Wednesday, June 30, 2010

lalu aku di sini

tersedak diantara debu jalanan. terduduk kadang tergeletak, mencari namamu di setiap plat nomor mobil atau motor yang lewat. aku memasang mata, mungkin di sisi kiri atau sisi kanan jalan, siapa tahu ketika mereka lewat, mereka membawa namamu serta.

tidak usah lengkap, paling tidak hanya inisial saja.

lalu aku di sini, terhimpit diantara gerimis yang semu. sentuh hati yang telah lama lumutan, berharap aku menemukan bening mola matamu. menunggu, gerimis lewat, berpayung ungu. tapi tak ada juga bola matamu.

aku rindu. tidak. euh. ya, aku rindu

kali ini aku menuliskannya tidak pakai titik. titik itu begitu rapuh. begitu emosional. bisa saja berubah, suatu saat. dan ketika waktu itu datang, aku menjadi labil. aku menjadi tidak punya keyakinan, aku tidak teguh, dan kemudian berubah menjadi upik abu.

ketika aku menuliskannya. perasaan ini menjadi begitu random. aku berharap diantara ke randoman ini, aku menemukan inisialmu di sana. sekali saja. nama yang membuat mataku susah terpejam ketika malam. nama yang selalu membuatku terjaga, walau tanpa cinta.

nama yang begitu membutakan.

(2010)

2 comments:

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...