Monday, May 23, 2011

Mengingat

Di suatu siang, ketika udara di Bandung sangat dingin. Saya berbaring dan membaca sebuah buku—saya berencana untuk me-reviewnya. Ingatan saya kembali ke ketika saya ada di umur tujuh atau delapan saya pernah menyukai seorang anak laki-laki. Saya ingat waktu itu kita pernah mengunjungi rumahnya, ia adalah seorang anak laki-laki kurus, dengan pipi tirus, rambutnya dipotong pendek sekali. Lucu, ketika diingat-ingat lagi, waktu itu saya pergi ke rumahnya dengan memakai dress pendek dan rambut saya diikat dua oleh Ibu.  Ketika di umur itu, mungkin saya belum paham benar apa itu artinya menyukai—tapi yang paling saya ingat ketika pulang dari rumahnya—saya suka sekali melihat muka saya di kaca dan berpikir “Hmmm, kira-kira dia suka tidak dengan tatanan rambut saya ya?”

Ketika SD saya juga sangat menyukai teman satu tempat duduk saya, namanya Fello. Saya akan cerita sedikit tentang Fello, ia ganteng. Fello, anak laki-laki kecil berbibir merah. Kulitnya coklat muda dan selalu kemerah-merah kalau terkena sinar matahari. Rambutnya biasanya disisir ke samping sebelah kanan—kalau tidak salah ingat. Dan selama beberapa lama saya mendapat kesempatan duduk berdua saja dengannya di kelas.

Saya dan Fello punya satu kebiasaan, kami berdua suka bermain mama dan papa atau versi “rumah-rumahan” ketika pelajaran sedang berlangsung. Saya akan mengeluarkan kertas, lalu mulai menggambar rumah, membuat jendela, menggambar orang laki-laki dan perempuan, membuat nama mereka masing-masing—saya mencipta mereka dan Fello yang akan menentukan kegiatan mereka selanjutnya. Saya menyukai Fello, tentunya saya tidak selamanya akur dengan Fello tapi yang saya ingat saya pernah punya sesuatu yang sedikit dalam kepadanya. Sejak saat itu, setiap hari ketika hendak ke sekolah, saya selalu sengaja berdandan untuknya. Dan berharap saya juga disukai oleh Ibu Fello, yang biasanya  mengantarkannya ke sekolah.

Ah, ini hanya kisah-kisah anak kecil yang bermain cinta-cintaan. Saya salah satunya. Kamu juga pasti punya. Kini setelah jauh-jauh menjadi dewasa, saya suka kagum dengan betapa detailnya saya mengingat mereka—orang-orang yang pernah saya sayang. Dan menuliskan ulang, selalu membuat saya bersemangat. Ketika dewasa, menyukai seseorang bukan berarti jatuh cinta terhadapnya. Bisa jadi, hanya merasa nyaman, nyambung, bahkan selalu merasa aman. Hal ini mungkin berlaku terhadap sahabat. Mereka bisa membuatmu seperti itu.

Tetapi ketika mencintai seseorang, ini urusan istimewa. Kadang tidak menunggu apa yang bisa dilakukan seseorang itu terhadap kamu tapi apa yang bisa kamu lakukan terhadap orang itu. Bukan hanya masalah bagaimana orang itu rela. Tapi bagaimana saya bisa lebih rela terhadap orang itu. Tapi satu hal yang saya tahu ketika saya jatuh cinta adalah detail. Saya bisa menuliskan seseorang atau sesuatu begitu detail. 


Walaupun saya meyakini bahwa bahasa dan kata apalagi emoticon selalu punya kekurangan. Mereka terkadang terlalu kaku untuk menggambarkan apapun yang sedang di rasa. Tapi detail itu tidak pernah hilang. Detail itu seperti terngiang-ngiang di kepalamu, detail itu memantul dengan keras—sampai bunyinya pun bisa dituliskan. Mencintai lalu mengingat dengan detail, itu istimewa.

Fello hanya sebagian kecil dari ingatan saya, yang bisa saya bagi. Mungkin saat ini Fello sudah menikah—entah. Tapi perihal akan detail dan mengingat ketika saya sedang berada lebih dalam kepada seseorang ini betul-betul pelajaran. Mungkin setelah itu akan menjadi kenangan. Kenangan indah—kenangan busuk. Tergantung bagian mana yang hendak kamu ingat. 

2 comments:

  1. kenangan dan kegiatan mengingat - ngingat kembali (menurut saya) adalah bagian paling istimewa yang membuat kita ternyata harus tetap sadar bahwa setiap waktu yang kita lewati dalam hidup haruslah memiliki nilai.

    tentang ukuran nilai tentu adalah subjektif, tergantung kebutuhan dan tergantung apapula tolak ukur yang dipakai. tapi mengapa bagi saya setiap waktu dalam hidup harus bernialai adalah agar ketika akhirnya kita berhenti (atau menghentikan waktu) dengan mengingat - ngingat kembali kenangan, kita bisa tersenyum dengan bilang " saya bahagia pernah ada distu dan akan terus mengingatnya "

    >> Fello, semoga membaca tulisan ini :)

    ReplyDelete
  2. Belajar lagi dr tulisan ini. "Ketika dewasa, menyukai seseorang bukan berarti jatuh cinta terhadapnya. Bisa jadi, hanya merasa nyaman, nyambung, bahkan selalu merasa aman. Hal ini mungkin berlaku terhadap sahabat. Mereka bisa membuatmu seperti itu"

    Sy beberapa kali "bertemu" dg org2 yg membuat sy nyaman...tp masih bimbang apakah itu cinta atau bukan

    Ah, apapun itu....sy suka tulisan2 Mbak Theo :)

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...