Wednesday, April 27, 2011

Secangkir Latte Dingin.





Aku akhirnya pulang dan membuat kopi Latte—meminumnya pelan-pelan lalu merasakan pahitnya di kerongkongan. Ada pertanyaan yang kemudian menabrak benakku sejenak—sebegitu dalamnya kah kau mencintainya?—entah kenapa tiap-tiap mendengar kata cinta ada yang bergetar di hati, ada yang bikin mataku berkaca-kaca—pipiku basah.

Pertanyaan baru kembali muncul dalam benakku pernahkah kau membenci seseorang? Aku tidak membencinya. Sebaliknya aku menyayanginya. Dan aku ingin yang terbaik untuknya. Pertanyaan sekaligus jawaban-jawaban itu mengalir deras di dalam pikiranku—menangis kembali. Tak ada tissue. Lengan sweterku malam itu yang menjadi saksi, banyak air mataku yang singgah di sana.

Ketika kau sangat membenci seseorang. Mungkin aku harus berhati-hati, karena rasa itu bisa saja berubah menjadi benci. Begitu mudah terbalik. Kau tidak akan pernah menyangka bahwa perasaanmu kini telah berubah.

Tadi sepanjang perjalanan pulang, ada sepasang kekasih di motor. Aku melihat mereka berhenti di lampu merah. Tanpa turun dari motor, laki-laki iu lalu memanggil tukang penjual mawar yang biasanya nangkring di simpang. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar ribuan. Tak lama kemudian, ia telah memegang sekuntum mawar. Yang akhirnya ia berikan kepada perempuan itu.

Aku tertegun cukup lama, melihat pemandangan itu. Aku berpikir bahwa, suatu hari kelak kau juga akan melakukan hal yang sama untukku. Tapi mungkin itu hanya angan-anganku saja. Dan hidup dengan angan-angan kosong itu sama sekali tidak berguna, bukan?

Kini, aku begitu membencimu. Aku tidak ingin melihatmu bahagia. Terlalu tipis perubahannya, kau bahkan tidak menyadarinya. Aku memang sengaja, melakukannya perlahan. Supaya nantinya kau akan tersiksa, begitu kau sadar lalu menyesali.

Begitu terlambat.

Kita adalah sepasang kekasih, yang tidak hanya berbagi bunga, tapi juga berbagi cium, peluk, sampai berbagi selimut di tempat tidur. Banyak cerita yang hanya kita berdua yang tahu—dan hanya aku yang memahami tubuhmu—walaupun ini juga adalah angan-anganku yang kosong. Aku begitu mencintai sampai aku juga begitu membencimu—terlalu tipis.

Mungkin saat ini yang aku inginkan adalah, untuk selama-lamanya kau tidak akan bahagia. Mungkin ini bukan hanya keinginan. Ini doaku yang aku kirim untukmu melalui setiap tegukan latte dingin di dalam kerongkonganku.

Dago 349, 26 April 2011. 23:33

5 comments:

  1. Tuhan, maha membolak balikkan hati :|

    ReplyDelete
  2. Inget, nggak lagu taun 80-an, The ? "Benci, benci, benci, tapi rindu jua ..."

    Tipis memang.

    ReplyDelete
  3. iya ya batas antara benci dan cinta tipis sekali. hari ini benci bisa saja besok sudah cinta mati

    ReplyDelete
  4. penggalan tentang sepasang kekasih di tulisan ini nyata dan indah, kak :')

    aku berdoa Tuhan mengirimkan seseorang yang tepat untuk kak Theo sesuai waktuNya.
    Tuhan sertai penantianmu, kak :)

    ReplyDelete
  5. oh Tuhaaaannn..

    "Ada pertanyaan yang kemudian menabrak benakku sejenak—sebegitu dalamnya kah kau mencintainya?—"

    sekaligus ada sebuah pertanyaan, sebegitu besarkah keinginanmu untuk membencinya? :|
    membencinya hanya akan membuat rasa itu semakin kuat. damn!
    *misuh2 :))*

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...