Monday, April 18, 2011

Menumbuk Bintang

Bulan sendirian. Tak ada bintang. Sementara langit begitu culas meringkuk sendirian di balik selimut gelap. Tak ada yang peduli. Sementara di sisi lain begitu ribut—saya melihat kaki-kaki yang menari dengan lesung—mereka menumbuk bintang.

Serbuk-serbuknya tampias kemana-mana. Percik cahanyanya melompat kesana kemari. Agak tajam kena ke pipi perempuan-perempuan itu. Membuat berdarah. Tapi mereka terus tertawa-tawa, di satu sisi darah itu adalah kenikmatan.

Semakin lama tarian itu semakin kencang, mereka berputar mengikuti malam. Melayang. Sesekali ada semacam mantra yang keluar dari bibir mereka. Dan saya tidak dapat mendengar jelas, mereka bilang apa. Sementara hujan turun. Bercampur dengan darah. Bau anyir menyeruak perlahan.

Bercampur dengan tumbukan bintang di dalam lesung. Saya sendiri masih berdiri diam, dan melihat apa yang mereka lakukan selanjutnya—melihat ke kanan kiri dan sungguh heran kenapa anak-anak muda yang sedang bermalam minggu di Dago tidak ngeh akan pemandangan ini.

Saya memastikan dulu letak berdiri saya dan pastikan tidak ada yang memandang aneh kepada saya. Setelah keadaan cukup aman, saya melanjutkan melihat pemandangan itu. Kini perempuan-perempuan itu tampak sedang membagi sesuatu di sloki-sloki kecil.

Dan ketika saya memincingkan mata untuk melihat jelas, itu adalah sari bintang yang tadi mereka tumbuk. Kini ia terlihat dengan kilau yang begitu kental di dalam sloki-sloki itu. Mereka masih menari. Melayang—sesekali membaca mantra.

Hujan sudah berhenti. Kini perempuan-perempuan itu menangis perlahan. Mereka seperti mabuk. Meminum sloki-sloki itu saling bergantian. Satu dua tiga empat...lima teguk—lalu mulai mabuk bintang.

Bulan sendirian. Tak ada bintang. Saya sendirian. Tak ada sisa bintang barang sedikitpun untuk saya, padahal saya juga kepingin mabuk bintang. Merasakan grenjel-grenjelnya di dalam kerongkongan saya. 









No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...