Wednesday, June 16, 2010

Ketika di Angkot itu

Aku memikirkanmu.

Memikirkanmu sambil menyenderkan sedikit bahuku ke kaca angkot. Aku membayangkan, pasti saat ini kau sedang tenggelam dengan buku-bukumu. Larut dengan khayalanmu. Sepi dengan kopimu di sudut kamar itu.

Kau, pria yang tunduk pada buku. Kau tidak tertarik ketika ada film baru di bioskop. Kau tidak tertarik dengan selera bohemianku. Kau tidak tertarik dengan gosip selebriti A yang kawin lagi, atau gosip selebriti B yang punya anak di luar nikah.

Sungguh. Itu bukan dirimu.

Kita sangat bertolak belakang. Aku masih ingat betul, ketika pertama kali kau datang menjemputku ketika hari hujan. Deras sekali. Kau mengeluh, memaki-maki hujan, karena kau basah kuyup. Tapi wajahmu berubah seketika, waktu aku memberikanmu handuk kering, dan kau mengganti bajumu dengan kaos paling besar yang aku punya.

Setelah itu aku bikinkan kau lemon tea hangat. Aku usap perutmu dan punggungmu dengan minyak kayu putih. Dan kita mengobrol sepanjang hari itu tentang hujan. Akhirnya kau tahu, bagaimana aku jatuh cinta kepada hujan.

Aku, perempuan yang selalu tergila-gila pada hujan.

Kau selalu bilang aku gila. Karena setiap kali hujan, aku selalu nongkrong di jendela. Menempelkan dahiku, supaya bisa jelas melihat butir-butirnya jatuh. Kadang aku mencium butir-butirnya yang meleleh masuk lewat kisi-kisi jendela. Aku juga punya kebiasaan mencicipi hujan, karena aku selalu percaya, rasa hujan tiap kali turun, pasti beda-beda.

Sementara kau, tidak suka hujan.

Biasanya ketika hujan turun, kau memilih meringkuk di balik selimut tebal, dengan bukumu. Buku-buku tebal itu. Dengan judul-judul sulit. Yang bahkan aku sendiri tidak pernah tertarik untuk membacanya. Kalau sudah begitu, biasanya kau panggil aku, suruh aku masuk ke balik selimut, hanya untuk menemanimu membaca. Kau terus membaca dalam diam, sementara aku mulai mengantuk. Dan kemudian tidur.

Kau dan buku. Aku dan hujan.

Aku dengan buku, biasa saja. Sedangkan kau benci sekali dengan hujan. Entah kenapa? Aku juga tidak tahu.

Padahal berkali-kali aku bilang, kalau aku suka hujan. Bahkan aku sudah bercita-cita, besok-besok, kalau kita punya rumah sendiri, aku kepingin punya jendela yang besar-besar, supaya tiap kali hujan turun, aku bisa melihatnya dengan jelas.

Kau tidak peduli juga.

Ya sudah, sekarang aku tidak terlalu peduli lagi. Kau dengan kesukaanmu dan aku dengan kesukaanku. Aku merasa dua tahun kebelakang ini, kau terlalu serius. Kau hanya memikirkan kesukaanmu, sementara kesukaanku tidak pernah kau pikirkan. Aku merasa telah berkorban lebih banyak untuk mencintaimu. Sementara kau tidak.

Aku mulai lelah. Aku muak. Aku capek.

Kau menuntutku untuk mengerti duniamu. Dan aku turuti. Kau tahu kan, mana pernah aku tidak menurutimu. Aku selalu layani permintaanmu ini dan itu. Tanpa mengeluh, tapi giliranmu, kau selalu melakukan sebaliknya.

Ah. Brengsek.

Kau tahu, aku bisa menemukan laki-laki yang lebih baik daripadamu. Laki-laki lain, banyak yang bersedia melakukan apapun untukku. Dan aku bisa tinggalkan kau, kapan saja aku mau. Sekarang aku merasa, mencintaimu itu seperi sedang diare. Bikin aku mulas terus. Masuk keluar kamar mandi sepanjang hari. Tanpa berhenti.

Aku mulai malas, memberikan kado-kado yang biasanya aku bungkus dengan hujan, tiap kali ada moment penting kita. Aku mulai malas, mengumpulkan butir-butir hujan yang biasanya aku jadikan kata-kata puisi untukmu, karena toh, kau tak suka hujan.

Kadang ketika hujan sedang berbunga. Aku sengaja mengumpulkan helai demi helai hujan, untuk aku jadikan buket bunga, dan aku letakkan di dalam kamar kita. Tapi sekarang aku kumpulkan helai-helai hujan layu untukmu.

Ketika hujan sedang berbuah. Kadang aku sengaja pergi ke pasar untuk beli, seperempat kilo hujan, siapa tahu, aku bisa bikinkan jus hujan manis untuk makan malam kita. Tapi sekarang, buah-buah hujan aku biarkan di kulkas saja sampai busuk dan bau.

Aku bosan. Aku bosan. Aku bosan.

Hari ini aku sengaja tidak pulang ke rumah. Aku naik turun angkot tanpa henti. Sampai aku capek sendiri. Lebih tepatnya lagi aku malas pulang ke rumah. Karena aku tahu, saat ini, kau mungkin sedang tenggelam lagi dengan buku-bukumu. Huh! Ingin kubakar semua buku-buku itu.

Supaya hanya ada aku yang kau baca.

Di luar angkot hujan deras sekali. Tidak ada bunga hujan. Tidak ada buah hujan. yang ada hanya butir-butir hujan berbentuk paku-paku payung kecil.

Sepanjang perjalanan, hujan mengalir, bersama darah.

02.06.10; 22:41

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...