Friday, June 4, 2010

Aku dan Diary

Dulu aku punya diary. Aku menulis cinta pertama di diary. Aku menulis menstruasi pertama di diary. Aku menulis tentang kecupan pertama. Euh. Belum. Aku belum pernah mengecup atau dikecup. Dicium atau mencium.

Sudahlah percaya saja.

Diaryku tidak pernah merah muda. Aku benci merah muda. Aku benci warna merah, merah selalu identik dengan darah. Apalagi kesini-sini, banyak yang suka bilang merah muda itu warna cinta.

Jadi maksudmu, mencintai seseorang itu harus sampai berdarah-darah. Merah muda: darah kental, yang dicampur dengan air. Jijik. Aku tidak suka.

Makanya diaryku tak pernah ada yang merah muda. Lebih banyak yang tak punya warna. Lebih banyak yang tak punya motif. Polos-polos saja.

Tapi aku selalu suka menulis. Aku suka menulis dengan warna. Ganti spidol. Pakai pensil warna. Diaryku selalu warna-warni. Itu cinta pikirku, kau tak hanya punya satu warna. Kau harus berwarna dulu. Sehingga kau bisa mewarnai orang lain.

Diaryku selalu mencatat cinta. Cinta-cinta tersembunyi. Tak kelihatan. Ngumpet di balik kata. Aku mencatat setiap detail perasaanku. Aku mengingat siapa yang aku cintai di balik goresan pensilku.

Kau, salah satunya.

Sekarang aku punya netbook.

Kau, tak lagi aku tulis di diary. Tapi netbook.

Aku mencintaimu hampir tanpa bunyi. Hampir tidak ada kata-kata manis yang keluar dari mulutku. Hampir tidak ada kata ILOVEYOU.

Aku memilih untuk diam dan menuliskanmu. Mengetik tawamu. Mengetik tangismu Mengetik kerut di sekitar matamu. Mengetik tiap keluhanmu. Mengetik lelahmu. Mengetik curhatmu. Mengetikmu utuh diantara huruf-huruf keyboardku.

Terus mengetikmu tanpa koma. Tanpa titik. Tanpa tanda baca. Mengetikmu tanpa spasi sama sekali. Kalaupun titik, koma, spasi jadi hambatan. Aku akan cungkil mereka dari keyboardku.

Aku penggal cintaku satu-satu. Lewat huruf-huruf mati ini. Mencintaimu tanpa spasi. Tanpa tanda seru.

Aku masih di sini. Belum selesai. Mencintaimu tanpa bunyi. Kecuali bunyi keyboard ini.

Tuk tik tuk tik.

(2010)

No comments:

Post a Comment

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...