Thursday, May 5, 2011

Kolong

Pagi ini gerimis di luar. Membuat saya sedikit malas untuk turun dari tempat tidur. Tapi tidak lama kemudian ada yang mengendus di depan pintu, sudah pasti itu Jacob. Ia bukan anjing saya, ia anjing pemilik rumah dimana saya tinggal. Tapi Jacob sudah seperti anjing saya sendiri. Kita sering berbagi cemilan. Cemilan keju kesukaan saya pun dia suka.

Saya menyukai hidung Jacob dan suka mencium hidung anjing itu dengan gemas. Saking gemasnya biasanya saya mencium hidungnya dengan cukup keras. Itu membuatnya sedikit tidak suka. Maafkan saya, Jacob. Kalau Jacob masuk ke kamar, ia langsung pergi ke kolong tempat tidur saya dan tidur di sana—entah kenapa. Sampai hari ini, saya suka memperhatikannya, lalu bertanya-tanya, kenapa Jacob menyukai kolong tempat tidur saya.

Dulu ketika kecil, saya juga menyukai kolong tempat tidur. Selain menyukai dinding—saya pernah cerita saya punya seorang kawan, rumahnya di dinding bernama Doda. Semoga kamu ingat. Tapi saya sangat menyukai kolong tempat tidur, saya biasa masuk ke dalam kolong tempat tidur dan bermain di sana.

Hal yang paling saya ingat adalah, saya bermain rumah-rumah kecil, membuat semacam ayunan, berbicara sendiri meniru cerita-cerita film, dan melamun-- betul semua saya lakukan di bawah kolong. Ya, sedari kecil saya sudah menyukai melamun. Selain itu ketika masuk ke kolong saya menyukai debu-debu yang biasanya berserakan di kolong—mereka seperti awan. Entah, ini hanya saya saja tapi apa kamu juga merasa seperti itu. Debu di bawah  kolong itu warnanya abu-abu, menempel di kayu-kayu tempat tidur. Saya suka memperhatikan pemandangan ini berjam-jam.

Saya menghabiskan waktu di kolong selama berjam-jam. Kalau sudah begitu, saya bisa ketiduran di sana. Satu hal yang akhirnya saya sadari setelah bertahun-tahun kemudian, adalah ketika masuk ke kolong itu sebenarnya saya seperti bersembunyi—bersembunyi dari apa? hanya saya, si anak kecil itu yang tahu.

Ketika bersembunyi, banyak melamun, lalu melihat awan di sekitarmu—itu seperti sedang bermimpi. Kelak,  saya bisa pergi ke tempat-tempat jauh, yang pernah saya bayangkan ketika masih di kolong dulu.
Seperti itulah mimpi. Kamu mengkhayalkannya di tempat-tempat tersembunyi, hanya kamu dan hatimu yang tahu—lalu ketika kamu bermimpi pada saat itulah kamu mulai berjalan sendirian. Saya pun tidak pernah mengajak siapapun masuk ke kolong—hanya saya sendiri. 

Ah—akhirnya saya mengerti mengapa Jacob juga suka tidur di kolong—mungkin, ia juga suka bermimpi di sana. Bermimpi bahwa kelak, ia juga bisa pergi ke tempat-tempat yang jauh. Tapi tidak pagi ini, Jacob habis bermain di bawah gerimis, kakinya basah, bulu-bulunya sedang kotor, jadi saya tidak mengijinkannya dulu untuk masuk ke kamar. Ia kesal—hanya bisa mengendus-endus lalu menggonggong dari depan pintu kamar.

LOVE,
The.

Dago 349, 5 Mei 2011. 10:07

4 comments:

  1. wow, saya suka postingan nya kaka. saya pun waktu kecil suka main-main di kolong tempat tidur. hanya main sendirian maupun sembunyi dari ibu ketika disuruh mandi =)

    ReplyDelete
  2. kaka terimakasih follow balik nya,seperti mimpi rasanya. hihihi =]

    ReplyDelete
  3. kamu beruntung jacob kembali... saya punya hamster yang hobinya juga main di kolong tempat tidur. Kalau sudha keluar debu yang menempel di tubuhnya bikin saya bersin - bersin tapi dia meninggal pagi ini waktu melahirkan. Dan saya menangis. Haha cengeng ya...

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...