Wednesday, June 30, 2010

Aku Punya Rumah

rumahku tidak mewah seperti yang kau bayangkan. rumahku tidak juga gubuk. rumahku biasa saja. dengan halaman yang cukup lega untuk buatku bermain, menerbangkan balon, sesekali tidur di rerumputan, sesekali bernyanyi dalam diam, sesekali menari dalam bisu.

di sana ada tempat tidur tua, ada foto-foto aku bersama saudara-saudariku, ada fotoku pakai gaun berenda, rok lipit-lipit, sendal jepit, dengan gulungan rambut dimana-mana. sesekali di foto itu, ada aku sedang menangis lebar-lebar.

ada jendela besar. ada rayap suka menggali di sana. ada kecoa suka sembunyi di balik kolong. ada berantakan. ada banyak hutang mencuci baju kotor, dan gelas-gelas kotor dimana-mana. ada bau.

ada ruang tamu seadanya. rak buku lapuk di tengahnya. karpet yang sudah lama tidak di jemur. dan kamar mandi sederhana. di sana ada cermin tempatku berkaca setiap pagi, menghapus make-up yang berlebihan. ada closet tempatku mengalirkan air mata.

ia tetap rumah. tempatku belajar merangkak, panggil ma ma pa pa, ngompol, jatuh, berjalan, berlari, terbang, lelah, kemudian terbang lagi. ia tetap rumah, selalu ada yang mengepul dari dapurnya. walau itu hanya masakan sederhana. tapi mengenyangkan.

ia tetap rumah. tempatku jatuh cinta pertama kali. tempatku belajar bilang ILOVEYOU. sampai tempatku patah hati. dan kemudian mau jatuh cinta lagi. tempatku menabung cita-cita. tempatku belajar kalau Tuhan suka dansa. tempatku berbagi rahasia: mulai dari cerita-cerita lugu tentang ciuman pertama, sampai kejadian istimewa. tempatku menjadi dewasa.

ia tetap rumah. tempatku berpelukan semalaman. membalut lukaku di balik selimutnya yang rapuh. karena bertumbuh itu ternyata sakit. apapun ia bagiku, aku baginya, ia tetap rumah, dan aku menyayanginya (tanpa titik)

ia tempatku pulang.

28.06.2010, 12:37

*untuk Glorify the Lord Ensemble.

2 comments:

  1. Theo makasih buat tulisannya,... mengingatkanku akan rumahku. Air mata ku sempat mengalir juga baca tulisanmu. Makasih Theo,...makasih banget,.....

    ReplyDelete
  2. aku suka rumah. tapi kadang aku benci rumah. benci sekali. tapi ia tetap rumah. tempat dimana aku pasti kembali. tiada tempat yang lebih nyaman dari rumah. aku pasti kembali ke rumah. pasti. karena aku menyayanginya. sama seperti kau menyayanginya (tanpa titik)

    *great job ka*
    :) love u.

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...