Monday, May 16, 2011

Lampu Merah

weheartit

Yang paling menarik dari lampu merah adalah STOP. Berhenti. Menginjakkan kaki di rem. Ketika berhenti yang dilakukan adalah menunggu untuk bergerak maju lagi. Ketika di mobil, kamu bisa menguap, bernyanyi kecil, memainkan jari-jarimu di setir, melihat di sekitar, muka pengamen muncul di jendelamu, tukang jual koran, tukang jual bunga, tukang minta-minta, anak-anak kecil yang tertawa terbahak, atau Ibu-ibu mengantuk.

Ketika berhenti di persimpangan, jangan buru-buru jalan terus. Apalagi jalan cepat, ketergesaan hanya akan membuatmu bingung. Cobalah berhenti sebentar, lalu mengamati sekitarmu. Ketika berhenti, yang dilatih adalah caramu—mengamati dengan mata mengamati dengan hati.

Suatu ketika, saya pernah berhenti di lampu merah kesekian.. di samping kiri dan kanan seperti memaksa saya mengambil keputusan untuk bilang “Ya” atau “Tidak”. Dua kata yang tidak bisa diputuskan segampang itu sebelum belajar mengamati. Kemudian saya mengambil jeda. Diam dan mengamati sebentar. Terlalu gelap kalau bilang “Ya” dan setengah buram juga untuk bilang “Tidak.”

Jujur saja berhenti adalah posisi yang paling menyebalkan. Karena saya tidak bisa sabar. Juga tidak mau belajar sabar. Tetapi ketika bertemu dengan lampu merah mau tidak mau, saya seperti setengah dipaksa untuk diam. Mereka seakan tahu, kalau saya memang tipe yang tidak bisa dipaksa. Tapi kali ini lain, saya mau menurutinya. Ketika pada akhirnya berhenti, di sebelah kiri saya ada sebuah wajah. Wajah yang begitu saya kenal. Wajah yang pernah membuat saya jatuh—sangat. Dalam kurun waktu tertentu, seakan ada magnit yang begitu kuat.

Berhenti adalah saatnya untuk sabar.

Ketika di lampu merah—pada suatu ketika. Saya akhirnya bilang “Tidak” bukan berarti saya mengaku kalah, tetapi lampu merah bisa jadi adalah pemberhentian. Bisa jadi adalah pause yang disengaja. Jeda yang mungkin saat ini sedang dibutuhkan. DIAM panjang yang selama ini hilang. Lamunan untuk kemudian berpikir. Lampu merah adalah peringatan—keputusan.

Saya tidak bisa mengira-ngira seberapa baik keputusan ini untuk kedepannya nanti. Tapi yang pasti lampu merah dibutuhkan oleh orang yang peragu seperti saya. Bukan bilang “Tidak” untuk mundur, tapi kali ini bilang “Tidak” untuk maju terus. Melesat jauh. Susah dikejar. Naik dan terus naik.

Sekarang lampunya berubah hijau, tarik nafasmu dalam-dalam, nyalakan gas. Cepat! Melaju.

LOVE,
The.

*hari ini saya habis jalan jauh, sepanjang kira-kira lima lampu merah. Lalu berpikir untuk membuat tulisan ini. Tulisan ini dibuat di studio sambil menunggu rekaman bersama Glorify, selesai pukul 14:57. Coba sekali-kali jalan-jalan lalu amatilah lampu merah, siapa tahu kamu menemukan sesuatu yang menarik di sana. 

2 comments:

  1. Ketika berhenti di persimpangan, jangan buru-buru jalan terus. Apalagi jalan cepat, ketergesaan hanya akan membuatmu bingung. Cobalah berhenti sebentar, lalu mengamati sekitarmu. Ketika berhenti, yang dilatih adalah caramu—mengamati dengan mata mengamati dengan hati.

    saya suka paragraf ini :)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...