Monday, June 14, 2010

Merajut Hujan

Kali ini aku betul-betul bosan menulis di diary. Diaryku pun tampak sudah lelah, mendengar namamu aku tulis terus menerus. Aku ingin teriak ke dunia, aku ingin Ibu tahu, aku ingin teman-temanku tahu, aku ingin mantan-mantanku tahu, aku ingin setiap orang yang aku temui tahu: kalau aku cinta kamu.

Tumpukan hujan , yang kamu hadiahi ke padaku setiap kali kamu pulang dari bulan selalu aku simpan. Kamarku sudah penuh, rak-rak di dinding sudah penuh, lemariku juga sudah penuh, aku bahkan tak tahu harus menyimpannya dimana lagi. Ibu selalu mengomel, tiap kali masuk ke kamarku. Ya ampun nduk, mbok ya, kamarmu di beresin toh, kok kaya kapal pecah gini? hujan-hujan dalam kantong itu kalau sudah nggak kepake, dibuang saja. Begitu selalu omelannya, tiap kali masuk ke kamarku.

Tapi toh hujan-hujan ini kan hadiahmu, masa mau aku buang. Atau masa mau aku jual ke barang bekas. Sedangkan aku sendiri belum selesai merajut namamu di atas tumpukan hujan ini. Padahal sudah bertahun-tahun, aku mengerjakannya. Dan aku belum selesai juga.

Ibu bilang, kenapa sih aku harus percaya kepada laki-laki macam kamu, yang kerjanya di bulan, dan selalu membawa pulang hujan. Emang dia bisa ngasih kamu makan? kerjaannya sudah tetap apa? gajinya berapa? dan setumpuk pertanyaan lainnya, yang terkadang bikin aku pusing. Kalau sudah begitu, aku memilih masuk ke kamarku dan merajut kembali.

Hari ini, kamu ke bulan lagi. Seperti biasa sekantong hujan, selalu kamu bungkus untukku. Itu berarti peerku tambah banyak, satu per satu butirnya harus aku rajut dulu, menjadi garis-garis tipis pendek-pendek, kemudian dirajut lagi menjadi garis-garis panjang yang lebih tebal, dirajut terus, sampai akhirnya, aku bisa merajut namamu di tengah-tengahnya.

Entah kenapa, rajutanku selalu tersendat-sendat, ada ini lah, ada itu lah, ada apa lah, dan pada akhirnya, yah, terbengkalai lagi. Tertunda lagi. Tak selesai-selesai lagi. Padahal kalau sudah selesai, aku mau rajutan hujan itu menjadi tanda cintaku untukmu. Supaya setiap orang yang melihat hujan, akan melihat namamu di sana, dan mereka akan tahu, termasuk Ibu: kalau aku cinta kamu.

Bertahun-tahun sudah, hadiah hujan darimu selalu kutumpuk, kamarku bahkan sudah penuh, lemariku juga sesak, sampai aku bingung hadiah hujanmu mau aku simpan di mana lagi, dan ibu terus mengomel.

Maafkan aku hadiah hujanmu tergeletak dimana-mana, sampai kamarku berantakan seperti kapal pecah.

Dan bahkan sampai detik ini, aku belum selesai juga merajut namamu, yang hanya tiga huruf itu: B E N.

18.05.09, 00:30

*Terima kasih untuk Frau dengan lagu Mesin Penenun Hujannya, dan Deybie untuk nama papanya yang boleh saya pinjam.

2 comments:

  1. well, saya suka sekali frau tapi pacar saya tidak, saya suka sekali hujan meskipun nama saya artinya matahari...

    dan saya kok jadi ikutan pacar saya untuk berandai-andai, punya teras rumah dengan jendela kaca, dimana air hujan mengalir pelan di sana...

    tenang theo, hujan itu penuh rahasia, coba godain dia deh, kali aja dia mau cerita tentang berbagai rahasia lelaki dengan 3 huruf itu... :D

    ReplyDelete
  2. HAHAHA. Wiku, kenapa cita-cita kita sama ;-) aku sudah goda. Hujan lagi pelit. Huh.

    Thanks ya sudah dikomentarin. Hihi.

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...