Tuesday, April 19, 2011

Sop Bulan Sabit







Gadis kecil dengan rok lipit merah biru berlari-lari  sesekali bermain pasir. Ia dengan tangan-tangan kecilnya yang gemuk mengaduk pasir memasukannya ke dalam tatakan seperti dandang, lalu menanaknya di kompor.

Setelah menanak pasir. Ia lalu mengambil batu-batu, kemudian dedaun di sekitarnya yang dicincang halus. Seperti lauk yang biasanya kamu makan di mejamu. Dan sekarang waktunya membuat kopi, di dekat pasir ia melihat tanah merah sedikit kehitaman.

Mencampurnya dengan air, lalu ia seperti merebus kopi. Sekarang waktunya ngemil, ada pisang mentah. serbuk daun jambu yang seperti keju. Dan batu-batu kecil seperti taburan coklat. Tapi ia tidak suka manis, ia lebih suka asin. Lalu, ia memutuskan untuk hanya membuat pisang keju saja.

Belum terlalu sore, tetapi heran sekali bulan sabit sudah muncul. Apa yang bisa ia perbuat dengan sabit, pikirnya. Bentuknya seperti celurit, yang biasa dipakai Ayah untuk memotong rumput. Sabit juga seperti sisir Ibu, yang dipakai menyisir rambutnya tiap pagi.

Ia kemudian berjalan ke langit. Menurunkan bulan sabit itu dengan tangannya sendiri. Ah, cukup berat rasanya. Tangan-tangan kecilnya yang gemuk pun tampak kesusahan memegang bulan sabit itu. Sesekali ia agak oleng. Keringat di dahi membasahi poninya.

Ia akan mulai memotong-motong bulan sabit itu. Mencampurnya dengan sedikit garam. Membuat air kaldu. Lalu menu makan malam kali ini adalah sop bulan sabit. Selesai memasak, ia mengambil mangkok warna-warni dari tempat mainannya.

Menghiasinya sedikit dengan tomat yang ia curi di tengah perjalanan pulang mengambil bulan sabit tadi. Membungkus peralatan masaknya kembali. Menutupnya kembali. Mengikat serbetnya rapat.

Semoga Ayah tidak mabuk. Semoga Ayah senang. Semoga Ayah tidak memukulnya lagi malam ini.

Doanya dalam hati, sepanjang perjalanan pulang.

1 comment:

  1. Imajinatif =)

    Anak-anak tetep manis, no matter what. Meskipun sering dipukul ayahnya, dia tetep dateng dengan sop bikinan sendiri dengan bahan yg butuh effort ngumpulinnya =D

    Semoga bulan sabit berkorban dengan ikhlas ...

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...