Monday, April 18, 2011

00:40




Ini sudah pukul 00:40. Mata ini belum mengantuk. Akhir-akhir ini saya sedang banyak beriman. Salah satu iman saya adalah saya menulis maka saya sembuh. Kalimat-kalimat mulai meluncur keras—huruf-huruf kecil mulai berjatuhan dari kepala saya bagai kutu.

Mereka berlompatan, sesekali terbang—menghampiri layar netbook kosong yang sudah mulai terkantuk-kantuk. Rentetan percakapan panjang di kepala saya terus dituangkan. Mereka seperti mengejek saya yang tidak dapat mengikuti nada bicara mereka.

Terkadang tanda-tanda baca bergosip di kepala saya—bahkan mereka membicarakan sex dan masa subur. Ah, sungguh menyebalkan. Karena saya tidak mampu mengelak. Saya bisa mendengarkan mereka dengan jelas bersuara.

Belum lagi tumbuhan-tumbuhan di sekitar saya mulai bersuara. Orang-orang di dalam poster di kamar saya mulai hidup. Saya mulai melihat bayangan-bayangan lain muncul—lalu saya terus menulis.

Menulis sampai saya begitu capek. Taylor Swift terus bernyanyi dengan kasarnya di radio. Saya matikan radio karena ia begitu berisik. Mana Tuhan? saya bertanya dalam hati. Mulut saya tak mampu lagi berkata-kata. Hanya tangan saya yang mampu menuliskannya.

Mana Tuhan? saya hanya mau bilang untuknya, bahwa saya punya iman. Iman saya mungkin lebih kecil dari biji sesawi, tetapi saya mau bawa iman saya yang kecil ini saya menulis maka saya sembuh. Titik.

Saya hanya mau sembuh dari setiap hal yang buruk. Sembuhkanlah saya dari setiap patah—kalimat-kalimat murung ini terus meluncur, bagai hujan deras dan guntur yang menyambar-nyambar dengan begitu galak.

Lalu saya juga mau bertanya begini? Apa urusanMu Tuhan kalau ada yang menyakiti dan membuat anak perempuanMu terluka—apa yang akan Kau lakukan?

Tuhan lambat menjawab. Hanya kata-kata yang menyalak dengan nyaring—meminta dituliskan. Playlist pun berganti, sekarang John Legend bernyanyi dengan pilu Where did my baby go. Tuhan berganti menjadi John Legend.

Begitulah akhir cerita ini. Saya hendak tidur, karena tenggorokan saya begitu sakit. Menelan pil kata-kata. Yang kata iman saya itu akan membuat saya sembuh.

Mari kita percayai saja. Semoga saya nyenyak. Tidak ada tangisan malam ini—atau apalah sebutannya. Saya tidak mau menyebutnya air mata. Mungkin ia adalah kata-kata dari mata, yang kepingin saya tuliskan juga.

Sial! Saya mulai mengantuk.


No comments:

Post a Comment

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...