Thursday, April 28, 2011

Jacob Pulang

Ada satu cerita yang selama ini saya tunda untuk menceritakannya. Ada satu kebetulan kecil—oke, sebutlah ini mungkin kebetulan. Ketika kamu mempercayai sesuatu lalu kemudian mengikhlaskan kepercayaanmu, supaya ia berjalan sesuai dengan fungsinya. Ia akan menjadi sesuatu. Kepercayaanmu akan bertambah dari garis yang sangat tipis menjadi garis yang sangat tebal.

Keyakinan—adalah sesuatu yang sifatnya ke dalam. Ia kadang menjadi satu hal yang sangat sulit untuk dijelaskan kepada orang-orang lain di sekitarmu. Keyakinan itu adalah semacam misteri yang hanya kamu dan hatimu yang tahu. Saya punya keyakinan akan sesuatu—begitu rahasia. Hanya saya dan hati saya yang tahu.

Beberapa waktu ke belakang ini, saya banyak kuatir. Banyak hal yang akhirnya membuat saya kembali mempertanyakan keyakinan saya. Saya menjadi orang yang mudah terombang-ambing. Dan semesta tampak mengetahui hal itu—mereka sengaja mengetes saya, apakah memang saya setangguh yang kelihatannya. Atau justru rapuh?

Jawabannya, rapuh.

Untuk yang satu ini, saya tidak mau membohongi diri saya. Saya terlanjur rapuh dan retak. Beberapa hal yang sudah sempat di bangun seperti harus dibangun ulang dengan fondasi yang mantap—belum mantap. Tapi ada satu kejadian lucu. Jacob, anjing samoyed kesayangan pernah hilang. Cerita ini pernah saya tulis. Ketika itu, kelihatannya saya tidak percaya kalau ia akan kembali lagi. Tapi entah mengapa keyakinan saya mengatakan sebaliknya—Jacob pasti kembali. Hanya saja, lagi-lagi ini hanya sesuatu yang di dalam dan tidak kelihatan.

Saya mengatakan di tulisan saya sebelumnya bahwa kalau kita berjodoh, kita pasti akan bertemu kembali. Persoalan jodoh atau berjodoh dengan sesuatu, seseorang adalah sesuatu yang sifatnya ke dalam. Tidak kelihatan diluar. Hanya saja yang di dalam ini seperti bertumbuh—ia mengajakmu untuk percaya kepadanya. Ia mengirimkan sinyal yang sangat kuat—dan itu adalah pekerjaan hatimu. Misterius, tapi saya suka dengan cara kerjanya.

Jam 3 subuh saya terbangun dan mendengarkan gonggongan Jacob. Di bawah selimut sambil merem waktu itu saya hanya senyum. Besok paginya, saya mengobrol dengan Oom kos lalu bertanya, siapa yang memulangkan Jacob. Ia cerita bahwa ada tukang ojek di samping gang yang waktu itu memang mencuri dan membawa lari Jacob. Tapi kemudian di hari yang ketiga si pencuri itu hatinya gelisah—kemudian merasa bersalah, yang membuat ia harus mengembalikan Jacob.

Setelah Jacob hilang, saya menulis di tweet saya #doamalamini hai orang baik di luar sana, tolong kembalikan Jacob. Keyakinan yang besar di dalam selalu memaksa untuk melakukan sesuatu. Keyakinan yang besar di dalam tidak kelihatan—tapi ia seperti mendorong dengan caranya yang misterius untuk percaya kepadanya. Keyakinan ingin kita sepenuhnya percaya kepadanya. Keyakinan setia, ia tidak akan meninggalkanmu.

Sampai di sini. Saya seperti dikonfirmasi. Cerita Jacob akhirnya membuat saya menjadi yakin kembali. Yakin akan apa—itu misteri. Hanya saya dan hati saya yang tahu. Bayangkan begini, dengan keyakinanmu yang besar, kamu bisa membuat orang lain gelisah lalu mempertemukan kamu dengan apa yang kamu inginkan.

Milikilah keyakinan yang besar. Biarkan keyakinanmu tumbuh lalu menggerakanmu—entah bagaimana caranya. Ia akan mempertemukan—bisa jadi saat ini yang berjodoh itu seperti pergi. Tenang saja, ia akan gelisah lalu kembali kepadamu.

Untuk yang satu ini, saya terlalu percaya.

Tobucil, 27 April 2011. 12:21

3 comments:

  1. yah, saya suka konsep pekerjaan hati yang misterius itu

    hukum afirmasi memang benar bekerja, kalau kita yakin... :)

    ReplyDelete
  2. Iman. Faith. Sekecil biji sesawi tapi bisa mindahin gunung =)

    ReplyDelete
  3. hukum tarik-menarik, ketika kita meyakini sesuatu, keyakinan itu punya gravitasi yang kuat untk menarik apapun yang kita yakini untuk semakin dekat dengan kita :)

    ReplyDelete

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...