Saturday, April 16, 2011

Pikun.

Pernahkah kamu kepingin pikun. Hanya ingin melupakan saja. Seakan-akan kamu ingin menghilangkan sesuatu dengan sengaja, segera. Seperti ingin menghapus kenangan baik itu pahit maupun manis.

Ketika kamu pikun, kamu dapat lebih tulus lagi mencintai orang lain. Walaupun mungkin di kehidupan sebelumnya orang tersebut pernah membuatmu terluka— sebutlah saat ini saya hanya ingin pikun. Saya tidak mau mengingat-ingatmu lagi dengan detail.

Detail itu kemudian menjadi begitu brengsek, ketika kamu hendak melupakan seseorang. Atau tercipta menjadi seseorang yang begitu detail itu seperti dikutuk. Saya memejamkan mata dan berharap saya bisa melupakan kamu segera.

Bayangan-bayangan itu masih ada. Kerut-kerut wajahmu. Bentuk jari-jari tanganmu. Senyummu. Caramu mengaduk makanan. Celana jins-mu. Ujung sepatumu. Warna sendalmu. Getaran suaramu. Saya mengingatmu dengan begitu detail. Karena begitulah saya—hal kecil pun menjadi begitu penting bagi saya.
Ini yang terkadang membuat saya benci kepada diri saya sendiri. Tolol! Kenapa ada orang seperti saya yang punya ingatan begitu detail. Lalu detail ini yang nantinya membuat saya begitu terluka. 

Brengsek!

Kamu tidak membalas sms saya.

Ini mungkin hal kecil. Bagi kamu mungkin hal ini tidak terlalu penting. Beberapa kalikamu berjanji lalu kamu membatalkannya. Silakan bilang saya berlebihan. Tapi bagi saya memegang perkataan itu begitu penting.

Saya begitu percaya denganmu. Saya pegang teguh perkataanmu. Ah bodohnya saya. Lalu kalau sudah begini apa yang harus saya lakukan. Saya duduk menghadap jendela kamar—merogoh saku tas, siapa tahu saya bisa menemukan rokok. Tapi hanya sisa bungkus rokok yang saya temukan. Dengan frustrasi saya mulai membanting-banting isi tas.

“SHIT!”

Makian itu meluncur keluar dari mulut saya. Sedetik kemudian sesuatu menggelinding keluar dari isi tas saya. Cincin tunangan kita. Warna peraknya mengkilap. Sesaat saya tertegun memandanginya lama, lalu layar hape saya pun menyala.

“Bip bip.” Suara pesan masuk.

Sayang, saya tak bisa menemuimu lagi malam ini. Ada meeting di kantor.

Begitu isi pesan yang masuk. Lalu untuk kesekian kalinya, lagi dan lagi—saya merasakan air mata turun perlahan. Tidak mau saya seka. 

Kali ini saya betul-betul ingin segera pikun—melupakanmu. 

2 comments:

  1. pelukkk...
    Lagi pingin pikun jg! >,<

    ReplyDelete
  2. setuju kak...
    hal-hal manis yang ingin sekali kita lupakan sekaligus disimpan....

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...