Monday, May 2, 2011

Turun Dalam Rupa Cahaya




Kali ini—saya mendengarkannya sambil duduk di kursi rotan putih reot, menghadap ke pohon buntung. Saya juga tidak tahu pohon buntung itu namanya apa. Hanya saja bentuknya seperti badan orang dengan tangan dan kaki tetapi tidak mempunyai kepala. Makanya saya menamakannya pohon buntung. Masih untung itu buntung bukan bunting. Bisa bahaya kalau bunting, saya juga pasti akan kebingungan mencari tahu siapa yang telah menghamili pohon itu.

Di luar sana mendung patah—hujan seperti ingin menangis. Rumput kedinginan dan poninya tak lagi berterbangan. Gelegar guntur begitu pilu di langit. Sementara angin dingin tidak peduli—mereka tetap menyusup sampai daging. Sweter merah saya bahkan tak cukup tebal untuk menutupi kebingungan—


Begitulah hidup—sepanjang hidup kita memang akan selalu bertanya. Tapi tidak setiap kali kita menemukan jawabannya. Atau mungkin sengaja kita tidak mau bertanya—jadinya kita hanya diam. Ah—tapi bukankah dalam diam pun sebenarnya sedang bertanya.

Tetap berakhir dengan kebingungan. Akhirnya muncul seperti ini bertanya dulu baru kemudian bingung atau bingung dulu baru kemudian bertanya. Untuk yang satu ini saya tidak bisa menjawab. Saya pun bingung.

Ini adalah album yang sudah saya putar berkali-kali. Saya tidak hafal semua judulnya, tapi saya tahu ketika siapa selesai dan sekarang giliran siapa yang hendak membuat bingung. Saya selalu tahu kalau setelah Preambule, Jalur Gaza, Pengantar Pesan Mimpi—berhenti di sini, memutar track-nya sekali lagi, dua kali, beberapa kali—lalu mulai menghapal. Bisa jadi saya adalah gadis yang diceritakan di dalam lagu itu. Lalu dikejutkan dengan Lonely When I’m Better—berjoget dengannya—dilanjutkan dengan Kupu-kupu Besi yang misterius. Kemudian Noise Never End Honey, I’ll take you, to the trees that never stop to move. Where the long neck body with the light luminescence, it never speaks. Silent among the sun. Dari semua track, ia favorit saya. Pernah di suatu subuh, karena tidak bisa tidur saya hanya memutar track ke-tujuh ini berulang-ulang—menangis lalu tidur dengan mata bengkak. Ia akan mengantarkanmu kepada sunyi.

Belum sampai di situ masih ada Ray Manzarek, From the Eyegelap sontak menjadi benderang. Puluhan lingkaran kecil bergerak acak dan berputar. I swept the darkness tears, from the eye. Mungkin lirik ini adalah gambaran dari kebingungan yang saya maksudkan dengan kebingungan di atas. Solving Labyrinth—semacam ingin membuat penjelasan. Lalu Asmaradhana bukan penutup, ia adalah bonus track. Jadi ini hanya kesimpulan dungu saya: hidup yang membingungkan itu bonus.

Tapi ijinkan saya untuk mengatakan ini, kebingungan akan membuatmu berpikir—lalu ada kecerdasan baru yang kemudian akan kamu temukan di sana. Temukan kebingungan sekaligus kecerdasan baru ketika kamu mendengarkan album ini.

Dago 349, 1 Mei 2011. 16:54.

*Tulisan ini dibuat untuk (semacam) mereview Album Turun Dalam Rupa Cahaya oleh Airport Radio. 

2 comments:

  1. halo perempuan sore..!
    kami dari airport radio,
    terima kasih sudah berkenan mendengarkan lagu track 7, sampai menangis dan bengkak mata.

    kami tidak menyangka ada seseorang yang begitu mengapresiasi sebegitu mendalamnya.:)

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...