Thursday, July 1, 2010

#1 cinta itu air mata

yang begitu mencintai pipi sehingga ia ingin jatuh melulu ke atasnya. menyentuh lama. kemudian bergulir ke tanah. aku kepingin punya berember-ember air mata kusimpan di gudang.

kelak, ketika kita menikah. kita akan bangun rumah kita dari air mata. supaya rumah kita berembun selalu, sejuk pula, sekaligus jernih ketika kita memandang sesuatu. jangan menyeka terlalu keras, kalau kau tak ingin matamu terluka.

air mataku dan air matamu. kita sambung menjadi fondasi yang kokoh. karena begitulah air mata, bukankah ia ada tidak hanya ketika kita terluka tapi juga bahagia. melebur menjadi satu. dasar yang teguh.

air mata membuat aku setia kepada kesakitan. karena untuk apa aku mencinta tanpa rasa sakit. tapi air mata juga membawa aku setia kepadamu, karena harusnya aku bersyukur kalau mencinta itu tak perlu bertanya melainkan merasa.

sekarang berember-ember air mata kutampung terus. masih kusimpan rapih di dalam gudang. sudah berapa ember, entah. yang pasti, sampai saat ini masih menetes. kadang ia menetes dalam diam. tak kelihatan. pipiku kering.

tapi hatiku basah. mungkin ia malu mengunjungi pipi. atau ia malu kau tahu, selalu ada air mata untukmu. selalu ada cinta untukmu. kau pernah bertanya? berapa banyak aku mencintaimu. aku diam saja, tidak menjawab.

sayang, selama ada air mata, itu cinta.

01.07.2010, 10:10

3 comments:

  1. wuaaaaahhh... saya makin jatuh cinta sama tulisan mbak. sederhana, tapi tetap indah. setiap saya baca ada semacam spirit didalamnya. bener2 menginspirasi saya utk menulis puisi seperti mbak.
    Good Job!! btw, saya link ya mbak blog ini ke blog saya :)

    ReplyDelete
  2. #air mata membuat aku setia kepada kesakitan. karena untuk apa aku mencinta tanpa rasa sakit. tapi air mata juga membawa aku setia kepadamu.#

    love it ka. *hug*

    ReplyDelete
  3. in this post, 'your' full-stops always made me breathless, and said "oww .." in silent. then I continued reading until the next full stop, yet back to same ritual.
    So, when I came to the last line.. the last full stop.. I cudn't stand it and yelled "ahh! crazy!! Simply Touching!"

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...