Thursday, April 7, 2011

kloset.




Adalah tempat yang mistis. Tempat kamu duduk sendirian. Menelanjangi pikiran-pikiranmu. Senyum-senyum sendiri. Tertawa di dalam hati. Menangis dan melihat wajahmu di wastafel. Atau berkhayal tentang masa depan.

Bahkan bertemu Tuhan.

Saya bukan penganut Kristen yang baik. Saya tidak pergi ke gereja setiap minggu. Bagi saya, bertemu dengan Tuhan mendapat tempat yang lebih dari sekedar pergi ke gereja dan mendengarkan khotbah berjam-jam -- ini membosankan.

Bertemu dengan Tuhan lebih banyak saya lakukan ketika saya duduk lama di kloset. Ini menjadi pertemuan yang sangat intim antara saya dan Tuhan—ketika saya telanjang. Datang dalam segala ketidaktahuan, datang dalam segala kelemahan, bahkan kebodohan yang saya punya, dan duduk telanjang di hadapanNya.

Hal ini membuat konsep saya tentang Tuhan berubah. Tuhan yang saya kenal tidak eksklusif. Sudah lama Beliau pensiun dari gereja. Dan mencarimu ketika kamu telanjang. Heran sekali, ketika banyak orang-orang yang datang kepada Tuhan dengan pengetahuan penuh mereka. Seakan-akan mereka lebih Tuhan daripada Tuhan sendiri.

Pagi ini saya duduk dan merenung lama di dalam kloset. Apa yang sudah saya capai sepanjang usia dua puluh tujuh. Usia yang cukup sulit. Usia dimana banyak sekali rockstar yang mati. Kamu mengerti kan maksud saya.

Lalu ketika saya bertanya apa yang telah saya capai di umur dua puluh tujuh. Apakah saya betul-betul ada di jalur yang benar. Apakah saya betul-betul mengerjakan passion saya. Apakah pilihan-pilihan yang saya ambil selama ini sudah benar?

Entahlah.

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang kebanyakan hadir di usia yang sulit ini. Dua puluh tujuh tahun. Mereka semacam menghantui dan membuatmu sedikit galau. Apa yang kira-kira akan Tuhan lakukan ketika Beliau ada di usia seperti saya?

Kloset sepi. PLUNG. Bunyi flush.

Tak ada jawaban apa-apa. Ketika Tuhan tidak menjawab, mungkinkah ini adalah saat dimana Beliau percaya saya. Sekarang tinggal, apakah saya percaya kepada diri saya sendiri.



*dibuat karena terinspirasi dari obrolan saya dengan Mbak Tarlen di Tobucil kemarin. 










5 comments:

  1. Tuhan menggambar kita, Tuhan pula memata - matai segala yang kita perbuat. ketika akhirnya kita haarus menyerah karena tak aakan pernah mampu melakukan apa yang dilakukan Tuhan pada kita Manusia, mengapa kita haarus berdebat. itu kosong.

    terima kasih sudah mampu telanjang (Tuhan mencintai kejujuran, bukan kepura - puraan)

    :)

    ReplyDelete
  2. saya tersentuh baca tulisan ini. tentang bagaimana konsep keTuhanan yg dipaparkan sedikit banyak sama dengan yg saya alami, dan sebuah pertanyaan yang menghantui manusia saat ia mempertanyakan eksistensinya di hidup. nice writing, Mbak Theo..salam kenal :)

    ReplyDelete
  3. love this piece, the ^^ aku juga mempercayai konsep ke-Tuhan-an yang sama denganmu :) oh, ya, baca ini aku langsung teringat The 27 Club. http://en.wikipedia.org/wiki/27_Club

    ReplyDelete
  4. wow, saya suka sekali tulisan mba yg ini.
    sama seperti konsep tuhan bagi saya.
    tuhan tidak selalu dapat ditemui di rumahNya, terkadang tuhan bisa ditemui di angkot, di sebelah ketika kita duduk, atau seperti mba kali ini =)

    semoga hari ini menyenangkan mba ^^

    ReplyDelete
  5. terkadang bertemu Tuhan itu tidak perlu dengan konsep yang kaku..bagi saya ngobrol dgn Tuhan bisa saya lakukan di sudut kamar saya :)

    sweet words theo :)

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...