Tuesday, May 24, 2011

“Peace be upon you”

Bagi saya tidak ada yang lebih menggairahkan selain menuliskan sesuatu. Seperti loncat-loncat di kepala, sesuatu yang saya lihat tiba-tiba berubah menjadi kata-kata. Tidak sampai di situ, kata tadi kemudian menghantarkan saya kepada kalimat panjang. Duduk di angkot lalu mengamati adalah pekerjaan yang menyenangkan. Saya punya satu kebiasaan favorit, saya suka sekali duduk di angkot bagian depan, persis di samping supir lalu mengamati.

Dengan hanya naik angkot banyak hal remeh yang kemudian memberitahu saya sesuatu tentang kehidupan. Sepanjang jalan, banyak hal yang selalu menarik perhatian saya, kalau saya tidak ketiduran di angkot: gosip seputar abege, obrolan gadis umur lima dengan abangnya, ibu-ibu tukang telepon, bapak wangi dan bergaya parlente, atau anak-anak SMA bau matahari yang makan es ketan durian. Menemukan kemeriahan ini, bagi saya adalah petualangan.

Mereka bunyi, mengingatkan saya bahwa hidup ini beragam. Tidak hanya satu warna. Selalu banyak motif, kalau tidak tipe orang pembosan seperti saya tidak mampu menemukan sesuatu yang menarik. Angkot dengan segala kesederhanaannya, saya suka. Ada satu pemandangan yang tidak pernah luput dari penglihatan saya, yaitu sebuah toko yang terletak di jalan ke arah kantor.

Lebih tepatnya ini adalah sebuah distro. Ia terletak di persimpangan jalan veteran, persis di depan lampu merah. Beberapa waktu yang lalu, saya perhatikan toko ini sempat memberikan diskon besar-besaran, saya curiga jangan-jangan toko ini memang akan sebentar lagi tutup. Dan kecurigaan saya belum tentu benar. Yang menarik dari toko ini adalah tulisan di depan tembok luarnya “Peace be upon you” setiap kali saya berangkat, kata-kata ini selalu berteriak kepada saya. Konfirmasi itu datang ketika kamu merasakan damai sejahtera di dalam jiwamu.

Menjadi menarik karena begini: letak toko itu persis di depan persimpangan. Ketika kamu bingung mau belok ke kanan-kiri atau terus maju? Langkahkan kakimu dengan sejahtera itu. Sejahtera yang berasal dari dalam jiwamu. Setiap melewati jalan ini, saya semacam diingatkan berulang kali untuk tunduk kepada sejahtera. Ini sebagai tanda, apakah saya masih bisa melanjutkan perjalanan ini apa tidak.

Sebagai petualang, terkadang kita—saya dan kamu dihadapkan dengan banyak sekali persimpangan. Apa yang harus kita lakukan, kita bisa belok kanan, belok kiri, maju ke depan, atau berhenti sejenak. Apapun yang kita lakukan, selama ada sejahtera di hati yang merayap ke dalam jiwa, tidak mengapa. Karena hanya perasaan ini yang dapat membuat kita sentausa.

LOVE,                                                                                                                                             
The.

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...