Saturday, June 19, 2010

Warung dengan Semangkuk Gerimis

warung depan masih sepi. padahal aku ingin memesan semangkuk gerimis.

aku masih ingat porsimu, kau suka memesan semangkuk gerimis porsi jumbo dengan banyak awan merah diatasnya. lalu, aku berpikir sudah lama sekali kita tidak duduk berdua, mengobrol tentang luka. berember-ember luka yang kita tampung sampai meluap. meleber. tumpah-tumpah di selokan teras belakang.

luka ini tidak mau dijual saja? tanyamu waktu itu. lumayan loh, kau bisa menabung dari luka, daripada basi. katamu juga waktu itu.

menabung dari luka.

lucu juga, pikirku dalam hati. aku akan berbisnis luka.

hum. boleh saja. aku bisa promosi di twitterku: bagi yang hendak menjual luka, silakan hubungi aku, si pemilik warung luka.

warung depan masih sepi. padahal aku ingin memesan semangkuk gerimis.

jauh di dalam warung yang sepi itu, si Ibu warung sedang asik mengaduk luka di dalam panci.

(2010)

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...