Monday, May 23, 2011

11:11

weheartit


11:11 yang tersohor itu, adalah sesuatu yang nyata. Bukan hanya sekedar penanda akan sesuatu, ia memberikan pengertian baru bagaimana menjadi sabar itu hakiki. Kehidupan yang terburu-buru hanya akan menyenangkanmu sementara. Inilah mungkin yang disebut mengekalkan pikiran, melatihnya untuk taat kepada waktu dan tidak egois. Berpapasan dengan angka kembar yang itu-itu saja bisa jadi adalah rasa kangen; tetapi tak ingin bertemu karena masing-masing telah memilih jalannya sendiri.

Kemudian 11:11 bisa jadi adalah rasa gengsi, karena pernah ada perjanjian terselubung di sana. Antara kamu, dia dan entah  siapa—mengingatnya akan membawamu kepada kenangan. Tapi kenangan itu busuk, ia sengaja mempengaruhimu untuk setia pada masa lalu. Padahal bukankah hidup ini terus maju. Sesekali memang tinggal di tempat—diam. Dan tidak lama tersadar kembali untuk maju ke depan.

11:11 itu seperti hujan. Tergelincir dari langit karena hendak menyentuh tanah. Tapi tentu tidak bisa langsung, ia harus terlibat dengan banyak, ranting pohon, atap rumah, jendela, payung-payung warna, pelipis, rambut—semuanya. Jadi pilihannya, ia hanya bisa melalui alur itu dengan sabar, pelan-pelan untuk menemui yang dicinta.

Kecuali itu memang adalah pilihan. Ah, membuat pilihan toh tidak selamanya salah, yang salah itu yang pasif dan tidak membuat pilihan apa-apa. Terperangkap di wilayah abu-abu. Padahal warna itu jelek, kecuali jika diberi aksen tertentu. Pagi ini di jalan ketika hendak berangkat saya menemukannya di plat mobil—11:11 yang tersohor. Entah itu mobil siapa? Bukan urusanmu. Memandangnya dari kejauhan, ia tak tampak romantis lagi seperti dulu, karena ia mengandung perpisahan. Perpisahan sekaligus pertemuan dengan batas. Kalau besok bertemu lagi dengan angka yang sama, siapa tahu kita memang berjodoh. 

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...