

“Tapi, bukankah kamu tetap butuh keteraturan, makan misalnya, dan kamu tentu membutuhkan uang untuk mendapatkan makanan itu bukan?” Perempuan itu bertanya lagi sambil mengunyah makanannya, kunyahan terakhir aku rasa, karena kali ini ia menutup tupperware tersebut. Dan mengambil air minum pada meja kereta.”

“Ya, tentu, aku mengerti bahwa manusia tetap butuh uang, tetapi uang tidak dapat membatasi manusia untuk menjadi manusia. Aku masih ada sisa uang di tabungan, tidak banyak memang, tetapi masih bisalah untuk memenuhi kebutuhan makanku sehari-hari. Tapi yang kepengin kunikmati bukan itu, aku mau bebas, bebas dari labirin. Aku tidak mau membatasi diriku dengan apapun, semacam standar yang ditetapkan oleh manusia lainnya untukku. Aku mau seperti pohon itu,” aku lalu menunjuk kepada sebuah pohon mungil yang terlihat di jendela kereta, perempuan itu spontan menoleh mengikuti jari telunjukku. “Kamu lihat kan pohon itu? ia tidak menabung, ia tidak memikirkan besok mau makan apa? ia tetap hijau, ia pasrah, namun ia tetap berdiri kokoh.” Aku lalu melanjutkan kalimatku.

“Atau aku mau menjadi air itu..” kali ini kereta kami melewati sebuah jembatan yang cukup panjang dan tinggi. Aku dapat melihat sungai yang cukup curam di bawah sana. Air yang berwarna agak kecoklatan itu mengalir deras menuju sesuatu. “Air itu tidak pernah khawatir ia akan mengalir ke mana ya kan? Ia percaya diri saja. Ia seperti terus berjalan. Tak pernah sekalipun ia kelihatan bingung, atau bertanya hendak ke mana ia mengalir, sebaliknya ia tenang dan hanyut saja.”

Aku lalu merogoh laci ranselku untuk meraih botol minumku. Aku sampai lupa sejak bicara dengan perempuan ini dari tadi aku bahkan belum minum sedikit pun. Ketika mengeluarkan botol minumanku, ada secarik kertas yang ikut tercerabut keluar dan jatuh ke lantai, aku memungutnya dan menyadari bahwa itu adalah karcis keretaku. Aku membuka lipatan karcis tersebut dan membaca tulisannya di sana, “SELAMAT MENIKMATI PERJALANAN TANPA TUJUAN BERSAMA KERETA INI. KAMI TIDAK AKAN BERHENTI KECUALI JIKA ANDA MENGINGINKANNYA.”

Perempuan di sampingku ikut-ikutan melongokkan kepalanya. Dan spontan ia meraba saku celananya dan mengambil karcis kereta yang juga ada di dalamnya, kemudian membukanya dan mendapati tulisan yang sama di sana.

Semburat senyum lalu merekah di pipi kami.

Senja kini hinggap di jendela kereta. Aku dapat melihat langit berwarna oranye bercampur merah muda pudar di kejauhan dan samar-samar dari pengeras suara di kereta terdengar lagu dari Radiohead, Daydreaming, 

“dreamers, they never learn, they never learn, beyond the point, of no return, of no return, then it’s too late..”
___

Mendapat inspirasi menulis ini ketika di dalam kereta menuju solo. Lalu menyelesaikannya di salatiga, kamis 28 Feb 2016, pada pukul 14:53.


Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...