Saturday, January 15, 2011

Surat Cinta #2: Untuk Papa

weheartit




Papa, apa kabar? Lama kita tidak saling menelepon. 


Maaf, untuk sementara saya lagi “off” hape dulu, karena satu dan lain hal. Hal ini yang membuat saya juga lama tidak mengirim kabar. Kabar terakhir yang saya dengar tulang belakang Papa suka sakit-sakitan. Semoga tidak ada yang serius. Bagaimana dengan ayam-ayam dan cabe di sekitar rumah, semoga Papa selalu senang dengan menjadi petani di rumah.

Saya banyak susah akhir-akhir ini Pa, tapi saya berusaha survive. Yah, kalaupun saya susah ini mungkin adalah proses di hidup saya yang perlu saya lewati. Tapi saya tidak mau Papa dengar saya sedang susah, nanti Papa sedih lalu kuatir.

“Nona, su makan ka blom?”

“Nona, ada bae-bae?”

“Ingatang, jaga kesehatan.”

Nada suara itu saya kangen. Papa selalu tampak tegar. Papa selalu mau, kami anak-anaknya melihat bahwa Papa baik-baik saja. Tapi mungkin Papa punya sakit diam-diam, yang suka ditahan-tahan. Saya bertekad untuk pulang di tahun ini Pa, tinggal dulu sebentar bersama Papa dan Mama.

Sabar ya, semoga kalau uang saya cukup dan sudah waktunya. Saya pulang, kita bisa ngobrol lama-lama di teras. Makan sagu, minum teh manis lalu berbagi mimpi. Mengenai mimpi besar saya, pelan-pelan akan saya wujudkan Pa. Walau ternyata saya harus mulai dari bawah sekali. Dan percaya pada keyakinan saya.


Satu yang saya tahu, Papa percaya sama saya.

Terima kasih untuk kepercayaannya, tolong terus dukung saya dalam doa. Saya tahu kalau ketika sendirian dan saya ingat Papa, pasti Papa sedang mendoakan saya.

Tolong, jaga kesehatan Papa. Saya belum bisa kasih Papa, apa-apa. Tapi saya janji akan mengerahkan dan memaksimalkan segala sesuatu yang saya punya untuk menggapai mimpi saya di tanah rantau. Satu yang saya inginkan Papa bisa bangga sama saya. Sama anak perempuan bungsu Papa.

Mata saya mulai berair menulis ini Pa.

Di dalam jarak yang begitu jauh ini pun, saya percaya kita selalu saling menyayangi. Saya sudah bukan anak kecil ikat konde dua yang dulu suka Papa ajak naik speed boath lagi. Saya sudah menjadi perempuan dewasa yang punya keputusan sendiri.

Semoga keputusan saya tidak salah, semoga dimanapun saya berada, saya akan selalu bikin Papa bangga. Jaga Mama baik-baik di Ambon.

I Love you Pa. 

5 comments:

  1. saya selalu iri pada mereka yang masih diberi karunia orang tua...
    segeralah temui papa dan mama-mu, mbak...

    ReplyDelete
  2. Barusan merutuki diri sendiri, kenapa hari ini membuka blog mba. dan membaca tulisan lekat seperti yang saya rasakan.
    *menangis diam-diam*

    ReplyDelete
  3. ugh...
    ikut meneteskan air mata!
    Sepertinya juga sudah lama tidak berbincang2 dengan papa.Sibuk dengan urusan dan mimpi sendiri! terima kasih Theo sudah mengingatkan..
    *pelukkk...

    Mari kita pulang >,<

    ReplyDelete

Featured Post

Theoresia Rumthe: dalam merayakan keliaran-keliaran

foto oleh lukman hakim Bagaimana puisi tercipta dari dirimu? Seperti apa prosesnya? Apa yang datang lebih dahulu, apa yang datang...