Friday, January 28, 2011

Surat Cinta #15: Untuk Connie.

Dear Connie.

Hai. Hm, begini aku bangun dan ngecek twitter lalu menemukan suratmu. Ah, speechless. Entah mau menulis apa. Yang kamu tulis begitu apa ya, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Serius deh, hihihi..

Oke, aku hanya mau menulis begini. Aku senang banget baca surat dari kamu. Tiba-tiba aku mengingat kembali “hari lalu” itu, yang bikin kita akhirnya DM-an, hari itu memang begitu spesial, aku juga heran, pulang siaran malam, naik angkot, lalu selewat satu nama “Dear Connie” muncul di kepalaku.

Hm. Aku lalu berpikir “loh nama Dear Connie ini kan memang ada di twitter, lah urusan gue sama dia apa? kenal juga enggak, hihihi.."

Tapi entah kenapa, namamu terus terngiang-ngiang di kepala aku. Kalau sudah begitu itu pasti tanda.

Aku selalu percaya tanda Con. Hari itu pasti begitu spesial untukmu. Sampai aku pun diberi tahu begitu “keras” untuk semacam menghubungimu. Aneh sih, tapi aku rasa, mungkin itu adalah awal dimana kita akan membangun sesuatu ke depan.

Aku senang, aku mengikuti kata hatiku waktu itu dan berkenalan denganmu. Ah, lalu aku merasa kenapa twitter waktu itu begitu personal. Padahal harusnya twitter itu tempat aku bermain-main. Lucunya, bahkan ketika aku mau bermain-main pun semesta mengirimkanmu untukku.

Connie yang baik. Aku suka tulisan-tulisanmu yang begitu personal. Aku suka sekali caramu menggambarkan sesuatu begitu detail. Aku suka sekali tulisan tentang Tuhan di hari pertama yang begitu sederhana itu. Aku berkaca-kaca membacanya.

Waktu itu aku merasa kamu juga menulis untukku. Lihat kan, bagaimana semesta bekerja lagi untuk yang satu ini. Lalu, aku suka sekali tweetmu tentang “Papa-mu” kamu begitu luar biasa, kamu bisa tinggal dengan Papa-mu lalu melayani dan melakukan yang terbaik untuknya.

Aku terharu. Karena aku dan Papa-ku jauh.

Terima kasih untuk pertemanan digital yang aneh ini. Suatu hari, kita harus bertemu. Kita harus duduk, bercerita, lalu berpelukan.

Yuk, janjian? :D

Baik-baik ya, Connie. Mengenalmu itu semacam kebetulan. Tapi, aku tidak percaya kebetulan. Ini harusnya detail untuk sebuah gambar besar, mungkin?

LOVE.



The.  








No comments:

Post a Comment

Featured Post

Kelas Public Speaking: (1) Seni untuk Menyihir Orang Lain - Senemu Cafe

Selamat datang di Senemu Coffee. Suasana sebelum kelas, setiap peserta bersiap untuk menikmati sarapan bersama. Saya d...